Kebahagiaanku tak dapat ditukarkan oleh apapun. Sekalipun Tuhan menawarkan keindahan bumi dari langit hingga intinya namun harus merelakanmu, aku akan menolaknya. Karena tanpamu itu adalah neraka bagiku.
.
.
-x-
.
.
Pagi ini adalah pagi yang paling sempurna yang pernah Seokjin alami. Sinar matahari tak begitu terang dan tak begitu redup, udara terasa sejuk namun dia tak merasa kedinginan.
Karena ada Namjoon yang memeluknya. Seokjin tersenyum lebar ketika menyadarinya dan segera membalikkan tubuhnya, membuatnya menjadi berhadapan dengan Namjoon yang masih asyik terlelap.
"Wakey wakey, ahjussi." tangan lentik Seokjin membelai wajah Namjoon.
Mata ahjussi itu terbuka perlahan. Seokjin segera memberikan senyuman terbaiknya dan memberikan kecupan di pipi Namjoon.
"Pagi, ahjussi."
Kesadaran Namjoon perlahan-lahan terkumpul dan lelaki itu nyaris berteriak ketika sadar apa yang baru saja terjadi.
"B-bocah..., k-kau mengecupku?" Namjoon bertanya seraya membelalakkan matanya. Ini pertama kali Seokjin menunjukkan afeksinya dan ini cukup membuat Namjoon terkejut. Namun Namjoon menyukainya, sangat menyukainya.
"Ahjussi tidak suka?"
"Aku suka!" Namjoon menahan Seokjin yang hampir menjauh darinya dan mendekapnya rapat-rapat. Ya, Namjoon rasa lebih baik seperti ini— tidak menutupi apa yang dia rasakan dan tidak menahan apa yang ingin dia lakukan. Atau menunjukkan afeksi di saat suaminya sendiri tidak tahu, Namjoon benar-benar harus memperbaiki itu.
"Seokjin,"
Seokjin menatap Namjoon takut. "K-kenapa?"
Namjoon secara cepat mencium kening Seokjin, "Mulai sekarang, ayo kita jujur pada apa yang kita rasakan." ucapnya, kemudian mencium hidung Seokjin. Yang mendapat perlakuan itu pun mulai merona wajahnya.
Seokjin tidak tahu apa yang mempengaruhi Namjoon hingga seperti ini. Tapi ini perubahan yang bagus, Seokjin menyukainya. Kejadian kemarin adalah contoh buruk dari menutupi sesuatu, mereka pasangan sehidup semati sekarang, segala sesuatu harus transparan untuk satu sama lain.
"O-oke," Seokjin mencicit. Suaranya sedikit tertahan akibat menahan malu.
"Oh ya, omong-omong soal terbuka... Ada sesuatu yang harus kau ketahui." Namjoon terlihat begitu serius dan itu membuat Seokjin kembali merasa takut.
"Ciuman pertamamu... Kau bilang itu saat kita menikah bukan?" lelaki bersurai dark brown itu menarik nafasnya dan memejamkan matanya, "Sebenarnya, aku... Sudah mencurinya."
Seokjin merasa terkejut. Sudah hampir lima bulan mereka menikah dan Namjoon baru memberitahunya sekarang?
"K-kapan?"
"Ingat saat kau menindihku... Itu... Aku sudah bangun sebelumnya, lalu... Aku—" Namjoon menarik kedua tangannya dari pinggang Seokjin, lalu mengerucutkan keduanya dan menempelkannya. Wajah merah padam, wajar saja, kelakuan mesumnya terbongkar.
"JADI AHJUSSI MELAKUKANNYA SAAT AKU TIDUR?!"
Kedua tangannya Namjoon gerakkan ubtuk kembali memeluk Seokjin dengan cepat. "Maaf." cicitnya.
"Ya ampun, aku tidak tahu ahjussi begitu... Aku tidak tahu harus menggunakan kata apa."
"Mesum? Cabul?"
Seokjin terkekeh, "Bukan aku yang bilang. Tapi hanya mencium— tapi bukan berarti itu benar!" Seokjin memekik dan tangannya menepuk bibir Namjoon yang menyeringai jahil dengan pelan. "Mencuri ciuman, apalagi di saat orang itu masih tidur itu tidak etis."
"Itu 'kan untuk orang asing." Namjoon menyanggah.
"Hah?"
"Aku ini kan suamimu, belum lagi aku sangat mencintaimu, jadi apa itu tetap tidak etis?"
Wajah Seokjin kembali merona, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Ayolah Kim Namjoon, berikan wajah Seokjin ampunan.
Dengan gerakan cepat, Seokjin membalik tubuhnya untuk membelakangi Namjoon. "A-aku tidak mengerti maksud ahjussi."
Senyum Namjoon mengembang begitu lebar. Perasaan senang di dalam dirinya membuncah hebat dan ingin sekali rasanya mengecup wajah Seokjinnya.
"Eii, itu 'kan yang kau tunggu selama ini, bocah."
"Halusinasi ahjussi saja, mungkin."
"Mungkin sedikit gelitik akan mengingatkanmu."
"Jangan berani kau ahjussi ! Aak— ahahaha! Ampun!"
.
.
.
Yoongi menggeram ketika lengan kirinya terasa berat karena Jimin yang bersandar di lengannya. "Menyingkirlah kau..." lengannya digerak-gerakkan untuk mengusir kekasihnya.
"Sudah ya belajarnya, hyung. Makananmu sudah dingin."
"Kau saja yang makan, aku sudah tidak lapar."
Jimin berdecak kesal seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh taman, mencoba mencari sesuatu untuk membujuk Yoongi. Namun, satu ide muncul di kepalanya.
"Hyung, kurasa aku harus mengurangi berat badanku."
Yoongi yang pada dasarnya sensitif dengan topik berat badan berdecak kesal dan langsung menutup bukunya dengan kasar.
"Kau itu ingin sekurus apa sih, Park Jimin? Kalau top itu harus memiliki tubuh yang besar tahu! Lihat Kim Namjoon dan Kim Taehyung, tubuh mereka besar jadi bisa melindungi pasangan mereka!" Yoongi marah, tapi untuk kali ini Jimin tidak takut.
"Aku ingin mengurangi berat badan karena belakangan ini aku merasa lariku semakin melambat." Jimin beralasan. Ohoh, ini akan menyenangkan.
"Meh, aku tidak percaya, kakimu saja kecil, pasti larimu ringan sekali. Apa ada yang membicarakanmu?"
Dan Jimin terkejut. Pertanyaan Yoongi tidak ada dalam perkiraannya, Jimin jadi tidak tahu harus merespons seperti apa.
"Euh, i-itu—"
"Ya ampun, Park Jimin. Kau itu top! Jangan terpengaruh omongan orang! Kalau begitu saja tidak bisa, sini! Biar aku saja yang jadi top!"
Mata Jimin terbelalak lebar, "TIDAK! SUGAR !"
Tak!
Jimin menyentil dahi Yoongi dan yang disentil meringis kesakitan.
"Jangan pernah bicara seperti itu. Aku ini top dan akan tetap seperti itu, karena Tuhan ingin aku menjagamu yang butuh perlindungan ini."
"YYA! PARK JIMIN, KAU PIKIR YANG TADI ITU TIDAK SAKIT?!" suara Yoongi mengundang banyak orang untuk menjadikan mereka bahan tontonan di tengah taman. Namun mereka tidak peduli, itu membuat sebagian memilih untuk tidak peduli, seperempat memuji atau mengagumi betapa menggemaskannya Jimin dan Yoongi, sedang seperempatnya lagi kesal.
Sepertinya tidak memiliki pasangan...
.
.
.
Hari Minggu yang cerah ini Taehyung habiskan untuk berjalan-jalan bersama Jungkook di pasar. Kelinci kesayangannya itu ingin berbelanja berhubung isi kulkas mereka mulai menipis dan tidak ada kode bahwa kedua orang tua mereka akan mengirimkan makanan.
Jadi mereka berbelanja, dengan tangan tertaut erat. Jungkook sedikit buruk dalam mengingat arah jadi akan lupa jalan untuk kembali jika pergi ke suatu tempat yang jarang dia kunjungi. Karena itulah Taehyung selalu mengekori kekasihnya, kemana pun dan kapan pun.
"Semuanya sudah, apa kau ingin beli sesuatu? Kurasa masih ada cukup sisa." Jungkook menunjukkan sisa uang mereka seusai membayar ikan pada paman penjual ikan.
Taehyung menggeleng, "Kau saja, aku tidak ingin apa-apa."
Jungkook pun langsung mengedarkan pandangannya sepanjang perjalanan mereka, mencari sesuatu yang bisa saja menarik minatnya. Kakinya berhenti melangkah ketika melihat satu stan di seberang jalan yang menjual jajanan.
"Aku mau odeng dan bungeoppang." tangan lelaki bergigi kelinci itu menunjuk ke seberang jalan. Akhirnya mereka menyebrang untuk mampir ke stan jajanan yang Jungkook tunjuk.
"Bibi, dua odeng, satu bungeoppang, dan satu hotteok." ucap Taehyung seraya memindahkan beberapa kantung belanjaan dari genggaman Jungkook ke genggamannya.
"Pasangan muda, kalian menggemaskan sekali. Berapa umur kalian?" bibi penjual bertanya dengan mata berbinar.
"Kami sebentar lagi naik kelas XI, jadi sekitar.. Delapan belas tahun kurang sedikit." Taehyung menjawab sembari tangannya menerima pesanannya, "Terima kasih bibi."
"Ah, tadi pagi bibi membuat yachaejeon untuk jaga-jaga jika bibi lapar lagi. Tapi ini untukmu saja, manis." bibi penjual jajanan itu menyerahkan kotak makannya pada Jungkook dan si manis yang sungkan pun mengembalikannya lagi.
"Bibi simpan saja, siapa tahu nanti bibi lapar, makan siang masih cukup lama." tolak si manis halus.
"Kalau pun bibi lapar, bibi masih memiliki banyak jajanan yang bisa bibi makan, ahahahaha! Jadi untukmu saja ya." bibi itu kembali menyerahkan kotak makannya.
Taehyung merangkul Jungkook dan tersenyum pada bibi tersebut. "Bibi di sini setiap hari? Nanti kami akan berkunjung setiap hari."
"Terima kasih anak-anak, semoga kalian bersama sampai menikah ya."
Taehyung tertawa keras sementara Jungkook menyembunyikan wajahnya di belakang lengan Taehyung.
"Nanti bibi jadi orang kelima yang kami beri undangan, karena satu sampai empat itu orang tua kami, hehehe."
Bibi penjual jajanan itu tertawa bersama Taehyung. Akhirnya Taehyung pamit saat Jungkook menarik-narik sweater yang Taehyung pakai, mengingatkan lelaki itu bahwa ada ikan dalam kantung belanjaan mereka yang harus segera mereka olah.
.
.
.
Keadaan dapur Seokjin dan Namjoon sedikit berantakan di pagi menjelang siang. Seharusnya mereka memasak sedikit lebih pagi, namun Namjoon terus menahan Seokjin untuk cuddling hingga pukul sembilan dan mereka belum sarapan.
Namjoon disibukkan dengan keju dan bawang bombai yang harus dia potong sedang Seokjin berkutat dengan pasta yang sedang dia rebus.
"Ahjussi, ingin pakai smoked beef atau tidak?"
"Pakai saja."
Akhirnya Seokjin mengeluarkan smoked beef dari kulkas dan memasaknya. Hanya ada sedikit percakapan dalam acara memasak mereka, namun ketika semuanya siap dan mereka sudah duduk berhadapan di meja makan, seisi ruang makan hanya terisi oleh tawa dan pekikan riang. Suasananya benar-benar jauh lebih hidup dibanding kemarin.
Dan lebih hangat, juga romantis. Baik Namjoon maupun Seokjin sangat menyukainya.
"Kau tahu Ahjussi, Jaehan tidak masuk sejak kemarin. Dia bilang dia izin untuk menjadi relawan." sesuap carbonara Seokjin masukkan ke mulutnya setelahnya.
Namjoon terdiam sesaat, namun berusaha bersikap normal. "Di mana?" tanyanya dan Seokjin mengendikkan bahunya. "Tidak tahu."
Seokjin mengalihkan pandangannya dari santapannya ketika tak lagi mendapatkan respons dari Namjoon. Ahjussi itu tampak begitu resah dan khawatir.
Seokjin benci melihat Namjoon kesulitan sendiri, itu membuatnya sakit dan berpikir bahwa dirinya adalah pasangan yang tidak berguna. Itu juga membuat Seokjin sedih, khawatir, dan ingin menangis untuk Namjoon.
"Ceritakan saja, ahjussi."
Namjoon mendongak dan menatap Seokjin yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku akan berusaha memberikan saran."
Hati Namjoon terenyuh, jelas sekali Seokjinnya ini sudah mulai dewasa. Namjoon sedikit tidak rela, rasanya seperti ditinggal oleh anak semata wayang untuk membina keluarga baru.
"Seokjin, Lee Jaehan... Lee Jaehan temanmu itu tidak baik. Dia bukan anak yang baik, bahkan dia bukan anak-anak sepertimu. Dia Lee Jaehwan."
Pada awalnya Seokjin pikir Namjoon bercanda, namun raut serius di wajah lelaki itu menunjukkan yang sebaliknya. Rasa marah mengumpul dalam dadanya, Seokjin tidak terima temannya dituduh seperti itu. Tapi Seokjin tidak akan main hakim sendiri, dia sudah lihat akibatnya dari pertengkaran-pertengkarannya dengan Namjoon.
"Apa ahjussi memiliki bukti?"
Satu sisi Namjoon bangga pada Seokjin dan ingin sekali memeluk anak itu dan bilang "Aku bangga padamu." tapi jelas Seokjin menuntut jawaban cepat darinya.
"December, screen mode." Dan permukaan kaca meja makan Namjoon menjadi Touch-screen untuk kebutuhannya.
"Tampilkan wajah Lee Jaehwan."
Seokjin memperhatikan gambar yang diberikan December pada meja mak— layar. Tampak jelas bagi Seokjin bahwa Lee Jaehwan adalah orang jahat, seperti banyak CEO lain. Atau memang bagi Seokjin CEO yang baik hanya ayahnya dan Namjoon saja?
"Sekarang, tampilkan wajah Lee Jaehan."
Kedua orang itu tampak berbeda di mata Seokjin, namun mata mereka sama. Astaga, jika benar kedua orang itu adalah orang yang sama, Seokjin bisa mati ketakutan dalam waktu dekat.
"A-ahjussi, a-apa berarti aku akan mati? Orang jahat ini sudah menyerang kita berkali-kali dan dia... Dia di sekolahku... Aku mati. Aku mati..."
"Hei, hei," Namjoon mencondongkan tubuhnya ke depan, menggapai tangan Seokjin dan menggenggamnya. "Tidak akan ada hal buruk terjadi padamu, aku janji. Aku akan melindungimu, tenanglah sayang."
Seokjin menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia melakukannya lagi hingga dirinya merasa tenang.
"Sudah tenang?" Namjoon bertanya. Seokjin mengangguk dan tersenyum kecil.
Namjoon berdiri untuk mendekati Seokjin dan memeluk suaminya itu dengan penuh kasih sayang. "Selama ada aku di sini, kau akan baik-baik saja." Seokjin menempatkan tangannya di pundak Namjoon dan menyamankan kepalanya di bahu Namjoon.
"Ahjussi, ayo undang kedua kakakku ke sini."
"Jika itu yang kau mau, baiklah."
.
.
.
TBC
Banyak hambatan waktu chapter ini kuketik, maaf untuk itu.
Terima kasih buat kalian yang masih menunggu cerita ini. Plan terbaruku sih mau ku selesain tujuh sampai delapan chapter lagi, tapi mari kita lihat ke depannya.
Maaf kalau ada typo :(
Have a nice day! Peace.
