Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
High School DxD © Ichiei Ishibumi
THE WANDERERS
By Hikasya
Pairing: Naruto x Koneko
Genre: romance/adventure
Rating: M
Setting: zaman heian
Start: Jumat, 15 Juli 2016
.
.
.
Chapter 25. Munculnya naga hitam
.
.
.
'Kencan? Naruto-kun mengajakku kencan lagi. Ini yang kedua kalinya,' batin Koneko.
Sedetik kemudian, dia tersenyum manis. Betapa senangnya hatinya sekarang.
'Aku senang karena Naruto-kun akan membawaku pergi lagi. Baiklah, aku akan cepat-cepat menyelesaikan itu. Pokoknya hari ini juga, akan kuberikan sama dia,' batin Koneko sekali lagi. Dia mengelus perutnya yang masih datar. Di mana janinnya sudah berusia 2 bulan sekarang.
Maka dia pun segera berbalik badan dan masuk ke dalam rumah Jiraiya. Dengan langkah yang riang, dia akan melanjutkan "sesuatu" istimewa untuk Naruto. Hari ini juga, harus diselesaikannya sebelum Naruto pulang ke rumah.
.
.
.
"Baiklah, kita akhiri latihan hari ini! Besok hari Senin akan kita sambung lagi. Sekarang kalian boleh pulang!"
"HORE! PULANG!"
"ASYIK!"
"AKU NGGAK SABAR MAU PULANG! PASTI IBU SUDAH BUAT MAKAN SIANG YANG ENAK UNTUKKU!"
"IBUKU JUGA!"
"AKU JUGA!"
Semua anak yang berusia sekitar 7 tahun, bersorak gembira dan berhamburan keluar dari halaman perguruan pedang elemen alam dan samurai. Mereka adalah murid-murid yang sedang belajar menggunakan pedang elemen angin yang diajarkan langsung oleh Naruto. Naruto sendiri tersenyum saat melihat murid-murid didikannya itu dengan perasaan yang begitu senang. Membayangkan dirinya yang dulu masih berusia seperti mereka. Dia tidak mengalami apa yang dialami oleh murid-muridnya itu. Tapi, dia dapat memakluminya.
'Begitu ya rasanya jika masih mempunyai orang tua. Pulang dari sekolah, ada ibu dan ayah yang menyambut mereka untuk makan siang bersama. Sementara aku dulunya...,' batin Naruto yang berwajah kusut sebentar seraya memandangi kepergian para murid didikannya itu sampai hilang dari pandangannya.'Ah, itu hanya masa lalu. Aku nggak boleh mengingatnya lagi ataupun bersedih. Tousan-ku masih hidup tapi dia hanya berwujud roh yang bisa menemuiku kapan saja. Jadi, apa yang harus kusedihkan? Lagipula aku sudah mempunyai istri dan anak sekarang. Sebentar lagi, aku akan menjadi seorang ayah.'
Tersenyum saat mengingat Koneko yang sedang mengandung anaknya. Perasaannya menjadi sedikit lega. Dia pun menghembuskan napasnya sembari memasukkan pedang kusanagi ke sarungnya yang terpasang di pinggang kanannya karena dia menggunakan pedang kusanagi untuk praktek latihan hari ini. Koneko mau meminjamkan pedang kusanagi itu padanya selama dia menjadi guru di perguruan tersebut.
Dia tidak sendirian di halaman perguruan tersebut. Masih ada beberapa guru dan murid yang masih latihan praktek berpedang. Termasuk Yahiko dan Nagato. Mereka berdua ditugaskan untuk mengajar para murid yang ingin belajar menggunakan pedang samurai. Sampai sekarang, mereka belum selesai mengajar seiring Naruto memperhatikan mereka hanya sebentar saja dari arah kejauhan.
"Hm, sepertinya Yahiko dan Nagato belum selesai mengajar. Apa sebaiknya aku pulang duluan ya? Soalnya aku sudah janji mau mengajak Koneko-chan kencan siang ini," gumam Naruto pelan."Ya sudah. Aku pulang saja duluan. Pasti Koneko-chan sudah menungguku."
Maka laki-laki berambut pirang jabrik yang berpakaian zirah kayu serba jingga dan hitam itu, segera berjalan meninggalkan tempat itu. Langkahnya begitu tergesa-gesa karena tidak sabar menemui pujaan hatinya itu.
Diam-diam ada seorang gadis yang mengamatinya dari kejauhan. Entah siapa gadis itu. Namun, yang pasti gadis itu tidak sendirian karena dia bersama seorang pria dewasa.
"Jadi, dia yang bernama Uzumaki Naruto itu. Guru baru di perguruan ini ya?"
"Iya, hime-sama."
"Hm, aku ingin belajar menggunakan pedang berelemen dengannya. Apa itu bisa, Ojisan?"
"Tentu saja bisa, hime-sama," jawab pria dewasa itu sambil tersenyum."Aku akan memberitahukan ini pada Hokage-sama karena aku dengar Hokage-sama sangat dekat dengan pria muda itu. Pasti Hokage-sama bisa membantu hime untuk berguru pada pria muda itu."
Sang putri tersenyum ketika mendengarnya. Rona merah tipis hinggap di dua pipinya.
"Aku tunggu kabar selanjutnya, Ojisan."
"Pasti, hime-sama."
Begitulah, kedua orang itu segera berlalu dari beranda bangunan perguruan yang berbentuk rumah tradisional jepang. Mereka segera kembali ke istana yang berada di desa Konoha tersebut. Sebab mereka adalah keturunan bangsawan dari kalangan atas.
Entah siapa mereka. Akan segera tahu jika saatnya tiba.
.
.
.
Sang mentari tidak tampak bersinar di langit yang biru. Hampir separuh langit diselimuti awan-awan putih yang beranekabentuk. Angin bertiup cukup lembut dan terasa dingin. Tanaman-tanaman mulai berwarna kecoklatan atau kekuningan. Daun-daun kuning emas banyak berguguran dan berserakan di sepanjang jalanan desa. Suara-suara sahutan orang-orang terdengar di berbagai sudut jalanan desa seiring tengah hari yang mulai datang. Menyambut akhir musim gugur yang akan digantikan dengan musim dingin.
Di jalanan desa, semua orang lalu-lalang. Mereka mengenakan jubah, syal dan pakaian serba tebal untuk menghalau rasa dingin. Meskipun begitu, mereka tetap sibuk beraktifitas. Seperti kios-kios yang masih terbuka di dua sisi sepanjang jalanan desa, tampak penjual dan pembeli yang sedang menawar sebuah barang. Beberapa orang yang keluar-masuk sebuah kedai makan. Ada sekelompok anak yang sedang berlarian. Orang tua yang membawa anak-anaknya. Berbagaimacam pemandangan aktifitas yang menarik untuk diperhatikan, sepanjang perjalanan itu. Sungguh menyita perhatian sang dewa matahari yang sedang berjalan santai di antara keramaian orang-orang seperti ini.
Iris saffir biru seindah langit itu terus memperhatikan setiap kios yang ada di dua sisi sepanjang jalanan desa. Rambut pirang jabriknya terlihat acak-acakan sehingga memberi kesan menarik bagi para gadis muda yang melihatnya. Kain hitam tampak melingkari kepalanya. Tubuhnya tinggi dan tegap dibalut dengan pakaian dalaman serba hitam dan ditutupi dengan pakaian zirah kayu berwarna jingga kehitaman. Obi atau sabuk kain berwarna biru muda melingkari pinggangnya untuk dijadikan tempat sisipan peletakan pedang kusanagi-nya. Sendal kayu bertali membungkus kedua kakinya. Itulah penampilan Naruto saat pergi mengajar sebagai guru di perguruan pedang elemen alam dan samurai.
Kesannya sekarang dia adalah ksatria samurai yang baru saja tiba di desa Konoha ini. Masih muda dan disangka belum menikah bagi orang-orang yang pertama kali melihatnya. Pesonanya begitu kuat saat berpenampilan seperti itu hingga semua murid perempuan di tempatnya mengajar, kagum dan menaruh hati padanya. Mereka menyangka dia masih single atau belum mempunyai pacar. Bahkan ada yang berlomba-lomba untuk menarik perhatiannya. Tanpa tahu statusnya yang sebenarnya yaitu sudah menikah dan mempunyai seorang istri. Apalagi dia akan menjadi seorang ayah, beberapa bulan ke depannya.
Niat Naruto sekarang adalah memberikan kejutan manis untuk istrinya saat tiba di rumah nanti. Dia ingin membuat istrinya semakin senang karena perhatiannya. Dia ingin menunjukkan betapa besarnya perhatian dan cintanya pada istrinya. Tidak ingin mengecewakan hati istrinya lagi.
Setelah sekian lama mencari, akhirnya dia menemukan apa yang ia cari. Senyuman terpatri di wajahnya dan segera berlari cepat menuju tempat yang dicarinya itu.
Ternyata kios yang merupakan tempat menjual bunga. Pemiliknya adalah keluarga Yamanaka. Lalu anak dari keluarga Yamanaka itulah yang menjaga kios bunga ini. Namanya lengkapnya Yamanaka Ino.
Ino, begitulah nama panggilannya. Dia seorang gadis berambut pirang panjang yang diikat ponytail. Ada sedikit poni yang menjuntai di wajahnya sehingga menutupi mata kirinya. Dia selalu mengenakan kimono terusan selutut berwarna hitam dengan sabuk kain putih yang melingkari bagian bawah dadanya. Selalu mengenakan sepatu kain berwarna putih. Umurnya sekitar 19 tahun.
Tentu saja dia sudah mengenal Naruto karena Naruto sering membeli bunga di tempatnya. Dia juga sudah tahu kalau Naruto sudah menikah karena Naruto yang memberitahukan semuanya padanya.
Saat mengetahui Naruto datang ke kiosnya, dia segera menghampiri Naruto padahal dia sedang sibuk merangkai bunga. Tapi, karena ada pelanggan setianya, dia rela meninggalkan pekerjaannya itu dan langsung menyapa Naruto dengan senyuman ramahnya.
"Hai, Naruto. Selamat siang! Beli bunga lagi buat istrimu ya?"
Naruto yang berdiri di dekat bunga-bunga mawar, tersentak dan menoleh ke arah Ino. Dia juga tersenyum.
"Hai, selamat siang juga! Iya, aku mau beli bunga lagi buat istriku."
"Hehehe, sudah kutebak."
"Tentu saja. Bunga yang kubeli ini untuk siapa lagi kalau bukan untuk istriku."
"Hehehe, bisa kulihat kok," Ino tertawa kecil."Jadi, kamu mau beli bunga apa? Apa bunga mawar putih lagi?"
Laki-laki itu mengambil setangkai bunga mawar putih dari dalam potnya. Dia mengangguk seraya tertawa lebar.
"Hehehe... Benar. Aku beli bunga mawar putih lagi."
"Hah? Dasar! Masa itu terus?"
"Tapi, inilah bunga yang disukai istriku. Kau pernah bilang kalau arti bunga mawar putih ini adalah cinta yang suci, kan?"
"Iya sih. Artinya seperti itu."
"Hehehe... Jadi, aku beli setangkai bunga mawar putih ini. Karena cintaku memang suci untuk istriku. Selamanya tetap seperti itu."
Ino terpaku sebentar setelah mendengarnya. Sedetik kemudian, dia tersenyum simpul.
"Kau memang suami yang sangat baik dan perhatian. Istrimu sungguh beruntung mendapatkanmu," Ino memandang ke arah bunga yang dipegang oleh Naruto."Aku berharap Sai akan sepertimu setelah aku menikah dengannya. Aku nggak sabar menanti saat itu tiba."
Naruto bengong di tempat. Memperhatikan wajah Ino yang bersemu merah.
"Sai? Siapa dia?"
"Sai itu pacarku. Dia seorang pelukis ternama di desa ini. Dia seumuran denganmu."
"Sai itu pelukis?"
"Iya."
Gadis berambut kuning itu mengangguk cepat. Sesaat Naruto terdiam sambil memegang dagunya dengan tangan kirinya. Berpikir sebentar.
"Ada apa, Naruto?" tanya Ino kemudian. Dia heran mengapa Naruto malah terdiam.
Langsung saja Naruto menjawabnya dengan wajah yang sangat serius.
"Aku bisa minta tolong nggak sama Sai itu?"
"Eh? Minta tolong apa?"
Senyuman simpul terpatri di wajah tampan sang dewa matahari.
"Sampaikan sama Sai, temui aku di dekat bukit monumen patung wajah Hokage, sekitar jam 5 sore. Aku ingin dia melukisku dan istriku karena aku ingin mempunyai lukisan kenangan tentang pernikahanku dengan istriku ini. Aku akan menunggunya bersama istriku di sana. Jika perlu kau boleh ikut bersama pacarmu itu. Sekalian berkenalan dengan istriku. Bagaimana?"
Sang pemilik kios bunga tersebut, terdiam. Sesudah itu, dia tersenyum manis.
"Baik. Akan kusampaikan pesanmu ini sama Sai. Dia pasti mau menemui kalian di sana."
"Terima kasih, Ino."
"Hm, sama-sama."
.
.
.
Tak lama kemudian, Naruto sudah tiba di rumah Jiraiya. Dia masuk ke dalam ruang tamu dan melepaskan sendal kayunya. Lalu ia berseru keras.
"Tadaima!"
"Okaeri!"
Terdengarlah suara datar seorang gadis yang menjawab ucapan Naruto. Naruto langsung menyadarinya bahwa suara tersebut bukanlah suara istrinya, melainkan suara gadis berambut biru yaitu...
"Konan," kata Naruto yang sedikit terkejut saat mendapati Konan yang sedang duduk santai di belakang meja kayu yang dialasi taplak meja tebal. Gadis itu tampak asyik merajut untuk membuat sesuatu.
"Ah, kau rupanya, Naruto," sahut Konan yang berwajah datar."Aku kira Yahiko dan Nagato yang pulang. Tapi, kenapa kamu sendirian yang pulang duluan?"
Naruto tertawa kecil sambil berjalan dengan pelan ke arah Konan.
"Hehehe... Yahiko dan Nagato masih mengajar sekarang. Aku rasa pasti mereka akan pulang sebentar lagi."
"Oh... Ya sudahlah."
"Di mana Koneko? Apa kau melihatnya, Konan?"
"Koneko ya? Aku rasa dia ada di kamar sekarang."
"Oh ya, terima kasih. Aku akan pergi menemuinya di kamar sekarang."
"Ya, pergilah."
Konan hanya mengangguk pelan. Kemudian dia pun melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
TAP! TAP! TAP!
Dengan langkah yang cepat, Naruto pergi menghampiri Koneko yang diperkirakan ada di kamar. Dia tidak sabar untuk menemui Koneko karena ingin memberikan kejutan istimewa untuk Koneko sekarang juga.
Beberapa menit kemudian, dia tiba juga di kamar tersebut. Pintu kamar pun terbuka saat Naruto menggesernya ke samping.
GRATAK!
Dia masuk ke dalam kamar sambil memanggil nama istrinya.
"Koneko-chan!"
Kosong.
Tidak tampak Koneko di dalam kamar tersebut. Diedarkannya pandangannya ke segala sudut tempat itu. Seketika ia bengong di tempat.
"Lho, Koneko-chan mana ya?"
"Aku di sini, Naruto-kun."
Tiba-tiba muncul suara yang menyahut perkataan Naruto. Naruto menyadarinya dan menoleh ke arah asal suara.
Rupanya Koneko. Gadis berambut putih itu berdiri di depan mata Naruto. Dia memakai kimono terusan selutut berwarna putih dengan corak daun berjari banyak berwarna biru muda. Obi atau sabuk kain berwarna biru tua melingkari bagian bawah dadanya. Kedua kakinya tidak memakai apa-apa.
Naruto terpaku melihat penampilan istrinya itu. Sepertinya Koneko sudah mempersiapkan dirinya sebagus mungkin untuk acara kencannya hari ini.
Otomatis kedua pipi Koneko merona merah saat dipandangi Naruto begitu lama. Dia pun tersenyum malu-malu begitu.
"Hm... Na-Naruto-kun, a-ada apa? A-Apa penampilanku aneh ya?"
Sang dewa matahari tersentak dari keterpanaannya. Dia pun tersenyum lebar.
"Ah, nggak aneh kok. Seperti biasa, kamu tetap manis, Koneko-chan."
"Be-Benarkah?"
"Benar."
Senyuman muncul lagi di wajah gadis reinkarnasi Matatabi itu. Wajahnya kembali merona merah. Lalu dia pun menutup pintu kamar tersebut agar tidak ada orang yang melihat kemesraannya dengan Naruto.
"Oh iya, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan sama kamu," ujar Koneko menggenggam tangan Naruto.
"Eh? Sesuatu apa?" Naruto bengong. Dia penasaran.
"Sini, ikut aku."
"Baiklah."
Maka Koneko menarik tangan Naruto untuk berjalan ke arah meja kayu. Naruto mengikutinya dari belakang dengan beribu-ribu pertanyaan di benaknya.
SET!
Genggaman tangan Koneko dilepasnya dari tangan Naruto. Dia segera mengambil sesuatu yang berada di bawah kolong meja kayu yang dialasi dengan taplak meja tebal. Naruto berdiri sambil memperhatikan istrinya itu.
Tampaklah keranjang kecil yang dipenuhi dengan benang-benang wol berwarna-warni dalam bentuk bola. Ada beberapa jarum menancap di salah satu bola-bola benang wol itu. Lalu terdapat syal berwarna jingga berukuran besar dan panjang yang terletak di atas benang-benang wol tersebut.
Koneko mengambil syal jingga tersebut. Kemudian ia menyodorkannya pada Naruto.
SET!
Naruto memandangi syal jingga itu dengan lama. Dia terpaku.
"Syal?"
"Iya. Ini syal untukmu," ungkap Koneko dengan rona merah di dua pipinya."Syal baru yang kubuat sendiri. Waktu itu, aku pernah berjanji sama kamu untuk membual syal baru ketika kita sudah sampai di desa Konoha ini. Terus aku membuat syal ini diam-diam saat kamu mulai pergi mengajar. Jadi, baru hari ini selesai. Terimalah, Naruto-kun, karena aku sudah menepati janjiku itu. Kamu senang, kan?"
Mendengar semua itu, Naruto terpaku kembali. Sedetik kemudian, dia tersenyum simpul dan menerima syal tersebut dengan perasaan yang sangat senang.
"Terima kasih, Koneko-chan. Kebetulan sekali kamu membuatnya di akhir-akhir musim gugur ini. Sebentar lagi akan memasuki musim dingin, kan?"
"Iya."
Koneko juga tersenyum dan sangat senang saat memperhatikan Naruto yang langsung memakai syal itu. Naruto membelitkan syal itu di lehernya.
"Ternyata syalnya sangat cocok untukku. Kamu pandai sekali membuatnya."
PUK!
Tangan Naruto mengelus puncak rambut Koneko dengan gerakan lembut. Membuat wajah Koneko bersemu merah sekali lagi. Dia tersenyum simpul karena merasakan kasih sayang Naruto yang begitu besar padanya.
Setelah itu, Naruto menjauhkan tangannya dari puncak rambut Koneko. Dia menatap wajah Koneko lekat-lekat.
"Aku juga punya sesuatu untukmu."
"Apa itu?"
Gadis itu penasaran dengan sesuatu yang ingin ditunjukkan Naruto padanya. Dia pun memperhatikan Naruto yang mengambil sesuatu dari balik sabuk kain yang melingkari pinggangnya. Lalu menyodorkan sesuatu itu pada Koneko.
"Ini untukmu."
Iris kuning keemasan itu menatap sesuatu yang dipegang oleh Naruto. Dia terpaku sebentar.
"Bu-Bunga mawar putih?"
"Iya. Hadiah istimewa untukmu. Kamu suka bunga ini, kan?"
Secara langsung, Koneko mengambil bunga itu dari tangan kanan Naruto. Ia tersenyum sambil mencium bunga itu dengan perasaan yang berwarna-warni.
"Terima kasih. Aku suka bunga ini, Naruto-kun."
"Hm."
Sang suami juga tersenyum melihat istrinya yang tersenyum bahagia. Dia ikut senang melihat istrinya itu.
GREP!
Secara langsung, istrinya merangkul pinggangnya dengan erat. Ia membalas rangkulan istrinya. Berpelukan selama beberapa menit.
"Kita jadi berkencan hari ini, kan?"
"Iya. Jadi kok, Koneko-chan."
"Terus apa kamu tetap berpenampilan seperti itu saat kita kencan nanti?"
"Nggak," Naruto tertawa geli."Aku akan ganti pakaian kok. Masa aku berpakaian seperti ini saat kita pergi berkencan? Hehehe..."
"Kalau gitu, sana ganti pakaianmu dulu."
"Baiklah."
Keduanya saling melepaskan pelukan masing-masing. Menjauhkan jarak untuk sementara waktu.
Laki-laki berambut pirang jabrik itu segera mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai. Sedangkan gadis berambut putih itu meletakkan bunga mawar putih tadi ke dalam vas bunga yang terletak di atas meja kayu. Di mana terdapat dua-tiga bunga mawar putih yang mengisi vas bunga tersebut.
Koneko tidak memilih untuk memperhatikan suaminya yang sedang berganti pakaian, tepat di belakangnya. Tidak jauh darinya. Dia terus memperhatikan bunga-bunga mawar putih yang berada di vas bunga tersebut. Senyuman manis tak pernah hilang di wajahnya yang terus memerah.
Dia duduk bersimpuh. Sesekali dia memegang perutnya yang masih datar. Di dalam perutnya tersebut, ada janin yang berusia 2 bulan yang sedang berkembang. Pergerakan janinnya belum terasa karena belum ada nyawanya. Masih menunggu sekitar sebulan lagi, barulah dia merasakan pergerakan janinnya itu. Barulah ia merasakan namanya hamil yang sesungguhnya.
SET!
Dia tersentak saat muncul kedua tangan kekar yang merangkul perutnya dari belakang. Dia pun melirik ke arah belakang. Rupanya Naruto.
"Kamu sedang melamun apa, Koneko-chan?" tanya Naruto yang penasaran. Dia sudah berganti pakaian dengan pakaian kimono dan celana setengah betis serba hitam. Tidak memakai kain hitam di kepalanya dan tidak lupa melilitkan syal jingga di lehernya. Tidak tampak juga pedang kusanagi yang terpasang di sabuk kain jingga yang kini melingkari pinggangnya.
Dia duduk di belakang Koneko sambil merangkul perut Koneko dari belakang. Sehingga membuat wajah Koneko menjadi memerah padam. Merasakan debaran jantungnya menjadi sangat kencang.
"Ah, ng-nggak ada," jawab Koneko dengan gugup dan berusaha mengalihkan perhatian agar Naruto tidak bertindak lebih jauh dari ini."Apa sekarang kita bisa pergi, Naruto-kun?"
"Hm... Begitu ya? Ya, kita bisa pergi sekarang kok. Kita makan siang di luar sana ya. Tapi, kita harus permisi dulu sama Konan."
"Iya."
Lantas Naruto melepaskan rangkulan dari perut Koneko. Dia yang berdiri duluan dan membantu Koneko berdiri juga. Mereka pun bersama-sama keluar kamar untuk pergi berkencan di siang ini, pada hari dingin di akhir musim gugur. Kencan mereka pasti sangat menyenangkan karena pas pula hari ini adalah hari Sabtu. Akhir weekend yang sangat ditunggu-tunggu semua orang yang ada di dunia ini.
Begitulah. Acara kencan antara dewa matahari dan gadis Matatabi akan berlangsung dengan perasaan yang berbunga-bunga. Acara kencan yang dimulai lagi dalam status hubungan mereka yang sudah menikah. Kini mereka akan menghabiskan waktu bersama dalam momen indah ini. Semoga saja berjalan sesuai dengan rencana mereka.
.
.
.
Usai makan siang bersama di sebuah kedai makan yang cukup ramai dan ternama di desa Konoha, Naruto mengajak Koneko berjalan-jalan mengelilingi desa Konoha. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan dengan erat. Mencuci mata kesana-kemari. Mengunjungi semua tempat yang ada di desa tersebut. Bercanda ria dan tertawa bersama dalam acara kencan mereka di siang hari menjelang sore ini.
Seperti Koneko, yang tidak pernah merasa lelah untuk terus berjalan dan selalu antusias saat melihat pedagang yang menjual makanan-makanan ringan yang sangat menggugah seleranya. Apalagi ditambah dia malah mengidam karena hamil. Sehingga dia meminta Naruto untuk membelikan makanan itu untuknya. Dengan senang hati, Naruto membelikan makanan itu untuk istrinya karena dia tahu kalau istrinya sedang hamil, makanya istrinya mengidam makanan yang aneh-aneh yang dilihatnya di sepanjang jalanan desa. Dia berusaha untuk menyenangkan hati istrinya itu dan menjaga perasaan istrinya tetap merasa bahagia. Dengan begitu, dia telah menunjukkan perhatiannya yang begitu besar sebagai suami yang baik. Dia akan selalu siap sedia untuk melindungi istrinya jika muncul serangan dari dewa kematian yang datang secara tiba-tiba di saat-saat seperti ini.
Jadi, dia tidak pernah sekalipun lengah dan selalu menggenggam tangan istrinya tanpa terlepas sedikitpun. Tetap waspada di saat berada dalam keramaian di jalanan desa seperti ini. Tetap menajamkan mata untuk selalu memperhatikan orang-orang yang lalu-lalang. Tanpa pernah berpikir sedikitpun melepaskan genggaman tangannya dari tangan istrinya. Akan tetap berada di dekat istrinya walaupun apa yang terjadi.
Tanpa terasa mereka sudah berjalan selama dua jam lamanya. Hingga mereka pun memutuskan untuk beristirahat sejenak di taman desa.
Taman desa yang indah dan banyak dipenuhi pepohonan yang rindang. Pepohonan tampak berwarna kekuningan dan sedang mengugurkan daun-daunnya yang kering. Angin bertiup cukup kencang seiring sinar matahari tidak begitu terik untuk menerangi bumi. Awan-awan menyelimuti langit yang biru sehingga menghalangi sinar matahari yang ingin turun ke bumi. Menemani kebersamaan sepasang suami-istri yang kini duduk di sebuah bangku kayu, tepatnya di bawah pohon gingko yang sedang asyik mengugurkan daun-daunnya.
Tampak Naruto menghelakan napasnya berkali-kali karena merasakan kakinya yang ingin copot sekarang juga. Terasa lelah dan dingin yang menguasai dirinya padahal dia sudah mengenakan pakaian yang serba tebal serta syal untuk mengusir rasa dingin tersebut. Sementara gadis di sampingnya, juga menghelakan napasnya sebentar sembari menutupi dirinya dengan jubah tebal yang dipakainya sekarang. Mereka duduk secara berdampingan dan saling bergandengan tangan.
"Haaaaah... Capek sekali," kata Naruto yang menutup kedua matanya sebentar."Apa kamu juga merasa capek sekarang, Koneko-chan?"
Sang istri melirikkan matanya ke arah suaminya. Dia tersenyum.
"Iya. Capek. Tapi, nggak apa-apa kok."
"Nggak merasa mual juga?"
"Nggak."
"Syukurlah."
Naruto juga tersenyum sambil membuka kedua matanya. Menoleh ke arah Koneko.
Setelah itu, mereka memandang ke arah lain, tepatnya memandang ke arah langit.
"Sekarang sudah jam berapa ya, Naruto-kun?"
"Mungkin sudah jam tiga lewat jika dilihat dari posisi matahari," Naruto mengerlingkan sebelah matanya."Cuaca sekarang memang cukup dingin. Apalagi sekarang sudah memasuki bulan Desember. Sebentar lagi, kita akan menyambut tahun yang baru."
"Oh. Aku mengerti."
"Apa kamu senang hari ini, Koneko-chan?"
"Tentu saja, aku senang."
Keduanya saling menatap lagi. Saling tersenyum antara satu sama lainnya. Kemudian memandang ke arah langit yang begitu cerah.
Hening.
Mereka terdiam selama beberapa menit. Lalu suara Koneko yang memecahkan suasana keheningan di tempat itu. Hanya terlihat mereka berdua di sana, tidak ada yang lain.
"Naruto-kun."
"Ya?" Naruto melihat ke arah istrinya."Apa?"
Koneko juga melihat ke arahnya. Wajahnya sangat serius.
"Sebenarnya kamu menginginkan anak laki-laki atau anak perempuan yang kukandung ini? Karena aku ingin tahu saja apa yang kamu mau. Jadi, jawablah dengan jujur pertanyaanku ini. Aku nggak ingin kamu kecewa nantinya. Begitulah maksudku."
Mendengar perkataan Koneko itu, membuat Naruto terdiam sebentar. Sedetik kemudian, dia menjawabnya.
"Ya, sebenarnya aku mau anak laki-laki supaya ada yang menggantikan posisiku menjadi dewa matahari nanti. Tapi, aku juga ingin mempunyai anak perempuan supaya ada yang membantumu untuk mengurus pekerjaan rumah tangga. Kalau bisa sih, kita mendapatkan dua-duanya sekaligus. Dua anak, itu sudah cukup. Itu yang aku mau."
Sungguh, Koneko terpaku mendengarnya sambil memegang perutnya. Lantas dia tersenyum dengan rona merah di dua pipinya.
"Dua anak. Satu laki-laki dan satu perempuan. Gitu, kan?"
"Iya. Kalau bisa di kehamilanmu yang pertama ini, kita mendapatkan anak kembar. Laki-laki dan perempuan. Seperti aku dan Hellscythe."
"Hmmm... Apa mungkin kita bisa mendapatkan anak kembar dalam satu kali hamil ini? Aku nggak yakin, Naruto-kun."
"Yakin saja, Koneko-chan," Naruto memandang wajah Koneko dengan intens."Semoga kami-sama mendengarkannya dan memberikan kita sepasang anak kembar. Laki-laki dan perempuan. Aku sangat yakin kita bisa mendapatkannya. Nggak ada yang mustahil di dunia ini, kan? Jadi, percayalah pada-Nya ya?"
Tangan Naruto memegang salah satu pipi Koneko. Dia tersenyum dengan penuh kelembutan. Menatap erat kedua mata istrinya itu dalam jarak yang cukup dekat.
Istrinya mengangguk pelan. Dia begitu senang mendengarnya.
"Iya. Aku percaya itu."
"Bagus."
Dia mengelus pipi Koneko dengan pelan. Koneko tersenyum lagi tatkala melihatnya tersenyum. Mereka tersenyum bersama dalam suasana indah seperti ini.
Tiba-tiba...
DEG!
Naruto merasakan hatinya berdetak sangat kencang. Sangat lain tak seperti biasanya. Entah mengapa firasatnya terasa tidak enak.
'Ada apa ini? Aku merasakan hawa kegelapan yang begitu pekat. Asalnya dari tempat ini,' batin Naruto yang membulatkan kedua matanya. Dia langsung melihat ke arah langit.
SRIIING!
Mendadak juga, langit yang biru berubah menjadi gelap gulita dengan cepat. Matahari juga mendadak menghilang karena diterpa kegelapan yang datang. Malam tiba tidak sesuai dengan waktunya. Seakan-akan ada kekuatan besar yang bisa memanggil malam untuk cepat menyingkirkan siang. Padahal hari masih menunjukkan pukul 3 sore.
"...!"
Merasakan keanehan yang terjadi pada perubahan alam di depan mata, Koneko juga membulatkan kedua matanya. Dia menjadi sedikit takut dengan apa yang terjadi.
"Na-Naruto-kun, ada apa ini? Kok malam cepat sekali datangnya?" tukas Koneko yang merangkul pinggang Naruto dengan kuat."Apa mungkin dewa kematian telah datang untuk membunuhku? Aku nggak akan membiarkan dia menyentuh janin yang kukandung ini!"
Naruto memasang wajah seriusnya. Dia memeluk pundak Koneko dari samping. Berusaha untuk menenangkan istrinya yang mulai kelihatan panik dan ketakutan begitu.
"Tenang saja, kamu nggak usah takut. Aku ada di sini untuk melindungimu dan juga anak kita. Kita lihat dulu apa yang terjadi setelah ini."
"Iya."
Koneko mengangguk cepat dengan wajah yang sangat kusut. Terus memandang ke arah langit yang kini menjadi gelap gulita. Semuanya sudah menjadi gelap karena malam sudah tiba.
SRIIING!
Muncul sinar hitam dari langit dan mendarat di permukaan tanah, tak jauh dari Naruto dan Koneko berada. Sinar hitam itu berubah bentuk menjadi seekor makhluk yang sangat besar. Berwarna hitam pekat. Bermata hitam yang sangat tajam. Bersayap lebar. Berkaki empat dan berekor panjang. Makhluk itu adalah...
"NAGA HITAM!" seru Koneko dengan keras.
Wajahnya syok seketika karena tidak menduga bakal muncul makhluk mitologi yang diketahui telah menyerang banyak desa termasuk desa tempatnya tinggal dulu. Desa Kuoh yang pernah dihancurkan oleh makhluk itu. Dia masih mengingatnya dengan baik.
Suaminya juga syok melihat kedatangan makhluk itu. Terlebih Koneko menyebut namanya sehingga Naruto menoleh ke arah Koneko.
"Naga hitam? Jadi, makhluk itu namanya naga hitam?"
Sang istri juga melihat ke arahnya.
"Iya. Makhluk itu yang pernah menyerang desaku, sejak tiga tahun yang lalu. Aku masih ingat sampai sekarang," Koneko masih kelihatan syok."Ba-Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan, Naruto-kun? Akukan nggak boleh bertarung sekarang!"
Sang dewa matahari tersentak mendengarkan pengakuan jujur Koneko itu. Secara langsung dia mengatakan sesuatu agar Koneko tetap tenang. Dia bangkit berdiri sambil terus merangkul pundak istrinya dari samping. Istrinya pun ikut bangkit berdiri karena merangkul pinggangnya dengan begitu erat.
"Akulah yang akan melawannya, Koneko-chan. Aku nggak akan membiarkan dia sedikitpun melukaimu. Apalagi menyerang para warga desa ini. Aku akan melakukan sesuatu agar desa ini tetap aman saat terjadi pertarungan besar," ucap Naruto yang mulai berwajah garang. Salah satu tangannya mulai bersinar kekuningan untuk menggunakan kekuatan besarnya sebagai dewa matahari.
PAAATS!
Tiba-tiba, muncul sinar putih yang membentuk kubus raksasa untuk memagari sekeliling taman itu. Mengurung naga hitam itu di dalamnya. Sementara Naruto dan Koneko berada di luar kubus raksasa itu.
Itulah jurus yang bernama "Light Cube", jurus elemen cahaya yang digunakan sebagai pelindung agar si naga hitam tidak keluar dari area pertarungan.
Tidak sampai di situ, Naruto juga menghentakkan tangannya yang bersinar kekuningan ke udara untuk memunculkan sesuatu.
PAAATS!
Mendadak muncul berupa lingkaran segel dengan huruf dan simbol yang aneh di udara saat Naruto menghentakkan tangannya ke udara. Lingkaran segel itu bercahaya terang ketika muncul seekor makhluk dari dalamnya. Makhluk raksasa. Kini dia pun keluar dari persembunyiannya selama ini.
DAP!
Ternyata makhluk raksasa berwujud musang berekor sembilan. Bermata merah menyala. Tubuhnya berwarna orange. Berkaki empat. Namanya Kurama. Makhluk peliharaan dewa matahari yang sesungguhnya.
Dia berwajah garang saat menatap ke arah naga hitam itu. Kini dia berada di dalam kurungan kubus cahaya dan bersiap akan melawan naga hitam tersebut.
Koneko melihat Kurama dengan wajah yang sedikit kaget. Dia menoleh ke arah Naruto.
"Heh? Musang berekor sembilan? Makhluk apa itu, Naruto-kun?"
Tatapan mata biru Naruto menyudut ke arah istrinya. Dia tersenyum simpul.
"Namanya Kurama. Dia adalah hewan suci peliharaan dewa matahari sebelumnya. Milik ayahku yang datang dari negeri Olympus."
"Oh."
Gadis berambut putih membulatkan mulutnya seperti huruf o. Lalu memperhatikan Naruto yang memandang kembali pada Kurama.
"Kurama! Serang naga hitam itu! Kalahkan dia! Jangan sampai dia lepas dari kurungan kubus cahaya ini!"
Si musang menyeringai lebar. Kedua matanya menyipit tajam.
"Baiklah, Naruto!"
SYAAAT!
Saat itu juga, Kurama melesat maju duluan untuk menyerang si naga. Naga hitam itu menyadarinya.
Kesembilan ekor Kurama bergerak ke arah depan dan mengarah tepat ke arah naga. Lalu dari setiap ujung ekor itu, muncul sinar terang sehingga meluncur lurus bagaikan pilar cahaya yang berkekuatan besar. Segera menerjang ke arah naga itu.
Bola mata hitam naga bergerak untuk melihat serangan itu. Dia pun membuka mulutnya lebar-lebar untuk memunculkan serangan api hitamnya.
BWOOOOOSH!
Bola api hitam besar meluncur dari dalam mulut si naga dan langsung menerjang serangan Kurama begitu saja.
Terjadilah peristiwa yang tidak disangka-sangka. Ternyata serangan Kurama diserap oleh kekuatan bola api hitam tersebut!
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
A/N:
CHAPTER 25 UPDATE!
Sekian dan terima kasih.
Sampai jumpa lagi di chapter 26.
Mau mereview nggak?
Finish: Senin, 18 Juli 2016
