All of the characters belongs to J.K Rowling.
WILL I BE OKAY?
Chapter 25 : Happy Ending.
A/N : Dedicated to jinxsmoonstone, satu dari sedikit pembaca cerita ini yang belum lari dan meninggalkanku.
Jumat, 21 Januari 2022
Hermione baru tertidur dua jam saat ia merasakan kakinya digoyang-goyangkan oleh seseorang.
"Mummy..." Hermione mendengar suara berbisik. "Mummy.." bisikannya terdengar lebih keras sekarang, Hermione membuka matanya dan menemukan anak perempuannya yang paling kecil berada di ujung kasur dan terlihat sangat panik.
"Helen? Ada apa sayang?" Hermione bangun, mengedipkan matanya beberapa kali dan menyingkirkan tangan Draco yang melingkar di pinggangnya.
"Mummy, aku mendengar seseorang di dapur, aku takut." Helen berseru lagi.
"Sesuatu apa sayang?" Hermione bertanya, ia turun dari kasur berniat mengecek siapa yang berada di dapur tengah malam begini, ia mengambil tongkatnya yang berada di meja dan menggandeng Helen berjalan keluar kamar, menuruni tangga dan menuju ke dapur.
Hermione menyalakan lampu dan menemukan anak laki-lakinya yang paling besar sedang berada di depan kulkas sambil memakan selai kacang langsung dari tempatnya.
"Devon." Hermione berseru agak marah.
Devon menoleh ke belakang dan menemukan ibunya dan adik perempuannya berada di dekat tombol lampu, memergokinya sedang menghabiskan selai kacang langsung dari tempatnya.
"Mom..." Devon berseru canggung.
"Apa yang kau lakukan tengah malam Devon?" Hermione berjalan mendekat. "Mom kan sudah bilang jika kau lapar tengah malam kau harusnya makan buah, bukan menghabiskan satu toples selai seperti ini." Hermione marah dan meletakkan kedua tangannya di pinggang.
"Ada apa sih?" Seseorang berseru dari tangga.
"Apparently, Devon kelaparan dan menghabiskan seluruh selai kacang." Helen berseru menjawab pertanyaan Xavier, kakak laki-lakinya.
"Tsk...Tsk...Tsk.. Devon, kau dalam masalah." Xavier berseru meledek dan berdiri di belakang ibunya.
Tidak lama dari tangga terdengar suara langkah kaki lagi, kali ini Draco turun, wajahnya masih mengantuk dan matanya masih tertutup sebelah.
"Kenapa kalian ribut tengah malam? Bagaimana jika Jasper terbangun? Mummy kalian sudah kelelahan berusaha menidurkannya. Apa yang kalian semua lakukan di sini sekarang?"
"Devon menyelinap keluar kamar untuk menghabiskan selai kacang dan membuat Helen takut ia mendengar sesuatu di dapur." Hermione menjelaskan.
Draco menggeleng-gelengkan kepalanya. "Xavier antar Helen ke kamarnya dan jangan berisik, kalian tidak mau Jasper terbangun kan? Devon! Sikat gigimu dan kembali ke sini karena Dad harus bicara padamu."
Xavier dengan cepat menggandeng Helen ke kamarnya, dan Devon juga cepat pergi untuk menyikat giginya.
"Hermione, kau mengantuk kan? Tidurlah biar aku yang bereskan ini dan bicara pada Devon." Draco berseru lembut dan mencium kening Hermione.
Hermione tidak tahu harus mengatakan apa selain terimakasih, jadi ia berterima kasih pada suaminya dan kembali ke kamarnya untuk beristirahat, ia benar-benar lelah dan sangat bersyukur Draco mengerti itu.
Devon memang sedang dalam masa pertumbuhan jadi ia memang sering kali lapar di tengah malam dan belakangan ini ia semakin tidak bisa mengendalikan dirinya.
.
Siapa yang menyangka, dalam sepuluh tahun pernikahan Hermione Granger dan Draco Malfoy mereka akan punya empat anak?
Devon Alexander Malfoy lahir di tahun kedua pernikahan kedua orangtuanya, ia punya rambut yang lurus dan silver sama seperti ayahnya, ia bahkan punya mata yang silver seperti ayahnya, dilihat dari luar ia sama persis seperti ayahnya, bahkan adiksinya terhadap makanan manis sama seperti ayahnya, hampir tidak ada jejak Hermione di dalam dirinya kecuali hobi membacanya.
Xavier Frederick Malfoy, ia lahir satu tahun setelah Devon dan juga terlihat seperti ayahnya, rambutnya, matanya, dagunya, jika ia tidak lebih kecil dari Devon mereka pasti akan dikira kembar oleh banyak orang, lagi-lagi tidak terlalu banyak jejak Hermione di dalam diri anak keduanya kecuali bakatnya yaitu takut ketinggian. Meskipun Devon selalu meledeknya karena ini Draco dan Hermione selalu mengatakan kalau takut ketinggian bukan sesuatu yang buruk.
Tadinya Hermione sudah tidak mau punya anak lagi, ia sudah merasa cukup dengan dua anak laki-lakinya yang selalu membuat masalah, hanya saja Draco bertekad kalau ia tidak akan berhenti sebelum punya anak perempuan yang seperti Hermione, jadi dengan berbagai cara ia membujuk Hermione.
Empat tahun setelah Xavier, lahirlah Helen Constantine Malfoy. Rambutnya berwarna cokelat dan ia punya hidung kecil yang manis, sama seperti Hermione, Draco sangat senang ketika ia pertama kali menggendong anak perempuannya, dan sepertinya Helen tahu kalau ia sedang digendong oleh ayahnya, ia membuka matanya dan warna siver yang begitu indah bertemu dengan mata ayahnya.
Draco tidak bisa berharap lebih.
Draco sudah tidak meminta Hermione untuk melahirkan anaknya lagi, ia tahu mengurus tiga orang anak tidak akan mudah jadi ia tidak pernah membicarakan itu lagi dengan istrinya dan berusaha fokus membesarkan ketiga anak mereka dengan baik.
Tapi kemudian tiba-tiba Hermione memberitahunya kalau ia hamil lagi dan Draco langsung merasa seperti berada di langit ke tujuh. Tiga tahun setelah Helen lahir, Jasper Cepheus Malfoy lahir dan melengkapi keluarga kecil tapi tidak terlalu kecil mereka.
Setelah Helen lahir, keluarga mereka pindah ke rumah yang lebih besar, Hermione juga akhirnya memutuskan berhenti mengajar di Hogwarts dan menjadi ibu rumah tangga, fokus membesarkan anak-anaknya.
Begitu Jasper lahir, Draco tahu kalau Hermione mungkin akan kewalahan mengurus semua anak-anak mereka jadi ia menugaskan beberapa orang kepercayaannya mengurus perusahaan dan ia hanya pergi ke kantor dua atau tiga kali seminggu untuk mengurusi beberapa hal.
Sepuluh tahun lebih mereka menikah dan tidak pernah seharipun ada ketenangan di dalam rumah keluarga mereka. Tapi anehnya Draco dan Hermione benar-benar bersyukur akan hal itu. Mereka berdua sama-sama anak tunggal dan merasakan bagaimana sepinya hanya seorang diri.
Jadi setiap mereka mendengar Devon bertengkar dengan Xavier atau sebaliknya atau dengan Helen, mereka akan selalu tersenyum sebelum melerai anak-anak mereka dan menyelesaikan masalah yang ada.
Jangan salah, mengurus tiga anak dibawah 12 tahun ditambah satu bayi tidak mudah, tapi Draco dan Hermione menikmati setiap detiknya.
Jasper baru bersama dengan mereka selama empat bulan, dan dari pengalaman-pengalaman sebelumnya Jasper adalah yang paling susah untuk diurus saat bayi. Karena itu belakangan ini Hermione selalu kelelahan karena Jasper susah sekali untuk tidur dan dengan mudahnya terbangun karena hal-hal kecil.
Draco sekuat tenaga berusaha membantu Hermione, tapi tetap saja mereka berdua terlalu lelah untuk melakukan semuanya berdua. Devon dan Xavier memang bisa diandalkan untuk membantu beberapa hal tapi mereka tetap saja Hermione selalu kelelahan di malam hari.
Draco sedang berpikir untuk meminta salah satu peri rumah keluarga Malfoy untuk membantu mereka, tapi ia tidak yakin Hermione akan menerima ide itu.
Apa?
Bagaimana dengan Narcissa Malfoy?
Well, ada banyak yang berubah dengannya selama sepuluh tahun belakangan. Dan seperti yang kebanyakan terjadi, semua orang pasti luluh dengan keberadaan seorang cucu, apalagi Narcissa sekarang bukan hanya punya satu orang cucu, tapi empat.
Bagaimana mungkin ia tetap dingin dan tidak menerima keberadaan Hermione setelah Hermione memberikannya empat cucu yang luar biasa?
Well, Narcissa memang masih agak dingin pada Draco dan Hermione, tapi seminggu sekali ia akan meminta keempat cucunya untuk datang ke Manor dan bermain dengan mereka.
Di mata keempat cucunya, ia adalah Grandmother yang baik, dan Draco juga Hermione tidak pernah mengatakan sesuatu yang buruk tentang Narcissa. Tapi belakangan ini Devon mulai menyadari ada yang aneh antara Narcissa dengan Hermione dan akhirnya ia bertanya pada ibunya.
"Mom, apa sesuatu pernah terjadi antara Mom dengan Grandmother?" Devon bertanya saat ia sedang membantu ibunya merapikan meja makan setelah makan malam.
Draco yang sedang membersihkan sisa-sisa makanan di wajah Helen mendengar apa yang baru saja ditanyakan Devon pada ibunya.
"Hermione, kau sudah selesai? Helen bilang punggungnya gatal bisa kau cek sebentar?" Draco berseru, ia yang akan memberitahu Devon apa yang terjadi antara Narcissa dan Hermione.
.
Kamis, 3 Februari 2022
"Mom?" Xavier masuk ke kamar Helen untuk mencari ibunya.
"Ada apa sayang?" Hermione bertanya setelah ia selesai menyisir rambut Helen. Rambut Helen sama seperti Hermione, keriting, berantakan dan sulit di atur, jadi Hermione selalu menyisir rambut Helen agar tidak berantakan di pagi hari.
"Kapan aku akan mendapatkan kamarku sendiri?" Xavier berseru kesal.
"Xavier, kau tahu kan tidak banyak tempat di rumah kita." Hermione berseru. Rumah mereka memang cukup besar tapi ia dan Draco belum sempat melakukan renovasi lagi.
Di lantai satu rumah mereka hanya ada kamar tamu yang terkadang di isi oleh kedua orangtua Hermione jika mereka sedang berkunjung atau tamu lain seperti keluarga Potter atau keluarga Weasley.
Di lantai dua ada empat kamar tidur, satu kamar utama untuk Hermione dan Draco, awalnya Devon, Xavier dan Helen punya kamar mereka masing-masing, tapi karena Jasper perlu kamar mereka sendiri, Helen pindah dari kamar kecil di samping kamar Draco dan Hermione ke kamar Xavier yang lebih besar, dan memaksa Devon berbagi kamar dengan Xavier.
"Tapi aku tidak mau sekamar dengan Devon terus Mom! Ia menyebalkan!" Xavier berseru lagi.
"Dad bilang sebentar lagi juga Devon akan pergi ke Hogwarts, sabar Xavier!" Helen berseru sebelum ibunya menjawab.
"Dasar sok tahu." Xavier meledek adiknya.
"Mom! Xavier meledekku lagi." Helena berseru pada ibunya.
Hermione tersenyum. "Xavier, minta maaf pada Helen."
"Tapi Helen memang sok tahu Mom." Xavier tidak terima.
"Tapi memang sebentar lagi Devon akan pergi ke Hogwarts." Helen berseru, memberitahu kalau ia memang benar.
"Helen! Xavier! Apa yang Mom katakan tentang adu mulut kalian ini?" Hermione berseru saat Helen dan Xavier mulai meninggikan suara mereka.
"Maaf Mom." Helena dan Xavier langsung berseru.
"Xavier, kembali ke kamarmu, Mom akan membicarakan ini dengan Dad nanti." Hermione berseru.
"Hmm.." Xavier menjawab dan berjalan keluar.
"Helen tidurlah sekarang." Hermione berseru pada Helen lembut, Helen naik ke kasurnya dan menarik selimutnya. Hermione mencium keningnya dan mematikan lampu. Hermione tahu kalau helen tidak akan tidur sebelum Draco datang dan menciumnya selamat malam. "Selamat malam Helen."
"Selamat malam Mom."
.
Hermione sudah mengantuk sekali, tapi ia masih menunggu Draco kembali ke kamar mereka. Jasper sudah tertidur dan Draco sedang berada di kamar Devon dan Xavier.
Tidak lama pintu di buka dan Draco masuk, ia langsung melemparkan badannya ke kasur karena kelelahan.
"Apa kau sudah ke kamar Helen?" Hermione bertanya.
"Sudah."
"Bagaimana dengan Devon dan Xavier?" Hermione bertanya lagi.
"Kurasa kita memang harus merenovasi rumah lagi." Draco berseru dengan nada lelah.
Hermione menghela nafasnya.
.
Senin, 13 Juni 2022
"Devon!" Helen berusaha membangunkan kakak laki-lakinya.
"Ada apa Helen? Kenapa kau terus membangunkan semua orang di rumah ini?" Devon berseru mengantuk.
"Ada suara aneh dari kamar Mom dan Dad." Helen berseru panik, terus menggoyang-goyangkan lengan Devon.
Devon akhirnya membuka matanya. "Suara apa?" Devon bertanya, berusaha benar-benar terbangun.
"Aku tidak tahu, tapi sepertinya Mom sedang digigit sesuatu, sepertinya ada serangga besar atau semacamnya." Helen berseru lagi.
Devon menghela nafasnya. "Kalau hanya serangga biarkan saja, pasti Dad sudah menangkapnya."
"Tapi aku juga mendengar suara Dad, sepertinya ia juga digigit serangga ini, mungkin mereka tidak bisa menangkapnya berdua, mungkin mereka butuh bantuan kita." Helen berseru.
"Tidurlah Helen! Itu bukan serangga!" Xavier berseru dari kasurnya.
"Darimana kau tahu kalau itu bukan serangga Xavier?" Helen bertanya kesal pada kakak laki-lakinya yang lain sambil meletakkan tangannya di pinggang.
"Karena itu memang bukan serangga! Sudah kembali saja ke kamarmu!" Xavier berseru, meletakkan bantal di kepalanya untuk memblokir suara Helen yang berisik.
"Kau dengar Xavier kan Helen? Kembali saja ke kamarmu, itu bukan serangga." Devon memberitahu adiknya.
"Lalu kenapa Mom dan Dad mengeluarkan suara seperti itu?" Helen berseru lagi.
Devon dan Xavier menghela nafas mereka bersamaan. Mereka berdua sudah cukup besar untuk tahu apa yang sedang dilakukan kedua orangtua mereka tapi mereka tidak tahu bagaimana memberitahu Helen agar tidak mengkhawatirkan hal itu.
"Helen, aku akan mengantarmu ke kamarmu, dan tidurlah saja ya? Kumohon." Devon berseru putus asa, benar-benar tidak tahu bagaimana cara memberitahu Helen apa yang terjadi.
Helena menggeleng keras kepala. "Bagaimana jika Mom dan Dad dilukai oleh serangga itu?"
Devon mengerang keras kemudian berbaring dan menarik selimutnya menutupi wajahnya. "Terserahlah." Devon berseru.
"Devon!" Helen berseru kesal.
Devon tidak bergerak sama sekali, tidak mau menanggapi adik kecilnya lagi.
Helen berhenti mengganggu Devon dan melihat ke arah Xavier, ia tahu kalau Xavier bahkan tidak akan bergerak jika ia meminta bantuannya, jadi ia keluar dari kamar kedua kakak laki-lakinya dan memutuskan untuk menyelematkan kedua orangtuanya sendiri, jika Devon dan Xavier tidak mau membantunya.
Helen berjalan ke depan kamar kedua orangtuanya. "Mom! Dad!" Helen berseru sambil mengetuk pintu dengan keras. "Apa kalian baik-baik saja?" Helen bertanya ketika ia menyadari ia tidak bisa membuka pintu kamar kedua orangtuanya.
Suara yang tadi ia dengar memang sudah tidak terdengar lagi tapi ia masih khawatir.
"Mom... Dad..." Helen berseru lagi.
"Ada apa Helen?" Draco berjalan keluar dan membuka pintu.
"Aku mendengar suara tadi dari kamar kalian." Helen berseru khawatir.
"Ah..." Draco seketika langsung mengerti apa yang dimaksud Helen. Ia baru saja selesai bercinta dengan Hermione dan mereka mungkin membuat suara yang cukup keras.
"Apa kalian baik-baik saja?" Helen bertanya pelan. "Apa ada serangga yang menganggu kalian?"
"Ah... iya tadi ada serangga tapi Dad sudah berhasil menangkapnya." Draco berseru.
"Apa kalian baik-baik saja sekarang?" Helen bertanya.
Draco mengangguk. "Kau terbangun ya karena suara kami? Kemarilah." Draco membuka tangannya dan menggendong Helen kemudian membawanya ke kamarnya.
.
Rabu, 31 Agustus 2022
"Kenapa kau menangis terus Helen?" Hermione bertanya.
"Karena Devon akan pergi ke Hogwarts." Helen berseru dan menangis lagi. Devon adalah kakak laki-lakinya yang paling baik, tidak seperti Xavier yang terlalu cuek dan sering bertengkar dengannya, Devon selalu baik dan peduli padanya. Jadi begitu ia mengerti kalau dengan pergi ke Hogwarts itu berarti ia hanya bisa bertemu dengan Devon saat liburan membuatnya sedih.
"Kalau Devon tidak ada, Xavier akan terus menggangguku, tidak ada lagi yang akan melindungiku Mummy..." Helen menangis
Besok Devon akan pergi ke Hogwarts dan hari ini mereka semua sedang membantu Devon bersiap-siap, Xavier paling semangat melakukannya, karena itu artinya ia akan menjadi anak paling tua di rumah, Devon tidak bisa lagi mengantur-ngaturnya karena ia lebih tua atau semacamnya.
"Kan masih ada Dad dan Mom, kami akan membuat Devon berhenti mengganggumu ya..." Hermione berseru lagi.
Helen menggeleng. "Aku ingin ikut Devon ke Hogwarts."
"Kau juga akan ke Hogwarts nanti sayang." Hermione berseru dan mengelus-elus kepala Helen pelan.
Helen memeluk ibunya dan menangis lagi.
.
Selasa, 9 April 2030
"Apparently, anakmu membuat masalah besar." Hermione berseru kesal, ia meletakkan kedua tangannya di pinggang.
"Jika mereka sedang membuat masalah mereka semua tiba-tiba menjadi anakku." Draco berseru. "Apalagi sekarang?"
Hermione meletakkan surat dari Hogwarts di meja kerja Draco. "Apa ini? Surat untuk Jasper? Tapi ia terlalu kecil untuk pergi ke Hogwarts." Draco berseru bingung.
Hermione menghela nafasnya dan meletakkan kedua tangannya di dadanya menunggu Draco membaca surat itu.
"Ini tidak bisa dipercaya!" Draco berseru dan melemparkan surat itu ke lantai karena kesal.
"Devon dan Xavier memukuli seorang murid tahun keempat karena anak itu memacari Helen." Hermione berseru. "Dan sekarang kita berdua dipanggil ke sana."
"Siapa anak itu? Apa ia tidak diajari sopan santun oleh kedua orangtuanya? Bagaimana mungkin ia memacari murid tahun kedua?" Draco berseru marah, seperti baru mendengar skandal terbesar.
"Draco! Kedua anak laki-lakimu baru saja memukuli murid lainnya sampai harus dibawa ke St. Mungo karena Poppy tidak bisa menanganinya dan kau malah mendukung mereka? Apa kau sudah gila?"
"Hermione! Devon dan Xavier melakukan hal yang benar! Mereka melindungi adik kecil mereka dari binatang-binatang liar di luar sana! Bagaimana mungkin seorang murid tahun ke empat memacari murid tahun ke dua? Aku harus bertemu dengan anak ini dan juga kedua orangtuanya!" Draco berseru penuh emosi.
Ia langsung memakai jubahnya dan turun untuk memakai sepatunya, ia akan ke Hogwarts sekarang.
Hermione menghela nafasnya, ia tidak tahu lagi harus bagaimana sekarang. Ia dengan cepat membangunkan Jasper yang sudah tertidur dan menitipkannya di rumah keluarga Potter, lalu dengan cepat menyusul suaminya ke Hogwarts.
.
"Mr. Malfoy, aku berterimakasih atas kedatanganmu." Headmistress McGonagall berseru begitu Draco memasuki ruangannya. "Mr. Devon dan Mr. Xavier sudah dipanggil ke sini dan sebentar lagi mereka akan tiba, begitu juga dengan Miss Helen."
Draco mengangguk tanpa suara.
"Dad?" Devon dan Xavier berseru begitu melihat ayah mereka. Keduanya datang bersama karena mereka berada di asrama yang sama, Slytherin. Sementara Helen berada di Gryffindor.
"Devon, Xavier." Draco mengangguk ke arah mereka, berusaha menahan rasa bangga yang sudah hampir meledak di dadanya, kedua anak laki-lakinya melakukan hal yang hebat dalam menjaga adik perempuan mereka.
"Kita akan tunggu Miss Helen sebentar lagi." Headmistress McGonagall berseru.
Tidak lama Helen masuk, ia langsung mendekat dan memeluk ayahnya yang terlihat tidak senang padanya. "Dad..." Helen berseru langsung. "Mereka berdua memukuli kekasihku."
"Siapa yang bilang kau boleh punya kekasih Miss Malfoy?" Draco bertanya dingin pada Helen, mendengar nada suara ayahnya Helen langsung duduk sambil manyun di samping kedua kakak laki-lakinya.
Devon dan Xavier membagi seringai kemenangan satu sama lain.
"Mr. Malfoy, seperti yang aku tulis di suratku, anda dipanggil ke sini karena Mr. Devon dan Mr. Xavier melakukan tindak kekerasan kepada murid Gryffindor tahun ke empat dan membuatnya masuk ke St. Mungo."
Draco mengangguk. "Dan seharusnya anda juga memanggil orangtua anak itu karena tidak mengajari anaknya dengan benar! Bagaimana mungkin ia memacari murid tahun ke dua?" Draco berseru penuh skandal.
Devon dan Xavier melirik Helen dengan tatapan penuh kemenangan. Helen terus memarahi mereka berdua karena memukuli kekasihnya sampai babak belur, dan berkata kalau kedua orangtua mereka tidak akan membiarkan ini begitu saja, tapi ternyata sekarang ayah mereka mendukung Devon dan Xavier.
"Tapi itu tidak membenarkan apa yang sudah dilakukan Mr. Devon dan Mr. Xavier." Headmistress berusaha menjelaskan logikanya pada Draco.
"Headmistress," Draco memulai. "Kedua anak laki-lakiku hanya melakukan tugas mereka sebagai kakak laki-laki, melindungi adik perempuan mereka dari anak laki-laki lain yang berusaha memanfaatkan kepolosannya." Draco menjelaskan lagi.
"Dad!" Helen berseru tidak terima. "Mark tidak berusaha memanfaatkan kepolosanku."
"Young Lady! Kau tidak berhak bicara dalam masalah ini! Dad sudah jelas-jelas melarangmu memiliki kekasih sampai umurmu tiga puluh tahun, dan kau tidak mendengarkan apa kata Dad! Masih bagus Dad tidak menyuruhmu mengemasi seluruh barangmu dan membawamu pulang sekarang juga!" Draco berseru, marah besar pada Helen.
Helen mendengus kesal, ayahnya selalu bertindak tanpa logika soal masalah ini, dan ia hanya bisa memutar matanya. Helen tahu ia memang terlalu muda untuk punya pacar, tapi ia berpacaran dengan Mark hanya karena Mark pintar dan mereka sering bertemu di perpustakaan, jadi ketika Mark memintanya menjadi kekasihnya ia mengiyakannya hanya karena ingin tahu bagaimana rasanya punya kekasih, tidak lebih.
Tapi kemudian kedua kakak laki-lakinya tahu tentang hal itu dan tanpa tedeng aling-aling langsung memukuli Mark sampai babak belur.
"Mr. Malfoy, terlepas atas pendapatmu tentang ini aku akan tetap memberikan hukuman berat kepada Mr. Devon dan Mr. Xavier."
Tiba-tiba pintu ruangan itu dibuka dan Hermione muncul di sana.
"Mom..." Ketiga Malfoy junior di ruangan itu berseru begitu melihat ibu mereka di depan pintu. Helen langsung berdiri dan memeluk ibunya, sementara Devon dan Xavier tetap duduk di tempat mereka, ia tahu ibu mereka akan memarahi mereka dan berada di pihak Helen dalam hal ini.
"Headmistress, maaf aku terlambat." Hermione berseru. "Apparently suamiku langsung berlari ke sini dan aku harus menitipkan Jasper di rumah keluarga Potter terlebih dahulu." Hermione melirik garang ke arah Draco.
"Silahkan duduk Mrs. Malfoy." Headmistress McGonagall berseru dan Hermione duduk di samping suaminya.
"Aku ingin minta maaf atas perbuatan kedua anak laki-lakiku."
"Mom...!" Devon dan Xavier berseru tidak terima.
"Hermione!" Draco juga berseru bersamaan dengan kedua anaknya.
"Mereka salah Draco dan kita harus minta maaf karena itu berarti kita juga salah."
Draco, Devon dan Xavier menghela nafas mereka.
Headmistress McGonagall mengangguk. "Aku akan memberikan hukuman berat kepada Mr. Devon dan Mr. Xavier."
Hermione mengangguk. "Aku berterimakasih anda tidak mengeluarkan mereka Headmistress." Hermione berseru, membuat Draco, Devon, dan Xavier mengerang kesal.
"Dan aku akan mendatangi rumah orangtua anak itu untuk mengajari mereka bagaimana cara membesarkan anak mereka." Draco berseru kesal. "Dan kau young lady!" Draco berseru pada anak perempuannya dengan kesal. "Kita harus bicara panjang lebar tentang hal ini!" Draco berseru pada Helen.
.
"Kau tidak akan benar-benar pergi ke rumah kedua orangtua anak itu kan? Well, jika kau mau ke sana untuk minta maaf tidak masalah, tapi jika kau pergi kesana hanya untuk marah-marah dan memamerkan kekuasaanmu sebaiknya kau berpikir dua kali Draco." Hermione berseru.
Draco yang sedang minum Wine sambil menenangkan dirinya di ruang kerjanya melirik Hermione penuh dengan keputusasaan.
"Bagian mana yang kau tidak mengerti Hermione? Helen terlalu muda untuk punya pacar, dan Mark Mark sialan itu berada di tahun ke empat, ia pasti memikirkan hal-hal tidak benar pada Helen! Bagaimana aku bisa diam saja? Anak perempuanku itu masih kecil sekali, ayah mana yang akan membiarkan anak perempuannya berpacaran saat umurnya masih semuda itu?"
Hermione menghela nafasnya. Ia berjalan mendekat dan kemudian duduk di pangkuan Draco. Ia bisa melihat kerutan di sudut-sudut mata dan mulutnya, mereka berdua sudah semakin tua dan setiap hari, berada di dekat satu sama lain, melihat anak-anak mereka tumbuh dewasa, membuat Ia semakin mencintai Draco.
"Tadi kita sudah bicara dengannya tadi, dan Helen juga sudah tahu kalau ia terlalu muda untuk punya pacar, ia juga sudah berjanji tidak akan mencoba-coba untuk pacaran lagi." Hermione berseru, menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajah Draco.
Draco menghela nafasnya. Hermione tersenyum tahu dari ekspresi wajahnya kalau Draco tidak akan memperpanjang masalah ini lagi.
"Apa mereka akan baik-baik saja? Ini tahun Devon terakhir di Hogwarts, lalu tahun depan Xavier juga akan lulus, lalu siapa yang akan menjaga Helen di sana?"
Hermione menghela nafasnya lagi.
"Satu tahun di sana Helen akan tanpa pengawasan, baru tahun berikutnya Jasper masuk Hogwarts dan bisa mengawasi kakaknya, aku khawatir Hermione bagaimana jika ada anak laki-laki yang mendekatinya?"
Hermione mulai tertawa. "Berhentilah khawatir, anak perempuanmu itu pintar dan baik hati, ia sudah berjanji pada kita tidak akan pacaran lagi, dan ia tidak akan melakukannya lagi. Percayalah padanya." Hermione berseru dan mencium pipi Draco lembut, ia kemudian meletakkan kepalanya di bahu Draco.
"Draco..."
"Hmm?" Draco bertanya mengelus-elus punggung Hermione.
"Kenapa kau tidak kunjung memiliki rambut putih?" Hermione bertanya. Belakangan ini ia mulai menemukan rambut putih di rambutnya dan itu membuatnya merasa tua.
Draco tertawa pelan mendengar pertanyaan istrinya. "Malfoy memang tidak akan memiliki rambut putih meskipun mereka menua love." Draco tidak berbohong, mereka yang semakin tua memang biasanya akan memiliki rambut putih cenderung ke abu-abuan, tapi tidak dengan keluarga Malfoy, mereka akan tetap memiliki rambut pirang yang sempurna sampai akhir hayat mereka.
Hermione mengendus kesal. "Great, aku akan terlihat seperti nenek-nenek dan kau akan terus memiliki rambut seperti ini sampai mati. Bagus sekali."
Draco tertawa dan mencium Hermione lembut.
"Will they be okay?" Draco bertanya lagi tentang anak-anak mereka.
"Tentu saja, mereka anak-anak kita, mereka Malfoy dan itu artinya semuanya akan baik-baik saja." Hermione menjawab.
"Will I be okay?" Draco bertanya lagi.
"As long as we stay together, everything will be okay." Hermione tersenyum.
Draco mencium Hermione lembut.
Hermione melingkarkan kedua tangannya di leher Draco dan membalas ciumannya.
"I love you Mrs. Malfoy." Draco bergumam, tersenyum lebar.
Hermione tertawa pelan. "And I love you as well." Mereka baru akan melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar ciuman saat Jasper berteriak dari luar.
"Mom! Dad! Ada hantu di dapur!" Jasper berteriak kencang.
Hermione dan Draco tertawa mendengar anak mereka yang paling kecil berteriak.
"Sebentar sayang." Hermione berdiri dari pangkuan Draco dan keluar dari ruang kerjanya, memeriksa apa yang dilihat Jasper di dapur.
Draco tertawa dan mengikuti istrinya dari belakang. Betapa beruntungnya ia, ia punya istri dan anak-anak terhebat di dunia. Ia tahu ia tidak bisa meminta lebih.
-THE END-
A/N : Finally... THE END! After all this time... this is the end of this story, kurasa ini cerita Dramione dengan anak terbanyak yang pernah kubuat...phew. Thanks for not give up on me in the process.
Jadi, mungkin banyak dari kalian yang sudah tahu, aku sekarang memang lebih aktif di Wattpad karena satu dan lain hal, dan di sana aku sudah punya dua cerita baru yang belum aku publish di sini, dan kemungkinan besar tidak akan kupublish di sini, jadi mungkin untuk kalian yang berminat bisa menemukanku di sana dengan username : dramioneyoja . Selain dua cerita baru aku juga punya kumpulan one-shot yang sudah lebih dari dua puluh chapter isinya dan yang sekali lagi tidak mungkin aku publish di sini chapter per chapter.
Jujur alasanku pindah ke wattpad karena di sini terlalu banyak silent reader, aku merasa ceritaku hanya di baca satu atau dua orang karena mungkin pembaca lain lebih memilih untuk tidak membuang-buang waktu mereka dengan meninggalkan satu atau dua komentar, jujur hatiku sakit melihat di statistik ada banyak yang baca tapi hanya satu dua orang yang komentar, jadi aku pindah ke wattpad karena ketika mereka tidak komen mereka masih bisa vote dan itu jauh lebih baik daripada tidak mendapat respon sama sekali.
Jadi yahh... begitu... setelah ini aku mungkin tidak akan melanjutkan cerita-ceritaku yang baru di sini, untuk cerita2 yang masih terbengkalai, aku akan menyelesaikannya begitu ada waktu dan menguploadnya di sini karena awalnya aku publish di sini, tapi tidak dengan cerita baruku, aku minta maaf sekali lagi, tapi ini salam perpisahan untuk semua pembacaku di sini, anyway, terimakasih untuk kalian yang pernah menunjukkan apresiasi kalian apapun bentuknya, tapi untuk kalian yang tetap diam selama ini semoga ceritaku menghibur kalian.
Terimakasih banyak.
-Dramioneyoja.
