Delapan tahun lalu saat pertama kali aku bertemu dengannya. Di lapangan sekolah, seusai pelajaran olahraga. Dia dengan sebotol air mineralnya membuatku terkejut. Si pirang yang sangat tinggi.

Kris Wu.

Aku lupa sempat melafalkan namanya waktu itu. Padahal aku sama sekali tidak mengenalnya.

Kris Wu yang ku kenal, adalah seorang keras kepala yang aneh. Dia melakukan apapun yang dia ingin. Kami bertemu beberapa kali. Ku kira itu kebetulan. Beberapa memang, tapi selebihnya hanya akal-akalan Kris.

Kami bertemu lagu di Hongdae. Dia si iris abu yang bermain basket. Dan pertemuan selanjutnya di tempat tidak terduga. Dia penguntit. Dia mengikutiku. Saat ku tanya kenapa, dia bilang karena dia menyukaiku.

Goblinku.

Kris hyung.

Kesan pertama yang ku dapat adalah perhatiannya. Dia yang membuatku akhirnya melangkah ke WF Entertainment. Bekerja sebagai office boys. Mendapat gajih pertama untuk ku bawa pada ibu. Tanpa tau bahwa sebenarnya dia lah yang telah memberiku gajih.

Kris Wu atau Wu Yifan adalah CEO muda di WF saat aku bekerja disana. Dia menipuku. Tapi aku menyukai caranya memperhatikanku dengan kebohongan-kebohongan itu.

Goblinku..

Yang menemukan ku dalam hujan. Dalam kesakitan yang membuatku akhirnya takut sendirian.

Dia goblin ku...

Yang pergi dengan membawaku. Saat aku tanya lagi kenapa. Jawabannya hampir sama.

Karena dia mencintaiku.

Ini adalah tentang aku, Kris, Ellios, Montreal City dan Onewhero.

Dan betapa pentingnya mengucapkan selamat ulang tahun.

.

.

.

Jika dihitung saja, maka sudah tidak terasa bahwa pertengahan tahun telah berlalu di Montreal. Kota yang tidak terlalu besar dan sangat ramah. Sehun sempat takut awalnya. Luar negeri ternyata benar-benar asing. Ia memiliki keterbatasan dalam berbahasa dan kurangnya pengalaman untuk ikut dalam budaya eropa. Tapi Kris berkata, jadi diri sendiri saja.

Tinggal di eropa, bukan berarti kita harus melupakan budaya tanah kelahiran. Kita berbaur dan menghormati mereka, tapi tunjukkan juga bahwa kita masih Asia.

Tidak ada kesulitan yang sungguh sulit selama setengah tahun ini. Sehun bersyukur karena di sekolahnya ada banyak murid asia lain yang masih bisa di ajak berteman. Seperti Adnan, pria Indonesia yang ramah dan sangat bersahabat.

Tahun terakhir sekolah menengah atas di negara orang menjadi pengalaman tidak terlupakan. Sehun tidak mengingat semua nama teman sekelasnya. Tapi mereka tertawa bersama menerima hasil kelulusan. Sehun, si murid baru menjadi lulusan terbaik. Lirikan iri ada, tapi punggung teman-temannya menyembunyikan itu.

Terlebih Kris.

Pria itu menjadi wali nya, sekaligus yang paling senang ketika nama Sehun menjadi yang pertama. Sehun akhirnya memakan daging sapi mahal malam itu.

Berpikir untuk kuliah itu sejak Sehun di bangku SMP. Dia ingin kuliah hukum. Menjadi pengacara. Tapi sejak ke Montreal, keinginan itu terdengar terlalu serakah. Di sekolahkan sampai lulus SMA saja dia tidak akan bisa membayar apapun pada Kris. Dan kuliah...

Kris memasukkannya di McGill University. Sehun hampir menangis karena bahagia. Pengacara bukan lagi tujuan. Jas putih di fakultas kedokteran terlihat lebih menarik. Kata Kris, itu bukan uangnya. Melainkan beasiswa untuk Sehun.

Untuk pertama kalinya, Sehun benar-benar bersyukur memiliki otak cerdas.

Siang itu hujan lagi di Montreal.

"Tidak perlu khawatir. Aku akan pulang naik bus atau taksi. Ya hyung"

Sehun menutup panggilan dari Kris di Korea sana. Pria itu sudah tidak berada di rumah selama dua minggu. Sehun kesepian. Rumah yang besar hanya diisi olehnya.

Hujan masih deras. Perpustakaan kampus menjadi penuh oleh mahasiswa yang tidak bisa pulang sepertinya. Sehun jadi ingat perpustakaan kota di seoul. Tempatnya dulu sering menghabiskan hari dengan belajar. Bersama dia.

Sehun sudah tidak tau berapa lama rasa rindu itu menghilang. Namun di setiap malam ia menutup mata, paras tampan seorang Kim Jongin selalu hadir. Entah sebagai mimpi buruk atau sebaliknya.

Saat semburat jingga sudah nampak di celah jendela, Sehun memilih beranjak dari tumpukan buku dan bergegas ke halte terdekat sebelum hujan turun lagi. Bus menjadi ramai di jam pulang kerja. Sehun merelakan dirinya berdiri sepanjang jalan.

Halaman rumah yang luas sudah terasa sepi. Helaan nafas Sehun keluarkan untuk mengawali malam yang sendiri lagi. Langkahnya gontai memasuki rumah. Gelap adalah hal pertama yang ia temui ketika membuka pintu.

"I'm home" gumamnya lesu.

Klek!

"Bad day hah?"

Sehun termundur selangkah mendengar saklar lampu menyala serta suara berat di dekat tangga. Kris disana. Dengan setelan santai dan senyumnya yang menyenangkan.

"Kapan hyung tiba?"

"Tadi siang. Dan, Sehun"

"Hm?"

"Selamat ulang tahun"

Tidak ada kue atau buket bunga. Tidak ada teriakan heboh atau kejutan yang berlebihan. Kris melakukan dengan caranya sendiri. Setenang udara seusai hujan. Hanya mereka berdua.

Sehun menjadi yang paling bahagia malam itu.

Sesederhana itu.

.

Ucapan selamat ulang tahun hanya satu dari banyak hal yang Kris ucapkan. Tidak sebanyak kalimat selamat tidur atau jaga diri baik-baik. Sehun bisa saja bosan. Tapi dia tidak. Sehun menyukainya. Tinggal bersama Kris, menjadikannya paham bagaimana pentingnya sekedar mengucapkan selamat tidur.

Sehun tidak memiliki firasat apapun ketika Kris berkata akan pulang hari ini. Bersama kedua orang tuanya dan Nancy. Sehun hanya sibuk membereskan rumah bersama aunty Anne. Merasa senang akan keramaian nanti malam. Ia sendiri yang terjun ke dapur membuat menu utama.

Pukul tujuh malam, keluarga itu tiba. Mommy Wu memeluk Sehun dengan erat. Berkali-kali mengatakan rindu. Nancy menjadi satu-satunya yang memprotes masakan Sehun. Dia berkata makanan itu terlalu banyak garam. Dan mengejek bahwa Sehun ingin segera menikah. Mitos lama.

Kue wortel olahan Momny Wu adalah favorit Sehun. Beliau membawanya dari Korea. Setelah makan malam, cemilan manis memang yang paling pas.

"Sebenarnya kami ingin mengajak ibumu. Tapi beliau sedang tidak bisa"

Sehun mengangguk, "ibu memang menjadi sok sibuk sejak mengurus penginapan. Tapi itu lebih baik"

Usapan lembut Sehun dapat dari nyonya Wu. Wanita ini begitu hangat. Sehun seperti bersama ibu. Perhatiannya, tatapannya, mengingatkan Sehun pada seseorang. Ia menoleh pada pintu kaca.

Kris Wu.

"Aku selalu penasaran, bagaimana Kris hyung bisa sebaik ini" kata Sehun, melamun pada Kris yang masih mengobrol dengan Tuan Wu dan Nancy.

"Lalu?" tanya Nyonya Wu, masih merapikan anak rambut Sehun.

"Dia menjaga ku seperti Daddy. Dan merawatku sepertimu, Mom"

"Kau tau kenapa?"

Sehun masuk dalam rengkuhan nyonya Wu.

"Karena dia menyayangiku"

"Lebih dari itu Hunie. Dirimu berharga untuk nya"

Sehun tersenyum. Merasa nyaman dengan keluarga ini. Keluarga Park dan Kim juga menyayangi nya. Mama Park pasti mencarinya, merindukannya. Entahlah untuk Nyonya Kim. Beliau mungkin sedang berbahagia untuk Jongin dan Seolhyun.

Rasa sakit itu tiba-tiba muncul. Saat ia ditolak dengan terang-terangan. Saat ia ditatap sebegitu tidak pantas. Sehun ingin melupakannya, tapi ingatan itu sudah terukir. Mendarah daging. Sewaktu-waktu bisa menjadi alarm agar ia menyadari bahwa hidup yang bahagia perlu jam terbang tinggi untuk mencapainya.

"Kenapa menangis nak?" nyonya Wu bertanya khawatir selagi mengusapi pipi Sehun.

"Aku senang bisa berada disini. Diantara keluarga kalian"

Usakan di belakang kepala mengalihkan Sehun. Ia melepas pelukan dari nyonya Wu dan merengut pada Kris.

"Why?"

"Kau merusak waktu ku bersama Mom"

Tawa yang lain pecah. Nancy buru-buru menghampiri Mommy nya dan memeluk erat wanita itu.

"Jangan rebut mom dariku"

Keluarga ini, Sehun tidak tau apakah ia harus merasa di terima atau tidak.

"Ada yang ingin ku bicarakan"

Senyum semua orang di ruang tengah tidak tertangkap oleh mata Sehun. Ia hanya berfokus pada cemilan di atas meja dan mengabaikan keseriusan di wajah Kris kini.

"Dengarkan aku bocah Oh"

"Hah?"

"Berapa usiamu sekarang?"

"Sembilan belas... Ah, dua puluh tahun sebentar lagi. Kenapa?"

Kris melirik ibu dan ayahnya. Anggukan kecil ia dapatkan. Maka dengan mantap, kakinya melangkah mendekati Sehun. Duduk di samping tubuh ramping yang kini kebingungan.

"Anu..."

"Anu?"

"Jangan memotong"

"Okay" sehun bergerak layaknya mengunci bibirnya.

Kris lagi melarikan bola matanya kesana kemari. Membuka mulut beberapa kali untuk bicara. Dan menghela nafas kasar. Sehun sok sabar menunggu.

"Jawab saja ya atau tidak" Kris menatap Sehun yang hanya mengangkat satu alisnya. "Mom, bantu aku" ia memelas akhirnya.

Nancy berdecak, "kenapa kau culun sekali kakakku sayang? Katakan saja langsung apakah Sehun mau menjadi pendamping mu atau tidak"

"Pendamping?" gumam Sehun bingung.

"Suami! Suami. Astaga, dua orang bodoh ini"

"Nancy!"

"Sorry mom, aku hanya gemas"

Nancy kembali bersandar pada sofa setelah sebelumnya terlalu bersemangat sampai mengetuk-ngetuk meja. Kris meneguk ludah. Ingin sekali menyembur adik bungsunya yang untung saja cantik. Ia kembali menatap Sehun yang berkedip-kedip tak mengerti. Kris frustasi lagi. Sehun memang mahasiswa cerdas, tapi dia bisa bodoh juga.

"Nancy sudah mengatakannya untukku. Jadi-"

Uluran tangan Sehun memotong ucapan Kris. Giliran pria pirang itu kini yang bingung.

"Mana cincinnya?"

"Hah?"

"Hyung melamarmu kan? Jadi mana cincinnya. Aku melihat teman kampus ku kemarin di lamar kekasihnya dengan cincin berlian. Aku tidak perlu berlian. Cukup yang mahal saja"

Tuan Wu bahkan tidak bisa menahan rasa gelinya melihat wajah melongo Kris sekarang. Nancy dan Nyonya Wu sudah sibuk memanasi Kris.

"Kufikir kau tidak menyukai hal semacam itu" Kris mencoba membela diri.

Sehun mengangkat bahunya acuh, "aku tetap menyukai laki-laki yang romantis"

Wajah depresi Kris menjadi hiburan untuk semua orang. Sehun melirik tersenyum pada Nyonya Wu di ssamping nya.

"Aku hanya bercanda Hyung" kata Sehun, menghentikan aksi Kris yang bergumam-gumam mencari toko cincin terdekat. Ia beralih menghadap Kris, menyelami manik abu di depannya. Menulusuri tiap jengkal wajah Kris yang diukir dengan sempurna. Sehun tersenyum, dan Kris menyambutnya. "Kau akan malu jika aku menjawab tidak. Jadi akan ku jawab, Ya. Kau puas?"

"Tidak" perempatan muncul di kepala Kris.

Sehun terkekeh, "Ya. Aku menerima lamaranmu. Aku mau menjadi pendamping mu. Aku rela menjadi Wu Sehun untukmu. Aku-"

Perkataan Sehun terpotong ketika tangan Kris menariknya dalam pelukan. Erat sekali. Tapi Sehun merasa lega. Ia usapi punggung orang yang mungkin sebentar lagi akan menjadi satu-satunya sandaran untuk rasa lelah dan kesendiriannya selama ini.

"Kita akan mengunjungi ibu lusa"

Untuk semalam dan malam-malam berikutnya, nama yang Sehun ingat hanya Kris Wu. Moment yang ia ingat hanya ciuman pertama Kris seusai ikrar suci pernikahan di depan puluhan tamu. Yang melunturkan kesedihannya hanya cincin putih mengkilap di jari manis.

Untuk waktu yang lama, Kris Wu mengambil alih hatinya. Sampai mimpi itu tiba lagi. Wajah Jongin yang tersenyum, mampu meruntuhkan segala yang telah Sehun bangun. Untuknya. Untuk Kris.

.

"Kau sudah siap sayang?"

Sehun memakai mantel sebagai pelapis baju terakhir. Cuaca ekstrim sedang terjadi di Montreal. Dan dengan bodohnya Kris malah mengajak ia keluar.

"Kita akan kemana sebenarnya?"

Itu adalah pertanyaan kesekian kali sejak tadi pagi dari Sehun. Kris kembali menjawab seadanya. Sehun tidak suka pakaian berat dan berlapis-lapis, selain urusan kuliah, ia tidak akan keluar rumah selama musim dingin. Kris menyebutnya beruang hibernasi. Makanya saat Kris berkata ingin mengajaknya keluar dan mencari udara segar, mood Sehun turun drastis. Udara segar dimana?

"Kau hamil Sayang?"

Plak!

"Mulutmu itu"

Kris mengusap bibirnya yang pedas karena geplakan Sehun.

"Perubahan mood mu mengerikan sejak kemarin"

"Aku tidak suka dingin dan mantel tebal. Tapi kau malah mengajakku keluar"

Sehun telah berhenti memanggilnya hyung sejak satu bulan setelah pernikahan. Kris tidak mempermasalahkan hal itu.

"Manis sekali" tangan Kris tidak tahan untuk tidak mencubit hidung mancung milik suaminya.

Sehun mendengus, kembali menatap jalan yang bergerak cepat di luar jendela. "Terima kasih"

Bagaimana Kris bisa marah? Di pukul puluhan kalipun ia tetap akan kembali jatuh cinta pada Sehun. Marahnya selama ini hanya berkisar pada keras kepalanya Sehun masalah menjaga kesehatan sedangkan pria itu adalah calon dokter. Kris bisa menjadi lebih cerewet dari ibu jika melihat Sehun meminum kopi sebagai sarapan.

Gerbang dengan plang besar di sampingnya membuat Sehun mengernyit.

Montreal Orphanage.

Mobil berhenti di depan pelataran rumah yang cukup besar dengan gaya klasik khas eropa jaman dulu. Kris keluar lebih dulu untuk membukakan pintu mobil Sehun.

"Panti? Kau memiliki kegiatan amal lagi?" Tanya Sehun, merapatkan mantel ketika butiran salju menghinggapi tubuhnya.

Kris hanya tersenyum, menggenggam jemari Sehun memasuki panti. Di depan pintu, dua orang dengan seragam biarawati menyambut ramah. Wajah tua mereka memang sedikit menyeramkan, tapi mereka sangat baik.

Sehun masih tidak mengerti sampai seorang suster kepala menyuruh anak buahnya yang lain menjemput satu nama yang ia sebut sebelumnya. Sehun menunggu dengan segala perkiraan. Kris tidak berhenti menggenggam jemarinya untuk menghantarkan rasa hangat.

Pintu berderak terbuka. Seorang suster masuk dengan gulungan selimut di gendongannya. Bukan gulungan, itu seorang bayi kecil. Saat bayi itu diserahkan pada Kris, Sehun semakin yakin dengan satu dari banyak yang ia pikirkan sejak tadi.

"Kris?"

"Kau menyukainya? Aku sangat menyukainya"

Wajah mungil yang tertidur dalam gendongan Kris menghasut Sehun. Ia teringat dengan obrolan keluarga Wu beberapa waktu lalu. Tentang seorang cucu. Sebagai seorang menantu pertama, Sehun tentu merasa terbebani dengan obrolan semacam itu. Ditambah lagi, dia dan Kris tidak seperti pasangan lainnya.

Tapi Kris mengerti ketakutannya. Sebelum menjadi semakin jauh dan banyaknya desakan, pria itu telah lebih dulu merencanakan hal ini. Mengadopsi seorang anak adalah satu-satunya jalan yang mereka miliki.

Jadi bagaimana lagi Sehun harus bersyukur untuk suami semacam Kris?

"Aku menyukainya"

.

.

.

Pernikahan mereka berjalan sebagaimana semestinya. Tidak banyak perdebatan yang terjadi. Mungkin karena mereka sesama laki-laki yang salah satunya tidak memiliki rasa sensitif berlebih. Sehun termasuk pria yang mudah diatur ternyata meski ceritanya tentang betapa nakalnya ia dulu di sekolah sering kali terulang.

Sekali lagi, Kris sangat mencintai Sehun. Bahkan jika Sehun meminta gunung Fuji untuk menjadi teman tidurnya, akan Kris berikan dengan segala konsekuensi. Tapi suaminya itu tidak banyak meminta selama ini.

Gelar dokter yang ia terima dari universitas telah lebih dari cukup katanya.

Stress Kris di mulai sejak Sehun memilih Onewhero sebagai tempat beristirahat. Sejengkal saja Sehun tidak ada di tempat tidur, sudah bisa membuat Kris kelimpungan. Dan Sehun dengan seenak jidat meminta sebuah rumah di Onewhero. Bukan tentang rumahnya, tapi tentang jaraknya.

Kris awalnya hanya mengira bahwa Sehun memang benar-benar ingin suasana yang berbeda. Sampai satu malam ia memiliki waktu menemani Sehun, di pertengahan musim dingin. Sehun ternyata bersembunyi darinya. Bersembunyi untuk mimpi buruknya yang kembali lagi. Dan penawar dari sang mimpi.

Kris ingat bagaimana Sehun terbangun dengan peluh di sekujur tubuh, dan memeluknya erat diantara rasa takut masa lalu yang kelam.

Dan bagaimana nama Jongin terucap tanpa bantahan.

Dan untuk kesekian kali. Kris hanya terlalu mencintai Sehunnya.

.

.

.

"Appa!"

Sehun sumringah hanya dengan mendengar suara jagoan kecilnya. Ia berbalik dari penggorengan dan menemukan Kris juga disana. Di ambang pintu dapur.

"Appa, daddy lapar" itu bukan Tae Oh, melainkan Kris. Sehun tertawa dan berucap tentang makanan yang sebentar lagi matang.

Kris menengok ke meja makan dan berkerut bingung. "Kau memasak banyak?"

"Tentu saja. Ini kan-" Sehun memotong ucapannya dan menatap Kris kemudian. Melihat gurat kebingungan masih tercetak di wajah Kris, ia jadi urung melanjutkan.

"Ada apa?" pertanyaan Kris benar-benar mengubah suasana hatinya.

Sehun menggeleng dan berbalik cepat, beralih pada panci sup. "Tidak. Mandilah, makan malam akan segera siap"

"Oke"

Sehun menghela nafas ketika Kris telang menghilang dari dapur. Ia mematikan kompor dan menyusun mangkuk di atas meja. Sambil menunggu Kris, ia berfikir lagi. Tae Oh yang sedang damai menunggu makan malam menjadi perhatiannya kemudian.

"Tae, kau dan daddy habis darimana?"

"Jalan-jalan" sahut Tae Oh, masih lekat menatap sosis goreng kesukaannya di atas piring.

"Daddy membeli sesuatu?" Sehun hanya berfikir bahwa anak kecil tidak mungkin berbohong.

Tae Oh mengangguk. Sehun melipat tangannya di atas meja, memajukan tubuh dengan semangat.

"What's that?"

"Robot kecil"

Bahu Sehun merosot. Gundam lagi, batinnya.

"Selain itu?"

Tae Oh menatap appa nya merengut. Perutnya sudah lapar dan appanya yang tampan malah bertanya-tanya terus. Daddy Kris juga mandinya sangat lama.

"Tae hangwy!"

Sehun tersentak dengan suara tinggi Tae Oh. Ia mengerjap beberapa kali sebelum sadar bahwa ia sudah membuat anak semata wayangnya itu kesal.

"Oke, kita tunggu daddy sebentar lagi"

.

Kris baru saja menyelesaikan mandinya dan memilih baju di lemari ketika ponsel diatas meja berdering. Ia membuka satu notifikasi disana dan terkejut bukan main detik berikutnya. Dengan tergesa, ia mengenakan pakaian dan merapikan diri lalu bergegas turun ke lantai bawah.

"Sayang, aku harus pergi sekarang. Ada pekerjaan mendadak" Kris bisa melihat gurat tidak suka di wajah Sehun.

"Makan malamnya?"

"Kau dan Tae duluan saja" Kris mengecup puncak kepala Sehun dan berlalu dari dapur.

"Tapi Kris-"

"Sebentar saja. Bye honey"

Kris bisa mendengar dentingan sendok yang di banting ke piring. Sehunnya sedang kesal, tapi dia tetap harus pergi sebelum kemarahan lain dari Sehun memperparah keadaan.

Kris kembali ke rumah setelah makan malam selesai. Suara samar dentingan kaca di dapur membuatnya mendekat dan menemukan Sehun sedang mencuci piring disana. Kris mengendap, meletakkan bawaan ditangannya pada meja dan memeluk pinggang ramping Sehun dari belakang.

"Selamat ulang tahun sayang"

Sehun yang awalnya terkejut, berdecak kemudian. Ia melepas sarung tangan karet dan mematikan keran. Berbalik menghadap Kris hingga rengkuhan di pinggangnya terlepas.

"Hari ini sudah hampir berakhir" Sehun melipat tangan di dada, menuding Kris dengan tatapannya.

"Belum jam dua belas" sahut Kris, berusaha menggapai pinggang Sehun lagi.

"Tetap saja" Sehun mundur dan bersandar pada counter dapur, menghindari Kris.

Kris menghela nafas diam-diam, sudah tau akan seperti ini. Jika boleh jujur, ia memang lupa kalau hari ini adalah ulang tahun Sehun. Perjalanan panjang dari Montreal ke Onewhero dan rengekan Tae Oh sesampainya di rumah tadi yang membuatnya lupa. Di tambah miniatur gundam yang menggoda. Jika bukan notifikasi pengingat di ponsel yang berbunyi setelah mandi tadi, ia mungkin akan benar-benar melewatkan hari ini.

Jadi, dengan kekuatan kecepatan Ironman nya Tae Oh, Kris mencari toko terdekat. Setidaknya harus ada sesuatu yang ia beli untuk Sehun. Beruntunglah toko bunga milik Lea tidak terlalu jauh. Well, mencari toko serba ada di Onewhero cukup sulit karena letaknya jauh dari tempat tinggal Kris. Akan memakan waktu lebih lama jika Kris memaksakan kesana.

Sehun bukan pria mellow dan ia bukan pria romantis seperti di drama. Tapi bunga menjadi satu yang lebih baik saat ini. Setidaknya Sehun memiliki hadiah pembuka.

Kris mengambil buket bunga diatas meja dan menyerahkannya pada Sehun.

"Aku memang lupa. Maaf"

Sehun menerima bunga nya dan berdecak lagi, "bunga mu tidak cukup wangi sebagai permintaan maaf"

"Akan ku berikan yang lebih wangi nanti"

"Parfum Caron's Poivre kalau begitu"

"As your wish, prince" Kris menggapai kepala Sehun untuk sekedar mempertemukan bibirnya dengan kening pria tersebut. "Selamat ulang tahun"

Sehun tersenyum datar dan enggan menatap Kris, "Ya" sahutnya sebelum beranjak dari dapur menuju kamar dengan Kris yang mengekori.

Di kamar, Sehun menyibukkan diri memasukkan mawar merah yang ia terima ke dalam vas kaca. Kris masih setia membiarkan.

"Sayang"

"Hm?"

"Masih marah?"

Sehun mengangguk dan Kris menghela nafas lagi. Ia mendekat pada Sehun yang duduk di depan jendela bersama 99 tangkai mawar nya, berjongkok di depan pria itu.

"Aku ingin menciummu"

Ketika Sehun menunduk untuk menatapnya, Kris memasang wajah sememelas mungkin. Biasanya ini akan berhasil meluluhkan Sehun.

"Baiklah"

Dan memang berhasil.

Sehun meletakkan bunganya diatas nakas kemudian menggapai wajah Kris, menunduk untuk mempertemukan kedua belah bibir mereka. Hanya kecupan ringan sebelum Kris menjadi rakus dan menahan kedua pipi Sehun agar ia bisa mengulum bibir tipis suaminya.

Sehun menjadi yang pertama mengakhiri ciuman.

"Makan malam mu?" tanyanya.

"Di ganti kau saja" sahut Kris sebelum kembali melumat bibir Sehun. Kini lebih intens dengan suara decakan yang cukup nyaring.

Kris bangkit dan membawa tubuh Sehun berdiri tanpa melepas pagutan. Beberapa hari tidak bertemu Sehun membuatnya merindukan bibir tipis nan manis milik suaminya ini. Ia benar-benar hampir frustasi karena jarak yang terlibat diantara mereka sekarang. Meski Sehun sudah melarangnya datang disetiap akhir pekan, Kris tetap saja datang.

Sehun menarik nafas dari hidung sebelum mendorong bahu Kris untuk melepas ciuman lagi. Nafasnya habis. Kris mengecup sudut bibirnya, pucuk hidungnya dan terakhir keningnya. Sehun memeluk tubuh yang lebih besar darinya itu, menghirup aroma favorit nya.

"Kau takut aku melupakan ulang tahunmu?"

Sehun mengangguk.

"Kenapa?"

"Tidak penting ulang tahun ku. Tapi jika kau melupakan hal sekecil itu, kau mungkin akan cepat juga melupakanku."

Kris tersedak menahan tawa. Sehun mengernyit tidak suka dan mencubit perut Kris satu kali.

"Kau tertawa?" sengitnya.

Kris menggeleng namun masih saja terkekeh keras. "Entahlah. Tapi Wu Xiuhuan ini sangat manis"

Kris berbaring di kasur. Sehun merengut dan menatap tajam suaminya sebagai tanda protes. Ia sedang serius dan Kris menertawakan nya. Hell!

"Aku mungkin akan melupakan ulang tahunmu, tanggal pernikahan kita, dan hari-hari penting lainnya. Usiaku tidak selalu 28 tahun, sayang." Kris menatapnya, tersenyum. Sehun beringsut mendekat, meringkuk di satu lengan suaminya. "Tapi melupakanmu? Bagaimana caranya? Aku tidak akan melupakanmu selama kau masih ada di bumi, Wu Xiuhuan"

"Jadi jika aku tidak berada di bumi, kau akan melupakanku? Bagaimana jika aku melakukan perjalanan ke bulan?"

Kris terdiam, berfikir sejenak. "Boleh aku ralat?"

Sehun mendengus dan berdecak keras. "Tidak bisa di percaya sama sekali" gumamnya.

"Aku tidak akan melupakanmu selama kau masih ada di dalam kepalaku"

"Bagaimana jika kepalamu terlepas?"

"Tetap saja itu kepalaku kan?"

"Akan ku tarik isi kepalamu keluar"

Sehun beranjak menaiki tubuh Kris dan menggigit cuping telinga suaminya. Dan untuk beberapa saat, mereka hanya saling bergelung di kasur. Sehun yang terus menggigiti wajah Kris dan Kris yang berusaha menghindar. Sampai mereka lelah tertawa.

Sehun berbaring di samping Kris, menatap langit-langit kamar yang putih. Perasaannya menjadi lebih baik sekarang. Ia sekali lagi bersyukur memiliki Kris yang dengan caranya sendiri dapat mengubah suasana.

Memang, tidak penting hari ulang tahun atau ucapannya. Tidak penting perayaan hari-hari spesial lainnya. Bagi Sehun, terutama bagi Kris, melihat pasangan hidupnya tersenyum untuk hari ini, esok, lusa dan seterusnya sudah lebih dari cukup. Sudah, itu saja.

.

.

.

.

.

.

.

Bersambung..

Sedikit moment KrisHun.

Thanks buat semua support kalian. Ayaflu ( ˘ ³˘)❤