bagian ini dibeta oleh allihyun

A/N - di bagian ini sebenarnya saya memasukan konten eksplisit tetapi saya potong karena aturan di ffn tidak boleh menampilkan konten yang demikian. Kata mbak Al sih, bagian tersebut ngaruh ke cerita -ya emang wkwk- jadi untuk baca bagian secara lengkapnya, sila luncur ke AO3 dan cari profil saya dng nama Kosmonot.

Disklaimer: Haikyuu! dimiliki seutuhnya oleh Furudate Haruichi. Saya tidak memiliki apa-apa kecuali ide-ide yang saya tuangkan dalam tulisan ini, dan saya tidak mengambil keuntungan atau profit apapun dari tulisan ini.

.

.

Houston, 6 April 2076

Shouyou membaca buku-buku yang diberikan Samantha sembari menunggu kedatangan Kei. Jarum jam sudah berjingkat ke angka satu, hari telah berganti, dan batang hidung lelaki itu belum nampak. Shouyou menghabiskan malam pertamanya di Houston dengan membaca, menonton televisi, dan bermain tarik-menarik dengan Venus. Satu jam lalu, Shouyou mencoba merebahkan tubuh di kursi malas tetapi ia sama sekali tidak mengantuk. Ia harap pesta astronot itu cepat berakhir, dan Kei kembali pulang.

"Kau lapar lagi, Venus?' tanya Shouyou ketika anjing itu mulai mengendus-endus mangkuk makanannya. "Tapi … makananmu sudah habis, Kei lupa beli yang baru, sepertinya." Anjing itu mendengking kecewa. Shouyou merasa iba, "Kau mau telur dadar? Aku bisa buatkan." Lidahnya yang panjang dan merah jambu langsung terjulur, dan ia mulai ribut berputar-putar.

Shouyou merasa konyol karena bicara dengan seekor anjing hampir sepanjang malam, tetapi ada lagi yang membuatnya lebih konyol, yakni fakta bahwa ialah yang menyuruh Kei untuk bicara dengan seekor anjing ketika dia merasa kesepian. Shouyou tertawa kecil dengan nada sendu ketika mengangkat telur dan menaruhnya di mangkuk makan.

"Tunggu dulu, masih panas."

Venus mendengking lagi. Anjing itu kini duduk di hadapan mangkuknya, menunggui telur itu hingga dingin.

Shouyou kembali ke ruang tengah, tidur-tiduran di atas sofa dengan kaki yang ditekuk. Rumah Kei selalu memberikan atmosfer yang sama. Ketika berada di dalam sini, Shouyou tidak pernah merasa bahwa dia tengah ada di benua Amerika, sebab interior yang Kei gunakan di rumah ini tak jauh beda dengan apartemennya di Tsukuba. Bohlam LED yang ditutupi sangkar burung. Padahal waktu itu Kei menyebutnya sebagai lambang kemuraman tapi toh, dia lakukan lagi. Buku-buku di raknya tersusun secara berantakan, tidak alfabetis ataupun dikelompokkan sesuai dengan warna. Beberapa dibiarkan menumpuk di atas meja kerja, sudut dapur, bahkan konter di kamar mandi. Shouyou ingin merapikan semuanya tetapi takut membuat kesalahan.

Shouyou mengintip jam dinding sekali lagi, pukul satu lewat seperempat. Kei meninggalkan ponselnya di kamar tidur, jadi tak ada yang bisa dilakukannya sekarang selain menunggu.

Saat matanya menelusuri ruangan, ia menangkap setumpuk bola-bola kertas di tepi rak buku, lalu beberapa lembar kertas yang mencuat-cuat di antara halaman sebuah buku tebal. Kaki Shouyou melangkah atas perintah otaknya yang penasaran. Mengintip sedikit tidak akan membuatnya jadi Kriminal Negara juga.

Kertas-kertas itu dilipat sebanyak dua kali, di halaman belakang terdapat nama-nama—seolah itu adalah kumpulan surat-surat yang ditujukan untuk orang-orang tertentu. Kemudian Shouyou menemukan namanya di lembar terakhir yang diselipkan di dekat jilid buku. Bibir bawah digigitnya, mata Shouyou melirik kiri-kanan—sekadar memastikan bahwa dirinya benar-benar sendirian.

Ketika Shouyou membuka lipatannya, ia menemukan tulisan tangan Kei yang rapi di sana.

Kepada Shouyou,

Aku harap surat ini tidak akan pernah sampai ke padamu, tapi jika surat ini tengah berada di tanganmu sekarang, itu artinya aku tengah dalam perjalanan menuju nirwana, mungkin. Aku hanya ingin mengingatkan bahwa aku tidak meninggalkanmu. Tapi, bukan berarti aku jadi hantu gentayangan juga, haha. Arwahku akan duduk diam di tepian kawah-kawah kering di bulan atau mungkin gurun-gurun di Mars, atau mungkin di galaksi lain? Memandangimu dalam jarak jutaan tahun cahaya? Entahlah.

Aku pernah berbincang dengan seorang astronot senior bernama George Mccoy, dia bertanya padaku mengenai keberadaan rumah bagi seorang astronot. Awalnya, aku berpikir tentang Torono, lalu Tsukuba, lalu flatku saat aku belajar di Amerika, lalu NASA, dan tiba-tiba saja kau muncul. Sejak saat itu, setiap kali seseorang menyebut kata rumah, aku tak lagi memikirkan nama tempat tapi aku memikirkan keluargaku, teman-temanku, dan juga kau.

Intinya, aku tidak meninggalkanmu. Aku hanya pergi ke tempat lain, tapi aku selalu mengingatmu. Habisnya, mana mungkin aku bisa melupakan salah satu rumahku?

Sampai jumpa di kehidupan yang lain. Aku mengawasimu dari sini.

Tsukishima Kei.

Tangan Shouyou gemetar, darah bak terkuras habis dari wajahnya. Mau dilihat dari sudut pandang manapun, ini adalah surat wasiat. Ia buru-buru meletakkannya kembali di halaman buku, kemudian ia berlari menuju kamar, menaiki anak tangga dengan tergesa dan menenggelamkan diri dalam tumpukan bantal. Tubuhnya terasa dingin, tidak tahu kenapa. Surat itu benar-benar membuatnya takut.

Ketika ia memandang jendela yang dipasang di langit-langit kamar, Shouyou melihat titik-titik cahaya di langit gelap. Bintang-bintang itu bersinar dengan begitu terang dari jarak begitu jauh. Apakah Kei akan pergi sejauh itu? Lelaki bodoh itu benar-benar keterlaluan, bagaimana mungkin menjanjikan hal-hal seperti 'aku mengawasimu dari sini'? Jangankan manusia, stasiun luar angkasa internasional yang besarnya melebihi kapal pun tak nampak dari sana.

Memandangi langit terasa menyeramkan, jadi Shouyou memutuskan untuk pergi ke dapur, membuka sekaleng bir dan mendinginkan kepalanya sambil menunggu Kei pulang. Sudah setengah dua pagi, dan si rambut pirang itu belum pulang. Jantung Shouyou rasanya ingin pecah.

Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Bagaimana jika surat wasiat itu suatu pertanda?

Diremasnya kaleng bir yang sudah kosong itu seakan benda itu bungkusan permen karet. Jika Kei pulang, ia bersumpah akan meninju hidungnya sampai berdarah, sampai gagang kacamatanya patah, seperti yang terjadi bertahun-tahun silam.

Bunyi putaran kunci di lubang pintu membuat Shouyou berdiri dari kursi, berlari menuju pintu depan dan menjatuhkan dirinya dalam sebuah pelukan erat. Kei baru pulang, jas hitamnya tak lagi ada di sana, ia hanya mengenakan kemeja kusut yang lengannya digulung hingga siku juga rambut pirang yang beriap-riap. "Hai," ucap Kei pelan, napasnya bau—seperti aroma merlot. "Aku minum, tapi tidak mabuk, jadi … jangan marah, oke?" Kei melarikan jarinya di kepala Shouyou, membelah helai-helai rema oranye itu dengan lembut. "Shouyou, apa kau baik-baik saja?"

Shouyou mengeratkan pelukan, mereka tak bertemu selama tiga bulan lamanya, dan perjalanan yang mereka lalui dari Miyagi ke Orlando kemudian ke Houston tak bisa masuk hitungan sebagai masa melepas rindu. Shouyou butuh lebih banyak waktu untuk memandang Kei ketika bicara, bukannya duduk sendirian di sebuah rumah besar bersama seekor anjing Pomeranian dan surat wasiat keparat itu.

Kei mengangkat dagu kekasihnya dengan sebelah tangan, lalu menatap dalam kedua bola matanya, seraya berkata, "Hei, hei, kau kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Ibu jari Kei mengusap dagu Shouyou lembut. "Kau seperti mau menangis, apa Mrs. Nolan melakukan sesuatu?"

Shouyou kembali membenamkan wajahnya, enggan menatap mata keemasan itu terlalu lama. Kei mengusap punggungnya dengan penuh kasih sayang. Napas Shouyou berangsur-angsur normal, semarah apapun ia pada Kei, pelukannya akan selalu menjadi tempat berlindung yang dapat dimasukinya dan selalu bisa menauhkannya dari hal-hal yang menakutkan termasuk kematian dan perpisahan.

Shouyou berdiri di ujung jemari kakinya, ia menarik leher Kei dan mencium lelaki itu dengan putus asa. Shouyou merasa sangat resah, marah, dan bergairah di saat yang bersamaan. Tiga bulan dilalui tanpa sentuhan kulit Kei membuatnya sedikit meradang.

"Katakan, kau ini kenapa?" tanya Kei dengan nada bicara yang tak kalah putus asa.

"Aku tidak tahu! Pikiranku rasanya kacau sekali!" umpat Shouyou. "Kau yang bilang kalau kita harus menghabiskan jam-jam terakhir di hari Minggu bersama-sama, tapi kau malah pergi ke pesta dengan teman-temanmu dan demi Tuhan, ini sudah hari Senin!"

"Itu urusan pekerjaan juga, aku tidak bisa absen."

"Apa minum anggur jadi urusan pekerjaan juga? Apa kau menerbangkan pesawat ulang-alik sembari minum? Apa gadis-gadis itu sangat memesona, hah?"

"Gadis-gadis? Apa yang kaubicarakan?"

"Mana ada pesta tanpa gadis-gadis cantik!"

Kei mengusap wajahnya lalu mengembuskan napas kesal.

"Kenapa kau jadi rewel begini sih?"

"Aku tidak rewel!"

Kei menangkup wajah Shouyou dengan kedua tangan, membiarkan ibu jarinya mengusap kulit pipinya yang hangat. "Kalau begitu, berhentilah berteriak," katanya pelan, tanpa amarah, tanpa tekanan. "Aku cuma minum dengan kru-ku, tidak ada gadis-gadis di pesta itu. Cuma astronot yang hobi membicarakan mesin pesawat dan bongkahan batuan luar angkasa."

Kemudian Kei melepas pelukannya, menuangkan air dari dispenser ke dalam gelas dan menegaknya. Shouyou tidak mengerti kenapa ia begitu marah. Pikirannya mengkaji ulang, mencari akar permasalahannya sendiri. Pesta itu, gadis-gadis itu—yang sebenarnya tak ada—surat wasiat sialan, dan juga frustasi secara seksual. Shouyou ingin menginterogasi Kei tentang ini-itu, tetapi ia juga ingin bercinta.

Ketika pikirannya hendak bergelut untuk memutuskan mana yang akan dilakukan lebih dulu—interogasi atau bercinta—kakinya sudah melangkah mendekati Kei, kedua tangannya ditaruh di punggung lelaki itu, dan Shouyou menciumi setiap bekas luka yang terpatri di sana kendati terhalang kain kemeja.

Kei berbalik, merengkuh Shouyou dalam sebuah pelukan. "Aku minta maaf," katanya lirih. "Jika kau tidak keberatan, kapan-kapan aku akan mengajakmu, oke?"

Shouyou membalas pelukan Kei, jemarinya masih berusaha menelusuri punggung lebar itu. Mencium aroma tubuh Kei sedekat ini terasa begitu menenangkan, ia seperti khalifah yang menemukan oasis setelah sekian lama tersesat di gurun pasir. Laki-laki itu masih ada di bumi, dia belum pergi ke mana-mana.

Shouyou membuka kancing kemeja Kei dengan tergesa, mendorongnya ke belakang dari pundak. Di sisi lain, tangan Kei menyelinap ke depan, kukunya dengan ringan menggesek di sepanjang perut Shouyou, mengangkat kaus hingga mereka dapat saling kontak dari kulit ke kulit, tak ada penghalang sama sekali. " Sorry , karena membuatmu selalu menunggu dan merasa kesepian." Napas Kei terengah-engah di telinga Shouyou saat ia mengangkat tubuh kecil itu, meluruskannya, dan membiarkan kaki Shouyou melingkar di pinggulnya ketika mereka kembali berciuman.

Berkali-kali bibir Kei bertemu bibir Shouyou, mengecup sekilas-sekilas, ciuman-ciuman kecil, yang malah membuat Shouyou terbakar keinginan menggebu yang timbul dari dalam dirinya. Gairah, kata itu tepat untuk menggambarkan apa yang ia rasakan sekarang.

Shouyou tahu tidak sepantasnya ia melakukan seks di dini hari ketika ia tahu bahwa dalam hitungan jam, Kei mesti pergi ke Johnson Space Center untuk melanjutkan pekerjaannya. Tapi desakan dalam dirinya teramat kuat, begitupun dengan ciuman dan sentuhan yang serta merta diluncurkan oleh Kei. Shouyou tahu ia marah pada rahasia yang disembunyikan Kei juga merasa khawatir. Ia tahu bahwa yang diinginkannya saat ini adalah lari. Seks adalah salah satu jalan baginya untuk melarikan diri, namun di tengah-tengah perjalanan Shouyou sadar betapa ia membenci seks seperti ini. Ketika tubuhnya merasa nyaman tetapi hatinya carut-marut bahkan ketika puncak demi puncak kenikmatan telah mereka raih.

Shouyou masih ingin melarikan diri.

"Bisa kita lakukan lagi?" ucap Shouyou ketika seks mereka berakhir.

Sepasang mata Kei mengerjap. "Apa?"

"Sekali lagi?"

" I don't think so, Shouyou."

Kei mulai menarik dirinya, tapi Shouyou malah mengikat pinggangnya dengan dua kaki. "Tidak, tidak."

"Shouyou, kita bisa melakukannya lagi besok."

"Kalau begitu, kau bisa menciumku?"

"Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu," Kei tertawa kecil sebelum memagut bibir Shouyou dengan gerakan lambat. Ciuman-ciuman itu kembali disambung dengan napas yang patah-patah. Tangan kecil Shouyou mengelus-elus punggung Kei; menelusuri luka, membesut peluh, dan kakinya memeluk Kei seerat yang bisa dilakukannya. Detak jantung mereka tidak normal, tentu saja. Akan tetapi Shouyou tahu debarannya ini tak timbul lantaran bercinta melainkan kekhawatiran.

"Mau mandi?" tanya Kei.

Shouyou menggeleng, "Nanti saja."

"Aku akan segera kembali," kata Kei seraya melepaskan diri dari Shouyou dan berjalan menuju kamar mandi. Punggung telanjangnya adalah karya seni yang tak ternilai, penuh akan memori masa lalu yang ingin Shouyou selami.

Shouyou mendengar suara keran diputar dan tetesan air yang menabrak ubin kamar mandi. Kei bersenandung lagu-lagu yang belum pernah Shouyou dengar sebelumnya. Semakin keras nyanyian itu terdengar, semakin pilu jugalah hatinya. Aduh, kenapa ia tiba-tiba jadi melankolis begini? Ini bukan kali pertama Shouyou merasa cemas dengan kemungkinan bahwa Kei akan mati. Ini lagu lama, seharusnya ia sudah bisa terbiasa.

Beberapa saat kemudian, Kei kembali dengan sebaskom air hangat yang ia letakan di pinggir tempat tidur. Dia sendiri sudah mengganti pakaiannya menjadi kaus polos berwarna abu dan celana kolor.

"Kau mau apa?"

"Membersihkanmu?"

Shouyou mengernyitkan dahi, "Aku bisa lakukan sendiri."

"Hari ini spesial," Kei mengambil beberapa helai handuk, menaruhnya di atas tempat tidur dan mengambil satu untuk ditenggelamkan dalam air hangat. "Untuk merayakan kepindahanmu."

"Kau merayakan kepindahanku dengan ini?"

"Aku tidak punya ide lain."

Desahan dan napas terputus kini digantikan dengan suara percikan air yang timbul dari dalam bejana juga suara halus gesekan handuk dengan kulit tubuh Shouyou. Dini hari, dan segalanya terasa hening. Bahkan lolongan anjing di luar sana begitu terdengar hingga kamar mereka. Shouyou kemudian khawatir apabila kecemasannya menimbulkan suara atau bau atau apapun yang bisa membuat Kei memergokinya bergelut dengan pikiran paranoid.

"Kei," Shouyou memanggilnya lirih. "Bisa cium aku sekali lagi?"

Ciuman itu didapatnya dengan mudah, tapi ia memalingkan wajah setelah itu. Tembok lebih nyaman dipandang ketimbang rasa ragu yang ada di wajah Kei.


Ketika terbangun di antara pagi dan siang, Shouyou tidak menemukan Kei di sisi tempat tidur tetapi memo kecil yang ditaruhnya di atas nakas menjelaskan ke mana dia akan pergi hari ini. Johnson Space Center. Yah, memangnya mau ke mana lagi?

Shouyou meregangkan tubuhnya sebelum turun dari ranjang, kemudian menyapa Venus yang tengah menggali halaman belakang, dan memindahkan barang-barangnya dari dalam koper. Kei sudah menyisakan ruang kosong dalam lemari untuk Shouyou, juga sisi kamar sebelah kanan beserta meja setinggi pinggang jika Shouyou ingin menaruh barang-barangnya di sana. Kamar itu luas, tetapi penuh sesak oleh barang-barang Kei. pria itu nampaknya menumpuk segala sesuatu di dalam kamar.

Buku yang diselipi surat-surat wasiat telah menghilang dari tempatnya, barangkali disembunyikan; disimpan di tempat yang lebih aman agar tetap terjaga sebagai wasiat. Itu adalah privasi Kei dan Shouyou tidak berhak meretasnya.

Lagipula setelah dipikir-pikir, ia juga punya banyak urusan di sini, yakni bekerja dan mencoba beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Beberapa hari lalu, dia berada di benua lain, masih bekerja sebagai guru olahraga bagi anak-anak remaja, dan menantikan saat-saat untuk kembali bersua dengan kekasihnya. Tapi sekarang, ketika langit menunjukan warna yang terlampau biru—nyaris tanpa awan dan terlihat seperti terpal di tenda-tenda pasar malam—dia berada di sini, di negeri lain, tempat di mana berbicara dengan bahasanya pun begitu sulit. Ia sedikit merindukan Jepang.

Suara Venus membuatnya terjaga dari lamunan, anjing itu sekarang tengah berlari dari halaman belakang menuju pintu anjing dengan telapak kaki berbalut tanah basah. Shouyou meneriaki dan mengejarnya ke luar rumah, masih dengan piyama tidur. Dari teras rumah, Venus dilihatnya masuk melalui celah di pagar rumah Samantha dan selang beberapa detik kemudian, seorang lelaki terdengar mengutuk dengan kosakata bahasa Inggris.

Shouyou bingung. Haruskah ia pura-pura tidak tahu dan kembali masuk ke dalam kamar untuk melanjutkan istirahatnya? Atau dengan penuh tanggung jawab mengetuk pintu rumah Samantha dan mengajak Venus untuk pulang? Dua-duanya kedengaran buruk, tapi yang nomor terakhir lebih baik.

Ketika pintu pagar itu dibuka, Shouyou mendapati seorang lelaki paruh baya sedang berlutut di kebun bunga yang subur, menggali di antara tumbuhan perdu dan mengumpati jejak kaki Venus di kebunnya dengan sedih. Ketika suara engsel pintu pagar timbul, lelaki itu menengok ke belakang, mengamati Shouyou dari ujung kepala hingga jemari kakinya yang nampak di antara sandal jepit.

"Oh!" Dia berseru. Lelaki itu lekas meletakkan segala perkakasnya, kemudian berdiri dan mengibaskan tanah yang menempel di serat kain celananya. "Pacarnya Kei?" tanyanya dengan mata biru yang berbinar-binar.

Shouyou mengangguk, "Aku … ingin membawa anjingku?"

"Ah, anak itu! Aku rasa dia mau menemui Miss. Pagie."

"Miss. Pagie?"

"Itu nama anjingku!" Dia tergelak, kemudian dia melepas sebelah sarung tangannya dan mengangkat tangan telanjang itu ke udara. "Herbert Nolan, suaminya Sam."

Shouyou tiba-tiba ingin tertawa karena ingat dengan 'minyak wijen'.

"Apa ada yang salah?" Sepasang alis Herbert bertaut, tapi ia tak nampak tersinggung.

Shouyou lekas menjabat tangannya dan membungkukkan tubuh. "Shouyou Hinata. Uh … kemarin Sam bercerita soal minyak wijen."

Herbert menepuk kening, "Aduh … dia selalu saja mengungkit-ungkit masalah itu."

Mereka berdua bertukar tawa, wajah keriput Herbert berubah menjadi sangat cerah. Kei hidup dengan orang-orang yang ceria seperti ini, bagaimana mungkin tidak ada sedikitpun percikan dari mereka pada dirinya? Ia selalu nampak murung.

"Ayo, ikut sarapan bersama kami," ajak Herbert seraya menggiringnya berjalan ke dalam rumah. Shouyou tidak punya kesempatan untuk menolak, jadi ia mengikutinya.

Rumah itu ramai oleh suara denting sendok, garpu, dan piring serta bunyi cakaran anjing di belahan kayu halaman belakang. Samantha menuangkan makanan tanpa henti ke piringnya sekalipun Shouyou menolak.

"Serius, Sam … ini terlalu banyak." Shouyou memandang piringnya yang penuh dengan potongan waffle .

"Kau sama seperti Kei, selalu mengeluh terlalu banyak."

"Tapi ini memang banyak," Shouyou mulai memotong waffle, memasukannya ke dalam mulut satu per satu. "Setelah ini aku tidak mau tambah lagi."

"Baiklah, baiklah. Masakanku memang tidak begitu enak, aku tahu." Samantha menggerutu.

"Aku guru olahraga, terlalu banyak makan bisa membuat perutku buncit."

"Alah, Kei sering beralasan karena dia astronot, dia tidak boleh makan banyak. Sekarang, kau juga? Anak muda zaman sekarang memang begitu aneh!"

Shouyou tertawa, lekas ia menyendoki sisa-sisa potongan waffle -nya dari atas piring hingga hanya tersisa lapisan madu di sana. Shouyou mengatupkan kedua tangan, mengucapkan terima kasih pada Samantha dan Herbert atas sarapan pagi pertamanya di Houston.

"Shouyou, apa hari ini kau mau ikut ke sekolah?" tanya Samantha.

"Eh? Hari ini?"

"Kalau kau tidak keberatan, sekadar untuk melihat-lihat saja."

"Apa yang harus kulakukan?"

"Menonton? Apa lagi? Kami ada kelas cerita siang ini, aku dan Marietta akan membawa anak-anak ke taman Taylor Lake. Kau bisa ikut cerita, kalau mau."

Shouyou lekas menggeleng, "Tidak, tidak. Bahasa Inggrisku berantakan, tapi … aku sangat senang jika bisa ikut melihat-lihat, sekalian jalan-jalan di daerah ini."

"Tentu saja! Minimalnya kau harus tahu di mana letak taman, mini market, dan bar-bar bagus!"

"Hanya jika kau mau memberiku tur gratis, Sam."

Sam mengguncang bahunya bahagia, "Aaah, aku tahu kau lebih kooperatif ketimbang Kei!"

Senyum tersungging dari bibir Shouyou, "Kau bisa mengandalkanku."

"Kalau begitu sebaiknya kau bersiap, kita akan pergi ke gereja dulu setelah itu baru ke taman."

"Apa yang harus kupakai?"

"Apa saja, Shouyou! Kau bahkan boleh pakai seragam biru punya Kei," ujar Samantha. "Tapi jika kaulakukan itu, kurasa kau harus menggulung bajunya habis-habisan."


Kei membelokkan sepeda menuju taman tempat anak-anak dari sekolah Samantha melakukan sesi tukar cerita. Beberapa jam lalu ia menerima pesan dari Samantha, memberitahunya bahwa Shouyou ikut ke kelas hari ini dan mungkin akan ikut bercerita di sana. Kebetulan, latihannya berakhir lebih cepat dari hari biasa karena Keiji membutuhkan kelas ekstra untuk membiasakan diri dengan atmosfer bumi selepas kembali dari misinya di ISS beberapa bulan lalu. Laki-laki itu benar-benar pekerja keras, untung saja. Setidaknya ia bisa membuat para kru sibuk dan membuatnya sedikit bebas untuk mangkir selama satu hingga dua jam dari jadwal latihan.

Begitu sampai, Kei memarkir sepedanya di dekat bangku taman yang dinaungi pohon-pohon ek besar. Sekumpulan anak-anak remaja tengah membuat lingkaran di tepi danau, di tengah-tengah, Shouyou mengenakan kaus polo hitam berkelir oranye dan ia tertawa-tawa di antara mereka. Kilau cahaya matahari memang serasi dengannya.

Kei berjalan mendekat, sedikit hati-hati dan memilih berdiri di dekat pohon ek lainnya, membiarkan bayangan pohon raksasa itu menutupi keadirannya. Ia ingin bersikap seperti pengagum rahasia sebentar saja, dari arah sini wajah Shouyou terlihat jelas dan suaranya yang melengking itu pun terdengar nyaring.

Kei memerhatikan dengan saksama, Shouyou begitu berbeda. Saling mengenal selama bertahun-tahun, dan menjadi sepasang kekasih selama beberapa bulan, tapi Kei belum pernah melihat sisi yang satu ini. Shouyou terlihat begitu percaya diri seperti biasanya namun lebih dari itu, kali ini ia benar-benar memancarkan aura sebagai seorang guru. Tutur katanya santun dan mata itu, ya, mata itu dengan jenaka bergerak ke sana ke mari tanpa terlihat canggung sedikitpun. Padahal sebelumnya Shouyou amat khawatir akan hari pertamanya di sekolah.

Ketika Shouyou tengah menjawab pertanyaan dari anak berambut pirang ikal mengenai pendapatnya akan Texas, dia menyadari keberadaan Kei. Matanya sedikit membulat selama beberapa saat namun mulutnya terus melarikan kata-kata, sejurus kemudian perhatiannya sudah kembali terfokus pada lingkaran manusia di hadapannya.

" Sir, karena kau sudah pindah ke Houston, jadi, di manakah rumah bagi dirimu?" Seorang anak lagi-lagi mengajukan pertanyaan.

Shouyou nampak diam sesaat sebelum ia menjawab, "Ini lucu karena baru tadi pagi aku memikirkan ini," Ekspresi wajahnya yang penuh semangat tiba-tiba melunak, "Awalnya, aku berpikir tentang Jepang; rumah orangtuaku, apartemen yang kutinggali, dan tempatku mengajar dulu. Lalu aku pindah ke Houston, dan kupikir tempat ini terlalu banyak jadi di mana rumahku sebenarnya? Tapi tadi pagi aku menemukan sesuatu yang menyadarkanku bahwa rumah tak selalu merujuk nama tempat, melainkan keluarga, teman-teman, dan juga …" Shouyou kembali mengambil jeda, kini memandang Kei. "… orang yang kaucintai."

Kei tertegun. Ia kenal betul dengan kalimat-kalimat itu dan tahu pasti di mana Shouyou menemukannya.

Usai kelas bubar, Shouyou berjalan menghampiri Kei, kedua tangan tenggelam di dalam saku celana. "Hai," sapanya pendek. "Kau sudah pulang."

" Yeah, sedikit lebih awal. Mau jalan-jalan sebentar?" tawar Kei.

"Ke mana?"

"Ke mana saja, kau 'kan baru di sini."

"Tumben kau baik."

"Aku selalu baik, kau saja yang tidak sadar." Rasa canggung ini membunuhnya jadi Kei memutuskan untuk membawa kembali sepedanya dan mengajak Shouyou menjauhi kerumunan siswa-siswa sekolah Samantha. Shouyou memegang lipatan bajunya ketika duduk di jok belakang, tidak bicara apa-apa.

Kei terus mengayuh sepeda di jalur pejalan kaki, perutnya bergetar karena dua sebab; perasaan tidak enak dengan surat wasiat yang ditinggalkannya secara sembarangan di rumah, juga ulat sutera yang mungkin baru bisa dicerna lambungnya sekarang. Bukan artifisial, ia memang baru saja memakan semangkuk kecil ulat sutera dengan kru-nya beberapa jam lalu.

Angin menabrak permukaan wajahnya, membuat rambut pirang yang semula tersisir rapi menjadi awut-awutan. Shouyou masih diam, jadi Kei memulai pembicaraan.

"Aku akan berangkat awal Agustus, saat musim panas."

Shouyou sedikit terlonjak, badannya sedikit doyong ke samping tapi Kei berhasil menahan sepedanya dengan dua kaki.

"Ta-tahun ini?" ucap Shouyou sedikit terbata.

Kei menoleh, mengulas senyum tipis. "Yep."

"Kau selalu mengatakan semuanya dengan mendadak."

"Apa? Ini tidak mendadak," Kei turun dari sepedanya, sebelah tangan mendarat di tepi wajah Shouyou sedang yang lainnya digunakan untuk menopang sepeda. "Kau juga tahu kalau suatu saat aku bakalan pergi, 'kan?"

Seketika Shouyou memalingkan wajah, tapi Kei sempat melihat kekesalan yang berkumpul di wajahnya. Ia masih membelai puncak kepala Shouyou dengan lembut. "Shouyou, ini yang kaudapatkan ketika mengencani seorang astronot. Hal-hal seperti ini pasti akan selalu terjadi; frekuensi pertemuan yang singkat ataupun kepergian yang mendadak, dan—"

"Termasuk surat-surat wasiatmu itu?"

Kei tercenung, usapannya di kepala Shouyou terhenti. Tak seharusnya ia merasa kaget karena lewat hal yang dibagi Shouyou di kelas cerita barusan, Kei sudah bisa menduga. "Kau membacanya?"

"Ya … secara tidak sengaja."

"Kalau begitu, aku perlu menulis yang baru."

"Tidak usah, yang itu sudah bagus."

"Kalau sudah dibaca, nanti tidak bisa disebut wasiat dong."

"Kenapa kau menulisnya?"

Kei mengedikkan bahu, ia mengulas senyum tipis. "Setiap astronot yang sudah didaftarkan dalam misi wajib menulis surat wasiat."

"Untuk apa?"

"Jika hal yang tak diinginkan terjadi, setidaknya ada yang bisa ditinggalkan," Kei mulai menuntun sepedanya memasuki area barat danau, "Karena siapa tahu, kami ada dalam kondisi di mana kami tidak bisa melakukan apapun selain berdoa."

Shouyou mengusap wajahnya pelan, dia mendongak menatap Kei dengan bibir yang bergetar. "Aku merasa bodoh …" katanya.

Kei tertawa kecil, junjungan bibir kirinya mencemooh. "Memang kau bodoh, 'kan?" candanya, Shouyou lantas memberi delikan. "Aku cuma bercanda. Mau duduk di sana sebentar?" Kei menunjuk ke arah sebuah pohon willow yang rindang menaungi tepian danau.

Shouyou berjalan mendahuluinya, mengambil tempat di bawah pohon untuk duduk melipat kaki di sana. Kei kembali menaruh sepedanya di sisi pohon, membiarkannya bersandar pada batang besar itu tanpa menggoresnya sedikitpun. Ia bergabung dengan Shouyou, duduk menghadap danau sembari membelai halusnya rumput dan tanaman pakis yang menyebar di sekitar taman ketika musim semi berlangsung.

"Aku rasa, kau hanya belum terbiasa." Kata Kei, menyambung obrolan.

"Aku rasa juga begitu."

"Kalau kau sudah tahu, kenapa harus merasa bodoh?"

"Aku tidak tahu, pikiran kadang tidak bisa dikendalikan. Kau tahu itu, 'kan?"

"Uh-huh. Tapi itu 'kan cuma sementara," Kei mengambil sebuah kerikil kecil di dekatnya, melemparkannya ke danau yang tenang. "Nanti juga, semuanya akan membaik."

"Apa kau paham maksud dari 'bodoh' yang kumaksud?"

"Kau merasa takut, iya 'kan?"

"Ya, aku merasa takut dan cemas, tapi aku tidak tahu harus berbuat apa. Oleh karena itu aku merasa bodoh. Apa kau tidak capek?"

"Capek?"

"Mendengarku khawatir dan bertingkah seperti ini setiap kali kau membawa berita?"

"Tidak sama sekali kok," Kei melempar batu lainnya, kali ini lebih jauh. "Aku tahu dari dulu kau mudah sekali cemas. Selalu sulit untuk tidur ketika mau ada pertandingan atau tur studi. Alih-alih capek, aku merasa senang."

Shouyou mengeluarkan kekehan kecil, "Senang?"

"Aku merasa sangat … diperhatikan? Haha, entahlah."

"Apa kau tidak takut?" tanya Shouyou dengan gusar. "Yah, karena … aku saja yang tidak akan pergi ke mana-mana, merasa sangat takut jika … jika sesuatu yang buruk terjadi."

Tangan Kei terulur dan menepis rambut yang jatuh di dekat alis Shouyou. "Shouyou, semuanya akan baik-baik saja," Kei mengangkat sebelah tangannya, memamerkan gelang batu hitam yang diikat Shouyou di pergelangan tangannya beberapa bulan lalu. "Kau akan menyelamatkanku lagi, 'kan?"