Hahaha aku yang terhormat balik lagi dengan fic yang penuh absurd dan keganjilan yang ada hahaha tenang ajah arc Galuna Island ini adalah chapter terakhir yang terjadi dan final hahaha memang benar sekarang Ur hidup lagi dan aku cukup terkejut ketika baca manganya yah berharap sesuatu karena, istilahnya di segel berarti jika segelnya di buka maka orang itu kembali yah intinya seperti Kyuubi Segelnya di perkuat jika, Segelnya di lepas maka sang Rubah akan juga keluar dengan semula yah istilahnya aku gitu dan ada alasanku nghidupin nih karakter yah satu buat muridnya dan juga nanti konfirmasi tentang kenyataan dan satunya lagi buat Haremnya Natsu wowkwkwkwk oh yeah! Yang suka harem silahkan ke sini (just kidding jangan terlalu di ambil pusing)
P.S : lagi baca manga dengan judul baru yah, Boku no Hero yah bukan Boku no Pico -_- ini baru nyampe chapter 30 yah ceritanya lumayan seru dan menarik juga tapi, aku masih belum faham akar inti permasalahannya jadi, aku akan baca lagi jika, minimal ada waktu karena, aku sudah di terima jadi pekerja tetap mungkin, setelah ini aku gak akan Update terlalu kilat yah tau sendiri kesadaran dan waktuku terkuras banyak setelah ini jadi, yang nunggu Update mohon sabar yah tapi, bukan sekarang mungkin bulan depan aku benar-benar sibuk kalau sekarang masih santai dan enjoy.
Chapter 19 : Deliora Demise
.
...
.
- Tempat Natsu Berada
Natsu sekarang membawa wanita itu pergi ke tempat yang agak aman supaya tak terkena amukan dari Mahluk Deliora ini karena, akan sangat gawat jika terkena yah intinya dia bisa membuat temannya senang dengan hidupnya kembali sang mentor.
"Bagaimana Kondisinya?" Tanya Kurama kali ini dia yang menggantikan posisi monyet merah ini.
"Suhu temperaturnya sangat turun drastis" Balas Natsu dia menempelkan kepalanya ke dada wanita itu untuk mendeteksi detak jantung "tapi, syukurlah Jantungnya masih berdetak meski sangat pelan yah setidaknya dia masih bisa terselamatkan" dia menghela nafas lega.
"Kupikir itu adalah hal wajar apalagi, dia juga sudah tersegel dalam Es itu sangat lama" Balas Kurama "selain itu coba kau hangatkan tubuhnya jika, tubuhnya dingin dengan begitu mungkin dia sadar"
"Oke!" Natsu memeluk wanita itu dan membiarkan hangat baginya Hal dingin bukanlah masalah karena, Api tubuhnya bisa menghangatkan siapapun termaksud dirinya selain itu dia tak mempedulikan wanita itu telanjang "kuharap dia cepat sadar" tak lama terdengar erangan.
"Urghh!" Ur mengerang dia membuka matanya ketika merasakan hangat tubuhnya dan melihat lelaki lebih kudah darinya, dengan rambut Spiky pink, dengan mata Onix memeluk tubuhnya dan wajah terlihat lumayan tampan "ini, dimana?" dia tetap dalam posisi itu karena menurutnya ini sangat nyaman.
"Pulau Galuna?" Jawab Natsu pipinya berwarna merah yah musim kawinnya kini muncul lagi tanpa hal yang di duga.
"Oh, begitu" Ur melepaskan pelukannya setelah dirasa agak cukup tapi, dia menyadari sesuatu yang buruk "tunggu! Di mana Deliora! Jika aku bebas berarti mahluk itu hidup!" dia berteriak panik karena, muncul malapetaka itu.
"Shhh! Tenanglah" Natsu menempelkan jarinya ke bibir wanita itu "selain itu pakailah ini dulu" dia memberikan sebuah jubah yah setidaknya untuk menutupi tubuh wanita itu.
"Arigato" Ur menerimanya dan memakaikannya "uhmm! Bisa kau beritau apa yang terjadi aku ingin tau dan bagaimana dengan Deliora?!" dia ingin mendengar jawaban yang jelas.
"Oke Pertama Kau bebas karena, aku melepaskan Segel itu, Kedua memang Monster itu kembali hidup" Jawab Natsu menutup telinganya mendengar raungan dari monster itu Ur hanya hening "dan yang ketiga kedua muridmu ada di sini yang satu mencoba melawan mahluk itu dan yang satu mencegahnya dan mencoba menyegelnya lagi!" Ur tau siapa dua orang ini.
"Tunggu! Maksudmu Gray dan Lyon?! Katakan di mana mereka!" Ur menggoyang-goyang tubuh Natsu "dan bagaimana dengan Deliora!? Mereka tak bisa melawannya meski secara bersamaan!"
"Aku tau jadi tenanglah!" Natsu memegang kepalanya yang pening karena di guncang "aku yang akan bantu juga kita akan kalahkan mahluk itu" dia memegang pundaknya.
"Kau tau Deliora sangat kuat" Ucap Ur dengan suara pelan dan entah kenapa dia merasa nyaman "dan selain itu aku sudah lama membeku dan juga sihirku belum pulih sepenuhnya"
"Ffftttttt! Dia kuat bukan berarti tak bisa di kalahkan" Natsu menahan tawanya sendiri "ayo, kita susul yang lainbaku takut murid-muridmu melakukan hal konyol, dan kau masih bisa berjalan?"
"Uhmm! Agak sulit apalagi waktu aku membeku" Balas Ur namun tak bisa beruntung Natsu menahannya.
"Baiklah aku bantu!" Natsu langsung menggendongnya dengan gaya BrydalStyle dan membuat wanita itu terkejut lalu menghilang
*cling
.
.
.
.
- Tempat Gray
"Ritual Moon Drip sudah selesai dan juga Deliora sudah bangkit" Lyon menyeringai "dan sekarang mustahil kau menghentikan kita" dia mendengar suara teriakan monster itu.
'Ur! Sial aku gagal!' Gray terlihat dengan wajah menyesal.
"Kaupikir sudah berapa lama aku menunggu ini?, selama sepuluh tahun!" Lyon mengangkat satu tangan "dan akhirnya aku menemukan Pulau Galuna tempat dimana bulan berkumpul dan kira-kira tiga tahun yang lalu aku membawa Deliora dari Brago!" dia menembakan setumpuk panah Es.
"Kau menghabiskan waktumu hanya untuk melakukan hal yang sia-sia" Gray membuat perisai melindungi dirinya.
"Sia-sia?.. Kau yang sia-sia menghabiskan waktumu dengan Guild tak berguna itu" Lyon membuat Balok Es besar di atas Gray dan menghantamkannya.
"Aku hanya ingin melakukan apa yang Ur katakan dan Fairy Tail adalah rumahku" Jawab Gray tapi, serangan tadi tak ada apa-apanya "selain itu aku tak menyangka ada seorang murid yang tega mengkhianati gurunya sendiri"
"Tidak peduli, sekarang Ur telah tiada dengan mengalahkan Deliora itu berarti telah melampauinya" Lyon maju dia melayangkan pukulan taring Esnya
"Setiap orang berhak punya cita-cita tapi, kau salah menjalankannya" Gray mudah menghindari "dan juga kau terlalu cepat untuk melampaui Gurumu sendiri!" dia berteriak dan memberi tebasan pedang Es sayangnya itu hanya kloning Es.
"ICE MAKE :..." Lyon sudah berada di belakang Gray dengan satu tangan terangkat "SNOW TIGER!" dia membuat Es berbentuk Harimau.
"ICE MAKE : PRISON!" Gray meloncat ke atas menghindarinya dia membuat kurungan penjara dan mengurung Es buatan Lyon "sihirmu tak stabil karena, menggunakan satu tangan dan itulah yang Ur ajarkan padaku" dia berada di depan Lyon.
"ICE CANON!"
Gray membuat meriam Es dan menembakan Peluru dari dalamnya dan menghempaskan Lyon jauh kesana hingga membuat lelaki itu tak bergerak sama sekali alias pingsan karena, kalah.
"Owww! Payah! Aku harus menghentikan ini" Gray membekukan perutnya menghentikan pendaharan dan dia mendengar raungan Deliora 'sial, Ur, Kakek dan Natsu aku minta maaf tapi, tak ada cara lain lagi selain ini' dia mengepalkan tangannya.
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
- Di Luar Kuil.
"Suara apa itu?" Tanya Lucy mendengar raungan besar.
"Mungkin suara perutmu yang lapar" jawab Happy.
"Ini bukan saatnya bercanda tau" Lucy Sweatdrop "dan lagipula aku masih kenyang"
"Tampaknya ini monster yang di maksud Gray itu" Ucap Erza dia mendengar suara raungan lagi "tapi, tampaknya Monster itu sudah dibangkitkan!"
"Sudah kubilang Lucy kau harus makan!" Komentar Happy.
"Gimana kalau kau saja yang jadi santapanku" Lucy pokerface
"Tampaknya kita agak terlambat tapi, kita harus ke atas siapa tau saja kita belum terlambat sama sekali" Ucap Erza berlari ke atas "kalian ikut aku!" dia mengajaknya dan semuanya mengikutinya.
.
.
.
.
- Tempat Deliora
"Begitu rupanya tampaknya dia sudah mulai mengamuk" Komentar Natsu dia melihat Deliora yang mengamuk dan menghancurkan sesuatu di luar kendali "dan itu bagus dia belum berpindah tempat" dia menggertakan jarinya.
"Di mana Gray dan Lyon?" Tanya Ur tetap dalam posisinya dia menatap Horror mahluk yang pernah menjadi momok menakutkan di masa lalunya kini hidup lagi "aku harus membantunya!" dengan nada khawatir.
"Hmm, Lyon tampaknya tak bisa bertarung lagi dan untuk si Stripper.." Natsu menunjuk Gray yang tengah bertarung dengan Deliora tapi, terlihat tak seimbang dan Lyon yang sudah terbujur lemas "mereka keliatan sudah kelelahan" dia masih tenang.
"Tidak!" Ur berteriak dia turun dari gendongannya "aku harus membantunya! Mereka tak bisa mengalahkannya aku harus membantunya!" dia mencoba berdiri namun tak kuasa.
"Aku tau, dan sudah kubilang biar aku yang urus" Natsu tampak kalem dia kembali menggendong wanita itu "dan lagipula aku tak biarkan mereka dan kau tetap seperti itu mungkin mereka akan terkejut jika melihatmu" dia bisa membayangkan wajah rivalnya ini.
"Yah kurasa"
Gray tak tau harus bagaimana cara mengalahkan mahluk satu ini berbagai cara telah dia lakukan namun, hasilnya nihil kekuatannya masih terlihat sangat jauh sekali dengan mahluk itu jika, dia pikir tak ada cara mengalahkannya tapi, hanya ada satu yang ada di pikirannya hanya ada satu tehnik dan tehnik itu yang pernah di pakai gurunya.
"Pe-percuma ka-kau mengalahkannya" Lyon merangkak letih dengan penuh luka "da-dan i-itulah aku ada di sini untuk mengalahkannya dan sekarang aku bisa melampauinya" dia mengepalkan tangannya.
"Tch, tak ada cara lain aku memang benar-benar harus menggunakannya" Gray menyilangkan tangannya tubuhnya menjadi putih Salju.
"Jangan bodoh!" Bentak Lyon kesal "sejarah hanya akan terulang kembali! Meski kau melakukannya maka aku akan mencairkannya kembali! Dan kau harus ingat itu!"
Deliora melihat Gray dia mengayunkan pukulannya sebelum itu mengenai lelaki berambut hitam itu sebuah kilatan biru cepat menyerang telak Deliora dan menghempaskan iblis itu agak jauh dari tempatnya.
"Natsu?" Gray cukup shock melihat serangan tadi dan tak menyangkan rivalnya membuat iblis itu berpindah dari tempat berdirinya "apa yang kau lakukan di sini?"
"Harusnya aku yang bicara begitu" Jawab Natsu dia mendengar raungan Deliora yang terlihat marah "dan tampaknya kau ingin mengeluarkan tehknik konyol dan gak jelasmu itu!"
"Ini harus kulakukan agar menebus dosaku dan juga Ur!" Gray terlihat sangat protes dengan keputusan kawannya "tapi, siapa yang kau gendong itu?" Dia menunjuk seseorang di punggung Natsu yang tertutup jubah.
"Demi Gurumu? Aku rasa dia akan kecewa jika mendengar keluhan konyolmu ini" Natsu menyeringai dia melirik ke belakang "bukankah begitu?" dia berbicara dengan orang yang di belakangnya.
"Kau sudah dewasa rupanya Gray"
"Suara itu... Tidak mungkin" Gray dengan sikap hening mendengar suara feminim yang masih tak berubah dan sama seperti dulu "ka-kau masih hidup?!" dia cukup terkejut ketika melihat Wanita yang di gendong rivalnya membuka penutup kepala, rambut pendek hitam, dengan mata hitam yang tak berubah waktu terakhir kali melihatnya.
"Jika aku sudah mati, seharusnya aku tak ada di sini" Ur tersenyum melihat anak didiknya sudah banyak berkembang "dan apa, yang kau lakukan dengan kuda-kuda seperti itu?" dia tau sebenarnya hanya saja ini sebuah pertanyaan yang dia ingin dengar dari muridnya
"Mustahil! Kau seharusnya sudah tiada!" Lyon yang paling shock di sini melihat mentornya kini berdiri di depan matanya sendiri "dan aku tau! Kau menyegel dirimu sendiri ke dalam es itu!"
"Menyegel tubuhku sendiri bukan berarti, aku sudah tiada bukan?" Ur berbicara dengan tenang, Lyon tak berkutik sama sekali "yah, memang benar tehknik ini menyegel Deliora dengan mengorbankan jiwaku sendiri tapi, jiwaku hanya tersegel bukan berarti aku sudah tewas dan kebetulan tampaknya orang ini melakukan sesuatu yang tak kalian tau" dia melirik ke arah Natsu.
"Natsu! Apa yang sudah kau lakukan?!" Tanya Gray masih dalam shock yang bisa dia tangkap dari pembicaraan tadi dia tau temannya ini melakukan sesuatu yang tak masuk akal terhadap gurunya.
"Yah,, kau tau aku umm! Yah begitulah" Jawab Natsu seasalnya dia merahasiakan apa yang terjadi "daripada, kalian berdiri di situ terus cepat! Bawa guru kalian ke tempat yang aman!" dia berteriak.
"Tapi, bagaimana denganmu dan juga Deliora!" Tanya Gray di lain hati dia senang karena, gurunya hidup kembali dan kini berada di sampingnya walau keadaanya masih turun karena, cukup lama terkurung dalam Es.
"Biar aku yang urus ini" Jawab Natsu, dan Gray mengerti akhirnya membawa gurunya ke tempat yang aman bersama Lyon "nah, sekarang monster besar bagian mana yang harus kupukul!" dia menyeringai dan mengepalkan tangannya.
Deliora mengayunkan tangannya, Natsu langsung menghilang cepat dan berada di atas mahluk itu dengan kondisi berbalik dia menggerakan jarinya dan tampak terlihat seperti benang.
*Slashhhh!
"Hahaha mudah sekali!" Natsu tertawa kecil dia melihat kaki kanan Deliora putus akibat ulahnya "kau banyak celah di mana-mana bocah besar!"
"Rarghhhhhh!"
Deliora mengamuk dia menyemburkan nafas api dari mulutnya, dan Natsu menyatukan kedua telapak tangannya membuat dingding tanah untuk melindungi dirinya sendiri, lalu dia menggerakan kakinya Deliora yang ingin berjalan akhirnya tersandung oleh sebuah batu.
"Arghh! Kau memang tidak kuat tak seperti yang tak di rumorkan kebanyakan orang" Komentar Natsu dengan wajah bosan dia membuat segel tangan dan tampak menyemburkan sesuatu "KATON : GOKKYAKU NO JUTSU!" dia menyeburkan Api dalam bentuk bola api yang berkorbar dan menghanguskan dan membakar iblis itu secara bersamaan
"Rarghhhhhh!"
"Hahahaha ini sajakah yang kudapat? Sungguh mengecewakan" Keluh Natsu dia membuat pusaran angin di tangannya membentuk sebuah pisau kecil "baiklah, akan kubawa kau sebagai oleh-oleh!" dia meloncat maju ke arah Deliora yang masih berteriak kesakitan.
*Slashhhh
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
- Tempat Ur
"Ini sudah sepuluh Tahun lamanya yah kalian?" Ur tersenyum ketika melihat anak didiknya sudah berkembang pesat "apa kabar kalian? dan bisa jelaskan dengan Deliora dan juga kalian?" dia menambahkan nada serius dan sebenarnya dia juga sudah menebaknya.
"Yah, kau tau ummm! Kita sedang misi dan kita menemukan Deliora" Jawab Gray agak ragu dia bisa lihat gurunya terlihat kesal dari nada bicaranya juga "ini semua salah Lyon! Dengan mimpi bodohnya itu!"
"Hei! Apa-apaan kau! Aku hanya ingin menjalankan mimpiku!" Protes Lyon tak mau di salahkan "dan lagipula ini salahnya sendiri yang mau mencoba menggunakan tehknik sialan itu!"
*Jyutttttttt.
"Awwww awwww!"
"Adawwwww!"
"Kalian ini banyak alasan untuk menutupi kesalahan kalian yah!" Ur menjewer kuping kedua muridnya "mau alasannya benar atau tidak yang jelas kalian tetap salah, Gray kau menggunakan tehknik itu padahal kau tau tubuhmu belum bisa menerimanya dan Lyon kau ingin cari mati yah? Dengan menantang mahluk itu yang kau sendiri belum bisa mengalahkannya"
"Yah, kami minta maaf dan menyesal!" Gray memohon ampun dengan memegang kupingnya yang sakit.
"Yah, tapi aku senang kau kembali dengan begitu aku bisa melanjutkan mimpimu tanpa harus melawan mahluk itu!" Lyon tersenyum senang.
"Yah, aku senang kalian baik-baik saja" Ur memeluk keduanya.
"Oh ya bagaimana bisa kau ada di sini Sensei?" Tanya Lyon di dalam otaknya banyak pertanyaan yang harus di jawab oleh gurunya "yah, aku tau cara kerja tehknik itu hanya saja bagaimana bisa kau lepas dari segel itu?"
"Aku juga tak tau bagaimana ceritanya" Ur menyentuh bibirnya "dan ketika aku terbangun aku sudah melihat teman pinkmu, bertopi jerami dan kurasa dia yang melakukannya" dia tak tau persis dari awalnya
"Natsu?" Guman Gray dia tau bahwa hanya dua orang yang bisa melakukan hal yang mustahil begini di Guildnya tapi, dia cukup terkejut dan tak lama orang yang di bicarakan muncul.
"Yo!" Sapa Natsu ringan.
"Natsu di mana Di mana Deliora dan apa yang terjadi?" Tanya Gray dia masih agak khawatir karena, belum tau jelas keadaan iblis itu.
"Sudah kubereskan dan nih aksesoris!" Jawab Natsu bosan dia melemparkan sesuatu yang rupanya kepala Deliora yang Putus dan hangus karena, terbakar "ya, ampun dia berteriak tak jelas membuat telingaku sakit" dia mengurek lubang hidung.
"Ka-kau! Ba-bagaimana bisa kau mengalahkannya?" Lyon yang paling shock di sini dia bisa melihat itu asli bukan Palsu dan Ur sendiri juga shock dia tak menyangka ada yang mengalahkan iblis itu dengan mudahnya.
"Ahh kau tak usah khawatir, setidaknya masalah selesai" Ucap Natsu dia hanya memutar topinya dan melihat Lucy dan Happy berlari ke arahnya.
"Natsu kau baik-baik saja?!" Tanya Lucy melambaikan tangannya "dan bagaimana dengan Monster itu?"
"Sudah berakhir" Natsu menunjuk kepala Deliora membuat gadis pirang itu melonjak kaget tapi, wajahnya langsung berkeringat ketika melihat Gadis berambut merah memasang wajah tak menyenangkan.
"Bisa kau jelaskan apa yang sudah kau lakukan Natsu?" Tanya Erza dengan nada dingin.
"Errr,, yah kau lihat aku hanya ingin misi Class S" Jawab Natsu agak ragu dia tau gadis ini kesal atas kelakuannya dan juga situasi sekarang bertambah buruk "dan, juga aku tak suka sifat Laxus, makanya aku membuk-awwww!" dia merasakan nyeri karena, kepalanya menghantam benda keras.
"Aku senang kau baik-baik saja" Erza tersenyum dia memeluk Natsu dalam baju armor besinya "jika, kau ingin Misi Class-S seharusnya kau mengajakku dan aku takkan marah oke?!".
" iyalah" balas Natsu setidaknya dia senang gadis itu tak jadi marah "apakah misi kita telah selesai?!"
"Jangan terlalu cepat ambil kesimpulan" Ucap Erza melipat tangannya "dan selain itu masalah satu memang sudah beres tapi, Misi kita memang sekarang belum selesai dan juga kutukan Desanya masih belum pulih"
"Tapi, bagaimana caranya?" Tanya Gray yang membantu gurunya berdiri dia lalu menoleh ke arah Lyon "kau mengetahuinya?"
"Mana kutau!" Balas Lyon tak menatap balik "selain itu kita sudah tiga tahun melakukan penyelidikan dan juga kita tak pernah berhubungan sama penduduk sama sekali dan juga aku ragu Moon drip yang mempengaruhi mereka, kalian harus berhati-hati tampaknya para penduduk menyembunyikan sesuatu"
"Kalian kemari karena, memiliki urusan pribadi" Ucap Erza dia mengingat apa yang Toby katakan padanya "yang sudah berlalu biarlah dan ayo pergi" dia langsung menarik lengan Natsu dan Lucy segera menyusulnya dari belakang.
"Apa yang kau lihat?" Tanya Lyon menyadari tatapan Gray.
"Apa kau tetap melanjutkan mimpimu itu?" Tanya Gray.
"Tentu saja dasar bodoh!" Lyon tertawa sinis "dan juga aku masih banyak mimpi yang harus kuselesaikan sebelum menyelesaikan mimpiku yang ini"
"Aku senang hati menerimamu" Ur tersenyum melihat mimpi muridnya "jika kau rasa sudah cukup kuat datang dan temuilah aku, selesaikan mimpimu itu aku akan tetap menyanjungmu sama seperti dulu dan aku takkan setengah-setengah"
"Tentu, Sensei!"
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
- Desa Penduduk
"Ehh, tapi bagaimana bisa!" Lucy cukup terkejut melihat yang ada di depannya "bukankah pemukimannya sudah hancur oleh tanah"
"Jika, ini sebuah ilusi kita harus merusakanya jika, ini palsu" Usul Happy memukul-mukul sebuah rumah.
"Kau malah membuatnya tambah buruk jadi, diamlah" Gray Sweatdrop
"Yang kita lihat sekilas ada seorang Wanita yang menggunakan Orb untuk membetulkan desa ini" Jawab Moka di depan kuburan adiknya.
"Wanita?" Natsu tampak berfikir yang dia tau hanya orang itu yang tampak melakukannya dan juga dia masih mencium sedikit Aroma farpumnya 'tapi, kenapa dia melakukan itu? Heh? Aku tak tau rupanya dia baik juga tapi, sial! Aku tak tau nama wanita dewan itu!' tapi, tak lama sebuah surat jatuh dari langit dan dia membacanya.
Heh, aku cukup terkesan dengan pertarunganmu melawan Deliora Natsu-kun, kau cukup membuatku tertarik untuk mengamatimu dan meneliti semua tentangmu karena, kau terlihat Spesial di mataku dan namaku Ultear suatu saat kita bertemu lagi aku takkan sebaik waktu itu.
'Ultear huh? Tch aku akan buat dia karena, meremehkanku' Natsu mendecak Arogan tapi, jika dia bertemu lagi maka ada sesuatu yang ingin dia bicarakan "tampaknya tak ada yang terluka dari sini" dia tertawa riang.
"Terima kasih atas desanya" Moka membungkuk senang "tapi, kapankah kalian menghancurkan bulannya?"
"Menghancurkan bulan itu bukan masalah" Sambung Erza dengan nada serius "tapi, ada sesuatu yang ingin kutanyakan. Dan kau bilang kalian berubah seperti itu ketika munculnya bulan merah itu?"
"Yah, seperti itulah kira-kira" Moka mengangguk "tepatnya kami seperti ini ketika bulan keluar"
"Bedasarkan analisaku Moon drip terjadi setiap hari selama tiga tahun itu berarti harusnya kalian melihat reruntuhan dari cahaya itu setiap hari" Erza berjalan terus tak menyadari dia menginjak jebakan lubang yang dibuat Lucy hingga membuatnya terjerembap ke bawah dan membuat teriakan lucu "Kyahhh!"
"Wah, Lucy jebakanmu berhasil" Komentar Happy
"Tunggu, dia bilang Kyah? Manisnya" Gray dengan mulut menganga.
"Itu bukan aku yang melakukannya!" Lucy berteriak histeris.
"Yang berati itu adalah tempat yang mencurigakan di sana" Erza keluar dari jebakan itu dan terus berbicara seolah tak terjadi apapun "dan bisakah kalian menyelidikinya?" dan yang lain hanya bisa Sweatdrop melihatnya.
"Teman-temanmu lucu Gray" Ur tertawa kecil melihat keantikan kawan muridnya ini.
"Kau tidak tau mereka sensei!" Gray memutar bola matanya "kau tidak tau!"
"Untuk kejadian sebenarnya kita tak tau apa yang sebenarnya terjadi" Jawab Moka dengan nada serius "kami pernah menyelidikinya berkali-kali tapi, gagal alasannya begitu kami ingin mendekati bangunan tampak seperti ada sebuah penghalang yang melarang kita untuk mendekat dan kita hanya bisa sampai gerbang saja"
"Apa maksudmu tak bisa masuk? Bahkan kita tinggal masuk saja tanpa hambatan saja" Ucap Natsu melipat tangannya.
"Berbicara tak seperti yang di perkirakan" Gray Sweatdrop "kita tak tau apa yang sebenarnya terjadi tanpa, di selidiki lebih dulu"
"Tapi, kita baik-baik saja tanpa halangan?" Sambung Lucy.
"Baiklah Natsu ikut aku kita akan hancurkan bulannya!" Ajak Erza.
"Yoshhh!"
"Eehhhhh?!"
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
- Di atas Menara
"Kau yakin kita melakukannya di atas sini?" Tanya Natsu menatap ke atas "akankah lebih dekat dan efisien jika di lakukan di atas menara?"
"Di sini saja lagipula, para penduduk tak bisa mendekati reruntuhan itu" jawab Erza.
"Bagaimana cara melakukannya meski itu adalah Erza" Komentar Lucy.
"Aku akan menggunakan ini untuk menghancurkannya" Erza mengeluarkan tombak emas besar "dan kau sebagai perantara untuk mendorong ini"
"Jadi, kau ingin menggunakan tombak itu dengan perantara kekuatanku?" Tanya Natsu Erza mengangguk.
"Kedengarannya malah bertambah mustahil" Lucy Sweatdrop.
"Mereka benar-benar serius melakukannya" Gray pokerface "meski kedengarannya aneh"
Erza membuat posisi miring, dia mengarah tombaknya tepat ke atas bulan, Natsu menggunakan kekuatan Kakinya menendang ujung tombak itu dan tombak itu bergerak melaju dan tepat mengenai bulan itu hingga membuat sebuah retakan dan hancur.
*Krakkkkkk.
"Bulannya tidak hancur hanya saja langitnya jadi, gelap cerah" Ucap Lucy.
"Pulau ini di selimuti sebuah lapisan karena Moon Drip dan mengkristal di udara" Ucap Erza melipat tangannya "dan itulah sebabnya bulan terlihat berwarna merah"
"Jika, semua sudah kembali normal tapi, kenapa mereka tidak kembali normal juga?" Tanya Natsu menunjuk para penduduk yang tak terjadi apapun.
"Mereka memang awalnya berwujud Asli seperti itu" Jawab Erza "mereka memiliki kemampuan untuk berubah wujud menjadi manusia dan mereka hilang ingatan sebab dari efek Moon Drip itu sendiri"
"Me-mereka su-sungguhan monster?!" Gray tubuhnya bergetar.
"Tapi, kenapa Lyon dan yang lainnya tak terkena efek itu?" Tanya Lucy.
"Mudah saja, karena mereka manusia" Jawab Ur "dan juga efek ini berlaku hanya untuk para penduduk di sini"
"Menajubkan seperti yang terlihat" Komentar Bobo melambaikan tangannya "terima kasih atas bantuannya Fairy Tail"
"Ahhhh hantu!" Lucy memeluk Erat Happy
"Ka-kau bukankah Ne-nelayan waktu itu?" Tanya Gray gemetar ketakutan "tapi, bagaimana bisa kau berada di sini? Bukankah kau menghilang waktu di perahu itu?"
"Yah, maaf tak menceritakan kejadian yang sebenarnya" Jawab Bobo terbang ke atas "jika, aku mendekati pulau itu maka di pastikan aku bakal hilang ingatan!" dan semua para penduduk bersorak kegirangan.
"Yeayy! Bobo telah kembali!"
"Ayah!"
"Wohhooooo!"
"Semuanya baik-baik saja!"
Dan kehidupan mereka kini kembali normal.
.
.
.
.
Sementara itu Ultear berdiri di atas pohon dan mengamati aktifitas mereka dari kejauhan yang tengah berbicara seseorang dengan Via Orb Lacrima.
"Bagaimana kau bisa lihat itu Siegrain-sama?" Tanya Ultear.
"Mengesankan seperti yang kulihat" Jawab Siegrain "tapi, kenapa kau malah memperbaiki Desa mereka, dan juga bagaimana dengan Deliora?"
"Hanya sebagai permintaan maaf saja" Balas Ultear tersenyum "hmmm, tampak mahluk itu sudah tewas oleh si Salamander"
"Tch, menyebalkan" Siegrain mendecak kesal "Fairy Tail, kuharap mereka tak mencampuri urusan kita khususnya Natsu Dragneel karena, dialah satu-satunya yang menjadi penghalang untuk mengelabui Erza"
"Setuju" Ultear mengangguk 'aku, tak sabar untuk bertemu denganmu lagi Natsu-kun'
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
- Tepi Pantai
"Hmmm, lukamu memang sudah sembuh tapi, tampaknya akan menimbulkan bekas luka saja" Ucap Lucy yang selesai mengobati luka Gray
"Aku tidak peduli, selama itu tak mengaanggu tak masalah" Jawab Gray dengan nada keren.
"Tch, sok keren" Komentar Natsu tengan memakan bara api sepersekian detik kemudian sebuah tinju beradu dengan kaki lalu Ur menghampiri Natsu.
"Sensei! Kau harus duduk dan tubuhmu belum sepenuhnya pulih" Gray menghentikan aksinya ketika melihat gurunya.
"Aku, tau tapi, berjalan tak masalah bagiku" Ur duduk di sebelahnya dengan wajah tersenyum "aku, ingin berterima kasih padamu karena, di beri kesempatan hidup yang kedua dan yang ingin kutanyakan bagaimana? Caranya kau membebaskanku dalam Es itu" menunjukan wajah menggoda dengan pakaiannya yang sudah hilang.
"Ur!" Gray melotot tak percaya apa yang dia lihat bahwa gurunya menggoda sang Rival
"Apa? Lagipula ini tak ada masalah bukan, berbicara pada orang yang telah menyelamatkanku?" Ur memasang wajah tak bersalah "selain itu wajahnya manis dan lucu tak begitu buruk juga"
"Ah, aku mengerti" Lucy Sweatdrop dia sekarang tau darimana kebiasaan Gray telanjang yang tak jauh dari gurunya sendiri.
"Errr! Nanti akan kuberi tau setelah sampai di Guild" Jawab Natsu dia menghindari kontak mata karena, alasan musim kawinnya kambuh lagi.
"Ke-kenapa kalian tak menerimanya?" Moka terkejut karena, hadiah yang di berikan harus di tolak.
"Rasa senang kalian saja sudah cukup" Jawab Erza mengabaikan duel tak jelas di belakangnya "dan juga misi ini tak resmi karena, ada dua orang aneh yang mengambil misi seenaknya tanpa izin"
"Tapi, kalian adalah penyelamat kami" Moka tersenyum senang "tapi, setidaknya bisakah kalian menerima hadiah ini dari kami"
"Rasanya sulit menolak kalau sudah berbicara seperti ini" Erza mendecik senang "tapi, jika kami mengambil uangnya maka itu melanggar peraturan yah kalau begitu kami akan mengambil hadiah tambahannya saja yaitu kunci emas"
"Hahhh! Kami tidak butuh barang tak berguna seperti itu!" Teriak Natsu dan Gray bersamaan.
"Enak saja! Aku butuh itu!" Protes Lucy.
"Kalau begitu biar aku saja yang mengantar kalian sampai pelabuhan Hargeon" Tawar Bobo.
"Tidak usah kami sudah ada kapal sendiri" Tolak Erza dia menunjuk sebuah kapal besar dengan lambang jolly Roger.
"Ka-kapal bajak laut?" Gray Sweatdrop.
"Tampaknya dia membajaknya" Ucapnya Happy.
"Arrghhh aku tak mau naik itu!" Lucy berteriak kesal.
"Semuanya terima kasih!"
"Sampai jumpa!"
"Kapan-kapan mampir kemari lagi yah!"
"Fairy Tail yang terbaik!"
Kapal itu pergi berlayar meninggalkan Pulau Galuna dan tampak Lyon dan kawan-kawan menatap mereka dari tepi pantai yang lain.
"Mereka telah pergi" Komentar Yuuka "dan kenapa denganmu?" dia hanya Sweatdrop melihat tingkah gaje teman di sampingnya.
"Benarkah ini tak apa-apa membiarkan Teman seperguruanmu pergi?" Tanya Sherry menatap lelaki itu "dan juga bukankah kau senang? Gurumu ada lagi seharusnya kau ikut bersama mereka?"
"Tak masalah, meskipun tak bersama itu bukan berarti aku tak bisa melihatnya lagi" Lyon tersenyum menatap lautan "ah, ya ngomong-ngomong Sherry, Yuuka apakah Guild itu menyenangkan?"
.
.
.
.
.
- Era
"Bagaimana?" Tanya Ultear dia menunjukan sebuah Video pertarungan Natsu dengan Deliora kepada Siegrain "dan aku tak menyangka monster itu di kalahkan dan di bunuh dengan mudah"
"Aku tau" Siegrain mengangguk "kurasa memang benar orang itu yang akan jadi penghalang rencana kita"
"Ini hanya pemikiranku apakah Deliora yang terlalu lemah atau si Salamander itu yang kuat?" Tanya Ultear membuka lembaran buku.
"Kupikir Si Salamander itu yang kuat jika, yang aku lihat" Jawab Siegrain "dan juga bukankah kau senang ibumu kembali? Bukankah itu yang kau inginkan?"
"Dia sekarang bukan proritasku lagi" Jawab Ultear dengan nada dingin "dia sekarang hidup tapi, memiliki tujuan yang tak jelas"
"Jangan bicara begitu dan juga aku menghormati ibumu" Ucap Siegrain memegang sebuah kalung "selain itu jika, posisi tidak penuh mungkin dia akan menjadi salah satu kandidat 10 Penyihir Suci bersama dengan Salamander itu"
"Kau terlalu melebih-lebihkannya" Ultear menatap arah lain "hidupnya sekarang tak begitu berarti meski, dia hidup lagi aku tak merasa senang"
"Oh, ya ngomong-ngomong bagaimana pendapatmu ketika bertarung dengan Salamander itu?" Tanya Siegrain
"Aku tak bertarung dengannya tapi, aku tau orang itu kuat kau bisa lihat sendiri pertarungannya dengan Deliora" Jawab Ultear "selain itu dia belum mengeluarkan kekuatan penuhnya bahkan setengahnyapun tidak dan dia juga yang telah melakukan sesuatu yang membuat Ibuku muncul lagi sekarang"
"Yah, itu berati kekuatan sebenarnya orang itu belum terkuak" Siegrain mengepalkan tangannya "dan juga benar dugaanku dia adalah satu-satunya orang yang akan membakar rencana kita"
"Kau benar" Ultear mengangguk memainkan bola lacrimanya 'Nah, Natsu-kun apa kau bisa melakukannya lagi setelah ini?'
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
- Magnolia
"Tch, kita bersusah payah dengan tubuh terluka hanya mendapatkan sebuah kunci emas tak berharga" Komentar Gray mengeluh.
"Setidaknya misi ini ini berjalan lancar" Jawab Happy mencoba menghiburnya.
"Ini bukan misi Resmi jadi kurasa adil" sambung Erza.
"Yup! Yup! Setidaknya ini berhasil" Lucy tersenyum gembira.
"Itu karena, kau mendapat apa yang kau inginkan" Balas Happy "baiklah, kita jual kunci itu!"
"Enak saja, kucing sialan!" Lucy langsung sewot "ini semua kunci spesial selain itu sangat langka dan hanya ada satu-satunya"
"Fffttt! Si Sapi dan Si Duyung pemarah itu termaksud langka?" Natsu meledeknya.
"Urusai!, jika dilatih lagi maka dia akan jauh lebih kuat darimu!" Lucy membalasnya dengan kesal.
"Jadi, kunci mana yang kudapatkan?" Tanya Gray.
"Sagitarius The Archer" Jawab Lucy.
"Sagitarius?" Gray membayangkan yang di maksud yaitu Manusia dengan kepala kuda sedangkan Natsu lebih nyeleneh lagi Monster bunga dengan tentakel.
"Bisakah kalian mengkhayal yang lebih spesifik lagi" Lucy Sweatdrop.
"Oh, ya ngomong-ngomong Sensei di mana kau menetap dan tinggal?" Tanya Gray dan juga dia senang gurunya setuju untuk bergabung dengan Guild.
"Hmm, kurasa di tempat orang yang menyelamatkanku" Ur melirik ke arah Natsu.
"Tunggu! Dulu!" Gray yang paling protes sendiri "kau harusnya tinggal bersamaku bukan! Si FlameBrain ini kau tau rumahnya berantakan seperti kaca pecah!"
"Hei, apa maksudmu itu!" Natsu menyipitkan matanya.
"Jangan membantah Gray, dan juga ini kemauanku" Ucap Ur memencet hidung muridnya "selain itu aku sudah dewasa dan tau mana yang benar dan salah" Gray mengangguk patuh.
"Ayo, kita kembali karena, pasti Master sedang menunggu kalian" Ajak Erza "aku memang tak mempermasalahkan tentang yang kalian lakukan tapi, Master berbeda lagi dan maaf aku tak bisa membantu kalian"
"Tunggu! Jangan bilang Master akan menghukum kita dengan itu!" Teriak Happy.
"Aku akan melakukan apapun asal jangan itu!" Gray terlihat panik.
"Jangan Khawatir pasti Jii-chan akan memaafkan kita meski kita melakukannya berkali-kali" Natsu pasang wajah ceria "yah, kurasa" di sampingnya Gray dan Happy pasang wajah gelap horror.
"Dari nada bicaranya saja, aku agak ragu" Lucy Sweatdrop.
"Apa yang terjadi dengan Guild kita?" Erza shock melihat kondisi keadaan Guildnya yang rusak dan Hancur dan banyak batangan besi di setiap sisi "si-siap yang melakukan ini?"
"Sialan!" Natsu mengepalkan tangannya.
"Grrrr!" Gray menggertakan giginya.
"Phantom Lord" Mirajane datang dari belakang "mereka yang melakukan semua ini dan ini sebuah penghinaan bagi kita"
"Mira! Bagaimana keadaanmu? Apa kau terluka?" Tanya Natsu khawatir "dan bagaimana dengan Lisanna?"
"Aku baik-baik saja Natsu dan terima kasih sudah bertanya" Mirajane tersenyum senang "dan, kau tak usah khawatir Lisanna ada di rumah dia baik-baik saja"
"Uhmm, di mana yang lain?" Tanya Gray
"Mereka ada di Basement ikut aku!" Jawab Mirajane.
.
.
.
.
- Basement Guild
"Hei, lihat Natsu dan yang lainnya sudah kembali!"
"Dan dia bersama Erza juga!"
"Dan siapa wanita Sexy di belakangnya!?"
"Hei, Guild kita rusak!"
"Keparat! Phantom kita tak bisa membiarkannya begitu saja!"
"Kira harus membalasnya!"
"Tenanglah!"
"Yo, selamat datang" Sapa Makarov dengan tenang tanpa ada beban apapun "bagaimana Misi ngumpet kalian?"
"Master! Kenapa kau bersantai begitu!" Gray yang paling Emosi di sini.
"Yah, kau benar dan bisa-bisanya kau mengambil misi tanpa izinku!" Teriak Makarov paling kesal "dan, sebagai gantinya! Kalian akan menerima hukuman!" dia menepuk kepala Natsu, Happy, dan Gray tapi, begitu ke Lucy dia malah menampar pantatnya tampak seringai mesum di wajahnya.
"Kyah!"
"Master hentikan itu!" Mirajane cemberut melihat kelakuan masternya yang memanfaatkan situasi ini.
"Hehehe maaf tak bisa menahan diri" Makarov cengengesan lalu, dia melirik ke arah Ur "ah, aku sudah mendengar cerita jelasnya dari Natsu dan Izinkan aku perkenalkan diri namaku Makarov Dreyar aku Master dari Fairy Tail ada yang bisa kubantu di sini"
"Ah, tak usah formal begitu selain itu aku kemari karena, ajakan muridku" Balas Ur "dan juga jika di perkenankan bisakah aku bergabung dengan Guildmu karena, sekarang aku tak punya tempat tinggal"
"Dengan senang hati kami menerimanya!" Makarov berteriak senang karena, ada anggota baru apalagi jika, itu seorang wanita cantik, Kuat dan Sexy plus dada besar 'selain kekuatannya setara dengan 10 penyihir suci dan tampaknya Dewan akan mengincarnya jika, ada Posisi kosong'
" Dan aku minta maaf sekarang karena, tak bisa membantu" Ucap Ur dia senang dan dapat Tatto Guild Di lengan kanan berwarna hitam "yah, kau tau Sihirku belum pulih sepenuhnya, setelah lama membeku"
"Yah. Aku bisa memahami situasinya" Makarov mengangguk faham
" Master! Kau tau situasinya sekarang bukan?!" Tanya Natsu dengan nada kesal "mereka menghancurkan Guild kita!"
"Yah, aku tau Phantom melakukan hal bodoh lagi" Makarov membalasnya santai dia asik dengan minumannya "dan aku juga tak faham kenapa mereka beraninya menyerang Guild yang tengah kosong jadi, tak usah di permasalahkan dan biarkan saja"
"Kosong?" Erza mengangkat sebelah alisnya.
"Yah, mereka menyerang pada malam hari waktu Guild tak ada siapa-siapa" Jawab Mirajane "jadi, tak ada yang terluka dan kita masih beruntung"
"Master! Aku tak suka ini!" Teriak Gray "kita tak bisa diam saja sebelum membalasnya dengan memberi mereka pelajaran!"
"Diskusi selesai dan tak ada kata bantahan lagi!" Makarov beranjak dari Tempatnya dan pergi berjalan dengan tenangnya "sekarang permisi! Ada sesuatu yang harus kukerjakan lebih dari ini"
"Kau santai sekali kakek!" Natsu Pokerface.
"Natsu, tenangkah aku yakin Master berfikir yang sama" Mirajane menenangkan lelaki di sampingnya "hanya saja Master tau jika peperangan antar Guild legal itu di larang oleh anggota Guild" Natsu hanya menggurutu gak jelas.
"Jika, Master berkata begitu tak masalah" Erza menghela nafas "karena, kita tak bisa menentang keputusannya"
"Tch"
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
- Rumah Natsu
"Selamat datang di rumah Dragneel!" teriak Natsu dia menununjukan rumahnya pada Ur karena, wanita itu sendiri yang meminta kepadanya untuk mohon tinggal yah, dia malah senang dan tak menolaknya "yah, mohon maaf jika keadaanya seperti ini" Sang Partnernya Happy menyuruhnya tetap di rumah Lucy.
"Cukup mengesankan" Ur cukup kagum karena, rumahnya yang sederhana dan berada dalam hutan sangat jauh dari keramaiannya "hahaha, tak masalah dan ngomong-ngomong apa kau dan kucingmu saja yang tinggal di sini?"
"Tidak hanya aku dan Happy melainkan Eilee juga!" Jawab Natsu sekarang dia memanggil wanita itu dengan nama panggilan lalu di membuka pintu "hei, aku pulang!" dia berteriak tak lama hidungnya mencium farpum yang menyenangkan.
"Ara, selamat datang Natsu? Bagaimana misi rahasiamu?" Tanya Irene datang dari dapur mengenakan, baju kancing lengan pendek, dengan celana pendek sepaha, mengenakan celemek yang menutupi tubuh depan, memegang Sendok sayur, yang terlihat sedang masak.
"Hei, kau terlihat seperti Master!" Natsu terlihat kesal "dan kau masak apa?" Raut wajahnya berubah menjadi orang kelaparan.
"Tenang saja, aku sudah buat makanan yang kau suka" Irene mencium bibir lelakinya itu "dan, kau mandi sana aku sudah siapkan air dan tubuhmu bau keringat" Dia menjahilinya tapi, dia menyadari ada pihak ketiga di rumahnya "ara, siapa tamu ini Natsu? Atau jangan-jangan kau menyuruhnya kemari?"
"Dia Ur Guru si Stripper dia bilang ingin tinggal denganku jadi, kuajak dia kemari" Jawab Natsu Irene tak terkejut dia tau bahwa Natsu memiliki karakteristik yang bisa memikat hati seorang wanita dia malah tak mempermasalahkannya.
"Oh, kau nakal selingkuh dengan yang lain yah?!' Irene berbicara menggoda namun, Natsu cuek dan pergi ke kamar mandi " ahh, senang bertemu denganmu namaku Irene Belserion dan kau tau aku ini yah.. Begitulah" dia memperkenalkan diri dan tak menyebut dirinya yang terakhir.
"Dan Aku Ur Milkovich anggota baru Fairy Tail sekaligus guru dari Lyon dan Gray" Dia tersenyum meski tanpa dijelaskan pun dia sudah tau apa artinya dan juga dia berfikir mungkinkah nikmat? Melakukan seperti itu apalagi seseorang yang lebih muda darinya.
Mereka berdua menceritakan tentang diri pribadi mereka dari semuanya hingga sangat akrab padahal mereka baru kenal beberapa menit yang lalu dan, Ur menceritakan semua yang terjadi dari dia di bekukan bersama Deliora, sampai ia di bebaskan oleh Natsu.
"Hidupmu cukup sulit juga" Komentar Irene dia mendengar cerita wanita yang seumuran dengannya hampir tak beda jauh dengannya "tapi, tenang saja kau di sini takkan seperti itu"
"Yah, aku juga tau tapi, itu sudah terlewat jadi, aku tak memikirkannya" Balas Ur tampak seringai jahil di wajahnya "dan ngomong-ngomong kau pernah melakukan itu? Dengannya? Aku ingin tau bagaimana rasanya?"
"Ara, langsung ke pokok tujuannya" Irene tersenyum tapi, pipinya bersemu pink tipis "yah, itu terasa nikmat dan menyenangkan dan juga benar-benar membuatmu ingin melakukan lagi dan lagi yah, jika kau sulit percaya kenapa, kau tak membuktikannya sendiri?" Seringai jelas di wajahnya.
"Hmmm, kedengarannya menarik" Ur menanggalkan semua pakaiannya dan kini tubuh indahnya hanya terbalut sebuah handuk "ahhh, aku harus mandi juga karena, tubuhku cukup lelah sekarang" dia berjalan ke kamar mandi.
"Semoga beruntung" Irene ke dapur dan melanjutkan memasakanya.
.
.
.
.
.
- Di kamar mandi
"Ahhh, terasa nyaman setelah misi" Komentar Natsu dia merendamkan tubuhnya ke Bak air hangat "ughh! Muncul lagi gejala itu" yah, Musim kawinnya belum berakhir sampai sekarang di mana ia melihat tubuh wanita jika, reaksi tubuhnya panas dan serasa bergairah dengan wajah merah itu berarti dia sudah terkena gejala itu.
"Kesulitan dalam musim ini Partner?" Tanya Kurama dia bisa merasakan jugq kondisi Majikannya ini "yah, aku tau kau mengalami musim kawin yang serumit ini tapi, saranku jangan di tahan karena itu merusak tubuhmu sendiri"
"Aku tau, Irene sudah membicarakan ini" Jawab Natsu menghela nafas "hanya saja, aku ingin musim ini segera berakhir yang kutakutkan adalah aku melakukan itu pada yang lain dan aku takut mereka tak suka atau marah! Yah kau tau di paksakan itu tak baik"
"Begini saja, jika kau tak bisa menahannya lebih baik kau bertanya pada mereka mau atau tidak yah setidaknya biar mereka yang menjawabnya" balas Kurama "itu lebih baik daripa di paksa"
"Ahh, itu ide bagus" Natsu berteriak senang ketika dia ingin bersantai dia merasakan dua buah objek lembut dan kenyal menyentuh punggungnya begitu menoleh dia melihat Ur dengan kondisi bugil dan tangannya mengusap dadanya "whoaaa! Apa yang kau lakukan di mari?" Dia bisa melihat jelas tubuh molek dan indah tapi, tak terlalu jelas.
"Bwahahahahah selamat bersenang-senang kawan!" Kurama Tertawa keras
"Ahh, aku ingin mandi dan begitu kemari aku melihat kau" Jawab Ur tangannya masih memeluk erat "makanya, aku bergabung? Apakah keberatan jika aku membasuh punggungmu" dia menempelkan lebih erat tubuhnya.
"Uhmnn! Yah, tak masalah!" Natsu agak gugup dia masih bisa merasakan benda kenyal di punggungnya.
"Fufufu! Kau lucu!" Ur tertawa dia tetap menggerakan jarinya ke Punggung lelaki itu menggunakan sabun secara perlahan dan lembut "pungunggmu lebar juga?" dia cukup kagum dengan postur tubuh Natsu yang terkesan atletis untuk seumuran dengannya.
"Ahh, benar-benar ngomong-ngomong kau berasal dari mana? Kudengar dari Gray kau dari Utara?" Tanya Natsu selama seperti ini dia ingin tau banyak hal.
"Yah aku berasal dari Utara lebih tepatnya dekat penggunungan Anpel" Jawab Ur tangannya masih terus menggosok Punggung Natsu.
"Aku, ingin tau tapi, jika kau tak ingin bicara tak masalah" Ucap Natsu Wanita itu terlihat ingin mendengarkannya "erhmm, apakah kau pernah menikah sebelumnya? Jika kulihat dari umurmu seharusnya memang benar keliatan sudah menikah" Ur cukup terkejut mendengar pernyataan itu namun, dia memilih menjawabnya.
"Yah, aku pernah menikah sebelumnya" Jawab Ur dengan nada sedih tapi, Natsu menyadari itu "ahh, selesai sekarang giliranku dan kau basuh punggungku" dia berbalik badan dan menunggu.
"Ahh, baiklah!" Natsu hanya menurut perkataan wanita itu dia mulai menggosok-gosok punggung wanita itu secara perlahan dia bisa merasakan kulit halus dan lembut wanita itu "dan apa yang terjadi, setelah itu?" dia ingin tau apa yang terjadi pada lelaki dan anaknya.
"Hmmmmm!" Ur mengerang menikmatinya dia bisa merasakan tangan hangat dari DragonSlayer itu ketika mengelus punggungnya "ahhhh, yeah tetap seperti itu~! dan mereka semua tak ada" dia akhirnya menjawab meski sedang masuk dalam Euforia yang berbeda.
"Maksudmu?!" Tanya Natsu tak mengerti dia tetap mengusap punggung wanita itu secara merata "yah, jika kau tak mau bercerita? tak apa, ini masalah pribadimu biar jadi Privasimu sendiri"
"Tidak, yah hidup kita berdua menyenangkan dan kita mencintai satu sama lain kupikir hidupku akan bahagia tapi, kurasa takdir berkata lain" Jawab Ur nadanya sudah terdengar serak "setelah itu aku mengandung sebuah anak tapi, lelaki yang kucinta meninggalkanku tanpa sebuah kepastian yang jelas dan aku di tinggal sendiri dengan anak kandunganku"
"Jika, kau mengandung maka kau punya anak tapi, sekarang di mana dia? Yang kutau dari Gray kau punya anak tapi, tak ada apa maksudnya itu?" Tanya Natsu dia cukup kesal mendengar itu yah harusnya seorang ayah menjaga anak bukan meninggalkannya ini mengingatkan pada dirinya sendiri.
"Aku dengan senang merawat buah janinku sendiri dan waktu dia lahir aku senang dia dengan kondisi selamat tapi..." Ur mulai terisak terlihat air matanya kini berair "waktu itu kondisinya benar-benar panas dan tak wajar jadi, aku memeriksanya tapi, mereka bilang dia sudah tewas maka dari itu aku cukup shock mendengarnya dan seperti inilah jadinya" dia menyelesaikan ceritanya tak lama dia mulai menangis terdengar suaranya yang serak.
"Kurasa ada sesuatu yang janggal di sini" Celetuk Kurama dia juga mendengar cerita tadi "kurasa anak itu masih hidup sampai sekarang jika, dilihat dari bicaranya tampaknya Dokter-Dokter itu menyembunyikannya dan memberikan berita bohong agar Wanita itu percaya tapi, yang jelas anak itu masih hidup" Natsu juga mengerti dan ada yang janggal di sini.
"Ka-kau kenapa?" Ur cukup terkejut ketika dia merasakan dua tangan rangkulan hangat yang berasal dari laki-laki berambut pink ini.
"Hah, aku tau apa yang kau rasakan tapi, jika terus menyesali yang sudah terlewat takkan merubah keadaan" Natsu melakukan pelukan yang erat karena, dia dapat ajaran dari Gildarts cara menenangkan seorang wanita yang bersedih dengan memeluk erat dan rambut di elus-elus "dan, kau tenang saja Di Fairy Tail takkan seperti itu kita tetap memperlakukanmu dan tak usah khawatir aku akan tetap di sini"
"Terima kasih, aku senang mendengarnya" Ur kembali tersenyum "neh, punggungku sudah bersih, kenapa kau tak membasuh bagian depan juga?" dia menambahkan suara yang menggoda untuk memancingnya.
"Err! Kau yakin?" Tanya Natsu memastikan dan di perparah dengan Hormon yang naik turun layaknya pompa dan juga hal yang tak mustahil jika, bagian bawahnya mengeras melihat tubuh indah layaknya Dewi kayangan.
"Tentu, aku senang jika kau menerimanya" Ur tersenyum menggoda dia melirik ke belakang "dan juga itu bukan berarti kau tak menerimanya bukan?" Dia menarik kepala rambut pink itu dan bibir mereka saling beradu.
"Mmmmnhhmm!" Keduanya mengerang secara bersamaan ketika bibir mereka bertempelan Natsu bisa merasakan rasa manis dari bibir wanita itu yang berbeda.
Ur tetap mendorong kepala lelaki itu dan terus menciumnya dengan Intens dan dia membuka mulutnya membiarkan Natsu mengeksplor mulutnya dan dia juga agak shock dengan Natsu yang melakukannya sudah seperti ahli. Tapi, dia tak membiarkan begitu saja dia kini mengeksplor balik mulut Natsu kini keduanya saling bertukar lidah dan berperang bibir.
Tapi, Natsu tak di situ kini kedua tangannya bergerak ke arah dua bola besar milik wanita itu dan mengusap, sekaligus meremas yah menurutnya ukurannya tak sebesar milik Irene tapi, wanita pengendali Es memiliki ukuran yang cukup besar juga lembut dan kenyal.
"Mhpppppp!" Ur mendesah dia akhirnya kalah dalam duel mulut dan membiarkan lelaki itu mengeksplor lebih dalam mulutnya dan juga dia merasakan tangan hangat yang meremas dan memainkan Dadanya.
Natsu entah kenapa dia menginginkannya, dia terus mengurek dalam mulut wanita itu dengan lidahnya selain itu dia merasakan manis dari mulut Ur dan juga kedua tangannya terus sibuk meremas-remas dan memainkannya seperti bola.
"Iyah!" Ur mendesah imut ketika Natsu dengan sangat kasar memainkan Dadanya sebelum dia kembali membiarkan Natsu mencium bibirnya.
"Wow!, kau manis juga" Komentar Natsu melepas ciumannya kedua tangannya masih tetap sibuk tapi, jarinya kini memainkan dan memutarkan puting wanita itu yang sudah mengeras.
"Ahh, mmm! Terima kasih" Ur menjawabnya sambil mengerang "berhenti~ sepertiii itu Natsu!" dia merasakan tubuhnya yang memanas dan merasakan sesuatu yang akan keluar.
"Benarkah? Tapi, terlihat kau menikmatinya?" Natsu menyeringai tangannya tetap memainkan dan memutarkan puting wanita itu dan memencetnya sekeras mungkin membuat wanita mendesah keras.
"Iyah!"
"Hmmmmm! Kau terlihat menyenangkan juga" Komentar Ur dia berniat memegang barang milik Natsu tapi, lelaki itu mencegahnya dengan meremas erat dada dan memencet putingnya keras membuat wanita itu mendesah liar.
"Ahhhhhhh!" Ur merasakan klimaks di dalam tubuhnya dengan aksi Natsu yang terkesan brutal melakukan sesuatu kepada tubuhnya tapi, dia tak peduli yang dia pikirkan adalah melepaskan Orgasme yang sudah lama sekali tak dia rasakan.
"Bagaimana? Tetap lanjut?" Tanya Natsu kini tangannya hanya diam saja.
"Hmmm, kenapa tidak?" Ur mengerang setelah melepaskan orgasmenya "dan lagipula itu tak seperti kau ingin berhenti?" dia merasakan salah satu tangan Natsu bergerak ke bawah.
"Ah!".
"Wow! Punyamu basah!" Komentar Natsu tangan kanannya memijat bagian Vagina wanita itu dan tangan kirinya tetap meremas dada Ur dan memainkan puting wanita itu.
"Hmmmmm! Ahhhhh!" Ur kembali mendesah liar karena, Natsu terus memainkan bagian tubuhnya yang sensitif dan membuatnya pikirannya jadi Gila dan tubuhnya menjadi panas "Natsu~,, berhenti terus memainkan tubuhku!" dia memohon walau Natsu diabaikannya.
"Bagaimana kalau tidak?" Natsu langsung mencium dan mengigitt leher wanita itu tangannya masih terus bermain-bermain.
"Ahhhhh! Natsu!" Ur berteriak tapi, Natsu langsung menciumnya ini Orgasme kedua kalinya dia sekarang sudah tak bisa menahan tubuhnya lagi dan ingin melakukannya "hmmm, karena kau sudah membuatku begini kenapa, kau tak berdiri dan biarkan aku yang membuatmu gila juga?" dengan efek kedipan genit.
Natsu sekarang keluar dari bak mandi dan bisa terlihat jelas tubuh Atletisnya dan juga bagian bawah yang sudah mengeras sama sekali yang sepanjang 12 Cm
"Oh, wow!" Ur kagum melihat panjangnya dan juga ukurannya yang agak besar bisa di bilang agak tak biasa untuk ukuran normal orang sepertinya tapi, dia tak peduli dia memegang milik Natsu dan mengusapnya secara perlahan.
"Rgghhhh!" Natsu mengerang dia merasakan tangan hangat yang menyentuh bagian bawahnya.
"Hmmmmmm!" Ur mengerang ketika milik Natsu masuk ke dalam mulutnya dia terus melakukannya kepalanya bergerak maju mundur dan tangannya memainkan dua bola yang ada di bawah.
"Arghhhh! Tetap seperti itu!" Natsu mengerang dia merasakan basahnya dan licinnya mulut Wanita itu, Ur melakukan apa yang di ucapkannya dengan tetap terus bergerak maju mundur menghisap bagian milik Natsu
"Hmmm! Rasa yang tak begitu buruk" Ur menghentikan aksinya tangannya kini sibuk mengusap-ngusap dan sekarang di menjilat dari bagian ujung sampai belakang seperti lollipop "menikmati, layanan pribadi Master?" Dia memasang wajah erotis lalu kembali menghisap.
"Ehmmm! Yah" Natsu terlihat menikmatinya sekarang dia mengerti rasanya Bersenggama yang pernah Gildarts ajarkan padanya ini, benar-benar luar biasanya baginya.
Ur sekarang melakukan cara lain, Dia memegang kedua buah Dadanya dan mengapit milik Natsu di antara kedua dadanya dia menggerakannya ke atas dan ke bawah secara cepat dan lidahnya menjilat bagian ujungnya.
"Ohhhhhhh!" Natsu mengerang dia tampak menikmatinya karena, ada dua bola kenyal yang mengapit bagian bawahnya seperti Hotdog dan sekarang di sudah tak bisa menahannya lagi rasanya ada sesuatu yang ingin dia keluarkan.
Ur tau bahwa lelaki di depannya sudah mencapai batas dan sekarang dia mempercepat laju temponya terdengar erangan dari Natsu yang sudah sampai titik akhir.
"Urrrrrrrrrr!" Natsu berteriak dia sudah tak bisa menahannya akhirnya mengeluarkan semua cairan putih yang kental kepada wanita itu.
"Hmmmmmm!" Ur mengerang dia bisa melihat Ejakulasi Natsu yang cukup tinggi bisa di lihat dia menyemprotkan cairan putih hingga memenuhi wajah dan dadanya di rasa sudah selesai dia menelan cairan itu "yum! Yum! Sungguh lezat" dia menghisap milik Natsu yang masih mengeluarkan cairan itu dan menelannya hingga tak tersisa lagi.
"Di mana kita akan melakukannya?" Tanya Natsu dan bagian bawahnya masih mengeras.
"Terserah kau saja, tuan DragonSlayer" balas Ur dia sekarang ketagihan yah, itu hal wajar karena, dirinya sendiri membeku dalam Es dengan waktu yang cukup lama dan tak merasakan hal seperti ini lagi.
Natsu tak ambil pusing lalu menggendong Ur dengan Gaya Brydalstyle dan membawanya ke dapur dia lalu membaringkan wanita itu ke atas meja dan dia bisa melihat jelas tubuh indah dan menakjubkan milik wanita itu yang tengah blush kecil.
Natsu sekarang mulai mengambil alih tubuh wanita itu dia sekarang menjilat dan mengemut bagian Sensitiv ujung dada wanita itu dan tangan kanannya sibuk menggosok bagian V-nya dia melakukannya secara cepat.
"Ah, ah,ah Natsu~pelan-pelan!" Ur yang bisa dia lakukan hanyalah memeluk kepala lelaki itu dan terusvendesah ketika Natsu menyentuh bagian sensitivnya dia merasakan dua jari Natsu masuk ke dalam Area V-nya "Ahhhhhhhh!" Efeknya langsung konstan dia mengalami Orgasme yang ketiga kalinya.
Sekarang Natsu berpindah tempat, dia melebarkan kaki wanita itu dan memberi akses untuk melihat bagian intim Ur yang sudah basah karena, Orgasme Natsu memainkan bagian Depan V menggunakan satu jari dan mengusap bagian Clitoris Ur hanya mengerang.
Di rasa sudah cukup Natsu memasukan dua jarinya ke dalam wanita dia menggerakan jarinya maju, mundur dan mengurek bagian dalamnya sementara lidahnya menjilat bagian depan.
"Ahhhh! Natsu!~ terus! Seperti itu!" Ur berteriak Gila tubuhnya benar-benar di buat liar oleh sentuhan dari DragonSlayer itu "AHHHHHHH!" tak lama dia berteriak merasakan Orgasmenya lagi.
Natsu mengeluarkan jarinya, dia mengemut kedua jarinya yang basah oleh cairan dia merasakan rasa yang manis "hmmmm! Kau siap?" Tanya Natsu dia melihat wanita itu Blush merah berat.
"Lakukan apa yang kau mau" Ur membalasnya dengan nafas tersenggal dengan wajah merah.
Natsu membuka paha wanita itu lebar-lebar memberikan akses, dia memegang miliknya dan menempatkan ke bagian depan V wanita itu dia memasukannya dan mendorong secara pelan-pelan.
"Ohhhh~ bagaimana bisa!~ sesuatu yang besar itu bisa masuk!" Komentar Ur dia mengerang ketika milik Natsu secara perlahan membuka dinding V bagian dalam.
Di rasa sudah masuk penuh, Natsu memegang tangan wanita itu, Kaki Ur dilebarkan dan di rangkul, Natsu menggerakan tubuhnya maju,mundur secara perlahan sesuai ritme.
"Ah, ah, ah, Hmmmppp!" Ur mendesah dengan menutup mulutnya dia merasakan Orgasme datang dengan cepat ketika bagian Natsu menghantam dalam miliknya namun, dia masih bisa menahannya.
"Hei, tetap seperti ini?" Tanya Natsu meyakinkan wanita itu karena, tadi Ur berteriak dia melihat dua bola besar berputar dan memantul di setiap gerakan yang dia buat.
"Yah, ahhh! Jangan~,bilang kau berhenti!" Ur berteriak dia sekarang sudah ketagihan yah, dia sekarang merasakan hal seperti itu lagi setelah sekian lama membeku dalam Es.
Natsu bisa merasakan sempit dan basah milik Ur dia tetap melanjutkaannya tapi, dalam tempo yang lebih cepat dia melihat dua bola besar berputar dan memantul-mantul di setiap gerakannya kontan dia langsung meremasnya secara kasar dan memainkan putingnya.
"AHhhhhh!" Ur berteriak merasakan Orgasmenya lagi tapi, dia cukup terkejut karena, Natsu belum ejakulasi dia lalu mengerang ketika bagian kejantannya di lepaskan dalam Area V yang terasa kosong.
Natsu menggunakan posisi lain dia memiringkan wanita itu ke kanan, sedangkan Natsu ikit naik ke atas Meja dan di belakang Ur dia mengangkat kaki kiri wanita itu dengan tangan kiri dan kembali memasukan bagian miliknya ke Dalam V wanita itu.
"Ahhhhhh!" Ur kembali mendesah ketika Natsu memasukan kembali ke dalam miliknya yang dia bisa lakukan sekarang adalah mendesah dan mengerang ketika Natsu memainkan ritme dan mempercepat gerakannya.
Ur mengerang dia membiarkan Natsu terus melakukan sesuatu kepada tubuhnya mulut dia menganga, dan Lidah menjulur keluar menandakan pikirannya sudah mabuk dan hilang entah kemana intinya dia benar-benar menikmatinya sama sekali.
"Ada, sesuatu yang ingin keluar!" Natsu mengerang dia terus bergerak dan mempercepatnya tangan kanannya melingkar ke leher wanita itu dan menjadikannya sandaran.
"Tak, apa ah! Ah! Lepaskan saja! Ah,ah!" Ur membalasnya dengan rada sulit karena, Natsu terus menghantam tubuhnya tanpa jeda hingga dia merasakan klimaksnya.
"Ahhhh Natsu!".
" ahhhhhh!"
"Hmppp!" Keduanya mengerang sambil berciuman setelah mereka berdua merasakan Orgasme bersama-sama.
Ur melingkarkan tangannya ke kepala lelaki itu dan menoleh menekan kepala Natsu dan terus mencium bibirnya yang sudah basah, sedangkan itu dia merasakan cairan hangat menyemprot seperti selang air yang masuk ke dalam tubuhnya dalam jumlah banyak, Natsu melepaskan ciuman wanita dan mengigit bagian area leher dan membuat Ur berteriak kesakitan hingga akhirnya Natsu mencium kembali.
"Kau Milikku!" Natsu melepaskan ciumannya dia mengeluarkan suara Possesive seperti monster yang menandakan wanita di depannya adalah miliknya seorang dan pertanda seekor Naga mengklaim pasangannya setelah ejakulasinya selesai dia melepaskan ikatan itu.
"Yeah aku milikmu sekarang" Ur membalasnya tersenyum ketika mendengar pernyataan Natsu dan akhirnya dia tertidur di meja karena, kelelahan.
Natsu turun dari meja, dia bisa melihat cairan kental keluar dari lubang wanita walau sedikit, dia membersihkannya dan menggendong wanita itu, membawanya ke kamar dan merebahkannya ke kasur begitu, Natsu ingin keluar dia cukup terkejut ketika Irene berdiri di depan pintu dengan mengenakan Tanktop putih, dan celana dalam hitam yang memperlihatkan lekuk tubuh indahnya.
"Ehh, kau ada apa?" Tanya Natsu kepada wanita itu dia memasang wajah seolah-olah tak terjadi apapun
"Hmmm, kau DragonSlayer yang nakal juga" Irene tersenyum menghampiri Natsu "bisa-bisanya, kau melakukan itu dengan orang lain" dia menghimpitkan tubuhnya ke Lelaki itu.
"Kau marah?" Tanya Natsu dia bisa merasakan sesuatu yang lembut di dadanya sendiri.
"Ara, tentu saja tidak, aku malah memakluminya" Irene mencium bibirnya "tapi, ketika melihatmu melakukan itu aku ingin ikutan tapi, aku memberimu waktu Privasi berdua dan apa yang kau lakukan denganku sekarang?" dia membuka Tanktop miliknya dan memberi penglihatan Dada besarnya itu kepada lelaki itu.
"Errr! Kau ingin melakukannya juga?" Tanya Natsu dia dapat melihat jelas dua bola yang memantul-mantul
"Pikirkan dengan instingmu sayang?" Irene memasang senyum menggoda bagi siapapun yang melihatnya pasti akan terbang dengan darah mengucur dari hidung.
"Hmmm, musim kawinmu benar-benar menarik kawan!" Komentar Kurama dia dapat melihat jelas apa-apa saja yang di lakukan Natsu.
Natsu malas untuk berfikir, dia lalu menggendong wanita itu dan membawanya ke kamar lain dan melakukan ritaulnya dan tak lama terdengar erangan, desahan, dan suara tepakan kulit dan teriakan dari kediaman Dragneel yang berada di dalam hutan beruntung posisinya strategis meski berteriakpun takkan terdengar.
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
- Rumah Lucy ( Malam Hari )
"Ahhh, aku senang kita tak mendapat hukuman selain itu tampaknya situasi bertambah buruk dengan Phantom dan Fairy Tail yang tak akur" Komentar Lucy dia masuk ke dalam rumahnya dan memegang kunci kamar "tapi, sekarang aku senang masuk ke dalam Guild yang benar karena Fairy Tail adalah yang-" begitu Lucy membuka pintu dia shock melihat tamu tak di undang di dalam kamarnya "TERBAIK!"
"Yo," sapa Natsu.
"Selamat datang di rumah" sapa Gray balik.
"Rumahmu bagus juga Lucy" Puji Erza.
"Aye!"
"Kalian datang seenaknya!" Teriak Lucy melemparkan barang belanjaanya beruntung Natsu menghindarinya tapi, sayang itu terkena Gray yang ada di belakangnya.
"Melihat kedatangan Phantom ke kota ini aku bisa menjamin mereka tau lokasi kita" Jawab Erza menjelaskan kedatangannya.
"Selain itu aku yakin mereka akan melakukannya lagi, bisa saja mereka menyerang kita saat sendiri" Sambung Gray "dan sesuai yang diintruksikan Mira-chan kita harus berkelompok dan kita semua akan menginap di sini"
"Benarkah?" Lucy agak ragu padahal dia ingin menolaknya.
"Karena, kau sudah dewasa maka aku tak bisa membiarkan Natsu, dan Gray berada di sini" Ucap Erza melipat tangannya "makanya aku ikut kalian menginap dimari"
"Whoa! Plue! Bagi makananmu!" Pinta Happy.
"Puuunn!"
"Aku mau tidur jadi, jangan berisik" Gray sudah berbaring di kasur.
"Hei, Lucy kenapa kau menyimpan celana dalammu di sini?" Tanya Natsu memegang CD yang dia dapat dari bawah kasur.
"A-aku tak menyangka kau mengenakan seperti ini" Erza hanya blush membayangkan hal erotis di otaknya.
"Ehh, kalian menganggap ini sebagai rumah sendiri" Lucy Sweatdrop.
"Nah, Natsu, Gray tubuh kalian bau keringat aku sarankan kalian mandi" Perintah Erza melirik kedua orang itu "karena, aku tak bisa membiarkan kalian tidur begitu saja jika kalian belum mandi" dia menambahkan efek blushnya.
"Tidak, aku sudah mandi dan tak berkeringat" Jawab Natsu yang sedang melepaskan Plue yang menarik-narik topinya.
"Aku ingin tidur sekarang" Jawab Gray beralasan lain.
"Aku rasa tak ada cara lain kecuali jika, kita mandi bersama" Erza tersenyum membuat kedua orang itu berkeringat.
"Hubungan macam apa yang kalian miliki!" Lucy pokerface.
"Kita ini tim terkuat!" Jawab Happy
"Bukan itu -_-"
( beberapa saat kemudian )
"Aku ingin tau alasan Phantom menyerang kita?" Tanya Lucy membersihkan rambutnya yang basah dengan rambut.
"Kami pernah menghajar mereka itupun mereka yang menyerang duluan" Jawab Erza mengenakan piyama merah.
"Jii-chan terlalu lembek seharusnya cepat hajar balik" Komentar Natsu dengan wajah bosan.
"Mustahil, Kakek itu 10 Penyihir suci terkuat mana mungkin dia seperti itu" Sambung Gray yang memegang tumpukan kertas, Lucy shock karena tulisannya di baca lalu buru-buru di rebut "hei! Aku baru saja membaca bagian menariknya!" Keluhnya.
"10 Penyihir Suci?" Lucy mengangkat sebekah alisnya.
"Yah, itu gelar di berikan kepada 10 penyihir yang hebat dari berbagai wilayah oleh anggota dewan" Jawab Erza'dan juga orang itu' dia membayangkan wajah Siegrain
"Master dan juga Master Jose salah satu 10 penyihir suci itu" sambung Happy.
"Dan Master melakukan ini karena, dia tau bahwa Guild berperang maka akan menimbulkan masalah jadinya, dia menghindarinya" Ucap Gray melipat kakinya.
"Apakah Phantom itu kuat?" Tanya Lucy.
"Ffttttt! Kuat darimananya" Natsu yang terlihat santai di sini dia malah ingin menghancurkannya sekarang.
"Tidak, jika kita berdua bertarung maka kemungkinan masih seri" Sambung Erza "selain itu Master Jose salah satu 10 Penyihir Suci yang kekuatannya setara Master, dan Element Four yang setara dengan Penyihir Tingkat-S, dan yang paling kuat di antara mereka adalah Gajeel DragonSlayer Besi kemungkinan, dialah yang membuat rusak Guild kita"
"DragonSlayer?!" Luct terkejut "itu berarti masih ada DragonSlayer selain Natsu dan dia memakan besi dan sejenisnya"
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
- Guild Phantom
"Hei! Gajeel! Kudengar kau merusak markas Para Peri itu hahahaha"
"Hahaha itu bagus kita beri pelajaran supaya mereka kapok!"
*Duaghhh
"Sudah kubilang berhenti menggangu makanku" Gajeel menghajar Pria di sampingnya "dan juga siapa peduli dengan keparat itu karena, kita adalah Guild yang terkuat!"
"Kerja bagus Gajeel-san" Puji Jose keluar dari ruangannya
"Kau terlalu lunak Master dengan menghancurkan markas mereka itu bukan berarti mereka akan keluar dan membalas" Gajeel menyeringai "selain itu aku memberi mereka kado yang berharga"
"Ya, ampun!" Jose tertawa "kau tak perlu membunuhnya meski apapun yang terjadi"
"Gihiiii!"
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
Hahahaha! Word yang agak panjang dari Chapter yang kubuat sebelumnya dan ada tambahan sesuatu yang segar di chapter ini hahahaha! Dan aku tambahan lemonnya dan Chapter Galuna Island selesai dan muncul Chapter baru See ya!
Pm
.
RnR
