Author Note: hueeee QAQ aku tidak dapat satu pun review chapter lalu TTATT buhuhuhu… apakah pembaca Troublesome Family telah meninggalkan cerita ini? TTATT Semoga saja tidak…huhuhuuhu

Troublesome Family

Chapter 24

Aku menguap dengan mulut terbuka lebar. Seperti biasa, aku harus segera menyiapkan sarapan pagi. Lenganku masih sakit ketika digerakkan, tapi aku mencoba mengacuhkannya. Ketika tengah mengolah sayuran, pikiranku masih teringat akan kejadian kemarin. Masih sulit kupercaya bahwa ternyata Dad seorang dokter. Aku tahu perusahaannya perusahaan farmasi, dan tadinya kukira Dad juga dulunya bekerja di bagian farmasi.

Bunyi pintu tertutup terdengar hingga ke dapur. Aku tidak tahu pintu mana yang tertutup. Yang pasti, jika aku mendengar bunyi pintu tertutup, berarti ada salah seorang di rumah ini yang harus berangkat pagi-pagi sekali untuk mengerjakan misi. Dengan kata lain, dia tidak akan sarapan.

Kuhentikan aktivitas mengolah sayuran dan berjalan keluar dapur. Rupanya Dad.

"Pagi, Dad. Dad akan melewatkan sarapan pagi?" tanyaku ketika dia sedang memakai jaket panjang.

"Ya. Beritahu Kadaj untuk pergi ke Hollow Bastion saat kau menggantikannya menjaga Riku. Leon menunggunya di sana," kata Dad sambil berjalan menuju pintu keluar.

Aku mengangguk tanpa membalas. Aku kembali ke dapur dan menyelesaikan pekerjaanku.

Selesai membuat sarapan, aku bergegas mandi dan hanya makan sedikit. Lagi-lagi aku telat! Aku langsung menyambar bekal makanan yang kubuat tadi. Tidak sengaja aku menabrak Yazoo yang baru saja memasuki dapur.

"Ouch!" seruku dan Yazoo bersamaan.

Yazoo nyaris jatuh akibat tabrakkanku. Untungnya ada meja di dekatnya, sehingga dia dapat menahan tubuhnya dengan memegangi meja. Sedangkan aku, hidungku sakit karena membentur dadanya yang bidang.

"Ma-maaf," kataku sambil memegang hidung.

"Geez, apa yang membuatmu seperti dikejar-kejar sesuatu?" Yazoo menatapiku dengan heran.

"Waktu!" seruku sambil berlari melewatinya, tapi Yazoo memegang tanganku dan menghentikan lariku.

"Ap—"

Yazoo menciumku saat mulutku terbuka. Belakang kepalaku dipegang olehnya agar aku tidak bisa tidak menjauhinya.

"Hm!" protesku ketika dia memasukkan lidahnya ke dalam mulutku. Kepalaku pusing memikirkan waktu yang terus berlalu.

Yazoo baru melepaskanku beberapa menit kemudian. Wajahku memerah ketika kupegangi bibirku.

"A-aku pergi dulu!" seruku sambil berlari meninggalkan dapur dan menuju pintu keluar.

Secepat mungkin aku berlari menuju sekolah. Beberapa kali aku menabrak orang yang kulewati dan tidak sempat meminta maaf. Kuyakin mukaku masih memerah karena memikirkan ciuman tadi. Bisa-bisanya tadi aku lengah.

Dering HP mendadak berbunyi dan sempat membuatku kesal karena aku sedang sibuk berlari. Aku segera berhenti dan mengaduk-aduk isi tas hingga ketemukan HP-ku. Hum? Dari Dad.

"Ya?"

"Sora, di mana posisimu saat ini?"

"Aku? Sedang dalam perjalanan menuju sekolah. Kenapa?"

"Pastikan kau selalu waspada ketika menuju rumah sakit setelah pulang sekolah. Sepertinya ada mata-mata yang mengawasi kita."

Hening.

"Hati-hati."

Panggilan terputus. Kujauhkan HP-ku dari telinga dengan pelan. Mata-mata, huh? Oh well. Kumasukkan HP-ku ke dalam tas dan kembali berlari.

Sampai di sekolah, aku bisa menghela napas lega karena sampai 5 menit sebelum jam masuk kelas. Napasku masih memburu. Capek sekali rasanya. Seseorang lalu menepuk punggungku ketika aku sedang menarik napas dalam-dalam.

"Pagi."

"Ah, pagi juga, Roxas!" balasku dengan semangat.

"Kau terlihat lelah. Apa yang kau lakukan?"

"Oh, aku berlari pagi—atau tepatnya dikejar waktu," kataku dengan cengiran.

Roxas terkekeh mendengarnya. Mendadak ekspresinya berubah menjadi serius. "Apakah kau tahu kalau belakangan ini ada orang yang mencurigakan yang selalu mengamati sekolah dari luar?"

"Tidak."

Alis Roxas terangkat sebelah. "Oh. Kalau begitu hati-hati, ada kemungkinan orang tersebut adalah mata-mata dari Reaper Crown."

Kupegangi daguku. "Tadi pagi Dad juga memperingatiku."

"Kau bawa senjata?"

"Tidak," jawabku sambil terkekeh malu. "Aku tidak pernah membawa senjata ke sekolah, takut dirazia."

Kami berdua berjalan menuju kelas sambil melanjutkan topik.

"Tidak akan ada razia senjata tajam di sekolah ini karena rata-rata siswa di sekolah ini membawa senjata," balas Roxas dengan senyum sinis.

"Benarkah? Aku baru tahu."

"Yup. Aku saja selalu membawa satu." Roxas diam-diam menunjukkan pistol yang berada di dalam tas sekolahnya.

"Astaga. Kalau memang tidak pernah dirazia, aku akan membawa satu untuk jaga-jaga jika ada penyerangan mendadak," kataku dengan dahi mengkerut.

Roxas tersenyum. "Sepertinya nasib baik selalu menyertaimu."

"Huh?" Aku langsung bingung mendengarnya. "Benarkah?"

Roxas mengangguk. "Buktinya, selama ini kau tidak pernah diserang saat pulang sekolah. Padahal banyak sekali murid yang diserang saat mereka pulang."

"Benarkah!?" Aku sangat terkejut mendengarnya. Syukurlah selama ini aku tidak pernah diserang!

"Yup." Roxas terkekeh. Mungkin karena tingkahku.

Bell sekolah berbunyi. Kami berdua langsung berlari menuju kelas yang sudah dekat.

(OvO)

"Kau tidak ikut klub hari ini?" tanya Roxas ketika jam sekolah usai.

"Tidak. Aku harus menggantikan Kadaj menjaga Riku," jelasku sambil membereskan mejaku.

"Kenapa dia?"

"Um, terluka saat misi. Jadi dia akan dirawat inap beberapa hari. Kau mau menjenguknya?"

"Kurasa aku lewat. Tapi jika kau yang dirawat inap, maka aku akan mengunjungimu setiap pulang sekolah."

"Oh. Thanks?" Aku bingung apa maksud Roxas. Apakah dia berharap aku masuk rumah sakit atau bukan, aku tidak ingin menyinggungnya.

"Bagaimana bermain kendo sebentar saja denganku?"

"Uh, kurasa tidak. Nanti Kadaj akan menggerutu jika aku berlama-lama," tolakku dengan halus.

"Sora."

"Apa?" tanyaku dengan heran. Entah mengapa aku merasa Roxas seperti mencoba menahanku sedari tadi.

Dia terdiam sambil menatapi mataku. Dari matanya, aku dapat melihat ada hal yang ingin dikatakannya. Tatapan kami terus bertemu selama beberapa detik. Kusadari dia mendekat.

"Ke-kenapa, Roxas?" tanyaku dengan wajah memerah.

Aku tidak bisa melangkah mundur karena terhalang oleh mejaku sendiri.

"Aku...sesungguhnya menyukaimu."

Mataku melebar. Reaksi pertama sudah tentu kaget. Reaksi kedua? Panik!

"A-a-a..." Aku pun kehilangan kata-kata.

Mukaku merah padam. Dengan wajahnya yang begitu dekat, tentu kepanikanku menguat. Mataku melirik ke berbagai arah. Apa yang harus kulakukan? Eh, salah! Apa yang harus kukatakan?

Roxas menyentuh pipiku. Wajah mendekat seperti ingin menciumku. Bagaimana ini...

"Roxas!" seru Axel sebelum Roxas berhasil menciumku. "Kau ikut klub, ti...oh."

Roxas menatapi Axel dengan tatapan tajam dan sepertinya sangat menusuk, tapi wajahnya masih belum menjauhiku dan membuatku bingung dan kaku. Axel menatapi kami berdua.

"Sepertinya aku mengganggu, ya?"

Roxas tidak memperdulikan kata-kata Axel dan menciumku. Refleks aku mendorongnya ketika bibirnya menyentuhku. Aku langsung berlari melewati Axel dan pergi begitu saja tanpa berkata apa pun. Astaga! Ada apa sih dengan hari ini! Tapi pagi Yazoo, sekarang Roxas. Nanti siapa? Riku? Semoga saja tidak. Tapi pernyataan Roxas sungguh mengejutkan. Aku tidak menyangka ternyata dia menyukaiku. Saat dia menciumku, hati ini juga berdebar kencang, sama seperti ketika Yazoo menciumku tadi pagi.

"Aw!"

Tubuhku membentur dinding tembok. Astaga, aku terlalu hanyut dalam lamunan hingga tidak melihat langkahku berlari.

"Kau baik-baik saja, Sora?"

Kulirik pada orang yang berbicara sambil memegangi wajahku. "Y-ya, Mr. Cloud." Aku jadi malu karena dia melihatku menabrak dinding.

"Lain kali hati-hati ketika berlari."

Mr. Cloud menyentuh kepalaku, lalu pergi meninggalkanku. Aku mendesah. Sebaiknya aku lupakan kejadian tadi dan fokus menuju rumah sakit.

(O/O)

"...katanya Leon akan menunggumu di sana." Kusampaikan pesan Dad pada Kadaj.

"Ya, aku tahu. Dad sudah meneloponku pagi-pagi."

Kadaj merenggangkan tubuhnya ketika berdiri. Sepertinya dia tidur seharian di sini. Soalnya, saat aku masuk, dia terlelap di sofa. Sedangkan Riku malahan asik nonton tv. Jadinya kok Riku yang menjaga Kadaj? Dasar...

Kadaj langsung pergi tanpa basa-basi. Aku langsung duduk di samping Riku.

"Tidurmu nyenyak?" tanyaku.

"Sangat nyenyak. Terlalu nyenyak hingga aku tidak bisa tidur siang lagi." Riku terlihat bosan. "Katanya kau izin beberapa hari, mengapa masih ke sekolah?" Riku menatapi seragamku.

"Oh. Karena kemarin aku tidur lebih awal akibat obat bius, kuputuskan untuk pergi sekolah hari ini. Oh ya, sudah makan siang?" Kuganti topic sebelum Riku mengejekku yang sedikit plin-plan dalam memutuskan.

"Sudah. Dan rasa mengerikan."

"Namanya juga makanan untuk orang sakit." Aku terkekeh.

"Hei, Sora, bisakah kau membelikanku makanan? Apa saja. Kadaj susah sekali diminta tolong dari kemarin." Riku mendesah.

"Okay." Aku langsung berdiri.

"Sebentar." Riku menggenggam tanganku.

Jantungku langsung berdetak kencang. Jangan bilang dia...

"Apakah kau bawa senjata?"

"Huh?"

"Semalam, terjadi penyerangan. Aku tidak tahu karena Kadaj yang menghadapinya." Riku terlihat serius.

Aku kehilangan kata-kata. Apakah mereka tahu Riku dirawat di sini?

"Kau bawa senjata atau tidak?"

"Tidak. Ah, tapi tunggu!"

Aku langsung mengeluarkan buku-buku dalam tasku. Aku tidak tahu bagaimana bisa ada pistol di dalam tasku, tapi aku menemukan sebuah pistol saat mengeluarkan buku pelajaran tadi. Mungkin Yazoo yang memasukkannya saat dia menciumku.

"Ada. Aku bawa."

"Hati-hati."

Aku mengangguk. Kugendong tas sekolahku dan berjalan keluar. Beberapa kali aku berpapasan dengan beberapa orang suster di lorong yang putih bersih. Sementara ini aku belum bertemu dengan orang yang mencurigakan.

Aku berpapasan dengan sekumpulan suster yang sedang bergosip. Aku pun mencoba menguping pembicaraan mereka. Mereka membicarakan tentang kejadian kemarin malam. Katanya, mereka mendengar suara tembakkan di dalam rumah sakit. Mereka memang menemukan ceceran darah di dekat ruang operasi, tapi tidak ditemukan mayat mau pun orang yang terluka. Polisi yang datang pun tidak bisa menemukan satu pun mayat atau pun orang yang terluka. Bahkan bekas selongsong peluru pun tidak ada.

Aku berjalan menuju food court. Dari puluhan makanan siap saji yang tersedia, pilihanku tertuju pada pizza. Sebenarnya sih aku juga lagi ingin makan pizza yang penuh dengan keju!

Kembali lagi ke ruang rawat Riku. Riku terlelap saat aku masuk. Kuletakkan kotak pizza di meja.

"Hei, Riku, kau tidak ingin..."

Saat aku hendak membangunkannya, Riku menarik tanganku hingga aku harus membungkuk dan menggunakan satu tangan lagi untuk menahan tubuhku agar tidak menimpanya.

"Tapi pagi Yazoo menciummu?"

Mukaku langsung memerah ketika Riku menanyakannya. "Ba-bagaimana kau tahu?"

"Karena Yazoo mencoba memanas-manasiku tadi pagi. Dia bilang kau sangat manis ketika dicium. Kau juga mendesah ketika dia merabamu." Riku terlihat kesal.

"A-apa!? Dia hanya menciumku! Tidak lebih dari itu!" bantahku dengan malu.

Riku menyipitkan matanya, masih menatapiku. "Berapa kali dia menciummu?"

"Huh!? Sa-satu kali saja," jawabku sambil memalingkan muka.

"Benarkah?" Riku tidak yakin dengan jawabanku.

"Se-sebenarnya sih, hari ini aku dicium dua kali," kuakui dengan malu.

"Yazoo menciummu dua kali, huh?" Pandangan Riku kini terlihat gelap. Dia terlihat seperti ingin membunuh Yazoo kapan saja dia menemuinya.

"Bu-bukan. Yang kedua Roxas," bantahku dengan ragu-ragu. Sebenarnya aku bingung apakah seharusnya aku tutup mulut atau memberitahukannya.

"Roxas?"

Aku mengangguk pelan.

Kini, aura membunuhnya meningkat dratis. Aku hanya tertawa pelan dalam rasa takut. Seharusnya aku tidak menceritakannya.

"He-hei! Pizzanya akan dingin! Ayo dimakan!" seruku sambil membuka kotak pizza.

Aroma keju yang khas membuatku ngelir. Setelah mengambil sepotong, kutawarkan pada Riku. Dia mengambil sepotong dan mengunyahnya seperti ingin melumatkan seseorang. Aku terus terdiam dan tidak berani bicara. Takut dia tambah marah.

Sekotak pizza pun habis kami makan bersama dalam kesunyian ini. Kujilati jemariku yang kotor oleh keju dan saus tomat. Sepertinya mulutku kotor oleh saus.

"Wajahku kotor ya, Riku?" tanyaku. Mencoba mengajaknya bicara lagi.

"Ya," jawabnya sambil menatapku.

Kuambil tisu dalam tas dan menyeka mulutku yang kotor. Saat mengembalikan sisa tisu yang masih bersih, aku mendesah melihat tumpukkan PR yang harus kukerjakan. Kemarin, karena tidak sempat mengerjakan PR, hari ini aku dihukum tiga kali gara-gara tidak mengerjakan tiga PR yang dikumpul hari ini.

Kukeluarkan buku PR hari ini dan hendak kukerjakan. Baru membuka buku, Riku memanggilku.

"Sora, bisakah kau mendekat?"

Kutatapinya dengan heran, lalu mendekat. "Kenapa?"

"Bisakah kau menciumku?"

Astaga! Apa yang kuperkirakan benar! Mukaku memerah mendengarnya. Aku tidak menjawab, tapi Riku menatapiku seperti berharap aku mau menciumnya.

"Please?" pintanya.

Aku pun bingung, tapi dia memohon. Aku tidak ingin mengecewakannya. Ini hanya sebuah ciuman...

Debaran jantungku meningkat saat mendekatkan wajahmu pada Riku. Kupejamkan mataku perlahan hingga bibirku menyentuh bibirnya yang sedikit kering akibat terlalu lama di ruangan ber-AC. Kurasakan tangannya memegangi belakang kepalaku. Riku tidak ingin aku menciumnya hanya sebentar saja. Herannya, aku juga ingin ciuman ini berlangsung lama.

Ketika berhenti sejenak untuk menarik napas, Riku kembali mendekatkan kepalaku agar bisa menciumku lagi. Kami saling bertukar salivasi dan sama-sama mendesah beberapa kali.

Saat mendengar suara pintu terbuka, aku langsung menjauhinya dan melihat siapa yang masuk. Tentu saja aku segera membersihkan air liur yang mengalir jatuh dari bibirku.

Seorang suster masuk dan tidak merasa heran. Sepertinya dia tidak melihat kami berciuman tadi. Sang Suster mengecek kondisi Riku, sementara aku mencoba berkonsentrasi mengerjakan PRku. Jujur, jantungku masih berdebar-debar dan rasa maluku masih tinggi, hingga aku tidak berani melirik Riku dan Suster.

Setelah Suster pergi, aku baru berani melirik Riku. Dia tertawa pelan.

"Padahal tidak apa-apa jika dia melihat kita berciuman tadi."

Aku hanya terdiam dengan muka memerah dan kembali mengerjakan PR.

"Bagaimana lukamu?"

"Huh?" Aku menatapi Riku dengan bingung.

"Luka di lenganmu. Kata Dad kau terluka dan harus libur dari misi sementara waktu."

"Oh. Um, lukaku sebenarnya masih sedikit sakit, tapi kurasa sudah membaik?" Aku masih tidak begitu yakin sama kondisi lenganku sendiri.

"Dad tidak memberimu obat?"

"Uh, kau tahu aku tidak suka obat, Riku," jawabku dengan dahi mengkerut. "Tapi kata Dad, aku tidak perlu obat-obatan selama masih bisa menahan sakit saat menggerakkan lenganku."

"Oh..."

(OvO)

"Uuuuh!" Kurenggangkan badanku yang terasa pegal linu karena mengerjakan PR terus sepanjang hari. Rasanya capek sekali.

Kutengok Riku. Rupanya dia tidur. Mungkin karena bosan menonton TV. Herannya, dia tidak mematikan TV. Kukira dia terus menonton selagi aku mengerjakan PR.

Sudah pukul 5 sore. Sepertinya aku akan menginap malam ini karena hingga jam segini belum ada yang datang menggantikanku. Aww man, seharusnya aku membawa baju ganti tadi pagi.

Kurasa aku akan mandi dulu dan menggunakan handuk yang Kadaj tinggalkan di sofa. Enaknya dirawat di kamar VVIP, ada kamar mandi pribadi. Saat masuk ke dalam, ada sebuah shampo dan sabun bermerk, bukan dari rumah sakit. Sepertinya milik Kadaj.

Butuh 10 menit bagiku untuk mandi. Di tengah mandi, perutku berbunyi keras menandakan aku lapar. Sepertinya mengerjakan PR banyak menguras tenagaku. Heran deh, padahal hanya berpikir saja.

Selesai mandi, Riku masih terlelap. Kurasa aku akan keluar sebentar untuk membeli makan malam. Untuk berjaga-jaga, kubawa tasku yang berisi pistol. Sakuku tidak muat menyimpan pistol. Ukurannya lebih besar dari sakuku.

Di tengah jalan menuju food court, aku merasakan sedikit kejanggalan. Tidak ada satu pun suster yang berpapasan denganku. Dokter pun tidak terlihat. Memang masih ada beberapa pengunjung, tapi jumlahnya sangat sedikit. Sesekali seorang pengunjung melirikku tanpa menoleh. Gara-gara sering dilirik, aku merasa merinding. Ada yang salah dengan bajuku, ya? Memang aneh sih melihat remaja sepertiku masih mengenakan seragam pada jam segini. Meski begitu, aku merasa lirikkan mereka seperti bukan tatapan heran, melainkan waspada.

Mendadak, aku merasakan firasat buruk. Keringat dingin mulai kurasakan. Perasaanku kini menjadi tidak tenang. Dengan cepat, aku segera berlari kembali ke ruang rawat Riku. Sambil berlari, aku mencoba mencari pistol di dalam tasku. Kupastikan terdapat peluru di dalam pistol sambil memperhatikan lorong rumah sakit yang sepi. Sebelum berbelok, aku mengintip terlebih dahulu apakah ada orang atau tidak. Setelah memastikan kondisi aman, aku kembali berlari.

Bunyi tembakkan dari suatu tempat membuat wajahku memucat.

Riku!

Kepanikkan menyerangku. Aku tidak perduli lagi apakah akan ada atau tidaknya musuh di setiap belokkan yang kulewati. Dari kejauhan, dapat kulihat pintu ruang rawat Riku terbuka. Sebelum sampai di depan, seseorang keluar sambil menahan luka di pergelengan tangannya. Melihat orang tersebut, refleks tanganku bergerak dan menembakkan peluru pada kepalanya.

Dia langsung terjatuh. Darahnya membasahi lantai. Aku langsung berlari masuk setelah menginjak mayat lelaki tadi agar sepatuku tidak kotor oleh darah.

"Riku!" seruku ketika masuk.

"Hei, kau telat," balasnya dengan santai. Dia dengan santainya masih berbaring sambil menonton TV.

Aku langsung terduduk lemas di lantai. Lega melihatnya baik-baik saja. "Kukira terjadi sesuatu padamu."

"Nah, aku masih bisa melindungi diriku sendiri jika tidak ada obat bius yang diberikan padaku. Dad saja yang terlalu khawatir aku tidak bisa menjaga diriku." Riku terlihat cuek tentang penyerangan terhadapnya tadi.

Aku terdiam sambil mendesah. Kutatapi mayat lelaki tadi. "Bagaimana cara aku menyingkirkannya?" Dahiku mengkerut.

"Masukkan saja kedalam ruang mayat. Salah satu temannya sudah berada di ruang mayat, tinggal menunggu dimusnahkan saja," jawab Riku dengan mudah.

"Tapi bagaimana caranya? Nanti akan ada orang yang melihatku," kataku dengan cemas.

"Pertama, seret mayat itu masuk ke kamar mandi. Kedua, bersihkan darah yang ada di lantai. Ketiga, nanti aku akan panggilkan seseorang untuk membantumu menyingkirkan mayat."

Aku hanya mengangguk pelan.

To Be Continued...

Author Note: OAO" wah, ada penyerangan di rumah sakit? Bagaimana yah nasib Sora dan Riku selanjutnya yah? Hehehehehe… (belum nentukan cerita selanjutnya) review!

Extra

Sora: Hei, Riku! Bagaimana caranya tadi kau melukai penyerang tadi? (Wondering)

Me: Ya, ya! Aku juga penasaran!

Riku: Oh, apakah kalian tidak tahu bahwa di bawah bantalku selalu terdapat pistol?

Sora and Me: yang benar!? (Langsung kaget bukan main)

Me: Kagak takut terjadi kecelakaan? Misalnya tidak sengaja senjatanya meletus?

Riku: Nah, memangnya kau bicara pada siapa? Sora? Aku tidak seperti Sora yang selalu bergerak-gerak ketika tidur.

Sora: Hei! (Langsung cembetut)

Me: (Sweat drop) Uh, lalu, bagaimana kejadiannya saat kau diserang tadi?

Riku: Well, saat itu aku sedang tidur—tepatnya tidur dalam keadaan terjaga, ada seseorang masuk dan aku mengintip tanpa membuka mataku terlalu lebar. Saat melihatnya hendak menembakku, dengan sigap kuambil pistol dibawah bantal dan menembak pergelangan tangannya.

Sora and Me: (Menyimak baik-baik sambil menatapi Riku terus menerus)

Riku: Lalu, dia terlihat kaget dan panic karena tangannya terluka. Dia berlari keluar dan saat keluar, dia pun tewas ditembak Sora.

Me: Selesai?

Riku: (Menatapiku dengan heran) Iyalah. Kan kau yang membuat cerita, mengapa bertanya padaku?

Me: Hehehe lagi malas mikir.

Riku: Dasar. Sudah, aku mau kembali tidur. Pergilah kau dan tinggalkan aku dan Sora.

Me: Enak saja mengusirku seenaknya! Jika kau ingin aku pergi, maka biarkan aku membawa Sora juga!

Riku: (Death glare) Jangan coba-coba. (Mengacungkan ujung pistol padaku)

Me: Aku berani mencoba! (Mengeluarkan senjata)

Maka perang pun terjadi antara Author dan Riku. Sedangkan Sora, mengungsi dengan sweat drop karena takut terkena tembakkan.

Sora: Geez, mereka berdua berbahaya… (Sweat drop, lalu menatap ke pembaca) Jangan lupa review yah!