Update lagi~~~

Oh iya, saya mau mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakan... ^^ Mohon maaf lahir batin... (khususnya dalam cerita ini saya udah sering menyiksa anda dengan chap2 yang panjang dan lebay dan abal). Dan kedua, saya juga mau mengucapkan... MERDEKAAAAA! Selamat hari kemerdekaan 17 Agustus! Sori karena dua ucapan selamat ini telat banget...

Wokey, that's it dari saya...

Ow yeah~ karena sekarang DW7 memasukkan chara2 baru dari Jin, maka kayaknya saya juga harus mengikut sertakan mereka, ya? Wokey lah~ di sini saya akan memunculkan seorang characterdari Kingdom of Jin (meski age-nya nggak sama kayak di DW7...)


"Fujun,"

Guo Jia menoleh memandangi istrinya yang sekarang tengah menghampirinya. Di tangan Ying Fang terdapat selembar kertas.

"Ada apa, Ying Fang?" Tanyanya penuh penasaran. Matanya tidak bisa terlepas dari secarik surat tersebut.

Seperti yang Guo Jia harapkan, istrinya segera menyodorkan kertas tersebut padanya. Di bibirnya tersungging seulas senyum bahagia, membuatnya jauh lebih cantik daripada taman Istana Chang An dimana kedua orang itu berada. Penasihat Wei itu menerimanya sambil Ying Fang menjawab. "Ada kiriman surat dari Xiahou Long. Katanya mereka sekarang sudah berada di Wu. Tak lama lagi mereka akan tiba di Jian Ye."

Guo Jia membaca surat tersebut sambil mengangguk dan tersenyum puas. Isinya persis seperti yang dikatakan oleh Ying Fang. "Bagus... Tak lama lagi, mereka akan segera bertemu dengan Phoenix itu." Gumamnya dengan suara pelan. "Jika Panglima Besar Yuan Shao berhasil membawa sang Phoenix kemari, kita sudah tidak perlu menjaga tempat ini lagi. Kita bisa pulang." Katanya pada istrinya sambil tersenyum.

Ying Fang mengangguk. "Benar... kita bisa segera ke Luo Yang dan pulang ke rumah kita."

Keduanya memandang ke pemandangan taman istana tersebut. Semilir angin yang lembut menyejukkan keduanya. Perlahan, tangan Ying Fang bergerak mendekati tangan suaminya.

"Fujun, apakah suatu saat kita bisa bertemu dengan Phoenix itu?"

"Bisa." Jawabnya. "Pasti bisa..."


Berjalan-jalan menyusuri taman Istana Wei yang megah dan luar biasa luas itu memang bukan hal yang disukainya. Alasannya? Mudah saja. Karena ia adalah seorang Pangeran Wei yang sibuk, bukan orang-orang yang kurang kerjaan seperti putri-putri yang tinggal di istana.

Namun anehnya, hari ini Cao Pi sedang berada di taman, tengah berjalan sambil menatap tembok-tembok batu berukir yang tingginya melebihi kepalanya. Seorang diri, tidak ada satupun yang menemaninya. Pangeran Wei itu berhenti di depan pintu berbentuk lingkaran pada tembok batu yang fungsinya sebagai pagar tersebut. Di balik pintu tersebut adalah sebuah bangunan, aula Yangxindian-Aula Penjernihan Pikiran...

Awalnya Cao Pi hanya memandangi tempat itu, tapi rupanya memandangi saja tidak cukup untuknya. Ia melangkahkan kaki dan berjalan melewati pintu lingkaran tersebut.

Tempat itu benar-benar kosong sekarang. Sangking kosongnya, sampai-sampai membuat Cao Pi bingung mengapa para pekerja di istana itu harus susah-susah membersihkannya setiap hari. Toh tempat itu tidak ditinggali siapapun, bukan? Yahhh... setidak-tidaknya usaha mereka telah membuat tempat itu jadi kelihatan sangat bersih, membuat betah tinggal di sana berlama-lama.

Entah berapa lama Cao Pi berdiri di sana, tiba-tiba saja ia mendengar suara derap langkah kaki seorang anak kecil. Sebelum pendatang baru itu tiba, segera Cao Pi bersembunyi di balik sebuah pilar besar yang terbuat dari kayu.

Dilihatnya dari persembunyiannya, rupanya memang benar seorang anak laki-laki. Lebih tepatnya, anak laki-laki bungsu dari penasihat andalannya, Sima Yi. Sima Zhao, begitu nama anak laki-laki berumur sebelas tahun itu, membawa beberapa buah buku dan meletakkan semuanya ke atas sebuah meja batu di tengah taman. Wajahnya kelihatan benar-benar sumringah sekali. Sesudah duduk dengan baik, barulah dibacanya buku-buku itu.

Cao Pi hanya memandangnya dari jauh saja. Wajah Sima Zhao ketika membaca buku-buku tersebut, kelihatan penuh dengan semangat dan rasa ingin tahu. Entah buku apa yang sedang dibacanya...

Tidak bisa lagi membendung kecurigaan tersebut, Cao Pi keluar dari tempat persembunyiannya dan segera menghampiri anak itu.

"Oh! Yang Mulia Pangeran Cao Pi!" Seketika Sima Zhao berdiri, kemudian bersoja di depan pangerannya itu. "Aku tidak tahu bahwa anda berada di sini! Maaf jika aku menganggu. Aku akan segera pergi." Ucapnya dengan ramah sembari mengemasi buku-bukunya.

Namun sebelum Sima Zhao pergi, Pangeran Wei itu menepuk bahunya. "Kau sama sekali tidak mengganggu. Tak masalah kau berada di tempat ini. Aku juga hanya sedang berjalan-jalan saja karena nganggur."

Dengan begitu, Sima Zhao kembali duduk.

"Kau sedang membaca apa?" Tanya Cao Pi, langsung kepada pokok pembicaraan.

"Ohhhh...!" Sima Zhao yang tengah membaca tersentak kaget. "Maksud anda buku ini, Pangeran Cao Pi? Ini adalah buku-buku tentang legenda sang Phoenix! Aku senang sekali membacanya! Apalagi kalau di tempat ini!" Jelasnya panjang lebar tanpa ditanya.

"Begitu..." Gumam Pangeran Wei itu. "Memangnya kenapa kau suka membaca di Aula Yangxindian ini?"

Sima Zhao tidak langsung menjawab. Ia menerawang ke langit sejenak, kemudian memandangi bangunan istana di sekelilingnya. "Karena..." Jawabnya perlahan. "Entah kenapa, Pangeran Cao Pi... rasanya di tempat ini aku merasa dekat sekali dengan sang Phoenix. Aku juga tidak mengerti kenapa, tetapi kalau membaca di sini, aku bisa lebih mengerti dan lebih bisa membayangkan..."

Oh, betapa mengejutkannya jawaban anak itu. Sebenarnya apa yang dikatakan Sima Zhao memang secara kenyataan benar. Sungguh hal yang mengejutkan bahwa Sima Zhao sendiri tidak tahu bahwa Phoenix itu pernah berada di Istana Wei ini, bahkan menetap di Aula Yangxindian(1). Cao Pi terhenyak, diam sejenak, sebelum memutuskan untuk bertanya lagi. "Hmmm... menurutmu Phoenix itu seperti apa?"

Dengan senyuman iseng, Sima Zhao membalas. "Kalau menurut Pangeran Cao Pi sendiri bagaimana?"

Jadilah Cao Pi benar-benar mati kata apa yang harus dikatakannya. Bagaimana ia harus menjawabnya? Lagipula, dia pernah melihat Phoenix itu sendiri! Dan tentunya apa yang dilihatnya sangat jauh berbeda dari apa yang disangkanya selama ini. Pada akhirnya Pangeran Wei itu hanya membalas. "Aku yang bertanya duluan padamu. Kalau kau sudah menjawab, aku juga akan menjawabnya."

"Hmmm..." Sima Zhao menunduk sejenak dengan satu tangan di bawah dagu, kelihatan berpikir keras. "Aku suka membayangkannya sebagai seorang laki-laki yang lembut dan baik hati. Kalau berjalan-jalan, pasti sukanya memandangi orang di sekelilingnya sambil tersenyum. Oh iya! Dia juga tidak mungkin berbuat kasar atau menyimpan dendam. Juga tidak suka bermegah-megahan, lebih suka dikelilingi oleh teman-teman yang ia sayangi daripada dikawal oleh prajurit-prajurit..." Cao Pi mendengarkan celotehan anak itu dengan seksama. Sima Zhao kelihatan begitu penuh semangat, matanya yang bulat berbinar-binar.

Sungguh, sayang sekali Sima Zhao tidak akan tahu seberapa benarnya perkataan itu.

"Ohhh...! Maaf!" Pada akhirnya, sesudah berceloteh panjang lebar, bocah itu langsung sadar diri. "Aku jadi terlalu banyak omong...! Dan lagi, omonganku pasti tidak karuan, ya? Pangeran Cao Pi, aku tahu sih pikiranku pasti sangat aneh sekali! Biasanya kan orang-orang akan bilang kalau Phoenix itu datang, dia pasti begitu agung bagai seorang kaisar dan gagah bagai jendral. Lalu akan naik kuda dengan diiringi ratusan bahkan ribuan prajurit. Dengan begitu dia akan membawa kedamaian di China ini..."

"Tapi... aku merasa itu agak aneh..." Lanjut Sima Zhao. "Katanya Phoenix itu begitu lembut, sampai-sampai kepakan sayapnya tidak akan merusak apapun. Ia hanya akan minum embun pagi dan tidak akan membahayakan makhluk hidup lain. Juga menguasai lima notasi musik China. Dan yang paling penting, dia akan membawa kedamaian! Ya, kan?" Tidak bisa tidak, Cao Pi hanya bisa mengangguk, sesuai dengan harapan Sima Zhao. "Nahhh... makanya itu aku tidak setuju kalau orang bilang dia akan seperti jendral yang siap berperang begitu! Kalau begitu, bagaimana caranya membawa kedamaian?"

Meskipun hanya penuturan seorang anak berumur sebelas tahun, segenap kata-kata yang diucapkan Sima Zhao telah berhasil membuat Cao Pi tertegun dan merenung sendiri. "Begita ya, Sima Zhao..." Gumamnya. "Kalau misalkan memang benar perkataanmu itu, bagaimana kalau seandainya ada orang yang menyakitinya? Kalau memang seperti itu, dia tidak bisa membalas, bukan?"

Mata Sima Zhao terbelalak lebar. "Orang jahat siapa yang akan menyakiti Phoenix itu? Keterlaluan! Jahat sekali!" Serunya berapi-api, sama sekali tidak sadar bahwa orang itu sedang duduk di depannya sekarang. "Memang itu benar terjadi atau hanya pertanyaan Pangeran Cao Pi saja? Habis... kan aneh sekali! Aku yakin Phoenix itu tidak akan berbuat jahat apapun sampai-sampai ada orang yang marah lalu melukainya! Jadi, kenapa dia disakiti?" Pertanyaan terakhir itu dibiarkan menggantung saja.

"Kau tidak perlu tanya apakah itu cuma pertanyaanku atau memang ada. Yang jelas, aku tanya bagaimana semisalkan Phoenix itu bisa membela diri kalau ia disakiti." Ucap Cao Pi dengan nada datar.

Sima Zhao mengerjap-ngerjap. "Pangeran Cao Pi! Jangan karena aku bilang dia lembut dan baik hati, lantas Pangeran Cao Pi menganggapnya lemah dan bisa diinjak-injak seperti sampah! Bukan itu maksudku!" Tegas Sima Zhao berusaha membenarkan diri. "Bagaimanapun, dia itu Phoenix! Kalau mau membela diri, dia bisa menghanguskan orang itu hanya dengan satu kibasan tangan! Ataupun kalau semisalkan tidak, entah ada berapa Abdi Langit yang akan maju membelanya!"

Cao Pi mengangguk pelan. "Yahhh... semisalkan semua itu tidak terjadi?" Tanyanya. "Bagaimana kalau misalkan dia cuma diam, membiarkannya diperlakukan seolah dia berada di bawah kaki orang-orang yang menyakitinya? Sama sekali tidak membela diri."

Tentu saja Cao Pi tahu bahwa dia terlalu banyak bertanya pada anak sekecil itu. Sekarang Sima Zhao bergidik ngeri saat membayangkannya. "Pasti berat sekali untuk Phoenix itu..." Gumamnya. "Pangeran Cao Pi! Aku yakin dia harus luar biasa menahan dirinya sendiri! Bahkan mungkin harus menahan amarah para Abdi Langit yang melihatnya!" Kata-kata Sima Zhao... persis sekali dengan yang dikatakan Xiahou Long! "Kalau satu detik saja dia berpikir untuk balas dendam, satu kali saja berpikir untuk menghancurkan orang-orang yang menyakitinya, satu kata sumpahan saja keluar dari mulutnya... maka pastilah semua orang itu akan musnah!"

Cao Pi tetap terdiam, tidak tahu harus berkata apa lagi. Namun betapa ironisnya, perkataan anak berusia sebelas tahun ini telah membuka pikirannya!

"Tapi, syukurlah...! Itu cuma pertanyaan Pangeran Cao Pi saja, kan?" Tanya Sima Zhao sambil menarik napas lega. Seketika lamunan Pangeran Wei itu buyar. "Cuma pertanyaan saja, kan? Tidak mungkin terjadi, kan? Kalau benar terjadi, tentu sangat mengerikan sekali...!"

Oh, betapa anak kecil ini tidak tahu... Itu adalah peristiwa yang telah benar-benar terjadi! Di Istana Wei! Di tempat yang sedang mereka pijak ini pula! Bingung, Cao Pi tidak tahu harus memberikan jawaban seperti apa pada Sima Zhao. Mau berbohong salah. Tapi kalau mengatakan hal sejujurnya, bagaimana kalau anak ini jadi makin lebih banyak bertanya lagi?

Lagipula... barulah detik ini Pangeran Wei itu sadar.

Dia bersalah.

Dan kesalahan itu, sebisa mungkin tidak ia katakan pada siapapun, apalagi pada seorang anak kecil.

Pada akhirnya, Cao Pi hanya bangkir berdiri dari kursinya, menepuk bahu Sima Zhao dan berkata, "Kau tanyakan saja pada ayahmu ya, Sima Zhao. Aku tidak begitu mengerti tentang Phoenix." Dengan demikian, Pangeran Wei itu beranjak pergi dari taman Aula Yangxindian, meninggalkan Sima Zhao dengan seribu satu pertanyaan masih memenuhi otaknya.

Bagaimana bisa...? Pertanyaan itu terngiang-ngiang dalam benaknya. Bagaimana bisa aku hidup sampai detik ini? Bagaimana aku bisa baik-baik saja? Kenapa aku tidak mati saja?

Segala ingatan mengenai perbuatannya terhadap Phoenix itu kini membanjiri kepalanya. Bahkan seorang anak kecil, secara tidak sadar, telah mengatakan bahwa apa yang dilakukannya itu jahat sekali. Bagaimana mungkin dia bisa begitu kejam pada Phoenix itu, hanya karena Phoenix itu tidak membalas apa yang dilakukannya? Apa yang ada di kepalanya saat itu?

Dan ini adalah Phoenix! Harapan seluruh China! Phoenix yang akan membawa kedamaian sesudah ribuan tahun perang yang silih berganti. Dan siapakah Phoenix ini, yang deminya seluruh Abdi Langit akan maju menumpahkan amarahnya jika ia disakiti? Apapun itu, yang jelas dia bukan seseorang yang ada untuk diperlakukan sekehendak hatinya.

Jika benar kata-kata Sima Zhao, bahwa jika satu detik saja Phoenix itu memikirkan balas dendam, satu kata sumpahan saja keluar dari mulutnya, maka seluruh Istana Wei ini bisa habis... Tidak bisa terbayangkan berapa detik berada dalam Istana Wei ini ia harus menjaga pikirannya. Tentu, berada di tempat seperti neraka begini, dengan ratusan orang yang mencemooh, akan membuat siapapun gila kalau dia tidak boleh memikirkan balas dendam barang sedetikpun.

Kecuali... yah kecuali kalau dia adalah Phoenix.

Tak terasa, kakinya telah menuntunnya ke sebuah tempas. Istana Kunninggong.

Istana ini adalah istana yang diberi segel kuat karena kesuciannya. Di dalamnya terdapat patung seekor burung merah, Si Xiang pelindung Wei. Namun bukan itulah yang diingat olehnya. Yang ada di pikirannya adalah kejadian sesudahnya, dimana ia menarik Phoenix itu untuk menunjukkan seorang prajurit yang nyaris sekarat padanya. Kalau memang benar perkataan Sima Zhao tadi, maka sebenarnya bukan hanya prajurit itu yang sekarat, Pangeran Wei itu juga pada saat yang sama sedang sekarat. Bukankah dia sudah dekat sekali dengan ambang kematian saat itu? Jika terbersit sedikit saja dalam pikiran Phoenix itu untuk membunuhnya, maka kemungkinannya hanya dua. Satu, dia akan mati di tangan Phoenix itu sendiri. Dua, Si Xiang pelindung Wei itu sendirilah yang akan membunuhnya(2).

Entah karena keinginannya sendiri atau karena ia tidak sadar, kakinya menapak menaiki anak-anak tangga yang menuju Kunninggong. Segel yang terbuka itu belum disingkirkan maupun diperbaiki. Namun, siapa yang berani mendekatinya? Tempat ini dipercaya sebagai tempat berdiamnya Si Xiang tersebut. Apalagi... mengingat yang membuka segel itu adalah sang Phoenix sendiri...

Cao Pi berjalan mendekati patung Burung Merah tersebut. Dulu, dia selalu takut memandangi patung tersebut. Entah mengapa patung itu terasa menatapnya dengan begitu tajam, seolah siap menerjang dan membunuhnya. Namun kali ini, ketika ia memandang lurus ke atas, betapa anehnya tatapannya kelihatan melembut! Entah ini hanya perasaannya saja atau memang benar.

"Zhu Que, roh Burung Merah, Si Xiang pelindung Wei..." Ucapnya dengan suara tertahan. Pikirannya terasa benar-benar kosong, tetapi pada saat yang sama begitu penuh dengan perasaan menyesal. "Sekitar dua tahun yang lalu, ketika sang Phoenix itu berada di tempat ini, kau tentu tahu apa yang kulakukan, bukan? Dan sekarang aku tahu, kau tentu akan membinasakanku kalau Phoenix itu tidak melarangmu(2)."

Ruangan itu tetap hening. Tidak ada yang terdengar selain hembusan nafasnya sendiri. Yahhh... seharusnya begitu. Namun Cao Pi tidak dapat berkonsentrasi, entah kenapa.

Pangeran Wei itu melanjutkan penuturannya. Betapa menganggumkan kalimat itu diucapkan dengan datar meski seribu satu perasaan bercampur aduk di benaknya. "Aku tidak mengerti alasannya melarangmu membunuhku. Bukankah aku telah begitu bersalah padanya?" Katanya. "Jika aku meminta ampun sekarang, apakah kau akan memaafkanku?" Dan... apakah Phoenix itu juga akan memaafkanku...? Lanjutnya namun hanya di dalam hatinya saja. Mungkinkah...? Mungkinkah...?

Jari-jarinya tergulung. Tangannya mengepal erat-erat. Seumur hidupnya yang tidak pernah ada penyesalan, baru kali ini ia merasakan perasaan seperti itu. Kepalanya menunduk dalam-dalam. Semisalkan jawaban yang ia terima adalah 'tidak', apa yang harus ia lakukan?

Jadi, daripada menunggu, Cao Pi berbalik, berharap bahwa pertanyaannya yang tidak masuk akal itu akan dibiarkan tidak memiliki jawaban.

Namun, Si Xiang itu sendiri-lah yang tidak mengizinkannya.

Cao Pi berbalik detik ia mendengar suara kobaran api berhembus di belakangnya. Saat itulah, ia melihat patung itu benar-benar hidup! Burung Merah raksasa itu terbang membubung tepat di bawah langit-langit! Sepasang sayap itu mengepak, dan kepakan sayapnya membuat tempat ini makin terang oleh api yang berkobar-kobar namun tidak membakar. Ruangan itu terasa bergetar seolah terjadi gempa, dan angin yang sangat kuat berhembus dari segala arah ke ruangan tersebut!

Jadi... Burung Merah inikah Si Xiang yang akan membunuhnya semisalkan Phoenix itu tidak berulang kali melarangnya? Benar kata Sima Zhao... Benar-benar mengerikan.

"Z-zhu Que...!" Pangeran Wei itu, detik ia melihat pemandangan yang begitu mengerikan dan mengejutkan, tanpa sadar langsung jatuh di atas kedua lututnya. Seketika ia tidak berani lagi memandang ke atas! Jangankan untuk memandang ke atas, untuk membuat suara apapun atau sekedar bernafas saja ia tidak berani! Tentulah dia akan mati sekarang!

Tapi, bukankah dia memang bersalah? Dan dia pantas mati untuk itu? Dan bukankah dia tidak takut kematian?

Namun, jawaban yang diberikan Burung Merah itu sungguh berbeda dari apa yang dipikirkannya.

"Pangeran Cao Pi dari Wei...!" Burung Merah itu berbicara. Berbicara kepadanya! Emosi seperti apa yang terkandung dalam suaranya, tidak ada yang tahu. Dan Cao Pi sendiri tidak dapat memikirkan apapun saat itu. "Kenapa kau bertanya seperti itu padaku? Apakah kau bersalah padaku? Kau bersalah pada Phoenix itu dan hanya dia saja, bukan yang lain! Jika kau meminta maaf, jangan padaku tetapi kepadanya!"

Cao Pi menengadah. Setelah menghimpun segenap keberaniannya, barulah ia berani membalas. "Tapi... bagaimana? Apakah dia akan memaafkanku?"

"Jika dia tidak akan memaafkanmu, kenapa kau bisa hidup sampai detik ini?"

Pangeran Wei itu terdiam lagi. Benar. Dia harusnya sudah mati, bukan? Harusnya ketika ia berada di tempat ini bersama dengan sang Phoenix waktu itu, harusnya dia sudah mati.

"Berdirilah, Pangeran Cao Pi dari Wei..." Kata Burung Merah itu, jauh lebih pelan dan lembut daripada sebelumnya. Cao Pi melakukannya. Dia berdiri dan menatap Si Xiang tersebut, yang sekarang menapak di atas lantai. Tepat saat cakar burung tersebut menyentuh lantai, wujud Burung Merah yang begitu besar itu hilang, digantikan oleh sesosok laki-laki berambut panjang merah. Melihat sosoknya yang ini, kegentaran dalam hati Cao Pi perlahan mulai sirna.

"Jika kau mengakui kesalahanmu dan meminta maaf padanya," Si Xiang berwujud manusia itu berkata lagi. "tentu dia akan memaafkanmu. Ah, tidak... dia sudah memaafkanmu bahkan ketika kau masih bersalah padanya."

Cao Pi terdiam sejenak. "Kau sendiri tidak mendendam padaku?"

Si Xiang itu tersenyum. "Untuk apa? Justru sebaliknya. Jika kau sadar akan kesalahanmu dan meminta maaf, tentu Phoenix itu akan sangat bahagia. Dan aku, Si Xiang yang lain, semua Abdi Langit yang lain, akan ikut merasa senang juga." Jawabnya. Untuk sesaat kalimat itu terasa indah sekali, nyaris seperti kebohongan. Namun ini adalah perkataan seorang Si Xiang. Lebih lagi, dia mengatakannya dengan tulus.

"Bagaimana bisa...?" Tanya Cao Pi tidak habis pikir dan penuh keraguan.

Sekali lagi Si Xiang itu tersenyum. Senyumannya menjadi lebih lebar dari sebelumnya, seolah-olah dia sudah menantikan sepanjang kehidupan untuk mengucapkannya. Dan Cao Pi perlu tahu itu. Selama ini Pangeran Wei itu tidak pernah bertanya, namun kali ini pertanyaan itu sendiri keluar dari mulutnya.

"Karena tidak peduli apa yang kau lakukan, kau adalah orang yang sangat berharga dan penting baginya, Pangeran Cao Pi!" Serunya dengan tangan teracung. Suaranya menggema memenuhi ruangan tersebut, dan juga memenuhi batin Pangeran Wei tersebut. "Kau adalah orang yang dikasihinya! Entah seberapa jahatnya kau padanya, selamanya dia tidak akan pernah membencimu!"

Cao Pi terhenyak.

Dunianya yang selama ini berdiri dengan begitu kokoh bagaikan tembok pagar yang tinggi, runtuh di depan matanya. Namun itu bukanlah hal yang jelek. Kini ia bisa melihat semuanya dengan lebih jelas. Dulu yang dilihatnya hanya kegelapan saja, hanya dirinya dan ambisinya, tetapi sekarang matanya terbuka. Di sana, di luar tembok pagar tersebut, Phoenix itu sedang berusaha membebaskannya!

Apakah segala ambisinya penting, jika ia hanya mencelakakan orang-orang di sekelilingnya, rakyatnya, sampai-sampai mencelakai Phoenix itu sendiri? Apakah seluas bidang tanah di China ini berharga jika dibandingkan dengan perang yang entah akan menewaskan berapa orang, membuat entah berapa banyak anak menjadi yatim, dan entah berapa banyak keluarga terlantar? Jika seseorang dengan penuh kesalahan dan kejahatan sepertinya masih begitu berharga dan penting, apalagi para rakyat yang tidak bersalah itu!

Cao Pi meletakkan satu tangan di dahinya. Betapa bodohnya ia yang selama ini menganggap dirinya di atas orang lain, hanya karena ia seorang Pangeran Wei.

Lalu kenapa kalau ia seorang Pangeran Wei? Bagaimana dengan Phoenix itu? Yang meskipun adalah seorang Phoenix, telah turun sampai ke titik yang paling rendah, sampai-sampai mengizinkan orang-orang bebas memperlakukannya seperti apa. Seolah-olah... keberadaannya sebagai seorang Phoenix itu sama sekali tidak penting...

Apalagi... jika dibandingkan dengan keberadaan sebagai seorang Pangeran Wei. Apakah itu penting?

Tidak. Itu tidak penting.

Yang paling penting adalah... jika China ini dipenuhi kedamaian. Jika rakyat dan penguasa semuanya hidup dalam kedamaian, tanpa perang yang akan merusak dan menghancurkan semuanya. Itu yang paling penting.

Akankah dia sendiri mendapatkan kedamaian itu?

Cao Pi menarik napas dalam-dalam. "Tolong katakan padaku, Zhu Que, roh Burung Merah, Si Xiang pelindung Wei." Katanya dengan suara rendah, untuk menyembunyikan segala emosinya yang mati-matian dibendungnya. "Dimana Phoenix itu berada? Aku harus segera bertemu dengannya!"

"Untuk apa?" Tanyanya.

"Untuk mendapatkan... kedamaian itu!" Serunya penuh keyakinan.

Si Xiang berambut merah itu tersenyum. "Kalau begitu, pergilah mencarinya. Pasti kau akan mendapatkannya." Ucapnya. "Dia berada di tanah Shu, Kerajaan Barat."

"Baiklah. Aku akan segera pergi." Tukas Cao Pi sambil bersoja sekali, kemudian berbalik pergi. "Jika aku bisa kembali ke tempat ini hidup-hidup, ingatkan aku untuk mengucapkan terima kasih padamu." Tanpa membuang-buang waktu lagi, Cao Pi segera keluar dari Kunninggong. Sekarang ia tahu apa yang harus ia lakukan! Menunggu kapan waktunya bisa menyerang Chang An dan menciptakan perang lagi? Itu sudah tidak ada artinya! Apa gunanya sebidang tanah Chang An jika beribu-ribu nyawa harus dikorbankan?

Yang paling penting adalah... kedamaian.

"Yang Mulia Pangeran Cao Pi?"

Sangking cepatnya Cao Pi berlari, dan sangking penuhnya pikirannya, ia sampai tidak menyadari ia berlari melewati seorang jendralnya. Cao Pi berbalik, menemukan Zhang He kini bersoja ke arahnya. "Aku begitu terkejut melihat Pangeran Cao Pi berlari dengan begitu cepat. Kukira ada apa..." Kata Jendral Wei tersebut. "Mungkin ada yang bisa kubantu?"

Pangeran Wei itu terdiam sejenak memandangi jendralnya. Tatapannya seperti mengamati. "Zhang He, kau sudah tahu bukan bahwa Panglima Besar Yuan Shao telah kembali?" Tanyanya berusaha mengalihkan pembicaraan, tanpa sebab yang jelas. "Apakah kau tidak berpikir untuk meninggalkan Wei dan kembali padanya? Bukankah dengan kembalinya Panglima Besar Yuan Shao, kedudukkanmu akan makin tinggi jika kau kembali padanya dan menjadi jendral Dinasti Han Agung?"

Zhang He hanya tersenyum sekilas. "Itu tidak penting."

Cao Pi menghela nafas panjang. "Iya. Itu tidak penting. Semuanya tidak penting." Gumamnya. "Yang paling penting adalah... kedamaian."

Betapa bodohnya... selama ini mereka semua seperti orang buta, tidak mengerti mana yang penting dan mana yang tidak penting. Yang sampah dianggap harta, dan yang harta dianggap sampah. Kini Cao Pi sudah mengetahui apa yang terpenting, dan ini seketika membua Zhang He terkesiap.

"Pangera Cao Pi?" Tanyanya dengan dahi berkerut. "Anda berkata apa?"

"Kedamaian itulah yang paling penting." Ulangnya sekali lagi sembari berbalik, bersiap untuk melanjutkan perjalanannya. "Aku akan pergi, Zhang He, seperti Jia Xu, Xiahou Long, dan Xiahou Mei. Aku akan mencari Phoenix itu."

Sebelum Cao Pi sempat melangkah lebih jauh, ia mendengar suara Zhang He lagi. "Pangeran Cao Pi, jika seandainya tidak merepotkan, apakah aku boleh ikut juga?"

Cao Pi berbalik. "Perjalanan ini tidak akan mudah. Ini bukan seperti mereka bertiga yang terang-terangan menunjukkan identitas. Aku lebih memilih untuk menyamar menjadi rakyat jelata saja." Jawabnya, yang tentu saja membuat Zhang He shock bukan buatan. Pangeran Cao Pi yang biasanya tidak pernah mau bergaul dengan rakyat jelata, kini bisa berpikir untuk menyamar menjadi salah satu dari antara mereka? Dan berada di tengah-tengah mereka? Apa yang sebenarnya baru saja terjadi pada Cao Pi? "Dan lagi, rupanya Phoenix itu bukan berada di Wu tetapi di Shu. Jia Xu dan yang lainnya salah jalan. Darimana aku tahu hal ini, kau tidak perlu bertanya."

Jadi, Zhang He tidak menanyakannya.

"Aku mengerti." Sekali lagi Jendral Wei itu bersoja. "Yang Mulia Pangeran Cao Pi, aku sudah membulatkan tekad untuk ikut, tidak peduli apapun bahayanya. Sebab seperti yang anda katakan, yang paling penting adalah kedamaian itu."

Cao Pi mengangguk sekali. "Baiklah. Sebaiknya kau bersiap, Zhang He." Katanya. "Besok kita akan berangkat."


Zhao Yun

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan lagi! Waaahhhh... aku benar-benar tidak sabar! Ini kan seperti mengulang perjalanan dua tahun yang lalu? Dan aku yakin kali ini akan lebih seru. Kenapa? Karena kami berempat sekarang menyamar jadi Gaibang, bukan lagi seperti dulu dengan bebas menunjukkan identitas kami. Ditambah lagi... kali ini kami kan jadi buronan? Memang berbahaya, sih... Tapi seru juga...

Dan lagi, di sini ada Lu Xun. Jadi aku yakin semua akan baik-baik saja.

Tapi... ngomong-ngomong... Aneh sekali ya jika Gaibang-gaibang seperti kami naik kuda?

Aku menoleh sekali lagi. Kulihat Lu Xun yang tengah kelihatan mendongkol setengah mati pada kudanya, seolah siap untuk menjitak binatang tersebut. Hei, ini aneh sekali. Bukan kali pertama aku melihat Lu Xun seperti ini. Yahhh... terlihat dari sini seolah dia sedang dikerjai oleh kuda tunggangannya yang bernama Huo Li itu. Benar-benar aneh sekali, kan? Hahaha... Kasihan sekali...

"Hei, Lu Xun!" Aku memanggilnya, seketika perhatiannya pada kuda itu buyar. "Kau bilang kau sudah tahu akan kemana. Memangnya tujuan kita kemana?" Tanyaku

Lu Xun tersenyum lebar dan menjawab dengan penuh semangat. "Ada sesuatu yang ingin kulakukan di Fenghuang xian-Kota Feng Huang, Zhao Yun!" Jawabnya. "Apakah kau tahu tempat itu di daerah mana?"

Fenghuang xian, ya... Hahaha... ternyata ingin ke kota itu! Yahhh... pasti Lu Xun ingin datang ke sana untuk melihat-lihat, dan bahkan mungkin bertamasya. Tak apalah, lagi pula kami juga tidak tahu harus kemana di Shu ini. Kalau mau ke Fenghuang xian, kurasa pilihan yang sangat baik untuk menghabiskan waktu. "Kudengar tempat itu berada tepat di perbatasan Wei, Wu dan Shu! Ini agar orang dari seluruh kerjaan bisa datang berkunjung! Tepatnya berada di daerah Yi Ling(3)!"

"Yi Ling! Baiklah! Kita akan ke sana!" Sahut Yangmei tiba-tiba dengan penuh semangat. Aiiissshhh... kenapa gadis bawel satu ini sukanya ikut-ikutan saja, sih?

"Tapi... apa tidak apa-apa kalau kita ke Yi Ling dengan menggunakan rute yang biasa?" Tanya Zhou Ying. "Melewati kota-kota besar seperti kota Ba Jun, Pei Ling, dan Lin Jiang, tentu akan sangat beresiko!"

Hmmm... benar juga, ya... Sebaiknya kami menghindari rute-rute berbahaya seperti itu. Kulihat Lu Xun mengeluarkan selembar peta Shu, kemudian membacanya. Aku berhenti dan mendekatkan kudaku padanya. "Kalau mau, kita bisa memilih rute selatan." Kuikuti jari telunjuknya yang seperti menulis rute kami di atas peta tersebut. "Kita mengambil jalan berputar di selatan, ke provinsi Jiao Zhou, lalu berjalan ke arah timur ke kota Xiang Ke ini. Sesudah itu, kita melewati dataran Wu Xi yang panjang. Kota Wu Ling ini termasuk kota perbatasan yang cukup ramai, jadi sebaiknya kita menghindarinya. Kita bisa ke Yong An dan melewati Bai Di Cheng-Istana Bai Di, baru sesudah itu sampai di daerah Yi Ling. Bagaimana?"

"Kurasa... itu tidak jelek." Jawabku sambil mengangguk. "Setahuku Bai Di Cheng di Yong An bukan tempat yang ramai."

"Kita jarang melewati kota. Ini bagus juga... Tapi berarti kita pun akan sering masuk ke luar hutan dan daerah rimba lainnya..." Gumam Zhou Ying

"BAIKLAH!" Yangmei dengan bersemangat melompat-lompat. "Yang jelas, kalau kita ikut jalan selatan, kita harus menyebrangi sungai Chang Jiang yang luas ini dulu!"

Meskipun acap kali Yangmei salah, tapi kali ini dia benar. Jadi kami berempat mencari perahu untuk dapat menyebrang ke tanah seberang. Sayang sekali tidak ada jembatan. Tapi... bagaimana bisa ada jembatan di atas sungai seluas ini? Lebar Sungai Chang Jiang ini hampir menyamai lebar seluruh Istana Shu di Cheng Du! Mustahil ada jembatan yang bisa menghubungkannya! Kecuali yah... mungkin kalau di masa depan ada yang berhasil membangun jembatan di atasnya...

Untung saja tidak ada kesulitan! Kami menemukan beberapa orang yang bersedia menyebrangkan kami dengan perahu mereka. Syukurlah harganya juga tidak mahal. Sesudah menyebrang dan membayar orang-orang itu, kami melanjutkan perjalan.

"Wuaaahhh... sejauh mata memandang, yang ada hanya hamparan padang rumput!" Seru Yangmei.

"Kau mulai rabun, ya? Lihat baik-baik! Di sebelah tenggara dari sini ada hutan lebat!" Celetukku, yang seketika membuat Yangmei dongkol bukan buatan. Hahaha! Menyenangkan sekali mengerjai Yangmei! "Di sebelah barat daya sana, ada sebuah danau yang sangat indah bernama Danau Kunming. Di sana pemandangan alamnya luar biasa! Sayang sekali kita tempat itu sangat jauh sekali..."

Yangmei menyilangkan lengan. "Huh! Dasar sok tahu! Mentang-mentang kau tinggal di Shu! Coba kalau kita sekarang di Wu, tentu aku sepuluh kali lebih pandai darimu!"

"Wah, sampai langit runtuh menimpa kepala kita pun, aku takut hal itu tidak akan terjadi!"

Yah... begitulah kami melanjutkan perjalanan. Menyenangkan sekali!

Sayang sekali, kesenangan itu tidak berlangsung lama. Sembari kami berjalan, tak di sangka-sangka di depan kami terlihat sepasukan prajurit berkuda yang begitu cepatnya menghampiri kami! Melihat seragam mereka, senjata di tangan mereka, sudah tentu itu adalah para prajurit Shu yang mengejar kami atas perintah Lao Zucong! Celaka! Bagaimana ini!

"KALIAN BEREMPAT! ATAS PERINTAH YANG MULIA IBUSURI, BERHENTI!"

Kontan kami semua panik bukan buatan. Rasanya melihat pemandangan ini, jiwa kami seperti tercerai-berai ke langit! Serasa dunia ini sudah terbalik dan langit benar-benar sudah runtuh menimpa kepala kami semua! Ratusan pasukan sebanyak itu, bagaimana kami bisa mengalahkan semuanya? Apalagi mereka berpakaian besi lengkap dan bersenjata!

"Ya Tian! Kita dikejar!" Zhou Ying, begitu paniknya hingga tangannya yang memegang tali kekang kuda menjadi kaku.

"Lu Xun! Bagaimana ini?" Teriak Yangmei sudah kebakaran jenggot. Astaga... apakah masih perlu ditanyakan lagi? Yang harus dilakukan ya tentu saja lari! Mau apa lagi? Mau menunggu mereka sampai dan membunuh kita semua?

"Ayo lari semua!" Seruku sambil membalikkan kudaku, kemudian berlari menyusuri sungai Chang Jiang yang luas ini. Aku menoleh ke belakang. Mengikuti di belakangku adalah Zhou Ying, kemudian Yangmei, dan baru terakhir Lu Xun. Kupacu kudaku secepat kilat, kuharap aku jauh lebih cepat.

Ya Tian... Ya Tian...! Kenapa mereka bisa ada di sini? Tepatnya, bagaimana mereka bisa tahu kami ada di sini? Apakah jangan-jangan Lao Zucong brengsek itu sudah mengerahkan segenap prajurit Shu untuk mencari kami berempat? Yang benar saja! Apa perlu prajurit Shu di seluruh penjuru tanah Shu ini mengejar-ngejar hanya empat orang manusia saja? Memangnya kami ini apa?

"JANGAN LARI KAU, DASAR PENGKHIANAT! PENIPU!" Di antara suara derap kaki kuda, aku mendengar ejekan dan sumpahan mereka. Cih! Dasar sialan!

"Kurang ajar! Jika suatu saat aku kembali menjadi Wu Hu Jiang, akan kupenggal mereka semua!" Seruku kesal sambil menoleh ke belakang.

"Sudahlah, Zhao Yun! Sekarang bukan waktunya untuk mengomel! Yang penting kita lari saja!" Balas Lu Xun sambil terus mengamati gerombolan prajurit yang makin lama makin dekat dengan kami.

Sambil mengunci mulut rapat-rapat, aku kembali memacu kudaku. Benar-benar keadaan sangat kacau seperti dunia akan kiamat saja!

Sampai agak lama, aku mendengar salah satu dari kuda kami berhenti. Kuda Lu Xun.

"Tidak bisa jadi...!" Rupanya, Lu Xun menghentikan kuda itu dengan sengaja! Sebelum aku sempat mengomeli atau menyuruhnya berjalan lagi, Lu Xun sudah terlebih dahulu berbalik, kemudian mengangkat tongkat kayu di tangan kirinya. Tongkat kayu dengan bola kristal berwarna merah api itu diangkatnya tinggi-tinggi ke langit, sebelum dikibaskannya!

Bola kristal merah itu menyala, dan tepat saat itu juga, seolah api turun dari langit dan memisahkan kami berempat dari para prajurit tersebut(4)!

Ya Tian... Apa lagi ini?

"Ayo, Zhao Yun!" Serunya sambil kembali memacu kudanya melewatiku. Masih bingung, aku cuma bisa menurut dan mengejar Zhou Ying serta Yangmei yang sudah di depan. Sesekali aku melihat para prajurit itu yang bingung dan dengan susah payah berusaha memadamkan api dengan air Sungai Chang Jiang. Ya Tian... syukurlah... api itu pasti memberi kami cukup waktu untuk melarikan diri!

Kulihat Lu Xun yang nafasnya tersenggal-senggal, tidak jauh berbeda dariku. Di kedua tangannya, selain terdapat tali kekang kuda, juga terdapat sepasang tongkat kayu tersebut. Tongkat kayu dengan bola kristal biru ada di tangan kanannya, sementara yang memiliki bola kristal merah ada di tangan kirinya. Lu Xun ini...

Ah! Kok bisa-bisanya aku berpikir di saat genting begini? Yang benar saja!

Sementara aku masih memacu kuda, kali ini kulihat lagi-lagi Lu Xun berhenti!

"Tunggu sebentar, Zhao Yun..." Tukas Lu Xun tiba-tiba. "Aku ingin kembali sebentar."

"Ada apa? Ada yang tertinggal?" Tanyaku sambil menghentikan kuda pula.

Lu Xun menggeleng. "Bukan itu..." Dia kelihatan ragu-ragu sekali mengucapkannya.

Aku mendesah. "Baiklah. Kalau begitu aku akan menemanimu." Ucapku sambil memacu kuda tersebut, kali ini ke arah sebaliknya, ke arah para prajurit Shu yang sedang memadamkan api itu. Aku tahu Lu Xun tahu apa yang dia lakukan. Jadi, meskipun masih ragu, aku akan mengikutinya saja! "Ayo!"

Kami berdua akhirnya memacu kembali kuda kami. Sesudah terpisah hanya beberapa langkah dari pagar api tersebut, kami turun dari kuda. Kuraih tombakku yang terbungkus kain putih dan membukanya. Dari sini, hanya terlihat bayangan samar-samar para prajurit Shu yang tengah mati-matian memadamkan api tersebut dengan menyiramkan air dari Sungai Chang Jiang. Benar-benar... keinginan mereka untuk menangkap kami besar sekali. Tidak terbayangkan lagi kebencian mereka.

Dan aku mengerti kenapa. Aku ini seorang pengkhianat Shu. Seorang pengkhianat, apalagi di kerajaan seperti Shu yang tidak mengizinkan adanya pengkhianatan barang sekecilpun, pasti akan dibenci. Dan kalau tidak salah... tadi aku mendengar mereka berseru 'penipu'? Pasti yang mereka maksudkan itu Lu Xun. Entah bagaimana mereka yang dulunya sangat takut pada Lu Xun, kini berhasil dipengaruhi sehingga tidak percaya lagi bahwa dia sebenarnya adalah Phoenix.

Lu Xun menggenggam tongkat kayunya erat-erat, kali ini tongkat dengan bola kristal berwarna biru. Ia menoleh ke arahku sejenak. Aku mengangguk.

Tongkat itu diangkatnya ke atas, dan seketika itu juga air di Sungai Chang Jiang bergejolak! Air sungai itu mulai terangkat dan menyapu daratan, seketika membuat pagar api itu padam. Ajaibnya, di daratan yang terbakar tersebut, tidak ada bekas rumput yang hangus terbakar seolah tidak pernah ada api di sana. Kini di depan mata prajurit-prajurit Shu itu terlihat kami berdua dengan jelas. Di wajah mereka kulihat kengerian bercampur ketakjuban yang luar biasa. Saat melihat kami berdua datang sendiri, justru mereka tidak berani lagi mendekat.

Sayangnya, tatapan takjub dan ngeri itu berubah menjadi tatapan penuh amarah dan kebencian saat melihat kedua benda di tangan Lu Xun.

"Dasar penipu! Tikus busuk dari Wu!" Salah satu dari antara mereka, sepertinya komandannya, berseru kuat-kuat sambil menuding Lu Xun. "Rupanya benar kata Ibusuri serta Jendral Guan Yu dan Jendral Zhang Fei! Kau bukan Phoenix! Kau cuma penipu ulung dari Wu yang ingin mencerai-beraikan Shu! Bahkan kau adalah seorang penyihir kegelapan dari golongan Pemberontak Sorban Kuning!"

Lu Xun cuma diam saja. Tapi tatapannya yang tajam menusuk terarah pada mereka semua.

Aku bersiap mengangkat tombakku untuk menyerang kalau diperlukan. Tetapi Lu Xun merentangkan salah satu tangannya, sebagai isyarat agar aku tidak melakukan apapun.

"Jangan ganggu kami lagi." Perintah Lu Xun dengan suara yang dingin dan rendah, tetapi tegas. "Pergi dari sini kalau tidak mau merasakan kemarahan Phoenix!"

"Kemarahan Phoenix? Kau cuma penyihir gerombolan Sorban Kuning!"

"Dasar penipu! Manusia rendahan dari Wu!"

Sembari mengucapkan sumpah-serapah lainnya, mereka menerjang kami dengan tombak teracung! Kulihat Lu Xun yang, sementara aku tengah menyiapkan kuda-kuda untuk menyerang balas, hanya dengan tenang berbalik ke belakang. Tiba-tiba saja angin dari segala arah berhembus, membentuk pusaran yang berpusat padanya! Diangkatnya tongkat kayu dengan bola kristal berwarna merah tinggi-tinggi, ke arah langit.

Saat itulah, dari tongkat tersebut keluar semburan api yang sangat besar! Hembusan pusaran angin membuatnya makin berkobar-kobar! Aku hanya bisa melihatnya dengan takjub, apalagi para prajurit Shu itu! Dan tahu-tahu, kobaran api itu melingkupi mereka seperti kubah raksasa! Angin yang berhembus membuat kubah api itu seperti berkobar, dengan kobarannya mencapai langit!

Dari sini, aku hanya bisa mendengar seruan mereka...!

"Lu Xun!" Panggilku sementara ia sudah menurunkan tongkatnya. Keadaan menjadi tenang kembali seperti semula. "Kau apakan mereka? Apakah mereka akan mati?"

Lu Xun menggeleng pelan. Sudah kuduga. "Tidak. Hanya mengurung mereka agar mereka tidak perlu mengejar kita lagi. Tenang saja, api itu tidak akan melukai mereka, kok. Paling-paling dua atau tiga jam lagi mereka akan keluar dengan baik-baik saja." Jelasnya sambil naik ke kudanya lagi. "Ayo, Zhao Yun. Kita pergi sekarang."

Aku mengangguk, kemudian mengikutinya.

Kenapa Lu Xun menggunakan sepasang tongkat kayu fang zhi bai itu? Padahal kalau menggunakan senjata seperti itu, tidakkah orang akan benar-benar menyangka dia adalah salah satu dari gerombolan Pemberontaj Sorban Kuning? Seperti para prajurit Shu itu?

Jadi... kenapa?


(1) Baca "Phoenix FORM: Unbroken Thread" chapter 4 (Which Must Be Through) kalo lupa~~~

(2) Baca "Phoenix FORM: Unbroken Thread" chapter 8 (Lost Faith) kalo lupa~~~

(3) Jujur, saya nggak tau secara pasti Fenghuang xian itu dimana. Tapi yahhh... namanya juga Fanfiction, jadi saya rasa saya bebas mengatur hal2 yang kita nggak tau... XDDDD

(4) Wokey, bagi yang belum baca "Phoenix FORM: Unbroken Thread", ato yang udah baca tapi tetep belum ngerti, saya mau jelaskan. Di "Phoenix FORM: Unbroken Thread", Lu Xun dkk emang bisa ngelakuin magic pake spell2 yang udah saya jelaskan di cerita tsb. Nah, sejak tamatnya "Phoenix FORM: Unbroken Thread" (dimana Lu Xun melepaskan kekuatannya pas terkurung di Yin Mie Men), mereka semua (SEMUA NGGAK PAKE KECUALI) nggak bisa ngelakuin magic lagi. Nah, yang sekarang Lu Xun lakukan pake tongkat kayu tsb beda ama magic di Unbroken Thread. Di sini, yang dia lakukan cuma kayak Da Qiao di DW7 kalo pake senjata Twin Canes/Twin Wands, dimana tongkatnya bukan dipake untuk mukul tapi bisa ngeluarin bola cahaya (dalam kasus Lu Xun di cerita ini, yang keluar adalah api ato air). Wokey~ sekarang anda bisa menebak, saya emang udah jatuh cinta ama senjata Twin Canesnya Da Qiao dan saya pengen bikin di sini Lu Xun juga pake senjata tsb... XDDDD

Hehehe... Sima Zhao saya munculkan, tapi masih dalam mode anak kecil... XDDDD saya sebisa mungkin stuck sama sejarah asli dimana Sima Zhao tuh anaknya Sima Yi, sehingga di sini dia emang masih kecil (karena Sima Yi juga disini belum terlalu tua). Anyway, kalo anda merasa pengen melihat character dari Kingdom of Jin dimunculkan di cerita ini ato mungkin anda punya OC yang pengen dimunculkan di sini (tapi secara cameo, ya...), silahkan langsung kasih tau saya~

Oh dan sebagai penutup, saya juga mau mengucapkan SELAMAT pada Mocca-Marrochi! Tebakan anda bener! Saya lupa di review anda yang mana, pernah nyebutin bahwa suatu saat Cao Pi bakal jadi baik. Dan... emang bener begitulah yang akan terjadi pada Cao Pi. Dan di chap ini akhirnya Cao Pi bener2 mengalami Heel-Face Turn! Wooowww~ sepertinya para readers udah bisa baca pikiran saya, ya? Wkwkwkw...

That's all... XDDD updatenya minggu depan, ya... ^^ Stay tune!