Shield
"Nggak boleh keluyuran sendirian, nggak boleh keluar rumah sendirian, nggak boleh jalan-jalan sendirian, nggak boleh belanja sendirian, nggak bol…!"
"Jadi yang boleh apa dong…?" Atem menunjukkan wajah sedih pada kakaknya. Yugi cuma ngingsot. Cowok itu bener-bener ngelarang Atem untuk ngapa-ngapain, alias dipingit! Mana enak! Tentu aja Atem protes.
Udah beberapa minggu Atem terbiasa dengan kehidupan barunya, teman-teman dan tetangga (disekitar rumah Yugi dan khususnya teman-teman Yugi). Tapi Yugi yang bener-bener sayang (belebihan atuh…) pada Atem berusaha 'melindungi' adik kembarnya itu. Dengan cara, yang bener-bener membuat Atem nggak enak. Alhasil Atem sering ngambek sama Yugi. Kemana-mana harus bilang sama Yugi dulu atau dalam pengawasan Yugi.
"Pokoknya kamu cuma boleh pergi sama orang yang udah kukenal deket!"
"Tetep harus lapor?" tanya Atem setengah nantang. Setelah agak lama tinggal sama Yugi, cewek itu mulai berani menantang abangnya, yang biasanya gampang ciut kalau Atem udah marah.
"Ka, kalo ini pengecualian deh…" jawab Yugi setengah khawatir liat adeknya mulai galak.
Atem menghela napas dan kembali kedapur untuk memasak makan siang.
"Tem… marah ya…?" tanya Yugi pelan.
"Nggak…" suara Atem kedengeran lumayan galak. Yugi kediem lagi. "Gue mau part time dulu… Ntar kalo kamu mau belanja, hubungi gue aja, biar sekalian pulang part time gue belanja…" Akhirnya Yugi ngeloyor keluar rumah.
Atem tinggal menunggu nasi di ricecooker matang. Ia terduduk diruang makan. Atem bener-bener ingin keluar. Dan Jii-chan sendiri membebaskan cucu perempuannya itu untuk keluyuran. Hanya saja si abang Yugi satu itu rewelnya bukan kepalang, menjalar-jalar kian kemari… (lah?)
Dan selama berada dirumah, Atem banyak belajar bahasa Jepang itu dari tivi dan Jii-chan. Yugi? Mana sempet! Anak itu mah adaaaaaa aja kerjaan. Sekolahlah, belajar barenglah, part timelah, mainlah… banyaaaaaak banget alasan! Bilang aja males ngajarin Atem! Susah amat! Udah beberapa bulan Atem masih belum hapal Katakana dan Kanji. Atem udah berusaha belajar sendiri, tapi gadis itu tetap membutuhkan guru untuk membimbingnya. Dan mulai banyak tingkah Yugi yang sering membuat Atem kesel. Terutama hobinya sebagai otaku itu. Alhasil, Atem nyerah nggak mau ngeberesin kamar Yugi yang udah kayak kapal Titanic tenggelem itu. Semua majalah, marchendise anime / manga, CD game, film, lagu… berserakan dimana-mana… Koleksinya selalu nambah dan kamarnya juga tambah amburadul.
Keras kepala, seenaknya, usil, jayus, suka kasih teka-teki nggak penting, bandel, suka pecicilan, sok keren… banyaaaak lagi sifat-sifat nyengiti Yugi.
Kini Atem sudah tak tahan. Ia ingin memberontak, mendobrak pintu batas dunia kebebasan dan emansipasi wanita (Uhuyyyy!) demi dirinya yang terpingit. Atem udah nggak mau tahu, Yugi bakal marahin ato ngomelin dia. Kini Atem telah berjalan agak jauh dari rumah sambil mengingat-ingat jalan setelah pamit pada Jii-chan yang sedang menjaga toko Game-nya. Atem membawa buku latihan menulisnya. Tiap ada kata-kata yang agak sulit selalu ia catat, tetapi tentu saja Atem kesulitan untuk menulis huruf-huruf yang masih asing baginya itu. Anak yang hanya ingat kehidupan masa kecilnya di Amerika itu sebenernya berharap sekali sang abang mau membantu.
Tak jauh dari taman tempat Atem duduk sambil menulis-nulis, seorang CEO yang sedang stress berat sedang berjalan menuju taman yang agak ramai itu, sambil terus berbicara di handphone mungilnya.
"Kenapa mencari stok baru susah sekali??? Pokoknya kutunggu malam ini juga! Akan kubayar berapapun! … Itu urusan kalian!! Aku tak mau tahu!!! Atau kuPECAT KALIAN SEMUA!!!!"
TUT!
"Hhhh…" Seto menghela napas panjang sekali sambil mengusap dahinya. Pria itu berjalan menelusuri taman, hingga matanya menemukan sesuatu yang sangat dikenalnya… (hwaduh…)
"Atem…?"
Gadis yang sedang berusaha menghapal huruf-huruf Katakana itu menoleh mendengar namanya dipanggil.
"Kaiba-san…? Eh, maksudku… Seto…"
"Sedang apa kau sendirian disini…?"
"Ng… be, belajar…"
Seto memperhatikan isi buku yang Atem pegang. Pria itu tersenyum. "Boleh aku duduk…?"
"Oh, tentu…!" Atem menggeser duduknya.
"Belajar sendirian…?"
"He-eh…"
Keduanya terdiam. Sementara angin berhembus dingin. Musim semi terasa sangat sejuk, malahan dingin. Atem mengeratkan sweater pemberian Anzu yang dipakainya. Seto menyadari Atem yang mulai kedinginan.
"Bagaimana kalau kita bicara dalam café itu…? Kelihatannya lebih hangat…" tawar Seto. Atem mengangguk. Keduanyapun berjalan menyeberangi jalan menuju kesebuah café kecil dipinggir trotoar.
"Selamat datang… mau pesan apa…?" sapa seorang pelayan sambil memberikan menu pada Seto dan Atem yang duduk didekat jendela.
"Aku kopi… Atem, kau apa…?"
"A, aku tak usah…"
Seto terdiam. "Baiklah… teh untuk dia…"
Sang pelayan segera meninggalkan keduanya setelah Seto memesan minuman.
"Se-Seto… tak usah…! Aku…"
"Jadi? Kau sudah belajar sampai mana…?"
Atem menghela napas. "Kau pintar mengganti topik…" godanya sedikit. Seto tersenyum sambil melihat isi buku Atem.
---
"Hoi, lu nerima tantangannya anak SMU kota sebelah gak? Ntar lu diremehin lagi…"
"Ogah… males… lagian mau bantu bokap jaga toko… Ntar tak telepon ketua mereka aja…"
Akhirnya Hirutani berjalan meninggalkan Jounouchi sendirian ditaman Domino. Jounouchi hanya menghela napas. Ia udah janji ama bokapnya supaya nggak berantem lagi. Masalahnya bokap Jou bukan khawatir sama anaknya, kalo itu mah beliau yakin 235 % Jou pasti menang… masalahnya ntar kalo babak belur, biaya pengobatannya yang mahal banget. Mana Jou masih kelas 2 SMA dan Shizuka masih kelas 1 SMP. Biaya hidup pasti butuh banyak.
Jounouchi berjalan sambil mengeratkan jaketnya beberapa kali. Udara mulai dingin. Meski bunga-bunga musim semi pada bermekaran.
Setelah agak lama berjalan mengelilingi taman dengan lambat, ia terduduk dibangku taman itu. Cowok itu mengeluarkan kartu pos dari balik jaketnya. Ia berkali-kali membacanya sambil tersenyum. Setelah sekian lama, akhirnya Jounouchi bisa mengeluarkan keberaniannya untuk mengutarakan perasaan terpendamnya pada Mai. Kini mereka banyak bertukar cerita lewat surat ataupun e-mail. Sudah hampir setengah tahun mereka 'jalan'. Meski Mai kini berada di Amerika, dan kerja disana. Jounouchi tetap setia menunggunya.
Sebenarnya dalam dirinya juga ada rasa khawatir, kalau-kalau ada pria lain yang mencoba untuk mendekati Mai. Tapi ia memilih untuk percaya pada wanita itu.
Mata Jou berkeliling memperhatikan taman kota itu. Dan tanpa disengaja, matanya terpaku pada sebuah café diseberang taman. Ia kenal betul dengan kedua orang yang sedang asik mengobrol dijendela café itu.
"Hoi… hoi… nggak salah nih…?"
-
"Ah, sudah dua jam lebih kita disini…! A, apa tak apa-apa…?" Atem mulai gelisah. Seto mengangkat alisnya.
"Tak apa… aku biasa disini lama…"
"Ng… lebih baik aku pulang… Yugi pasti nyariin…Terima kasih banyak, Seto… Kau mau mengajariku…"
"Kalau kau butuh bantuanku datang saja kemari…Aku selalu disini…" Seto memberikan Atem catatan kecil. Gadis itu menerimanya dengan bingung.
"Apa ini…?"
"Nomer handphoneku… Yang satu lagi nomer telepon kantor pribadi di rumahku… kalau kau ingin belajar lagi, telepon saja…"
Atem tersenyum senang. Kini ia punya 'guru les' yang bisa diandalkan. Nggak kayak abangnya yang adaaaaa aja alasannya. Jadi Atem nggak bisa belajar lancar kalo sama Yugi.
"Terima kasih banyak! Setiap sore jam 3 Yugi selalu pergi kerja sambilan sampai malam… aku jadi tak tahu harus belajar dengan siapa…"
"Setiap hari…?"
"Yah…" Atem menghela napas panjang.
Kedua remaja itu kini berdiri di depan kasir café. Atem mengeluarkan dompet mungilnya pemberian Anzu.
"Ayo…" Seto mendorong bahu Atem pelan.
"Eh, aku bayar dulu…"
"Sudah… aku yang bayar kok…"
"Oh, kalau begitu kugan…"
"Sudah dulu, ya… aku khawatir Noa dan Mokuba berulah lagi dirumah…"
"Eh, tung…!"
Atem hanya berdiri kebingungan didepan café melihat Seto yang sedikit berlari menjauhinya. Gadis itu tersenyum melihat Seto yang memang sengaja meninggalkannya. Atem menyimpan kembali uang yang digenggam kedalam dompet. Ia berjalan pulang sambil bersenandung kecil.
Seto mulai mengurangi kecepatan jalannya. Ia menyadari wajahnya memanas.
"Aku ini kenapa, sih…?"
"Itu namanya 'cinta'…"
"Ooooh…"
Diem…
"HUAAAAA!!! J, Jou??? Sejak kapan kau…???"
"Hehehehehehehehehehe!!! Kamu ketahuaaaaan… Udah jadiaaaaan…!"
Seto meronta-ronta dari pelukan Jou yang kegirangan kayak anak cewek ngedapetin sobatnya jadian.
"A, aduh! K, kamu salah! Aku cuma ngajarin dia bahasa Jepang! Itu aja!"
"Itu ajaaaaa…??? Yakiiiin…???"
"Brisik!"
"Mukamu merah loooooo…"
"Diem lu ah!!!!" Alhasil jitakan Seto mendarat dikepala Jou. "Aduuu… Sadis amat lu…"
Seto ngeloyor ngejauhin Jou yang meringis sambil jongkok. "E, eh… Set… Tunggu…! Aku mendukungmu kok! Tenang aja…"
"Denger ya… Aku bukan suka sama dia… kita cuma belajar bahasa Jepang!"
"Yeee… lu pacaran aku juga gak apa-apa kale…"
"Kamu…!"
"Eits! Seperti kata Anzu… 'Kamu kudu jujur sama perasaanmu sendiri'!"
"Hhhh! Nggak tau ah! Aku mau ke kantor!"
"Ikut…"
"Ngapain???"
"Maen…"
"Nggak boleh! Sana, ah!"
Jou jadi pundung dideket po'on. Seto menarik napas panjang ngeliat sobatnya jadi sedi kayak gitu. Ampun emang, kesian banget si Seto… ini pertama kalinya dia bisa bertemen selayaknya remaja… tapi langsung dapet temen-temen kaya' geng-nya Yugi. Brisik bin ribut. Kalo ada yang menarik perhatian mereka, mereka nggak sungkan-sungkan nyari tahu. Dan sekarang Jou penasaran sama kerjaan Seto. Doi maksa pingin ikut ke kantor.
"Ya udah… tapi janji… jangan bikin ulah…"
"YEEEEE!!!! Aseeeek!!!"
"IKUUUUUUT!!!"
Tiba-tiba Katsuya nomer dua lari dengan langkah lincahnya menuju kedua remaja itu. Jou langsung bete liat Shizuka yang ternyata dari tadi lagi liat-liat aksesori di butik deket situ, dan nyadar abangnya lagi ngobrol rame ama 'Setocchi'.
"Lu? Kaga' ah! Pulang sana! Bapak nyari kau nanti!"
"Ga' mau! Abang curang mau main sama Setocchi! Aku juga mau ikut! Masa' adik perempuan begini kau tinggal sendirian???"
Seto nyerah liat Shizuka sama Jou berdebat dengan logat kansai yang kentel banget. Akhirnya sang CEO yang lemes itu mau gak mau bolehin kedua Katsuya ke kantornya.
"Horeeeee!!! Hidup Seto…!"
Selama dijalan, Jou asik ngobrol sama Seto sambil nggendong Shizuka dibelakang. Dari tadi tu cewe ribut minta gendong abangnya. Padahal uda gede. Uda SMP. Selama mereka ngobrol, tiba-tiba Shizuka mengeluarkan pertanyaan yang membuat kedua cowok itu terkejut setengah mati.
"Setocchi, Setocchi suka sama Atemurin, ya…?"
Jou dan Seto bengong sambil pandang-pandangan.
"Shizuka… siapa yang bilang ke kamu…?"
"Gak ada… Aku nebak aja… Bener gak?"
"I, itu… " Seto jadi salah tingkah, bingung sama pertanyaan tiba-tiba itu.
"Nggak usah disembunyiin…"
"Ntar… ntar… Nyet, lu kok bisa-bisanya ambil kesimpulan begitu?" tanya Jou sambil nurunin Shizuka.
"AKU BUKAN MONYET! Lagian gak dibilangin juga keliatan banget kok…" jawab Shizuka sambil jitakin Jou.
"Ke… lihatan…?"
"Iya… Mungkin Setocchi nggak mau ngakuin… tapi Keliatan banget cara pandang Setocchi sama perhatian-perhatian kecil Setocchi ke Atemurin… Apalagi kata Mokucchi dan Noacchi, selama ini Setocchi nggak pernah sedekat ini sama cewek…" Shizuka nyeritain obrolannya dengan kedua Kaiba junior disekolahnya. Mereka memang sekelas, makanya sering jalan bareng.
Jou sama Seto jadi merinding. Pandangan Shizuka sama kayak Anzu, TAJEM banget!
"Cewek tu makhluk paling berbahaya…"
"Aku masih nggak tahu perasaanku sebenernya… Mungkin aja ini 'cuma' perasaan Seth yang timbul pada Pharaohnya setelah sekian lama… mungkin aja ini bukan perasaan dari diriku sendiri…"
Jou dan Seto cuma diem liat Shizuka masang tampang bego. Terang aja, cewek itu'kan gak tau sejarahnya Seto dulu sama Pharaohnya.
"Mau perasaan Setan, eh… Seth, kek… mau perasaan yang udah lama, kek… Memang perasaannya Setocchi sendiri pada Atemurin gimana??? Jangan ngegantung gitu dongs! Nanti bagaimana kakanda Setocchi akan menunjukkan kejujuran cintanya pada adinda Atemurin laksana bintang menunjukkan sinar kecilnya di malam hari yang gelap???"
Shizuka jadi ceramah panjang lebar. Karyawan-karyawan Seto cuma bingung liat CEO mereka bawa temen dan anak cewek yang nggak berhenti ngomong ke kantor. Pemandangan yang jarang banget.
"Tolong bawakan teh kekantorku…" Salah satu karyawan Seto ngangguk sambil ngelewatin Shizuka yang masih ngoceh di ruangan kantor Seto. Jou udah lemes ngedenger ceramah adeknya, doi cuma bisa tepar di sofa. "Udah, ah! Lu diem deh!"
"Eh! Ini demi cinta diantara Setocchi dan Atemurin! Abang diem aja deh…!"
Tapi kedua Katsuya itu kediem begitu liat Seto lagi sibuk sama komputernya.
"Woooow… pake Mac lu…?" Jounouchi deketin Seto yang lagi ngetik di komputernya yang warna putih mengkilat kinclong.
"Iya… kenapa…?"
"Langganan Mac, ya? Laptop-mu juga' kan…?"
"Nggak… cuma aku suka aja lebih mudah dipake…"
"Hmmm… kalo aku suka komputer yang bisa diutak-atik gitu… makanya lebih sering pake Windows…"
"Wah… sama kayak Mokuba, dong…"
"Eh? Suka Windows dia…?"
"Nggak juga… dia' mah asal ada barang elektronik pesti langsung diutak-atik…"
Jou dan Seto jadi ngbrolin tentang komputer. Shizuka jadi bosen, anak cewek itu keliling ruangan Seto.
"Hm…? Setocchi ini siapa, sih…?"
Seto dan Jounouchi deketin Shizuka yang nunjuk ke foto sepasang suami istri di lemari Seto.
"Oh… ini orang tua-ku…"
"Wew… Setocchi mirip banget sama papa-nya Setocchi…"
"Iya…"
Seto tersenyum kecil.
"Aku cuma bisa mengingat sedikit… selanjutnya aku nggak bisa inget lagi kenanganku bersama mereka…"
Jou dan Shizuka kediem. Tiba-tiba Shizuka meluk pinggang Seto.
"Tenang ajah Setocchi… Kita-kita akan slalu bersamamu… jadi jangan sedih lagi… apalagi sekarang Setocchi punya pacar…"
"Atem bukan pa…"
"Iya, bro… Kita, duo Katsuya akan slalu mendukungmu…" Tiba-tiba Jou ngerangkul Seto.
"Hey… aku dan Atem bukan…"
"Pokoknya kalo butuh bantuan atawa dukungan… serahkan pada kami!"
Setelah memberikan tawaran bantuan dan dukungan, duo Katsuya itu ngloyor pergi dari ruangan dan kantor Seto. Bahkan Shizuka sempet-sempetnya nyapa sekretaris Seto.
"Misi, mbak… kita balik dulu ya, booo…"
Dan tak disangka-sangka, sang sekretaris yang cantik dengan rambut hitam lurus pendek sebahu itu membalas sapaannya.
"Oh, iya… silakan booo… titidije, yah…"
"Deeeee…!"
"Yuuuu…!"
Jou, dan Seto yang berdiri di depan pintu kantornya nginyem liat dua makhluk yang ternyata cocok satu sama lain. "Tinggal tambah tu cewek satu aja lengkap deh…"
TBC... maap booo... ^_^
