Kuroko no Basuke hanya milik Fujimaki Tadatoshi seorang.

Cerita ini hanya milik saya seorang.

Warning: AU, Nice not-so-perfect! Akashi, brotherly love! a lot of it I think, cuteness ahead(?), alur kecepetan, half-assed chapter, OOC, typo, DLDR!

pengingat mulai chapter ini:

Seijuurou = 28 tahun

Shintarou = 25 tahun

Atsushi = 24 tahun

Ryouta = 22 tahun

Daiki = 21 tahun

Tetsuya= 17 tahun

Enjoy!


Chapter 24: As Human, Annoyed.


Matahari tengah bersinar cerah –cukup cerah untuk ukuran musim dingin—ketika pamannya menanyakan pertanyaan terkutuk itu.

"Seijuurou, kapan kau akan menikah?"

Seijuurou, yang tengah bermain-main dengan Kouki, langsung terdiam. Dalam hati ia ingin sekali mengerang. Kenapa di hari yang cerah seperti ini, ketika Kouki sedang tidak rewel, pamannya justru menanyakan pertanyaan terkutuk itu?

"Saat sudah punya pasangan, Paman," jawab Seijuurou sekenanya. Perhatian pria berusia dua puluh delapan tahun itu kembali teralihkan pada keponakannya yang sejak tadi mencoba merebut kembali perhatiannya dengan menarik-narik salah satu lengan kemejanya.

Anak berambut cokelat berumur setahun itu menunjuk-nunjuk kotak kue yang diletakkan Teppei di atas meja kerja Seijuurou ketika mereka baru tiba. Dengan bahasanya sendiri, ia sepertinya mencoba meminta Seijuurou untuk mengambilkan kue itu untuknya.

Seijuurou tertawa. "Kouki mau kue? Sebentar."

Pria itu mengangkat Kouki, mendudukkannya di atas pangkuannya, membuat Kouki tertawa senang. Kedua tangan Seijuurou membuka kotak kue tersebut, dipegangnya kotak kue tersebut di hadapan Kouki sehingga anak itu bisa melihat isinya. Mata anak lelaki itu langsung berbinar melihat kue-kue di hadapannya.

"Baiklah, Kouki mau yang mana?"

Kouki menunjuk satu cheesecake dan Seijuurou mengeluarkan garpu dari kotak makan siangnya. Dengan sabar, pria itu menyuapi Kouki.

"Seijuurou, Paman serius," kata sang paman yang duduk tepat di hadapan Seijuurou. Teppei memerhatikan interaksi antara keponakannya dengan sang cucu lantas tersenyum sendiri." Ngomong-ngomong kau sudah pantas jadi ayah."

Seijuurou tersenyum sembari mengelap ujung mulut Kouki yang belepotan krim kue. Pria itu hanya menggumamkan terima kasih atas pujian tersirat yang dikatakan sang paman.

"Seijuurou, kau sudah dua puluh delapan," kata sang paman. Sepertinya pria itu tidak bersedia topik pembicaraan mereka berhenti sampai di sana.

"Lalu kenapa kalau aku sudah dua puluh delapan? Kalau Paman ingin cucu, Paman, kan, sudah punya Kouki," kata Seijuurou. Tepat ketika itu Kouki batuk-batuk. Teppei mendorong gelas airnya mendekati Seijuurou, yang mana langsung diterima dan langsung disodorkan ke mulut Kouki. Sambil tersenyum dan mengelus punggung Kouki dengan lembut, pria itu bergumam, "Pelan-pelan makannya, Kouki. Kuenya tidak ke mana-mana, kok."

Teppei mengembuskan napas jengah. Seijuurou mau tak mau jadi merasa ia seperti anak kecil yang tidak kunjung mengerti meski sudah diberitahu berkali-kali. "Itu berarti kau seharusnya sudah menikah. Rata-rata lelaki Jepang sudah menikah saat seusiamu."

Alis Seijuurou mengerut. Ia sebenarnya tidak suka kalau masalah pernikahan diungkit-ungkit.

Bukannya ia tidak ingin menikah, hanya saja ia tidak benar-benar punya waktu untuk berkenalan dengan seorang wanita dan pergi kencan. Ia harus bekerja dan mengurus adik-adiknya, ingat? Belum lagi terkadang ia juga harus makan malam dan bepergian menemui mitra kerjanya pada akhir pekan.

Dengan jadwal Seijuurou yang seperti itu, memangnya ada wanita yang mau dengannya? Apa lagi Seijuurou tidak akan segan mengesampingkan wanita itu demi adik-adiknya. Nah, apa masih ada perempuan yang bersedia diperlakukan seperti itu? Bukannya wanita lebih suka kalau diprioritaskan?

"Kalau kau ingin mendedikasikan dirimu untuk mengurus adikmu, pikirkan lagi, Seijuurou," kata Teppei, seolah bisa membaca pikiran sang keponakan. Sebelah tangan pria itu terulur, mencolek krim yang ada di atas mulut Kouki lantas menjilat tangannya, "Adik-adikmu sudah besar. Tetsuya sudah tujuh belas. Sebentar lagi mereka akan mulai meninggalkanmu untuk menjalani hidup mereka sendiri. Kalau sudah begitu, lalu kau bagaimana? Mau sendiri terus sampai tua? Tidak kesepian?"

Kalau begitu aku akan mati bahagia karena tahu aku sudah berhasil membesarkan adik-adikku, pikir Seijuurou. Tapi tentu saja ia tidak mengatakannya. Bayangkan akan bagaimana marahnya Teppei kalau mendengar keponakannya membicarakan mati di usia yang masih begitu muda.

Seijuurou memutuskan untuk tidak menjawab.

Teppei menangkap diamnya sang keponakan sebagai lampu hijau untuk meneruskan ceramah.

"Lagi pula, coba pikirkan Shintarou," Seijuurou mengangkat wajahnya kali ini, "ia ingin sekali menikah tapi ia menghormatimu dan memilih untuk menunggumu menikah dulu."

Seijuurou mengerutkan kening.

Apa? Itu konyol sekali. Kenapa harus menunggunya menikah? Tidak ada yang melarang Shintarou menikah kalau ia mau.

Apa benar Shintarou berpikir seperti itu?

"Tapi kenapa harus menungguku? Kalau Shintarou memang mau—"

"Ia merasa akan tidak sopan kalau melangkahimu, Seijuurou," jawab Teppei bahkan sebelum Seijuurou menyelesaikan kalimatnya.

Alis Seijuurou mengerut. Kekonyolan macam apa ini? Kalau begitu ia akan menanyai Shintarou nanti malam dan jika omongan Teppei benar, adiknya satu itu juga harus siap diceramahi.

Melihat Seijuurou menyerah -kemungkinan besar karena ia tidak mau berdebat—membuat Teppei menjadi lebih santai. Pria itu duduk bersandar pada kursinya lantas melirik jam tangan. Ia terkesiap.

"Aku harus pergi. Aku janji akan makan siang dengan Riko," kata Teppei. Pria itu mengambil Kouki dari pangkuan Seijuurou. Meski anak itu kelihatannya tidak mau berpisah dengan paman favoritnya, ia menurut ketika Teppei menyuruhnya untuk melambai pada Seijuurou.

Seijuurou tertawa, balas melambai pada Kouki sembari meminta mereka untuk hati-hati di jalan dan berjanji akan mengunjungi mereka akhir pekan nanti bersama adik-adiknya. Ketika pintu kantornya menutup, Seijuurou menghela napas dan mengusap wajah.

Jika yang pamannya katakan tentang Shintarou benar, maka mungkin ia harus mulai mencari pasangan hidup. Shintarou kadang terlalu keras kepala dan Seijuurou yakin adiknya satu itu akan sangat keras kepala soal ini.

Tapi meski pun Seijuurou berhasil menemukan seorang wanita, bukan berarti ia bisa langsung menikahinya, kan?

"Maaf, aku tidak tahu kau sedang tidak bisa diganggu, Akashi-kun. Aku akan kembali lagi nanti."

Seijuurou mengangkat wajahnya dan melihat Momoi berdiri di ambang pintu. Wanita yang sudah menjadi sekretaris pribadinya selama lima tahun itu hampir menutup pintu ketika Seijuurou memersilakannya masuk. Ia sempat ragu tapi akhirnya ia memilih masuk. Sebelah tangan wanita itu memegang sebuah surat.

"Ini untukmu, dari Senior Mibuchi," kata Momoi, meletakkan surat di tangannya di meja di hadapan Seijuurou. Mata merah Seijuurou langsung mengikuti pergerakan surat di tangan Momoi.

Seijuurou mengambilnya lantas membukanya. Sebelah alisnya terangkat, "Dari Senior Mibuchi?"

Momoi mengambil tempat duduk di hadapan Seijuurou. Wanita itu mengangguk. "Undangan pernikahan."

Alis merah Seijuurou terangkat. Matanya menatap Momoi sesaat sebelum memindai isi surat di tangannya. Benar seperti kata Momoi, itu adalah undangan pernikahan. Nama Mibuchi dan nama sang pengantin wanita -yang tak Seijuurou kenal dekat—tercantum di sana.

Mata Seijuurou lantas mencari tanggal pernikahan. Dua minggu lagi.

Alis Seijuurou terangkat. Pernikahannya cepat sekali. Lebih cepat dari yang sebelumnya mereka bicarakan.

"Senior Mibuchi ingin kau mengirimkan konfirmasi kedatanganmu secepatnya. Kalau bisa sebelum akhir minggu ini," kata Momoi. Seijuurou mengangguk paham. Ia mencabut salah satu pena yang ada di pen holder di atas mejanya. "Senior tadi ingin bertemu denganmu langsung, tapi kau sedang bicara dengan pamanmu dan ia tidak bisa di sini lama-lama karena harus mengantar undangan yang lain jadi ia hanya titip salam."

Terjawab sudah pertanyaannya mengenai kenapa seniornya tidak memberikan undangan pernikahannya langsung.

Seijuurou mengeluarkan lembar RSVP yang terlampir bersama surat dan mulai mengisinya. Ketika Seijuurou mengangkat pandangannya setelah melingkari kolom kalau ia akan datang ke pernikahan, ia melihat Momoi tengah menggigit bibir. Seijuurou paham kalau ada hal lain lagi yang ingin wanita itu katakan.

"Ada hal lain yang Senior Mibuchi katakan padamu?" tanya Seijuurou. Sebelah tangannya menyerahkan lembar RSVP miliknya pada Momoi. Pria itu meminta Momoi mengirimkannya kembali pada Mibuchi bersama dengan lembar RSVP milik Momoi sendiri. Momoi mengangguk dan menerimanya.

Momoi menghela napas. "Ia bilang kita -maksudku, khusus untuk kita—harus membawa seorang teman. Lawan jenis. Mengerti maksudku?"

"Maksudnya pasangan?"

Momoi mengangguk.

Rasanya Seijuurou ingin sekali menghela napas frustrasi. Apa tidak cukup pamannya mengganggunya dengan pertanyaan dan sindiran terkutuk mengenai pernikahan? Apa temannya satu itu harus melakukannya juga?

Mibuchi sudah mulai keterlaluan. Setelah menipu Seijuurou untuk datang ke pertemuan-pertemuan yang sudah ia siapkan tanpa meminta persetujuan Seijuurou, lalu sekarang ini? Sebelumnya Seijuurou masih menghormati teman wanita Mibuchi sehingga segan menolak. Terlebih lagi rasanya tidak sopan jika tidak datang dan membuat kedatangan teman wanita Mibuchi jadi sia-sia.

Tapi Seijuurou sudah mulai jengah menolaki perempuan-perempuan yang diperkenalkan Mibuchi. Ia juga mulai muak dengan tingkah seniornya satu itu. Kenapa ia tidak mengganggu Nebuya atau Hayama saja? Mereka, kan, sama-sama lajang.

Seijuurou tahu ia memang sudah memasuki usia menikah, tapi bukan berarti ia perlu dicarikan pasangan. Ia sangat mampu mencari pasangannya sendiri, terima kasih.

"Kau akan datang, bukan?" tanya Seijuurou.

"Kalau aku tidak datang, Senior Mibuchi akan membunuhku," kata Momoi sambil tertawa. Sebelah tangannya mengibas sambil lalu di depan wajahnya.

"Kalau begitu kita pergi bersama saja. Kau akan jadi pasanganku dan aku jadi pasanganmu. Dengan begitu, syaratnya terpenuhi, bukan?" jawab Seijuurou enteng. Pria itu sempat berpikir temannya harus lebih licik dari itu untuk bisa membuatnya dan Momoi mulai mencari pasangan.

Momoi tidak memberikan tanggapan. Saat itu baru Seijuurou sadar kalau ia sudah bicara seenaknya. Bodoh sekali ia karena tidak memikirkan Momoi. Siapa tahu wanita itu sudah punya orang yang ingin ia ajak pergi, bukan?

Ah, tunggu, mungkin ia bahkan tidak mau datang dengan Seijuurou.

"Tentu saja kalau kau belum punya pasangan, Momoi. Maaf, aku bodoh sekali," tambah Seijuurou, sedikit merasa bersalah karena sudah bersikap tidak sensitif.

"Tentu saja aku belum punya pasangan, Akashi-kun. Aku tadi cuma diam karena aku tidak terpikirkan cara itu. Baiklah, ayo pergi bersama."


Setelah lelah seharian bekerja, bisa mandi air hangat terasa seperti berkah.

Begitulah yang terlintas dalam pikiran Shintarou. Pria itu baru saja menyelesaikan shift-nya dan pulang. Tanpa membuang kesempatan, hal pertama yang ia lakukan adalah membersihkan tubuh.

Dengan sebuah handuk yang dikalungkan di leher, ia menggosok rambutnya yang basah sembari berjalan ke arah dapur. Rumah keluarga Akashi hari itu terasa sepi sekali. Wajar memang, karena jam menunjukkan kalau malam sudah larut.

Banyaknya pasien hari ini, membuatnya jadi tidak sempat makan malam. Oleh karena itu ia sangat berharap Seijuurou atau Atsushi -kalau ia sedang punya otak—akan menyisakan makanan untuknya dan meletakkannya di atas konter di dapur.

Doanya terkabul. Begitu memasuki dapur, Shintarou melihat mangkuk nasi, sup, sepiring ikan serta sayur ada di atas konter, dibungkus dengan plastik bening. Pria berambut hijau lumut itu segera mengambil kursi dan duduk di depan konter. Ia terlalu malas memindahkan makanannya ke meja makan, lagi pula ia tahu saudara-saudaranya yang lain juga suka melakukan ini kalau telat ikut makan malam jadi tidak apa.

Segera dibukanya plastik bening yang membungkus makanan-makanan itu dan dengan lahap dimakannya satu per satu.

"Boleh aku bergabung denganmu, Shintarou?"

Shintarou berhenti mengunyah dan menoleh. Seijuurou berdiri di sampingnya, kedua tangan disilangkan di depan dada dan pinggangnya disandarkan pada konter. Shintarou mengangguk dan Seijuurou mengambil kursi.

"Tidak makan malam lagi?" tanya Seijuurou basa-basi.

Shintarou mengangguk. Jakunnya naik-turun menelan makanan. "Ya, banyak pasien."

Shintarou menjepit ikan dengan sumpitnya dan memasukkannya dalam mulut. Seijuurou diam saja dan mereka terus seperti itu hingga Shintarou menyesap tetes terakhir supnya. Setelah Shintarou mengucapkan 'terima kasih makanannya', pria itu memutar posisi duduknya hingga ia menghadap sang kakak.

"Ada sesuatu yang mau Kakak bicarakan denganku?"

Seijuurou memberikan gelas berisi air pada adiknya, yang mana diterima dan langsung dihabiskan isinya. "Begitulah. Ada yang ingin kutanyakan."

"Tentang?" Shintarou meletakkan gelas kosongnya di atas konter dan kembali memberi sang kakak perhatian penuh.

Seijuurou mengangkat bahu dan ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Kudengar kau ingin menikah tapi menundanya, benarkah?"

Tanpa sadar Shintarou menelan ludah. "Dari mana Kakak mendengar itu?"

"Aku punya sumber," jawab Seijuurou. Pandangannya kembali terfokus pada sang adik. "jawab saja, Shintarou. Benarkah? Kalau benar, kenapa?"

Seijuurou tidak salah. Shintarou memang berniat menunda rencana pernikahannya. Alasannya? Agar ia tidak mendahului Seijuurou. Sebenarnya tidak ada tradisi atau larangan khusus mengenai "melangkahi" si sulung dalam menikah. Tapi… entahlah, Shintarou merasa ia egois sekali kalau tetap bersikeras menikah sebelum Seijuurou.

Maksudnya, rasanya tak pantas jika Shintarou berbahagia dengan menikah sedangkan selama empat belas tahun terakhir Seijuurou mengesampingkan kebahagiaannya sendiri.

Seijuurou ingin berkeluarga, dalam artian memiliki keluarganya sendiri. Shintarou tahu itu. Terlihat sekali dari matanya ketika dua tahun lalu mereka menghadiri pernikahan sepupu mereka Junpei dan ketika keponakan mereka lahir. Waktu itu Seijuurou melihat pasangan pengantin di depan altar dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Pandangannya mirip seperti ketika kau menginginkan sesuatu tapi sesuatu itu bukan sesuatu yang ditakdirkan untukmu. Sesuatu yang ingin kau dapatkan tapi kau tahu tidak seharusnya kau mendapatkannya, paling tidak, tidak sekarang.

Mungkin akan lebih mudah dimengerti jika Seijuurou diumpamakan sebagai seorang berkulit hitam yang mendambakan kebebasan dan pemerataan hak saat masa perbudakan di Amerika.

Sejak itu Shintarou merasa ia akan menunda kebahagiaannya sampai Seijuurou mendapat kebahagiaannya sendiri. Walau bagaimana pun, Seijuurou sudah menunda kebahagiaan dan menekan keinginannya selama empat belas tahun. Sudah waktunya Shintarou melakukan hal yang sama untuknya.

Masalahnya adalah kapan Seijuurou akan mulai bertindak meraih kebahagiaannya? Atau paling tidak, mulai mengusahakan sesuatu untuk mendapatkannya?

Apa ia bahkan sadar kalau ia juga bisa -dan boleh—menginginkan sesuatu?

"Shintarou?"

Panggilan Seijuurou berhasil membuyarkan lamunan Shintarou. Pria itu berkedip beberapa kali. "Ya?"

"Kau belum menjawab pertanyaanku."

Shintarou sempat ragu tapi akhirnya ia memutuskan untuk jujur. "Ya, aku berencana menunda menikah."

Alis Seijuurou berkerut, tanda ia kurang setuju dengan keputusan sang adik. "Kenapa? Bukankah kau sudah melamar pacarmu?"

Shintarou menghela napas, menguatkan batin akan penolakan besar-besaran yang pasti akan keluar dari mulut Seijuurou. "Aku tidak ingin menikah sebelum Kakak."

Alis Seijuurou berkerut makin dalam.

"Apa?"

"Aku tidak ingin menikah sebelum Kakak," ulang Shintarou. Kali ini alisnya sedikit berkerut ketika ia mengatakannya. Ia ingin Seijuurou melihat kalau ia serius dengan kata-katanya dan ia tak bersedia untuk mengubah pikiran.

"Kalau kau menungguku menikah, tidak akan ada yang tahu kapan kau akan menikah," Seijuurou memulai nasihatnya. Shintarou menghela napas. "Lagi pula, bagaimana dengan tunanganmu? Apa ia sudah tahu rencanamu? Bukankah ia akan marah kalau kau memerlakukannya seperti ini?"

Shintarou langsung teringat momen di mana ia mengatakan niatnya itu pada tunangannya. Meski awalnya mereka sempat berdebat panjang, pada akhirnya tunangannya tidak keberatan menunda. Dalam hati Shintarou sangat, sangat bersyukur ia memilih adik Takao untuk jadi calon pendamping hidup. Ia juga sangat, sangat bersyukur keluarga Takao adalah orang-orang yang pengertian. Kalau tidak, mungkin ia sudah babak belur dihajar Takao karena membuat menunda kebahagiaan adiknya.

"Sebenarnya aku sudah memberitahunya dan ia mengerti," jawab Shintarou lirih tapi tegas. Jawabannya membuat Seijuurou terdiam. Tapi alis merahnya yang masih mengerut dalam membuat Shintarou mengerti kalau kakaknya masih tidak suka dengan keputusan yang ia ambil.

"Aku tidak keberatan menunggu Kakak," jawab Shintarou. Ia menundukkan kepala dan mengalihkan pandangan pada gelas kosong yang tadi ia pakai. Seijuurou hendak mencoba mengubah pikiran Shintarou tapi Shintarou mengalahkannya, "Kenapa Kakak menentangku? Apa Kakak tidak ingin menikah makanya menyuruhku untuk tidak menunggu?"

Seijuurou menutup mulut. Sekarang ganti si sulung yang mengalihkan wajah. "Bukan begitu, aku ingin berkeluarga. Tapi kau tahu aku tidak punya waktu untuk berkenalan dengan wanita."

Alis Shintarou mengerut dalam. Tidak punya waktu? Bagaimana Seijuurou bisa bilang ia tidak punya waktu kalau ia selalu bisa meluangkan waktu untuk adik-adiknya?

Shintarou berdiri, membereskan piring dan gelas bekas makan malamnya lantas mencucinya.

"Kak, kami sudah besar. Aku sudah jadi dokter, Atsushi sudah punya toko kuenya sendiri, beberapa bulan lagi Ryouta akan bekerja sebagai pilot dan akan jarang ada di rumah, tahun depan Daiki lulus akademi kepolisian, bahkan Tetsuya sebentar lagi lulus SMA," kata Shintarou. Ia melirik Seijuurou dari balik bahunya dan mendapati si sulung memasang ekspresi yang seakan mengatakan ia tidak mengerti sama sekali apa yang Shintarou bicarakan. "Lihat? Kami semua sudah besar, sudah bisa mengurus diri sendiri. Kakak tidak perlu mengurus kami sepanjang waktu lagi."

"Tapi—"

"Sudah waktunya Kakak mengejar kebahagiaan Kakak sendiri," potong Shintarou. Ia mematikan keran dan mengelap tangan di celana pendek yang ia kenakan. "dan aku tidak akan mengubah keputusanku. Titik."

Dengan itu, Shintarou melenggang keluar dapur.


Ketika mendengar salah seorang kakaknya masuk rumah sakit, Tetsuya tidak bisa tidak gelisah. Siang itu, pemuda tersebut menerima telepon dari Ryouta yang mengatakan kalau Daiki baru saja masuk rumah sakit. Alasannya membuat Tetsuya ingin memukul sang kakak. Terkadang kakaknya bisa sangat impulsif, cenderung bodoh.

Daiki mencoba menghentikan seorang rampok, awalnya berhasil sampai perampok itu mengeluarkan pisau yang ia sembunyikan di balik bajunya. Ia berhasil menggores perut Daiki. Untungnya perampok itu hanya bisa menggores dan bukan menusuk. Meski begitu, goresannya cukup dalam.

Ryouta -ya Tuhan, untungnya mereka berdua seperti anak kembar siam—yang hendak menonton turnamen basket jalanan dengan Daiki saat itu langsung membawanya ke rumah sakit.

Di mana Tetsuya tengah berjalan saat ini. Kebiasaannya mengontrol emosi selama bertahun-tahun berhasil membuatnya tetap berdiri kokoh tapi bukan berarti ia bisa menahan semua rasa gelisah dalam hatinya.

Salah-salah ia bisa langsung jatuh lemas saat itu juga.

Benar-benar cara yang bagus untuk merusak akhir pekannya. Batal sudah rencananya menonton turnamen basket jalanan bersama teman-temannya.

Setelah perjalanan yang terasa begitu panjang, akhirnya Tetsuya sampai di depan pintu tempat Daiki berada. Pemuda itu menggesernya terbuka dan mendapati Ryouta, Shintarou, Seijuurou, Atsushi, dan Daiki yang tengah diceramahi oleh Shintarou.

"Lain kali hati-hatilah. Aku tahu kau bodoh, tapi bukan berarti kau bisa dengan mudah membuang nyawamu begitu," omel Shintarou sembari membalut perut Daiki dengan perban. Daiki mengerang, kelihatan bosan mendengar ceramah Shintarou.

Seijuurou yang duduk di sebelah Shintarou menggelengkan kepala melihat tingkah adik-adiknya.

Tetsuya masuk dan menutup pintu. Tanpa basa-basi ia langsung menuju salah satu sisi ranjang tempat Daiki duduk.

"Apa yang Kakak pikirkan? Bagaimana kalau perampok itu berhasil menusuk Kakak?" omel Tetsuya tanpa basa-basi. Rasa khawatir mengambil alih dirinya hingga ia tak lagi bisa menahan diri.

Daiki mengerang untuk yang kedua kalinya dalam lima menit.

Seijuurou meletakkan sebelah tangan di bahu Tetsuya, dalam diam menyuruh adiknya untuk tenang. Tetsuya menurut lantas mengambil tempat duduk di sisi ranjang yang kosong. Untuk menenangkan diri, ia menarik napas dalam-dalam dan menghitung hingga sepuluh.

Butuh usaha besar menenangkan diri mengingat dalam tiga puluh menit perjalanannya dari taman tempatnya bermain basket dengan teman-teman ke rumah sakit ia tidak berhasil menekan emosinya. Tapi paling tidak, pengetahuan kalau kakaknya masih bisa mengerang kesal ketika diceramahi cukup membantu.

"Aku tahu, Tetsu. Tapi kau tahu, kan, aku geram tiap kali melihat perampok. Maksudku, setelah apa yang terjadi pada orangtuaku, aku tidak bisa membiarkan perampok lari begitu saja kalau aku bisa menangkap mereka," jelas Daiki sembari mengangkat bahu. Tinju Daiki mengepal ketika mengucapkan 'perampok', "Untuk itu aku masuk akademi kepolisian."

Shintarou selesai membalut perut Daiki lantas melemparkan kaus baru yang diambilkan Atsushi dari rumah tepat ke wajah sang adik. "Pakai itu dan jangan lupa rutin ganti perbanmu."

Ketika Daiki mengeluarkan kepalanya dari lubang leher, dengan cengiran penuh harap pemuda itu berkata, "Kakak akan menggantikannya untukku, kan?"

Shintarou mendesis kesal. Sebelah tangannya terangkat mengangkat kacamatanya. "Ganti sendiri. Kau sudah besar dan aku ada pekerjaan."

Daiki mendengus dan menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti "kakak tidak berguna" atau semacamnya. Baju Daiki yang berdarah dan sobek digores perampok langsung mengenai wajah Daiki. Pemuda itu buru-buru menjauhkan kausnya yang berbau amis darah dari wajahnya, "Apa-apaan?"

"Bicara seperti itu lagi dan kupastikan kau mati kehabisan darah kalau lain kali kau bertindak bodoh seperti ini lagi," omel Shintarou. Pria itu lantas keluar begitu saja dari ruang perawatan.

Keinginan Tetsuya untuk mengomeli Daiki langsung menguap setelah melihat interaksi antara kakak-kakaknya. Kepala pemuda itu, yang sebelumnya menoleh ke arah pintu yang ditutup Shintarou, kini kembali teralih pada Daiki.

"Bagaimana keadaan Kakak?" tanya Tetsuya. Daiki yang tadinya masih menggerutu langsung menghentikan gerutuannya ketika Tetsuya bertanya.

"Ah, aku baik-baik saja. Hanya perlu beberapa jahitan," jawab Daiki. Ia mengangkat ujung bajunya, memperlihatkan perutnya yang dililit perban putih. Melihat kerutan di alis saudara-saudaranya, Daiki memberikan cengiran yang cukup meyakinkan. "Aku tidak bohong. Kak Shintarou juga bilang aku tidak perlu menginap, cukup istirahat satu jam lalu aku boleh pulang. Berarti aku cukup sehat, kan?"

Saudara-saudaranya masih menatapnya dengan tatapan skeptis. Daiki mengerang. Pemuda berkulit hitam itu buru-buru mengalihkan perhatian. "Tetsu, kau pasti belum makan siang, kan?"

Benar juga, setelah Daiki bertanya begitu, Tetsuya baru sadar kalau ia belum sempat makan siang. Awalnya ia akan makan siang dengan teman-temannya tapi ia langsung pergi ke rumah sakit begitu mendapat telepon dari Ryouta.

Tanpa sadar, si bungsu mengusap perutnya yang keroncongan.

"Bagaimana kalau kau pergi makan di kantin rumah sakit selagi aku istirahat?"

Tetsuya baru hendak membuka mulut ketika sekali lagi siang itu Seijuurou menyentuh bahunya. "Makanlah, Tetsuya. Kami yang akan jaga Daiki."

Tetsuya mengedarkan pandangannya pada kakak-kakaknya. Seijuurou dan Atsushi langsung mengangguk satu kali sedangkan Daiki dan Ryouta menyuruhnya untuk cepat pergi dan makan. Menyerah, akhirnya Tetsuya keluar dari ruangan dan mulai menyusuri lorong.

Baru beberapa langkah menyusuri lorong, Tetsuya sudah merasa ada yang mengikutinya. Ah, mungkin hanya kebetulan searah, begitu pikir Tetsuya awalnya. Tapi setelah nyaris lima belas menit berjalan dan ia masih bisa mendengar langkah kaki orang yang mengikutinya, pemuda itu mulai berpikir mungkin siapa pun yang mengikutinya tengah tersasar dan ingin menanyakan arah.

Tidak aneh kalau tersasar di rumah sakit ini. Walau bagaimana pun rumah sakit ini luas sekali.

Tetsuya berhenti lantas membalikkan badan. Benar saja, memang ada seorang wanita paruh baya yang berdiri beberapa meter di belakangnya. Melihat Tetsuya berhenti, wanita itu terkejut dan ikut berhenti.

"Ada yang bisa saya—"

Mata Tetsuya melebar, terkejut. Pemuda itu tak pernah menyelesaikan kata-katanya. Ia terlalu terkesima melihat wanita di hadapannya.

Wanita itu, sama seperti Tetsuya, melebarkan matanya. Sebelah tangannya terangkat menutup mulut yang terkesiap.

Selama beberapa detik, mereka saling pandang. Selama beberapa detik itu pula Tetsuya merasa sedang melihat cermin. Hanya saja cermin di hadapannya tidak memantulkan bayangan yang persis sama melainkan bayangan dirinya sebagai seorang perempuan berambut panjang. Tapi tak salah lagi, warna rambut itu, bentuk dan warna alis itu, bentuk dan warna mata itu, bentuk hidung itu, bentuk wajah itu adalah bentuk wajah Tetsuya.

"Benarkah ini?" wanita itu bergumam lirih dari balik tangan yang menutupi mulutnya. Ia mengambil beberapa langkah maju hingga mereka berjarak kira-kira satu meter.

Sebelah tangan wanita itu terangkat, seakan ia hendak menyentuh Tetsuya. Tetsuya berjengit mundur.

"Siapa—"

Mungkinkah?

Tetsuya tidak ingat lagi bagaimana rupa ibunya atau bagaimana suara ibunya. Tapi sepengetahuannya, keluarganya dulu tidak punya kerabat dan kakek-neneknya sudah meninggal. Oleh karena itulah ia jatuh ke tangan keluarga Akashi.

Tapi ia tahu kalau ibunya memiliki rupa yang persis sama dengannya, jadi mungkinkah?

Mendengar pertanyaan Tetsuya membuat wanita itu menarik tangannya kembali sebelum ia sempat menyentuh pipi Tetsuya. Ia menunduk, memalingkan wajahnya, dan terlihat ragu. Untuk beberapa saat Tetsuya menunggu, menunggu saat wanita itu angkat bicara lagi.

Wanita itu akhirnya mengangkat wajahnya dan sekali lagi, Tetsuya merasa seakan ia tengah menatap matanya sendiri.

"Kau tidak ingat?" tanyanya. Alis Tetsuya mengerut. Wanita tersebut bicara lagi sebelum Tetsuya sempat menjawab, "Tidak, tidak mungkin kau ingat. Kau masih sangat kecil saat aku meninggalkanmu."

Tetsuya merasa dirinya baru saja disetrum listrik berkekuatan ribuan volt. Lupa kalau ia harus mengendalikan emosi, Tetsuya membiarkan shock mengaliri dirinya begitu saja. Otomatis tubuhnya langsung lemas.

Melihat Tetsuya oleng, wanita itu segera maju dan menangkap Tetsuya. Ia memosisikan dirinya hingga dagu Tetsuya bertumpu di bahunya sedangkan tangannya melingkari tubuh Tetsuya, menopangnya. Dalam keadaan tak berdaya itu Tetsuya mendengar sang wanita berbisik di telinganya.

"Ternyata benar Tetsuya," wanita itu mengeratkan pelukannya. "Ini aku, ibumu."


Udah tanggal 15 Juli nih, saatnya apdet wkwkwkwk. Btw Happy Publish Day! Gak kerasa udah 3 tahun umur cerita ini wkwkwk :')

Jadi, kemaren ada yang nanya, apa fic ini udah tamat? Tydac! Kita masih punya satu masalah lagi gais abis itu baru aku ngacir dari sini wkwkwk. Chap ini bisa dibilang kayak pembukanya. Ketebakkah inti masalah kali ini apa? Hehe.

Btw special thanks to: Sayounara Watashi, Sayaka Minamoto, Kaito Akahime, Erucchin, Liuruna, Hyuann, VT Lian, sinaoisora, Seraphina Vedis, draay, Dewi729, ainkyu, Kavyana, ShirShira, Ai and August 19, Christa, akkr lopers, shiro, Kisiki Nagome, Nia Uzumaki, May Angelf, Kazerin Namikaze, Nia Shintarou, Oto Ichiiyan, Coklat Merah, Jasmine DaisynoYuki, UchiHarunoKid, deagitap, arudachan, Lusy Jaeger Ackerman, kyokohikari, EmperorVer, aon, Iftiyan Herliani253, WhiteIceCream, Shirayukikeii, Z0E the Queen, Yuu Yukimura, Mayoyonaise, fanfction user, intan. debora94, momoricchi, Hanaki Aki, murochan, martiyanadevita033, 7Shafa's DiFA, yukka31, ichigoStrawberry-nyan, Fujita Mari, Akane853.

Balesan buat yang gak login:

aon: yap, masalah daiki udah selesai, sekarang masuk masalah baru huehehe walah silakan tisunya *kasih tisu, btw makasih udah review!

Nia Uzumaki: makasih juga udah baca dan review, pasti capek kan ngelakuinnya wkwkwk. Makasih banyak buat supportnya /terharu

akkr lopers: walah sori, aku sibuk bulan kemaren. Tapi sekarang udah nggak kok hehe. Nanti kuusahain lebih cepet updatenya ya heuheu. Btw makasih udah mengingatkan wkwkwk.

shiro: nih, kudatang dengan chap baru, gak sampe sebulan kan wkwkwk :v makasih reviewnyaa

Christa: aku terharu, ternyata ada yang suka ceritaku sampe segitunya, makasih banyak loh :') makasih banyak juga buat supportnya, aku udah berusaha buat nabung chapter sekarang, semoga ke depannya bisa up lebih cepet hehe.

JADI GAIS, SEPERTI YANG UDAH DIUNGKIT DI ATAS, MULAI DARI SINI BAKAL ADA ROMANCE DAN BAKAL LUMAYAN MENDOMINASI, BUAT YANG GAK SUKA HET PAIR, MOHON MUNDUR, THANK YOUU. Sengaja dicaps supaya menarik perhatian wkwkwk.

Thanks for reading and reviewing this fic, guys. I love every single review!

So, review please? Let me know what you think! :)