Shingeki no Kyojin milik Hajime Isayama

PIECES

Rating T+

Warning: AU maksimal (Eren jadi monyet, Jean jadi kuda. literal), Apa adanya (?), Suka-suka authornya

.

.

.

-25-

Dunia Fantasi (2)

.

.

.

"KENAPA GUE MESTI KETEMU LO LAGI SIH?"

Jean tak kuat menahan gemas untuk menunjuk Eren di tempat saat bocah yang tak diharapkan kembali nongol seperti bulu hidung yang keluar dari lubangnya.

Eren berkacak pinggang, tidak terima dipermalukan sendirian, "G—Gue mau naik ini kok! Sewot amat lo!" semburnya bohong. Untung lagi tak puasa. Tanpa sadar ia sudah berdiri di belakang Jean, masuk dalam barisan, mengantri 'tak sengaja' wahana cangkir putar. Sedikit banyak Eren kesal dengan pemikirannya yang pendek dan kreatifitasnya yang terbatas. Setelah diam menunggu antrian dengan pemandangan punggung Jean yang lebar dan menyebalkan, barulah ia menyadari bahwa bisa saja Eren berkilah bahwa ia kebetulan harus melewati jalan ini, tidak harus mengaku-ngaku ingin menaiki wahana yang prioritasnya untuk bocah.

Tapi nasi sudah keluar dari dubur, Eren pun mencoba sabar dan tawakal. Untunglah antrian tidak sepanjang wahana lain yang laku keras—semisal biang lala atau histeria.

Sekitar lima belas menit Eren sudah dapat melihat cahaya kemilau yang sebelumnya tertutup Jean. Pemandangan jelas di depan pagar pembatas wahana dan tempat antri telah masuk dalam visualisasi. Barisan bergerak perlahan-lahan setelah pagar dibuka. hingga tiba giliran Jean yang dipersilahkan, ia pun segera memutari cangkir yang bisa dinaiki. Pun Eren yang buru-buru mencari cangkirnya bahkan sebelum petugas mengucapkan 'silahkan'.

Satu persatu cangkir ditelusuri Eren, dan semuanya penuh kecuali satu, yang dituju oleh Jean. Pada saat yang sama pula mereka rebutan cangkir-menyadari fakta bahwa Eren orang terakhir yang dipersilahkan masuk ke wahana, detik itu.

"Udah deh, daripada bikin malu gini, mending lo naik cangkir bareng bocah aja sana!" Jean menyugesti, menunjuk salah satu anak kecil yang duduk anteng, menatap ibunya yang berdiri dari pagar, membawa kamera. Pula Jean masih kukuh, bahkan sudah menduduki cangkirnya lebih dulu sebelum di klaim Eren yang merasa kecolongan.

"Canggung kali! Ogah! Mending lo aja sana! Turun buruan!"

"Gue juga ogah!"

"Maaf mas-mas sekalian, wahananya mau dijalankan."

Pemberitahuan via mikrofon membuat kedua yang menjadi pusat tontonan pun makin depresi luarbiasa. Eren membungkuk dalam-dalam, tidak tahu harus menjawab apa saat suara tawa menggema ditujukan pada kedua sosok bintang utama. Tadinya ada opsi untuk kembali ke antrian dan menunggu giliran selanjutnya, tapi teguran sudah melayang lebih dulu dan bokong Eren sudah mendarat di cangkir yang sama dengan Jean. Tidak ada sejumput keberanian untuk bangkit atau keluar dari wahana samasekali.

Eren mendecih.

Sekali lagi menyesali pemikirannya yang pendek dan kreatifitasnya yang terbatas. Setelah berpikir dengan rasional barulah ia memerhatikan sekeliling dengan benar, dan melihat banyaknya cangkir yang diisi oleh anak-anak umur tiga belas atau pasangan kekasih yang kasmaran.

harusnya ia menyadari, bahwa duduk secangkir oleh Jean setelah 'mengganggu' publik adalah keputusan yang paling salah.

.

.

.

putaran mesin mulai bekerja, dan Eren menelan kepahitannya, bulat-bulat. Nikmati sajalah—itulah pemikiran di awalnya. Sekali lagi Eren menatap Jean yang tangannya sudah sibuk mengendalikan setir cangkir, dan memutarnya dengan serius. Sungguh—tidak terlihat samasekali wajah Jean yang menikmati wahana di matanya. Eren pun terpancing untuk ikut memutar setir—tenaga Jean juga payah dalam memutar cangkir mereka.

"Oi!" sahutan pendek Jean di antara angin yang menggores wajah, "Kenafsuan lo!"

"Biarin!" jemari-jemari Eren masih sibuk menjamah setir, "Mainan buat bocah ngga ada sensasinya kalo cuman muter-muter biasa!"

"OH. GITU," suara ngambek yang khas kembali terlontar, "Jangan salahin gue kalo lo nanti muntah ya!" Jean ikut terprovokasi memutar cangkir lebih cepat dari sebelumnya.

"GUE GAAKAN MUNTAH."

Cangkir yang pada dasarnya sudah berputar dari poros, juga ikut berputar di tempat dengan kecepatan yang di luar batas lazim karena kelakuan Jean dan Eren yang emosian. Pengunjung di luar pagar hanya bisa menatap hampa, sebab dua lelaki dewasa yang memutar cangkir dengan serius di antara cangkir-cangkir santai yang dinaiki oleh anak kecil dan pasangan bukanlah pemandangan yang sederhana.

Saking cepatnya putaran yang dilakukan oleh mereka, membuat wajah kedua pengendara cangkir jadi tak terdeteksi oleh mata para pemerhati. Dan saking cepatnya pula putaran tersebut, membuat cangkir yang dinaiki secara ajaib melepaskan diri dari wahana hingga membuat Jean dan Eren terpental mengendarai cangkir sungguhan sampai membenturkan pegangan cangkir pada pagar pembatas wahana.

Wajah pemerhati semakin hampa luarbiasa, tatkala melihat wahana dan cangkir-cangkir lain yang masih berputar dengan nikmatnya di pagi yang indah pada hari itu-

minus milik Jean dan Eren,

yang terparkir di luar jalur.

yang kini belum bereaksi, berusaha mencerna situasi.

.

.

.

Wahana belum selesai beroperasi, tapi Jean dan Eren yang tidak ingin menjadi pajangan lekas turun dari cangkir tanpa perlu diperintah lebih dulu oleh sang operator. Kerusakan cangkir memanggil petugas mekanik yang menghampiri dengan sigap, dan kedua korban (atau mungkin pelaku perusak) cangkir hanya bisa menatap langit serta angkasa raya saat keduanya ditanya, "Apa yang sebenarnya terjadi?"

'P-Pokoknya cangkirnya lepas tiba-tiba.'

tidak ada kilah yang lebih brilian dan indah dibanding ucapan yang dilontarkan secara kompak dari bibir Jean dan Eren yang menyerupai ayam.

Penumpang yang awalnya asik memutar cangkir-cangkir mereka pun mulai berhenti dan mengurusi kehidupan dari dua insan yang malu-malu mengalihkan pandang pada tanah di bawah kaki-kakinya.

"Kalau begitu silahkan pergi. Maaf untuk ketidaknyamanannya., tuan-tuan sekalian."

Anggukan kaku disertai langkah kaki menuju pintu keluar. Untungnya tidak ada permintaan ganti rugi yang mustahil—karena bisa jadi bukan cuman uang, tapi juga bodi dan ginjal milik keduanya yang ikut menjadi jaminan. Atau dipekerjakan secara paksa sebagai budak dufan selama 1 windu.

.

.

.
"Oi. tunggu sebentar."

Eren tidak bermaksud untuk membiarkan Jean pergi meninggalkannya untuk keduakali. Tidak terutama ketika si pemuda yang lebih jangkung mendeklarasikan diri untuk pulang ke rumah, sekarang juga.

"Ngga bisa gitu. Gue masih mau main."

"Ya main sendiri sana! Gue capek. gue cukup. gue udah ngga mood!"

"Dan gue ngga tau jalan."

"Terus hubungan buta arah lo sama gue apa?"

Eren mengeluarkan ponsel, menunjukkan nomor Armin yang siap telepon kapan saja, "Nanti gue aduin ke Armin kalo lo pulang duluan seenaknya."

"DAFUG!" Jean menghentak kaki, menyalak. merasa frustasi seperti sedang menghadapi pacar yang bagaimanapun juga masih ingin belanja di mall, "Lo bilang lo benci gue kenapa sekarang malah maksa-maksa gue buat ikut lo?"

"Karena," Eren memberikan map Dufan-nya pada Jean, kalimat sengaja jeda, wajah masih (mencoba) lurus layaknya besi panas, "Kemungkinan gue nyasar lebih rendah kalo lo ikut. Jadi lo bakal berperan sebagai GPS gue untuk sementara."

Seketika saja Jean merasa hidupnya dinilai sebagai suatu benda, bukanlah manusia. Mungkin juga sejak pertama Armin meminta tolong padanya yang terlihat seperti android serba bisa?

"Jadi, pertama-tama bawa gue ke wahana Arum Jeram. Sekarang."

"WOW WOW," Jean menyahut tidak santai "Tunggu dulu. apa yang bikin lo mikir kalo gue manut aja sama perintah lo?"

"Armin."

Jean menangis jantan dalam hatinya. Memang sial Eren yang sudah tahu kelemahan terbesarnya di antara yang lain, "Lo ngga nemenin gue dengan baik, gue bakal bilang ke Armin kalo lo ingkar janji dan dia bakal ngga ngasih lo pinjem catatan dewanya lagi seumur hidup."

"IYA! GUE NGERTI UDAH, NGERTI!"

secepat itu Jean menyahut, secepat itu pula Eren berseri-seri.

Keduanya bergerak dari lokasi argumen, dengan posisi Jean yang berjalan di depan seraya menenteng map. Sedang Eren mengekor santai, tapi serius, bahkan sengaja berpegangan pada fabrik jaket Jean karena ia sering terdistraksi macam-macam di sepanjang jalan. Tentu saja alasannya supaya tidak ketinggalan atau terbawa arus pengunjung.

Kadang Jean gemas pula dengan cara Eren yang menjambak jaketnya dari jarak lumayan dan tarikan kencang. Bahunya sampai terbebani oleh tarikan. Jean yang gatal pun akhirnya menarik lengan Eren agar tak terlalu menjaga jarak atau jauh-jauh dari sisinya.

"Jangan norak gitulah jalan di belakang kayak pesuruh aja." cengkeraman tangan Jean belum dilepaskan, mungkin yang punya tangan juga terlalu fokus pada hal lain.

"Gue jalan di belakang malah kayak raja yang lagi dikawal penjaganya keleus."

"Raja ngga ada yang cemen, gampang kebawa arus bahkan sampe pegangan ke baju pengawalnya. Malah lo jadi kayak anak monyet yang lagi diajak jalan sore tau ngga?"

"Bacod lo kuda."

.

.

.

Fin