Chapter 23

Little Screet

Hinata's Ability

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuHina

Rated : T

Dor...! Dor...! Sret...! Bruk...!

Semuanya terjadi begitu cepat selama beberapa detik aku berjibaku dengan dua buah tembakan peluru yang kuusahakan agar tidak mengenai Hinata.

Mungkin bila di adegan slow motion akan seperti ini.

Itachi berlari untuk menerjang Miyuki yang membawa pistol dan menodongkannya kearah Hinata. Lalu kutembak peluruku melalui celah yang berada di samping kanan Hinata sedemikian rupa sampai peluru itu hanya menyerempet sedikit sekali dari betis putih Hinata.

Kulihat ekspresi Miyuki yang kaget dengan tembakan tersebut refleks langsung menarik pelatuknya. Tapi mungkin karena dia sudah sadar dari kekagetannya, dia berhenti menarik pelatuk dan kemudian pistol itu masuk kedalam safe mode.

Pistol yang digunakan oleh Miyuki jenisnya cukup umum sehingga bila pelatuknya hanya ditarik setengahnya saja akan masuk dalam mode safety.

"Hei...!" Kudengar Natsue berteriak nyaring menyadari aksi nekatku tersebut. Aku langsung menembak kakinya dan menangkap Hinata yang jatuh dari pegangan Miyuki karena kakinya terluka.

Kemudian aku langsung menyapukan kaki kananku kearah kaki Natsue yang sedang tegak berdiri sehinga dia langsung kehilangan keseimbangan dan jatuh kebelakang.

Aku mengunci lengannya dan menginjak kakinya yang bergerak bebas agar dia tidak melawan padaku. Kulihat Itachi yang langsung mengunci lengan Miyuki yang mungil itu dan merebut pistol darinya serta langsung merebahkan Miyuki dalam posisi tertelungkup dengan tangan di belakang punggungnya.

"Great...!" Kata Itachi sambil mengacungkan sebelah jempolnya kearahku. Aku hanya menyeringai pelan kearah Itachi melihat strategiku berhasil, meskipun dengan wajah kesakitan dari Hinata.

"Sekarang, aku akan gunakan kau sebagai umpan untuk menjebak Firmware AMI" Kataku sambil melihat dengan tatapan tajam kearah Natsue yang sudah tak berdaya dihadapanku.

Burst...!

Desisan pelan berbunyi seolah angin yang berlalu didepan wajahku sambil membawa seutas hawa panas yang menerpaku beserta debu mesiu yang berbau menyengat.

Seolah menyadarkanku dari ketidaksadaranku, kupandangi sekali lagi gadis pirang yang tengah terbaring di depanku tersebut dan terkejut begitu melihat hal yang sangat tidak ingin kulihat.

Lubang berwarna merah kental yang langsung berada di pelipisnya. Kulihat sebentar lubang tersebut dan menengok kearah atas.

"Itachi...! Enam puluh tiga derajat keatas, pelipis kanan" Kataku memerintahkan Itachi untuk segera menggeser tubuhnya dan juga tubuh Miyuki sementara kugeser tubuh Hinata menggunakan kakiku.

"Takkan kubiarkan kau lari" Seruku seraya mengejar seseorang dengan jubah hitam sambil membawa sebuah sniper kecil yang berada disarungnya. Tunggu dulu...! Itu Sub Machine Gun, eh bukan...! Itu jenis riffles yang paling rendah ketelitiannya hanya beberapa kali. Bukan sniper khusus yang digunakan untuk pembunuhan diam-diam.

Dia langsung meloncat dari atap yang tinggi tersebut menuju kearah jendela dengan sekali lompatan. Dia menggenggam bagian atas jendela dan berayun keluar melalui jendela.

Kucoba untuk mengejarnya dengan melompat keluar jendela. Samar-samar kulihat sebuah titik cahaya putih didaun jendela kiri. Jangan-jangan...!

Terlambat untuk menyadari bahwa lajuku sudah tidak bisa diperlambat lagi. Aku hampir saja menabrak jendela bila aku tidak meluncurkan kakiku kebawah dan melonggarkan lututku untuk menekan tekanan tubuhku. Persis seperti orang yang menakling.

Burst...!

Mataku membulat begitu melihat selongsong peluru menembus cahaya putih tersebut. Kutengok sekejap dari dalam jendela tersebut. Kulihat orang berjubah itu sedang membawa rifflenya dengan keadaan terbalik.

Dia menggunakan moncong lensa pembesar dan juga senter untuk menandai lokasi dan kemudian dia menembaknya tanpa melihat kebelakang sekali pun. Benar-benar sangat cerdas.

Aku kembali kearah Itachi yang sedang memegangi Miyuki yang sepertinya sudah tertembak kepalanya. Hinata masih baik-baik saja, tapi sepertinya dia sedang kesakitan akibat serempetan peluruku tadi.

"Dia benar-benar hebat. Aku yakin dia itu Firmware AMI, tolong teleponkan dokter organisasi untuk segera menjemput di depan gerbang" Kataku pada Itachi begitu melihat keadaan Hinata yang tampaknya sedang sangat menderita menahan sakit.

"Baiklah" Kata Itachi pasrah sambil mengeluarkan hapenya dan mulai memencet nomor tanpa memperhatikan nomornya. Nadanya terasa sangat familiar. Nomor telepon organisasi memang dibuat untuk mudah diingat hanya dari nada yang di bunyikan saat menekan tombol tertentu. Itulah yang memudahkan semua anggota organisasi bisa menghubungi big boss tanpa menyimpannya dalam kontak agar kerahasiaannya tetap dijaga.

Kubuka smartphoneku dan kupencet beberapa nomor telepon yang memang sangat kuhafal untuk segera menelepon big boss.

"Segera kirimkan Bootloader untuk membantuku" Kataku dengan nada datar kearah telepon dimana big boss berada. Aku tidak tahu siapa itu big boss, dia juga seringkali memakai penyaring suara.

"Kenapa tidak sekalian suruh BIOS" Tanya big boss dengan nada curiga kearahku.

"Bootloader adalah saudaraku. Lagi pula aku tidak begitu tahu siapa itu BIOS" Kataku sambil tetap bernada datar.

"Baiklah, kusampaikan salammu" Kata big boss sambil menutup teleponnya. Big boss sangat waspada sekali sampai-sampai sama ibunya sendiri aja dia gak percaya.

Kututup teleponku dan kulihat Hinata yang tampak kesakitan tersebut.

"Sakit ?" Tanyaku pada Hinata yang terbaring lemah tersebut. Kubopong dia sebentar dan kuturunkan dia dalam posisi duduk. Hmmm...! Pendarahannya tak terlalu banyak sih, tapi dia kan cewek. Wajar kalo dia cukup kesakitan dengan luka sekecil itu.

"Sudah kupanggilkan, dia berada sekitar tiga kilometer dari sini. Mungkin akan tiba beberapa saat lagi" Kata Itachi sambil tergopoh-gopoh menghampiriku.

"Yah...! Yang harus kita pikirkan adalah apa yang harus kita lakukan untuk menyembunyikan seorang mayat ini" Kataku sambil memandang kearah Natsue yang kepalanya sudah berlumuran darah. Hinata tampak heran mendengar ucapanku barusan.

"Bukannya ada dua ?" Tanya Hinata disela-sela ringisannya yang tampak sangat kesakitan tersebut. Aku hanya mengangkat bahu sejenak sebelum akhirnya berdiri sambil memandang kearah Miyuki.

"Bangunlah, tidak ada apa-apa" Kataku sambil menoel-noel wajah Miyuki dengan kaki kananku. Kulihat wajah Miyuki berkerut begitu kusentuh pipinya dengan jempol kananku.

"Sasuke-senpai, jangan pake kaki dong" Kata Miyuki dengan wajah ngambek sambil duduk. Kepalanya masih berlumuran darah segar yang mengalir deras dari pelipisnya.

"Sebenarnya dia tidak berbahaya. Dia agen CIA" Kataku sambil tersenyum sinis kearah Miyuki yang tampaknya sangat terkejut melihatku bisa membongkar identitas sebenarnya.

"Ayahmu meninggal dalam misi melawan Firmware AMI sehingga kau bertekad untuk membalaskan dendam ayahmu dengan bergabung bersama komplotannya" Kataku sambil menyeringai lebar kearah Miyuki.

"Bukannya kakaknya yang meninggal ?" Tanya Itachi dengan nada heran mendengar ucapanku.

"Bukan. Kakaknya adalah orang yang sudah kita kenal sejak lama, Kagoya Kimimaro" Kataku yang langsung membuat Miyuki kaget mendengar ucapanku barusan.

"Bagaimana kau bisa tau ?" Kata Miyuki tampak kaget dengan analisisku barusan.

"Beberapa saat sebelum aku memperbaiki website sekolah, aku browsing sejenak dan menemukan kasus dimana seorang agen CIA yang tewas karena kecelakaan. Yah...! Setelah beberapa saat aku analisis, ternyata sebuah pembunuhan yang sangat rapi terselubung di baliknya. Kukira itu adalah ayah Kimimaro sehingga dia sangat bersemangat sekali mengejar Firmware AMI" Kataku sambil menyeringai pelan kearah Miyuki.

"Tapi, aku melihat sesuatu di kepalamu. Sesuatu yang menonjol dan tampak sangat jelas sekali. Kau membawa kantung darah untuk melindungimu dari pembunuhan yang direncanakan oleh Firmware AMI. Juga matamu yang berkaca-kaca sewaktu kau menyandera Hinata. Itu bukti kalo kau adalah agen yang sudah berpengalaman dalam misi" Kataku sambil terkikik sejenak melihat ekspresi wajah Miyuki yang tampak kaget tersebut.

"Jika kau sangat ahli dalam hal penyamaran seperti itu, berarti kau bukan bagian penyelidikan sehingga aku menduga kau mempunyai rekan yang membantumu" Kataku sambil menyeringai pelan kearah Miyuki.

"Aku ingat tentang buku misteri yang kau bicarakan. Artinya kau pernah melihat dan bahkan membacanya, tapi kau tak paham dengan pikiran analitis. Rekan yang kumaksud pasti adalah kakakmu" Kataku dengan nada datar. Tampak Miyuki menyunggingkan seulas senyuman lemah di bibirn merahnya.

"Dan Kimimaro adalah anak yang suka misteri. Dia yang menyelidiki sesuatu saat di restoran langsung terpancing begitu melihat sebuah kasus keracunan di restoran tersebut. Semuanya cocok" Kataku mengakhiri penjelasanku.

"Yah...! Penjelasan yang bagus Sasuke. Dokternya sudah datang dan kuharap kau pergi dan menyingkirkan mayat ini segera" Kata Itachi dengan nada meledek dan bosan sambil membuka pintu gudang tempat kami berada tersebut untuk mempersilahkan kami keluar.

"Kau memang hebat, Sasuke-senpai" Kata Miyuki sambil menyeka darah yang keluar dari pelipisnya.

"Untung saja Itachi-san waktu itu mendorongku sedikit sehingga peluru itu tidak menembus kepalaku begitu saja" Keluh Miyuki sambil memandang kearah Itachi.

"Aku juga disuruh Sasuke kok. Katanya bila kamu tidak berdarah maka Firmware AMI akan segera membunuhnya suatu saat nanti" Kata Itachi sambil nyengir kearah Miyuki.

"Baiklah, Itachi. Aku sudah memintamu untuk membuat topeng Hinata bukan ?" Tanyaku sambil memandang kearah Itachi yang langsung menunjukkan padaku topeng berwarna kulit yang juga berambut indigo tersebut.

"Aku juga sudah membuat speaker yang akan terhubung dengan microphone ini setelah kau mengirimkan sampel suara Hinata" Kata Itachi sambil menunjukkan sebuah microphone danjuga speaker tempel dan melemparkannya kearahku.

"Aku gak tau apa yang harus kukatakan jadi tolong pandu aku" Kata Itachi sambil nyengir lebar.

"Baiklah, sebelum itu angkat mayat ini dan bawa ke mobil dokter tersebut. Kita akan menguburkannya ditempat rahasia" Kataku sambil berjongkok didepan Hinata.

"Heh...! Ngapain kamu ?" Tanya Hinata dengan nada terkejut melihat tingkahku yang memang cukup aneh ini. Kutolehkan kepalaku dan kemudian mengangkat sebelah alisku mendengar ucapan Hinata.

"Kau mau jalan sendiri yah...!" Tanyaku dengan nada meledek kearah Hinata. Hinata tampak memanyunkan bibirnya mendengar ledekanku tersebut. Aku hanya menatapnya dengan tatapan datar sambil menunggu responnya.

"Bilang dong kalo mau nggendong. Tapi, ngapain kamu cuma jongkok disana ? Aku kan gak bisa berdiri, mana bisa aku langsung nemplok sama kamu gitu ?" Kata Hinata menyindirku yang memang hanya bisa jongkok manis didepannya.

"Bentar, bentar, hapeku bunyi" Kataku sambil merogoh sakuku untuk berbicara sejenak dengan si penelepon. Kulihat nomor yang sama sekali tidak kukenal, siapa ini ? Kupencet tombol hijau dan kemudian ku tempelkan hape itu di telinga kananku.

"Moshi-moshi" Sapaku sambil tetap datar.

"Halo...! Sasuke-kun" Kata seseorang di telepon. Aku cukup mengenal suaranya, suara Kabuto.

"Hei...! Kau ada dimana sekarang ?" Tanyaku dengan nada yang kubuat cukup ceria kearah Kabuto yang sedang menelepon diseberang sana.

"Oh, sepertinya aku harus kembali ke Amerika dech. Mungkin suatu saat nanti kita bisa menangkap tuh pembunuh" Kata Kabuto dengan nada dingin kearahku. Yah...! Dia mau kembali ya ?

"Ada urusan apa ?" Tanyaku mencoba untuk berbasa-basi sejenak.

"Ada dech. Mungkin cuma itu saja, kutunggu kabar penangkapannya dari mulutmu sendiri beberapa bulan nanti" Kata Kabuto sambil menutup teleponnya.

"Mungkin sebaiknya aku mengenal BIOS"

TBC

Fyuuuh…! Ini Cuma permulaan saja, siapakah nama sandi Firmware AMI yang disebutkan oleh Sasuke tadi ?

Chapter depan mungkin last chapter, tapi sepertinta petualangan Sasuke tidak berhenti hanya disini saja. Mungkin dia akan mengatakan pada Hinata tentang perasaannya yang sesungguhnya.

Tapi, author masih belum terpikir untuk membuat sekuelnya, sehingga mungkin bakalan tertunda lagi sekuel buat fic ini (masih ada dua fic yang nungguin tuh).

Happy Read