A/N : Akhirnyaaaa! Maafkan apdet yang sangat lama ini. Mohon maaf kalo ada typo atau kurang bagus.
25. WORLD OF NEVER WAS_6
Monster pasir itu terus berusaha untuk menangkap Vanitas dan yang lainnya. Tangannya yang besar terus mencoba mengejar, sementara tangan yang satunya lagi membentuk berbagai macam senjata yang tentu saja, dibuat dari pasir. Di wajahnya sekilas hanya tampak dua lubang besar yang bisa disimpulkan sebagai mata, tetapi ternyata dia juga punya mulut. Mulut itu bisa muncul dan menghilang kapan saja. Fungsinya? Untuk menghisap targetnya, selain itu juga untuk menghembuskan badai pasir yang sangat kencang.
Vanitas dan yang lain sungguh dibuat kerepotan. Mereka terus berusaha untuk menyerangnya dari berbagai arah, tetapi percuma. Karena bagian yang diserang selalu kembali seperti semula. Ketika Cloud menebas tangannya dengan pedang, pasir-pasirnya kembali terangkat dan membentuk tangannya seperti semula. Diserang dengan sihir Kairi, hasilnya sama saja.
Namine ditugaskan untuk tidak bertarung dan bersembunyi di balik tebing dekat mereka. Dia diperintah Cloud untuk menganalisa musuh, dengan Riku yang berada di sampingnya. Vanitas tidak jadi ditugaskan untuk berada di garis depan karena musuh ini tangguh sekali. Sebagai gantinya, Tifa yang menjaga Namine bersama dengan Riku. Soalnya kekuatan Tifa yang tidak menggunakan senjata tidak berguna untuk menghadapi musuh sebesar ini.
"Bagaimana Nami? Kau menemukan sesuatu?" tanya Tifa.
"Tidak, kaa-san. Mungkin lebih tepatnya, belum. Monster ini berbeda dengan tipe-tipe yang pernah kita lawan sebelumnya."
"Begitu ya."
"Apa aku perlu maju?" tanya Riku sambil mengeluarkan keyblade miliknya.
"Tidak, terima kasih," jawab Tifa. "Cukup mengawasi saja dari sini, dan gunakan sihir penyembuhan jika perlu."
"Ya, ya."
Mereka bertiga kembali terdiam sambil mengamati sisa anggota yang tengah bertarung. Cloud dan Vanitas sempat terlihat kewalahan. Tetapi untungnya langsung ditolong oleh Roxas. Tangan Riku sebenarnya sudah sangat gatal, tetapi dia tahan sebisa mungkin. Karena bagaimanapun juga, dia harus mengikuti komando dari Cloud.
Di tempat lain, Vanitas, Cloud, dan Roxas masih terus melancarkan serangan terhadap musuh raksasa yang ada di hadapannya. Monster ini sungguh unik, apalagi komponen tubuhnya. Ketika diserang, tubuhnya mudah hancur. Tetapi ketika menyerang, tubuhnya mengeras. Saking kerasnya, tangan itu mampu memukul Cloud sampai hampir terpental. Pukulannya benar-benar keras. Tidak ada yang tahu pasti penyebab dari sifat pasir yang mudah berubah itu, tetapi dugaan terbesarnya adalah bola berwarna kuning tadi. Bola kuning yang auranya terasa begitu kuat.
Mencoba taktik lain, Vanitas terbang lebih tinggi dan mengarahkan keyblade miliknya. Tidak lama setelah mulutnya meramalkan mantera, sebuah bongkahan es raksasa tercipta dan langsung menghantam kepala monster itu hingga lenyap. Tetapi sayang, tidak lama kemudian kepalanya langsung tumbuh lagi. Vanitas mendesah karena taktiknya gagal. Entah bagaimana cara yang tepat untuk mengalahkannya.
"Vanitas, belakangmu!"
Teriakan Roxas membuat Vanitas menoleh, dan dia sungguh kaget ketika melihat sebuah telapak tangan raksasa. Ternyata itu adalah salah satu bagian monster pasir itu! Vanitas segera menghindar sebelum tangan itu menangkapnya, dan tanpa disadari, tangan lain langsung muncul dan menangkap Vanitas. Lebih sial lagi, tangan pasir itu mengeras dan mencengkram Vanitas semakin kuat. Jika saja Vanitas manusia biasa, pasti dia sudah mati remuk. Tetapi meski begitu, sungguh sulit bagi Vanitas untuk membebaskan dirinya.
"Thundaga!"
Sebuah halilintar langsung menyambar tangan pasir itu hingga hancur. Ternyata itu adalah sihir Kairi.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Kairi.
"Ya, terima kasih."
"Entah bagaimana cara untuk mengalahkan makhluk ini. Sora dan tou-san sudah menyerangnya berkali-kali tetapi hasilnya tetap nihil."
"Begitu ya."
"Kalau begini bisa-bisa kita hanya menghabiskan tenaga. Kita harus bisa menemukan cara untuk mengalahkannya sesegera mungkin."
"Apa Namine menemukan sesuatu?"
"Belum, aku belum mendengar apa-apa darinya. Sepertinya sangat sulit baginya untuk mengalanisa monster ini."
Selagi mereka berdiskusi singkat, tiba-tiba saja mereka sudah diserang lagi. Kairi dan Vanitas segera terbang dan kembali menyerangnya. Dan entah untuk keberapa kalinya, serangan mereka berakhir dengan percuma. Yang ada mereka malah hampir diserang kembali. Kali ini malah lebih parah lagi, karena monster itu membuka mulutnya. Tetapi kali ini bukan badai pasir, melainkan tornado raksasa yang areanya luas. Bahkan Namine, Tifa, dan Riku langsung mundur.
Melihat tornado yang terus mengejar Vanitas dan Kairi, Cloud dengan sigap langsung bertindak. Dia segera terbang mendekati pusaran angin dan menggunakan salah satu sihirnya untuk menghancurkan tornado itu hingga lenyap tak tersisa. Tetapi monster ini sepertinya terlalu pintar, karena tidak lama setelah itu, ia kembali membuat tornado lain yang akhirnya telak mengenai Cloud.
Tubuh Cloud terbawa ke langit dan terpental ke arah yang berlawanan. Sebelum terpental lebih jauh lagi, Riku segera terbang dan menggenggam kedua tangan Cloud begitu erat. Wajah Cloud sempat terlihat pusing sesaat sampai akhirnya dia mengangguk sebagai ganti kata 'terima kasih'.
"Faktor usia ya?" sindir Riku sambil tersenyum. "Baru kali ini aku melihatmu seperti ini."
"Huh, mungkin. Tetapi daripada mempermasalahkan itu, lebih baik pikirkan cara untuk mengalahkan makhluk ini."
"Kairi dan Sora juga membicarakan ini, aku sendiri juga sudah memperhatikan pertarungan kalian daritadi dan belum mendepat jawabannya."
"Kau mendengarnya?"
"Pendengaranku sama tajamnya dengan kalian, jangan lupakan itu."
Cloud tidak menjawab dan melepaskan kedua tangannya dari genggaman Riku. Ia mempersiapkan senjatanya kembali.
"Sebenarnya ada sesuatu yang menarik perhatianku," kata Riku.
"Apa?"
"Kau masih ingat bola kuning yang tenggelam ke dalam pasir tadi?"
Cloud menganggukkan kepalanya.
"Entah kenapa, aku merasa kalau bola kuning itu adalah energi sihir yang dikirim oleh seseorang yang memiliki kekuatan besar."
"Atas dasar apa kau bisa berkata begitu?"
"Auranya. Aku merasakan aura yang hebat dari sana, sama seperti Namine. Tetapi, itu bukan aura yang dimiliki vampir atau kaumku."
"Begitu ya."
"Tapi tetap saja aku tidak mengerti bagaimana cara untuk mengalahkannya. Sialan."
"Jangan khawatir," kata Cloud sambil tersenyum. "Informasi itu sudah cukup bagiku."
"Apa?"
"Kubilang, informasi itu sudah cukup bagiku."
"Apanya yang—"
Sebelum menyelesaikan pertanyaannya, Cloud sudah terbang kembali meninggalkan sosok Riku yang kebingungan. Wajah Cloud terlihat begitu puas. Seperti detektif yang baru saja menemukan petunjuk untuk memecahkan kasus. Dasar, setidaknya kan dia bisa memberitahu apa yang sebenarnya dia pikirkan. Begitulah isi pikiran Riku sambil melipat tangannya.
Tapi... ya sudahlah. Lagipula, wajahnya terlihat begitu puas. Di tubuhnya juga tidak ada luka-luka, jadi dia tidak perlu menggunakan sihir penyembuhannya. Riku terbang kembali ke sisi Tifa dan Namine. Tifa memasang wajah penasaran.
"Kalian bicara apa tadi?" tanya Tifa.
"Bukan apa-apa," jawab Riku. "Namun satu hal yang pasti, kita akan memenangkan pertarungan ini sebentar lagi."
Mendengar itu, Tifa malah semakin heran. Dan akhirnya, dia memutuskan untuk tidak menanyakannya lebih jauh lagi dan kembali mengawasi keadaan.
Di lain tempat, Vanitas masih terus-terusan menyerang monster keras kepala ini. sebelumnya ia mengira kalau ia bisa melewati monster ini begitu saja dan diam-diam memasuki gua, tetapi ternyata tidak semudah itu. Karena ketika dia melakukannya, tiba-tiba saja sebuah tembok raksasa dari pasir langsung menghalanginya. Dan karena konsentrasinya kuat, tembok itu tidak bisa dihancurkan. Kairi, Sora, dan Roxas juga sama sekali tidak bisa mencuri kesempatan. Kalau begini bisa-bisa tenaga mereka habis bahkan sebelum setengah perjalanan menuju Xehanort. Jujur saja, Vanitas sedikit merasa kelelahan. Napasnya mulai tersengal-sengal, dan tangan serta kakinya mulai lemas.
Vanitas mencoba untuk melupakan rasa lelahnya dan kembali maju sambil menyerang di berbagai titik. Dia tidak boleh menyerah di sini. Tidak boleh! Dia harus bisa mengalahkan Xehanort untuk menyelamatkan dunia manusia. Dia harus mengalahkan Xehanort sampai tak tersisa dengan antek-anteknya. Dia harus bisa melakukannya, agar dia bisa bertemu lagi dengan wanita yang begitu dicintainya. Xion.
Entah apa yang dilakukannya sekarang. Apakah di sana aman? Apakah dia baik-baik saja? Entah kenapa, Vanitas diliputi oleh firasat yang aneh. Aneh dan tidak menenangkan, membuatnya begitu gelisah. Apakah terjadi sesuatu dengannya selama dia pergi?
Selagi dilanda perasaan itu, Vanitas tidak mendengar teriakan saudara-saudaranya akan bahaya yang ada di depannya. Sebuah kepalan tangan raksasa menerjang ke arahnya dan siap untuk mengenainya dalam waktu dekat. Dan akhirnya? Serangan itu sukses membuatnya terpental dan jatuh ke atas gunung pasir. Tidak begitu sakit, tetapi cukup sulit bagi Vanitas untuk bangun dan mengepakkan sayapnya karena tubuhnya yang tertimbun pasir. Sekitar sepuluh menit kemudian, barulah dia bisa lolos dengan sukses.
"Firaga!"
Letusan api tiba-tiba saja muncul dari pundak monster pasir itu dan mengagetkan Vanitas. Ternyata itu adalah ulah Cloud.
"Bukan, Firaga!"
Letusan kembali muncul, tetapi kali ini di bagian kepala. Tidak lama setelahnya, Cloud kembali menggelengkan kepalanya.
"Sekali lagi, Firaga!"
Kali ini di bagian dada, tetapi ada yang aneh. Bagian dadanya tidak hancur seperti bagian tubuh yang lainnya. Oh ya, omong-omong, Vanitas dan yang lain memang terus-terusan menyerang, tetapi belum pernah menyerang bagian dada.
"Seperti yang kuduga," gumam Cloud. "Vanitas, Sora, Kairi, Roxas, kemari!"
Mendengar itu, Vanitas segera terbang ke sisi Cloud. Diikuti oleh yang lainnya.
"Ada apa, tou-san?" tanya Kairi. "Kau menemukan sesuatu?"
"Ya, dan itu adalah cara untuk mengalahkan monster ini."
Semuanya memasang wajah kaget.
"Ba—bagaimana caranya?" tanya Sora.
"Kalian perhatikan ketika aku menyerang dadanya tadi? Bagian dadanya ternyata lebih keras daripada yang lainnya. Atau mungkin sengaja dikeraskan."
Sora memiringkan kepalanya. "Lalu?"
"Itu adalah tanda kalau ada sesuatu yang disembunyikan dibalik sana ya?" tanya Vanitas sambil melipat tangannya.
"Yup, kau memang pintar."
"Kalau begitu, kita tinggal menyerang dadanya saja?" tanya Roxas. "Itu soal mudah, biar kulakukan."
"Tunggu dulu, kita tidak bisa main sembarangan menyerang. Bisa-bisa tenagamu akan terbuang percuma."
"Lalu aku harus bagaimana?"
Cloud menatap anaknya secara bergantian. "Kita semua akan menggunakan sihir, kecuali Roxas. Roxas, kau berdiri di belakang kami sampai aku memberikan aba-aba untuk menyerang."
"Menyerang? Menyerang apa?"
"Kau akan tahu sendiri nanti," kata Cloud yang setelahnya menatap Kairi. "Kairi, kau bisa melakukan sihir membekukan, kan?"
"Iya, apa itu berguna?"
"Gunakan saat aku perintahkan."
"Eh? Em, aku mengerti."
"Bagus," kata Cloud. "Kita bisa mulai sekarang."
Semua orang menganggukkan kepalanya, dan kemudian mereka membentuk formasi terpisah untuk mengincar dada sang monster. Sementara Roxas, dia berdiri di belakang Vanitas. Cloud berada di posisi paling kiri, yang juga dekat dengan pintu masuk gua. Masing-masing mengarahkan keyblade mereka, membuat monster itu kebingungan.
"Serang sekarang!"
Keyblade mereka memancarkan sinar, dan kemudian muncullah berbagai macam sihir. Sesuai perintah Cloud, mereka mengarahkannya ke dada. Berbagai elemen sihir mereka gunakan, tetapi pasirnya tidak juga hancur. Jangankan hancur, bahkan sepertinya tidak bergeming sama sekali. dan mungkin karena itulah, monster itu juga terus menghalau mereka dengan tangannya.
"Sial, tidak bergeming sama sekali," kata Vanitas. "Tou-san! Bagaimana ini ? !"
"Terus serang saja! Tapi kalian juga harus berhati-hati dengan serangan monster itu!"
Kairi menghindari tangan pasir yang hampir saja menangkapnya. "Uh, rasanya pasir di dadanya terlalu kuat. Sora, bagaimana denganmu?"
"Sama, sihirku tidak memberi efek apa-apa."
"Apa sihir kita kurang kuat untuk menghancurkannya?"
"Sial, kita tidak bisa membuang-buang waktu seperti ini."
Mereka semua terus mengarahkan sihir ke area dada. Dan di tengah-tengah pertempuran, tiba-tiba Riku muncul di samping Vanitas. Membuat Vanitas kaget.
"Riku? Apa yang kau—"
"Kalian memang tidak bisa apa-apa tanpa aku ya?"
Riku mengarahkan keyblade miliknya, dan kemudian, muncul cahaya berwarna putih dari sana.
"Corrosive!"
Cahaya berwarna putih keluar dan tepat mengenai dada monster itu. Tetapi sepertinya itu bukanlah sihir serangan, karena tidak ada e—fek?
"Kurasa sekarang kalian bisa mengatasinya, kan?"
Meski perlahan, pasir di dada monster itu terkikis sedikit demi sedikit. Ternyata sihir itu adalah sihir untuk melemahkan pertahanan sedikit demi sedikit.
"Trims," ucap Vanitas.
"Euh, apa aku tidak salah dengar?"
Riku segera terbang kembali ke posisinya. Sementara itu, Vanitas tersenyum kecil dan kembali melancarkan serangannya.
Sihir dari Riku sungguh hebat. Dan kali ini, serangan mereka semua memperlihatkan hasil yang diharapkan. Pasir itu terkikis dan terus terkikis, sampai akhirnya tercipta lubang yang cukup besar dan memperlihatkan sesuatu dibaliknya.
Sebuah bola berwarna kuning yang bersinar terang.
Itu dia!
Telepati Namine membuat mereka menghentikan serangan mereka untuk sementara.
Bola itu adalah sumber kekuatannya! Kalau kalian serang, maka monster itu akan hancur!
"Akhirnya ya?" tanya Cloud.
Tetapi kalian harus melakukan sesuatu dengan pasirnya. Karena kalau tidak, pasir itu akan menutup kembali dan serangan kalian akan sia-sia!
"Tenang saja, aku sudah mengantisipasi hal itu," kata Cloud. "Kairi, lakukan tugasmu."
"Baik."
"Roxas, kawal Kairi!"
"Siap!"
Kairi dan Roxas terbang dengan kecepatan tinggi menuju ke lubang yang telah mereka buat. Dan sepertinya karena monster itu menyadari rencana mereka berdua, dia menciptakan pedang dari pasir yang jumlahnya sangat banyak untuk diarahkan pada mereka. Roxas langsung menangkisnya satu persatu. Sementara Kairi, dia tengah mempersiapkan sihirnya. Karena sihir pembekuan itu memakan sedikit waktu sampai akhirnya bisa digunakan. Terbang dengan cepat sambil merapalkan mantera, itu semua adalah hal yang tidak mudah untuk dilakukan bahkan oleh vampir penyihir sekalipun. Karena itulah Kairi memerlukan seseorang untuk membantunya. Jarak tempuh sihirnya yang pendek adalah alasan dia harus terbang mendekat.
Keyblade Roxas masih terus beradu dengan pedang-pedang pasir. Dan tinggal sedikit lagi, mereka akan sampai pada jarak yang tepat bagi Kairi untuk menembakkan sihirnya. Tetapi semakin dekat, semakin sulit juga rintangannya. Selain pedang dari pasir, kali ini monster itu juga menciptakan kapak raksasa. Ukurannya yang besar dan gerakannya yang cepat cukup membuat Roxas kerepotan. Sihir Kairi sebentar lagi akan siap untuk digunakan. Dan kini, mereka telah berada di posisi yang tepat. Pasirnya sudah bergerak menutupi setengah dari lubang itu.
Kairi! Kau harus menembaknya sekarang!
"Ya!"
Kairi mengarahkan keyblade miliknya. Tetapi tiba-tiba saja, sejumlah pisau pasir terbentuk tepat di belakang Kairi. Mata Sora yang melihatnya langsung melebar. Tanpa pikir panjang, dia langsung terbang ke arah Kairi menembus kerumunan senjata-senjata pasir di sekeliling Kairi dan Roxas.
"Sora! Hentikan!" teriak Cloud.
"Kairi!"
Kairi hampir saja menoleh ketika mendengar teriakan Sora. Tetapi tentu saja, dia memilih untuk menggunakan sihirnya lebih dulu. Cahaya yang ada di keyblade Kairi semakin besar. Sihir Kairi sudah bisa digunakan sekarang. Namun di saat bersamaan, jarum-jarum pasir itu langsung meluncur menuju punggung Kairi.
"Freeze!"
Semuanya terjadi secara bersamaan. Sora yang berusaha secepat mungkin untuk menggapai kekasihnya. Roxas yang terbang menuju ke pusat kehidupan monster itu, diiringi dengan vola sihir pembekuan Kairi. Dan Kairi yang tidak menyadari bahaya yang ada di belakangnya. Secepat apapun Sora terbang, dia tidak akan sempat menyelamatkan Kairi. Hanya tinggal beberapa mili sampai jarum-jarum itu menusuk punggung Kairi. Dan akhirnya...
"Slowga!"
Bersamaan dengan teriakan itu, gerakan jarum-jarumnya tiba-tiba menjadi melambat. Tanpa memikirkan dan mempedulikan sebabnya, Sora meningkatkan kecepatan terbangnya dan kedua tangannya segera menangkap Kairi. Kairi yang kaget hanya bisa menatap Sora yang tengah menggenggamnya erat.
"Sora, apa-apa—"
"Kau hampir saja terluka parah, bodoh."
"Terluka parah?"
Sora membalikkan tubuhnya. "Lihatlah itu."
Kairi merasa heran dengan perkataan Sora. Sampai ketika dia melihat jarum-jarum pasir itulah, Kairi mengerti. Apalagi, jarum-jarum itu sudah tidak melambat lagi. Jika saja Sora tidak segera menangkapnya, pasti... yah, sesuai yang dikatakan Sora, dia akan terluka parah.
Ketika perhatian Kairi masih terarah pada jarum-jarum itu, tiba-tiba saja dia dikagetkan dengan wajah Sora yang mendekatinya. Dan kemudian, bibir mereka saling menempel.
"Jangan menakutiku lagi, mengerti? Aku tidak tahu apa jadinya hidupku jika aku kehilangan dirimu."
Kairi tersenyum. "Maafkan aku. Aku akan lebih hati-hati. Tetapi, bagaimana dengan Roxas?"
"Ah, benar juga."
Sora dan Kairi mengalihkan perhatian mereka ke Roxas. Sihir pembekuan Kairi bekerja dengan baik. Es menyelimuti pasir yang ada di sekeliling lubang sehingga tidak bisa menutup. Dan Roxas, dengan keyblade miliknya, menusuk bola berwarna kuning itu tepat di bagian tengah-tengah. Berhasil.
Roxas segera mencabut kembali keyblade miliknya dan pergi menjauh. Gerakan monster pasir itu terhenti, dan dari tangannya, terlihat pasir yang mulai terkikis sedikit demi sedikit. Mulai dari tangan, dada, kepala, dan akhirnya monster pasir itu hancur dan menyatu dengan kolam pasir di sekelilingnya. Mereka semua menghela napas. Akhirnya mereka bisa memasuki pintu masuk gua itu. Namun, ketika melihat kondisi Vanitas, Roxas, Kairi, dan Sora, niat itu mereka urungkan.
Namine, Riku, dan Tifa segera terbang untuk berkumpul dengan yang lain. Dan kondisi Vanitas, Roxas, Sora, dan Kairi benar-benar terlihat lesu dan sangat lelah. Mereka memang menggunakan tenaga mereka dalam jumlah besar, dan karena stamina mereka tidak sekuat Cloud, tentu saja mereka akan merasa lelah. Riku menghembuskan napas dan kemudian maju mendekati mereka berempat.
"Revive."
Cahaya berwarna ungu muda muncul dari dalam tubuh mereka berlima. Dan setelahnya, ekspresi lelah yang ada di wajah mereka benar-benar menghilang sama sekali. Vanitas yang tadinya hampir kesulitan mengangkat tangannya, langsung merasa jauh lebih segar dan tubuhnya terasa ringan. Begitu juga dengan Kairi, warna wajahnya kembali seperti semula. Tidak seperti sebelumnya yang benar-benar pucat. Wew, seperti biasa. Sihir penyembuhan Riku memang sangat berguna.
"Apakah itu cukup?" tanya Riku.
"Sangat, terima kasih," jawab Cloud. "Memiliki kau dalam tim kami memang sebuah keuntungan besar."
"Itu bukanlah sesuatu yang besar. Lagipula ada yang lebih penting lagi, kita harus segera masuk ke sana dan mencari sumber untuk melenyapkan badai pasir."
"Ya, kau memang benar. Kita harus segera masuk sekarang."
Mereka semua mengangguk, dan kemudian mereka terbang ke arah pintu masuk gua dan mendarat tepat di depannya. Jika dilihat dari luar, di dalam gua sungguh terlihat gelap. Tetapi berhubung mereka bukan manusia, mereka masih dapat melihat dengan jelas. Jadi Kairi tidak perlu menggunakan sihir untuk penerangan.
Berhubung ini adalah gua, mereka kira perjalanannya akan panjang dan berliku-liku layaknya dungeon dalam dunia game. Tetapi ternyata mereka salah. Tidak sampai sepuluh menit mereka berjalan, mereka sudah bisa melihat seberkas cahaya yang ada di ujung pintu gua. Penasaran, mereka mempercepat langkah dan segera mencari tahu asal cahaya itu. Cahayanya tidak terlalu terang dan berwarna kuning kecokelatan. Mungkinkah mereka benar-benar sudah tiba di tempat tujuan mereka?
Langkah kaki mereka terus terdengar dan menggema di dalam gua. Dan akhirnya, mereka dapat melihat jelas sumber dari cahaya yang kelihatannya berwarna agak keruh itu. Di dalam ruangan di ujung gua.
Sebuah kristal berbentuk segienam tengah melayang tepat di tengah-tengah ruangan gua yang begitu luas. Mereka semua terperangah dengan kristal itu. Baru kali ini mereka melihatnya, indah sekali. Sebelumnya mereka memang sempat berpikir kalau cahayanya memang keruh, tetapi sungguh. Kristalnya memang indah sekali.
"Apakah itu kristalnya?" tanya Kairi. "Cantik sekali. Warnanya sungguh mencerminkan padang pasir ini."
"Ya, kau benar," kata Cloud. "Dan jika benar, berarti inilah sumber kekuatan dari padang pasir itu. Kita harus segera menghancurkannya."
Sora mengangguk. "Mau aku yang melakukannya?"
"Yah, silahkan. Lagipula kelihatannya tidak ada apa-apa dari kristal itu."
"Baiklah, kalau begitu ini adalah tugas yang mudah."
Sora meloncat dan terbang menuju ke kristal. Dan dengan mudahnya, dia langsung menebas kristal itu dengan keyblade miliknya hingga terbelah dua. Benar-benar... mudah?
"Oke! Kita berha—"
GRUK!
GRUK!
Tiba-tiba saja gua yang mereka tempati bergetar begitu hebat layaknya terkena gempa bumi. Dan tidak hanya itu, gua ini juga runtuh! Ternyata kristal itu bukan hanya menciptakan badai pasir yang menghalangi jalan keluar, tetapi juga menjaga keberadaan gua ini. Wajah Cloud langsung menggumamkan kata 'sial'. Dan lagi, gua ini runtuh dengan sangat cepat sehingga mereka sepertinya tidak akan sempat lagi untuk kabur.
"Semua! Berdiri di dekatku!" teriak Riku tiba-tiba.
"Tapi kita harus keluar secepatnya!" teriak Roxas. "Kalau kita hanya diam bisa-bisa—"
"Jangan banyak omong! Cepat kemari atau kita semua akan mati di sini!"
Mereka semua terdiam dan terkejut, tetapi akhirnya menurut. Mereka memang tidak bisa melakukan apa-apa, terutama dalam mencari jalan keluar yang sudah tertimbun oleh tumpukan batu. Untuk ketiga kalinya Riku mengeluarkan keyblade miliknya lagi, dan kemudian dia mengarahkannya ke langit-langit.
"Teleport!"
Dalam sekejap mata, mereka semua langsung berpindah tempat dari dalam gua, dan kini mereka sudah berada di luar. Vanitas menatap sekelilingnya dengan tak percaya. Baru kali ini dia melihat sihir seperti itu. Dan tepat di bawah mereka, adalah gua yang tadi mereka masuki. Gua itu sudah hancur dan lenyap.
"Hampir saja," kata Riku. "Jika aku terlambat menggunakannya sedetik saja, mungkin kita akan benar-benar mati."
Cloud tersenyum. "Terima kasih lagi, Riku."
"Sudah kubilang itu bukan sesuatu yang besar. Yang penting, sekarang kita bisa melanjutkan perjalanan, kan?"
"Yup, kau memang benar."
Mohon isi kotak review yang dibawah ya, makasih.
