Dokter Lee bilang tidak ada lagi waktu untuk unit gawat darurat. Ia yang sudah memeriksa Yoongi secara kilat mengatakan 'ya' bahwa jagoan kecil Jimin bersama Yoongi itu akan segera lahir mendadak.

Jimin tentu saja terpaku.

Terlebih ketika ia tanpa sadar dan berani mengatakan bahwa dirinya akan menemani Yoongi selama proses persalinan operasi tersebut secara caesar.

Ya, Jimin akan melakukannya. Demi Yoongi dan juga bayinya.

.

"Jimin... Jangan tinggalkan aku."

.

.

.

.

Jimin | Yoongi | Boy's Love | As Sweet As Sugar's Sequel! | This gonna be Mpreg. Do you want to, don't you? | I don't take any profit with this chara | AU | R-18 | Beware! '-')/

.

Do not republication! Do not plagiarize!

.

Enjoy!

.

.

.

.

Yoongi merasa setiap detiknya yang berlalu terasa begitu menyakitkan di seluruh tubuhnya, terutama bagian perut besarnya saat ini. Rasanya seperti diputar-putar dari dalam dan ingin meledak!

Yoongi bahkan sampai tak bisa bereaksi apa-apa lagi selain berteriak melampiaskan rasa sakitnya dan menggenggam jemari Jimin yang bertaut dengannya seerat yang ia bisa. Lalu menatap pemuda itu yang sedari tadi hanya diam menatap lurus kearah Yoongi dengan pandangannya yang mengeras dan tegang. Tetapi ada perasaan teramat khawatir yang sarat akan cinta dari sorot mata gelap yang Yoongi sukai itu.

Dalam suasana terburu-buru itu Jimin diminta untuk melapisi pakaiannya dengan pakaian operasi. Begitu juga dengan Yoongi yang masih mengeluh kesakitan itu dibantu oleh dua perawat lain berganti pakaian.

Astaga, Jimin sungguh tak tega menatapnya. Yoongi yang terbaring kesakitan, wajah penuh dengan keringat yang membasahinya, dan Yoongi yang sampai mengeluarkan airmatanya karena merasakan sakit yang tak bisa Jimin rasakan bagaimana sakitnya sang kekasih.

Jimin sungguh merasa tak tega. Apalagi menatap Yoongi yang terus mencengkeram perutnya sendiri itu dituntun untuk berbaring miring. Dibantu oleh dua orang perawat pendamping dan dokter Lee sendiri. Jimin diperintah untuk menyingkir lebih dulu sementara dua orang perawat lain memegangi kedua tangan Yoongi dan bahunya lalu membawa Yoongi berbaring miring dan agak mendorong bahu Yoongi untuk membungkuk lalu mengangkat baju operasi yang dipakainya itu untuk memperlihatkan punggung Yoongi. Sedangkan dokter Lee si tampan itu sedang menyiapkan sebuah jarum suntik.

Jimin menatapnya terkejut. Untuk apa ia disuruh menyingkir dan Yoongi dipaksa berbaring miring membungkuk seperti itu? Bukankah hal itu akan membuat Yoongi semakin pengap dan kesakitan? Lalu hei—kenapa punggung Yoongi terdapat memar kemerahan di kulit punggungnya yang pucat itu?

Astaga, Jimin rasanya semakin tak mengerti saja dengan keadaan Yoongi dan hanya bisa semakin khawatir dibuatnya.

Jimin lalu menengok kearah dokter Lee untuk meminta penjelasannya. "Dokter—"

"Tenanglah, Jimin-ssi. Aku hanya memberinya anesthesi epidural dan itu memang dilakukan dari punggung belakangnya—oh kenapa Yoongi-ssi bisa memar begini?" Dokter Lee meraba tulang punggung belakang Yoongi dengan kapas beralkohol. Lengannya yang berlapiskan sarung tangan putih itu memegang jarum suntik. Mencari spot untuk menyuntikkan obat anesthesi epidural yang akan membius tubuh Yoongi dari bagian perut sampai kakinya.

Yoongi meringis kesakitan merasakan keadaan tubuhnya sendiri yang tak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Ia hanya bisa mendesis menahan sakit begitu sebuah jarum menyentuh kulit punggungnya.

Setelah dokter Lee menyuntikkan anesthesinya, Yoongi segera dibaringkan lurus kembali. Dan Jimin segera menarik kursi untuk mendampingi Yoongi kembali.

Sang perawat segera membawa sebuah tirai pembatas putih sebatas dada Yoongi untuk menghalangi proses operasi bedah caesar. Dokter Lee mempersiapkan alat-alat lain yang dilihat Jimin dengan sekilas tanpa mengerti apa itu. Yang hanya Jimin tahu salah satu perawat memasang alat infus transfusi di lengan kiri Yoongi.

.

Yoongi mulai merasakan tubuhnya terasa kebas secara perlahan. Nafasnya mulai beraturan naik turun dan Yoongi bisa melihat tirai yang menghalangi perutnya juga cahaya lampu terang dapat ia lihat menggantung ditengah-tengah ruangan menyinari dirinya.

Yoongi lalu menatap ke samping. Di sisinya ada Jimin yang menggigit bibir bawahnya dan menatap Yoongi khawatir. Menggenggam sebelah tangan Yoongi dengan kedua tangan Jimin yang mengapitnya erat.

"Jim..."

Yoongi memanggil pelan. Suaranya begitu sendu seolah memanggil Jimin dengan hati-hati agar pemuda itu tak pergi dari sisinya.

Jimin membalas panggilan itu dengan mengecup punggung tangan Yoongi dengan lama. "Aku disini, Yoongi-hyung. Disisimu."

Yoongi menarik kecil sudut bibirnya membentuk senyuman tipis mendengar perkataan Jimin dan perlakuan sayangnya yang selalu melimpah.

Tetapi memikirkan hal itu membuat sisi lain Yoongi merasa sedih. Apalagi melihat Jimin yang sekhawatir ini padanya. Yoongi jadi merasa bersalah karenanya.

"Jimin... Bayinya..." Yoongi menggigit bibir bawahnya, kedua matanya mulai berembun. Mendengar suara dentingan pisau bedah yang beradu membuat Yoongi semakin sendu. Sadar bahwa bayi yang selama ini dikandungnya akan lahir. Tetapi yang membuat Yoongi Yoongi semakin khawatir adalah bayinya lahir karena kesalahan Yoongi.

"Ada apa? Bayi kita akan lahir seharusnya kau senang bukan?" Jimin tersenyum menenangkan. Menciumi telapak tangan Yoongi dengan sayang. Lalu membisikinya kata cinta tanpa henti agar Yoongi mengalihkan dirinya dari suara berisik dokter dan perawat lainnya yang sedang melakukan proses persalinan. Sebenarnya Jimin juga melakukan itu untuk mengalihkan dirinya. Jimin juga merasa takut dengan proses persalinan itu untuk pertamakalinya.

Yoongi menggeleng pelan. Matanya yang berembun mulai membentuk butiran hangat yang terjatuh dari kedua sudut matanya mengalir membawa perasaan sedih. Menangis.

Jimin yang melihat itu segera membawa telapak tangan hangatnya mengusap pipi Yoongi. Mengusap airmata Yoongi dengan ibujarinya. Yang malah membuat Yoongi terus merasa ingin menangis.

"Aku salah. Bayinya bukan lahir hari ini, Jim. Seharusnya aku tidak jatuh saat itu, seharusnya aku tidak ceroboh, seharusnya aku bisa menjaganya sampai dua minggu lagi, seharusnya aku—"

"Hentikan Min Yoongi," Jimin menatap lurus kearah Yoongi yang masih menggeleng pelan dan menangis tanpa suara itu. Masih dengan menghapus setiap bulir airmatanya. "Tidak ada yang salah disini. Memang hari ini jagoan kecilku akan lahir."

Jimin membawa dirinya untuk mengecup kening Yoongi dengan lama. Memberinya ketenangan penuh kasih sayang dengan bisikan cinta tanpa batas.

Yoongi hanya bisa menganggukkan kepalanya kalau Jimin sudah menenangkannya seperti ini. Tetapi jauh didalam perasaannya Yoongi masih tetap khawatir akan jagoannya.

Yoongi memejamkan kedua matanya erat. Mendengar dengan seksama suara dentingan dalam proses operasinya. Lalu berdoa dalam hati bahwa kebaikan akan selalu bersamanya. Dan keluarga kecilnya.

.

Yoongi terkejut begitu mendengar suara tangisan kecil yang terdengar nyaring setelah sekian lama ia berbaring terbius. Yoongi menatap Jimin yang dibalas dengan tatapan antusias dan senyuman sumringah dari pemuda itu.

Jimin segera saja menoleh kearah sang dokter untuk menanti sebuah ucapan. "Dokter Lee—"

"Suster, nyalakan satu inkubator dan bersihkan bayinya disini lalu segera laporkan padaku statusnya. Lalu kau, berikan obat penenang untuk Yoongi-ssi sampai ia tertidur. Aku akan membereskan lukanya disini. Cepat!"

Dokter Lee terdengar memberikan perintah dengan tegas dan cekatan. Jimin sampai tak berani untuk mengganggunya. Tetapi... Jimin tak mengerti hal ini, bayinya harus masuk inkubator?

"Jimin..." Suara pelan Yoongi menyadarkan Jimin dan segera menoleh kearahnya kembali. Satu orang perawat telah menyuntikkan sesuatu ditangan Yoongi. Membuat Yoongi terlihat semakin sayu dan merasa berat di kedua kelopak matanya.

"Jagoan tidak apa-apa? Kenapa dokter Lee terlihat buru-buru? Ada apa?" Yoongi bertanya dengan khawatir.

Jimin menggeleng dan tersenyum hangat. Meyakinkan Yoongi bahwa semua telah baik-baik saja.

"Jangan khawatir..." Jimin mengecup lengan Yoongi kembali. "Kita akan menyapa jagoan setelah kau beristirahat oke?"

"Tapi—"

"Ssst." Jimin menggeleng pelan. "Semua baik-baik saja. Ayo kita beri nama untuk jagoan kecilku ini. Kau ingin nama seperti apa?"

Ucapan antusias Jimin mau tak mau membuat Yoongi tersenyum kecil mendengarnya. Lalu tanpa banyak berpikir kembali, Yoongi menyebutkan sebuah panggilan yang sering Jimin lontarkan padanya.

"Mingi. Minki. Kebijaksaan yang menyentuh langit—" Yoongi berucap pelan, namun perkataannya dipotong dan dilanjutkan oleh Jimin.

"Dan bersinar dalam kehidupan yang baik." Lanjut Jimin dengan senyumannya lalu kembali mengecup kening Yoongi dengan sayang. "Namanya Park Minki."

"Ya, Park Minki." Yoongi berbisik pelan sebelum memejamkan kedua matanya karena obat penenang yang disuntikkan padanya.

Jimin menyudahi kecupannya. Menatap Yoongi yang tertidur itu dengan terus tersenyum. Mengusap surai sehalus suteranya dengan sayang.

Jimin lalu berdiri perlahan menghampiri seorang suster yang sedang mengeringkan seorang bayi mungil yang masih merah dan menangis itu.

Jimin dengan ragu mengulurkan tangannya untuk menyapa lengan mungil bayi itu. Dan ketika jemari jimin bersentuhan dengan lengan mungil itu, bayi yang diberi nama sebagai Park Minki itu berangsur menghentikan tangisnya. Membuat Jimin tersenyum haru dibuatnya. Lalu menghitung setiap jemari tangan dan kakinya. Menatap wajahnya yang masih kemerahan dengan rambutnya yang hitam lebat seperti Jimin. Sempurna.

"Maaf Tuan Park, bayi anda harus segera dibawa ke ruang inkubator." Suster perawat itu dengan cekatan menyelimuti bayi mungil tersebut dengan sehelai kain yang membungkusnya, lalu meletakkan bayi yang segera terpejam itu ke dalam sebuah boks tidur terbuka yang cukup tinggi dan mendorongnya membawa pergi keluar.

Jimin sedari tadi tak bisa berkata apapun. Jimin lalu menoleh kearah dokter Lee yang sedang menyingkirkan tirai pembatasnya. Jimin bisa melihat bercak banyak darah diatas ranjang yang ditempati Yoongi dan juga sarung tangan yang melapisi lengan sang dokter.

"Dokter—"

"Jimin-ssi, semua baik-baik saja. Ada beberapa hal yang akan aku sampaikan pada kalian. Tetapi untuk saat ini kuharap kau bisa keluar dari ruangan ini sementara aku membereskan semuanya dan memindahkan Yoongi-ssi ke ruang perawatan." Jelas dokter Lee dan tersenyum kearah Jimin. "Dan juga selamat untuk bayi laki-laki kalian."

Jimin balas tersenyum lalu membungkuk kemudian kearah dokter tampan tersebut. "Te-terima kasih, Dokter Lee."

.

Jimin segera melepas pakaian operasi yang melapisinya lalu menghela napas panjang dengan lega. Namun belum sempat ia menuju kursi duduk di koridor rumah sakit tersebut, Jimin telah lebih dulu melihat ibunya yang menghampirinya dari ujung koridor. Junsu yang berjalan cepat kearah Jimin dengan menenteng tas putih berukuran sedang ditangannya.

"Jimin!" Junsu meletakkan tas yang dibawanya itu keatas lantai begitu saja lalu merentangkan tangannya untuk memeluk Jimin. Lalu bertanya pelan sembari menepuk-nepuk punggung anak sulungnya itu. "Kau terlihat pucat, nak. Apa semua baik-baik saja?"

Jimin tersenyum dan balas memeluk ibunya itu. "Ya, eomma. Semuanya baik-baik saja."

Junsu menghela napas lega. Melepas pelukannya dan menatap Jimin dengan pandangan haru. "Anakku memang yang terbaik!"

Mereka berdua lalu duduk di depan ruang rawat Yoongi selagi menunggu Yoongi untuk tersadar. Membicarakan semua tentang kekhawatiran Jimin sejak menjemput Yoongi hingga proses kelahirannya selesai. Sedangkan Jagoan kecil Jimin masih berada di ruang inkubator. Dokter Lee bilang bayinya tidak apa-apa meski kelahirannya harus terjadi lebih awal dari yang dijadwalkan. Karena masih terhitung prematur, bayinya harus menginap di ruang inkubator untuk beberapa jam kedepan agar sang bayi bisa beradaptasi dengan udara dan suhu di luar kandungan.

Junsu juga bilang, bahwa ia telah membeli beberapa perlengkapan bayi seperti baju piyama, sarung tangan dan kaki, topi rajut, selimut, botol susu, minyak bayi sampai shampo bayi untuk baby Minki. (Junsu jadi berpikir kenapa Yoochun memberikan nama untuk kedua putra mereka dengan nama Jimin dan Jihyun. Terdengar seperti nama perempuan. Dan kini Jimin memiliki bayi yang diberi nama Minki. Padahal mereka semua laki-laki.)

Junsu juga mengatakan kalau esok hari Yoochun dan juga Jihyun akan ke Seoul untuk menengok Yoongi dan bayinya.

Jimin merasa cukup lega. Ia bahagia. Keluarga kecilnya terasa sempurna dengan kehadiran seorang buah cintanya bersama Yoongi. Jimin berjanji bahwa ia akan selalu melindungi mereka, selamanya.

.

Ah, tentu saja Jimin tak lupa untuk mengabari seluruh teman-temannya bahwa jagoan kecilnya telah lahir ke dunia.

Jimin lalu membuat sebuah photo moment dalam akun Path miliknya. Memamerkan potret bayi mungil yang masih merah itu sedang tertidur pulas dalam bungkusan selimut berwarna baby blue.

.

Meet the world, Park Minki!

Birthdate : May, 1. 11:15

Height/Weight : 47.5cm/3700grams

With Love,

Dad & Mom

Park Jimin & Min Yoongi

.

.

Komentar-komentar banyak berdatangan setelah Jimin mengupload foto bayi mungilnya.

Kim Namjoon : Congrats, Little fams! He looks swagger baby just like his mom.

Seokjin Kim : selamat untuk kalian! Aku dan Kookie akan mengunjungi kalian nanti! Aaah kiyowo~

Hosiki Jung : owaaah kiyowo kiyowo baby~ tetapi dia benar laki-laki? Kenapa namanya Minki? O_O

Myungsookim : selamat untuk kalian! Sebentar lagi aku juga punya baby!

Jungkookie : baby kenapa lahir saat Kookie masih di hari ujian? ;(

Seokjin Kim : Myungsookim jinjja? Sungyeol sedang hamil?!

Jungkookie hei nak, katanya tidak akan memegang ponsel selama ujian hm?

Myungsookim : Jin, kita menunggu bayi adopsi...kalaupun Yeolli bisa hamil, sepertinya ia tidak akan mau hahaha.

KimtaeHyung : YEAHHH bayinya benar-benar datang! XD tunggu oppa mengunjungimu ya baby minkiii~

Jim! Sampaikan salamku untuk Yoongi-hyung!

JiminPark : teruntuk si mancung sialan kenapa bisa berteman denganku disini?!

Dan anakku itu laki-laki. Jadi... KIMTAE PLS PANGGILAN OPPA UNTUKMU ITU MENJIJIKKAN.

Myungsookim : siapa si mancung sialan?

.

.

Yoongi hampir tertidur selama satu setengah hari penuh. Dan ketika ia membuka kedua matanya, ia langsung bersitatap dengan Jimin. Dan ketika ia mengedarkan pandangannya mengelilingi ruangan Yoongi bisa melihat ada keluarga Park disana. Kedua mertuanya dan adik iparnya yang ceria itu menatap Yoongi dengan senyuman. Yoongi juga bisa melihat keberadaan kakak kesayangannya.

Ah, rasanya begitu hangat dikelilingi keluarga yang kau sayangi.

Jimin semakin menarik kursinya mendekati ranjang Yoongi. Kembali menggenggam hangat tangannya.

"Yoongi-hyung?" Panggil Jimin pelan.

Yoongi tersenyum kecil. Wajahnya masih pucat dan begitu sayu.

"Jimin... Minki-ya?" Yoongi bertanya, lalu berusaha bangkit terduduk meskipun berakhir dengan ringisan kesakitan.

"Ah, Yoongi-hyung jangan terlalu memaksakan diri." Jimin mencoba mencegah. Namun junsu segera menghalanginya.

"Tidak apa-apa, Jim. Sehabis operasi caesar memang butuh banyak pergerakan." Junsu tersenyum kearah Yoongi lalu memeluknya sekilas dengan sayang.

Yoongi tersenyum mendengarnya. Bekas jahitan diperutnya terasa menyakitkan. Tetapi tidak sesakit ketika ia merasa akan melahirkan seperti kemarin.

"Jadi, dimana Minki?" Yoongi bertanya kembali.

"Baby minki masih berada di inkubator. Dokter Lee bilang malam nanti kita bisa menyentuhnya—"

"Tetapi aku ingin melihatnya!" Yoongi memotong perkataan Jimin dengan cepat. Raut wajahnya berubah cemas dan ketakutan. Mendadak ia merasa emosinya ingin meluap. Yoongi berpikir bahwa jagoan kecilnya itu berada di ruang inkubator pasti sendirian. Bagaimana kalau ia lapar? Atau haus? Atau ia kedinginan? Yoongi merasa begitu khawatir. Sampai rasanya ia sakit kepala memikirkannya.

"Astaga Yoongi-hyung. Jangan memukul kepalamu seperti itu." Jimin menarik kedua tangan Yoongi menjauh dari kepalanya sendiri ketika Yoongi memukulkan kepalan tangannya sendiri ke kepala.

Yoongi menggeleng pelan dengan tatapan sedihnya kearah Jimin.

Junsu juga mendekati Yoongi disisi lainnya. Ia mengusap bahu Yoongi pelan. "Ini hal yang biasa, kau pasti sedang baby blues syndrome. Tenangkan dirimu, sayang. Kita semua pasti akan menjaga si kecil Minki."

"Ya, aku juga!" Seru si bungsu Jihyun dengan cengiran cerianya. Lalu Yoochun juga yang merangkul si bungsu dan memberikan semangatnya pada Yoongi.

"Yoongi-ah, aku juga disini. Kau tahu diriku ini seperti apa, bukan?" Yoonjae membanggakan diri dan tersenyum kearah Yoongi. Ia malah mengacak rambut Jimin yang berada dekat dengannya. "Dan juga bocah ini."

Yoongi jadi tersenyum melihat semua yang ada disana menyemangatinya. Ia masih merasakan sedih dan khawatir akan bayinya. Tetapi Yoongi tahu, ia harus bisa mengendalikan emosinya meski Yoongi sendiri tak mengerti kenapa rasanya begitu khawatir, gelisah, kehilangan dan juga ketakutan menyadari bahwa jagoan kecilnya sudah lahir ke dunia. Bukan berada dalam kandungan dan lindungan dirinya. Tetapi sudah menatap dunia dan akan tumbuh besar menghadapi dunia. Yoongi jadi berpikir gelisah kembali, apa ia bisa membesarkan jagoan kecilnya bersama Jimin dengan baik? Apakah—

"Kau ingat, aku akan selalu bersamamu. Jangan khawatir, sayang..."

Bisikan Jimin membuyarkan pemikiran penuh ketakutan Yoongi terhadap bayinya. Yoongi segera meraih leher Jimin untuk memeluknya. Mencari ketenangan disana dan meyakinkan diri bahwa ia bisa melewatinya.

.

.

Jimin sedang berbicara di ruangan dokter Lee. Dokter tampan itu sedang menjelaskan kondisi Yoongi yang kemungkinan besar mengalami sindrom baby blues. Sindrom dimana ibu pasca melahirkan akan mengalami perasaan khawatir yang begitu dalam karena bayinya tidak berada lagi dalam lindungan kandungannya.

Dokter Lee menyarankan agar Jimin selalu menemani Yoongi dan selalu memberinya pengawasan ekstra. Setidaknya sampai dua minggu kedepan. Jimin sampai harus menunda teman-teman mereka yang ingin mengunjungi Yoongi di rumah sakit. Semua demi kebaikan Yoongi.

"Nah Jimin-ssi, kau ingin menjemput bayimu dan mengantarnya pada ibunya kan?" Dokter Lee bersiap berdiri dari duduknya.

"E-eh sekarang, Dok? Tapi aku—" Jimin ikut berdiri bersama dokter Lee.

"Ayo kita ke ruang inkubator."

.

Jimin menatap bayi mungilnya untuk yang kedua kalinya. Kali ini bayinya terlihat lebih segar daripada pertamakali saat Jimin melihatnya. Kulitnya masih kemerahan dengan rambutnya yang hitam lebat untuk ukuran seorang bayi yang baru lahir sepertinya.

"Ayo Jimin-ssi, kau ingin menggendongnya kan?" Dokter Lee mengambil bayi mungil tersebut dari boks tidurnya dan mengarahkannya pada Jimin untuk digendong.

"Ta—tapi Dok, aku belum pernah menggendong bayi sebelumnya." Jimin mengusap belakang kepalanya dengan ragu. Suaranya membuat bayi mungil yang terpejam itu menjadi terbangun dan menatap sekeliling dengan kedua mata sipitnya yang belum sepenuhnya terbuka. Lalu tak lama kemudian ia menangis keras. Suaranya begitu nyaring saat menangis.

"Tuh 'kan dia menangis. Ayo gendonglah. Sanggah kepalanya dilengan kirimu dan lengan kananmu memeluknya. Seperti ini. Ayo lakukan." Dokter Lee mengarahkan bayi berselimut biru itu untuk berpindah ke gendongan Jimin.

Jimin melakukannya dengan hati-hati. Hal itu membuat bayi mungilnya berangsur-angsur menghentikan tangisnya dan hanya terisak-isak di gendongan Jimin dan bergerak-gerak seolah menyamankan dirinya di gendongan lengan Jimin.

Jimin terharu merasakan pergerakan bayi mungilnya dalam gendongannya. Jimin lalu menaikkan gendongannya untuk mengecup dahi bayi mungil itu.

"Park Minki. Aku tak menyangka bahwa aku memilikimu secepat ini. Sehatlah selalu." Jimin tersenyum senang menatap wajah mungil kemerahan bayi mungil itu.

Dokter Lee yang menatapnya jadi ikut tersenyum melihat keluarga kecil bahagia itu.

"Ayo, Yoongi-ssi pasti sudah tidak sabar untuk melihatnya."

.

Yoongi sedang terduduk bersandar dengan punggung ranjang rumah sakit yang dinaikkan. Ia sedang memejamkan kedua matanya untuk mencoba tertidur namun ia tak bisa.

Dan ketika ia mendengar sebuah ketukan pintu, Yoongi segera saja membuka kedua matanya. Lalu sontak ia menjauhkan punggungnya dari ranjang begitu melihat Jimin muncul di ambang pintu dan menghampirinya dengan seorang bayi digendongannya.

Yoongi langsung tersenyum dibuatnya.

"Hello mommy, baby Minki is here!" Jimin berucap senang dengan menjaga suaranya. Ia tak mau membuat bayinya terkaget karena suara cemprengnya itu.

Yoongi dengan refleks mengulurkan kedua tangannya kearah Jimin. Ingin menggendong bayinya. Namun dengan tiba-tiba Dokter Lee menghalanginya.

"Ada apa?"

Dokter Lee tersenyum dan berdiri disisi Yoongi. "Ini pertamakalinya kau akan bersentuhan langsung dengan bayimu. Jadi sekaligus lakukanlah skin to care pada bayi untuk menciptakan ikatan yang lebih kuat antara ibu dan bayi. Jadi bukalah kemeja yang kau pakai. Biarkan bayimu tengkurap di dada. Dan air liur bayi itu dapat membantu hormon ibu agar lebih cepat melewati masa penyembuhan pasca melahirkan."

Jelas sang dokter tampan panjang lebar. Lalu dengan reflek sang dokter menitah Yoongi untuk kembali rebahan dan membuka kancing baju rumah sakit yang dipakai Yoongi.

Namun sebuah deheman menghentikan kegiatan sang dokter.

"Ekhem dokter. Biarkan saja Yoongi-hyung yang membuka bajunya sendiri." Jimin menatap datar dokter tampan itu dan masih menimang-nimang bayi mungil di gendongan tangannya. Menghadirkan tawa santai darinya. Sedangkan Yoongi yang mendengar hal itu dari Jimin memutar malas kedua matanya. Selalu cemburuan, pikir Yoongi.

Yoongi telah separuh berbaring kembali di ranjangnya dengan bertelanjang dada. Dokter Lee mengambil kembali Minki di gendongan Jimin. Membuka selimut yang melapisinya dan membiarkan bayi itu tanpa pakaian. Lalu meletakkan bayi mungil itu di dada Yoongi dengan posisi tengkurap.

"Nah untuk beberapa lama biarkan saja ia begitu. Aku akan kembali kemari untuk membawa boks bayi agar ia bisa terus berada di sampingmu, Yoongi-ssi." Dokter Lee sekali lagi tersenyum dan memberikan selamat pada keluarga kecil itu sebelum meninggalkan ruangannya.

Jimin lalu menempatkan dirinya pada kursi di sisi ranjang Yoongi. Menatap dua orang yang sangat berarti baginya dan sangat dicintainya itu. Tersenyum dengan bahagia.

Yoongi terlihat senang. Berbeda dari beberapa waktu sebelumnya ketika ia merasa sedih. Yoongi mengelus punggung bayi mungilnya itu dengan sayang. Menatap dari dekat wajah bayi yang selama hampir 34 minggu kemarin dikandungnya. Elusan Yoongi juga membuat bayi mungil itu menggeliat pelan diatas tubuh Yoongi. Telapak tangan mungilnya menyangga tubuhnya sediri di dada Yoongi. Mulut kecilnya menjilat-jilat dada Yoongi seolah Yoongi itu adalah makanannya. Bayi mungil itu juga memekik pelan kala ia menjilati dada Yoongi.

Yoongi sampai tertawa kecil dibuatnya karena merasakan geli. Jimin juga tertawa melihat tingkah bayi mungilnya. Lalu ia ikut mengelus punggung bayinya bersama lengan Yoongi.

"Yoongi-hyung, aku sangat mencintaimu. Dan juga our precious baby Minki."

Jimin mengangkat tubuhnya sedikit untuk mengecup kepala bayi mungilnya. Lalu berpindah untuk mengecup dahi Yoongi dengan penuh kasih sayang.

Kebahagiaan itu sederhana, kalau orang yang kau cintai bisa membalas cintamu, hidupmu telah beruntung.

Sampai detik ini, Jimin terlalu dilimpahi banyak kebahagiaan.

.

Park Minki ; kebijaksaan setinggi langit dan bersinar dengan kehidupan yang baik.

.

.

.

The End.

.

.

.

.

Nb: hai, akhirnya bertemu chapter terakhir juga :""D ini tamat.

Special thanks to kamu semua yang review di chapter kemaren. Karena semua yang komentar kemaren itu pasti ngikutin cerita ini dari awal :"D

Setelah chapter ini pasti aku pm-in satu-satu. Tapi yang pasti ini tamat. Dan ada satu chapter lagi buat omake di chapter 26.

Terima kasihsudah membaca sampai sini dan mau komentar sampai chapter kemarin,

Miparkland | vir7 | Linkz account | jhosok | chimin95 | cute voodoo | naranari part II | Dhiva | Guest | wuziper | GitARMY | siscaMinstalove | lighteyes012 | aeibi95 | hatakehanahungry | Kimmidiot | Baek Momx | saphire always for onyx | Amuuu | syubiga9393 | jeymint | azerolee | tatatatataah | jungie noona | vipbigbang74 | BangMinki | DiraDesfi26 | Kia | Mr Yoon | Guest | Se – Na | Viyomi | Vmagnae | Arclover | Jirin93 | minsu baby | pakrjimi | KawaiiNamba48 | Hyungie01 | johayo-kaisoo | hantuurp |she3nnn0 | VampireDPS | luna | TKTOPKID | N-Yera48 | vhopeisreal | Ryuzaki Miki | aisyahsyah12 | gepiin | 454 | henputrinc | billassi | annai matsuya12 | yoongisama

Sampai jumpa! :D

.

.

.

With Love,

.

.

This story copyright © by Phylindan.