Disclaimer : Naruto punya Masashi Kishimoto. But this ff are mine :v
Warn : OOC, AU-semi Canon atau sebaliknya, gaje, hayalan tingkat dewa,
Enjoy first!
.
.
.
Dimulai dari cuplikan kecil tak tertulis di Chapter 14.
Sebuah ingatan, awal mula peluang munculnya jurang pemisah di antara mereka...
Sasuke menatap datar pada Naruto yang berdiri di daun pintu kamarnya. Rambut gadis itu lepek, pastinya baru selesai keramas. Badannya juga sudah dibalut piyama warna hijau tosca, bukan armor Anbu lagi. Satu yang membuat Sasuke dongkol, dua mata bulat menyebalkan itu terlihat amat menggemaskan—memohon.
"Setelah tadi kau mengacaukan rambut kerenku, kau memintaku menemanimu begadang?"Sasuke bersidekap.
Naruto memasang cengiran lebar dan mengangguk mantap. "Kita bisa latihan bersama, teme! Kau sendiri tahu sebentar lagi aku tidak akan mudah pulang ke rumah, ttebayo!"ujar gadis itu, menepukkan kedua telapak tangannya, mulai memasang jurus andalan yang bisa membuat Uchiha Sasuke kalah telak : Puppy Eyes no jutsu.
"Tidak mau. Lebih baik aku tidur,"Sasuke tertawa sarkastik, lalu kembali membaringkan dirinya di kasur tercinta. Tidak menyempatkan diri untuk melihat pemandangan menggemaskan itu, tak mau membuat dirinya jatuh dalam keluguan yang dibuat-buat oleh gadis jadi-jadian itu.
Naruto mendengus kesal, melangkahkan kakinya tidak sabar tepat di sebelah kasur yang Sasuke tiduri. Tangan gadis itu terulur cepat, meraih sebuah boneka tomat lucu dari atas meja sebelah kasur, yang tetap bersih meskipun 5 tahun sudah berlalu. Sebelah yang lainnya Naruto pakai untuk menggenggam kunai khusus miliknya, lalu ia arahkan pada leher boneka tersebut. Sasuke berjengit protes, saat Naruto mulai menyeringai.
"Temani, atau Mato-chan mati!"ancam Naruto pada Sasuke. Seringai kejamnya berubah kembali menjadi cengiran lebar, saat Sasuke bangkit dengan mata mendelik. "Yosh! Ayo latihan~!"
Boneka tomat itu Naruto lempar asal, sukses membuat Sasuke panik buru-buru menyelamatkan boneka kesayangannya itu. Bungsu Uchiha itu hanya bisa menghela nafas, saat Naruto mengaktifkan segel portal menuju Uzushio tepat di dinding kamarnya. Gadis itu tertawa kekanakkan, melambaikan tangannya terlampau semangat pada Sasuke, lalu menerjang portal itu. Meninggalkan Sasuke, yang menatap datar pada portal yang menelan tubuh gadis Uzumaki tersebut.
"Kau benar-benar menyebalkan,"gerutu Sasuke pelan. Setelah menyimpan boneka tomat kembali pada tempat semula, Sasuke bangkit dan menyusul Naruto.
Begitu sampai di Uzushio, Sasuke dikagetkan oleh eksistensi rasengan yang tak sampai 10 cm dari wajahnya. Sasuke benar-benar bersyukur karena badannya reflek melakukan shunshin sehingga ia terhindar dari jutsu mungil namun mematikan itu. "Oi, dobe!"protes Sasuke, setelah suara ledakkan yang disebabkan oleh rasengan tidak terdengar lagi.
Bukannya minta maaf, Naruto malah tertawa. "Reflek yang bagus, Sasuke!"puji Naruto dengan cengiran lebar.
"Aku masih dalam keadaan setengah mengantuk, kau menguji reflekku menggunakan rasengan? Bagaimana kalau aku gagal, Naruto?!" Sasuke menghela nafas. Lagi-lagi, apa yang Naruto pikirkan benar-benar tak bisa ia tebak apa maksudnya.
"Tapi kau berhasil. Hanya itu yang harus kutahu!"
"Ya sudahlah. Sekarang kau mau aku melakukan apa?"
Mendengar pertanyaan Sasuke, Naruto terdiam menopang dagu. Sejujurnya, dia sendiri tidak tahu apa yang mendorongnya untuk menyeret Sasuke ke Uzushio begini. Dia hanya kesulitan memejamkan matanya. Sadar-sadar Naruto sudah berdiri di depan pintu kamar Sasuke dan memohon untuk ditemani. Yeah... Mungkin belakangan ini Naruto merasa kepalanya agak pening. Dia...butuh hiburan?
"Naruto?"Sasuke menegur pelan. Melihat gadis di hadapannya tersenyum kikuk, Sasuke menghela nafas. "Mau sparring?"tawar Sasuke. Tidak sulit untuk menebak gadis itu sedang kebingungan.
"Hmm...boleh?" Naruto menanggapi dengan pasif, membuat Sasuke kembali mendengus. Jelas-jelas ada yang salah dengan gadis itu.
"Kau bisa bercerita jika ada yang mengganjal di kepalamu, Naruto,"ucap Sasuke, terkekeh kecil. Tapi pada akhirnya, pemuda itu memasang pose siaga menyerang. "Tapi untuk sekarang, kita lakukan apa yang mau kau lakukan!"
Malam itu, suara baku-hantam dan dentingan dua kunai yang saling beradu terdengar jelas. Keduanya saling menyerang satu-sama lain. Tapi Sasuke sadar, Naruto menahan diri pada gerakan-gerakan tertentu. Sasuke tak mau akui, bahwa sifat Naruto itu benar-benar membuatnya kesal. Naruto memang tak pernah merendahkannya, selain dari perang ejekkan yang biasa mereka lemparkan satu-sama-lain. Tetapi dilihat bagaimana Naruto memperlakukan Sasuke setiap mereka latihan, jujur saja Sasuke merasa sedikit tidak dihargai.
Bukan salah Sasuke, kalau dirinya berlatih di bawah bayang-bayang Naruto. Bukan salah Naruto pula, jika dia lebih dulu hebat dari pada Sasuke. Hanya saja...terkadang Sasuke berandai, apakah ia tak akan merasa dibayangi seperti ini, jika dilatih oleh orang lain? Sang Kakak, misalnya?
Pada akhirnya, Naruto tidak pernah benar-benar mengeluarkan apa yang ada di kepalanya malam itu...
.
.
.
Bagaimana jika begini? Bagaimana jika begitu? Tak ada yang kau dapat dari kata 'Jika'.
You'll never know, till you have tried...
Satu 'Jika' yang absolut di muka bumi ini.
Jika kau tak mencoba, kau pasti akan bertemu dengan penuesalan.
Pada akhirnya...
-anonim-
.
.
.
Uzumaki's Prodigy
Chapter 25 : Moving On
Pernah Naruto membayangkan, ia akan terbangun dan mendapati semua hal memuakkan ini adalah sebuah mimpi. Ia akan disambut oleh kecupan pagi penuh kasih sayang oleh sang Ibu, lalu mendapat senyuman hangat dari Ayah ketika sarapan pagi. Mereka akan bercerita tentang banyak hal sebelum ia berangkat ke tempat latihan, termasuk mimpi buruknya semalam. Di mana ia menjalani kehidupan berat, sebagai seorang Jinchuuriki.
Tapi itu semua tak pernah terjadi. Ketika ia terbangun, selalu langit ini yang ia lihat. Langit kenyataan hidupnya yang kata teman-temannya belakangan ini begitu berat untuk dijalani. Ha! Naruto ingin menertawakan pikiran mereka. Memang kehidupan yang berat, tapi tak cukup berat untuk membuat semua tetua terkutuk itu luluh dan menerimanya sebagai bocah biasa.
Kalau memang sebegitu berat, kenapa mereka masih saja menganggapnya sebuah senjata? Apalagi pria tua bernama Shimura Danzou itu. Berapa kali beliau meminta—dan memaksa—Naruto untuk bergabung di bawah kendalinya, di Anbu Root? Bahkan dua puluh jari tangan ditambah jari kaki yang Naruto punya tak akan cukup untuk menghitung ulah pria itu dengannya. Bahkan pria itu yang membuat Naruto punya sedikit trauma mendengar dirinya disebut monster.
Sebenarnya Naruto belakangan ini susah tidur bukan karena membayangkan semua itu. Ia justru heran, mengapa ia tidak memikirkannya? Seolah kekesalan dan kebencian itu menguap dengan mudahnya, padahal apa yang mereka lakukan itu cukup membuatnya memendam dendam. Apakah ini, alasan mengapa takdir memilihnya? Karena ia tidak bisa membenci dengan mudah? Terlalu pemaaf, kah? Memang takdir, ataukah resiko menjadi keturunan satu-satunya dari Uzumaki Kushina dan Namikaze Minato?
Naruto tak pernah benar-benar memikirkan semua ini sebelumnya, sampai akhirnya sesosok Sabaku Gaara mengetuk pintu transparan balkonnya dan membawanya ke sini, tepat di atas ornamen wajah Hokage ke-4. Mengajaknya duduk santai, memandang teduh pada keindahan kerlip lampu bangunan yang ada. Naruto kira pemuda itu ingin menanyakan sesuatu perihal pengekstrakkan Shukaku dari badan Gaara, juga sistem pembagian chakra bijuu itu yang Naruto terapkan di tubuh mereka berdua. Namun alih-alih bertanya soal hal yang membingungkan itu, Gaara justru bertanya sesuatu yang tak pernah ia perkirakan.
"Kenapa kau bisa secerah ini?"—begitu dia bilang.
Naruto hanya mengeluarkan"Huh?"dan menatap Gaara bingung. Pertanyaan itu benar-benar membuat Naruto kehabisan kata-kata. Tidak... Naruto bukan bingung maksud dari 'cerah' yang Gaara maksud. Itu pasti pemuda merah bata itu tunjukkan untuk sifatnya, bukan? Naruto juga bukan bingung karena memikirkan apa yang ia akan jawab. Ia benar-benar bingung, apa yang membuat Gaara bertanya seperti itu padanya?
Di mata Gaara, Naruto seceria itu kah? Seingatnya, banyak—termasuk Isobu, bahkan Shukaku yang baru dua hari kurang dia seret satu atap dengannya—yang berkomentar bahwa ia mengerikan. Masa bodo mengerikan dalam hal apa. Naruto akui terkadang—seringkali—ia bersikap terlalu...err...apa kalian menyebutnya? Sadis? Dan Kurama bilang, perpaduan sifat sadis dengan kekonyolannya membuat Naruto terlihat menyeramkan.
Sekarang, sesosok Sabaku Gaara menempel image 'cerah' untuknya? Dari sisi mana?
"Dan lihat, sekarang kau terlihat bodoh hanya karena pertanyaanku!"dengusan Gaara membuat Naruto kembali lagi kedunia nyata.
"Cerah? Di mananya? Yang lain bilang aku menyeramkan, tuh!"tukas gadis itu ringan, di sertai kerlingan kecil di akhirnya.
Gaara meneguk ludah, teringat kembali semalam penuh berisi 'curhatan' seorang Uzumaki Naruto padanya. Dia tidak mengelak. Uzumaki Naruto mengerikan itu adalah sebuah fakta yang pasti dan tak perlu ditanyakan.
"Sebenarnya aku bersyukur kau sudah kembali seperti terakhir kali kita bertemu di Hutan Kematian. Tapi, serius...kita sampingkan sifat mencolok-mu yang satu itu,"Gaara menghela nafas. "Bagaimana kau bisa tersenyum selebar itu? Bahkan pada seseorang yang berdosa padamu?" kali ini, Gaara melipat kedua tangannya di depan dada, menatap gadis di sebelahnya dengan intens.
Gaara benar-benar penasaran. Semua hal memuakkan ini bahkan membuatnya tumbuh menjadi monster pembunuh. Bagaimana bisa, seorang seperti Naruto melewati semua ini, dengan cengiran yang begitu lebar? Seolah dia adalah makhluk paling bahagia yang ada di muka bumi ini. Cengiran palsu? Tidak... Gaara memang tidak mengenal dekat gadis itu, untuk dapat tahu seluk-beluk sikapnya. Tapi Gaara bisa merasakan, cengiran itu memang apa adanya.
"Karena aku malaikat yang amat baik?" Naruto tertawa, sukses membuat Gaara memutar bola matanya.
Yang benar saja. Sikap narsis itu ternyata tidak lumpuh sedikit pun dari Naruto. Inuzuka Kiba dkk telah berbohong padanya.
"Kau tahu aku tidak bercanda, Uzumaki!"Gaara mendengus.
Untuk sesaat Gaara yakin, dua bola mata itu sempat kosong.
"Bisa lebih perjelas pertanyaanmu, Gaara?"Naruto tersenyum tipis.
Gaara bergumam tidak jelas. "Apa kau tidak pernah merasa marah?"tanya pemuda itu lagi.
"Yang benar saja, Gaara!"kali ini Naruto merengut. "Aku belum jawab satu dan kau tanya yang lain? Kejam,"nada merajuk yang dibuat-buat itu membuat Gaara dongkol, sedikit memelintir telinga gadis itu sampai sang empunya kesakitan. "Hoi! Siapa yang mengajarkanmu untuk menjewerku?!"Naruto memprotes kesal, menjauhkan tangan Gaara sejauh mungkin dari daun telinganya yang mulai berdenyut-denyut.
"Aku!"jawaban tiba-tiba dari belakang sukses membuat keduanya terlonjak kaget dan menolehkan kepala. Jiraiya jongkok di belakang mereka, langsung mengambil tempat untuk duduk di antara keduanya. Ninja sekaliber pria itu memang tak bisa diremehkan! "Nah, apa yang kalian lakukan gelap-gelapan di sini? Kencan perpisahan?"lanjut pria itu tanpa dosa.
Gaara hanya menatap datar pria itu sejenak, sebelum kembali memandang ke arah desa. Berbeda dengan Naruto yang langsung memekik protes dan mulai menjambak pria berambut putih itu. "Diam kau, pervy-pedo-sensei! Kau tak tahu apa-apa!"protes gadis itu seenak jidatnya.
Jiraiya mendesah lelah. Ia sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk membuat bibir tipis itu semanis gula. Sepertinya memang hanya hinaan yang bisa keluar dari bibir itu. "...Bagaimana kalau kau jawab saja pertanyaan si merah ini? Aku juga ingin tahu apa yang ada di kepala gila-mu itu!"ucap Jiraiya, mencoba mengembalikan topik yang sedang dibicarakan dua genin yang diganggunya ini.
Naruto mendelik, menggumamkan sesuatu seperti '-tua bangkotan-', '-pedofil tak mau ngaku', dan sebagainya. Sebelum akhirnya gadis itu menghela nafas, berusaha merangkai kata di kepalanya. Sisikan dulu kenapa ia bisa dengan begitu mudahnya mengeluarkan apa yang mengganjal, padahal di depan yang lain selalu mengelak.
"Aku juga...tidak tahu,"gumam Naruto pelan, menerawang ke arah desa. "Seringkali aku ingin berteriak pada dunia, kenapa mereka begitu kejam padaku? Bahkan dari Uzumaki Naruto ini lahir!"
Naruto terdiam sejenak, melirik ke arah ornamen Sandaime, sebelum akhirnya kembali memandang desa. "...Hokage-jiji saja selalu menghindar jika kutanyakan sesuatu yang sensitif. Aku masih ingat, bagaimana ia meninggalkanku duduk merenung, setelah kutanyakan tentang orangtuaku. Semua tatapan membunuh dari penduduk dan perlakuan mereka padaku...saat itu aku yakin, ada kaitannya dengan sesuatu yang ada di tubuhku. Tapi...saat kutahu itu Kyuubi, aku tidak marah sedikit pun dengannya. Aku malah terus memaksanya untuk jadi temanku, kalian tahu?"
"Kau benar-benar kesepian, huh?"Gaara tersenyum mengejek, membuat Naruto melempar kerikil kecil ke arahnya—kesal. "Setidaknya aku bukan mesin pembunuh dengan boneka dan kakak baik di sisinya,"balas gadis itu, tidak mau kalah.
Sebelum Gaara kembali membalas, Naruto melanjutkan,"Tahu kebenaran bahwa Kyuubi disegel oleh Yondaime Hokage, bukannya membencinya, aku malah berbalik mengidolakannya. Bahkan sampai bermimpi jadi hokage yang jauuuh melebihinya, sebelum kutahu dia Ayahku. Setelah dijelaskan penyebab utama Kyuubi menyerang desa, aku tak heran kenapa aku malah ingin bertemu dengannya dan mendapat kebenaran. Bukannya membenci sosok bertopeng itu... Gah! Aku justru merasakan kebencian pada sesuatu yang sebenarnya kesalahanku sendiri. Kau ingat Orochimaru bukan, ero-sennin?"mendapat anggukan Jiraiya, Naruto meringis pelan. "Dengan Danzou pun...uhh... Apa aku terlalu positif-thinking, seperti yang pria itu katakan?"Naruto mulai menggumam.
Naruto meringis pelan, mengingat kembali saat Danzou menasehatinya secara tidak langsung, bahwa ia terlalu mudah menaruh kepercayaan. Yeah, pria itu benar. Naruto juga bisa merasakannya. Di samping otaknya yang berpikir secara kritis, dia terlalu percaya dengan bisikkan hatinya. Bahwa semua ini terjadi karena pro-kontra dunia. Bahwa mereka tidak melakukannya semata-mata karena mereka ingin. Bahwa mereka melakukannya karena takdir.
Pada akhirnya, Naruto malah menyalahkan takdir, yang jelas-jelas menunjukkan bahwa ia menyalahkan Sang Pengatur alam. Jangan-jangan, perginya Sasuke merupakan karma yang harus ia terima karena terlalu menyucikan semua manusia di pikirannya, dan terus menyalahkan Kami-sama karena telah membuat mereka begitu?
Kan kalau begini, Naruto jadi bingung pada dirinya sendiri.
"Seperti kubilang, sadisnya dirimu dalam konotasi 'kasih sayang'. Bukan sadisnya pembunuh berdarah dingin," Gaara mendengus kecil.
"Lihat siapa yang bicara,"sindir Naruto. Gadis itu melirik ke arah Jiraiya, sedikit merengut karena pria itu malah diam."Ero-sennin?"
"Kau tak bisa menyalahkan orang lain... Itu alasanmu menangis pada malam itu..."gumaman dari Jiraiya, mengukirkan seringai di wajah Gaara.
"Apa yang kudengar di sini? Kau? Menangis? Tipikal seorang gadis ketika hatinya sedang kalut..."Gaara tertawa sarkastik. "...atau kau mau kusebut pemuda jadi-jadian yang cengeng? Titel mana yang kau pilih?"ucap pemuda itu saat Naruto mendelik padanya.
"Sabaku menyebalkan!"gerutu Naruto. Gadis itu bangkit, langsung mengejar Gaara yang berlari menghindarinya.
Jiraiya hanya tersenyum kecil, melihat pemandangan itu. Setidaknya...besok dia takkan membawa Uzumaki Naruto murung keluar desa. Walaupun...Jiraiya sedikit was-was, ulah apa lagi yang akan dilakukannya.
.
.
.
BRUAK!
"NARUTO-CHAN!"
Hiruzen terlonjak dari tempat duduknya, menatap malas pada gerombolan generasi masa depan desa-nya, yang menerobos masuk ke dalam kantornya tanpa mengetuk dulu. Demi melihat sesosok Uzumaki Naruto, yang sudah bersiap, tak lupa memakai jaket putih bergaris biru-nya. Gerombolan bocah itu langsung memelototi satu-sama-lain, saling menyalahkan. Entah dari mana isu berasal, namun yang jelas mereka menyerbu bersamaan ini karena mendengar Naruto akan ikut berkelana dengan Jiraiya untuk latihan. Namun mereka yakin info itu info ngawur, saat mereka lihat Naruto maupun Tuan Jiraiya tidak membawa perbekalan apapun.
"...Err kalian sedang apa?"Naruto tersenyum kikuk.
"Kami mendengar kau akan pergi! Tapi kau tidak membawa apapun, syukurlah! Tidak jadi..."Sakura tersenyum lebar. Naruto tertawa kecil, menarik celananya ke atas, memunculkan sedikit guratan segel di kulit kakinya. Dengan itu, senyum Sakura tandas. Gadis itu langsung menerjang Naruto dengan pelukan, air matanya mulai berderai.
Entah memang air mata asli atau air mata buaya, kita tidak tahu. Terlalu lama bergaul dengan Naruto sangat memungkinkan untuk gadis pinkish itu tertular keabsurd-an Naruto.
"Kami akan merindukanmu...!"
Dua detik kemudian, Jiraiya dan Hiruzen disuguhi pemandangan a la teletubbies, berpelukan(meskipun Shino dan Neji bergabung karena ditarik paksa). Keduanya tak bisa menahan senyum geli, saat melihatnya. Keduanya senang, setidaknya Naruto tidak benar-benar kehilangan masa kecilnya, seperti yang mereka takutkan. Gadis itu tertawa, terlihat benar-benar lugu.
Walau Jiraiya yakin, keberadaan mereka tak bisa menggantikan satu anak ayam spesial di hati gadis itu. Setidaknya ia masih terhibur dan bisa senyum secerah itu karena keberadaan teman-teman se-Academy-nya.
"Ayo, Naruto! Waktunya berangkat,"Jiraiya mengintrupsi momen pertemanan itu. Dia benci mengganggu pemandangan menghangatkan itu, tapi mereka tak bisa berlama. Mereka punya banyak hal yang harus dilakukan. Semakin cepat, semakin baik."Kami akan berangkat, Hokage-sama,"
"Ha'i. Lapor secara berkala!"
Melepas pelukan teman-temannya, Naruto terkekeh pelan. Dia melambaikan tangannya, lalu menghilang bersama Jiraiya di balik kepulan asap kecil.
.
.
.
"Menggabung?"Naruto membeo pelan. Matanya terarah pada lingkungan sekitarnya, sesekali bersenandung pelan. Jiraiya jadi berpikir, mengapa gadis itu terlihat sangat senang? Padahal mereka melangkah mengecam bahaya?
Gadis ini memang menarik!
"Hm, menggabung. Tak pernahkah kau memikirkan menggabung rasengan dengan tekhnik lain, menciptakan rasengan versi-mu sendiri?"Jiraiya mengulang pertanyaannya pada gadis itu.
Naruto mengangguk kecil. Ia memang pernah memikirkannya, tapi ia terlalu sibuk mengulik fuuinjutsu, sepertinya. Ia tidak terlalu memperhatikan jutsu ciptaan sang Ayah dengan begitu dalam."Kau pernah mengkreasikannya?"tanya Naruto penasaran.
"Versi raksasa, lebih tepatnya,"jawab Jiraiya, menepuk dadanya dengan bangga.
Naruto tersenyum miring. "Wow, hebat!"puji gadis itu, intonasi nadanya agak dibuat-buat.
Jiraiya sama sekali tidak merasa disanjung. Nah, sifat menyebalkan Naruto sudah kembali lagi, bukan?
"Versi biasanya sudah punya daya mematikan,"ujar Naruto, menopang dagunya. "Jika kau buat berotasi lebih besar, lebih padat, lebih cepat...Pasti lebih keren!"sambungnya. Kali ini terdengar memuji dengan jujur. Tidak seperti tadi yang bahkan disertai senyum meremehkan.
"Benar, bukan?"
"Hm! Dan kuyakin akan lebih keren jika kugabung dengan bijuudama. Lalu versi besarnya...mungkin kugabung dengan hmm... Apa ya? Chakra angin yang tajam? Plus bijuudama juga kalau berhasil, khukhu!"Jiraiya menepuk jidatnya. Apa Naruto berencana menghancurkan bumi? Nah. Ide Naruto benar-benar mengerikan. Efek ledakannya terlalu dahsyat."Bagus untuk senjata akhir di perang besar,"lanjut gadis itu, semakin membuat Jiraiya meringis.
Semudah itu Naruto menyebutkan soal perang? Jiraiya harus memikirkan bagaimana caranya agar kelebihan PD gadis itu bisa dikurangi kadarnya. Kalau sampai mudah membicarakan perang begitu, Jiraiya khawatir gadis itu sedang berencana menciptakan perang!
"Hei Naruto...! Keberatan jika kutanya sesuatu?"Jiraiya mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Tergantung apa yang kau tanyakan. Go ahead!"jawab gadis itu dengan senang hati.
Jiraiya mengacak rambut gadis itu gemas, sebelum mengucapkan,"Bagaimana caranya kau memiliki berbagai macam kemampuan seperti itu? Pastinya ada suatu pedoman, bukan?"dengan nada serius.
"Uzushio..."Menggaruk pipinya, Naruto memasang cengiran lebar.
"Tunggu dulu...!"Jiraiya membulat. "K-kau ke Uzushio?"tanya pria itu tak percaya.
Mendapat anggukan Naruto, Jiraiya mendesah pasrah. Pantas saja kemampuannya seperti itu. Jiraiya ingat, ia pernah diceritakan oleh Minato di mana muridnya itu menyimpan copy-an asli dari segel Hiraishin. Di sebuah tempat penyimpanan khusus berisi berbagai macam pengetahuan, nyaris semua negara elemental, di Uzushio. Penyimpanan umum milik Uzumaki.
"Kau tidak menyentuh jutsu berbahaya, bukan?"desis Jiraiya, matanya menyipit penuh ancaman.
Naruto tertawa garing. Dibilang tidak menyentuh sih...tidak bisa juga. Memangnya apa pula yang membuatnya berubah jadi seperti ini? Kecuali jika yang Jiraiya maksudkan adalah kinjutsu, Naruto tidak menyentuhnya.
Tidak pernah terlewat lebih tepatnya.
"Sudah kuduga kau memang mengorbankan nyawamu sendiri!"Jiraiya membentak bocah di sampingnya, langsung mendaratkan sebuah jitakkan dengan sepenuh hati. Bisa-bisanya gadis ini membuat Sarutobi-sensei mengkhawatirkan sebegitunya!
"Untuk yang benar-benar mempertaruhkan nyawa seperti Shiki Fujin aku hanya membacanya, sumpah!" Naruto meringis pelan, melindungi puncak kepalanya dari jitakkan Jiraiya yang selanjutnya.
Sial sekali, Jiraiya makin berasap mendengar pengakuannya.
"KAU TAHU SHIKI FUJIN?!"
"Hey! Tahu banyak itu bagus!"
Jiraiya mendengus. Pepatah mengatakan, curiousty kill the cat. Dia semakin yakin pada pepatah itu setelah bertemu dengan bocah pirang ini."Aku tidak mengerti jalan pikiranmu!"
"Aku tidak perlu orang lain untuk mengertinya. Akan lebih menarik jika aku satu-satunya yang berpikiran seperti itu..."
"Apalah katamu!"
Melihat seringai dari Naruto, Jiraiya yakin. Perjalanan ini akan sangat, sangat-sangat panjang.
"Ero-sennin? Menurutmu..."
.
.
.
"Begitu pulang, aku akan mencekiknya hingga mati kehabisan nafas, memutilasinya, lalu menelannya bulat-bulat sebagai makanan pembuka...!"
"Jika kau ingin menelannya bulat-bulat, kau tak perlu memutilasinya, Kurama..."
"Masa bodoh! Yang jelas, aku akan mencabiknya begitu ia pulang!"
"Tadi kau bilang kau ingin mencekiknya? Kenapa sekarang mencabiknya? Kau terlalu labil, Kurama,"
"AAA! Pokoknya aku akan membunuhnya!"
"Kau terlalu menyayanginya untuk itu, Ku-ra-ma-kun!"
"..."
"Kau yakin kau sanggup membunuhnya?"
"..."
"Pemilik dua mata langit itu? Pfft!"
"..."
"Kau lemah terhadapnya, bodoh!"
"DIAM KAU, TANUKI!"
Isobu menutup kepalanya dengan bantal, tidak kuat jika selanjutnya ia harus mendengar suara berbagai benda yang melayang dan menghantam sesuatu—tembok, misalnya? Telinganya terlalu polos untuk mendengar kekacauan itu. Sudah berapa ribu tahun telinganya damai? Kenapa pula telinga berharganya ini harus mendengar kembali cekcok legendaris dari Kurama dan Tanuki alias Kyuubi dan Ichibi?
Kurama sepulang dari markas Anbu—yeah, berikan selamat untuk ketua baru Anbu Konoha, pemuda ini terus mengeluarkan berbagai macam umpatan untuk Naruto, satu-satunya biang keladi kenapa ia bisa bekerja, di bawah perintah Sarutobi Hiruzen. Gadis itu benar-benar hebat! Bukan hanya berhasil membuat idealisme otaknya melenceng beberapa derajat, bahkan sampai mau berbaik hati pada makhluk bernama manusia, bocah itu juga berani menghancurkan harga dirinya sebagai Kyuubi no Yokou yang luar biasa, menjadi seseorang yang dijatuhi tanggung jawab untuk mengawal anggota Anbu bagai petani menggiring bebek. Kurang lebih, seperti itulah yang Isobu bayangkan akan Kurama pikirkan.
Terimakasih pula pada Naruto, Isobu harus melihat bagaimana berambisinya Kurama, merencanakan pembunuhan untuk gadis itu jika sudah pulang nantinya. Bonus luar biasa, keberadaan Tanuki alias Shukaku memperparah kebisingan kediaman Uchiha ini. Kalau saja Naruto tak punya ikatan dengan Uchiha, Isobu merasa kasihan pada siapapun pemilik rumah ini. Karena sejujurnya dia mulai khawatir rumah ini akan hancur dalam hitungan beberapa waktu ke depan. Seingat Isobu, baik Kurama atau Tanuki yang menjadi pihak tersudutkan emosi, tak berakhir dengan bagus.
Poor Uchiha.
"Jangan ingatkan aku siapa yang menyebabkanku tersangkut bersama pasangan suami-isteri ini di sini. Huh... Isobu anak yang malang, sepertinya bagus untuk judul drama musikal terbaru!"ringis pemuda dengan manik merah hati tersebut. Bulu kuduknya meremang, saat dua orang yang ia maksudkan sebagai suami-isteri, kini mendelik ke arahnya."A-apa yang kalian lihat?!"
"KURA-KURA SIALAN!"dua jelmaan bijuu itu mengamuk bersamaan, menyingkirkan bantal yang melindungi telinga berharga Isobu, lalu menjewer pemuda itu masing-masing satu daun telinga. "TAK BISAKAH KAU DIAM?!"
Isobu semakin mengerti, kenapa mereka tersangkut bersama bocah pirang tak tahu malu itu. Tapi tetap saja... Haruskah separah ini untuknya?
"Dari tadi aku diam, tahu!"
Isobu bersumpah dalam hati, ia takkan membiarkan Kurama membunuh Naruto.
"KALAU BEGITU TETAP DIAM!"
Sebelum dirinya yang membunuh bocah itu.
.
.
.
"...Lengkung...? Ah, tidak! Yang ini begini... Tiga titik melingkar tipis, bergabung bergelombang! Hmm..."
Jiraiya menopang dagunya, memperhatikan gerak-gerik Naruto di lantai kayu penginapan ini. Sejak ia tinggalkan siang hari hingga saat ini bulan kembali menyapa, gadis itu tetap duduk di tempat yang sama. Di tengah-tengah berbagai kertas dan scroll yang berserakan, namun tetap teratur. Tangannya terus memegang pena, mengukir berbagai macam aksara segel yang tak begitu Jiraiya mengerti. Pergerakkan matanya sangat cepat, memindai suatu halaman diktat harian milik mendiang Ayahnya, menorehkan berbagai macam coretan beserta balok-balok catatan, lalu mematenkan segurat-dua gurat di scroll. Mata itu terlihat benar-benar serius, membuatnya lagi-lagi terperanjat teringat mendiang muridnya.
Terlalu mirip, dan itu menyeramkan.
Ingin ia tegur gadis itu, kalau waktu sudah menunjukkan perintah tidur bagi gadis sebayanya, namun ia pikir ulang. Pesan dari pemuda jelmaan Kyuubi itu, jangan pernah ganggu Naruto ketika binar serius penuh keluguan itu muncul di matanya. Apalagi jika yang sedang Naruto garap adalah suatu fuuinjutsu. Resikonya, ia bisa saja dijadikan Naruto sebagai kelinci percobaan untuk suatu segel upgrade terbaru milik gadis itu.
Disebut kakek bangkotan oleh Naruto sudah mengerikan. Jangan sampai gadis itu merubahnya jadi nenek bangkotan. Itu terlalu mengerikan.
"Sebenarnya, seberapa tajam mata biru itu?"Jiraiya berbisik pada dirinya sendiri. Pria itu tak perlu jawaban dari siapapun. Dengan melihat gerak-gerik Naruto saja, Jiraiya tahu seberapa tajam mata itu.
Mata yang bisa menjerumuskannya pada sesuatu yang salah. Binar mata yang sama, dengan Orochimaru ketika ia dan Jiraiya masih genin, dulu. Tapi...uh, demi apapun, Jiraiya tak akan membiarkan Naruto berakhir menjadi seperti pria ular itu. Begini saja sudah bikin bergidik!
Jiraiya harus percaya, Naruto tak akan seperti itu. Dia cuma mengulik segel, bukan? Tidak melakukan percobaan ini-itu bahkan menjadikan badannya setengah ular?
Jiraiya menghela nafas, mengusap wajahnya pelan. Sepertinya ia terlalu letih belakangan ini. Kepalanya mulai ngawur!
"Sebaiknya kau segera tidur, ero-sennin!"teguran dari Naruto membuat Jiraiya mendelik. "Orangtua harus banyak istirahat!"—dan sambungannya ini, benar-benar membuat pria itu kembali dongkol.
Naruto memang hebat dalam menghancurkan suasana. Sudah tahu Jiraiya sedang mengagumi bagaimana mata itu bisa memecahkan kerumitan segel Uzumaki. Dengan sikapnya begitu, bagaimana tetua akan menghormatinya? Dan...tunggu! Jiraiya ingat, gadis itu pernah bilang anggota Anbu menghormatinya. Serius, anggota Anbu menghormati kunoichi jadi-jadian seperti ini?
"Kau sendiri tidak tidur,"Jiraiya memilih untuk menahan kedongkolannya. Pria itu tahu, sesuatu yang Naruto kerjakan itu penting bagi-entah-apa-Jiraiya-tak-mau-tahu. Lebih baik mengalah dulu untuk sementara ini.
"Aku sibuk,"tukas Naruto singkat, sebelum Jiraiya mengomelinya macam-macam.
Jiraiya hanya tersenyum kecil, melihat perhatian Naruto tak lepas sedikitpun dari benda putih itu. Saat gadis itu mendesah lelah dan menyeka keringatnya, Jiraiya baru sadar temperatur di sekitar mereka memang agak tinggi. Lebih tinggi dari Konoha. Maklum saja kalau Naruto belum terbiasa.
"Kau harus buka jaketmu itu, Naruto,"usul Jiraiya, mengangkat sebelah alis matanya.
"Aku hanya pakai dalaman fish-net. Aku tak boleh terlihat sexy di depan pervy-pedo-sennin sepertimu,"Jiraiya nyaris saja jatuh menghantamkan wajah ke lantai, mendengar intonasi datar Naruto ketika mengatakannya.
Otak gadis itu semakin ngaco.
"Ha...ha! Bercandamu sangat lucu, Naruto!"gerutu pria itu, tertawa datar."Aku tahu mana seni indah dan mana yang belum terbentuk. Mengingat yang satu ini jadi-jadian, keindahannya tak akan pernah benar-benar muncul,"
Komentar yang cukup pedas, untuk mendapatkan hantaman buku tebal di wajah.
'Bocah sialan... Buku ini benar-benar berat! Dan...buku apa ini? Uzushio no gemmu?'
Naruto mendengus kecil. Gadis itu melepas jaketnya dan melempar benda itu asal. Tangannya menyentuh segel penyimpanan, lalu meraih sebuah kunai spesialnya. Ia alirkan sedikit chakra pada senjatanya itu, lalu ia gerakkan secara horizontal di belakang.
"H-hei!"
Srat!
Memangkas rambut panjangnya, meninggalkan helaian jabrik yang sebagian membingkai wajahnya, saat gadis itu melepas ikatannya. Jiraiya terbelalak melihatnya. Dengan begini...lengkap sudah kemiripannya dengan Namikaze Minato.
"Kenapa kau memangkas rambutmu?!"Jiraiya melotot.
"Kenapa kau panik?"Naruto menjawab santai, mengibaskan pelan rambutnya, berharap rasa panas ini bisa berkurang."Aku memang berencana ingin memangkasnya, hanya belum mendapat alasan yang tepat. Sekarang, terlalu panas. Memangkasnya membuat semuanya terasa lebih baik,"gadis itu memunguti potongan rambutnya dengan cengiran.
"Kau akan semakin sulit diidentifikasi,"Jiraiya mendengus. Kalau Naruto seperti ini, siapa yang bisa menebak dia lelaki atau perempuan?
"Lebih bagus. Setidaknya dengan begini, Akatsuki takkan mengenaliku dengan mudah, bukan?" kali ini gadis itu memegang sebuah topi, memakainya terbalik di atas kepalanya.
Walau tetap mirip, Jiraiya akui. Ada perubahan atmosfir saat gadis itu bersidekap dengan topi yang dipakainya. Perubahan image, lumayan juga ide-nya. Hanya tinggal merubah sikapnya, bukan? Jiraiya rasa ini bukan ide buruk.
Melihat gadis itu mulai berkemas dan menghilangkan semua kertas pengacau itu, Jiraiya tersenyum tipis. Kantuk pun tetap tidak bisa ditantang, bahkan oleh seorang jenius sepertinya, huh?
"Besok aku ingin memastikan kebenaran databook itu, Naruto. Kau tidak keberatan?"Jiraiya mendelik tak suka saat Naruto menggendikan bahu.
"Mungkin kau bisa membantuku untuk mengatasi chakra negatif bijuu, jadi, silahkan saja!"ujar Naruto, merebahkan dirinya di ranjang yang terpisah dengan Jiraiya. Uzumaki itu hanya mengerling, saat Jiraiya mendengus padanya.
Mungkin-nya Naruto agaknya terdengar agak lancang di telinga Jiraiya. Pria itu merasa gadis ini kembali bermain-main dengannya. Tapi bagaimana pun juga, Jiraiya harus terbiasa. Dia tidak tahu berapa lama akan menyeret gadis ini untuk berada dalam jangkauan jarak pandangnya. Kalau dia tidak terbiasa menelan kedongkolan begini, bisa-bisa keriputnya berlipat ganda tiap hari berganti.
Jiraiya hanya perlu memastikan, jika Naruto memang akan melangkah di jalan yang Minato inginkan.
.
.
.
"Kau harus pulang, nona kecil! Kau hanya akan semakin jauh dengan apa yang kau inginkan..."
"Hidupmu akan penuh lika-liku..."
"Kau akan menemui kemalangan..."
"Kesialanmu—"
"—Jiraiya-san, sebaiknya kau segera selesaikan urusanmu atau aku akan meledakkan tempat ini!"Naruto mulai kehabisan kesabaran. Dia benar-benar tak mengerti. Dari sekian juta tempat yang mungkin mereka singgahi, untuk apa pria itu menyeretnya ke rumah penuh makhluk dengan riasan nyentrik begini? Apalagi telinganya terus direcoki oleh yang biasa orang sebut—ramalan? Menyedihkannya, semua yang empat kakak-kakak ini sebutkan hanyalah berisi kemalangan!
Ayolah! Ia sudah hidup hampir 14 tahun penuh segala hal memuakkan, tak bisakah ada pencerahan sedikit?
Naruto benci ramalan. Ia ingat di satu misi, tim 7 membantu seorang peramal menangkap pencuri rumahnya. Sama dengan yang 4 kakak ini ucapkan, peramal yang itu juga terus mengatakan hal menyebalkan untuknya. Seolah takdirnya memang suram, hidupnya adalah suatu kesalahan. Toh takdir masih bisa berubah, bagi mereka yang berusaha keras, bukan?
Naruto meringis kecil. Kenapa ia harus mengingat tim 7 di saat seperti ini? Jika teringat tim 7 ia akan teringat semua hal, termasuk awal pembentukkan mereka, berikut survival battle...
Termasuk, Uchiha Sasuke.
"Sebentar lagi, Naruto!"jawaban dari Jiraiya dari ruang sebelah membuat Naruto kembali menghantamkan wajahnya di permukaan meja kayu di hadapannya.
"Ini menyebalkan,"gerutu gadis itu. Empat kakak di dekatnya masih belum menyerah mengatakan apapun—yang katanya—mereka lihat."Apa kalian tak punya hal lain untuk dikatakan, sesuatu yang menyenangkan, misalnya?"
"Mungkin ada, jika kau mau memperlihatkan telapak tanganmu pada kami, Naruto-chan!"ucap yang satu. Siapa namanya? Rinnai kalau Naruto tak salah ingat.
Hanya mendengar takkan membunuhku, kan? Aku hanya tinggal mengabaikannya saja—batin Naruto, setelah ia membiarkan telapak tangannya disentuh oleh gadis beranjak dewasa berambut kehijauan itu.
"Naruto-chan? Apa impianmu?"Rinnai bertanya, keningnya agak berkerut. Entah bagaimana garis tangan yang bercampur luka latihan itu bisa mendeskripsikan suatu hal yang lain.
Impianku? Memang aku masih punya?
"Jadi...ninja hebat?"ketika gadis di hadapannya terperangah, Naruto meneguk ludah. Kira-kira apa yang akan dikatakannya?
"Kau pasti berlatih sungguh-sungguh. Pantas saja banyak luka begini..."
Gubrak! Naruto mendengus kecil. Dia kira Rinnai akan berkata apa. Kalau begini sih, dia juga tahu!
"Tapi itu bukan impian utamamu, bukan?"
Ya, memang bukan...Aku bermimpi kembali menjadi—
"...Hmm? Kau mau...apa ini? Kulitnya putih, matanya hitam, rambutnya hitam..."
-seorang laki-laki. Hell... Apa-apaan ini? Putih? Hitam? Rinnai-san sedang mendeskripsikan orang?
"Kau menyayanginya rupanya... Apa yang kau harapkan darinya? Boneka tomat? Tidak salah?"
Tunggu...! Tunggu...! Tunggu...! Kenapa...dia...
"Kau membicarakan Uchiha Sasuke? Yang benar saja!"Naruto mendelik tidak terima. Apa hubungannya antara impian Naruto dengan Uchiha Sasuke?"Dia tak ada hubungannya dengan impianku!"
"Memang tidak,"Ugh...aku ingin membunuhnya! Sebenarnya apa yang dia bicarakan?!"Tapi ada hubungannya dengan kekalutan yang mengacaukan aura-mu, Naru-chan sayang..."
Naruto mendengus. Apa pedulinya soal aura di mata mereka?
"Dia meninggalkanmu..."
Dia tidak—oke, dia meninggalkanku. Tapi dia meninggalkanku dengan alasan!
"Kau hanya akan kembali dibuang, jika seperti ini. Aku tahu apa yang harus kau lakukan..."
Mendengarkan nasihat dari peramal? Oh, dimana kau saat kubutuhkan, Iori-chan? Aku harus mengirim pesan pada Hokage-jiji untuk mereservasi sepetak tanah makam. Karena aku lebih memilih mati daripada mendengarkannya! Mendengarkan pepatah peramal=menyerah!
"Yang kau laku—"
"—Berhenti di sana, Rinnai-san... Jangan kau berani, memberitahuku apapun yang ingin kau katakan!"Naruto menarik tangannya dari genggaman Rinnai, mengepalkannya di udara. "Aku punya caraku sendiri untuk mengatasi masalah. Jika bukan dengan caraku, kemenangan yang kudapat tidak akan kurasakan dengan sepenuhnya,"
"..."
"Aku. Punya. Cara. Apapun yang terjadi, aku akant terus berjuang!"kini, sebuah senyum penuh kepercaya dirian tercetak jelas di wajah Naruto, sukses membuat empat gadis beranjak dewasa di dekatnya terkikik.
"Hihihi..."
"Apa yang kalian tertawakan?!"Naruto mendengus kesal. Apa mereka memang benar-benar senang mempermainkannya?
"Kau harus lebih sering tersenyum seperti itu, Naru-chan. Aura suram-mu membawa sinar wajahmu ikut layu. Sangat disayangkan, bagi pemilik masa depan cerah sepertimu!"
Nah? Sekarang apa lagi yang mereka ucapkan?
"Aku sengaja mengungkit hal itu. Kami hanya ingin kau tersenyum,"
"Jadi yang tadi, yang penuh kesuraman itu cuma main-main?!"anggukan dari empat orang itu membuat Naruto menjerit frustasi. Kalau begini, untuk apa dia mendengarkan dengan serius?! Telinganya panas dari tadi, dia Cuma dipermainkan?
Ini benar-benar...!
"Tapi...ada satu hal yang harus kau perhatikan, Naru-chan!"
Dengar jangan? Aku curiga mereka mempermainkanku lagi!
"Jangan berpura-pura ingin kembali kalau nyatanya kau sudah beradaptasi..."
Sekarang mereka membicarakan genderku? Atau apa?
"Terima saja apa yang ada. Kau sendiri tidak keberatan dianggap cewek kan?"
Kuakui kalian benar... Tapi tetap saja, tekadku tetap satu, ttebayo! Selagi fuuin itu masih bisa kukorek, aku akan berusaha sekuat tenaga!
"Kalau tak ada jalan, bagaimana?"
Yang benar saja! Dia memintaku untuk membayangkan kegagalan?!
"Apapun yang terjadi aku tak akan menyerah!"
"Kalau memang kau ditakdirkan sebagai cewek, bagaimana?"
"Kalau kau tak akan bisa kembali, bagaimana?"
"Kalau kau berhasil menemukan kuncinya, tapi terlanjur menyukai hidupmu, bagaimana?"
Sialan... Mereka berniat menginjak harapanku yang nyaris nol?
"K-kalian kejam!" Naruto mulai mewek buaya.
Keempat gadis itu tersenyum jahil.
"Kalau kau mau menyalahkan, salahkanlah Jiraiya-sama~!"
Maksudnya... Tadi-semua itu...dia...mereka...tunggu dulu!
"Ini suruhan Jiraiya?"
"Yup!"
Pertapa kodok menyebalkan!
"Dia bilang Naru-chan sedang sedih, makanya kami harus berperan seperti yang beliau suruh..."
Naruto melongo. Telinganya ia pakai untuk mendengar apa? Dua jam duduk kesemutan mendengar ramalan tak berguna itu untuk apa? Jiraiya bilang dia ingin menguji kebenaran databook itu, bukan? Kalau begini, menguji apanya?
Mendengar tawa di ruangan sebelah, Naruto tertawa datar. Jiraiya ingin bermain-main dengannya sebelum mereka serius mengejar target Akatsuki, rupanya.
"Berapa banyak nyawa yang kau punya, Jiraiya-san? Kuharap itu cukup, karena perjalanan ini akan sangaaat panjang~!"ujar Naruto, setelah menghadap Jiraiya dengan seringai khas-nya.
Jiraiya tersenyum dalam hati. Ia harus lebih sering melakukan ini pada Naruto. Cengiran kelewat PD dari gadis itu harus ia kikis, bukan?
Saat Naruto menyiapkan tinjunya, Jiraiya mulai terkekeh gugup.
'Perjalanan panjang, eh?'
.
.
.
Ya... Ini akan jadi perjalanan yang sangat, sangat-sangat panjang...
Sebuah permulaan, yang Jiraiya pastikan akan berguna di masa depan...
Tunggu saja nanti, saat gadis itu unjuk gigi pada dunia...
~Bersambung ke Chapter 26~
Ulasan review :
Dari chapter 22 Chic tidak mengulas apapun, ya? Sorry, guys!
Kenapa bagian-bagian tertentu sering kena skip? Pas rame pula?
Nah... Apa menariknya sebuah cerita tanpa membuat pembacanya greget? *gampared*
Apa Naruto akan belajar sage mode katak bersama Jiraiya?
Masih dipikirkan. Chic belum nemu alasan agar dia punya tekhnik itu. Berniat mengusulkan sesuatu? Dengan alasan? Jika kalian tidak keberatan.
Hadirkan 1 chapter full sasunaru?
Bukankah dari awal Chic sudah sering menghadirkan? Hayoo... Dari kecil mereka selalu bersama! Kurang apa lagi? Khekhe... Tak apa dong Chic pisah mereka untuk sementara~
Sasuke akan bertarung dengan Naruto?
Guess what? Di chapter belasan juga Chic udah pernah membocorkan, bukan? *gak yakin* Dan sekarang mereka jelas di jalur berbeda. Sasuke di Akatsuki, dan Naruto keluar desa untuk mengibarkan bendera perang dengan Akatsuki. Apalagi yang akan terjadi?
Jadwal Update-nya kapan?
Gak akan menentu. Jika kalender sedang baik, mungkin Chic sempatkan di tanggal merah. Tapi jika tidak... Mungkin hari minggu? Do'akan tanggal 10 Mei segera lewat. 3 Acara akbar di sekolah Chic terakhir di adakan pada tanggal itu. Setelahnya Chic bisa menghela nafas lega, hanya tinggal menunggu detik-detik orientasi siswa baru. Setidaknya Chic bisa mengisi waktu rapat dengan melanjutkan ff :)
(PS : Ada yang mau bertanya kenapa Chic tidak belajar, ulangan misalnya? Dengan senang hati Chic jawab. Di sekolah sudah puas *laugh dryly*)
Porsi tiap chapter?
Chic tidak melihat dari page, melainkan jumlah word. Min 4k. Khusus untuk yang ini, ceritanya saja, 5k.
Sasuke tetap jadi missing-nin?
Yo. Tapi lebih keren lagi, ikut Akatsuki. Chic itu fans-nya Sasuke, man... Dulu sempet patah hati, saat mendengar Sasuke tidak peduli Naruto menganggapnya apa, dan tidak peduli jika harus memberikan tubuhnya untuk Orochimaru jika itu artinya dia bisa mendapatkan kekuatan(Chic sampe teriak Sasuke psiko, entah karena apa). Kedua kalinya patah hati, saat akan meminta Sakura membunuh Karin(dia ini jadi tukang bunuh atau apa?). Ketiga kalinya saat membaca dengan jelas, apa yang Sasuke katakan sebelum bertarung dengan Naruto sampai tangan mereka putus itu lho... MK-sensei benar-benar hebat mengombang-ambing hati fans-nya :'v (lha? Kok jadi curhat?)
Whatever, pokoknya di fanfiction ini tempatnya imajinasi gila seorang fans dituang, bukan? Inilah sosok Sasuke yang Chic impikan, sensei! Tapi Chic tetap senang dengan karyamu *berlinang*
Kabar novel?
*tiba-tiba mewek* File-nya gone, tepat saat pengeditan naskah dimulai. Gara-gara komputer harus diinstal ulang, Chic terpaksa ke warnet. Dan voila. Virus edan menginfeksi flashdisk tersayang. TwT Kemarin dihubungin sama editornya lagi, diomelin macem-macem, dikasih satu kesempatan. Berharap saja...naskahnya tidak kenapa-kenapa
Naruto sudah punya Kuchiyose?
Yup. Chap kemarin debut, kan?
Chic sama Galerian dibilang sama?
Wow! SERIOUSLY?! GALERIAN-SENPAI?! N-no... Chic masih jauh... Gaya bahasa dia lebih banyak perbendaharaan bahasa-nya. Jujur aja, waktu sering ikut lomba cerpen di masa SMP, Chic menjadikan cerita buatannya sebagai guru. Chic banyak tahu kata-kata berseni sastra dari tulisan punya dia. Tahu yang Radiant Sun itu? Favorite Chic, tuh. Tapi tentu saja Chic tidak meniru gaya bahasanya. Kalau kalian baca ff English buatan Chic, kalian bisa bandingkan perbedaannya dengan punya Galerian-senpai kok *wink* Kami punya perbedaan yang sangat jelas.
Gaya bahasa ini Chic pertahankan sejak SD. Kalau ada kesamaan, itu sebuah ketidak sengajaan. Mungkin terkadang, Chic memasukkan sedikit 'ciri khas' author yang Chic kagumi. Yang berpengalaman di fandom ini pasti melihatnya. Tapi sekedar penghargaan, bukan suatu pemplagiatan. Chic tidak benar-benar berniat meniru seseorang.
[A/N]
Yatta... Akhirnya selesai juga *susut keringat*
Mulai dari sekarang, advent-nya Chic usahakan lebiiih menonjol, tapi (mungkin) juga diimbangi dengan cheesy-stuff. Rencananya sih, begitu.
PHP atau asli nih? Saa na? XD
Ada seorang teman yang mengusulkan untuk menghias ff ini with harem dengan para bijuu. Tapi... Chic gak kebayang jadinya gimana khukhu. Bukannya gak suka :v Chic penikmat segala jenis cerita, kok. Cuma kalau dijadikan seperti itu, ending fanfic ini tidak akan kesampaian...
Chic berencana dengan...hmm... kalian sudah bisa melihat hint yang Chic beri, bukan begitu?
Dan... uhh. Untuk yang bagian dengan peramal itu, Chic baru saja mengalaminya. Dikerjai oleh beberapa peramal sekaligus. Thanks to my crazy-buddies! Chic berakhir menghantamkan jidat ke tiang listrik terdekat, khukhu...
Dan...sedikit curhat, bolehkah?
Sebenarnya Chic dapat libur dari tanggal 9-18 lusa. But... Uhh... Status "Libur itu Mitos" sepertinya belum sekolah Chic lepas. Tugasnya, man... Begadang pun gak beres empat hari... Belum pengisian LKS dan yang lainnya, bonus hapalan macam 1 kitab*ngekeh frustasi* But well, I made it! Teringat dengan semua semangat kalian, Chic berhasil menyelesaikannya dalam satu hari~!
I owe you lots, guys! Thanks!
Belakangan, e-mail yang Chic check merupakan e-mail tugas dan kerjaan. Cuma melirik, saat notifikasi dari fanfiction muncul. Cuma 'Hmm...ada yang review.' . 'Hmm... ada yang fav/foll'
Waktu kemarin Chic buka, jujur saja Chic agak terkejut. Fav&Foll 200+? Itu penghargaan terbesar buat Chic. Terimakasih, guys!
Untuk Chap depan, gak ada bocoran?
Hehe...ada. Sedikit. Tentunya.
Clue : Demon Dessert. Yang sudah lihat episode belakangan pasti tahu, kan?
Masih mau menunggu author abal ini dan ceritanya yang mogok di tengah jalan yang bernama kehidupan? Tolong tinggalkan review.
Sekian terimagaji,
Chic White
(Possible!Chic-ken*roosting*)
