Pandora Hearts ©Jun Mochizuki
This fic© Aoife the Shadow
.
Warning: AU, OOC, typos, violence, death charas, contain OCs
Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie
Enjoy!
.
.
Chapter 25: Two As One
Teriakan kesakitan Vincent cukup untuk membuat telinga Zwei tuli sesaat. Teriakan itu bukan hanya berasal dari Vincent, tetapi juga dari chain Vincent yang berdiri di belakang tuannya, dan teriakan chain adalah suara teriakan yang paling tidak enak didengar di dunia.
Sebuah ledakan energi berkapasitas besar menerbangkan Zwei sejauh sepuluh meter kebelakang dan menghempaskan gadis itu ke dinding untuk yang kedua kalinya pada hari itu. Ledakan yang sama juga menghancurkan semua bangunan dalam radius sepuluh meter dari Vincent.
Zwei merosot ke tanah setelah menghantam dinding dengan keras, nyaris pingsan karena rasa sakit yang mendera tubuhnya. Dia mengerang pelan dan memutuskan untuk berbaring dulu di sana sebentar. Di pusat lingkaran bangunan yang runtuh, sepuluh meter di hadapan Zwei, tubuh Vincent tergeletak begitu saja, pingsan. Demios sudah tidak ada di sana.
"Rasanya setiap tulang di tubuhku patah," gumam Zwei pelan ketika dia berusaha menggerakkan tubuhnya.
"Zwei, kau baik-baik saja?" tanya Echo khawatir.
"Kau menyindir, ya? Tentu saja aku apa-apa!" jawab Zwei dengan agak kesal.
"Kalau kau mau, kita bisa bertukar tempat sekarang. Aku lebih bisa menolerir rasa sakit daripada kau," Echo menawarkan.
"Tidak usah," gumam Zwei. "Ada yang harus kulakukan terlebih dahulu."
"Tapi, Zwei!" Echo mulai memprotes.
"Tidak ada tapi-tapian!" kata Zwei galak. Perkataanya itu cukup untuk membuat Echo menutup mulutnya untuk sementara waktu.
Dengan tenaganya yang tersisa, dia mencoba bangkit berdiri, tetapi gagal. Akhirnya, setelah beberapa kali mencoba dan gagal, dia berhasil mengangkat bagian depan tubuhnya dengan bantuan kedua tangannya. Dengan setengah merangkak, setengah menyeret tubuhnya, Zwei meninggalkan jejak darah di belakangnya sementara dia berusaha mendekati tubuh Vincent. Dia harus beristirahat setiap beberapa meter sebelum memiliki tenaga untuk melanjutkan kembali. Setelah sepuluh menit yang menyiksa berlalu, akhirnya Zwei berhasil sampai.
"Masa begitu saja tidak kuat?" kata Zwei untuk menyindir Vincent yang tidak sadarkan diri. "Sampai pingsan pula! Padahal itu kan hanya sebuah tusukan. Apa kau tidak malu?"
Dengan tangan kanannya yang gemetar, tangan kirinya sama sekali tidak bisa digunakan sekarang setelah dia sampai di sana, dia mencabut pisaunya yang masih menancap di lengan kiri Vincent. Dia melihat kalau tanpa sengaja dia telah merusak tato anggota Pandora milik Vincent. Tato bermotif rantai itu sudah putus sekarang.
"Mungkin ini yang menyebabkan ledakan tadi," pikir Zwei.
Zwei mendapati dirinya bertanya-tanya dimana tanda anggota Dark Sabrie milik Vincent ditatokan. Karena tato Pandora berada di lengan atas tangan kiri, maka Zwei mencari tato Dark Sabrie di lengan atas tangan kanan Vincent.
Tebakan Zwei benar. Di lengan atas tangan kanan Vincent dia menemukan tato Dark Sabrie. Tato bermotif rantai yang identik dengan tato Pandora itu tampak jelas di atas kulit pucat Vincent.
"Kiri untuk Pandora, kanan untuk Dark Sabrie," gumam Zwei. Entah kenapa, dia merasa masalah kanan dan kiri ini sangat lucu hingga dia tertawa terbahak-bahak.
"Zwei! Kau kenapa?" tanya Echo yang khawatir alter egonya berubah menjadi gila karena rasa sakit yang dideritanya.
"Aku tidak apa-apa, Echo! Hanya saja, ini sangat lucu!" kata Zwei disela-sela tawanya. "Maksudku, sudah jelas Pandora yang benar, tetapi tato Pandora berada di tangan kiri. Sementara itu, tato Dark Sabrie berada di tangan kanan. Tidakkah menurutmu itu lucu?"
Echo tidak menjawab, walaupun sebenarnya dia lumayan mengerti apa yang dibicarakan oleh Zwei. Dia takut ada yang salah dengan alter egonya sehingga dia bersiap-siap untuk mengambil alih kendali secara paksa dari Zwei.
Untunglah kekhawatiran Echo tidak terbukti. Perlahan-lahan, ekspresi Zwei berubah menjadi serius kembali. Dia menatap wajah Vincent tanpa ekspresi selama beberapa saat. Kemudian, tanpa Echo duga, Zwei menampar Vincent sekuat tubuhnya mengizinkan.
"Zwei!" kata Echo terkesiap. "Bagaimana kalau dia bangun?"
Zwei tidak mengindahkan Echo kali ini. "Itu balasan karena kau mengkhianati Pandora," kata Zwei datar kepada Vincent yang masih tidak sadarkan diri.
Kemudian, yang semakin membuat Echo terkesiap, Zwei menundukkan badannya dan mencium Vincent dengan singkat.
"Itu," kata Zwei lemah, "karena aku mencintaimu."
Zwei mendongakkan wajahnya kemudian berseru kepada langit, "Sekarang aku bisa pergi dengan tenang."
"Zwei?" tanya Echo bingung. "Apa yang kau maksud dengan pergi?"
Tapi Echo tidak pernah mendengar jawabannya, karena tubuh Zwei sudah membentur tanah.
.
"Apa kita tepat waktu?" tanya Reo ketika, akhirnya, mereka mencapai daerah barat Sabrie.
"Aku tidak tahu," kata Sharon sambil terengah-engah karena mereka berlima berlari sepanjang jalan. "Kita belum mencapai tempat Echo berada!"
"Kau tidak bisa melacak Doldam lagi, Sharon?" tanya Break.
"Tidak," jawab Sharon sambil menggelengkan kepalanya. "Doldam sudah kembali ke Abyss dan Eques tidak bisa menemukannya."
"Itu berarti ada dua kemungkinan," kata Ada yang sudah menyiapkan belati beracunnya.
"Kenapa dari tadi pagi selalu ada dua kemungkinan?" Alice mengerang kesal.
Ada mengabaikan Alice dan melanjutkan, "Kemungkinan pertama, dan kuharap ini yang terjadi, Zwei menang dan dia mengembalikan Doldam ke Abyss. Kemungkinan kedua, yang sangat tidak kita harapkan untuk terjadi, Zwei terluka dan Doldam dipaksa kembali ke Abyss."
"Aku berharap kemungkinan pertama yang terjadi," kata Break, "Walaupun entah mengapa aku merasa kemungkinan terdua yang terjadi." tambahnya dalam hati.
"Erm, matakukah yang salah atau daerah itu memang hancur?" tanya Reo sambil menunjuk satu area yang tidak terlalu jauh dari mereka. Break, Alice, Sharon dan Ada menoleh ke arah yang ditunjukkan Reo.
Benar saja, bangunan-bangunan di area itu runtuh, seakan-akan diledakkan oleh sesuatu. Mereka juga baru menyadari kalau jalan tempat mereka berdiri dan bangunan-bangunan yang mengelilingi mereka dilapisi oleh debu dan beberapa material yang lebih besar.
"Kurasa kita harus mengecek daerah sana terlebih dahulu," kata Break yang segera disetujui oleh yang lain.
"Sebaiknya kau duluan, Reo. Kalau chain Vincent berada di dekat-dekat sini, hanya Jabberwock yang bisa mengalahkannya," saran Ada.
"Oke!" jawab Reo. Dia segera melangkah menuju area itu diikuti oleh teman-temannya.
"Seseorang baru saja lewat sini," Alice melaporkan ketika dia melihat jejak kaki yang masih baru di jalan yang dilapisi debu.
Sharon menggigit bibirnya dengan gugup, "Aku harap Zwei masih disana dan tidak dibawa oleh siapapun itu."
Tidak perlu waktu lama bagi mereka untuk mencapai area itu. Mereka segera mengedarkan pandangan untuk mencari Zwei maupun Vincent. Di antara mereka berlima, Ada-lah yang pertama kali menemukan petunjuk.
"Jejak darah…" bisiknya sambil menunjukkan jejak darah yang ditinggalkan Zwei beberapa saat yang lalu.
"Aku harap itu bukan milik Zwei," gumam Reo.
"Kurasa harapanmu itu tidak terkabul, Reo," kata Break yang terdengar seperti orang tercekik. Break menunjuk ke tengah area, ke arah tubuh Zwei yang tergeletak tak sadarkan diri. "Lihat!"
Reo, Alice, Ada dan Sharon menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Break, tercekat ketika melihat keadaan sahabat mereka.
Tubuh Zwei tergeletak begitu saja di atas tanah. Bajunya robek di berbagai tempat, kaki kanannya tertekuk ke arah yang tidak wajar, dan kolam darah sudah terbentuk di sekeliling tubuhnya. Luka robekan yang mengerikan tertoreh di punggungnya.
"Zwei!" pekik mereka semua. Mereka segera berlari menuju tubuh Zwei dan mengerumuninya. Semua orang menahan nafas ketika Ada memeriksa tubuh Zwei.
"Dia masih hidup, kan?" tanya Sharon cemas.
"Untungnya, masih. Tapi denyut nadinya lemah sekali," sahut Ada. "Kita harus membawanya ke rumah kos secepatnya!"
"Kita tidak bisa berlari-lari melalui kota seperti tadi, terlalu lama! Sharon, kau bisa…" Break tidak melanjutkan kata-katanya karena Sharon sudah mengangguk terlebih dahulu.
"Bisa, tapi kau harus menggendongku ketika pulang nanti, Break! Tenagaku hanya cukup untuk mengirim Zwei dan Ada pulang, sisanya harus berjalan. Untung saja aku menyuruh Elliot menyiagakan chainnya!" Sharon menepukkan kedua tangannya dan sebuah lubang hitam terbentuk di bawah Ada dan Zwei. Angin kencang yang berhembus dari lubang itu membuat rambut mereka berkibar.
"Sampai bertemu nanti!" seru Ada sebelum dia dan Zwei ditelan oleh lubang hitam itu.
Lubang hitam itu menghilang dan Sharon nyaris saja jatuh karena kelelahan. Dia menghabiskan cukup banyak tenaga ketika mencari Doldam tadi dan sekarang setelah memulangkan Ada dan Zwei, tenaganya nyaris habis.
"Whoa!" seru Break terkejut. Dia segera menahan jatuhnya Sharon dengan tangannya.
"Jejak kaki yang tadi kita melihat mengarah ke sini," kata Alice ketika dia mengamati jejak kaki yang dia temukan sebelumnya. "Menurut kalian, jejak kaki siapa ini?"
"Dari ukuran sepatunya, sepertinya Rufus," setelah memastikan kalau Sharon bisa berdiri sendiri, Break berlutut untuk melihat jejak kaki itu dengan lebih jelas. "Yep, ini milik Rufus!"
"Sepertinya Rufus datang untuk mengambil Vincent," kata Reo. "Lihat, seharusnya ada tubuh orang lain disini!" Reo menunjuk sebidang tanah yang juga ternoda darah beberapa langkah dari tempat tubuh Zwei sebelumnya berada.
"Berarti Vincent juga pingsan tadi, dan Rufus datang untuk mengambilnya," kata Alice menyimpulkan. "Kurasa dia menggendongnya, karena hanya ada satu pasang jejak kaki yang meninggalkan tempat ini."
"Dan dia meninggalkan Zwei untuk mati disini," geram Break.
"Mungkin lebih baik kalau mereka tidak membawa Zwei juga tadi." kata Sharon, "Aku merinding ketika memikirkan apa yang akan dilakukan oleh Dark Sabrie kepada Zwei kalau mereka membawanya tadi!"
"Kurasa tidak ada lagi yang bisa kita temukan di sini," kata Break. "Sebaiknya kita pulang sekarang. Sini Sharon, aku akan menggendongmu!"
.
"Ya ampun!" seru Revis terkejut ketika sebuah lubang hitam muncul di langit-langit ruang tamu kemudian Ada dan Zwei jatuh dari lubang hitam itu.
"Ampun, deh!" erang Ada ketika tubuhnya membentur lantai, "Kenapa harus dari langit-langit, sih?"
"Itu… Echo?" tanya Ann dengan nada tercekat. Oz, Gil dan Elliot menatap tubuh Echo dengan ngeri.
Jatuh dari langit-langit tampaknya membuat keadaan gadis itu semakin memburuk, walaupun Ada sudah berusaha meminimalisir kontak antara tubuh Echo dengan lantai sehingga Echo jatuh di atas tubuhnya. Pakaian Ada dan lantai putih ruang tamu itu kini telah dihiasi oleh warna merah.
"Jangan diam saja!" bentak Ada ketika meliha Revis, Ann, Oz, Gil dan Elliot hanya berdiri diam. "Cepat bawa dia ke klinik!"
Revis segera bertindak. Dengan lembut, dia mengangkat tubuh Echo dari lantai dan segera berlari menuju klinik di lantai tiga, berusaha agar gerakannya tidak membuat luka gadis itu semakin parah. Dalam hati, laki-laki itu mengutuk Miranda karena bisa-bisanya dia cuti pada saat ini.
Sementara itu, Ada sedang berusaha untuk duduk. Sambil meringis kesakitan, dia berusaha untuk berdiri.
"Ada, kau berdarah," kata Oz ketika dia menyadari keadaan pakaian Ada yang berlumuran darah.
"Ini bukan darahku, kak," sahut Ada menenangkan. "Aku harus membantu Revis!" katanya sebelum berlari menyusul dokter muda itu.
"Kemana yang lain?" tanya Elliot, bingung karena hanya Ada dan Echo yang muncul dari lubang hitam itu sementara lubang itu sendiri sudah menutup.
"Mungkin mereka terpaksa berjalan pulang," tebak Gil. "Ingat, Sharon menghabiskan cukup banyak tenaga untuk mencari Doldam tadi. Mungkin saja tenaganya sekarang hanya cukup untuk memulangkan Ada dan Echo atau Zwei."
"Kalian berdua mau ikut ke klinik atau menunggu disini?" tanya Oz yang sudah setengah jalan menaiki tangga kepada Gil dan Elliot. Melihat kalau hanya tinggal mereka berdua yang masih berada di ruang tamu, Gil dan Elliot segera berlari mengikuti pemimpin mereka.
Dalam waktu singkat, mereka bertiga sampai di depan pintu klinik. Ann sudah sampai terlebih dahulu dan berusaha mengintip melalui lubang kunci pintu itu.
"Kenapa kau tidak masuk, Ann?" tanya Gil..
"Revis tidak mengizinkan kita masuk," jawab Ann pendek. "Katanya kita hanya menganggu konsentrasinya. Hanya Ada yang diizinkan masuk untuk membantu."
"Dimana Miranda?" tanya Oz. Dia mengisyaratkan agar Ann bergeser sedikit supaya dia bisa ikut mengintip.
"Mengunjungi orangtuanya di Leveiyu," jawab Ann sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Di saat seperti ini? Yang benar saja!"
Oz menyerah berusaha mengintip dan menegakkan tubuhnya. "Kita hanya bisa menunggu sekarang," katanya.
Mereka berempat memutuskan untuk duduk melingkar di tengah lorong dan mendiskusikan perkembangan terakhir dengan pelan. Mereka tidak ingin menganggu Ada dan Revis yang sedang berusaha menyelamatkan nyawa Echo dan Zwei.
Pintu klinik tiba-tiba terbuka dan Revis melongokkan kepalanya ke lorong. Setelah menengok ke kanan dan kiri untuk mencari mereka, dia mengeluarkan perintah,
"Ann, telepon rumah sakit sekarang juga!" perintahnya kepada Ann.
"Huh?" Ann mendongakkan kepalanya dengan bingung. "Memangnya kenapa?"
"Luka-lukanya sangat serius. Aku bisa menyembuhkan satu tulang yang patah, mungkin dua, tapi tidak lima belas!" Revis berkata, "Luka di punggungnya juga perlu dijahit, dan sayangnya aku tidak memiliki peralatannya sekarang!"
"Bukannya Aire sudah melengkapi stok obat dan peralatan medis di klinik minggu lalu? Masa sudah habis lagi? Rasanya tidak ada yang terluka minggu ini!" tanya Ann heran.
"Nah, itu juga yang aku tanyakan! Sekarang, cepat telepon rumah sakit kalau kau mau temanmu selamat! Bilang kepada mereka untuk menyiapkan tempat di ICU! Dan kalau mereka bertanya macam-macam, bilang saja kalau Reinhart yang memesan. Kalau mereka tahu apa yang terbaik untuk mereka, mereka akan mengunci mulut mereka." Revis memberikan instruksi. Ann melompat berdiri dan berlari untuk melaksanakan perintah Revis.
"Memangnya ada rumah sakit yang bisa kita percayai?" tanya Oz kepada Revis.
"Ada. Dulu aku sempat membuka praktik di sana sebelum pindah ke sini. Mereka mendapatkan donasi yang cukup besar dari Reinhart, jadi seharusnya mereka bisa dipercaya." sahut Revis.
"Aku baru ingat!" lanjutnya. Dia menatap Oz, Gil dan Reo, "Kalian bertiga, cari Will dan suruh dia menyiapkan sepedanya. Kita butuh transportasi yang cepat!" perintahnya sebelum kembali menutup pintu klinik.
"Memangnya Will punya sepeda?" gumam Elliot.
"Itu tidak penting sekarang. Gil, kau cari Will di lantai satu. Elliot, lantai dua!" perintah Oz. "Aku akan mencari di lantai ini. Sekarang, cepatlah!"
.
Lima belas menit setelah Echo dilarikan ke rumah sakit, tim penyelamat yang terlupakan sampai di rumah kos.
"Kalian lama sekali," kata Oz kepada Break, Reo, Alice dan Sharon yang baru saja masuk.
"Maaf!" kata Reo. "Tapi kami menyelidiki tempat itu dulu sebelum pulang."
"Aku ke atas dulu," kata Break sambil melirik Sharon yang berada di punggungnya. Gadis itu jatuh tertidur ketika mereka sedang berjalan pulang.
"Bagaimana keadaanya?" tanya Alice setelah Break dan Sharon menghilang ke lantai dua. Dia dan Reo menghempaskan diri ke atas kursi empuk yang berada di ruang tamu.
"Buruk. Revis baru saja membawanya ke rumah sakit," jawab Oz. Dia juga duduk di kursi yang berhadapan dengan Alice dan Reo.
"Apa yang kalian temukan di sana?" tanya Oz kepada Reo dan Alice.
"Sebuah ledakan terjadi di tempat kami menemukan Echo," Reo melaporkan. "Kurasa ledakan itu disebabkan oleh chain, tapi aku tidak tahu siapa yang melakukannya."
"Seberapa besar skala ledakannya?" tanya Oz dengan penuh minat.
"Lebih besar daripada yang kusebabkan dulu," jawab Reo. "Radiusnya sekitar… sepuluh meter?"
Alice mengangguk, "Ya, kurang lebih sepuluh meter."
"Apa Vincent ada di sana?" tanya Oz lagi. Reo dan Alice menggeleng dengan serempak.
"Tidak, dia tidak ada di sana, tetapi dia terluka," jawab Alice. Gadis itu menopang dagunya dengan tangan kanannya, "Apa ini ada hubungannya dengan perasaan yang kau dapat tadi, Oz?"
"Aku punya… teori," kata Oz. "Tapi aku harus bertanya kepada Echo atau Zwei untuk memastikannya."
"Dan, apa teorimu?" tanya Reo penasaran.
"Aku belum bisa memberitahu kalian sebelum aku memastikan kebenarannya," tukas Oz.
"Ya ampun, Oz! Kau senang sekali bermain rahasia-rahasiaan, ya?" kata Alice kesal.
"Baiklah, aku akan memberitahu kalian berdua sedikit bocoran," kata Oz mengalah. Alice dan Reo memiringkan tubuh mereka ke arah Oz dengan antusias.
"Vincent resmi bukan anggota Pandora lagi!" bisik Oz.
"Memangnya dulu belum resmi, ya?" tanya Alice bingung.
Oz tersenyum tipis dan bangkit berdiri, "Selebihnya, kalian tebak sendiri. Sekarang, aku mau mencari Aire dulu!" katanya sebelum melangkah meninggalkan meninggalkan ruang tamu, berpura-pura tidak mendengarkan desakan dari Alice dan Reo agar dia menceritakan lebih banyak.
Dia menemukan Aire di ruang senjata. Gadis itu sedang membuat daftar senjata-senjata yang mereka miliki. Aire merasa sebuah pertempuran yang cukup besar akan segera terjadi, dan dia ingin memastikan kalau mereka siap untuk menghadapinya.
"Hei!" sapa Oz kepada Aire yang sedang memeriksa sebuah rak penuh berisi granat.
"Halo, Oz!" Aire balas menyapa tanpa mengalihkan pandangannya dari rak itu. "Maaf aku tidak ada di atas tadi, aku cukup sibuk di bawah sini."
"Tidak apa-apa," jawab Oz. Dia berdiri di samping Aire dan memperhatikan berkotak-kotak granat tangan di depannya.
"Kau yakin kita membutuhkan granat sebanyak ini?" tanya Oz.
"Lebih baik berjaga-jaga, bukan?" balas Aire. "Omong-omong, sebagian dari granat-granat ini adalah dummy."
"Jadi," Oz mengambil sebuah granat, "ini sebuah dummy?"
"Itu asli," jawab Aire singkat.
"Kalau begitu," Oz meletakkan granat itu dengan hati-hati dan mengambil granat lain, "ini yang asli?"
"Itu sebuah dummy,"balas Aire sambil menahan tawanya."Masa kau tidak bisa membedakan yang asli atau yang palsu?"
"Sepertinya kau harus menandai yang mana yang asli dan yang mana yang palsu," saran Oz. "Aku tidak mau mengancam seseorang dengan dummy dan tiba-tiba granat itu meledak di tanganku!"
"Baiklah, aku akan menandainya nanti," Aire berjanji. "Omong-omong, kenapa kau mencariku, Oz?"
Oz menyandarkan punggungnya ke sebuah rak dan mengambil sebuah pisau belati yang berada di sana. Sembari mengamati pisau itu, dia bertanya, "Apa Reinhart punya mata-mata di Clockwork?"
"Tentu saja kami punya," jawab Aire tanpa ragu sedikitpun. "Kau kira bagaimana kami bisa menghindari semua serangan dadakan yang dilancarkan oleh Clockwork?"
"Kalau begitu," Oz meletakkan pisau itu kembali ke tempatnya dan menoleh ke arah Aire, "aku ingin dia mencari sebuah informasi untukku."
.
"Aku tidak tahu bagaimana dia bisa bertahan melalui semua ini," kata Ada. Dia bersama Reo dan Elliot berdiri di depan ruang operasi. Di tangannya, Ada memegang selembar kertas putih berisi daftar cedera yang dialami oleh Echo.
Reo mengintip daftar itu dari pundak Ada dan menelan ludah. "Ya ampun," gumamnya.
"Robekan di punggung, luka cakar di kedua pundaknya, satu luka tembak di tangan kiri, tiga tulang rusuk yang patah…" Elliot berhenti membaca daftarnya keras-keras. "Gila!"
"Begitu banyak yang terjadi dalam satu hari," desah Reo. "Tadi pagi, kita dibangunkan oleh Alice dan sore ini kita menunggu kabar di depan ruang operasi rumah sakit."
"Aku harap dokter-dokter itu bisa menyelamatkan nyawanya," gumam Ada. Dia melipat kertas yang dipegangnya dan memasukkannya ke saku celana.
"Dokter bilang dia harus diopname selama sebulan," lanjutnya. "Semoga Dark Sabrie tidak menyerang dalam waktu itu!"
"Kita juga tidak bisa menjalankan rencana tanpa Echo dan Zwei," timpal Elliot. "Tanpa mereka, kita kalah jumlah."
"Apa dia belum sadar juga?" tanya Reo. Ada menggeleng.
"Belum, tapi para dokter sedang berusaha untuk menyembuhkannya,"
Reo menoleh ke arah pintu ruang operasi, berharap ada dokter yang keluar untuk membawa kabar baik. Mereka sudah berdiri di sana sekitar satu jam, tapi belum ada dokter yang keluar.
"Kuharap operasinya lancar," gumamnya pelan.
.
"Zwei! Apa yang kau maksud dengan pergi?" tanya Echo panik sambil mengguncang pundak Zwei. Mereka berdua berada di tempat spesial mereka, tempat mereka sama sekali tidak terhubung dengan tubuh mereka.
"Yang kumaksud dengan pergi," bisik Zwei. Dia sama sekali tidak menatap Echo ketika dia melanjutkan.
"Aku tidak akan muncul ke permukaan lagi, Echo."
"Apa maksudmu?" pekik Echo. "Apa maksud kata-katamu barusan, Zwei?"
"Aku tidak akan muncul lagi, terlalu berat untukku," jawab Zwei. Dia memutar lehernya dan akhirnya menatap kedua iris kelabu Echo yang identik dengan miliknya.
"Kau menyuruhku untuk melupakan Vincent tadi pagi, bukan?" tanya Zwei. "Masalahnya, aku tidak bisa melupakannya! Aku tidak bisa melihat Vincent yang dulu kukenal berubah menjadi orang yang kejam. aku tidak bisa!"
"Kau pasti bisa!" sambar Echo. "Kau harus kuat, Zwei!"
Zwei tersenyum lemah, "Apa yang akan kau rasakan kalau kau melihat orang yang kau sayangi berubah menjadi seseorang yang tidak kau kenal? Dia berubah menjadi orang yang kejam, dan kau tahu kau tidak bisa mengubahnya walaupun kau berusaha sekuat tenaga. Hatimu akan hancur, Echo!"
"Tidak, tidak!" bantah Echo. "Aku mengenalmu, Zwei. Aku tahu kalau kau orang yang kuat! Aku tahu kau bisa menghadapi ini!"
Zwei melepaskan tangan Echo dari pundaknya dan memegangnya di depan dadanya dan dada Echo. "Aku tidak bisa. Kumohon, jangan protes lagi!" katanya begitu dia melihat Echo membuka mulutnya untuk memprotes.
"Selain itu, patah hati bukanlah satu-satunya alasanku untuk tidak muncul ke permukaan," lanjutnya.
"Akhir-akhir ini, aku sering bertanya-tanya siapa di antara kita yang merupakan keprbadian asli. Semakin sering aku memikirkannya, aku semakin yakin kalau kepribadianmu, Echo, adalah kepribadian yang asli!"
"Tidak!" protes Echo. "Kita tidak tahu siapa di antara kita yang merupakan kepribadian asli, dan aku lebih senang begitu!"
"Jujur saja, aku juga lebih senang begitu," Zwei mengakui. "Tapi, menurutmu berapa lama lagi kita bisa terus seperti ini, berbagi tubuh dengan adil? Berapa lama lagi sebelum kita mulai mempertanyakan siapa di antara kita yang merupakan kepribadian asli? Satu tahun? Dua? Lima? Saat itu akan datang kalau kita terus seperti ini, Echo! Kalau saat itu datang, mungkin kita benar-benar akan dimasukkan ke rumah sakit jiwa."
"Aku memilih untuk mengalah. Aku tidak akan muncul ke permukaan lagi! Aku akan menyerahkan kendali tubuh ini kepadamu sepenuhnya!"
"Kalau begitu, biar aku yang mengalah!" seru Echo. "Kau lebih berguna bagi Pandora daripada aku, Zwei!"
"Tidak bisa!" kata Zwei dengan keras kepala. "Harus aku yang mengalah, Echo! Pikirkan bagaimana perasaan Reo kalau kau yang mengalah!"
"Tapi," Echo masih memprotes, "Siapa yang akan mengendalikan Doldam kalau kau tidak mengendalikan tubuh ini? Kita membutuhkan Doldam pada pertempuran nanti!"
"Mungkin aku akan muncul sewaktu-waktu, siapa yang tahu?" kata Zwei sambil mengangkat bahunya. "Aku tidak akan sepenuhnya pergi, Echo! Ingat, aku baru bisa mati kalau kau juga mati!"
"Tapi," Echo kehabisan kata-kata. Dia menyadari kalau sosok Zwei semakin memudar. Dia mencengkram tangan Zwei erat-erat.
"Tidak! Kumohon, jangan pergi!" pinta Echo. Zwei menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Tanpa Echo sadari, bulir-bulir air mata mulai menuruni pipinya. Dengan lembut, Zwei melepaskan cengkraman Echo dan menghapus air mata Echo.
"Ini kedua kalinya aku melihatmu menangis. Ayolah, masa seorang Echo menangis? Apa yang akan dikatakan orang lain kalau mereka melihatmu? Tenang saja, aku hanya akan seperti tertidur. Kau bisa memanggilku kapanpun kau mau!" hiburnya.
"Tapi," Echo mulai berkata-kata, tapi sosok Zwei sudah nyaris menghilang.
"Zwei!"
"Sayonara, Echo!"
.
Di dunia nyata, air mata juga menuruni pipi Echo, membuat dokter-dokter yang sedang mengoperasinya kebingungan.
Dia sudah kehilangan keluarganya dan desanya. Sekarang dia harus kehilangan alter egonya.
TBC
A/N:
Seharusnya Aoife lagi ngerjain tugas sekarang, tapi kenapa malah update, ya? Nee, ada yang tahu lagu daerah, pakaian adat, sama rumah adat Kabupaten Pati, gak? Kalau ada, kasih tahu dong! #ditembak Ann gara-gara OOT
Oke, oke. Back to topic! Aoife tahu kalau Zwei disini OOC banget, karena, kalau di manga, Zwei gak bakal mungkin mengalah kepada Echo sampai akhir dunia. But, a girl can dreams, right? Right?
Siap-siap untuk ceramah Alice di chapter depan! RnR, guys?
