Aku serius bener-bener ingin menamatkan ini dengan segera agar bisa fokus dg fanfic sy sendiri~ :p
So, here we go~
.
.
.
...
Peramal Itu Bilang Kau Adalah Suami Masa Depan-Ku
(The Fortune-Teller Said That You're My Future Husband)
[Lik Original:: com/story/view/591693 || tambahkan alamat webs asianfanfics di depannya ]
The Real Author :: Otpismyoxygen
Translator :: Sayaka Dini
Disclaimer: This story belong to Otpismyoxygen.
Cast:
Baekhyun; Chanyeol; Jongin; Kyungsoo; Kris; Jongdae; Tao
Pairing: Chanbaek / Baekyeol
Setting: AU
Genre: Romance—Fluff—Comedy
Rated: T.
Warning: Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy.
Please, Don't Like Don't Read.
Hope You Enjoy It~ ^_^
_o0o_
.
.
.
.
.
.
...
Bagian 27 ::
.o.o.o.o.o.o.
Hari-hari selanjutnya berlalu dalam sekejap. Pasangan itu sekali lagi berhasil menjadi topic pembicaraan tentang insiden bola basket. Tapi kali ini, keduanya tidak peduli. Lagipula sejak awal mereka sudah terbiasa dengan itu. Bedanya adalah, kali ini, Baekhyun lah yang melakukan tindakan berani. Mungkin tidak seberani apa yang telah dilakukan Chanyeol, seperti berciuman di tengah koridor atau mengajak kencan seseorang di depan seluruh penghuni sekolah, tapi itu cukup berani mengingat ini adalah Baekhyun, sang ketua osis.
Hubungan mereka kembali ke normal. Senormal seperti biasa. Dan sahabat-sahabat Chanyeol akhirnya bisa bernapas lega karena sekarang senyuman si raksasa, yang biasanya, telah kembali.
Mereka bertiga, Jongin, Kyungsoo, dan Kris melihat dengan mata mereka sendiri bagaimana Baekhyun bisa mengubah Chanyeol dengan drastis. Mereka yakin di hari-hari suram sebelumnya, Chanyeol terlihat seakan dikelilingi oleh bayangan abu-abu dan aura hitam di sekelilingnya. Tapi sekarang, setelah insiden bola basket itu terjadi, dan pasangan itu berlari ke ruang ganti, dan hanya Tuhan yang tahu apa yang terjadi di sana, bayangan hitam Chanyeol itu benar-benar menghilang, digantikan oleh beberapa cahaya merah muda dan aura kekuningan.
Sinarnya –sinar mereka berdua telah kembali.
Baekhyun sendiri sangat bersyukur Chanyeol telah kembali ke keadaan normal. Mereka melewati rutinitas mereka bersama seperti biasa, dan Chanyeol kembali menempel dengannya lagi. Tapi Baekhyun tidak pernah protes. Baekhyun bahkan memperlakukan Chanyeol lebih lembut karena pemuda tinggi itu masih dalam keadaan rapuh.
Saat Baekhyun mengatakan bahwa ia ingin selalu berada disisi Chanyeol, dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Setelah memastikan Chanyeol siap, Baekhyun membantu Chanyeol sebanyak yang ia bisa untuk mencari perguruan tinggi lainnya. Baekhyun mengumpulkan banyak informasi, baik dari internet atau brosur. Dia bahkan menemani Chanyeol untuk pergi ke guru konseling sehingga mereka tidak akan mengambil langkah yang salah.
Jika dikatakan Chanyeol sudah berubah dari keinginannya untuk masuk ke universitas Chung-Ang, maka itu salah, setidaknya tidak sepenuhnya. Tapi kekasih mungilnya itu sudah banyak membantu Chanyeol secara bertahap untuk menerima kenyataan pahit tersebut. Baekhyun tidak memaksanya. Baekhyun selalu berulang kali bertanya pada Chanyeol apa dia baik-baik saja, dan Chanyeol sangat bersyukur untuk itu. Chanyeol benar-benar tidak akan menukarkan Baekhyun dengan apapun di dunia ini.
Setelah hari 'keajaiban' bola basket, ya Chanyeol menyebutnya 'keajaiban' bukan insiden, Chanyeol meminta maaf kepada kekasihnya karena sudah menjadi pengecut dengan menghindarinya. Dan seperti yang Chanyeol katakan sebelumnya, Baekhyun memiliki hati emas, sehingga pemuda cantik itu hanya menjawab dengan "Jangan ulangi itu lagi," yang tentu saja Chanyeol dengan senang hati setuju dengan mencium pipi Baekhyun.
"Kau tahu kan kalau kau adalah pacar terbaik yang pernah ada?"
"Apa?" Baekhyun mendongak dari setumpuk brosur kuliah yang telah ia baca selama istirahat makan siang mereka yang mereka habiskan di atap sekolah.
Chanyeol menatapnya dengan telapak tangan yang menopang dagunya, tersenyum sayang pada Baekhyun, "Aku bilang kau adalah pacar terbaik yang pernah ada."
Baekhyun terkekeh, "Kau sudah mengatakan itu padaku seribu kali."
"Itu karena kau."
"Aku tahu," kata Baekhyun dengan nada nakal. "Sekarang berhenti dengan kalimat memujanya, ayo kita fokus dengan ini."
Chanyeol mendesah karena sekarang Baekhyun sedang menyerahkan salah satu brosur, mengisyaratkan Chanyeol untuk membacanya, "Bagaimana dengan yang ini?" tanya Chanyeol.
"Guru Heechul merekomendasikan ini padaku. Dia bilang Dongguk University juga memiliki jurusan musik yang bagus. Dan setelah aku membacanya, ya, aku pikir itu cukup bagus."
Chanyeol bergumam sambil membaca kalimat yang tertera di atas brosur. Dia tahu universitas ini karena reputasinya. Jika Chanyeol tidak keliru, tingkatnya hampir sama baiknya dengan Chung-Ang. "Bagaimana dengan nilai-nilaiku? Apakah itu cukup?"
Baekhyun tersenyum, "Ya, itu cocok."
"Benarkah?" mata Chanyeol melebar. Baekhyun mengangguk penuh semangat. Pemuda yang lebih tinggi itu menaruh konsentrasinya kembali pada brosur, "Ini terlihat bagus."
"Apa kau tertarik masuk ke situ?"
Chanyeol mendongak dan melihat Baekhyun menatapnya dengan pandangan khawatir. Chanyeol tersenyum. Baekhyun sudah sangat memahaminya dengan selalu menanyakan apa yang sedang Chanyeol pikiran.
"Aku akan mempertimbangkannya," katanya sambil melipat brosur itu. "Aku nanti akan mencarinya lewat internet di rumah."
Chanyeol bisa melihat wajah Baekhyun memancarkan kelegaan saat Chanyeol mengatakan akan mempertimbangkannya. Sudah tak terhitung berapa kali pemuda yang lebih tua itu menawarinya beberapa universitas, dan ini adalah pertama kalinya pemuda yang lebih muda itu sepakat mengenai hal ini.
Baekhyun memasang senyum meyakinkan, lalu menggenggam telapak tangan kekasihnya. "Hei, Yeol?"
Chanyeol menjawab panggilan Baekhyun dengan tatapan, menandakan kalau ia mendengarkan.
"Tenang saja. Ada aku di sini, oke?"
Chanyeol merasa seperti beban di dalam hatinya menghilang sepenuhnya. Dia sudah tak mengharapkan Chung-Ang lagi. Semuanya berkat Baekhyun. Selama Baekhyun ada di sini, di sisinya, Chanyeol akan baik-baik saja. Dia tahu semuanya akan baik-baik saja karena ia memiliki Baekhyun.
Tiba-tiba, ia ingin menangis. Dia sudah menjadi cengeng selama waktu-waktu sulit ini. Tapi dia menahan air matanya, tidak ingin membuat Baekhyun khawatir. Karena demi apapun, ia tidak ingin menyusahkan Baekhyun.
Jadi, Chanyeol mengangguk dan membiarkan bibirnya melengkung ke dalam senyuman. Kemudian ia perlahan-lahan bangkit berdiri, menarik pemuda mungil itu bersamanya. Chanyeol bisa melihat ekspresi Baekhyun berubah menjadi bingung karena mereka kini berdiri berhadapan.
"Byun Baekhyun."
Salah satu alis Baekhyun menekuk. Chanyeol hampir tidak pernah memanggilnya dengan nama lengkapnya. Jika iya, itu hanya terjadi pada alasan tertentu. "Apa?"
Ketika ia masih kecil, Chanyeol tidak pernah berpikir bahwa jatuh cinta dengan seseorang akan seperti ini. Dia mencintai keluarganya, dia mencintai teman-temannya, ia mencintai mainannya, dan ia bahkan mencintai hewan peliharaannya. Tidak pernah terpikir olehnya, bahkan sampai ia menjadi remaja, bahwa ada jenis cinta lain yang tidak pernah ia alami sebelumnya. Dia berpikir bahwa itu akan menjadi sama; sama seperti setiap cinta yang ia rasakan pada orang-orang yang disayanginya.
Sekarang ia jelas mengerti mengapa itu disebut 'satu'. Karena hanya 'satu' ini yang akan diakui sebagai satu satu-satunya jenis 'cinta' dimana berbeda dari bentuk cinta yang lainnya.
Dan Chanyeol senang bahwa ia telah menemukan 'satu' untuknya.
Karena di waktu yang tepat seperti ini, Chanyeol berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan melepaskan pemuda mungil ini. Tidak akan pernah ia biarkan pemuda mungil ini lolos dari tangannya. Tidak akan pernah ia biarkan pemuda mungil ini lepas dari pandangannya. Tidak akan pernah ia membiarkan pemuda mungil itu bersedih. Tidak akan pernah ia membiarkan pemuda mungil itu jatuh. Dan kebanyakan dari semua itu, Chanyeol tidak akan membiarkan pemuda mungil ini terluka oleh apa pun atau siapa pun. Bahkan oleh orang tuanya sendiri.
"Aku ingin kau bertemu dengan orang tuaku."
.
.
.
.
.
Pada saat itu, Chanyeol merasa keputusannya sudah sangat benar. Tapi sekarang, saat ia memikirkannya dua kali, Chanyeol merasa sepertinya dia hanya mengambil langkah yang sangat salah dalam hidupnya.
Dia menatap kosong lautan orang di depannya, bahkan ia tidak mencoba untuk mencari sosok familiar orang tuanya. Terserah, pikir Chanyeol. Dia cukup yakin orang tuanya akan menjadi orang pertama yang menemukannya. Selain itu, ia sudah membawa kertas yang ditulis dengan kata-kata besar di atasnya; "The Parks". Ini pasti sudah cukup. Orang tuanya akan bisa melihatnya, pikirnya.
Orang tuanya akhirnya pulang ke rumah setelah hampir 6 bulan melakukan beberapa perjalanan bisnis di Amerika Serikat. Orang tuanya sudah sering mondar mandir dari Amerika Serikat selama 5 tahun sampai sekarang. Sesekali, mereka akan kembali ke Korea Selatan hanya ketika mereka punya waktu. Sebenarnya bukan kedua orang tuanya, hanya ayahnya yang menjalankan bisnis tersebut, memulai debutnya dan mempromosikan girlband atau boyband korea di sana. Itu bukan pekerjaan mudah, karena itu ibunya mengikuti suaminya. Sejauh Chanyeol tahu, promosi di AS tidak terlalu berhasil meskipun mereka telah menghabiskan banyak waktu dan uang untuk membuat debut grup
Ya. Ayah Chanyeol adalah seorang CEO sebuah perusahaan hiburan yang sangat besar. Memiliki ayahnya di industri musik adalah salah satu alasan Chanyeol ingin menjadi seorang musisi. Chanyeol mendesah, mengingat bahwa ia tidak bisa masuk ke universitas Chung-Ang. Ia belum memberitahu orang tuanya tentang itu, dan ia hanya bisa berharap mereka tidak akan terlalu panik, terutama ayahnya.
Chanyeol terus tenggelam dalam pikirannya. Pikirannya bukannya terfokus pada kenyataan bahwa ia harus memberitahu orang tuanya tentang kegagalannya memasuki universitas musik terbaik di Seoul. Dia memiliki tujuan yang berbeda hari ini. Dia datang sendiri untuk menjemput orangtuanya untuk suatu alasan. Dia harus menyelesaikan masalahnya.
Chanyeol bersikeras meminta kakaknya untuk tinggal di apartemen, memintanya untuk mempersiapkan makan siang. Dia juga meminta kakaknya untuk melakukan sesuatu yang sangat penting, yaitu menemani kekasih mungilnya.
Chanyeol serius ketika ia mengatakan ia ingin Baekhyun untuk bertemu dengan orang tuanya. Dia ingin menjalin hubungan serius dengan pemuda mungil itu, bukan hanya hubungan asmara SMA yang singkat. Chanyeol yakin bahwa ia ingin masa depannya dengan Baekhyun.
Jadi, ia berpikir kenapa dia tidak memperkenalkan kekasihnya kepada orang tuanya. Lagipula itu pasti akan terjadi jika Chanyeol memang ingin menikah dengannya. Dia serius tidak tahu bagaimana orang tuanya akan bereaksi. Ini adalah pertama kalinya Chanyeol mempunyai kekasih laki-laki selama ini. Tapi, jika ia melihat ke kenangan masa lalunya, orang tuanya, atau yang harus ia katakan ayahnya, tidak pernah terlalu tertarik pada fakta anaknya dengan berkencan dengan siapa. Lagipula Ayahnya memiliki standar yang sangat tinggi.
Mengingat masa lalu ketika ayahnya selalu menginterogasi kekasih perempuannya pada pertemuan pertama, Chanyeol memutuskan kekasih mungilnya itu untuk tinggal di apartemen, dan meminta kakak perempuannya untuk membagi beberapa informasi tentang orang tuanya pada kekasihnya tersebut.
Bukan berarti Chanyeol ragu dengan Baekhyun yang akan gagal. Pribadi Baekhyun sendiri itu dasarnya sudah seperti kupu-kupu sosial yang alami, dan dia bisa mencuri hati siapa pun. Chanyeol yakin Baekhyun akan melakukan jauh lebih baik daripada pacar (perempuan)r sebelumnya. Hal yang Chanyeol khawatir itu hanya tentang ayahnya. Dia hanya terlalu... tegang.
Chanyeol ditarik keluar dari pikirannya ketika ia mendengar keributan di depannya. Banyak wartawan datang untuk melihat ayahnya –Park Jinyoung– ingin mengetahui kemajuan proyeknya.
Chanyeol mendesah sambil menurunkan kertasnya, mengetahui bahwa sekarang orang tuanya akan disibukkan dulu dengan pers. Chanyeol mengecek arlojinya sebelum ia memutuskan untuk mengirim sms pada Baekhyun.
Untuk: Byun Baekkie
Hey Baek, bagaimana di sana?
Baekhyun bhkan tidak membutuhkan waktu satu menit untuk membalas pesannya.
Dari: Byun Baekkie
Baik-baik saja (smile) kami belum membakar apartemenmu, belum.
Chanyeol tertawa pelan, menyadari keadaan sekitarnya, terutama kenyataan kalau orang tuanya sudah berjalan keluar.
Untuk: Byun Baekkie
Bagus, aku lega. Dan bagaimana kabarmu? Apa noona sudah memberitahukan mu segalanya?
Tepat setelah ia mengklik tombol kirim. Chanyeol mendengar suara potret kamera. Dia mendongak dari ponselnya dan menyadari bahwa ada mereka, orang tuanya, dikelilingi oleh media dan flash menyilaukan.
Teleponnya bergetar lagi.
Dari: Byun Baekkie
Aku baik-baik saja, Yeol. Yura noona sudah cukup memberitahukan ku. Dan aku agak gugup sekarang. Apa mereka sudah tiba?
Baekhyun pasti gugup, pikir Chanyeol. Dia tahu perasaan ini saat ia pertama kali bertemu dengan ibu Baekhyun.
Untuk: Byun Baekkie
Tidak usah gugup. Mereka akan mencintaimu. Ya, mereka sudah tiba, tapi masih berurusan dengan media.
Chanyeol mencuri pandang ke arah dimana orang tuanya berdiri. Ia bisa melihat ayahnya sedang berbicara, menjawab pertanyaan pers satu per satu.
Dari: Byun Baekkie
Boleh aku pulang? Aku merasa seperti aku akan muntah.
Chanyeol tersenyum lembut. Ia bisa membayangkan Baekhyun cemberut dan mengisap pipinya sekarang, kebiasaannya saat ia merasa gugup.
Untuk: Byun Baekkie
Tidak, tidak boleh. Mereka sudah selesai, kami akan pulang dalam waktu setengah jam. Sampai jumpa lagi, oke?
Chanyeol melihat orang tuanya mulai berjalan menjauh dari kelompok media. Dia mendesah gelisah sambil mengangkat kertas lagi, sehingga orang tuanya bisa melihatnya. Sedetik setelah itu,ia merasa ponselnya bergetar lagi. Dia mengeluarkan ponsel lagi, membuka teks, dan mencibir tepat setelah ia melihat pesan singkat dari pacarnya.
Dari: Byun Baekkie
Ya Tuhan.
"Chanyeol."
Pemuda jangkung itu mengangkat kepalanya saat ia mendengar namanya dipanggil oleh suara wanita yang akrab. Dia tersenyum, melihat ibunya berjalan cepat ke arahnya.
Chanyeol menurunkan kertasnya sambil mendekati kedua orang tuanya. "Mom," katanya saat ibunya sudah berdiri di depannya. Dia menarik ibunya ke pelukan yang erat, "Aku merindukanmu."
"Aw bayiku merindukan ku," Ibu Chanyeol mengusap punggungnya perlahan sebelum ia melepaskan pelukannya. "Aku juga merindukanmu, baby."
Chanyeol cemberut, "Mom, kapan kau berhenti memanggilku bayi? Aku sudah 18 tahun."
"Oh, ayolah. Kau masih akan menjadi bayiku bahkan sampai kau mempunyai bayi sendiri."
Chanyeol terdiam hanya sedetik sebelum ia tertawa gugup. "Ya."
Ibu Chanyeol tampak sangat senang melihat putranya sampai ia ingat kalau suaminya tidak ada di sampingnya. Wanita itu berbalik untuk melihat dimana ayah Chanyeol hanya berdiri beberapa meter dari mereka
Untuk sesaat, Chanyeol juga lupa bahwa ayahnya ada. Dia bisa rileks selama satu menit di sana karena pelukan ibunya, tapi setelah melihat ayahnya lagi, kegugupannya mulai muncul kembali.
"Apa yang kau lakukan di sana, sayang? Ayo ke sini," Ibu Chanyeol menarik suaminya untuk bergabung dengan mereka.
Chanyeol tersenyum canggung sambil mendekati ayahnya untuk memberinya pelukan singkat, "Selamat datang kembali, ayah."
Ayahnya bergumam, "Terima kasih. Bagaimana sekolahmu?"
Chanyeol merasakan semacam sengatan di dadanya saat mendengar pertanyaan itu terlempar untuknya. Tentu saja ayahnya akan bertanya tentang sekolah dulu daripada bertanya kepadanya tentang keadaannya. "Itu... baik-baik saja."
Ayahnya mengangguk ketika ibu Chanyeol yang penuh semangat mengaitkan lengannya di sekeliling lengan putranya, "Ayo kita bicara di rumah, oke?"
"Sebenarnya, ibu, ayah, aku akan membawa kalian ke apartemen ku dulu. Yura noona dan aku menyiapkan makan siang," kata Chanyeol sambil mulai berjalan dengan ibunya, meninggalkan ayahnya yang berjalan di belakang mereka.
Chanyeol selalu dekat dengan ibunya. Hubungannya dengan ibunya benar-benar seperti ibu dan anak, sementara hubungannya dengan ayahnya seperti klien dan penasehat.
"Benarkah? Oh, itu pasti bagus. Sayang, Channie dan Yura mempersiapkan makan siang untuk kita," kata ibunya sambil menarik suaminya untuk berjalan di sampingnya.
Mereka bertiga berjalan bersama, berpegangan tangan. Orang-orang akan berpikir bahwa mereka salah satu keluarga bahagia. Mereka benar, kecuali untuk fakta bahwa ia memiliki ayah yang sangat tegas.
"Jadi, di mana Yura? Kenapa dia tidak datang denganmu untuk menjemput kami?" tanya ibu Chanyeol.
Chanyeol tegang, tidak segera menjawab, karena ia tidak tahu bagaimana menjawabnya. Sungguh, rencananya hanya membawa orang tuanya ke apartenmen, dan mereka akan bertemu Baekhyun di sana. Ia tidak memiliki rencana untuk menceritakan tentangnya di sini.
"Uhm, dia di apartemen, menyiapkan makan siang," jawab Chanyeol saat mereka keluar bandara, menuju ke tempat parkir di mana Chanyeol memarkir mobilnya.
"Aku tidak tahu kalau dia bisa masak," kali ini, ayahnya yang berbicara.
Chanyeol menahan keinginan untuk memutar matanya. Karena tentu saja ayahnya tidak tahu. Dia tidak pernah memperhatikan anak-anaknya. Yura mungkin bukan yang terbaik untuk memasak, tapi ia sudah melakukan itu untuk Chanyeol selama 5 tahun ini
"Dia memasak sendirian? Dia seharusnya memesan saja atau kita bisa makan di restoran," timpal Ibunya.
"Dia tidak sendirian," kata Chanyeol tanpa berpikir dua kali. Ia menganga untuk sementara waktu karena betapa bodohnya dia. Bagaimana mungkin dia keceplosan begitu saja?
"Apa maksudmu?" tanya ayahnya.
Chanyeol tetap diam, dan menyibukkan diri dengan mencari kunci mobilnya. Mereka sudah tiba di depan mobilnya, dan Chanyeol diam-diam berharap mereka melupakan topik pembicaraan dengan mencoba untuk menempatkan seluruh barang-barang orang tuanya di bagasi.
Tapi Chanyeol salah jika dia pikir orang tuanya, terutama ayahnya, akan melupakan sesuatu seperti itu dengan mudah. Di mobil, topik itu tidak dibicarakan lagi, dan Chanyeol berpikir bahwa ia aman. Tapi ketika mereka tiba di gedung apartemen Chanyeol, dan mereka mulai berjalan ke lift, ayahnya melemparkannya pertanyaan.
"Jadi, apa kita hanya akan berempat, atau kita memiliki tamu?"
Chanyeol menelan ludah sementara pintu lift terbuka. Mereka masuk ke dalam sebelum Chanyeol akhirnya menjawab, "Seseorang membantu noona untuk menyiapkan makan siang."
"Siapa? Jongin?" Ibunya bertanya.
Chanyeol menutup matanya, "Bukan. Itu Baekhyun."
"Siapa Baekhyun?" Meskipun ibunya selalu pergi ke luar negeri dengan ayahnya, wanita itu tahu semua teman putra dan putrinya. "Aku rasa aku belum pernah mendengar tentangnya."
"Ibu memang belum pernah mendengarnya," kata Chanyeol. "Aku baru bertemu dengannya 5 bulan yang lalu."
"Apakah dia temanmu?" Ibunya melemparkan pertanyaan lain.
"Bukan," Chanyeol berkata sambil menatap monitor di atas pintu lift yang menunjukkan jumlah lantai mereka berada sekarang. 5 lantai lagi sebelum tiba di lantai nya.
"Oh, jadi dia temannya Yura?"
Chanyeol mengambil napas dalam-dalam sebelum ia akhirnya mengambil keberanian untuk melihat kedua orang tuanya, "Bukan. Baekhyun adalah pacarku."
Lift berbunyi. Mereka sudah tiba.
.
.
.
.
.
Bersambung...
.
.
.
...
o.o.o.o.o.o.o.o
A/N [Icha] ::
Ya, ayahnya Chanyeol adalah JYP (lol, apa yang sudah aku lakukan)
A/N [Dini] ::
Fanfic ini tidak akan lanjut tanpa adanya review dan tanggapan kalian, karena itu...
Terima kasih banyak yang masih setia mau ngikutin fanfic ini dan memberikan reviewnya, Aku cinta kalian guys~ :D
o.o.o.o.o.o.o.o
Review?
Thanks again for Author Otpismyoxygen (Icha) \^o^/
~Sayaka Dini~
[8 Desember 2014]
