-Prev Chap-

Dengan ini, Jaejoong sudah membuat keputusan untuk membuang egonya dan lebih mementingkan kebahagiaan anak-anaknya. Jika dengan dirinya kembali dalam pelukan Yunho, dalam lindungan Yunho, dalam kuasa Yunho ia dapat membuat ketiga anaknya bahagia, maka ia akan melakukannya.

Karena keluarga adalah rumah baginya. Karena keluarga adalah rumah untuknya kembali. Karena keluarga adalah ikatan yang paling kuat dibandingkan dengan yang lainnya.

Kau mungkin memiliki mantan musuh, mantan teman, mantan sahabat, mantan suami, maupun mantan istri, akan tetapi kau tidak akan pernah memiliki mantan keluarga.

Karena keluarga adalah kekal. Dan keluarga tidak memiliki akhir.

REACH

Author: Jung RiAn

Genre: Family, Drama

Rating: T

Cast: Jung Yunho

Kim Jaejoong

And other supporter casts

Disclaimer: The casts are theirs and the story is mine.

::

::

The day I let you go, felt like I was possessed by a mysterious thought. Then I lost you. It's over now. Those words, I was crazy because of my uncontainable irreversible anger. I did something stupid. When I didn't even mean it, when it was all lie.

::

::

Chapter 24

Seiring dengan berjalannya waktu, kini keadaan keluarga kecil Yunho sudah semakin membaik. Hal ini dapat dibuktikan dengan tinggalnya kembali Jaejoong dan Moonbin di Mansion Jung sejak dua bulan yang lalu.

Meskipun keduanya belum kembali menikah namun setidaknya Yunho telah berhasil membawa Jaejoong dan Moonbin kembali kedalam rumah mereka. Hanya tinggal menunggu sebentar lagi untuk Yunho benar-benar memiliki Jaejoong kembali.

Memanglah hal itu tidak mudah dan memakan waktu yang cukup lama, akan tetapi kegigihan Yunho dan ketangguhannya dalam meluluhkan kembali Jaejoong bukanlah suatu hal yang main-main. Ia telah melakukan banyak hal untuk kembali memulainya dan kini hanya tinggal selangkah bagi keduanya untuk dapat bersama kembali dalam jalinan tali pernikahan.

Hari ini merupakan hari yang cukup damai bagi Yunho dan Jaejoong, ketiga putra mereka menginap dikediaman keluarga Park sejak semalam dan baru akan kembali sore ini.

Yunho dan Jaejoong kini tengah bersantai dan bermanja-manja diruang tengah Mansion dimana Yunho yang merebahkan dirinya di sofa dengan paha Jaejoong sebagai bantalnya. Tak ada yang mereka lakukan selain saling beradu tatapan dengan tangan Yunho yang senantiasa menggenggam tangan Jaejoong dan saling melemparkan senyum serta terkadang mereka saling mencuri kecupan satu sama lain.

Semua terasa damai hingga seseorang mengganggu ketenangan mereka.

Tok! Tok! Tok!

"Yun bisa kau pindah sebentar?"

Jaejoong meninggalkan Yunho yang kini tengah setengah kesal dengan siapapun itu yang mengganggunya ditengah-tengah waktu santainya bersama sang kekasih.

Ketika Jaejoong membuka pintu utama Mansion, seorang wanita telah berdiri disana dengan rok pendeknya dan blouse putih pendek yang lumayan ketat membungkus tidak lebih dari setengah badannya.

Wanita itu berbalik dan menurunkan kacamata hitamnya serta membuka mulutnya sedikit tidak percaya dengan siapa yang berada didepannya saat ini.

"Nuguseo?"

"Ka-.. kau K-Kim Jaejoong?" wanita itu sedikit tergagap menyebutkan nama Jaejoong.

Jaejoong yang masih belum menyadari siapa wanita itu hanya mampu menganggukkan kepalanya saja. Ia merasa bahwa wanita ini sangatlah familiar akan tetapi ia masih belum bisa untuk mengenalinya.

"Apa yang kau lakukan disini? Apa Yunho mengizinkanmu untuk berada disini? Oh atau apakah kau kembali menggoda Yunho setelah meninggalkannya begitu saja?"

Wanita itu segera mengubah pembawaannya yang semula ia sedikit shock dan tergagap dengan keberadaan Jaejoong didepannya menjadi lebih berani dan terkesan sombong.

"Apa maksudmu?" Jaejoong jelas tak mengerti dengan maksud dari perkataan wanita tersebut, namun sesaat kemudian ia menyadari siapa wanita yang berada didepannya saat ini dan ia memilih untuk mengikuti permainan yang wanita itu suguhkan padanya.

"Tentu saja kau, Kim Jaejoong, apakah kau kembali menggoda Jung Yunho setelah kau mencampakkannya beberapa tahun yang lalu? Apa kau tidak memiliki rasa malu dan rasa tak pantas untuk berada dirumah ini lagi? Aku heran bagaimana mungkin Yunho ataupun Chanwoo mengizinkanmu menginjakkan kakimu disini lagi. Kau sungguh tak tahu malu Kim Jaejoong."

Jaejoong berdecih, tak pantas katanya? Yang benar saja.

"Tak pantas? Benarkah itu? Lalu bagaimana denganmu? Seorang wanita datang kerumah seorang pria dengan pakaian yang sangat terbuka seperti itu, apakah itu bisa disebut pantas?"

"Apa salahnya dengan itu? Wajar saja bukan jika aku datang kerumah seseorang yang nantinya akan menjadi suamiku sebentar lagi."

"Suamimu? Apakah menurutmu Yunho mau memiliki seorang istri sepertimu?"

"Tentu saja! Sejak awal Yunho memanglah milikku." Wanita itu berkata dengan sangat percaya diri sementara Jaejoong hanya dapat menahan tawanya. Miliknya? Bahkan tidak dalam mimpinya sekalipun.

"Dengar Go Sunghee-ssi, jika dulu aku memilih untuk meninggalkan Yunho dan memberikanmu kesempatan untuk mendapatkannya, maka kali ini aku tidak akan melakukan hal yang sama lagi." Wanita itu, Go Sunghee, tersentak dengan apa yang baru saja Jaejoong katakan.

"Aku sudah memberikanmu waktu selama duabelas tahun untuk berusaha mendapatkan Yunho tapi ternyata, bahkan setelah aku kembali kau masih belum dapat menaklukkannya. Apakah Yunho sesulit itu? Oh atau mungkin Yunho terlalu mencintaiku sehingga dia benar-benar memilih untuk sendiri daripada bersama dengan orang lain?"

Go Sunghee dibuat naik pitam oleh semua yang diucapkan Jaejoong. Jika duabelas tahun yang lalu Jaejoong hanya diam saja maka kali ini dia tidak akan diam. Dia akan benar-benar membuat Sunghee menyerah padanya dan menjauh dari keluarganya.

"Sudah cukup duabelas tahun lamanya aku meninggalkan Yunho dan membuatnya menderita. Sudah cukup pula aku menghukumnya atas kesalahan yang bahkan bukan sepenuhnya kesalahannya, melainkan ada sesosok iblis yang telah melimpahkan segala kebusukannya pada kekasihku."

Sunghee kian tersentak mendengar Jaejoong memanggil Yunho dengan sebutan kekasih.

"Ya, kau dengar tidaklah salah Sunghee-ssi. Jung Yunho kini telah menjadi kekasihku kembali dan kau tidak akan pernah bisa untuk merebutnya dariku walau hanya untuk sedetikpun." Jaejoong tak berhenti menekan Sunghee dan mencoba untuk mengintimidasinya.

"Hahaha. Kau sedang membuat lelucon Jaejoong-ssi? Karena itu cukup lucu untuk membuatku tertawa." Sunghee mencoba untuk tertawa dan menghilangkan rasa gugupnya. Ia tahu Jaejoong sedang mencoba untuk memojokkannya.

"Sayangnya aku sedang tidak melucu Sunghee-ssi aku sangatlah serius dengan apa yang telah kukatakan."

"Dengarkan aku Kim Jaejoong, tidak peduli kau ini kekasih Yunho atau bukan, kau tinggal bersamanya atau tidak, itu tidak akan menghentikanku untuk merebut Yunho darimu. Asal kau tahu saja, pada malam itu Yunho telah menciumku lebih dari satu kali."

"Oh benarkah? Aku tak masalah dengan Yunho yang 'menciummu' itu toh aku sudah merasakannya lebih dari yang pernah kau rasakan. Aku bahkan sudah merasakan bagaimana hangatnya tubuh Yunho, bagaimana denganmu? Apakah Yunho pernah memberikan tubuhnya padamu?" Jaejoong tak percaya bahwa dirinya telah mengatakan hal seperti itu. Ini diluar kebiasaannya.

Sunghee terkekeh. "jelas saja kau telah merasakan bagaimana tubuh Yunho berada didalammu. Kau memang tidak lebih dari seorang penggoda dan pela-.."

"Noona!"

Terdengar suara bass yang cukup familiar dari arah dalam Mansion Jung. Suara itu tak lain lagi adalah suara milik Yunho.

"Jika Noona datang kemari hanya untuk menghina Jaejoong dan mencoba untuk membuat kami untuk berpisah kembali maka sebaiknya Noona pergi saja dari sini. Mungkin aku dulu memang selalu diam saja saat Noona berkata yang tidak-tidak mengenai Jaejoong tapi mulai saat ini aku tidak akan tinggal diam jika Noona menghinanya lagi."

Yunho menarik napas, ia mendengar semuanya dan kupingnya sudah mulai panas dengan apa yang telah Sunghee katakan mengenai Jaejoong.

"Perlu Noona ketahui bahwa seberapa kuatnya Noona mencoba untuk menarik perhatianku, Noona tidak akan pernah berhasil mendapatkannya karena aku, diriku dan segala perhatianku hanya akan kuberikan pada Jaejoong dan keluargaku. "

"Sebaiknya Noona segera pergi dari sini sebelum anak-anak kami datang, Noona pasti tidak ingin bertemu dengan Changmin bukan? Noona sangat tahu bagaimana Changmin tidak menyukai Noona. Dan tolong jangan pernah ganggu kami lagi"

Sunghee meremat tangannya membentuk sebuah kepalan untuk meredam semua emosinya. Semua yang Yunho katakan sudah berhasil membuat hatinya sangat panas. Sunghee membalikkan badannya dan berniat untuk meninggalkan Mansion Jung.

"Dan Noona, satu hal lagi. Aku ingat benar bahwa aku tidak menciummu pada malam itu. Kau yang memaksaku dan aku tak pernah menganggap hal itu sebagai sebuah ciuman."

Dengan kalimat yang terakhir Yunho katakan padanya, Sunghee meinggalkan Mansion Jung dengan hati yang sangat panas. Amarah benar-benar menguasai dirinya.

Setelah beberapa menit Mansion berada dalam kesunyian karena baik Jaejoong maupun Yunho tak ada yang berbicara sejak kepergian Sunghee, kini Jaejoong nampak sedikit gelisah dalam pelukan Yunho.

"Apa menurutmu aku tadi sedikit keterlaluan dengannya Yun?"

Yunho menatap Jaejoong dan tersenyum padanya, "aku rasa tidak Boo. Kau telah melakukan apa yang seharusnya kau lakukan." Jaejoong kembali merapatkan pelukannya pada Yunho.

"Tapi benarkah kau tidak akan menyerahkanku kepada siapapun, Boo?"

"Wae? Kau ingin aku meninggalkanmu lagi eoh?"

"Bu- bukan seperti itu maksudku. Aish aku kan hanya memastikan saja." Yunho dibuat merengut oleh jawaban Jaejoong. Tidak lagi. Dia tidak mau lagi ditinggalkan oleh Jaejoong.

"Diamlah Jung aku hanya ingin memelukmu saja saat ini."

.

.

.

.

Banyak hal yang berubah dalam keseharian Yunho selama setahun terakhir ini. Dari yang dulunya setiap pagi ia hanya akan sarapan seadanya dengan Chanwoo, hingga kembalinya Changmin kerumah dan membuatnya harus bertahan dengan kata-kata tajam milik anak sulungnya itu, sampai pada akhirnya Jaejoong dan Moonbin yang ikut kembali bersamanya dan kini ia merasa hidupnya sudah sangatlah terasa lengkap.

Bagi Yunho tak ada hal yang lebih membuatnya bahagia lagi selain dengan berkumpul dengan keluarga lengap miliknya. Bersama Jaejoong kekasihnya dan ketiga anaknya Changmin, Moonbin, dan Chanwoo.

"Appa, kan sudah pernah kukatakan bahwa yang kemarin itu adalah pertama dan terakhir kalinya aku bersedia membantu Appa mengurus perusahaan Appa. Jadi jangan berharap lagi bahwa aku akan melakukannya utuk yang kedua kalinya."

"Ayolah Min, hanya untuk dua bulan saja. Lagipula kali ini Appa tidak akan bertugas keluar negeri."

"Nah justru karena Appa tidak akan keluar negeri itulah seharusnya Appa tidak memintaku untuk mengurusnya."

Ini masih pagi hari namun Mansion Jung sudah ramai dengan 'perseteruan' antara Yunho dan Changmin dimana Yunho untuk kedua kalinya meminta Changmin untuk menggantikannya dikantor.

"Appa tidak akan berada di Seoul setiap hari, Appa harus bolak-balik ke Busan dan juga Jeju untuk mengurus pembukaan resort disana."

"Aish Appa! Jika Appa sudah tahu akan repot seperti ini kenapa Appa membuka resort baru eoh?! Pokoknya aku tidak mau!"

"Appa kan melakukan ini untuk kalian juga. Ayolah Min, Appa akan memberikanmu apapun yang kau inginkan hm?"

"Perlu Appa ingat bahwa aku sekarang sudah memiliki black card dan aku bisa menggunakannya untuk membeli apapun yang kuinginkan." Changmin menjulurkan lidahnya. Ia merasa menang kali ini dan Yunho tidak mampu berkata apa-apa. Benar, Changmin sudah memiliki black card pemberiannya dan ia bisa menggunakan itu untuk segala keperluannya dan perlu Yunho ingat bahwa Changmin tidak takut dengan ancaman jikalau ia mengancam akan memblokir kartu miliknya.

"Ada apa eoh? Kenapa kalian berdua ribut sekali pagi-pagi seperti ini?"

Jaejoong datang membawakan kopi untuk Yunho sembari menunggu masakannya untuk sarapan pagi ini matang. Sementara si kembar masih bertarung dengan seragam sekolah mereka dikamarnya.

"Eomma, Appa memintaku untuk menggantikannya lagi untuk waktu dua bulan. Eomma tahu kan bahwa yang kemarin itu adalah pertama dan terakhir kalinya aku bersedia untuk membantu Appa diperusahaan?" Kini giliran Changmin yang mengadu pada sang Ibu.

"Eh? Memangnya kau mau kemana lagi Yun?"

"Err itu.. untuk dua bulan ini aku akan sibuk mengurus pembukaan resort dan aku harus bolak-balik ke Busan dan Jeju." Yunho menggaruk tengkuknya menjawab pertanyaan Jaejoong. Pasalnya ia mengatasnamakan Jaejoong untuk kepemilikan resort barunya di Jeju dan ia belum memberitahu Jaejoong untuk hal ini.

"Kau membuka resort baru lagi?" Jaejoong terkejut dengan apa yang Yunho katakan. Entah sudah berapa resort yang sudah pria ini bangun dan operasikan sejauh ini.

"Iya Eomma Appa akan segara membuka resort baru lagi." Changmin kemudian beralih menatap Yunho, "Appa, aku tahu uang Appa sangatlah banyak hingga Appa tidak tahu harus dikemanakan uang-uang itu. Tapi demi Tuhan Appa, jangan serakah dengan membangun ini itu disaat kita sudah memilikinya, lebih baik Appa menggunakan uang itu untuk melamar Eomma- aaaaargh!"

Jaejoong menarik telinga Changmin setelah kata melamar terlontar dari bibir anaknya. Sungguh ia sangat malu.

Sementara Yunho, ia terpaku dengan ucapan Changmin. Melamar Jaejoong? Oh Tuhan dia bahkan masih belum tahu harus melamar kembali mantan istrinya itu dengan cara yang seperti apa.

"Good morning Ladies and Gentlemen! Pagi yang cerah untuk- adawww!"

Dari tangga utama Mansion Jung, Chanwoo berhasil meluncur dengan gaya bebas dari sana. Ia dengan tidak elitnya menghancurkan kesan elegan yang beberapa detik yang lalu ia umbar.

Changmin yang melihat kejadian itu tidak bisa menahan tawanya, "kau adalah satu-satunya Jung yang sangat tidak keren Jung Chanwoo." Sementara yang diejek hanya mengerucutkan bibirnya dan berusaha berdiri dengan bantuan Moonbin.

"Ah Appa! Mengapa Appa tidak meminta bantuan Moonbin saja? Dibandingkan dengan Chanwoo, aku yakin ia lebih baik dalam hal itu." Yang disebutkan namanya pun kini tengah menunjuk dirinya sendiri. Bertanya-tanya apa yang sedang dibicarakan Ayah dan kakaknya saat ini.

"Yah Hyung kau menyepelekanku? Biarpun aku ceroboh tapi aku tidak sebodoh itu tahu! Memangnya yang jenius hanya Hyung saja huh."

"Heh bocah memangnya kau tahu apa yang sedang aku dan Appa bicarakan?"

Dengan wajah polosnya Chanwoo bertanya, "memangnya apa yang sedang kalian bicarakan?"

"Tahu apa kau soal bisnis bocah?"

"O-ohh bisnis. Hmm itu…"

"Tak apa sayang jika kau tidak mengetahui banyak hal soal bisnis, Eomma pun sama sepertimu." Jaejoong menenangkan putra bungsunya dengan mengelus kepalanya yang sempat terkantuk lantai beberapa saat yang lalu.

"Oke baiklah, semua anak Appa tidak ada yang bodoh. Kalian bertiga memiliki bakat dan minat masing-masing. Changmin Appa sangat tahu kau ingin menjadi seorang arsitektur, Chanwoo jangan lupakan fakta bahwa wajahmu pernah menjadi sampul utama majalah Vogue, dan Moonbin mau tidak mau suka tidak suka kau akan memegang kendali Jung Group nantinya."

Yunho bermaksud menengahi ketiga anaknya. Yunho tahu yang dikatakan Changmin memang benar adanya bahwa potensi Moonbin untuk menjadi penerusnya lebih besar daripada Chanwoo, namun cara penyampaian Changmin terkesan merendahkan adik bungsunya. Dan itu tentu saja membuat si bungsu ngambek.

"Kau memaksa anakku untuk menjadi penerusmu, Jung?" Jaejoong memberikan tatapan tajamnya pada Yunho.

"Sayang aku tidak memaksa Moonbin untuk menjadi penerusku, tapi aku masih sangat ingat ketika pertama kali kami bertemu ia mengatakan bahwa ia ingin menjadi seorang pengusaha sukses sepertiku. Bukankah begitu Bin-ah?" Yunho teringat kembali bagaimana mata Moonbin yang berapi-api ketika dirinya menanyakan perkara cita-citanya dimasa mendatang kepada bocah itu hampir satu tahun yang lalu.

"Appa benar Eomma, aku kan juga pernah berkata pada Eomma bahwa aku ingin menjadi seorang pengusaha bukan? Jadi aku rasa ini bukan masalah yang cukup besar untuk diperdebatkan." Moonbin mengulas senyum termanis yang dimilikinya. Mungkin diantara ketika Jung junior hanya dirinyalah yang pantas untuk dipanggil dengan sebutan 'angel'. "Akan tetapi, aku tetap memerlukan bantuan Appa juga Changmin Hyung untuk hal itu." Lanjutnya.

"Tentu saja Appa dan Hyungmu akan membantu Bin-ah. Kau yakin mau membantu Appa kan?" Yunho kembali meyakinkan anaknya. "Tentu saja Appa. Hitung-hitung ini menjadi latihanku sebelum aku benar-benar menggantikan Appa suatu saat nanti."

Kini Yunho menghembuskan napasnya dengan lega. Tak apa Moonbin yang masih sangat muda menggantikannya untuk sesaat ini, toh apa yang dikatakan anak tengahnya ada benarnya juga dan ia yakin Changmin akan membantu Moonbin walaupun anaknya yang satu itu bersikeras mengatakan bahwa ia tidak mau membantunya.

Dan perdebatan di pagi hari ini berakhir dengan sarapan yang untuk pertama kalinya dilakukan dengan tenang dikediaman mereka. Yunho mengharamkan siapapun untuk berbicara saat sarapan pagi ini.

Seminggu setelahnya Moonbin mulai disibukkan dengan segala urusan kantornya meski ia masih tetap datang ke sekolah untuk belajar. Moonbin akan datang ke kantor setelah jam sekolahnya selesai dan Changmin sesekali akan membantunya jika adiknya memerlukan bantuannya. Sedangkan Chanwoo hari ini ada shooting untuk CF terbaru Jung Entertainment. Ia sudah menjadi model CF bagi perusahan entertainment Ayahnya sejak tiga tahun yang lalu.

Seminggu, dua minggu terlewati bahkan satu bulan dan dua bulan juga telah terlewati seakan roda waktu berputar terlalu cepat bagi semua orang.

Rasanya baru kemarin mereka berdebat akan siapa yang akan menggantikan Yunho mengurus perusahaan selama ia pergi dan kini mereka sudah kembali berdebat lagi untuk segala persiapan mereka untuk terbang ke Jeju siang nanti.

Ya, mereka semua, keluarga Jung dan kerabat terdekat mereka keluarga Park dan juga keluarga Choi Siwon dan Kibum serta anak mereka Sulli akan terbang ke Jeju siang nanti untuk peresmian dan pembukaan resort yang baru saja dibangun oleh Yunho.

Yang diperdebatkan pun tidak jauh-jauh dari setelan jas mana yang kelimanya akan kenakan saat acara berlangsung. Mereka bermaksud untuk memakai setelan jas yang serupa untuk acara peresmian tersebut akan tetapi, ketiga Jung junior memiliki keinginan yang berbeda-beda.

Si bungsu Changmin ngeyel ingin memakai pakaian kasual saja dan tidak ingin yang terlalu formal, sementara si sulung Chanwoo bersikeras ingin mengenakan jas termahal yang ia miliki yang menurut Changmin jas itu terlalu mencolok untuk acara seperti ini. Dan sedangkan Moonbin, ia ingin mengenakan setelan jas terbaru warna merah marunnya yang baru saja dibelikan Appanya. Sementara Yunho sendiri meminta kepada anak-anaknya untuk mengenakan jas mereka dengan warna yang sama.

Hal ini jelas membuaat Jaejoong berkali-kali memijat pelipisnya hingga pada akhirnya ia sendiri yang membongkar lemari pakaian Yunho dan ketiga anaknya untuk mencari setelan jas mana yang dapat mereka gunakan untuk malam ini.

Malam harinya acara berlangsung dengan lancar hingga pada saat pemotongan pita sebagai simbolis bahwa resort tersebut telah resmi dibuka untuk umum. Tak ada keributan yang terjadi memang, namun semua tamu undangan sempat dilanda rasa cemas dan tegang ketika Jung Yunho mengumumkan bahwa resort tersebut bukanlah miliknya, melainkan milik Kim Jaejoong. Mantan istrinya yang kini tengah menjadi kekasihnya dan mungkin sebentar lagi akan menjadi istrinya kembali.

Jaejoong yang diserang kebingungan hanya mampu menatap meminta penjelasan dari Yunho. Jaejoong tak suka bahwa dirinya yang tak tahu apa-apa justru adalah seseorang yang berhak untuk memotong pita tersebut.

Yunho hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya menanggapi tatapan mata Jaejoong yang ia tahu pasti apa maksudnya. Ia berniat menjelaskan semuanya seelah acara pemotongan pita selesai.

Dan disinilah kini Yunho dan Jaejoong berada. Di gazebo belakang salah satu vila yang menjadi bagian dari resort milik Jaejoong.

"Aku tidak mengerti apa maksudmu Yun. Aku juga tidak pernah memintamu untuk memberikan ini dan itu padaku. Apa kau pikir ini tidak terlalu berlebihan? Sebuah resort huh?" kejengkelan Jaejoong tersirat dalam setiap kata yang ia lontarkan saat ini. Ia memang tidak marah kepada Yunho akan tetapi ia merasa sedikit kesal.

Tidak bisakah jika Yunho memberikannya resort dengan cara yang biasa saja? Ia tak perlu kan untuk mengumumkannya seperti itu? Atau setidaknya Yunho memberitahunya lebih dulu.

"Aku tahu kau memang tidak pernah meminta untuk kuberikan ini dan itu, akan tetapi aku melakukan hal ini bukan semata-mata untuk membuaatmu kagum kepadaku." Yunho sengaja memotong kalimatnya. Ia akan melakukannya dengan sangat berhati-hati.

"Aku memberikan resort ini sebagai hadiah untukmu. Aku sangat tahu kau sangat menyukai ketenangan dan berada cukup jauh dari pusat keramaian, itulah mengapa aku memilih Jeju. Memang benar disini banyak wisatawan yang berdatangan tapi setidaknya Jeju tidak akan sebising Seoul. Kau bisa mendatangi vila ini kapanpun kau mau."

Yunho memajukan satu langkah kakinya mendekat pada Jaejoong, menggenggam salah satu tangan Jaejoong dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya meraih sesuatu dalam kantong celananya.

Sebuah kotak kecil masih dengan setia disembunyikan oleh Yunho dalam genggaman tangan besarnya. Matanya pun masih menatap penuh arti kedua mata indah milik Jaejoong. Lalu sedetik kemudian Yunho membuka kotak tersebut dan memperlihatkannya kepada Jaejoong.

Sebuah cincin keluaran cartier favorit Yunho dan Jaejoong dengan desain yang simple namun elegan terpampang jelas didepan mata Jaejoong.

Jaejoong sedikit tersentak, sepertinya ia mengerti apa maksud Yunho akan tetapi ia tidak ingin berspekulasi yang berlebihan oleh karena itu Jaejoong hanya diam dan menunggu apa yang akan Yunho katakan padanya.

"Cincin ini adalah cincin yang akan kugunakan untuk melamarmu dan resort ini adalah salah satu hadiahku sebagai pelengkap untuk melamarmu." Dan Jaejoong hanya mengernyitkan dahinya.

"Kim Jaejoong, maukah kau untuk kembali menyandang marga yang sama dengan Jung Yunho, menjadi istriku kembali setelah sekian lama kita berpisah dan memulai semuanya dari awal lagi dengan keterbukaan adalah prinsip utama kita serta kebahagian anak-anaklah yang menjadi prioritas kita." Yunho menghentikan lamarannya dan berlutut dihadapan Jaejoong.

"Would you marry me, Kim Jaejoong?"

Sedangkan Jaejoong jangan ditanya lagi. Dia tak bisa mengucapkan apa-apa. Ia tak menyangka akan secepat ini Yunho kembali melamarnya. Setelah beberapa saat Jaejoong mempertimbangkan jawabannya, ia meraih tangan Yunho untuk menuntunnya berdiri, "yes I do." Dan sedetik kemudian Yunho memeluk Jaejoong dengan sangat erat.

Pagi harinya, tidak ada perubahan yang cukup mencolok bagi sepasang kekasih yang semalam telah dilanda kebahagiaan. Yang membedakan hanyalah kini dimasing-masing jari manis Yunho dan Jaejoong tengah melingkar sebuah cincin yang serupa.

Di vila yang mereka tempati kini hanya tersisa keluarga Jung dan juga Park, sementara Siwon dan keluarganya telah bertolak ke China semalam setelah acara peresmian resort milik Jaejoong selesai.

"Aigo yang sudah memiliki resort baru bahagia sekali eoh?" Heechul berhasil mendapati Jaejoong tengah tersenyum sendiri di sofa ruang tengah vila.

"Eh? Eomma selamat pagi." Jaejoong lantas memeluk Heechul yang baru saja mendudukkan dirinya disamping Jaejoong. Memeluknya dengan erat hingga Heechul harus beberapa kali menepuk pundak Jaejoong agar ia mau melepaskannya.

"Joongie. Omo! Ada apa eoh? Kenapa memeluk Eomma seperti itu?"

"Aniiiiiiiiiiii~" Heechul mengkerutkan dahinya. Tidak biasanya Jaejoong bertingkah seperti ini, setidaknya tidak setelah mereka bertemu kembali setelah duabelas tahun lamanya.

"Aish. Wae? Apa terjadi sesuatu? Atau… ah! Jangan-jangan kau dan Yunho semalam telah-" perkataan Heechul terpotong oleh Jaejoong yang secara tiba-tiba melepaskan pelukannya, "ani, kami tidak melakukan apa-apa semalam." Jaejoong takut mantan dan uhmm calon Ibu mertuanya berpikir yang iya-iya tentangnya dan juga Yunho.

"Memangnya Eomma bilang kalian telah melakukan apa-apa eoh?" Heechul menaik-turunkan satu alisnya untuk menggoda Jaejoong. Ohh perlu diingatkan kembali bahwa seluruh keluarga Jung adalah penggoda yang hebat.

"Chullie jangan goda Jaejoong seperti itu. Lihatlah wajahnya sudah sangat merah seperti strawberry."

"Selamat pagi suamiku." Heechul berganti memeluk Hangeng dan mengecup pipinya, "Joongie memang terlihat seperti strawberry oleh karena itu Yunho sangat menyukainya ah ani, mencintainya. Benarkan Yun?" sang Lucifer keluarga Jung menyeringai mendapati ekspresi anak tunggalnya yang sama bahagianya dengan Jaejoong.

"Aish Eomma ini apa-apaan." Yunho berusaha mengabaikan tatapan menyelidik milik Eommanya dan memilih untuk mendekati Jaejoong dan mengecup bibirnya setelah mengucapkan selamat pagi.

"Oh lihatlah Hannie, anakmu itu sudah berkali-kali mencium Joongie tepat dihadapanku seperti itu." Bukan Jung Heechul namanya jika ia tidak menggoda anaknya.

Yunho mengabaikan Heechul dan mulai berpikir bagaimana ia harus merangkai kata-kata untuk memberitahu kedua orangtuanya bahwa dirinya telah melamar Jaejoong semalam.

"Appa, Eomma, sebenarnya ada yang ingin kukatakan pada kalian." Ucap Yunho dengan sedikit tergagap.

"Wae? Kenapa kau jadi mendadak serius seperti ini Yun? Kau tidak mau bilang jika kau telah membumihanguskan anak perusahanmu di Busan yang baru saja kau bangun kan?" Kini giliran Hangeng yang menyahuti anaknya. Yang berhasil Hangeng tangkap adalah Yunho sedang nervous itu sebabnya ia sedikit 'melawak'.

"Tentu saja tidak Appa. Ini uhmm ini menyangkut soal aku dan Jaejoong." Yunho kembali mendadak menjadi gugup.

"Ada apa dengan dirimu dan Jaejoong?"

"Semalam. Semalam ketika acara peresmian resort masih berlangsung, Appa dan Eomma tahu bahwa kami tiba-tiba menghilang bukan?" Yunho melirik kedua orangtuanya. Oke ia baru tersadar bahwa kata-kaanya sedikit mengundang pertanyaan.

"Ya, Appa tahu itu."

"Sebenarnya saat itu aku membawa Jaejoong ke gazebo belakang."

"Lalu?" Hangeng kembali bertanya. Sepertinya kepala keluarga Jung ini sudah mulai tidak sabar dengan basa-basi yang anaknya ucapkan.

"Disana aku melamar Jaejoong." Yunho berhenti bernapas setelah mengatakannya. Tidak ada tanggapan yang diberikan oleh kedua oranguanya. Hangeng masih setia duduk dengan dengan kedua tangannya yang bersedekap dan Heechul yang masih asik bersender pada bahu suaminya dan memperhatikan kuku-kukunya.

Melihat tak ada tanggapan yang berarti dari kedua orangtuanya Yunho kembali meneruskan apa yang ingin ia ucapkan, "dan Jaejoong menerima lamaranku." Baru setelah ini Yunho mendapat respon dari sang Ibu, walau hanya seringaian kecil tapi setidaknya ia tahu bahwa kedua orangtuanya mendengarkannya.

Sama halnya dengan Yunho, Jaejoong tak kalah gerogi dibuatnya. Ia tidak tahu harus berkata apa dan harus bagaimana saat ini sehingga ia hanya diam saja dan berharap Yunho yang akan menjelaskan semuanya pada Hangeng dan juga Heechul.

"Dan kami memutuskan untuk menikah secepatnya."

Mendengar hal itu Heechul langsung menegapkan badannya dan menatap tepat pada mata musang milik Yunho. Tatapan mata yang tidak dapat dibaca oleh Yunho.

"Tidak ada satupun dari kalian yang akan menikah. Tidak kau Jung Yunho dan tidak pula dengan dirimu Kim Jaejoong."

Semua orang tercekat dengan apa yang telah dikatakan oleh Heechul, kecuali Hangeng dan satu orang dibelakang sana.

Park Yoochun. Ia menyeringai penuh arti dibelakang sana setelah mendengar pernyataan Bibinya. Semuanya berakhir tepat seperti dugaannya.

::

::

END

::

::

.

.

.

.

.

annyeongggggggggggggggggggg! hello hehehe finally bisa update lagi ff ini. sebelumnya aku mau minta maaf dulu karena sudah lebih dari dua bulan lamanya aku mengabaikan ff ini ;_; tapi sungguh, bukan maksudku untuk ngabaiin ff ini gitu aja. mulai dari awal maret kemaren bahkan sampe sekarang aku sibuk banget. dari acara kampus yang luar kotaan bahkan luar negeri /saik sombongnyahhhh/ belum lagi tugas yang kian menumpuk disemester akhir dan juga dikejar2 pak dekan buat cepet2 bikin proposal skripsi jadinya aku ga sempet buka folder ff dan ngelanjutin ceritanya T.T sekali lagi aku minta maaf ya karena keterlambatan updatenya dan maaf juga malah keterusan curhat disini -_-

terimakasih untuk semua readers REACH yang maumenyempatkan diri untuk membaca ff amatir ini. terimakasih untuk semua dukungan kalian. terimakasih untuk kritik dan saran yang telah kalian berikan untuk kesuksesan/? cerita ini dan terimakasih untukkalian yang telah menyukai ff ini walau saya pun tau ini ff masih banyak banget kurangnya. terimakasih yang sebesar-besarnya untuk kalian semua readers, favers, followers, siders, dan semuanya pokoknya dan maaf kalau ff ini berakhir tidak sesuai dengan harapan kalian semua. aku baca semua reviewnya masih banyak yang pengen ini itu tapi aku belum bisa buat ngabulinnya, mungkin dilain kesempatan yah hehehehehe.-.

ah btw, iya kok ini beneran end bener2 end wkwkwkwk ga bakal ada sequel karena ku sungguh tak shangghuuuppp :'D dan soal epilog hmmmmmmmm kita lihat saja nanti ;D

sekali lagi, terimakasih yang sebesar-besarnya! thankyou very very very much guysss! feel free kalo mau curhat2an/? di PM^^ sampai jumpa dilain kesempatan~