Side story 2: God of Destruction
.
.
.
VS One Month Old Kookie
Satu bulan kehadiran baby Kookie dan Yoongi baru menyadari satu kejanggalan besar yang terjadi di dalam rumah mereka.
Setelah menyelesaikan sarapan, Yoongi mengajak Namjoon duduk santai di atas sofa ruang tengah bersama Kookie yang hari itu mengenakan sweater rajut warna biru langit dengan gambar dua ekor lumba-lumba di bagian dada kiri dan kanan. Yoongi juga menambahkan selimut hijau tebal hadiah dari Hoseok, mengelilingi sang bayi karena udara dingin musim gugur yang mulai menyengat. Namjoon duduk bersila di samping Yoongi dengan remote tv di tangan yang sibuk ia penceti guna mencari channel kartun yang Yoongi inginkan.
"Namjoon-ah."
"Heung?"
"Bisa gendong Kookie sebentar? Aku ingin ke toilet."
Reaksi Namjoon seperti yang sudah Yoongi perkirakan, tubuh yang mendadak kaku dan mata yang membuka lebar tanpa ia sadari, gerakan jarinya pada remote berhenti seketika, ia terlihat seperti sedang memikirkan pemecahan masalah dalam teori dilatasi waktu milik Einstein.
"Uh.. huh, Yoongs, sepertinya Kookie akan lebih nyaman kalau berbaring di sofa, ia terlihat mengantuk. Akan kuambilkan bantalnya di kamar, oke?"
Dengan begitu Namjoon sudah siap berlari cepat untuk menghilang dari sana dalam sekejap. Tapi tidak sampai ultimatum Min Yoongi menggema ke seluruh penjuru ruangan.
"Kim Namjoon, berhenti disana. Aku mau kau menggendong Kookie. Titik."
Yoongi baru menyadari kalau satu bulan ini, Namjoon hanya akan menyentuh dan menyiumi anaknya saat Yoongi sedang menggendongnya, atau saat Kookie berbaring di atas keranjang tidurnya, atau saat berada di ayunan elektroniknya. Kesimpulannya sudah pasti, si dewa penghancur takut menggendong anaknya sendiri.
"Yoongs, ingat saat aku tak sengaja menjatuhkan speaker di studiomu?"
Yoongi berdecak keras sambil mengangguk enggan.
"Saat itu kau benar-benar hampir membunuhku?"
"Lalu? Apa hubungannya dengan sekarang?"
Namjoon membuang nafasnya penuh frustasi, tangannya bergerak menyisiri rambutnya secara acak.
"Bayangkan jika aku melakukan hal yang sama pada Kookie?! Bukan hanya kau yang ingin membunuhku, tapi aku sendiri juga akan melakukan itu."
Kali ini Yoongi yang dibuat kehilangan kata-kata. Memang selama mereka saling mengenal, sudah tidak terhitung beberapa barang yang rusak, patah, atau bahkan tak bisa lagi dikenali bentuknya karena perbuatan Namjoon. Tapi Yoongi sama sekali tak berpikir Namjoon akan 'merusak' bayi mereka sendiri seperti dia merusak barang-barang lainnya.
"Namjoonie, kemari," suaranya memang terdengar manis sekali, tapi bagi Namjoon itu sebuah perintah tak terbantahkan. "Posisikan tanganmu sepertiku."
"Yoongs, sepertinya aku masih belum siap.."
Namjoon diabaikan dengan mudah, kerena Yoongi fokus memindahkan Kookie ke tangan Namjoon yang posisinya masih terlihat kaku. Ia melakukannya super perlahan, agar tak menakuti kedua belah pihak, Namjoon dan si bayi Kookie.
"Yoongi, he is so tiny. Why is he so tiny?! He even tinnier than your speaker! Yoongs, I can't.. I'm gonna break him for sure.. please take him away from me." Kebiasaan Namjoon saat sedang panik muncul, ia tak bisa berhenti mengoceh dalam bahasa asing yang hanya Yoongi tahu arti dari beberapa katanya saja.
"Yah! Berhenti mengoceh dan fokuskan perhatianmu pada Kookie."
Sang bayi di tangan Namjoon terlihat nyaman-nyaman saja di tengah kepanikan ayahnya. Matanya kecilnya terpejam, dengan bibir sedikit terbuka, tangan-tangan mungilnya yang terlapisi sarung tangan bergerak-gerak mencari genggaman, jadi Yoongi memberikan jari telunjuknya yang masih belum bisa digenggam penuh oleh jari-jari si kecil.
"Jadi, bagaimana? Masih berpikir kau akan menyakitinya?" Saat Yoongi meliriknya, Namjoon sedang melakukan apa yang Yoongi pinta. Tatapannya tak lepas dari sosok mungil yang menghuni nyaman dekapannya. Yoongi seperti melihat seseorang yang sedang menatap salah satu keajaiban yang terjadi di dunia. Dan memang begitu kenyataannya.
"Yoongs, sepertinya yang satu ini aku bisa menjaganya sampai mati."
Yoongi terkekeh kecil, jari telunjuknya masih di genggam erat Kookie yang sudah tak lagi bergeliat di tangan Namjoon, "Ayo lakukan bersamaku kalau begitu."
.
VS Min Yoongi
"KELUAR!"
Jung Hoseok yang sedang mengunci pintu studionya sampai melompat di tempat berkat pekikan nyaring dari ruangan di ujung lorong yang adalah Genius Lab milik sahabatnya. Insting 'keingintahuannya' menguat drastis dan ia mulai menyipitkan mata dengan harapan melihat lebih jelas apa yang terjadi disana.
"JANGAN BERANI-BERANI MENGUNJUNGI STUDIOKU LAGI!"
Teriakan yang ini berakhir dengan bantingan pintu, mata Hoseok menangkap siluet raksasa mengenaskan yang sudah pasti merupakan korban kebrutalan teriakan demi teriakan seorang Min Yoongi. Hoseok harus tertawa atau merasa kasihan, yang pasti ia putuskan untuk mendekati sang korban.
"Yo, Kim Namjoon. Apalagi yang kau lakukan sampai temanku mengamuk begitu."
"Aku tak sengaja menyenggol perangkat speakernya, lalu jatuh dan hancur berkeping-keping."
Hoseok melepaskan tawanya tanpa ragu, karena cara Namjoon berkata seolah ia sedang memberitahu Hoseok kalau manusia itu butuh udara. Berdasarkan cerita-cerita Yoongi, memang kebiasaan Namjoon 'menghancurkan' barang-barang tanpa sengaja bukanlah hal baru. Tapi Hoseok selalu menemukan Yoongi yang memakluminya, tak sampai berteriak penuh emosi seperti yang barusan terjadi.
"Lalu apa yang akan kau lakukan, Namjoon?" Tanyanya setelah tawa berhasil lega.
Namjoon dengan wajah pasrah dan putus asa mengedikkan bahunya, "Tidak tahu. Kau ada ide? Aku sudah berjanji akan mengganti semuanya, tapi dia tetap marah."
"Mungkin karena seluruh perangkat dalam studionya adalah yang pertama ia beli dengan uang penghasilannya sendiri. Sebagai sesama produser, kau dan aku pasti mengerti perasaannya."
"Ya, kau benar, Hoseok. Sepertinya ini akan menjadi akhir hubungan kami."
Keputusasaan jelas telah menguasai Namjoon seluruhnya. Hoseok kehilangan kata-kata. Sebagai orang yang berperan penting untuk tiga tahun hubungan mereka, Hoseok merasa kesal tak bisa membantu apapun sekarang ini.
"Jangan bicara begitu! Pasti ada cara agar Yoongi memaafkanmu. Sekarang sudah malam, sebaiknya kau pulang dan beristirahat. Aku akan bantu bicara dengan Yoongi besok."
Tepat setelah Hoseok menyelesaikan kalimatnya, suara 'bip' panjang terdengar dari pintu studio Yoongi, disusul dengan pintu yang terbuka dan sosok pemiliknya memasang wajah super datar berdiri disana. Tanpa berkata apapun, ia memberikan Namjoon selembar kertas hasil sobekan buku catatannya. Sebelum kembali mundur memasuki ruangan, Yoongi menyempatkan diri melirik Hoseok yang nyaris terkena serangan jantung saking menyeramkannya pergerakan mata kecil temannya itu. Peristiwa aneh tersebut di akhiri dengan bantingan pintu sekali lagi oleh sang pemilik ruangan. Hoseok rasa ia perlu memeriksakan jantungnya ke rumah sakit setelah ini.
"Hoseok?"
"Ampun, Kim Namjoon, bagaimana bisa kau mengencani hyung galakku itu?!"
"Hoseok?"
"Apa?!"
"Temani aku ke toko elektonik besok?" Perhatian Hoseok yang kacau kembali pada Namjoon di hadapannya, dari hasil pengamatannya, Namjoon tampak sedikit lega, meski kerutan stress di dahinya masih belum menghilang. "Yoongi hyung memberikan daftar barang-barang yang harus ku ganti." Katanya, sedikit bangga melambai-lambaikan selembar kertas di jepitan ibu jari dan telunjuknya. Yang dapat Hoseok lihat hanya tanda love kecil yang menganggu di ujung tulisan Min Yoongi.
"Ck, dan pada akhirnya uang menyelesaikan segalanya."
Hoseok menyesal menghabiskan waktu dua puluh menitnya di tengah malam untuk drama yang teman-temannya ciptakan.
.
VS Himself
Namjoon tak tahu pasti apa yang barusan terjadi, yang ia tahu adalah sengatan rasa sakit luar biasa menyerang bagian tumitnya. Ia baru sadar bagaimana posisinya sekarang setelah mati-matian menggeser tubuhnya agar bersandar pada dinding terdekat. Ia melihat sekeliling dan hanya menemukan anak-anak tangga. Ia mulai ingat kronologis kejadian hingga sampai pada penyebab rasa sakit hebat di kakinya.
Beberapa detik yang ia lakukan adalah mengatur pernapasan, memasok udara sebanyak-banyaknya untuk paru-parunya lalu membuangnya lagi secara perlahan, berusaha agar tidak panik di tengah rasa sakit yang semakin menggila. Saat logikanya sudah berangsur kembali, Namjoon mulai mencari keberadaan ponselnya di saku jaket denimnya, bersyukur karena benda itu tetap disana dan tidak terlempar ke suatu tempat saat ia terjatuh tadi. Masih dalam keadaan linglung ia mulai menekan angka satu sebagai nomor panggilan cepatnya. Lalu menempelkan ponsel ke telinga diiringi beberapa lenguhan kesakitan.
"Ya, Namjoon?"
Baiklah, sampai disini Namjoon tak mengerti keputusan setengah sadar yang diambilnya untuk menghubungi mantan suaminya dibanding ambulans dan semacamnya.
"Hyung.. maaf.. kalau mengganggu."
"Kau baik-baik saja? Ada apa, Namjoon-ah?"
Jeda Namjoon ambil untuk menelan lenguhannya saat sengatan sakit dari kaki kanannya kembali menyerang dan merambati keseluruhan tubuhnya.
"Sepertinya aku terjatuh dari tangga dan mematahkan kakiku, hyung."
"SEPERTINYA?! Namjoon, jangan bercanda! Katakan dimana kau sekarang."
Namjoon memejamkan mata sejenak, lalu membukanya lagi untuk melihat sekelilingnya. Masih tangga. "Umm.. tangga darurat apartemenku?"
"Tuhan, kenapa juga kau menggunakan tangga darurat?!"
"Apa itu penting sekarang, hyung?"
Mendengar Yoongi yang mengumpat di ujung telepon sana sedikit membuat Namjoon lupa rasa sakitnya, ia bahkan nyaris tertawa, entah untuk kebodohannya atau kejengkelan Min Yoongi.
"Baiklah, aku akan kesana secepat yang kubisa.." Di seberang sana Namjoon bisa mendengar celotehan si kecil Jungkook. Ah, sepertinya rasa sakit Namjoon sedikit mulai berganti dengan ketidaknyamanan rasa rindu pada keluarga kecilnya. "Bisa kututup teleponnya? Aku tetap harus memanggil ambulans untukmu."
"Tolong jangan.. aku butuh sesuatu untuk mengalihkan pikiranku dari rasa sakit, hyung."
"Oke, shit. Oke.. kalau begitu.. kalau begitu.. biarkan aku mengirim pesan pada Hoseok dan memintanya menghubungi ambulans. Aku dan Kookie sudah di mobil."
Yoongi terdengar begitu panik, Namjoon kira dia harusnya sudah terbiasa setelah mengenal Namjoon dan kecerobohannya selama satu dekade. Tapi ternyata tidak, Min Yoongi masih sama paniknya dengan saat dulu Namjoon mengabarinya tak bisa datang ke acara kencan mereka karena ia yang tersandung langkahnya sendiri berakhir dengan penglihatan mata kirinya yang terganggu sementara.
"Namjoon? Kau masih disana? Aku sudah mengirim pesan ke Hoseok. Hey?"
Sekarang sosok diujung telepon sana sudah sangat dekat dengan ledakan tangis. Namjoon sudah menghafal di luar kepala bagaimana suara Min Yoongi yang seperti itu. Dan ya, Namjoon benci selalu menjadi sumber utamanya.
"Hyung, kau tidak berubah ya.."
"Ya, karena kau sendiri tidak pernah berubah. Dasar ceroboh sialan."
Namjoon tertawa di tengah rintihan sakitnya, membayangkan Yoongi yang begitu frustasi sekarang ini sayangnya cukup menghibur.
"Hey, kau mengumpat di depan Kookie.." kalimatnya terputus tiba-tiba, rasa sakit kembali menyengat kakinya dan menjalari seluruh tubuhnya. Namjoon tahu patah pergelangan kaki tak akan membuatnya mati seketika, tapi tetap saja rasa sakitnya mengingatkannya pada kematian. "Kalau aku mati, pastikan kalian ingat aku selalu mencintai kalian."
"Si bodoh ini, kau bicara tentang kematian di depan Kookie!"
Yoongi memekik. Di titik ini Namjoon tahu Yoongi sudah menangis, sedikit membuatnya menyesali kebodohannya menghubungi Min Yoongi pada saat seperti ini.
Tepat ketika ia ingin kembali bicara, pintu darurat di sampingnya terbuka, lalu muncul Jung Hoseok dan beberapa orang berpakaian serba putih yang membawa tanda warna orange. Sungguh Namjoon tak pernah selega ini melihat kedatangan Jung Hoseok.
"Oh, man. Sudah kuduga hanya tinggal menunggu waktu kau mematahkan kakimu."
Namjoon tak menjawab apapun. Antara malas dan lelah juga. Jadi ia memilih memejamkan mata, memasrahkan kakinya ditangani oleh para petugas medis yang datang, samar-samar ia merasakan ponsel di tangannya diambil, disusul suara Hoseok, "Yoongi, aku disini. Berhenti menangis dan mengemudi yang benar!"
.
.
.
.
Aku cuma bisa update side story ini.. semoga masih bisa dinikmati :(
Chapter 25 masih on process, yg pasti ga bisa rilis 2 minggu ke depan karena aku punya uas yg mau ga mau harus diduluin haha
Buat LeeEunki, yg nanya aku punya akun wp itu wattpadd ya maksudnya? Aku medsos cuma punya twitter: RMJin_ dan tumblr: awakeinreflection. Lets meet there kalo mau~
