: Halo! Kembali lagi dengan update dari fanfic yang bikin author-nya ikut gila memikirkan ide-ide untuk mengembangkannya /?/ Aku menguras otakku dengan cukup kuat untuk bikin update ini – bahkan lebih dari pada aku pas lagi ngikutin mata kuliah tertentu – ya pantes kalo mau ujian kaga pernah becus wkwk .
Febrichan2425 : Makasihh, tetep ikutin terus kelanjutannya yaa
Ceexia : Percaya apa ngga, aku nungguin review kamu loh di chapter sebelumnya hehehe
Virinda : Wah bagus deh kalo feel-nya dapet .
Jamurlumutan : Makasih untuk review-nyaa
Woroworo: Here comes the update! Makasih yah udah nyemangatin
Pudding Pudding : Duh dipuji gitu bikin deg degan tau gak sih :'3 Makasih banyak ya, aku akan berusaha buat bikin twist itu.
Guest : terima kasih karena udah mau mampir baca, hehe
Michi-chan : That, is just what I mean. High-five!
Annis874 : Pantengin terus fic nya yaa. Aamiin deh, semoga selamat juga semester ini *insert emot nangis kejer*
Gitazahra : Update 1 done!
Lacus Clyne 123 : Here comes the update! Thank you for your support!
u.sakura23 : Makasih banget udah ngertii
Nica-kun : Gak bakal hiatus kok, insyaallah, soalnya ini tuh kayak pelarian biar kagak hang gitu otaknya hehe.
Happy reading!!
oOoOoOo
Kamar itu masih sama seperti terakhir kali ia melihatnya. Dindingnya yang berwarna putih tidak memudar, buku-buku tersusun rapi di rak buku atau di atas meja kerja. Bahkan tempat tidurnya juga bersih dengan sprei yang terlihat baru diganti.
Sasuke duduk di sebuah sofa di dekat rak buku. Sebuah sofa, meja kecil, dan rak buku yang di letakkan di pojok ruangan menjadi spot kesukaan Itachi yang selalu ada baik di kantornya dulu ataupun di rumah. Dari situ Sasuke bisa mengamati lebih baik kamar tidur sekaligus ruangan kerja Kakaknya.
Bahkan setelah lima tahun berlalu, tidak ada yang berani menyentuh kamar ini, kecuali kepala pelayan yang bertugas membersihkannya. Bagaimana tidak, ketika semua orang tahu Sasuke, Uchiha Mikoto, bahkan – sesekali – Madara masih suka masuk dan mengenangnya.
Mata Sasuke berhenti pada sebuah foto dengan bingkai hitam yang digantung dengan rapi. Karena ukurannya yang cukup besar, bahkan dari jaraknya sekarang Sasuke masih bisa melihatnya dengan jelas. Foto itu adalah foto terakhir yang mereka ambil sebelum kecelakaan yang merenggut nyawa Uchiha Fugaku.
Sasuke jarang sekali mengenang Ayahnya. Sesungguhnya ia tidak pernah sangat dekat dengan beliau. Sejak kecil ia sangat sering dibanding-bandingkan dengan Itachi dan Ayahnya selalu sibuk. Mereka jarang sekali menghabiskan waktu berdua. Tapi ketika Fugaku meninggal, Sasuke merasakan kehilangan yang luar biasa. Saat itu, tiba-tiba saja ikatan mereka yang sangat tipis menjadi sangat berarti, dan ia pun merasa menyesal karena tidak pernah berinisiatif untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan beliau.
Dan setelah Fugaku meninggal dunialah Sasuke merasa Itachi sedikit berubah. Ia menjadi lebih sibuk dan lebih tertutup. Saat itu, semua orang mengira itu hanyalah bentuk tanggung jawabnya sebagai anak pertama dan caranya untuk mengusir rasa kehilangan.
Lain kali. Itu adalah yang selalu Itachi ucapkan saat Sasuke memintanya untuk lebih membuka diri.
Mengalihkan pandangannya dari foto itu, Sasuke menatap pin berwarna merah yang ada di tangannya. Berbeda yang apa yang sempat ia katakan, Obito ternyata bisa mengembalikan pin tersebut seperti semula. Tentu saja, Obito sudah mengkopi semua data yang ada di dalamnya untuk penyelidikan lebih lanjut.
Ketika divisi intelijen dan kepolisian memberikan kemungkinan bahwa Itachi dan Sasori bergabung dalam organisasi gelap Akatsuki, ia menganggapnya sebagai lelucon. Kakaknya yang sangat bersih itu tidak mungkin melakukannya.
Ketika ia mengetahui tentang bukti dari ponsel Itachi, ia dibuat bingung. Apa yang diinginkan Itachi? Apa yang dimiliki Akatsuki sampai ia rela mengotori tangannya? Selama satu tahun, Sasuke banyak meninggalkan pekerjaannya untuk ikut mencari tahu.
Di bawah pimpinan Shisui, divisi intelijen sudah menggeledah kamar Itachi, tapi hasilnya nihil. Tidak ada satu pun dokumen yang berkaitan dengan Akatsuki. Begitu pula dengan Sasori. Mereka tidak bisa menemukan satu pun bukti, yang berarti kedua orang tersebut memiliki tempat persembunyian lain. Itulah yang membuat satu-satunya kunci pada kasus ini adalah Sasori sendiri.
Well, itu sebelum mereka memiliki pin ini.
Sasuke bangkit dari tempatnya dan berhenti di depan meja kerja Itachi. Di sana ada bingkai foto lain yang menampilkan Itachi dan dirinya dalam balutan seragam kelulusan SMA-nya. Keduanya memberikan senyum kecil pada kamera. Terlihat raut bangga yang jelas pada wajah Itachi.
Sulit membayangkan kalau ada kemungkinan bahwa pada hari itu, Itachi sudah menjadi bagian dari Akatsuki.
"Apanya yang lain kali, Aniki?"ucap Sasuke pelan sembari mengusap bingkai tersebut.
Sasuke membuka laci meja. Di sana ada banyak alat-alat kantor. Hal yang menarik perhatian Sasuke adalah sebuah kotak cincin yang terletak di pojok laci, tertutupi oleh notes.
Kotak itu berwarna biru tua. Warna kesukaan Itachi setelah warna hitam. Well,setidaknya Kakaknya tidak memilih warna hitam yang gelap dan suram itu untuk menjadi wadah cincin pertunangan atau apapun itu.
Cincin berhiaskan berlian kecil itu terlihat sangat sederhana. Seseorang sekelas Itachi jelas bisa membeli sesuatu yang jauh lebih mewah daripada ini. Sasuke yakin wanita yang Itachi dekati juga berharap lebih.
Come to think of it, Itachi tidak pernah mengatakan apapun tentang ini. Tidak padanya, tidak pada semua orang.
Sebuah senyum pahit terukir di bibir Sasuke. Ia meletakkan pin merah itu di samping cincin dan menutup kotak itu, lalu meletakkannya di tempat semula.
Setelah melirik keseluruhan ruangan tersebut sekali lagi, Sasuke keluar dan mendapati wanita berambut merah muda itu sedang menunggu di luar kamar. Ia terlihat terkejut saat Sasuke menangkap basah dirinya.
"Sedang apa kau?"
"Um, aku baru saja ingin mengambil minum," Sasuke yang diam membuatnya kembali melanjutkan, "Aku penasaran karena para pelayan bilang lebih baik tidak masuk ke sana. Tapi aku melihatmu masuk ke sana, jadi…"
Ah, memang sudah ada peraturan tidak tertulis begitu di antara para pelayan.
"Kau sudah mendapat minummu?"
"Oh! Minumku." Ia terdiam sejenak. Jemarinya menyelipkan helaian rambut ke belakang telinga. Ia terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Mau makan ramen?" Ketika pertanyaan itu keluar dari mulutnya, Sasuke mengerutkan kening. Ia melihat jam tangannya.
"Aku tidak yakin ada restoran ramen yang buka pukul dua pagi."
"Um, maksudku ramen instan."
Sepertinya kerutan di dahi Sasuke bertambah. "Aku tidak tahu kalau kita punya itu."
Sakura memutar bola matanya. "Memang tidak. Aku terkejut saat tidak menemukan barang ajaib itu di mana pun. Karenanya aku membeli beberapa dan menyimpannya di kamar."
Dimana?
"Kalau kau tidak mau kau bisa temani aku saja. Oke?"
Tanpa menunggu jawaban dari Sasuke, wanita itu sudah kembali ke kamar. Sasuke memutuskan untuk menunggunya di ruang makan yang terhubung dengan dapur bersih.
Tidak perlu menunggu lama, wanita itu kembali dengan dua bungkus ramen. Padahal satu bungkus saja sudah berukuran cukup besar.
Alis Sasuke mengerut, memikirkan betapa tidak sehatnya makanan itu.
"Kau pasti sedang berpikir kalau ini tidak ada sehat-sehatnya kan?"tanya Sakura sembari memanaskan air.
"Tepat sekali."
"Kenyataannya aku sudah hidup dengan mereka hampir seumur hidup dan aku benar-benar sehat. Kita hanya tidak perlu berlebihan."
Mengingat sahabatnya yang penggila ramen, Sasuke mengerti kenapa seseorang tidak boleh mengonsumsi ramen berlebihan.
Melihat Sakura memasak mengembalikan memori masa kecil Sasuke. Ketika ia baru saja pulang kursu dan menunggu Ibunya memasak makan kecil. Dulu, karena Mikoto tidak punya banyak pekerjaan, ia sering membuat camilan untuknya dan Itachi.
Ah, aku mengingatnya lagi.
Sakura meletakkan semangkuk penuh ramen di atas meja. Ia duduk dengan sepasang sumpit di tangan kanan dan sebuah sendok di tangan kiri. Wajahnya terlihat berbinar.
"Kalau orang melihatmu sekarang, sepertinya mereka akan mengira aku tidak memberimu makanan yang layak."
Wanita itu tertawa. Ia menyeruput ramennya dan mengunyahnya perlahan. "Astaga enak sekali. Kau harus mencicipinya ."
Sasuke menatap Sakura yang sudah menyodorkan mangkuknya. Wajahnya seakan berkata 'Kau. Harus. Makan.' Maka Sasuke mengambil sedikit.
Damn. It tastes good.
"Enak kan?" Wanita itu menanyakannya dengan nada yang sangat girang, seakan baru saja memenangkan sesuatu. "Kalau begitu bantu aku menghabiskannya. Aku memasak terlalu banyak."
Sebelum ia sempat protes, Sakura sudah menyerahkan sepasang sumpit dan sendok padanya. Kalau ia tidak bisa menghabiskannya, kenapa memasak lebih?
Ah.
Sasuke tersenyum dalam hati saat tahu apa maksudnya. Sakura hanya ingin Sasuke mengalihkan pikirannya dari masalah untuk sementara waktu. Ia bahkan tidak bertanya apa yang ia lakukan di kamar Itachi meskipun ia sudah pasti ingin tahu.
oOoOoOo
Dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari laki-laki di hadapannya.
Uchiha Sasuke benar-benar tampan.
Kadang Sakura bingung, kenapa semua orang di rumah ini bisa terlihat menawan bahkan di kondisi apapun. Seperti Sasuke yang sedang memakan sisa ramen di mangkuk sekarang. Ia mengenakan kemeja putih yang biasa ia pakai dibalik jasnya – dia baru saja pulang – membuat penampilannya benar-benar seperti model CF. Well, raut wajah tanpa ekspresi memang tidak mungkin ditampilkan di CF tapi dia adalah pengecualian.
Sasuke memang jarang menampilkan ekspresi, apalagi tertawa. Tapi ketika ia melakukannya, Sakura yakin semua orang pasti akan kehilangan kata-kata. Paling tidak itu yang ia rasakan.
"Ada apa?"
Pertanyaannya yang tiba-tiba menyadarkan Sakura dari lamunannya.
"Apanya?"
"Kau melamun dan tiba-tiba terlihat murung. Ada apa?"
Sakura memberinya senyum. "Tidak apa-apa. Apa kau sudah selesai makan?"
Ia mengambil mangkuk dan peralatan makan lainnya lalu menaruhya di wastafel. Tentu saja Sakura akan mencucinya. Dia tidak bisa meninggalkan piring kotor di sini begitu saja.
Di tengah kegiatan mencucinya, Sasuke berdiri di sampingnya. Lelaki itu awalnya hanya memperhatikannya mencuci tapi kemudian kembali bersuara. "Kau yakin kau tidak apa-apa?"
"Memangnya kenapa?"
Sakura mengharapkan sebuah kerutan di wajahnya, tapi ekspresinya justru tidak berubah. "Aku khawatir."
"Yang seharusya khawatir itu aku. Aku tidak melakukan apapun yang berbahaya, Sasuke. Aku hidup dengan sangat baik di sini. Sedangkan kau sedang melakukan sesuatu yang berbahaya, benar kan?"
Sasuke tidak merubah ekspresinya. Ia justru terlihat lebih tertekan. Sakura pun sadar bahwa ia sudah memilih kata-kata yang salah.
Sakura meraih tangan lelaki itu dan menggenggamnya. "Aku tadi memikirkan bagaimana membuatmu tersenyum lebih sering, Sasuke. Setidaknya di depanku. Sekalipun kau tidak bisa terbuka padaku, aku ingin meringankan bebanmu. Maaf karena aku justru membuatmu khawatir."
"Maaf karena aku tidak bisa terbuka."ucapnya dengan suara yang rendah. Matanya menatap zamrud Sakura dengan begitu lekat. "Aku tidak ingin kau juga ada dalam bahaya."
Ucapannya membuat Sakura merasa benar-benar tidak enak. Namun, Sakura membalasnya dengan senyum lembut. "Aku mengerti."
Maafkan aku.
oOoOoOo
Sakura selalu menyukai hujan. Suara air hujan yang jatuh ke tanah bisa menenangkan pikirannya, sekalut apapun itu.
Hujan kali ini mengingatkannya akan pemakaman Ino lagi. Ia merasa masih belum menjadi teman yang baik. Memang sudah beberapa minggu terlewati, namun perasaan itu tidak bisa hilang sepenuhnya.
Meskipun Sasori sudah berjanji akan memberi tahu Sakura tentang Akatsuki, tapi sampai saaat ini laki-laki itu tidak memberi tahu apa-apa. 'Aku masih mencari bukti.' Katanya.
Sakura menghela nafasnya. Ia merasa tidak berguna. Baik Sasuke ataupun Sasori sama-sama menyembunyikan semua hal darinya.
"Berbahaya. Tentu saja. Lagipula aku tidak bisa banyak membantu."
Berusaha menghilangkan perasaan negatif, Sakura bangkit dari tempat tidurnya dan keluar kamar. Ia akan melihat apakah ada sesuatu yang bisa ia kerjakan. Tenten memberinya hari libur untuk istirahat, tapi Sakura tidak merasa selelah itu.
Tepat saat Sakura keluar dari kamar, ia mendapati NekoBaba – nama kecil Kepala Pelayan – berada di luar kamar.
"Ah, Ba-chan. Ada apa?"
NekoBaba memberikan isyarat untuk mengecilkan suara.
Sesaat kemudian Sakura bisa mendengar suara pintu yang dibuka kemudian ditutup kembali. Suaranya berasal dari kamar Itachi yang berada tidak jauh dari kamar mereka. Sasuke keluar dari sana kemudian menuruni tangga menuju ruang kerjanya.
NekoBaba mengangkat vacuum cleaner-nya. Ketika ia berhenti di depan kamar Itachi, Sakura sontak bertanya, "Apa aku juga boleh masuk?"
"Tentu saja, kau kan Nona Muda keluarga ini."jawabnya dengan wajah datar.
Kamar Itachi sama saja seperti kebanyakan kamar-kamar di rumah ini. Masih dengan sedikit elemen-elemen tradisional dan warna-warna monokrom. Selagi NekoBaba mengerjakan tugasnya, Sakura berkeliling kamar.
Buku-buku milik Itachi bisa dibilang sangat menarik. Sakura suka membaca. Sebelum ia disibukkan dengan pekerjaannya yang tiada henti, ia selalu menyempatkan diri untuk membeli buku baru dan membacanya di waktu luang.
Mother. Sakura mengambil buku yang sangat ia kenal itu. Sebuah buku yang bercerita tentang perjuangan seorang Ibu dalam menghadapi kerasnya dunia tanpa kehadiran laki-laki di sisinya. Karakter utamanya tidak punya figur seorang Ayah, dibesarkan di sebuah panti khusus perempuan, mengalami pelecehan seksual saat SMA di sekolah umum dan berakhir melahirkan seorang bayi laki-laki.
Hal yang membuat Sakura membacanya saat itu adalah karena iri hati. Kenapa Ibunya tidak bisa menjadi sosok perempuan yang kuat dan penyayang? Seorang perempuan yang bisa berperan sebagai Ibu yang mengasihi dan seorang Ayah yang melindungi? Kenapa ia justru lari dan meninggalkannya? Ia sendiri tahu perasaan hampa karena tidak pernah bertemu dengan Ayahnya – Kakek Sakura meninggal saat Ibunya masih sangat kecil – lalu kenapa ia melakukan hal yang sama pada Sakura, bahkan lebih menyakitkan lagi?
Meskipun saat membacanya Sakura sering kali merasa marah dan menyesal telah membeli buku itu, namun ia tetap membacanya. Kini Ia bersyukur karena sosok di buku itulah yang menjadi pedomannya dalam membesarkan Ayumi.
Tapi kenapa Itachi-san membaca buku ini? Ia berasal dari keluarga bahagia, lalu kenapa?
"Itachi-sama suka memikirkan sesuatu dari berbagai sudut pandang."sahut NekoBaba yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya. "Terutama untuk orang di sekitarnya. Ia mencoba berpikir sesuai dengan kondisi mereka."
Ah, Sasori? Tidak aneh, Sasori juga tidak pernah bertemu dengan ibu kandungnya.
"Bisa bergeser? Aku ingin membersihkan daerah itu."
"O-oh! Maafkan aku."
Sakura kini beralih pada meja kerja Itachi. Meja kerja yang cukup megah dan kuat. Ada fotonya dan Sasuke di sana. Sasuke terlihat imut.
Matanya menangkap sebuah kotak berwarna hitam yang terletak di dekat figura. Karena penasaran, Sakura membuka kotak itu dan menemukan pinnya di sana bersama sebuah cincin.
Kenapa benda ini ada di sini?
Apa Sasuke sudah selesai dengan analisanya?Lalu kenapa dia tidak memberitahu apa-apa padaku?
Sudah berapa lama benda ini ada di sini?
Sudah berapa lama Sasuke mengetahui sesuatu dan tidak memberitahuku?
Semua pikiran Sakura terhenti ketika ia mendengar suara ponselnya, tanda ada panggilan masuk. Nama Sasori tertera di layar.
"Moshi-moshi. Ada apa?"
"Bisa kita bertemu di tempat biasa? Ada yang ingin kubicarakan."
"Tentu saja." Sakura mengambil pin tersebut dan menyimpannya di kantung. "Aku akan tiba di sana sepuluh menit lagi."
oOoOoOo
Caféyang ada di depan klinik Ino sudah seperti basecamp bagi mereka bertiga. Tempat ini ada di tengah-tengah dari tempat kerja mereka, sehingga cocok sebagai tempat bertemu.
Laki-laki berambut merah yang baru saja meneleponnya ada di sudut ruangan. Meja di sudut ruangan yang cukup lebar dan dilengkapi sofa – café ini menyediakan berbagai macam bangku – menjadi favorit Sakura juga. Ino sendiri lebih menyukai kursi yang menghadap langsung ke luar café.
"Menunggu lama?"
Sasori mengangkat wajahnya dan memberikan senyum tipis. Sakura bisa melihat bagian bawah matanya yang menggelap.
"Tidak. Tapi kau terlambat lima menit."
"Genma tidak ingin menambah kecepatan karena hujan." Laki-laki satu itu terkadang memang bisa sangat protektif.
Matanya memperhatikan barang bawaan Sasori. Hanya sebuah ransel berisikan laptop. Apa semua bukti ada di sana? Tapi laki-laki itu tudak terlihat akan membuka laptop-nya atau apapun. Lagipula, kalau mereka akan membicarakan suatu hal tentang organisasi ilegal, kenapa mereka melakukannya di sebuah cafe?
Seorang pelayan yang sudah Sakura kenal dengan cukup baik memberikan pesanan Sakura. Satu cup red velvet panas yang tidak terlalu manis.
"Kau memesan take away?"tanya Sasori.
"Aku lebih suka display seperti ini. Melihatnya di mug cukup membosankan."
"Oh, kukira kau bisa membaca pikiranku."
Huh?
Sasori meraih ranselnya dan berdiri. "Ayo, kita akan mendiskusikannya di tempat lain."
Tanpa mengatakan apa-apa, Sakura ikut meraih tasnya dan berjalan di belakang Sasori. Sekilas, matanya menangkap seseorang di bagian luar café, sedang merokok. Warna rambutnya yang biru serta pakaian serba biru-hitam menarik perhatian Sakura.
Seakan penampilanmu sendiri tidak cukup aneh saja.
Sakura duduk di kursi penumpang depan. Dari pemandangan di luar, Sakura tahu kalau mereka sedang dalam perjalanan menuju apartemen Sasori.
"Kapan kau akan pulang?"
Sasori memberikan senyum tipisnya. "Dalam waktu dekat. Aku berencana kembali setelah membereskan apartemenku."
"Membereskan?"tanya Sakura bingung.
"Hanya merapikannya. Aku tidak akan menjualnya, tapi juga tidak cukup kuat berada di sana selamanya. Well, kau tahu."
Mereka terdiam untuk beberapa saat sebelum Sakura kembali bertanya, "Apa yang kau lakukan selama beberapa hari ini?"
"Aku menyusun ulang semua yang kuketahui, yang orang-orang ketahu, dan yang kucoba ingat tentang Akatsuki."
Itu menjelaskan kantung matanya yang semakin on point. "Apa kau baik-baik saja?"
"Kepalaku sangat sakit, tentu saja. Dari dulu aku tidak bisa memaksa diriku untuk mengingat."jawabnya santai.
"But you did. Setelah ini kau harus istirahat. Aku serius saat ingin membantumu, Sasori. You didn't have to do that alone."
"Aku tahu. Tapi aku bisa lebih fokus ketika sendiri."
"Tetap saja-"
"Aku mengerti, Sakura."
Ketika mereka sudah sampai di apartemen Sasori, Sakura bisa melihat ruangan yang sangat rapi. Bahkan ia tidak menemukan satu pun piring kotor di wastafel.
"Kau bahkan sempat mencuci piring."ucapnya.
"Oh, semua sampah bekas delivery sudah kubuang."
That explains a lot.
Sasori membuka pintu ruang kerjanya dan Sakura langsung terperangah.
Ada sebuah papan tulis transparan yang penuh dengan tulisan dan foto. Foto Sasori, Itachi, dan Deidara ada di sana dengan keterangan-keterangan. Disana tertulis bahwa Deidara adalah seorang soldier yang menjaga Sasori dalam tiap misi. Dia juga sering bekerja sendiri untuk misi-misi khusus.
"Misi khusus?"
"Deidara unggul dalam garis depan. Dia sangat ahli dalam seni ledakan. Termasuk meledakkan rumah seseorang di malam hari."
Akatsuki juga membunuh orang?
Seakan membaca pikiran Sakura, Sasor menambahkan, "Mereka tidak benar-benar melakukan bisnis itu. Mereka melakukannya saat seseorang menghalangi jalan mereka."
Sakura kembali memperhatikan papan tersebut. Itachi dan Sasori juga seorang soldier, namun dengan bidang yang berbeda. Itachi bergerak di bidang IT dan hubungan dengan eksternal sedangkan Sasori fokus pada bisnis utama mereka.
"Bisnis utama mereka… narkoba?"
"Itu masih dugaanku. Aku tidak berhasil mengingat dengan jelas. Semuanya samar. Tapi aku menemukan buku mengenai segala macam narkotika dan setumpuk panduan farmasi lainnya di gudang. Itachi tidak tertarik dengan hal ini, jadi pasti orang yang memilikinya adalah aku."
"Aku tidak tahu kau punya gudang di apartemen ini, Sasori."
Laki-laki itu terdiam sejenak sebelum lanjut berkata, "Kau tahu aku tidak bisa mengingat apapun tanpa trigger yang tepat?"
Sakura mengangguk.
"Seseorang dari Suna meneleponku beberapa hari yang lalu. Ia mengaku sebagai seseorang yang bekerja untukku dan Itachi. Dia sedang dalam masalah keuangan karena aku dan Itachi tidak lagi mengiriminya uang.
"Tentu saja aku curiga dan tidak ingin percaya. Tapi pada akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke Suna dan menemuinya secara langsung. Turns out, dia adalah seorang kakek tua pemilik toko manisan tradisional. Dia bilang aku dan Itachi memberinya modal tiap tahun dengan imbalan ruang bawah tanah rumahnya.
"Ketika aku melihat ruangan itu, berbagai ingatan langsung masuk ke dalam kepalaku. Samar, namun cukup untuk membuat asumsi yang kuat."
"Lalu, kenapa Kakek itu baru menghubungimu sekarang? Bukankah ini terdengar aneh?"tanya Sakura.
"Entahlah, aku tidak sempat bertanya. Kepalaku saat itu seperti hampir pecah dan aku memutuskan untuk kembali dulu." Sasori menghela nafas. "Tapi dari wajahnya, aku bisa tahu kalau dia jujur."
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi kesana bersama? Aku bisa membantumu mengumpulkan informasi dan menjagamu. In case you're about to collapse."
Sasori tidak terlihat setuju. "Itu yang kupikirkan sebelumnya, tapi ini akan terlalu berisiko. Kau tahu, mata paparazzi ada di mana-mana dan kau tidak bisa lepas dari pengawasan Uchiha."
Ah, tentu saja Tenten dan Anko mengawasinya. "Memang, tapi itu tidak berarti kita tidak bisa mencari jalan keluarnya."
"Oke. Aku akan memikirkan beberapa cara."
Sakura mengangguk-angguk dan kembali mempehatikan papan tulis. Ada sepuluh anggota Akatsuki dan selain tiga orang tadi semuanya tidak memiliki foto. Bahkan tidak semuanya memiliki nama.
Mata Sakura berhenti saat ia melihat nama Kisame. Sasori menuliskan sedikit informasi di samping namanya. Laki-laki itu adalah partner Itachi. Postur tubuhnya tinggi dan berotot. Ia sering membawa tongkat baseball dari besi. Biru.
Seketika, ketakutan muncul dalam hatinya.
"Sasori, apa kau melihat pria yang sedang merokok sendirian di luar café?"tanya Sakura tanpa melihat wajah Sasori.
"Tidak, kenapa?"
"Aku melihatnya sekilas. Rambutnya berwarna biru, dan keseluruhan penampilannya pun berwarna biru sampai kulitnya pun hampir terlihat berwarna biru."
Sakura mengambil nafas untuk menenangkan dirinya. Berusaha membuat suaranya tidak terlalu bergetar. "Meskipun sedang duduk, aku yakin dia jauh lebih tinggi dari Sasuke."
Ketika ia melihat ekspresi Sasori, laki-laki itu tampak tidak jauh berbeda darinya.
"Sasori, apa kau pikir…?"
"Kemungkinan besar, itu Kisame. And he's watching us."
