WARRIOR FROM THE HEAVEN

Chapter#25

HAL PENTING SETELAH TURNAMEN

Rate: T

Genre: Fantasy, Adventure, Action, Romance, Drama, Martial Art

Warning: Typo, gaje mungkin, masih jauh dari kata sempurna, OOC

Don't Like Don't Read

Jangan lupa review, favorite follow!

Summary:

Kehilangan kedua orang tuanya menyebabkan dampak besar bagi kemampuan Naruto. Dia kini dirawat oleh salah 1 dan 4 klan sihir terbesar di Kerajaan Konoha, klan Hyuuga dan demi membalas kebaikan klan, mampukah ia membawa klan Hyuuga menjadi klan terkuat.

.

.

.

.

.

.

Chapter sebelumnya:

"…Meleset.."

Naruto membalikkan tubuhnya membelakangi Shion. Cukup lama dia diam tanpa memberikan satu kata pun…

"Jika kulancarkan serangan itu padamu tadi tepat di wajahmu…"

Lalu di sedikit menoleh ke belakang melihat sang gadis…

"…Aku bisa menghancurkan wajah cantikmu itu…"

Entah darimana datangnya hembusan angin itu namun saat Naruto mengatakannya barusan, Shion merona hebat… Seolah kalimatnya barusan mendatangkan hempasan angin yang disertai ratusan bunga sakura yang berterbangan di udara…

"Eh..!?"

Dan sedetik kemudian, Shion mulai kehilangan kesadarannya… Pandangannya mulai kabur dan tubuhnya menjadi sangat berat…

BRUKKK

Shion terjatuh tak sadarkan diri… Naruto menghela nafas lega menandakan berakhirnya pertarungan panjang itu telah berakhir…

.

.

.

"Kau yang traktir ya?" kata Neji.

"Enak saja.. Kau yang pingsan duluan.. Dan kau serahkan mereka berdua padaku? Lalu kau minta traktiran? Tidak akan…"

"Bukankah aku sudah mengulur waktu untukmu!? Jika seandainya aku gagal mengulur waktu.. kita akan kalah tahu!"

"Berisik..!"

Naruto dan Neji berjalan menuju ke pintu keluar arena pertandingan… Tubuh mereka kelelahan dan setelah ini tampaknya mereka punya rencana sendiri untuk menghabiskan sisa hari dengan… makan sepuasnya…

.

.

.

.

.

.

22 Juli Tahun X777, Calender WFTH

NARUTO POV

Ukhh.. Kepalaku pusing sekali.. Apa sudah pagi? Aku membuka kedua mataku begitu mendapat sinar matahari dari jendela. Tunggu dulu.. Dimana aku? Ah.. Benar! Ini kamarku. Kemarin malam, seisi asrama membuat pesta besar besaran untukku dan Neji. Wajar saja jika mereka membuat pesta itu, karena kamilah peserta pertama dari Holy Knight yang memenangkan turnamen kemarin sejak tiga tahun lamanya tak pernah menang.

Kuusap kedua mataku dan kubuka jendela kamarku. Sinar matahari pada pagi hari itu menyapaku hangat. Sedikit kulindungi mataku dari sinar matahari yang menyilaukan itu lalu setelah puas melihat matahari terbit, kuputuskan untuk pergi mandi lalu bersiap siap untuk sarapan di ruang makan Asrama Holy Knight.

"Hoaaammmmmm…"

.

.

.

.

.

.

KREK

Kubuka pintu kamarku lalu kututup kembali setelah aku keluar dari sana. Aku menatap kamar yang letaknya tepat berada di sebelah kamarku. Pemilik kamar itu sudah jelas adalah Neji. Seharusnya Neji pun juga sudah bangun dan sudah bersiap siap jika kutengok pukul berapa sekarang. Namun, entahlah.. laki laki yang kamarnya berada di sebelahku itu mungkin kelelahan akibat pertarungan dan pesta semalam.

'Bagaimana keadaan rekanmu itu?' tanya Kurama tiba tiba mengajakku bicara.

'Entahlah.. Mungkin dia masih kelelahan akibat pertarungan dan pesta semalam,'

Aku menoleh ke belakangku, ke kamar dari murid murid se-asrama yang tak jauh dari kamarku berada. Tampaknya mereka juga masih belum ada yang bangun ataupun bersiap siap.

"Apa boleh buat.."

Aku menghela nafas panjang lalu berjalan menuju ke tangga utama yang letaknya berada di antara jalan masuk wilayah perempuan dengan laki laki. Disana kutemui beberapa gadis yang tampaknya juga akan pergi ke ruang makan sambil mengobrol saat berjalan. Mereka bertiga menoleh ke arahku ketika sadar kalau aku ada di sana. Dan entah apa yang terjadi pada mereka tapi ketiga wajah gadis itu memerah tanpa alasan dan sedetik kemudian mereka berbisik bisik membicarakan sesuatu sambil beberapa kali mencuri pandang ke arahku. Sesekali mereka tertawa dengan wajah merona ketika sedang berbisik sambil melihatku. Dan itu membuatku memasang ekspresi bingung…

"Hah..!?"

Aku penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Apa mereka membicarakanku ya? Yah, sudah tak penting karena mereka bertiga sudah berjalan duluan menuju ke ruang makan.

'Kau jadi popular ya di kalangan gadis gadis?' kata Kurama.

'Ah.. Jadi seperti ini yang namanya popular? Sudah lama sekali aku tak merasakannya sejak bakatku dulu hilang karena seekor Tailed Beast aneh yang masuk ke tubuhku seenaknya,'

Sedikit kusindir makhluk yang ada di dalam tubuhku. Dari penglihatan batinku, dia kini sedang mengalihkan pandangannya ke arah lain. Aku tersnyum sendiri melihatnya… Lalu aku segera berjalan kembali menuju ke tempat tujuan awalku sambil meletakkan kedua tangan di saku celana.

"Aku ingin makan ramen…"

Kataku kepada diriku sendiri. Sesampainya di ruang makan… Dan betapa terkejutnya aku ketika sampai disana… Aku membulatkan mataku lebar lebar. Ketiga gadis yang kulihat tadi di tangga sedang memesan makanan dengan santainya begitupula Teuchi-jiisan dan anak perempuannya Ayame-neesan yang menerima pesanan ketiga gadis tersebut. Yang ingin kutanyakan adalah… Apa mereka tidak sadar kalau hampir seluruh murid laki laki masih tertidur disana? Sejak malam pesta, mereka tak kembali ke kamar mereka? Bahkan Neji juga!

"Uwooooo!"

Aku terkejut begitu melihat Neji yang tertidur dengan posisi duduk dan kepalanya ia sandarkan ke meja makan. Kelihatannya tadi malam dia mabuk… E-Eh, tunggu… Mabuk? Apa kita boleh minum sake atau semacamnya? Aku ingat! Kalau tidak salah, Yahiko-senpai memaksa kami untuk minum sake yang diam diam dibawanya! Jangan jangan aku juga!? Tapi, tunggu dulu.. Jika mereka semua disini.. Lalu siapa yang mengantarku hingga ke kamarku!? Wajahku memanas ketika menyadari hal tersebut.. Yang pasti bukan salah satu murid laki laki yang ada disini. Itu artinya… murid perempuan!? Tidak tidak tidak! Aku diantar seorang murid perempuan menuju ke kamarku yang saat itu aku berada dalam kondisi mabuk!? T-Tidak, Naruto! Jangan berpikiran aneh dulu! Tetaplah berpikiran positif!

"Sialan.. Aku tidak bisa mengingatnya!"

Aku mencoba mengingat ingat kembali yang terjadi kemarin. Setelah aku dan Neji mengalahkan Shion.. Aku dan Neji pergi menghadap Tsunade-sama terlebih dahulu dan menerima piala kemenangan. Kemudian kami pergi ke ruang makan asrama untuk makan sepuasnya sesuai rencana kami pada awalnya. Dan ternyata sesampainya disana, semua murid di asrama sudah menyiapkan kejutan. Kami berpesta hingga malam.. Lalu aku dan Neji dipaksa oleh Yahiko-senpai untuk meminum sake miliknya… Selanjutnya aku tidak begitu ingat apa yang terjadi…! Apa benar aku dalam kondisi mabuk!? Tunggu dulu… Aku ingat! Ketiga gadis itu! Apa ketiga gadis itu tahu siapa yang mengantarku dalam keadaan mabuk menuju kamarku!?

"T-Tunggu! Kalian bertiga!"

Kataku memanggil ketiga gadis yang kutemui di tangga utama tadi. Mereka menoleh ke arahku untuk merespon panggilanku. Ketiga wajah itu menampakkan ekspresi bingung ketika aku memanggil mereka.

"Ah, kalau tidak salah.. Kalian ada di pesta semalam juga kan?"

Aku bertanya kepada mereka dengan senyuman canggung sambil menggaruk garuk kepala bagian belakangku yang sebenarnya tidak gatal. Yah aku benar benar penasaran… Dan alasan yang membuat rasa penasaranku bertambah adalah dari cara mereka merespon pertanyaanku. Mereka hanya tertawa kecil mendengar pertanyaanku.

"A-Ano.. Sebenarnya aku tidak begitu ingat kejadian kemarin malam,"

Mereka sedikit terkejut mendengarnya dan sesaat setelahnya, ekspresi mereka berganti lagi dengan sebuah senyuman menggoda.

"Kami tidak tahu kalau kau memiliki sisi menawan seperti itu, Hyuuga-san!"

Mereka memanggilku Hyuuga… Tidak salah sebenarnya karena aku yang sekarang merupakan bagian dari klan Hyuuga. Yang mereka tahu juga seperti itu. Meskipun fakta mengenai diriku hanya seorang anak angkat dari pemimpin klan Hyuuga dan tak memiliki Byakugan namun tetap saja sekarang aku adalah seorang Hyuuga. Tujuanku hanya untuk membawa klan Hyuuga menjadi klan terkuat di Kerajaan sekaligus di dunia sihir.

"Sisi menawan seperti apa..?"

Entah apa yang aneh dari pertanyaanku barusan tapi mereka tertawa kecil mendengar pertanyaanku itu. Sejujurnya aku tidak bisa memahami gadis gadis. Mereka terlalu rumit. Selalu memiliki alasan yang tidak kumengerti. Kejadian ini mengingatkanku tentang alasan Hinata menolakku saat pada waktu itu.

"Bisa kalian jawab saja? Aku sedang buru buru.."

Setelah aku mengatakannya, akhirnya mereka berhenti juga menertawakanku. Aku yang diselimuti oleh rasa penasaranku menatap intens kepada tiga gadis di hadapanku.

"Kau benar tidak ingat?"

Harus berapa kali aku mengatakannya kepada mereka?

"Jujur saja… Aku tidak ingat,"

Mereka menatap ke arah satu sama lain sebelum menjawab pertanyaanku. Ekspresi ketiganya seakan masih ragu kalau aku benar benar tidak mengingat kejaadian tadi malam.

"Kemarin malam kau mabuk dank au bersikap seperti…"

END NARUTO POV

Flashback

21 Juli X777, Calender WFTH

Naruto dan Neji yang baru saja memenangkan pertandingan hari ini terpaksa harus menghadap ke Tsunade karena tampaknya ada sesuatu yang harus mereka bicarakan. Dan mereka yakin kalau yang akan dibicarakan Tsunade pasti tidaklah sebentar. Pikir Naruto.. Mungkin Tsunade dan beberapa orang lainnya ingin bertanya kepadanya mengenai kekuatan yang didapatnya. Dan saat ini, mereka berdua masih berdiri di depan pintu masuk ruangan Tsunade. Mereka menatap ke arah pintu masuk cukup lama tanpa mengetuk pintu sekalipun. Mereka terlalu takut untuk menjawab semua pertanyaan Sang Kaisar Sihir Konoha itu.

"Kau masuk duluan.." kata Naruto kepada Neji yang berdiri di sebelahnya.

Neji melirik sinis ke arah Naruto. Kenapa dia pula yang harus masuk duluan padahal Naruto yang membuat heboh di arena?

"Kau menyuruhku!? Ini salahmu!" kata Neji berbisik pelan sambil menunjuk Naruto.

Naruto tersentak mendengarnya. Ekspresinya bingung dicampur panic.

"K-Kau menyalahkanku!? Tega sekali kau, Neji! Ini kan demi kemenangan kita! Lagipula kau juga yang memintaku memberitahumu tentang rahasiaku kan!?"

Sejauh yang ada Neji pikirannya saat ini.. Mungkin keberadaan makhluk yang Naruto panggil dengan Tailed Beast itu sudah disadari keberadaannya oleh para petinggi termasuk Tsunade sendiri. Neji yang menoleh ke arah Naruto kembali memalingkan pandangannya ke arah pintu masuk ruangan Tsunade. Hanya sebuah pintu biasa namun yang ditakutkannya bukanlah apa yang ada di hadapannya sekarang tapi yang ada di dalamnya. Yah, Karena dia mengetahui rahasia Naruto.. Mau tidak mau, dia harus membantu Naruto menghadapi pertanyaan Tsunade dan para petinggi.

"Akan kubuka pintunya…" kata Neji pelan.

Tangannya sudah bersiap untuk mengetuk pintu namun mentalnya belum begitu siap. Naruto menatap takut ke arah tangan Neji sedangkan Neji sudah berkeringat dingin saat tangannya akan menyentuh pintu masuk ruangan tersebut. Semakin dekat tangannya ke arah pintu dan semakin panik pula Naruto dibuatnya.

"Masuklah, kalian berdua!"

"Ukkkhhh!" mereka terkejut sekaligus panik.

Neji belum sempat mengetuk tapi sebuah suara yang asalnya dari dalam ruangan memberikan perintah kepadanya dan Naruto untuk segera masuk ke dalam ruangan Tsunade. Dari suaranya bahkan mereka bisa tahu kalau itu dari Tsunade sendiri. Tubuh mereka gemetar ketakutan sama dengan ekspresi mereka saat ini.

KREK

Neji akhirnya memberanikan diri untuk membuka pintu masuknya. Dia melirik ke kanan dan ke kiri. Dari sekilas penglihatannya ketika ia membuka pintu.. dia sudah melihat adanya beberapa orang penting yang ada disana. Di belakangnya, Naruto mengikuti Neji untuk segera masuk ke dalam meskipun sebenarnya hatinya mengatakannya untuk pergi dari sana secepatnya.

"Kami dengar dari Yahiko-senpai.. Tsunade-sama memanggil kami," kata Neji penuh hormat.

Neji menundukkan kepalanya diikuti oleh Naruto yang dipaksa Neji untuk menundukkan kepala. Naruto hanya mengikuti arahan Neji dan segera menundukkan kepala ketika kepalanya sudah dipaksa oleh tangan Neji untuk menunduk.

"Ya, benar.. Kami meminta kalian berdua untuk datang kesini,"

Naruto dan Neji menelan ludahnya ketika mendengarnya. Mereka mendapat firasat buruk dari hal ini. Semakin lama pun, keringat mereka juga semakin banyak yang mengalir. Tubuh mereka semakin gemetar apalagi tadi setelah pertandingan, mereka hanya mendapat sedikit penyembuhan atau pemulihan dari Shizune.

"Apa kalian tahu kenapa kalian kupanggil kesini?"

Satu persatu dari para petinggi yang ada menatap Neji dan Naruto yang masih menundukkan kepala mereka. Mereka tidak bisa melihat ke depan dengan posisi seperti itu tapi setidaknya mereka tahu kalau para petinggi yang menakutkan itu sedang menatap mereka dengan tatapan tajam.

"Angkat kepala kalian berdua.."

Beberapa detik setelah Tsunade mengucapkan perintah barulah mereka laksanakan. Dan sekarang mereka dengan jelas bisa melihat semua orang yang ada disana. Tsunade yang merupakan pemimpin klan Senju saat ini dan Kaisar Sihir, kemudian Jiraiya yang sedang berdiri sambil bersandar di dinding lalu ada Asume-sensei yang merupakan guru di Akademi sekaligus pemimpin klan Sarutobi setelah Hiruzen, ayahnya sekaligus Kaisar Ketiga meninggal. Lalu ada Uchiha Fugaku yang merupakan pemimpin klan Uchiha saat ini. Hyuuga Hiashi yang tak lain dan tak bukan merupakan pemipin klan Hyuuga. Ada beberapa orang penting lagi disana seperti pemimpin dari klan Nara, Inuzuka, Yamanaka, Akimichi dan Aburame. Namun di antara semua yang ada disana, hanya satu yang paling menarik perhatian… Dia adalah pria yang dipanggil dengan nama Danzo.

"Maaf, Tsunade-sama.. tapi kami tidak tahu alasan kenapa Tsunade-sama memanggil kami.."

Tsunade sudah menduganya kalau Neji yang akan bicara sedangkan Naruto memilih diam.

"Naruto… Sebelumnya kami tidak menyadarinya ketika ujian masuk dulu karena aliran sihirmu kacau dan tak jelas meski memiliki kekuatan yang luar biasa,"

Naruto terkejut mendengar Tsunade mengatakannya dan tampaknya Naruto sendiri sudah bisa menebak arah pembicaraan Tsunade hanya dengan satu kalimat itu.

"Namun sekarang setelah kau mengontrolnya dengan baik, kami bisa memastikannya meski tak begitu jelas.."

Naruto terdiam mendengarnya sambil melirikkan matanya ke arah lain. Tatapan semua orang yang ada disana terpusat kepadanya terutama Hiashi yang dari ekspresinya sudah sangat penasaran. Sedangkan di sebelah Naruto, Neji sudah cukup banyak mengeluarkan keringat setelah mendengar ucapan Tsunade. Dalam hatinya mungkin sudah tak ada harapan untuk menyembunyikan makhluk dalam tubuhnya itu.

'Naruto.. Tak masalah jika mereka tahu tentangku,'

'Kau yakin dengan ini?'

'Tentu saja.. Menurutmu sudah berapa orang sebelum kau yang menjadi tempatku singgah?'

Kata kata Kurama ada benarnya juga ketika Naruto memikirkannya kembali. Sebelum dirinya pasti sudah ada orang lain yang tahu identitas Kurama. Lagipula setelah ia membaca buku di perpustakaan Akademi, dia mendapati sebuah sejarah di buku tersebut yang menyebutkan tentang seekor Magical Beast berkekuatan dewa yang menyebut diri mereka sebagai 'Tailed Beast'. Sejak itu dia sadar kalau Tailed Beast sudah diketahui sejak dulu.

'Yang terpenting… Jangan sampai mereka tahu tentang Dark Magic mu..'

Naruto paham mengapa dia harus menyembunyikan mengenai sihir kegelapan itu.

"Apa kau memiliki seekor Magical Beast yang sangat kuat dalam tubuhmu?"

Dan saat Tsunade menanyakan hal tersebut, Neji tak bisa menahan dirinya untuk tidak panik. Dia sudah kehilangan ketenangannya. Dia tidak mengira kalau Tsunade benar benar akan menanyakannya. Mungkin mereka bisa berbohong namun dengan keadaan panik mereka sekarang serta bukti yang dimiliki Tsunade.. Mereka tak dapat mengelak. Neji menoleh ke arah Naruto… Ekspresi panik di wajah Neji berubah jadi ekspresi heran ketika melihat wajah Naruto yang masih tenang tenang saja.

"Ya, aku memilikinya… Dia menyebut dirinya dengan nama 'Kurama' dan dia adalah seekor Tailed Beast,"

Tsunade dan semua petinggi yang ada disana terkejut mendengarnya. Kali ini mereka benar benar terkejut mendengarnya. Ditatapnya pemuda berambut pirang itu. Seakan mereka tak percaya dengan apa yang mereka dengar. Seekor Tailed Beast yang hanya bereinkarnasi ke seseorang setiap 500 tahun sekali.. Tak disangka kalau Kerajaan Konoha dalam jaman ini akan memiliki seekor Tailed Beast.

"Kita mendapatkannya… Seorang Tailed Beast Warrior yang berbakat, bahkan dalam usianya sekarang dia sudah bisa mengendalikan sedikit kekuatan Tailed Beast," ucap pria dengan banyak perban yang disebut Danzo.

Naruto menoleh ke arah pria tua yang tampaknya bahkan lebih tua dari Jiraiya. Dan setelah menatap pria tua tersebut cukup lama, Naruto dan Neji akhirnya sadar kalau mereka mengenal pria tua itu. Jika tidak salah, mereka dulu pernah membaca sejarah Konoha dalam seratus tahun di buku yang ada di perpustakaan Hyuuga. Pria tua itu adalah rekan dari Sarutobi Hiruzen yang merupakan Kaisar Sihir Ketiga Kerajaan Konoha yang sudah meninggal.

'Jadi pria tua ini yang dipanggil Danzo..!?'

Pertanyaan yang ada di dalam kepala Naruto dan Neji nampaknya sama. Apapun itu, mereka merasa tidak menyukai pria tua dengan penuh perban itu. Terlalu banyak hal yang mencurigakan tentangnya… Itulah yang ada di pikiran kedua pemuda ini.

"Aku sudah menyadarinya sejak beberapa tahun belakangan ini ketika mendengar Kerajaan lainnya mulai mendapat orang orang yang memiliki Tailed Beast… Dan akhirnya tersisa satu Tailed Beast yang belum muncul dan kini muncul tiba tiba di hadapan kita semua…"

Kata kata Danzo barusan mengacu kepada Naruto. Tatapan mengerikan diberikan Danzo kepada Naruto. Bukan tatapan membunuh tapi lebih seperti tatapan seseorang yang memiliki pikiran yang penuh dengan ambisi. Hiashi dan Fugaku diam diam melirik tajam ke arah Danzo. Mereka tidak pernah takut dengan Danzo meskipun tingkat kekuatannya saat ini setara dengan Tsunade dan Jiraiya sekalipun tapi Fugaku dan Hiashi masih memiliki etika untuk tidak menyela ucapan Danzo. Situasi juga tidak baik karena Danzo membawa dua orang pengawalnya yang saat ini sedang berdiri di belakangnya.

"Hyuuga yang berada dalam pimpinanmu sangat hebat, Hiashi… Aku tahu bahwa Naruto adalah anak angkat dan dia memiliki bakat serta Tailed Beast. Namun Neji juga memiliki bakat luar biasa di antara anak anak seusianya bahkan jika dia serius bersama Naruto.. Dia bisa menjadi yang kedua atau ketiga di generasinya.."

"Terima kasih... Danzo-sama.."

Hiashi mengerutkan keningnya ketika Danzo memuji Naruto dan Neji. Tapi dia tetap berterima kasih meski tak suka dengan cara Danzo menatap Naruto dan Neji karena jelas sekali kalau dia memiliki ambisi setelah mengetahui kekuatan Naruto. Alasannya karena posisi Danzo dalam pemerintahan lebih tinggi darinya yang hanya salah satu pemimpin 4 Klan Utama.

"…Tapi aku juga tentu tak melupakan anakmu Fugaku.. Sasuke… Darah Uchiha yang penuh dengan ambisi… Bersama Naruto dan Neji… Mereka bertiga bisa menjadi senjata terkuat Konoha di masa depan,"

Dan setelah mengatakannya, kini giliran Fugaku yang melirik tajam ke arah Danzo.

"Hentikan, Danzo!" kata Tsunade menyela ucapan Danzo.

Naruto dan Neji langsung melirik ke arah Tsunade. Mereka semua tepatnya.. Tak hanya Naruto dan Neji namun juga seluruh pemimpin klan.

"Kita sudah tahu sekarang kalau Naruto adalah pemilik Tailed Beast namun bukan berarti dia adalah senjata.."

Ya.. Semuanya sependapat dengan Tsunade. Dari awal, memang sudah tak ada yang suka dengan Danzo yang bekerja di balik bayangan Kerajaan Konoha. Menuntaskan semuanya dari balik layar, menyelesaikan pekerjaan kotor dan lain lain.

"Dengan ini, kita akan memberikan pengawasan ketat kepada Naruto.. Tugas itu akan kuserahkan pada Kakashi sebagai pembimbing sekaligus gurunya… serta Yahiko dan Nagato sebagai seniornya.."

Dan itulah keputusan yang dibuat oleh Tsunade. Pada saat itu, Danzo hanya bisa diam setelah Tsunade membuat keputusan. Tampaknya juga tak ada yang menentang keputusan Tsunade tersebut. Hanya Danzo sendiri yang tampaknya menatap sinis ke arah Tsunade. Semua orang yang ada disana jelas menyadarinya namun tak ada yang bisa mereka perbuat.

"Kalian bisa kembali ke asrama sekarang.. Aku tahu kalian kelelahan,"

Neji dan Naruto segera membungkukkan badannya tanda terima kasih lalu setelah mengangkat kembali tubuhnya.. Naruto sempat menatap Jiraiya beberapa detik sedangkan orang yang ditatap hanya memberikan tatapan datar tak pasti kemudian memalingkan wajahnya ke bawah sambil menutup mata setelah beberapa detik menatap Naruto.

"Kami permisi, Tsunade-sama.."

.

.

.

.

.

.

Dan setelah menghadap Tsunade serta beberapa petinggi, Naruto dan Neji segera kembali ke asrama untuk melanjutkan rencana awal mereka… yaitu makan sepuasnya lalu istirahat. Selama perjalanan menuju ke asrama, mereka sudah melupakan apa yang terjadi tadi di ruangan Tsunade. Lagipula mengenai Naruto yang memiliki Tailed Beast akan dirahasiakan dari public sehingga dia dan Kurama bisa sedikit bernafas lega. Yah sepertinya dia memang menyukai keputusan Tsunade.

GRUUUUUUUKKKKK

"Aku lapar…" kata Naruto sambil mengelus elus perutnya yang kelaparan.

Tidak separah Naruto, Neji masih bisa mempertahankan sikap coolnya. Namun jika perutnya sudah berbunyi dia hanya bisa pasrah dengan wajah memerah karena malu.

GRUUUUUUUUKKKK

"Yah.. Aku juga l-lumayan lapar.."

Sesampainya mereka di depan pintu masuk asrama, mereka tak menemukan siapapun disana. Ini masih pukul 5 sore dan seharusnya murid murid yang lain belum tertidur. Mereka segera meraih ganggang pintu utama yang besar dan segera masuk ke dalam asrama. Di lobby pun juga tak mereka temukan siapa siapa. Terang… Cahaya disana terang namun tak mereka temukan satupun murid disana.

"Ada apa ini?"

Tanya Naruto bingung. Mereka berdua menoleh ke kanan dan ke kiri menyelidiki setiap bagian yang ada di lobby namun tak kunjung menemukan seorang pun.

"Apa kita langsung ke ruang makan saja? Aku sudah lapar.."

Naruto menggerutu karena kelaparan sedangkan Sang Penerus Hyuuga juga sama halnya dengan pemuda pirang itu. Mungkin ekspresinya dingin dan mencoba tenang namun dibalik itu semua, dia sudah benar benar kelaparan sama dengan Naruto.

"Kurasa itu ide yang bagus.." kata Neji dengan wajah sedikit memerah karena takut ketahuan kalau dia sedang kelaparan.

Mereka memutuskan untuk segera menuju ke ruang makan dimana mereka bisa makan sepuasnya tanpa bayar karena memang sudah hampir jadwalnya makan malam. Awalnya itu yang mereka pikiran tapi ketika sampai disana… ruangan besar itu sangat gelap dan terlihat sangat sepi.. Mungkin akan bagus jika Neji menggunakan Byakugan miliknya untuk mencari semua orang tapi masalahnya.. dengan kondisi tubuhnya sekarang… Dia bahkan tak bisa mengaktifkannya.

"Jangan harap aku akan gunakan Byakugan.."

Kata Neji ketika Naruto menatapnya dengan penuh harap dengan ekspresi seperti anak kecil berumur lima tahun.

"Aku tahu…" jawab Naruto malas.

Mereka tidak ada pilihan selain mencari tombol lampu untuk ruang makan tapi tunggu… Jika ruang makan saja tak ada siapapun… bukankah artinya Teuchi-jiisan dan Ayame-neesan tak ada disana? Hal itu baru saja terlintas di benak keduanya. Mereka menghela nafas bersamaan ketika menyadarinya.

"Apa kitu buat saja makanan sendiri dengan dapur yang tersedia?" tanya Naruto.

"Ide bagus.."

Dan begitulah keputusan mereka untuk masuk ke dalam ruang makan yang gelap dan mencari tombol lampunya….

"Dimana tombol lampunya…?"

Setelah meraba raba cukup lama di dinding akhirnya Naruto menemukan tombol lampunya… (Gak pake listrik, semuanya pake tenaga sihir yang dialirin)…

"Kejutan!"

Naruto dan Neji tersentak kaget ketika seluruh siswa sudah ada di ruang makan menyambut mereka. Dari yang mereka berdua amati, tampaknya seluruh murid dari asrama Holy Knight termasuk para senpai sedang memberi kejutan kepada mereka. Di langit langit tertulis sebuah sihir ucapan selamat kepada mereka berdua karena telah berhasil memenangkan event murid tahun pertama.

"Selamat, Neji.. Naruto..!"

Semuanya ada disana.. Hinata, Shizuka, Kiba, Shino, Nagato, Yahiko, Konan bahkan senpai serta murid murid lainnya yang satu asrama dengan mereka.

"Selamat kalian memenangkan pertandingan.." kata Yahiko selaku Ketua Asrama maju dan mengulurkan tangannya menawarkan jabatan tangan.

Naruto dan Neji masih berdiri di tempatnya mematung ketika Yahiko mengulurkan tangan sambil tersenyum. Beberapa detik kemudian, Neji dan Naruto saling menatap bingung lalu kembali menoleh ke arah Yahiko kembali.

"Berisik!"

Teriak Naruto kesal. Yahiko tersentak kaget mendengarnya karena dia berada tepat di depan Naruto dan Neji sedangkan murid murid lainnya kebingungan sekaligus terkejut.

"Eh!?"

"Niisan..!?"

Semuanya terdiam temasuk Neji yang berdiri di sebelahnya. Mereka semua menatap Naruto dengan tatapan bingung…

"Aku hanya ingin makan… Bisakah kalian minggir..?" tanya Naruto segera melangkah ke arah Teuchi-jiisan dan Ayame-neesan yang bertugas memberi makanan.

Dan sesampainya dia di hadapan Teuchi-jiisan dan Ayame.

"Teuchi-jiisan… Aku ingin ramen.."

Teuchi hanya mengangguk lalu segera menyuruh anaknya untuk mengambil pesanan Naruto. Dan setelah Naruto menerima ramen yang diinginkannya, dia membalikkan tubuhnya dan mengangkat mangkuk ramennya..

"Kita pesta!" teriak Naruto.

"Uwoooooooooo!"

Dalam sekejap suasana hening itu berganti dengan berisiknya pesta pada malam itu. Para murid segera memakan makanan yang sudah tersedia di meja makan namun tak satupun makanan yang ada di meja makan yang sesuai dengan pesanan Naruto.. Dia hanya ingin 'ramen'. Pada malam itu, mereka bernyanyi, makan sepuasnya, dan bercerita tentang pertarungan mereka. Mereka bersenang senang dan tak terpusat kepada Naruto dan Neji saja karena kedua orang itu tampaknya memang tidak ingin diganggu.

"Hei, kau coba makan ini!"

"Oi, jangan ambil makananku!"

"Ahahahahahahaha…"

"Jangan lari..!"

Sedangkan murid lainnya sibuk bersenang senang baik itu perempuan maupun laki laki, Naruto sibuk di meja pojokan sambil memakan ramennya. Dia tampak senang karena tak ada yang menganggunya bahkan dia sudah menghabiskan 5 mangkuk ramen sendirian. Mungkin dia memang benar benar kelaparan jika kasusnya sudah sampai seperti itu.

"Uhmm…"

Yahiko menoleh ke arah Naruto ketika yang lainnya sedang bersenang senang dan dia memutuskan untuk menghampiri Naruto sambil membawa sebuah botol minuman. Dia tersenyum jahat ketika menggenggam botol minuman itu sambil berjalan terus ke arah Naruto.

"Aku tahu kau memang menyenangkan, Naruto!" kata Yahiko sambil merangkul Naruto yang sedang makan.

"Bisa kau tak ganggu aku, senpai..!?" tanya Naruto malas ketika aktivitas makannya diganggu oleh Yahiko.

"Selamat, niisan karena sudah memangkan turnamen!" ucap Hinata kepada Naruto yang sedang makan.

"S-Selamat untukmu, Naruto-kun…" kata Shizuka malu malu.

Dan tak lama kemudian Nagato, Konan, Neji, Shino dan Kiba datang menghampiri mereka. Tampaknya Neji juga sudah puas dengan aktivitas makannya tadi. Namun yang jelas porsi makannya itu tak sebesar porsi makan Naruto yang bahkan sudah habis 5 mangkuk… Ah, tidak… Ini yang keenam…

"Neji-niisama.. Selamat karena sudah memenangkan pertandingan!" ucap Hinata memberikan kata selamat.

Neji tersenyum mendengarnya, dia menoleh ke arah Hinata dan Shizuka. Lalu setelah Hinata, Shizuka juga turut memberikan ucapan selamat kepada sang pewaris Hyuuga.

"Selamat, Neji-san.."

"Terima kasih, Shizuka.."

Kiba memperhatikan hal itu. Ekspresinya berubah jadi kesal secara tiba tiba setelah menyaksikan Neji mendapat banyak perhatian.

"Ah! Neji dan Naruto enak sekali… Ini tidak adil! Mereka dapat perhatian lebih! Padahal aku dan Shino kan juga sudah berjuang!" kata Kiba yang iri kepada Neji.

"Ahahahah.. Kiba, kau juga sudah berjuang dengan baik," kata Nagato.

"Nagato benar, seharusnya mungkin kau dan Shino yang lebih pantas masuk ke putaran kedua ketimbang Sasuke dan Suigetsu," tambah Konan memberikan semangat.

Kiba terlihat senang mendengarnya sedangkan Shino hanya memberikan ekspresi datar tanpa arti.

"Uwoooo! Aku bersemangat.."

"Yah, pada akhirnya meski sampai final pun kalian akan tetap kalah dariku dan Naruto," kata Neji sedikit menyombongkan dirinya.

Dan saat mereka sibuk dengan percakapan mereka, Yahiko sudah melihat keadaan. Dia diam diam merangkul Naruto lalu membisikkan sesuatu kepadanya sambil membawa botol minumannya.

"Hei, Naruto… Kau mau coba minum ini..?" tanya Yahiko menyodorkan botol minuman yang dibawanya.

Hanya sebuah botol biasa bagi Naruto. Awalnya dia tidak tahu apa isinya dan setelah ia menerima botol tersebut dari Yahiko, dia berpikir sejenak sambil melihat lihat botol yang tak ada keunikannya sama sekali.

"Air apa ini..?" tanya Naruto.

"Minum saja.. Dan itu akan membuatmu bahagia,"

"Eh!? Kau yakin, senpai?"

Yahiko mengangguk yakin dengan wajah tak bersalahnya namun dibalik itu semua… Di dalam hatinya, dia tersenyum usil ketika Naruto bersiap akan meminumnya…

"Akan kuminum!"

GLEK GLEK GLEK

Yahiko tersenyum usil melihat Naruto meminum air dari botol yang ia berikan. Dan dia sudah tahu hal berikutnya yang akan terjadi kepada Naruto…

"Ughh.. Rasanya aneh sekali…"

Yahiko memperhatikan baik baik.. Lama kelamaan Naruto seperti kehilangan kesadaran dan pandangannya mulai kabur…

"Aku… Pusing sekali…"

Dan senyum Yahiko semakin lebar ketika dia menyadari kalau rencana usilnya berhasil…

'Aku berhasil… Dia mabuk!'

TBC

.

.

.

Aku update! Penasaran sama lanjutannya? Maaf klo cuma sekitaran 4000 word doang.. Dua chap ini cuma aku buat sekitar segitu karena belum masuk arc keduanya. Dan aku udah mulai pake penanggalan sesuai saran dari salah satu reader dulu.. Maaf klo telat update, aku lagi seneng senengnya baca kelanjutan anime SKET Dance di manganya sampe tamat (sumpah keren abis.. kisah tokohnya sedih gila… tapi banyak lucunya di setiap eps di animenya atau chap di manganya… kesan persahabatannya juga oke banget… ninggalin perasaan spesial pokoknya setelah nonton anime dan baca manganya).. Ada yang suka SKET Dance disini? Tentang klub membantu sesama kayak Oregairu cuma bedanya ini school comedy sedangkan Oregairu itu ceritanya lebih serius.. Banyak yang bilang juga klo SKET Dance itu Gintama nya versi anak sekolahan wkwkwkwk

Yah aku berharap ada fic yang kayak Oregairu atau SKET Dance… Ada gak ya fic kayak dua anime yang kusebutin..?

Yah Cuma itu doang.. jadwal update selanjutnya adalah fic ku yang satunya.. Dan untuk lanjutannya ini seperti biasa 3-5 hari an lah.. Maaf klo ada typo! Klo ada silahkan bilang..

Jangan lupa tinggalkan review!