Tales Of Darkness And Light

By : Razux

.

.

.

.

Disclaimer : Gakuen alice belong to Higuchi Tachibana


Chapter XXIV

Yoichi duduk di dalam taman istana Issengard sambil menatap langit biru di atasnya dengan sebatang pedang kayu di tangannya. Dia sama sekali tidak bersemangat. Natsume dan Mikan telah meninggalkan ibukota Relix ini menuju kota Lixir untuk mencari masa lalu Mikan bersama Ruka, Hotaru, Kazumi dan Sakurano.

Yoichi sebenarnya ingin ikut bersama mereka, tapi Natsume menyuruhnya menunggu mereka di kota ini. Dia sama sekali tidak menolak ataupun bertanya sedikitpun. Dia akan melakukan apapun yang diperintahkan Natsume padanya, sebab, dia bisa hidup sekarang adalah berkat Natsume.

Yoichi bangkit dari duduknya dan mulai berlatih jurus-jurus pedang yang diajarkan Natsume padanya, namun beberapa menit kemudian dia menurunkan tangannya dan menghela napas. Dia sama sekali tidak bisa konsentrasi, dia merindukan Natsume dan Mikan.

Merindukan Natsume baginya adalah sesuatu yang wajar, namun merindukan Mikan, adalah sesuatu yang baru baginya. Dia sama sekali tidak mengerti kenapa dia juga merindukan Mikan. Apa yang dikatakan Natsume padanya dulu memang benar, Mikan adalah gadis teridiot yang ada di dunia ini. Namun, dia juga merupakan gadis tercantik dan terhangat yang dikenalnya di dunia ini. Senyum dan tawanya bisa membuat siapapun yang melihatnya merasa nyaman, dia sangat memesona di mata siapapun. Sepertinya dia mengerti sekarang kenapa Natsume mati-matian mencari Mikan saat mereka terpisah dulu. Mikan terlalu penting bagi Natsume.

Yoichi hanya bisa berpikir, apakah Mikan benar-benar merupakan putri yang hilang seperti gosip yang sedang ramai dibincangkan semua penghuni istana ini? Jika dia benar-benar merupakan putri yang hilang itu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Meski Yoichi masih kecil, dia bisa melihat dengan jelas hubungan yang terjalin antara Natsume dan Mikan. Natsume bukan manusia, dia yakin itu, tapi bagaimana dengan Mikan. Apakah mereka bisa bersama?

"Yoichi.." Panggil seseorang tiba-tiba.

Yoichi segera mengangkat wajahnya menatap sumber suara tersebut dengan wajahnya yang tanpa ekspresi. Dan dia melihat Tsubasa berdiri menatapnya dnegan wajah penuh keterkejutan dan Misaki yang juga penuh kebingungan menatap Tsubasa.

"Kau kenal anak ini Tsubasa?" tanya Misaki pelan.

"Iya. Anak ini adalah anak yang diselamatkan Natsume dulu," jawab Tsubasa "Yoichi, di mana Natsume, Mikan dan yang lainnya?"

Yoichi sama sekali tidak mempedulikan pertanyaan Tsubasa, dia membuang wajahnya.

"Wuah… Sikap anak itu mirip sekali dengan Natsume." Ujar Misaki sambil manatap Yoichi dengan penuh kagum.

Tsubasa tidak mempedulikan ucapan Misaki itu, dia berjalan mendekati Yoichi.

"Yoichi, di mana Natsume?" tanya Tsubasa lagi sambil tersenyum.

Yoichi sebenarnya sama sekali tidak mau menjawab, tapi akhirnya dia memutuskan juga untuk menjawabnya "Kak Natsume, Mikan dan yang lainnya pergi ke kota Lixir, Bayangan."

Mendengar jawaban Yoichi, mata Tsubasa dan Misaki terbelalak karena terkejut "APA!"


Tidak ada seorangpun yang bersuara dalam kereta kuda yang sedang melaju dengan cepat menuju kota Lixir.

Kazumi dan Sakurano duduk diam menatap Mikan yang tertidur sambil tersenyum dengan kepalanya di pangkuan kaki Natsume. Ruka yang sama sekali tidak mau melihat kedekatan Natsume dan Mikan memilih menatap keluar jendela, Hotaru hanya menutup matanya dan mencoba untuk tertidur walau terus saja gagal karena goncangan kereta kuda ini. Sedangkan Natsume yang matanya tetutup kain menundukkan wajahnya menatap Mikan dan membelai rambut panjangnya dengan pelan tanpa mempedulikan mereka yang ada di depannya.

Pemandangan kedekatan Nastume dan Mikan sama sekali tidak asing lagi bagi mereka semua, Kazumi dan Sakurano bisa melihat dengan jelas adanya suatu hubungan tidak terputuskan yang terjalin di antara mereka berdua.

Kazumi dan Sakurano masih ingat dengan kejadian pada pagi tiga hari yang lalu. Pada pagi hari itu, mereka semua dikejutkan oleh para dayang yang tidak menemukan Mikan di kamarnya.

Kazumi, Sakurano, Ruka, Hotaru, Nogi dan Tsubaki berlari ke arah kamar Natsume untuk memastikan apakah Natsume masih ada setelah mereka mendengar laporan dari para dayang istana Issengard yang tidak menemukan Mikan di kamarnya.

Mereka semua berpikir Natsume dan Mikan telah meninggalkan istana ini. Ruka dan Hotaru tahu, Natsume telah bermaksud untuk berpisaha dengan mereka sejak dulu-dulu sekali, hanya saja keadaan tidak mengijinkan. Sedangkan Kazumi, Sakurano, Nogi dan Tsubaki berpikir, Natsume ingin membawa Mikan pergi dari istana ini karena dia tidak ingin menyerahkan Mikan yang kemungkinan besar adalah Putri dari kerajaan Edoras yang hilang kepada mereka.

Namun, saat mereka memasuki kamar Natsume, mata mereka terbelalak karena terkejut. Di atas tempat tidur kamar ini, Mikan tertidur dengan sebuah senyum bahagia di wajahnya. Dia membenamkan kepalaya pada dada Natsume. Sedangkan Natsume yang matanya masih tertutup kain seperti biasanya, meletakkan dagunya tepat di atas kepala Mikan, kedua tangannya memeluk Mikan dengan erat seakan ingin melindunginya dari apapun yang ada di dunia ini.

Pemandangan di depan mereka itu benar-benar membuat mereka tidak tahu harus berbuat atau mengatakan apa. Namun, pemandangan di depan mereka itu terlihat begitu damai, tenang bagaikan sebuah lukisan.

"Tundalah keberangkatan kita sekitar dua jam lagi. Mikan masih tertidur, aku tidak mau membangunkannya, dia masih perlu istirahat." Ujar Natsume tiba-tiba mengejutkan mereka semua.

Ruka, Hotaru, Kazumi, Sakurano, Nogi dan Tsubaki sama sekali tidak menyangka Natsume tidak tertidur. Dengan matanya yang tertutup kain, tidak ada seorangpun yang tahu dia sedang tertidur atau tidak.

"Kalian tidak perlu takut, aku tidak akan membawa Mikan pergi dari sini tanpa kalian ketahui." Tambah Natsume lagi sambil menolehkan kepalanya menatap mereka.

Ruka, Hotaru, Kazumi, Sakurano, Nogi dan Tsubaki kembali terkejut, mereka sama sekali tidak menyangka akan mendengar ucapan itu dari Natsume.

Mikan yang berada dalam pelukan Natsume tiba-tiba bergerak seakan menyadari gerakan Natsume, dia membenamkan kepalanya semakin dalam pada dada Natsume.

"Natsume..." Gumam Mikan pelan.

"Karena itu, keluarlah. Tinggalkan kami berdua..." perintah Natsume pelan sambil mempererat pelukannya pada badan Mikan.

Ucapan terakhir Natsume itu, tidak tahu mengapa, terdengar sangat sedih di telinga Ruka, Hotaru, Kazumi, Sakurano, Nogi dan Tsubaki. Dari pada perintah, ucapan itu lebih terdengar seperti sebuah permohonan, permohonan yang sangat menyesakkan hati.

"Natsume…" Gumam Mikan yang sedang tertidur sambil tersenyum lebar.

Natsume tersenyum kecil mendengar Mikan memanggilnya dalam tidurnya. Dia mengangkat tangannya yang dari tadi mengelus rambutnya menyentuh ke dua pipinya.

Mikan yang merasakan kehangatan tangan Natsume tiba-tiba mengangkat tangannya menyentuh tangan Natsume dan tertawa "Natsume…"

Natsume membiarkan tangan Mikan yang menyentuh tangannya dan terus mengelus pipinya. Dia ingin sekali waktu seperti ini berhenti, walau dia tahu, itu mustahil.

Natsume setuju untuk ikut ke kota Lixir karena dia tahu, kota itu adalah kota terdekat untuk mencapai kerajaan Theoden sekarang. Setelah urusannya dan Mikan di kota itu selesai dia akan segera membawa Mikan meninggalkan kerajaan Issengard. Mungkin Ruka, Hotaru, Kazumi dan Sakurano akan keberatan, tapi dia sudah memutuskan dalam hatinya, dia dan Mikan akan segera meninggalkan mereka semua tidak peduli apapun yang terjadi.

Natsume merasa sedikit bersalah pada Yoichi yang ditingalinya di kota Relix bersama Yuu. Namun, dia tahu, dia tidak mungkin bisa membawa Yoichi bersama mereka lagi, terlalu bahaya baginya untuk terus bersama mereka. Dia akan menitipkan Yoichi pada Ruka. Ruka pasti bisa menjaganya dengan baik.

Ya. Benar, Natsume merasa inilah keputusan terbaik yang bisa ambilnya sekarang. Tapi, kenapa di dalam hatinya dia sama sekali tidak bisa merasa tenang, semenjak dia memutuskan untuk pergi ke kota Lixir, dia terus merasakan tidak tenang dan ketakutan. Dia seakan merasa dia akan kehilangan Mikan tidak lama lagi.


"Selamat datang Yang Mulia Raja Kazumi, Pangeran Ruka, Pangeran Sakurano, Putri Hotaru dan.. Siapa gadis cantik dan pemuda yang matanya tertutup kain di belakang anda semua itu? Itukah gadis yang sedang ramai digosipkan itu?" tanya seorang pria berumur sekitar dua puluh sembilan tahun dengan berambut pirang dan bermata violet penuh senyum.

Mikan hanya bisa menatap pria cantik yang ada di depannya dengan penuh kebingungan. Dari pada dikatakan sebagai pria, dia lebih mirip seperti wanita, apalagi pakaiannya yang penuh rendah.

"Narumi. Kami datang kemari bukan untuk bermain. Apakah kau sudah memanggil Ioran kemari?" tanya Kazumi tenang tidak mempedulikan sikap Narumi.

Narumi, sang walikota Lixir tersenyum begitu mendengar ucapan Kazumi itu "Aku tahu. Ioran mungkin akan tiba sebentar lagi."

"Baguslah kalau begitu." Balas Sakurano begitu mendengar jawaban Narumi.

"Yang mulia Raja Kazumi, Pangeran dan Putri semuanya. Mungkin aku terkesan tidak sopan. Tapi, lebih baik kalian segera meninggalkan kota ini setelah mendapatkan jawaban dari Ioran," ujar Narumi tiba-tiba "Kota ini tidak aman lagi, seratus ribu prajurit Theoden yang bergerak kemari, dipredeksi akan tiba dua hari lagi. Prajurit di kota ini hanya separuh jika dibandingkan dengan mereka dan bantuan dari kota Elvix baru akan tiba besok pagi. Ka-"

"Kau menyuruhku meninggalkan kota ini dan melarikan diri." Potong Ruka tiba-tiba dengan tajam. Dia sama sekali tidak menyukai ucapan Narumi yang memintanya segera meninggalkan kota ini tanpa mempedulikan semua penghuni kota ini seperti seorang pengecut.

"Aku tidak bermaksud seperti itu, Pangeran Ruka. Anda harus ingat. Kami boleh mati, tapi anda tidak boleh mati. Jika kami mati, masih ada prajurit yang bisa menggantikan kami, tapi jika kau yang merupakan raja masa depan kami mati, siapa lagi yang akan menggantikan anda."

Ruka terdiam begitu mendengar penjelasan Narumi itu.

"Ruka. Aku mengijinkanmu ikut kemari karena kau sudah berjanji padaku, kau akan segera pulang ke kota Relix setelah mendapatkan jawabannya." Ujar Kazumi tiba-tiba sambil menatap Ruka.

Ruka benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi. Ucapan Kazumi barusan adalah keputusan mutlak yang tidak terbantahkan baginya.

"Dari arah mana prajurit itu akan datang?" tanya Natsume tiba-tiba.

Semua yang ada di sana segera membalikkan wajah mereka menatap Natsume dengan penuh keheranan.

"Ehmm… Menurut informasi yang aku dapatakan mereka menuju kemari dari arah utara. Memangnya ada apa?" tanya Narumi dengan bingung.

"Hn." Balas Natsume dan menolehkan wajahnya ke arah lain.

"Natsume, ada apa?" tanya Mikan yang ada di samping Natsume sambil menatapnya.

Natsume sama sekali tidak menjawab pertanyaan Mikan itu, dia hanya diam membisu hingga akhirnya Mikan hanya bisa menghela napas dan membiarkan pertanyaan itu tidak terjawab.

Natsume sama sekali tidak mungkin menjawab pertanyaan itu. Alasan dia bertanya seperti itu adalah untuk menentukan rute yang harus diambilnya dan Mikan nanti untuk menuju kerajaan Theoden. Semua yang ada di ruangan ini pasti akan menghentikan rencananya itu jika mereka tahu.

Hotaru menatap Natsume dengan tajam. Dia tahu, Natsume pasti sedang merencanakkan sesuatu. Natsume bukanlah orang yang akan bertanya pada orang lain tanpa sebab, walau dia sendiri juga sama sekali tidak tahu alasannya bertanya seperti itu.

Ruka, Kazumi dan Sakurano juga tidak mengatakan apa-apa, tapi mereka tahu Natsume sedang merencanakan sesuatu.

Suasana sekeliling mereka tiba-tiba menjadi sangat sunyi dan tenang. Tidak ada seorangpun yang mengucapkan sepatah katapun lagi, hingga Narumi mengakhiri kesunyian yang ada.

"Kurasa kalian lebih baik beristirahat dulu, kalian pasti lelah setelah menempuh perjalanan sejauh ini. Aku akan segera mempertemukan kalian semua dengan Ioran jika dia sudah tiba."

"Baguslah kalau kau tahu. Cepat antarkan aku ke kamarku dan siapkan makan siang untukku." Perintah Hotaru tiba-tiba dengan wajah tanpa ekspresi.

Mikan dan Ruka hanya bisa menggeleng kepala dengan sikap Hotaru yang cuek dan dingin itu. Sedangkan Natsume, Kazumi dan Sakurano tetap saja tenang tidak mempedulikan apapun.

"Baik. Hamba mengerti, Putri Hotaru. Hamba telah menyiapkan segalanya," senyum Narumi gembira dan menepuk tangannya memanggil dua orang pelayannya "Antarkan Raja Kazumi, Pangeran Ruka, Pangeran Sakurano, Putri Hotaru dan temannnya ke kamar mereka."

Kedua pelayan yang diperintahkan Narumi segera memberi hormat pada mereka dan menuntun mereka ke kamar yang telah disediakan untuk mereka. Namun, Ruka, Kazumi dan Sakurano memilih untuk tinggal di ruang tamu ini bersama Narumi.

Mikan yang sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi hanya bisa mengikuti Natsume dan Hotaru keluar dari ruang tamu itu tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi.

Saat mereka melewati koridor taman yang ada di dalam kediaman walikota Lixir yang megah ini, mata Mikan langsung terbelalak karena terpesona melihat betapa indahnya taman di depan matanya sekarang.

Taman ini penuh dengan bunga-bunga yang tertata dengan indah dan elegan. Sebuah air mancur besar terletak di tengah-tengah taman ini dan terdapat beberapa patung malaikat berwarna putih yang mengelilingnya.

"Cantik sekali!" seru Mikan dan berlari memasuki taman itu.

Natsume yang melihat Mikan berlari masuk ke dalam taman itu hanya berjalan mengikutinya tanpa mengatakan sepatah katapun.

"Hotaru, lihat! Taman ini cantik sekali ya?" Senyum Mikan gembira.

Hotaru sama sekali tidak menolehkan kepalanya sedikitpun pada Mikan. Taman di kediaman walikota Lixir ini memang terkenal indah. Namun, setiap kali dia teringat bahwa yang menata dan merawat bunga-bunga ini dengan penuh cinta adalah walikota Lixir ini alias Narumi yang seperti gay itu, dia akan merasa merinding.

"Antarkan aku ke kamarku sekarang juga. Tinggalkan saja gadis bodoh dan pemuda itu." Perintah Hotaru dengan wajah tanpa ekspresi.

Kedua pelayan di depan Hotaru itu tersenyum sambil mengangguk kepala mereka dan kembali menuntun Hotaru ke kamarnya.

"HOTARU!" teriak Mikan cemberut saat melihat Hotaru berjalan menjauh.

Hotaru sama sekali tidak mempedulikan Mikan. Dia teralu lelah dan lapar. Dia lebih memilih berisirahat dan makan dari pada menikmati keindahan taman buatan gay yang seratus persen tidak dapat mengenyangkan perutnya.

Saat Hotaru telah menghilang dari pandangan Mikan, dia segera menolehkan wajahnya menatap Natsume.

"Natsume, taman ini indah'kan?" tanya Mikan sambil tersenyum.

"Hn." Balas Natsume cuek.

Senyum Mikan menghilang dan digantikan dengan ekspresi cemberut. Dia mengangkat tangan kanannya untuk membuka kain yang menutup mata Natsume, namun sebelum dia berhasil menyentuh kain itu, Natsume telah menghentikannya dengan menangkap pergelangan tangannya dengan erat.

"N-Natsume?" panggil Mikan terbata-bata karena terkejut. Selama ini, meski Natsume selalu menutup matanya dengan kain, dia sama sekali tidak pernah menghentikannya untuk membuka kain tersebut.

"Jangan buka kain yang menutup mataku. Aku tidak mau orang menatapku dengan pandangan aneh karena warna mataku yang menyeramkan ini." Ujar Natsume tiba-tiba sambil menempelkan telapak tangan Mikan pada pipinya.

Mikan tersenyum mendengar ucapan Natsume itu. Dengan pelan dia mengangkat tangan kirinya menyentuh pipi Natsume, sehingga kedua telapak tangannya berada di pipi Natsume sekarang "Warna matamu tidak menyeramkan Natsume. Warna matamu sangat indah. Aku suka sekali dengan warna mata merahmu itu."

Mikan sama sekali tidak pernah merasa mata Natsume itu menyeramkan. Dia malah merasa warna mata merah Natsume itu sangat indah dan memesona. Dia sanggup menatap mata itu seharian. Dia sangat menyukai mata itu, terutama saat mata itu menatapnya dengan penuh kehangatan dan kelembutan.

Natsume tersenyum kecil mendengar ucapan Mikan itu. Dia sebenarnya sama sekali tidak mengerti kenapa Mikan menyukai warna matanya yang bahkan sangat dibencinya.

Melihat senyum Natsume, senyum di wajah Mikan semakin melebar. Dia tahu sekali, mata merah yang sedang tertutup kain itu sedang menatapnya dengan penuh kelembutan. Pandangan mata yang paling disukainya.

Natsume mengangkat kanannya dan menyentuh tangan kiri Mikan. Dia menekan kedua telapak tangan Mikan yang ada di pipinya agak kuat untuk merasakan kehangatan tangan Mikan lebih banyak lagi "Di dunia ini hanya kau seorang saja yang mempunyai pikiran seperti itu."


Seorang pria berusia sekitar tiga puluh delapan tahun dengan rambut berwarna hitam dan mata berwarna coklat gelap berjalan masuk ke dalam kediaman walikota Lixir dengan pelan sambil dituntun oleh seorang pelayan menuju ruang tamu.

Dia sama sekali tidak tahu alasan dia dipanggil kemari. Dia tidak pernah berhubungan dengan bangsawan lagi semenjak kejadian tujuh belas tahun yang lalu. Namun, kemarin tiba-tiba saja, beberapa orang prajurit datang ke rumahnya dan memintanya untuk datang ke kediaman walikota hari ini.

Dia menghela napas "Apa lagi yang akan aku hadapi.."

Dia bisa melihat prajurit-prajurit yang berwajah penuh tekad dan persiapan menghadapi kematian berlalu lalang di dalam kediaman ini.

Kesedihan menghampirinya. Ternyata apa yang dilakukan mereka tujuh belas tahun yang lalu untuk menghentikan perang yang akan berkecamuk tidak bertahan lama.

Raja Kerajaan Theoden tetap menyerang kerajaan lainnya walau rencananya dulu telah gagal. Pengorbanan dari orang yang paling dikasihinya ternyata tidak cukup untuk menghentikan ambisi gila Raja Theoden.

"Ioran, akhirnya kau tiba juga." Tawa Narumi begitu melihat pria itu.

Ioran membalas senyum Narumi dan segera memberi hormat saat melihat Kazumi, Ruka dan Sakurano.

"Selamat siang yang mulia raja Kazumi, Pangeran Sakurano dan Pangeran Ruka."

Kazumi mengangguk kepalanya dan berjalan ke depan Ioran.

"Apakah ada yang ingin anda tanyakan padaku, Yang mulia?" tanya Ioran tenang.

Kazumi mengangguk kepalanya "Ya. Ada yang ingin aku pastikan darimu."

"Aku akan menjawabnya dengan senang hati jika aku tahu, Yang mulia." Senyum Ioran.

"Baguslah kalau begitu," balas Kazumi dan menarik napas "Ioran, apakah Izumi dan Yuka mempunyai anak?"

Mata Ioran terbelalak mendengar pertanyaan yang tersebut. Dia sama sekali tidak mengerti maksud pertanyaan Kazumi itu.

"A-Apa maksudmu, Yang mulia? " tanyanya bingung.

"Aku bertemu dengan seorang gadis berusia sekitar enam belas tahun yang luar biasa mirip dengan mereka berdua." Jawab Kazumi tenang.

"Apa?"

"Kaulah yang menyampaikan berita meninggalnya Izumi dan menghilangnya Yuka padaku. Karena itu aku ingin bertanya padamu, apakah mereka memiliki seorang putri?"

Ioran benar-benar sangat terkejut mendengar pertanyaan Kazumi itu.

Kazumi dan Yuka mempunyai anak? Seorang putri? Dia sama sekali tidak pernah mendengar informasi seperti itu.

"Kak Ioran.." Panggil Sakurano pelan melihat reaksi Ioran. Sedangkan Ruka dan Narumi yang ada di sampingnya hanya menatap Ioran tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Ioran tiba-tiba menghela napas "A-Aku tidak tahu."

"Apa maksudmu?" Tanya Kazumi bingung.

"Aku menyampaikan berita tentang kematian Kazumi dan meghilangnya Yuka pada kalian karena Shiki memintaku untuk melakukan itu."

"Shiki?" Seru Kazumi, Sakurano dan Narumi binggung.

"Aku tidak pernah bertemu atau mendengar berita mengenai Izumi maupun Yuka semenjak mereka menikah. Satu-satunya kabar yang ku terima hanya berita meninggalnya Izumi dan menghilangnya Yuka dari Shiki melalui surat." Jelas Ioran sedih.

Mendengar penjelasan Ioran. Kazumi, Sakurano dan Ruka tahu. Ioran sama sekali tidak memiliki jawaban dari pertanyaan mereka. Harapan mereka sekarang hanya ada satu. Satu-satunya yang mungkin bisa menjawab pertanyaan itu sekarang hanyalah Shiki.

"Apakah kau tahu, di mana Shiki berada sekarang?" tanya Kazumi lagi.

"Aku tidak tahu. Surat itu adalah komunikasiku yang terakhir dengannya selama ini."

Kazumi dan yang lainnya sama sekali tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Mereka sama sekali tidak tahu Shiki berada di mana dan bagaimana mencarinya dalam keadaan sekarang ini.

"Y-Yang mulia, bisakah anda mempertemukan aku dengan gadis yang kau maksud itu?" Ujar Ioran tiba-tiba.

Mendengar ucapan Ioran itu, Kazumi mengangguk kepalanya. Dia merasa mempertemukan Mikan dan Ioran adalah sesuatu yang seharusnya dilakukannya.

"Baiklah. Ayo, ikuti aku, ku dengar Mikan-chan dan Natsume-kun ada di taman." Senyum Narumi dan menuntun mereka.

Tidak ada seorangpun yang mengucapkan sepatah katapun karena mereka sedang tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.

Saat mereka sampai di dalam taman itu. Mereka bisa melihat Mikan sedang duduk di samping air mancul sambil tersenyum dengan jelas. Sedangkan wajah Natsume yang berdiri di depannya sama sekali tidak terlihat karena membelakangi mereka.

Ioran sangat terkejut melihat wajah dan senyum Mikan. Dia kenal baik dengan wajah dan senyum itu. Itu adalah wajah dan senyum dari kedua sahabatnya.

Namun, saat Natsume membalikkan wajahnya menatap mereka. Ioran merasa dunia bagaikan terhenti.

Meski wajah Natsume tidak terlihat jelas karena kain putih yang menutup matanya. Ioran kenal wajah itu dengan baik. Rambut hitam itu, hidung yang mancung itu, bibir yang tipis dan kulit putih itu.

Itu adalah wajah dari orang yang paling dikasihinya. Wajah dari orang yang paling dicintainya yang telah mengorbankan nyawanya demi menjaga kestabilan dunia ini tujuh belas tahun yang lalu.

"K-Kaoru..."


"Kita akan mulai menyerang kota Lixir sebentar lagi. Persiapkan diri kalian semua." Perintah seorang pria berkacamata berusia sekitar tiga puluh delapan tahun berambut hitam sambil tersenyum menyeringai. Matanya biru tuanya menatap prajurit-prajurit yang ada di depnnya dengan penuh kegembiraan.

"Baik, jenderal Mihara." Balas semua prajuritnya.

Mihara membalikkan wajahnya menatap kota Lixir dan langit gelap di atasnya. Senyum di wajahnya semakin melebar.

Langit gelap ini tidak lama lagi akan berubah warna menjadi merah. Teriakkan dan tanggisan akan terdengar di mana-mana dalam kota yang tenang dan damai itu tidak lama lagi.

Tujuh pulu lima ribu prajuritnya sebenarnya telah tiba di depan kota ini pada siang hari. Namun, mereka bersembunyi di dalam hutan di samping kota Lixir dan menunggu malam tiba.

Prajurit yang ada di kota Lixir itu pasti tidak akan bisa menghadapi serangan mereka yang tiba-tiba ini.

Dia tahu, Narumi, walikota Lixir dan semua yang ada di kota itu berpikir mereka baru akan tiba di kota ini dua hari lagi. Mereka terlalu bodoh, dia sengaja menyebarkan informasi palsu mengenai ketibaannya dan prajuritnya. Dan mereka dengan mudah mempercayai informasi palsu itu.

Dalam perang, yang menentukan kemenangan bukanlah hanya jumlah pasukan dan kekuatan pasukan, tapi taktik dan informasi yang benar dan akurat.

Mihara sama sekali tidak mau menunggu tiga hari lagi untuk menyerang kota Lixir saat dua puluh lima ribu prajuritnya yang membawa meriam sihir itu tiba. Meriam sihir yang besar dan berat itu sangat memperlambat gerakan pasukannya. Dan juga dia sudah yakin sekali, dia dapat menaklukkan kota Lixir ini tanpa meriam sihir itu. Dia mengiginkan tantangan. Kota Lixir pasti akan langsung jatuh jika dia menggunakan meriam sihir. Dan itu sama sekali tidak menarik baginya.

"Jenderal, semua pasukan sudah siap." Ujar salah satu orang prajurit sambil memberi hormat pada Mihara.

Mihara tertawa terbahak-bahak dan tanpa membuang waktu lagi, dia mencabut pedang di pinggangnya dan mengarahkannya pada kota Lixir.

"Serang."


Natsume hanya bisa mendonggakkan kepalanya menatap langit malam dari berandan kamarnya.

Pikirannya masih penuh dengan kejadian tadi siang.

"K-Kaoru.." Ujar Ioran terbata-bata karena terkejut saat melihat Natsume.

Mendengar ucapan Ioran itu. Kazumi dan Sakurano sangat terkejut, mereka segera menolehkan wajah mereka menatap Natsume dengan mata terbelalak. sedangkan Mikan, Ruka dan Narumi yang sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi hanya bisa menatap Natsume dengan penuh kebingungan.

"Tidak mungkin…" Ujar Ioran lagi dan berjalan mendekati Natsume.

Natsume sama sekali tidak bergerak sedikitpun. Dia benar-benar sangat terkejut mendengar nama itu di sini. Dia sama sekali tidak pernah menyangka akan ada yang mengenal wanita itu di sini.

Ioran yang berjalan mendekati Natsume segera mengangkat tangannya untuk menarik lepas kain yang menutup mata Natsume. Namun, sebelum dia berhasil melakukan itu, Natsume telah menepis tangannya.

"Jangan sentuh aku." Ujar Natsume dingin.

Mendengar suara Natsume. Ioran segera tersadar bahwa yang ada di depannya sekarang sama sekali bukan Kaoru. Dia menatap Natsume dengan penuh kebingungan.

"S-Siapa kau?" tanya Ioran pelan.

Natsume sama sekali tidak menjawab, dia hanya diam membisu.

Kazumi dan Sakurano yang tersadar dari perasaan terkejutnya segera berjalan mendekati Natsume dan Ioran. Mereka berdua menatap Natsume dengan sesakma, dan akhirnya mereka tahu, kenapa Natsume terasa tidak asing bagi mereka. Wajah Natsume mirip sekali dengan wajah Kaoru, penyihir istana Edoras sebelumnya yang telah meninggal tujuh belas tahun yang lalu.

"Siapa kau sebenarnya, Natsume? Apa hubunganmu dengan Kaoru?" tanya Kazumi pelan.

Natsume tetap dia membisu. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dia telah kembali salah mengambil keputusan.

"Natsume.." Panggil seseorang tiba-tiba.

Natsume sama sekali tidak menolehkan wajahnya sedikitpun ke belakang. Namun, dia tahu sekali siapa yang datang itu. Mikan.

"Natsume…" Panggil Mikan lagi sambil berjalan mendekati Natsume dan berdiri di depannya.

Melihat Natsume yang tetap dia membisu dan ta bergerak. Mikan mengangat kedua tangannya memeluk Natsume dengan erat dan membenamkan wajahnya pada dada Natsume.

"Ada apa denganmu, Natsume? Apa yang terjadi?" tanya Mikan pelan

Natsume tersenyum kecil dan membalas pelukan Mikan "Aku tidak apa-apa."

"Kau bohong, Natsume. Aku tahu, ada sesuatu yang menganggumu bukan?" tanya Mikan dengan wajah cemberut sambil menjauhkan wajahnya dari dada Natsume dan menatapnya.

"Aku benar-benar tidak apa-apa, idiot." Balas Natsume dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya dan mengangkat tangan kanannya menyentuh pipi Mikan.

Wajah Mikan memerah begitu melihat senyum dan merasakan kehangatan tangan Natsume di pipinya. Dia sama sekali tidak tahu mengapa, tapi dia bisa merasakan bahwa belakangan ini Natsume menjadi sangat sering memeluk atau menyentuhnya. Tidak peduli saat mereka hanya berdua saja ataupun saat mereka di hadapan orang lain.

"Tersenyumlah, idiot. Wajahmu jelek sekali jika terus seperti ini." tambah Natsume pelan.

Senyum lebar mengembang di wajah Mikan dan tanpa membuang waktu lagi, dia kembali membenamkan wajahnya pada dada Natsume.

Mikan menyukai sikap Natsume yang seperti ini. Dia sangat menyukai senyum, kehangatan badan dan baunya yang khas saat dipeluknya. Pelukkan Natsume benar-benar membuatnya merasa sangat aman dan damai.

Natsume menurunkan tangan kanannya dan kembali memeluk Mikan dengan erat. Dia sama sekali tidak tahu mengapa, dia sama sekali tidak bisa mengendalikan dirinya untuk menyentuh Mikan saat dia berada di sampingnya walaupun itu saat mereka berada di depan banyak orang.

Natsume terus memeluk dan menyentuh Mikan karena dia ingin memastikan bahwa Mikan yang ada di sampingnya itu benar-benar nyata sebab di dalam lubuk hatinya yang terdalam, dia bisa merasakan suatu firasat. Dan firasat itu benar-benar membuatnya sangat ketakutan. 6irasat itu mengatakan dia akan segera terpisah dari Mikan.

Natsume sudah mulai merasakan firasat itu semenjak dia kehilangan dirinya saat melawan perampok di gunung Ethin dan firasat itu semakin lama semakin menguat.

Dia akan segera kehilangan Mikan. Namun, dia tidak mau itu terjadi, dia tidak mau terpisahkan dari Mikan lagi.

"Natsume… Kaoru… Apakah kau mengenal wanita itu?" tanya Mikan tiba-tiba dengan pelan.

"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Natsume kembali.

"Karena aku bisa merasakannya, kau sebenarnya sangat terkejut saat mendengar nama itu'kan?"

Natsume terdiam mendengar ucapan Mikan itu.

Mikan kembali mengangkat wajahnya menatap Natsume "Natsume.. Siapa sebenarnya kamu? Dan siapa sebenarnya aku?"

Natsume benar-benar sangat terkejut mendengar pertanyaan Mikan itu. Dia sama sekali tidak pernah menyangka Mikan akan bertanya seperti ini padanya. Namun, ekspresi terkejutnya segera berubah menjadi ekspresi penuh kesedihan. Pertanyaan ini adalah satu-satunya pertanyaan yang tidak ingin didengarnya dari mulut Mikan, sebab jawaban dari pertanyaan ini adalah sesuatu yang paling ditakutinya bila diketahui Mikan.

Mikan bisa perubahan sikap Natsume, dia bisa merasakan kesedihan Natsume dengan jelas walau dia tidak bisa melihat matanya yang masih tertutup kain.

"Apakah kau ingin mengetahui jawabannya.." Ujar Natsume pelan.

Ketakutan tiba-tiba menyerang hati Mikan saat dia mendengar ucapan Natsume itu. Dia segera menggeleng kepalanya dan kembali memeluk Natsume dengan erat. Dia tidak bertanya apapun lagi, sebab dalam lubuk hatinya, dia tiba-tiba merasakan bahwa dia lebih baik tidak pernah mengetahui jawaban tersebut.

Natsume tidak mengatakan sepatah katapun lagi, dia membalas pelukan Mikan seerat-eratnya.

Tiba-tiba pintu kamar Natsume ini di ketuk dan terbuka. Natsume bisa merasakan Kazumi, Ioran, Sakurano, Ruka dan Hotaru berjalan masuk ke dalam, tapi dia tetap diam membisu.

Kazumi, Ioran, Sakurano dan Ruka sangat terkejut saat melihat Mikan yang sedang berpelukkan dengan Natsume dalam kamar ini. Namun, mereka sama sekali tidak mengatakan sepatah katapun. Sedangkan Hotaru tetap saja cuek, sebab dia sudah tahu dengan benar betapa dekatnya hubungan Natsume dan Mikan.

"Ada perlu apa kalian mencariku?" tanya Natsume dingin sambil menatap mereka dengan tajam.

Mikan yang ada dalam pelukan Natsume sama sekali tidak mengatakan apapun, dia hanya menatap mereka semua dengan penuh kebingungan.

"Kami kemari untuk bertanya lagi padamu. Siapa kau sebenarnya, Natsume? Dan Mikan adalah anak dari kakakku dan Kak Yuka'kan?" tanya Sakurano tajam.

Kazumi dan Sakurano sebenarnya masih sangat bingung dengan jati diri Mikan. Tapi, keyakinannya bahwa Mikan adalah anak Izumi dan Yuka di dalam hati mereka semakin memebesar.

"Kenapa anda bisa berkata seperti itu?" tanya Mikan sambil menatap Kazumi.

"Karena wajah kamu mirip sekali dengan Yuka dan Izumi, Mikan." Jawab Kazumi yang ada di samping Sakurano dengan tenang "Sedangkan, Natsume… Wajahnya mirip sekali dengan wajah Kaoru."

"Aku tidak mengerti. Siapa Kaoru itu?" tanya Mikan lagi semakin bingung.

Kazumi tersenyum kecil "Kaoru adalah penyihir istana Edoras sebelumnya, Mikan. Dia adalah sahabat dari Yuka dan Izumi yang telah meninggal dunia dalam kecelakaan tujuh belas tahun yang lalu."

"Memangnya apa kaitannya itu dengan kami?"

"Kami mungkin bisa beranggapan bahwa kau yang sangat mirip dengan Izumi dan Yuka adalah sebuah kebetulan. Namun, setelah kami mengetahui kau selama sepuluh tahun ini hidup bersama Natsume yang mirip dengan Kaoru. Kami tidak bisa berpikir ini adalah kebetulan lagi."

Natsume sama sekali tidak mengatakan sepatah katapun, dia kembali diam membisu, begitu juga dengan Mikan. Dia sama sekali tidak tahu harus mengatakan apa lagi.

"Tapi, ada sesuatu yang tidak aku mengerti. Siapa kau sebenarnya Natsume? Apa hubunganmu dengan Kaoru? Kaoru itu sebatang kara, dia sama sekali tidak mempunyai saudara ataupun keluarga lagi." Tambah Ioran tiba-tiba.

Mikan mengangkat kepalanya menatap Natsume "Natsume, apa maksud ucapan mereka? Aku sama sekali tidak mengerti?"

Kazumi, Ioran dan Sakurano menolehkan wajah mereka menatap Natsume, sedangkan Ruka dan Hotaru yang dari tadi hanya diam saja juga ikut menatap Natsume. Mereka menunggu jawaban dari mulut Natsume.

Namun, tiba-tiba pintu kamar ini terbuka. Mereka semua melihat Narumi berlari masuk ke dalam kamar ini dengan wajah pucat pasi.

"Yang Mulia, Pangeran dan Putri! Cepatlah anda keluar dari kota ini! Prajurit Theoden telah menyerang kota ini!"


Serangan pasukan Theoden yang tiba-tiba ini benar-benar membuat prajurit di kota Lixir ini kebingungan. Mereka yang masih belum bersiap-siap telah ketinggalan satu langkah dari musuh.

Dalam waktu yang singkat saja, prajurit Theoden telah berhasil menghancurkan pintu gerbang kota dan masuk ke dalamnya.

Para penduduk yang panik berusaha menyelamatkan dirinya. Suara teriakkan dan tanggisan terdengar di mana-mana.

Para prajurit Theoden membakar rumah para penduduk dan mulai menyerang penduduk tidak peduli itu laki-laki atau perempuan, anak kecil maupun orang tua sehingga suasana menjadi semakin kacau.

"Bakar! Bunuh! Rampas!" teriak Mihara gembira melihat kepanikkan yang ada.

Prajurit kota Lixir sama sekali tidak bisa berbuat banyak dalam menghadapi prajurit Theoden, malah boleh dikatakan mereka mulai terdesak. Perbandingan jumlah prajurit Theoden dan prajurit di kota Lixir sama sekali tidak seimbanng.

Ruka, Hotaru, Kazumi, Ioran dan Sakurano sangat terkejut melihat apa yang terjadi. Prajurit Theoden sedang bertarung dengan Prajurit dari kota Lixir, mayat penduduk kota yang terlambat menyelamatkan diri tergeletak bersimbah darah di atas tanah dan yang terakhir, langit malam yang gelap kini telah berubah warna menjadi merah membara karena rumah penduduk yang dibakar prajurit Theoden.

Saat Narumi mengabari mereka bahwa prajurit Theoden telah berhasil memasuki kota. Ruka langsung melesat keluar dari kamar Natsume itu menuju kota tanpa mempedulikan teriakkan Mikan dan yang lainnya. Dalam hatinya saat itu hanya satu, dia ingin melindungi rakyatnya.

Hotaru, Kazumi dan Sakurano yang mengejar Ruka sampai ke dalam tengah kota tahu, mau tidak mau harus melawan parjurit Theoden sekarang. Mereka semua sebenarnya sama sekali tidak suka dengan rencana melarikan diri dan meninggalkan kota ini begitu saja seperti yang diminta Narumi pada mereka. Namun, mereka juga tahu, apa yang dikatakan Narumi sebenarnya tidak salah, sebab mereka sama sekali tidak boleh mati atau tertangkap lawan.

Para prajurit Theoden yang melihat mereka segera bergerak maju menyerang mereka. Ruka yang marah melihat rakyatnya dibunuh oleh Prajurit Theoden sama sekali tidak membuang waktu lagi, dia segera mengangkat tangannya membuat lingkaran sihir dan membacakan mantra sihir. Dia memanggil kelelawar malam yang ada untuk menyerang prajurit Theoden.

Prajurit Theoden yang melihat sihir Ruka segera sadar bahwa yang ada di hadapan mereka itu adalah Pangeran dari kerajaan Issengard. Mereka semua segera maju untuk menyerangnya. Para penyihir Theoden segera melancarkan sihir mereka ke arah Ruka.

Ruka yang melihat sihir dari para penyihir Theoden meluncur ke arahnya sangat terkejut, dia ragu dia bisa menghindari semua sihir itu. Namun, tiba-tiba Kazumi dan Sakurano bergerak ke depannya. Mereka berdua mengangkat tangan mereka dan membacakan sebuah mantra. Sebuah lingkaran sihir berwarna perak muncul di depan mereka. Sebuah dinding bening seperti busa sabun tiba-tiba muncul membungkus mereka bertiga.

Sihir para penyihir Theoden yang menyentuh dinding sihir itu mengeluarkan bunyi dan ledakan yang sangat kuat. Namun, Ruka, Kazumi dan Sakurano yang ada di dalamnya sama sekali tidak mengalami luka sedikitpun.

"Aku akan membuat perhitungan denganmu setelah kita selamat dari sini, Ruka." Ujar Kazumi dingin sambil menatap Ruka yang hanya bisa menelan ludahnya saat dia sadar bahwa dia telah melanggar janjinya.

Para prajurit Theoden benar-benar sangat terkejut sekarang. Sihir Kazumi dan Sakurano itu adalah sihir pelindung, sihir unik yang dimiliki oleh kerajaan Edoras.

"Tidak salah lagi! Itu Raja dan Pangeran dari Edoras!" teriak salah satu prajurit Theoden saat melihat wajah Kazumi dan Sakurano.

Semua prajurit Theoden yang ada di sekitar mereka segera bergerak menyerang mereka. Para pemanah Tehoden segera mengangkat busur mereka dan memanah mereka. Para penyihir juga tidak mau ketinggalan, mereka kembali melancarkan sihir mereka. Mereka semua sama sekali tidak mau membuang kesempatan langkah yang ada di depan mereka sekarang ini. Mereka pasti akan mendapatkan hadiah yang sangat besar jika mereka berhasil membunuh Raja dan pangeran Edoras berserta Pangeran Issengard.

Melihat Ruka, Kazumi dan Sakurano yang mulai terdesak. Hotaru, Ioran dan Narumi segera melancarkan sihir mereka menyerang musuh, begitu juga dengan prajurit kota Lixir yang ada di sekitar mereka.

Prajurit lixir tidak akan mungkin membiarkan Prajurit Theoden membunuh atau menangkap Pangeran mereka dan juga Raja serta Pangeran Edoras. Jika itu benar-benar terjadi, harapan untuk menang dari perang ini akan menghilang untuk selamanya.

Pertempuran yang ada di tengah kota Lixir ini menjadi kian memanas. Kedua pihak saling menyerang dan melancarkan sihir dengan segenap tenaga mereka. Namun, tiba-tiba sebuah tombak besar terbang ke dalam medan pertempuran itu. Tombak itu menancap di tengah-tengah medan perang tersebut dengan suara yang sangat keras dan menghentikan pertempuran yang ada.

Kazumi sangat terkejut melihat tombak itu. Dia tahu, siapa pemilik tombak itu. Dia segera mengangkat wajahnya menatap arah datangnya tombak itu dan dia melihat Mihara tersenyum menyeringai menatapnya "Lama tidak bertemu, Yang Mulia Raja Kazumi.."

"Mihara…" Balas Kazumi sambil membalas tatapan matanya dengan dingin.

"Aku sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan anda di kota ini sekarang." Tambah Mihara.

Kemarahan menyerang hati Kazumi. Pria yang ada di depannya sekarang adalah jendral musuh yang menghancurkan kerajaan Edoras. Pria yang dengan kejam serta tidak berperasaan membunuh rakyat kerajaan Edoras dan menghancurkan kota-kota Edoras yang sangat dicintainya.

Mihara berjalan dengan pelan mendekati tombaknya. Beberapa prajurit yang ada di sekitar tomabak itu baik musuh maupun lawannya segera menyingkir darinya, sebab Mihara adalah jenderal yang terkenal sangat kejam kepada musuh maupun kawannya.

Mihara mencabut tombaknya dan mengarahkannya pada Kazumi "Kali ini, aku tidak akan membiarkan anda melarikan diri lagi seperti saat aku menyerang dan menghancurkan ibukota Edoras."

"Serahkan dia padaku." Ujar Kazumi tegas pada semua yang ada di sana.

"Kakak!" panggil Sakurano terkejut sambil menatap Kazumi dengan penuh kekhawatiran.

"Tidak perlu khawatir Sakurano. Aku tidak akan apa-apa." Balas Kazumi dan melesat dengan cepat ke arah Mihara.

"Jangan menghentikan pertempuran kalian. Serang! Bunuh mereka semua! Aku akan memberikan hadiah besar bagi siapapun yang berhasil menghabisi kedua pangeran itu!" janji Mihara sambil tersenyum dan melesat ke arah Kazumi.

Mendengar perintah Mihara, pertempuran yang tadinya terhenti karena kehadirannya kembali dimulai. Para prajurit Theoden menjadi sangat bersemangat menyerang mereka begitu mendengar janji Mihara itu.

Mihara megangkat tombaknya menusuk Kazumi dengan kecepatan yang luar biasa. Namun, Kazumi yang bisa melihat gerakkannya dengan gesit menghindari serangan itu.

Kazumi tahu, dia yang menggunakan pedang tidak akan bisa menang menghadapi Mihara yang menggunakan tombak jika jarak pertempuran mereka begitu jauh. Dia akan segera kalah telak. Jarak ini menyebabkan Mihara seorang saja yang bisa menyerang. Tombak Mihara bisa mencapainya, sedangkan pedangnya sama sekali tidak bisa mencapainya.

Mihara tahu dengan benar keuntungan darinya yang menggunakan tombak dalam menghadapi Kazumi yang menggunakan pedang. Karena itulah, dia terus berusaha mempertahankan jarak mereka. Kazumi, sang Raja Edoras adalah seorang ahli sihir dan pedang yang sangat kuat. Dia sama sekali tidak berani meremehkannya begitu saja.

Kazumi meloncat ke belakang dari jangkauan tombak Mihara. Dia mengangkat tangannya dan membacakan sebuah mantra sihir. Lingkaran sihir berwarna coklat muncul di depannya.

Mihara yang melihat Kazumi mulai menggunakan sihir juga segera mengangkat tangannya dan membaca mantra sihir. lingkaran sihir berwarna biru muncul di depannya.

Tanah di depan Kazumi tiba-tiba melonjak dan meruncing menjadi beribu-ribu jarum besar. Jarum-jarum itu tiba-tiba bergerak merayap di atas tanah dengan kecepatan yang luar biasa ke arah Mihara.

Sedangkan dari dalam lingkaran sihir Mihara, air melesat keluar dengan cepat. Air itu itu terus berputar dan berbentuk seperti ular besar ke arah sihir Kazumi.

Saat kedua sihir itu bertemu, suara tabrakan yang sangat keras terdengar berhasil membuat pertempuran di sekitar mereka terhenti. Pertarungan sihir di depan mereka sekarang adalah pertarungan penyihir tingkat atas.

Kazumi dan Mihara berusaha mempertahankan sihir mereka. Namun, tiba-tiba Kazumi menghentikan sihirnya dan bergerak dengan kecepatan yang luar biasa ke arah sihir air Mihara itu.

"Kakak!"

"Yang mulia!"

Ruka, Hotaru, Sakurano, Ioran, Narumi dan prajurit kota Lixir berserta prajurit Theoden sangat terkejut melihat aksi Kazumi yang tiba-tiba itu.

Kazumi sama sekali tidak mempedulikan teriakkan mereka itu, dia mengangkat tangan kirinya sambil membacakan mantra sihir pelindung dan membuat dinding pelindung yang melindunginya.

Sihir air Mihara sama sekali tidak bisa melukai Kazumi. Kazumi segera mengangkat tangan kanannya yang mengenggam pedang untuk menyerang Mihara yang dia tahu dengan pasti, ada di depannya sekarang.

Mihara sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Kazumi. Dia segera menghentikan sihirnya dan mengangkat tombaknya untuk menahan serangan Kazumi. Dia tahu, dia tidak bisa menghindar serangan Kazumi itu, satu-satunya yang ada hanyalah bertahan.

Pedang Kazumi dan badan tombak Mihara yang beradu menciptakan suara yang sangat keras.

Kazumi sama sekali tidak mau membuang waktu dan membiarkan Mihara kembali menciptakan jarak yang tidak menguntungkannya itu. Dia harus mempertahankan jarak mereka ini. Namun, tiba-tiba Mihara tersenyum menyeringai "Kau memang hebat, Yang Mulia Raja Kazumi. Tapi, kau telah salah perhitungan."

Kazumi sama sekali tidak mengerti maksud Mihara. Namun, mata violetnya terbelalak karena terkejut saat melihat Mihara melepaskan tangan kirinya dan mengeluaran sebilah pedang kecil dari balik pinggangnya.

"KAKAK!"

"YANG MULIA!"

Ruka dan yang lainnya hanya bisa melihat dengan penuh ketakutan saat melihat Mihara menusukkan pedang kecil itu ke perut Kazumi yang sama sekali tidak bisa menghindari serangan itu.

Mihara sama sekali tidak membuang waktu, dengan memanfaatkan perasaan terkejut dan luka yang dialami Kazumi itu, dia segera mengangkat kakinya dan menedangnya hingga terjatuh ke belakang.

Ruka dan yang lainnya berusaha maju untuk menyelamatkan Kazumi. Namun, para prajurit Theoden yang tadi dilawan mereka menghentikan mereka.

Mihara mengangkat pedang di tangannya sambil tersenyum dan mengarahkannya pada Kazumi yang terluka parah "Selamat tinggal, Yang mulia Raja Kazumi."

Sebilah pedang tiba-tiba melesat dengan kecepatan yang luar biasa ke arah Mihara. Mihara yang bisa merasakan pedang tersebut segera meloncat ke belakang menjauhi Kazumi.

Semua yang di sana sangat terkejut. Mereka melihat sebilah pedang perak berpermata merah besar di tengahnya tertancap di atas tanah. Sebuah matra sihir terukir di badan pedang tersebut.

Ruka dan Hotaru segera menyadari pedang itu. Pedang itu adalah pedang sihir Shire milik Mikan.

Semua yang ada di sana segera mengangkat wajah mereka menatap arah datangnya pedang itu. Mata mereka semua terbelalak karena terkejut saat melihat Natsume yang matanya tertutup kain berdiri di atas atap salah satu rumah di samping mereka sambil menggendong Mikan yang menutup rapat mata dan telinganya dengan kedua tangannya.

"Natsume!" Seru Ruka, Sakurano, Ioran dan Narumi bersamaan.

"Kenapa banyak sekali orang yang menyukai kemunculan yang sangat dramatis." Ujar Hotaru dengan wajah tanpa ekspresi walau sebenarnya, dia sangat lega dengan kemunculan Natsume yang berhasil menyelamatkan Kazumi.

Natsume sebenarnya sama sekali tidak berniat ikut campur dalam petempuran yang tidak ada kaitan dengannya lagi. Namun, gara-gara Mikan, mau tidak mau dia terpaksa ikut campur lagi.

Mikan segera mengangkat kepalanya menatap Natsume begitu melihar Ruka, Hotaru, Kazumi, Sakurano, Ioran dan Narumi yang berlari keluar dari kamar Natsume.

"Natsume… Apa yang terjadi? Kenapa aku merasa kejadian ini mirip sekali dengan kejadian di kota Radiata dulu?" tanya Mikan polos.

Natsume sama sekali tidak menjawab pertanyaan Mikan. Dia tidak mungkin mengatakan pada Mikan apa yang sesungguhnya terjadi. Dia harus segera membawa Mikan keluar dari kota ini sekarang. Kota ini telah menjadi medan perang sekarang.

"Natsume.." Panggil Mikan binggung.

"Ayo, kita keluar dari kota ini sekarang Mikan." Ujar Natsume tiba-tiba sambil menarik tangan Mikan dan berjalan keluar dari rumah Narumi yang sudah kosong itu.

Mikan yang sama sekali tidak tahu apa yang terjadi hanya bisa membiarkan Natsume menuntunnya. Namun saat dia tiba di luar rumah Narumi, matanya terbelalak karena terkejut. Dia bisa melihat betapa merahnya langit malam yang tadinya hitam, orang-orang yang berlarian dengan penuh ketakutan serta, dia bisa mendengar dengan jelas teriakkan dan tanggisan yang ada di kejauhan.

"N-Natsume… Apa yang terjadi?" tanyanya ketakutan sambil menggenggam tangan Natsume dengan erat.

"Tenanglah, Mikan. Kau tidak perlu khawatir, tidak apa-apa." Jawab Natsume tenang dengan wajah tanpa ekspresi.

"A-Apanya yang tidak apa-apa, Natsume? Mengapa orang-orang ini berlarian? Dan mengapa ada yang berteriak dan menangis di kejauhan sana?"

"Itu bukan urusan kita, idiot. Ayo, kita harus segera keluar dari kota ini." Balas Natsume cuek sambil berjalan dan menarik tangan Mikan untuk mengikutinya. Namun, Mikan sama sekali tidak mau bergerak, dia tetap berdiri di tempatnya tadi.

"Natsume! Hotaru dan Ruka! Bagaimana dengan Hotaru, Ruka dan yang lainnya?" tanya Mikan lagi dengan penuh ketakutan.

Mendengar pertanyaan Mikan itu, di dalam hati Natsume, dia sesungguhnya cukup merasa bersalah. Dia akan membawa Mikan pergi dari kota ini tanpa pamit. Dan yang terpenting, dia akan meninggalkan mereka semua di saat bahaya mengancam mereka.

"Natsume.. Ayo, kita cari mereka du…" Pinta Mikan pelan.

"Tidak. Kita harus segera keluar dari kota ini sekarang juga." Potong Natsume tegas.

"TIDAK!" teriak Mikan tiba-tiba penuh kemarahan "Kalau kau mau keluar dan meninggalkan mereka semua, silakan saja. Aku akan mencari mereka. Aku tidak akan keluar dari kota ini jika tidak bersama mereka!"

"Mikan, dengarkan aku." Ujar Natsume sambil menghela napas.

"Aku tidak mau mendengarkanmu." Balas Mikan sambil melepaskn tangannya dari genggaman Natsume dan berjalan menjauh.

Natsume hanya bisa kembali menghela napasnya. Dia tahu, dia tidak akan mungkin bisa menghentikan Mikan sekarang, sikap keras kepalanya itu tidak mungkin dapat dilawannya. Membawanya keluar secara paksa juga bukan pilihan yang bagus, sebab Mikan pasti akan sangat marah dan menangis nantinya. Dia tidak mau itu terjadi.

"Baiklah. Ayo kita cari mereka." Ujar Natsume tiba-tiba

Mikan segera membalikkan wajahnya dan tersenyum lebar "Benarkah?"

Natsume mengangguk kepalanya "Tapi dengan satu kondisi. Aku akan mengendongmu dan kau harus menutup matamu serta telingamu sampai kita keluar dari kota ini. Apapun yang terjadi, kau tidak boleh membukanya."

"Baik. Aku mengerti. Terima kasih, Natsume." Senyum Mikan dan berlari memeluk Natsume.

"Siapa kau?" tanya Mihara sambil menatap Natsume dengan tajam. Hanya sekali melihat saja, dia tahu Natsume itu sangat kuat dan berbahaya, dia bisa merasakan aura yang sangat aneh darinya.

Para pemanah mengarahkan panah pada Mikan dan Natsume, begitu juga dengan penyihir Theoden, mereka segera mengangkat tangan mereka untuk menyerang mereka. Namun, apa yang mereka lakukan itu segera terhenti, karena ketakutan tiba-tiba menyerang mereka.

Mihara dan semua prajurit Theoden serta Ruka, Hotaru, Kazumi, Sakurano, Ioran, Narumi serta prajurit kota Lixir sangat terkejut dan menatap Natsume. Mereka tahu sekali Natsume lah yang menyebarkan ketakutan ini.

Natsume tiba-tiba meloncat turun ke bawah dan berjalan dengan pelan ke arah Kazumi yang tidak bisa bergerak karena lukanya.

"Natsume.. Mikan.." Panggil Kazumi pelan.

"Mikan. Sembuhkan orang yang ada di depanmu, tapi jangan pernah kau coba membuka matamu." Perintah Natsume tiba-tiba sambil melepaskan Mikan dari gendongannya dan membuka lengan yang menutup telinganya.

Mikan sama sekali tidak mengerti maksud perintah Natsume karena matanya yang tertutup. Tapi, dia tetap melakukan apa yang diperintahkannya.

"Bacakan mantra dan buatlah lingkaran sihir seperti yang aku ajarkan selama ini." Bisik Natsume pelan di telinga Mikan.

"Natsume! Aku ti.." Balas Mikan panik.

"Apapun yang terjadi kau harus melakukan itu. Tenanglah, aku ada di sini, kamu pasti bisa." Potong Natsume pelan sambil mengenggam tangan Mikan dan mengarahkannya ke luka Kazumi.

Merasakan kehangatan tangan serta mendengar ucapan Natsume itu, Mikan mengangguk kepalanya dan mulai membacakan mantra sihir. Semua yang ada di sana sangat terkejut saat melihat sebuah lingkaran sihir aneh berwarna putih muncul di depan depan Mikan dan menyembuhkan luka Kazumi dengan cepat.

"Bagus sekali, Mikan." Ujar Natsume saat melihat luka Kazumi telah sembuh.

Mikan tersenyum gembira sebab meski diia tidak bisa melihat, dia tahu dia telah berhasil melakukan apa yang diminta Natsume.

Kazumi benar-benar sangat terkejut. Dia sama sekali tidak pernah melihat sihir penyembuh seperti ini. Sihir penyembuh memang bisa menyembuhkan luka, namun luka yang bisa di sembuhkan hanyalah luka ringan seperti memar dan goresan. Satu-satunya sihir penyembuh yang bisa menyembuhkan luka besar seperti lukanya tadi hanyalah sihir penyembuh milik kerajaan Orthanc. Tapi, sihir Mikan tadi jelas-jelas bukan sihir penyembuh kerajaan Orthanc, sebab lingkaran sihir penyebuh Orthanc berwarna orange kemerahan bukan putih. Dan juga mantra penyembuh yang dibacakan Mikan barusan, memang merupakan matra dasar dari sihir penyembuh yang biasanya digunakan orang.

Natsume tiba-tiba menolehkan wajahnya menatap Ruka, Hotaru dan yang lainnya "Kemarilah kalian semua."

Ruka, Hotaru, Sakurano, Ioran dan Narumi yang sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi segera bergerak mendekati Natsume, Mikan dan Kazumi.

"Jaga dia. Jangan biarkan apapun terjadi padanya." Perintah Natsume dengan wajah tanpa ekspresi.

"Apa maksudmu, Natsume?" tanya Ruka dan Sakurano terkejut sedangkan Hotaru, Kazumi, Ioran dan Narumi hanya bisa menatap Natsume dengan pandangat terkejut.

"Ruka? Kak Sakurano?" panggil Mikan begitu mendengar suara Ruka dan Sakurano.

"Aku akan melawan mereka semua. Karena itu jaga dia dengan baik-baik." Perintah Natsume lagi.

"NATSUME! APA MAKSUD UCAPANMU BARUSAN?" teriak Mikan sambil membuka matanya begitu mendengar kata " Melawan mereka semua " dari mulut Natsume sebab dia tahu, Natsume akan bertarung lagi.

Natsume sama sekali tidak menyangka Mikan akan membuka matanya karena ucapannya barusan. Dia bisa merasakan Mikan membuka matanya walau dia matanya tertutup kain. Namun, semuanya telah terlambat, Mikan telah membuka matanya.

Hal yang pertama kali dilihat Mikan saat matanya terbuka adalah wajah Natsume. Namun, matanya terbelalak karena terkejut saat dia menyadari keadaan sekelilingnya.

Dia melihat langit malam yang merah membara, darah yang mengalir di mana-mana serta mayat-mayat penduduk, prajurit kota Lixir maupun prajurit Theoden yang tergeletak di mana-mana. Ketakutan menyerangnya. Apa yang terjadi? Dia benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi?

Natsume yang melihat ketakutan di mata Mikan segera menutup mata Mikan lagi dengan tangannya. Apa yang paling tidak diinginkannya telah terjadi? Dia tidak mau Mikan tahu, apa itu perang sesungguhnya? Dia sama sekali tidak mau Mikan melihat apa yang ditinggalkan perang?

"N-Natsume.. A-Apa itu barusan?" tanya Mikan gemetar dan Natsume bisa merasakan air mata mengalir dari matanya yang tertutup.

"Tidak ada apapun. Tenanglah," jawab Natsume pelan berusaha menenangkan Mikan "Tutup matamu, jangan pernah membuka matamu lagi."

"N-Natsume.. Mereka yang ingin kau lawan itukah penyebab ini semua? JANGAN! Kau tidak boleh melawan mereka! Kau tidak boleh melawan mereka!" pinta Mikan sambil setengah berteriak.

Natsume tidak mengatakan apapun, tapi dia bisa merasakan Mikan berusaha membuka matanya lagi.

"Mikan. Aku tidak akan apa-apa. tenanglah." Ujar Natsume pelan.

"TIDAK!" teriak Mikan dan memeluk Natsume dengan erat.

Natsume mendorong tubuh Mikan dengan pelan hingga pelukannya terlepas dan dia bisa merasakan Mikan lagi-lagi membuka matanya yang dia tahu pasti berlinang air mata dan penuh kekhawatiran menatapnya.

Natsume menghela napas dan mengangkat tangannya melepaskan kain yang menutup matanya.

Mata Kazumi, Sakurano dan Narumi terbelalak karena terkejut saat melihat warna mata Natsume yang merah seperti darah. Mereka tidak pernah melihat warna mata seperti ini sebelumnya. Namun, yang paling terkejut adalah Ioran. Dia benar-benar sangat terkejut hingga lupa bernapas. Dia sama sekali tidak pernah menyangka akan melihat mata berwarna merah darah dalam wajah yang sangat dikenalnya itu.

Natsume sama sekali tidak mempedulikan Kazumi, Sakurano, Ioran dan Narumi. Dia mengangkat tangannya dan menutup mata Mikan dengan kain yang biasanya digunakannya untuk menutup matanya.

"Tunggu aku di sini! Aku akan segera kembali." Perintah Natsume dan berjalan menjauh dari Mikan sambil mencabut pedang sihir shire yang tertancap di atas tanah.

"Natsume!" panggil Mikan sambil mengangkat tangannya untk membuka kain yang menutup matanya . Namun, Hotaru segera menahan Mikan.

"Tenanglah Mikan. Dia tidak akan apa-apa. Kau tunggu saja di sini seperti yang diperintahkannya. Kau hanya akan menganggunya jika kau megejarnya sekarang." Ujar Hotaru pelan.

Hotaru yakin sekali Natsume bisa mengalahkan Mihara dan Prajurit Theoden itu sendirian. Dia telah melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa kuat dan abnormalnya Natsume itu sesungguhnya.

Mendengar ucapan Hotaru itu, Mikan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya bisa menuruti perintah Natsume karena dia tahu apa yang dikatakan Hotaru benar. Dia hanya akan menjadi beban jika dia mengejar Natsume sekarang.

Mihara, prajurit Theoden dan prajurit kota Lixir yang melihat mata merah sangat terkejut. Warna merah darah dan juga aura mengerikan yang dikeluarkannya membuat mereka semua tertegun dan tidak bisa bergerak.

"Siapa kau?" tanya Mihara lagi.

Natsume tidak menjawab pertanyaan Mihara itu, dia tiba-tiba melesat dengan cepat ke arah Mihara.

Mihara yang sangat terkejut dengan gerakan Natsume segera mengangkat tombaknya untuk menyerang Natsume.

Natsume dengan gesit menghindari serangan Mihara dan tetap melesat ke arahnya untuk memperdekat jarak mereka.

Mihara sama sekali tidak mau membiarkan Natsume memperdekat jarak mereka. Dia terus berjalan mundur ke belakang sambil menyerang Natsume.

Namun, Natsume sama sekali tidak mau membiarkan Mihara seorang saja yang menyerang. Dengan cepat dia melesat ke depan dan menempelkan pedang shir Shire yang ada ditangannya pada badan tombak Mihara.

Mihara sangat terkejut saat melihat Natsume melesat ke arahnya. Dia sama sekali tidak bisa menyerang Natsume lagi karena Natsume sama sekali tidak mau melepaskan pedang sihir Shire yang telah menempel di badan tombaknya.

Natsume dengan cepat melesat ke arah Mihara mengikuti batang tombak Mihara.

Mihara yang tahu dia tidak akan dapat menjaga jarak dengan Natsume lagi segera melepas tangan kirinya yang menggenggam tombak dan membaca mantra sihir. Lingkaran sihir berwarna violet muncul di depannya. Listrik bertenaga tinggi meluncul dengan cepat menyerang Natsume.

Natsume yang berada sangat dekat dengan Mihara sama sekali tidak berusaha untuk menghindar, dia juga mengangkat tangannya dan sebuah lingkaran sihir berwarna hitam muncul di hadapannya. Api hitam melesat keluar dari dalam lingkaran sihir itu.

Semua yang ada di sana sangat terkejut saat melihat Natsume melakukan sihir aneh tersebut. Namun, yang paling mengejutkan mereka adalah Natsume bisa melakukan sihir tanpa mantra.

Saat sihir Natsume dan Mihara bertemu. Ledakan yang sangat keras tercipta.

Mihara terpental ke belakang akibat ledakan tersebut. Dan saat dia mengangkat kepalanya menatap ke depannya yang penuh dengan asap. Natsume telah meloncat ke arahnya dan menempelkan pedang sihir Shire di lehernya.

"Perintahkan pasukanmu untuk mundur." Perintah Natsume dingin.

Semua yang ada di sana kecuali Ruka, Hotaru dan Ioran sama sekali tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Natsume dengan begitu mudahnya mengalahkan Mihara.

Mihara yang sama sekali tidak pernah menyangka dia akan dikalahkan Natsume semudah itu menatapnya dengan tajam "Kau pikir aku akan memerintahkan prajuritku untuk mundur? Dalam mimpimu, meski aku mati. Kota ini tetap akan jatuh."

Natsume sama sekali tidak mengatakan sepatah katapun, sebab dia sudah mempredeksi Mihara akan berkata seperti itu.

Dengan kasar Natsume menarik Mihara dari atas tanah dengan pedang sihir Shire yang tetap tertempel di lehernya.

Tidak seorangpun prajurit yang berani bergerak melihat Natsume yang menyandera Mihara.

Natsume berjalan mendekati beberapa prajurit kota Lixir yang ada di dekatnya dan menyerahkan Mihara pada mereka "Jaga dia. Jangan biarkan dia melarikan diri."

Prajurit kota Lixir yang masih terbengong dengan apa yang baru terjadi segera mengangguk kepala mereka. Dan melakukan apa yang diminta Natsume.

Natsume membalikkan wajahnya dan menatap semua prajurit Theoden dengan dingin.

Prajurit Theoden yang melihat tatapan Natsume segera berjalan mundur beberapa langkah tanpa mereka sadari karena ketakutan.

"Keluarlah dari kota ini sekarang juga." Perintah Natsume dengan wajah tanpa ekspesi.

"JANGAN MUNDUR! BUNUH SAJA MEREKA SEMUA! JUMLAH KITA LEBIH BANYAK! KITA PASTI BISA MENANG!" teriak Mihara begitu melihat ketakutan di wajah prajuritnya.

Mendengar teriakkan Mihara, para prajurit Theoden sadar apa yang dikatakannya memang benar. Tapi, melihat Natsume yang ada di depan sana, mereka sama sekali tidak bisa bergerak.

"KU PERINTAHKAN BUNUH PEMUDA BERMATA MERAH ITU!" perintah Mihara penuh kemarahan.

Prajurit Theoden segera maju untuk menyerang Natsume walau mereka masih takut begitu mendengar perintah Mihara. Mereka hanya berharap mereka mampu mengalahkan Natsume dengan jumlah mereka yang begitu banyak.

Namun, baru melangkah beberapa langkah saja, pilar api besar tiba-tiba muncul di depan mereka dan menghentikan langkah mereka.

Semua yang di sana kecuali Ruka dan Hotaru sangat terkejut. Mereka tahu pilar api itu adalah api sihir. Tapi mereka sama sekali tidak melihat ada yang membaca mantra sihir ataupun membuat lingkaran sihir.

Pilar api itu tiba-tiba padam dan mereka semua bisa melihat dengan jelas Natsume mengangkat pedang sihir Shire di tangannya dan mengarahkannya pada prajurit Theoden.

"Ku perintahkan kalian untuk mundur sekarang juga. Pilar api itu akan merupakan peringatan terakhirku pada kalian semua." Perintah Natsume dingin sambil menatap prajurit Theoden dengan tajam.

Mendengar ucapan Natsume itu, semua yang ada di sana segera sadar, yang membuat pilar api besar itu adalah Natsume. Dia bisa melakukan sihir tanpa mantara dan lingkaran sihir.

Prajurit Theoden kembali berjalan mundur ke belakang. Mereka tidak yakin bisa mengalahkan Natsume lagi. Dia terlalu kuat, aneh dan menakutkan.

"SERANG DIA!" teriak Mihara lagi begitu melihat prajuritnya berjalan mundur. Namun, tidak ada seorangpun yang berani bergerak menyerang Natsume lagi.

Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara ledakan yang sangat keras.

Semua yang ada di sana kecuali Natsume segera menolehkan kepala mereka ke arah datangnya ledakan tersebut.

Pedang angin tiba-tiba melesat dengan cepat melukai para perajurit yang menahan Mihara.

Meski tidak tahu apa yang terjadi, Mihara segera memanfaatkan kesempatan yang ada. Dia merebut pedang salah satu prajurit kota Lixir yang menahannya dan melukai para prajurit itu.

Mihara segera meloncat menjauh dan tersenyum menyeringai. Dia menatap Natsume yang tetap tenang dengan tajam dan penuh kebencian. Dia benci kekalahan, dia tidak akan membiarkan Natsume begitu saja setelah mempermalukannya di hadapan prajuritnya dan prajurit kota Lixir ini.

Dia mengangkat pedang di tangannya dan berlari ke arah Natsume. Namun baru beberapa langkah di ambilnya, suara seorang wanita telah menghentikannya.

"Mundur, Mihara."

Mihara segera berhenti begitu mendengar suara itu. Sedangkan semua yang ada di sana kecuali Natsume segera mengangkat kepala mereka mencari pemilik suara itu.

Suara wanita itu terdengar dengan jelas. Namun tanda-tanda keberadaannya sama sekali.

"Kau.. Aku tidak akan mendengar perintahmu!" ujar Mihara penuh kemarahan.

"Turuti perintahku ini atau kau akan menyesal nantinya, Mihara." Balas suara wanita itu lagi.

Mihara sesungguhnya tidak ingin menuruti perintah wanita itu. Namun, setelah melihat para prajuritnya yang sudah kehilangan semangat berperang, dia memutuskan untuk mundur. Peperangan ini tidak akan menguntungkan pihak mereka jika terus dilanjutkan.

"Aku akan segera membalas hinaan ini," ujar Mihara dingin sambil menatap Natsume "Mundur! Kita mundur!"

Natsume sama sekali tidak mengatakan sepatah katapun, dia hanya diam dan cuek melihat Mihara dan semua pasukannya mundur.

Saat Mihara dan pasukannya telah menghilang dari pandangannya. Natsume berjalan dengan pelan ke arah Mikan yang terus bergetar sambil berlinang air mata dan menutup telinganya dengan rapat.

Natsume mengangkat tangannya dan menurunkan tangan Mikan yang menutup telinganya.

"Sudah tidak apa-apa, Mikan. Kau sudah boleh membuka telingamu. Tapi, jangan mencoba membuka matamu." ujar Natsume pelan.

Mendengar suara Natsume dan merasakan kehangatan tangannya, Mikan segera mengangkat tangannya memeluk Natsume dengan erat.

"N-Natsume.. Natsume.." Tangis Mikan sambil membenamkan wajahnya pada dada Natsume.

"Sudah tidak apa-apa. Tenanglah." Balas Natsume sambil membalas pelukan Mikan.

Mikan hanya mengangguk kepalanya dari dalam pelukan Natsume.

Tidak ada seorangpun yang berani berbicara melihat Natsume dan Mikan sampai akhirnya Narumi memecahkan keheningan yang ada.

"Kau hebat sekali, Natsume. Kau sanggup memukul mundul pasukan Theoden itu sendirian." Ujar Narumi sambil menatap Natsume dengan pandangan tidak percaya.

"Mereka mundur bukan karena aku. Wanita itu memerintahkan mereka untuk mundur karena dia telah menyadari adanya pasukan bantuan yang mencapai kota ini." Balas Natsume dengan wajah tanpa ekspresi.

"Bala bantuan?" tanya Ruka, Hotaru, Kazumi, Ioran, Sakurano dan Narumi bingung.

Natsume sama sekali tidak menjawab pertanyaan mereka. Namun, tiba-tiba mereka merasakan tanah tempat mereka berpijak bergetar. Suara derap kuda terdengar dengan jelas.

Semua yang ada di sana kecuali Natsume dan Mikan segera menolehkan wajah mereka ke belakang. Mata mereka semua terbelalak karena terkejut. Mereka melihat satu kompi pasukan besar dengan bendera Issengard dan Arathorn bergerak ke arah mereka.

Di tengah-tengah pasukan besar itu, mereka melihat Tsubasa dan Misaki yang tersenyum menatap mereka semua.

"Kak Tsubasa!"

"Tsubasa!"

"Bayangan!"

"Pangeran Tsubasa!"

Teriak Ruka, Hotaru, Kazumi, Sakurano dan Narumi terkejut.


Natsume hanya berdiri di kejauhan menatap pertemuan kembali Ruka dan yang lainnya dengan Tsubasa dari seorang diri.

Dia bisa melihat Mikan tersenyum sekarang sambil berbicara dengan Tsubasa dan Misaki walau kain yang menutup matanya belum dilepaskan karena mereka masih berada dalam kota tempat mereka bertempur tadi.

"Natsume.. Kau.." Ujar seseorang tiba-tiba.

Natsume sama sekali tidak membalikkan wajahnya sebab dia tahu siapa itu. Ioran.

"T-Tidak mungkin.. Ini tidak mungkin, wajah itu dengan mata merah darah.. Itu tidak mungkin..." Tambah Ioran terbata-bata dengan wajah pucat.

Natsume tetap diam tidak membalas ucapan Ioran.

"Kau tidak mungkin hidup di dunia ini, Natsume.. Kau tidak mungkin ada di dunia ini.. Kami sudah menggagalkan ritual itu. Kaoru sudah mengorbankan dirinya untuk menggagalkan ritual itu."

"Kalian tidak menggagalkan ritual itu. Ritual itu berhasil. Karena itulah aku ada di sini..." Balas Natsume tiba-tiba dengan pelan.

"T-Tidak mungkin.. Kalau begitu, apa artinya pengorbanan Kaoru? Apa artinya pengorbanan Kaoru tujuh belas tahun yang lalu?" ujar Ioran setengah teriak dengan penuh kemarahan dan menarik kerah baju Natsume.

Natsume tidak menjawab apapun lagi. Dia tetap diam membisu sambil menatap Mikan dan membiarkan Ioran menarik kerah bajunya.

Ioran yang melihat Natsume tidak bereaksi sedikitpun segera mengikuti arah pandangan matanya. Dan saat dia melihat Mikan, matanya terbelalak karena terkejut. Dia sadar akan satu hal, sihir dan lingkaran sihir Mikan yang ditunjukkannya tadi itu.

"I-Ini tidak mungkin terjadi.. Mikan itu.. Dia adalah..." Ujar Ioran terbata-bata dengan wajah pucat pasi sambil melepaskan kerah baju Natsume.

"Iya. Mikan adalah dia." Balas Natsume lagi dengan pelan.

Mata Ioran benar-benar terbelalak karena terkejut. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Mengapa ini bisa terjadi? Kenapa takdir mempermainkan mereka seperti ini hingga Natsume dan Mikan bisa memiliki rupa seperti Kaoru dan Yuka.


Pertama-tama… AAAHHHHHHH! ( jangan dipedulikan karena authornya lagi stress berat ) AAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH! lega akhirnya ^^. Maaf untuk update yang aku tahu lambat benar ( karena itu chapter ini panjang banget ampe lbh dri 9k ) aku tidak bisa update secepat ini karena berbagai masalah, pertama : perkerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, kedua : Stress berat karena perkerjaan, ketiga : gw sakit ( kena muntaber ampe karang lum sembuh hik..…), Kelima : cintaku, kekasihku, pacarku tempat mengapel setiap malam membuat fic ini alias notebook-ku tercinta hancur! layarnya hancur gara-gara keponakan-ku. Hik….Hik.. T_T ! karena itu maaf ya! update kali ini lambat -_-" . Bagaimana menurut pembaca chapter ini! pasti banyak yang bingung ^^ ! bagaimana menurut pembaca adegan perangnya ( jika jelek mohon maaf ya, soal aku juga sedikit mengalami kesulian membuat adegan perangnya ! oh iya! Mihara itu bukan OC ku ya! dia ada keuar di GA kok ( sang pemilik alice medusa ha..ha..ha… Dia cocok dengan peran di sini sih ^^ ) Suara wanita yang meminta Mihara untuk mundur itu, walau tidak aku bilang, kurasa semua orang juga sudah bisa menebaknya ya ^^ terus Ioran tahu siapa NxM sebenarnya ^^, walau aku masih belum akan menjawab siapa NxM di chapter berikutnya ^^ ! terus di Chapter berikutnyaaaa! ^^ Mikan akan show up! aku sudah tidak sabar menulis lanjutannya dan terakhir Semoga aku bisa cepat2 update! ( wah panjang banget kata2 ngacoku -_-" maklumlah orang lagi stress... )

Yuuto Tamano : tebakanmu itu benar dan juga meleset ^^ Jawabannya akan ku jawab mungkin sekitar 3 chapter ke depannya lagi! Thx sudah bantu mengingatkanku dengan typoss-ku! Aku akan berusaha untuk lebih teliti lagi^^ Bagaimana pendapatmu mengenai chapter ini?

Icha Yukina Clyne : tunggu beberapa chapter lagi ya! Aku akan mejelaskan siapa sebenarnya NxM sebenarnya ^^ Dan untuk bakal terpisah atau tidak lagi pasangan NxM itu... Kurasa kau juga sudah tahu ^^ Yosh! Gambate!

Kuroichibhineko : Thx ya tuk bantuannya! en maaf ya updatenya lama! ^^ Bagaimana dengan chapter ini? Tambah penasaran dengan maksud ucapan Ioran? ^^

Kazuki NightFlame47 : Ha..ha..ha.. kalau kau bisa membantuku aku senang loh ^^ ( Soal aku cuma bisa ngarang cerita, kalau untuk sumary..Haiih... malu-maluin aja.. -_-" ) Thx sudah menunjukkan letak kesalahanku. ^^

Aimiera : Kayaknya tambah pusing ya? di chapter ini. dan tunggu bentar lagi untuk jawabannya ^^ Trus bagaimana pendapatmu chapter ini? ^^

Ochiochio : Wah.. jangan gitu dong... Jadi malu aku ^^ Aku senang sih kalau ternyata fic-fic dengan imajinasi teraneh-ku ini bisa diterima dengan baik oleh pembaca ^^ Panggil Razux atau Raz saja deh! Dan terakhir.. Jangan berguru padaku, setiap fic-ku, typossnya berserakkan sampai aku sendiri kadang malu melihatnya -_-" oh, iya, Thx sudah add favo ^^

Thi3x : Iya! Aku akan semangat terus untuk membuat fic ini ^^ ( thx tu dukungannya^^ ) aku masih perlu berputar sedikit lagi baru menjawab rahasia fic ini ( Jika tidak, aku tidak akan bisa menyelesaikan fic ini untuk selamanya ^^ ) Mengenai perkerjaan.. Ya bolehlah, sudah bisa sekitar 75%. Ha..ha..ha.. dan maaf ya update kali ini lambat, gara2 banyak masalah -_-"

Daiyaki Aoi : ha..ha.. thx bgt sudah bantu aku mengoreksinya ( Aku akan segera mengubahnya jika sudah punya waktu ) Dan maaf updatenya agak lambat. Tenang saja bagiku juga begitu GA itu sama dengan NxM forever! aku akan mencoba unt update secepat yang aku bisa^^

Amai Yuki : Thx sudah add favo ^^