Author's note: really really sorry for the delay. No rambling, please enjoy and thank you for the awesome reviews!
Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling. I only own the storyline, Vippra and of course, crazy idea.
Warning(s): SLASH, AU/AR, OOC, typo, BEWARE with Time Paradoxes, Manipulative but not Evil!Dumbledore. Some dialogues in this chapter between Dumbledore and Voldemort taken from Harry Potter and the Order of the Phoenix (Battle of the Departement of Mysteries).
Pairing: Tom Marvolo Riddle Jr. / Harry James Potter and others
:::
Chapter 25: Horcruxes and Another Visitor
Oktober 1995
Shrieking Shack sudah terkenal di seluruh komunitas dunia sihir sebagai tempat paling menakutkan dan berhantu di Inggris. Setiap malam bulan purnama selalu terdengar suara-suara aneh dari bangunan tidak berpenghuni itu. Padahal fakta sebenarnya, pondok tersebut adalah tempat bagi Remus Lupin bersembunyi di masa transformasinya. Bukan suatu kebetulan jika Shrieking Shack dibangun bertepatan ketika Remus Lupin akan masuk ke Hogwarts.
Albus Dumbledore muncul tiba-tiba di tengah udara kosong tepat di garis terluar wilayah Shrieking Shack. Tidak ada satu pun orang yang bisa memasuki tempat ini dari luar. Hanya bisa masuk melewati jalan rahasia di bawah Whomping Willow. Namun menilik bahwa ialah yang menciptakan penghalang tersebut, tentu mudah baginya untuk menghilangkan sejenak penghalang yang mengelilingi pondok itu dan memungkinkannya memasuki tempat tersebut sesuai dengan keinginannya.
Sang Kepala Sekolah itu mengayunkan tongkatnya sebelum berjalan memasuki halaman Shrieking Shack. Tidak terlihat sedikit pun ia kedinginan di tengah udara musim gugur yang sebentar lagi akan memasuki musim semi. Tidak sekalipun ia mengalihkan perhatiannya ke sekeliling. Kedua iris biru cerahnya terpaku ke bangunan terbengkalai di depannya. Ketika sampai di dalam, Albus hanya diam dan menunggu di beberapa meter dari pintu masuk; seolah-olah ada seseorang yang akan datang ke tempat ini.
Namun siapa orang itu? Siapa yang tengah ditunggunya di malam Halloween seperti saat ini?
"—Ah, aku tidak pernah menyangka kalau kau akan benar-benar datang ke sini." Dumbledore mengerling ke arah sosok berjubah hitam yang beberapa saat yang lalu muncul di depan pintu Shrieking Shack. Ia bisa melihat kedua iris merah menatap tajam kepadanya; seolah-olah ingin membunuhnya hanya dengan sebuah pandangan. Dumbledore tersenyum. "Sudah lama sekali aku tidak melihatmu, Tom."
"Jangan memanggilku dengan nama Muggle itu lagi, Dumbledore." Lord Voldemort—Tom Riddle, Dia-yang-Namanya-Tidak-Boleh-Disebut, atau bagaimanapun orang lain memberikan nama padanya—mengumpat di balik tudung yang menutupi kepalanya. Sang Pangeran Kegelapan itu berjalan memasuki Shrieking Shack, berhenti di depan sebuah bekas perapian yang tertutup debu tebal. "Aku sudah menanggalan nama itu sejak menjadi Pangeran Kegelapan."
Mata biru cerah Albus Dumbledore berkilat aneh. "Tapi di mataku kau tetaplah Tom Riddle yang kukenal, Tom. Seorang anak laki-laki jenius dan kesepian yang mencoba melamar menjadi seorang pengajar di Hogwarts. Kau tetaplah seperti itu di mataku walau apapun bentukmu sekarang."
Voldemort mendesis marah kepada sosok pria tua tidak jauh darinya. Jemari tangan pucatnya memainkan tongkat sihir terbuat dari yew di tangannya; seperti ingin berniat melayangkan beberapa kutukan kepada Dumbledore. Namun ia tahu kalau apa yang akan dilakukannya tidak akan membawa hasil yang baik untuknya; membuat sang Pangeran Kegelapan itu mencoba untuk menenangkan amarahnya kepada Dumbledore.
Suara gerakan tiba-tiba segera membuat Voldemort memfokuskan perhatiannya ke arah Dumbledore; hanya diam ketika menyadari kalau pria tua itu tengah menyandarkan tubuhnya pada salah satu dinding kayu yang beberapa bagiannya telah berlubang; memainkan helaian jenggot keperakan sebelum menatap ke arahnya.
"Kurasa ini adalah pertemuan pertama kita setelah sekian lama. Bukan begitu, Tom?" tanya Dumbledore. Ia tidak mengacuhkan desis pelan yang dilontarkan Voldemort sebagai jawaban.
"Lalu? Kau tidak berniat untuk segera membunuhku, Dumbledore?" ejek Voldemort sembari memainkan tongkat sihir di tangannya. "Terdengar sangat brutal, bukankah begitu?"
Kedua mata Dumbledore kembali berkilat aneh. "Kita berdua sangat tahu masih ada jalan lain untuk menghancurkan seorang manusia, Tom. Hanya mengambil hidupmu tidak akan memuaskanku, aku akui."
"Tidak ada yang lebih buruk dibanding kematian, Dumbledore!" Voldemort berseru marah. Tanpa sadar menggenggam erat tongkat sihirnya. Tidak ada yang tahu mengapa mereka membicarakan hal seperti ini. Membicarakan mengenai kematian yang sudah berulang kali ia hindari. Lagi dan lagi akan dilakukannya bahkan sampai ia tidak bisa merasakan apapun mengenai dirinya. Bahkan sampai ia tidak mengenal siapa itu 'Tom Riddle' sekalipun.
Entah mengapa, Dumbledore masih bisa menyunggingkan senyum di wajah tuanya. "Kau cukup salah. Memang, kegagalanmu untuk memahami bahwa ada hal-hal lebih buruk daripada kematian selalu menjadi kelemahan terbesarmu. Bukan begitu, Tom? Kau terlalu takut akan kematianmu sendiri." Dumbledore mengerling ke arah Pangeran Kegelapan. Tanpa melihat pun dirinya tahu bagaimana pandangan pria itu terhadapnya. Bagaimanapun juga, ia baru saja menekan sebuah tombol yang mampu membuat Voldemort kehilangan kontrol terhadap dirinya sendiri. Membuat seolah-olah dirinya baru saja menaburkan garam pada sebuah luka yang masih menganga lebar. "Kau sama sekali tidak berubah. Takut akan sesuatu yang tidak bisa dihindari setiap makhluk di dunia ini."
"Tutup mulutmu, Pria Tua!" hardik Voldemort. Kedua iris merahnya berkilat marah dengan tongkat sihir teracung ke arah Dumbledore. "Aku datang ke sini bukan untuk mendengar kau menguliahiku mengenai apa yang telah kupilih. Kau sudah tidak bisa berbuat apapun."
Dumbledore menggeleng. "Tidak. Sekali lagi kau salah. Aku masih bisa melakukan sesuatu. Termasuk menyelamatkan orang yang pernah menjadi bagian hidupmu. Bukankah itu yang kauinginkan sehingga menyuruh Severus datang kepadaku, bukan? Aku menduga kau pasti sudah sangat putus asa, Tom. Sangat putus asanya sampai kau memerlukan bantuanku."
Tidak tahu mengapa, untuk kali ini sang Pangeran Kegelapan tidak membantah; hanya bisa menggeretakkan giginya sementara tidak henti-hentinya menatap tajam sosok kepala sekolah Hogwarts tersebut. Mungkin memang benar apa yang dikatakan Dumbledore. Ia sedang putus asa dan pria itulah satu-satunya yang bisa membantunya sekarang. Bukan Severus Snape ataupun Lucius Malfoy.
"Dan jika kau benar, apa kau akan membantuku, huh?"
Dumbledore kembali tersenyum. Terlihat jelas ada maksud tersembunyi di balik senyum yang ia perlihatkan sekarang. "Tentu," ujarnya. "Aku sudah tahu apa yang ingin kau minta dariku. Tapi sebelum itu, ada hal yang harus kita kumpulkan terlebih dahulu."
"Apa yang kauinginkan?" Voldemort dengan cepat bertanya; tanpa menyadari kalau pertanyaan itu akan mempengaruhi masa depannya. Kedua iris merah miliknya segera melebar begitu Dumbledore mengatakan apa yang harus dikumpulkannya. Apa pria tua itu sedang bercanda? Voldemort membatin. Bagaimana mungkin pria itu tahu?
Bagaimana mungkin Dumbledore tahu kalau dirinya mempunyai Horcrux dan menginginkannya untuk mengumpulkan semua belahan jiwanya?
( )
Juni 1943
"... Horcrux," Tom berbisik. "Kita hanya perlu membuat dua Horcrux. Masing-masing untuk kita dan kau tidak perlu memikirkan tentang Kematian lagi. Kau dengar? Hidup abadi bukanlah suatu hal yang mustahil."
Harry menatap tidak percaya dengan kedua iris hijau cemerlangnya yang melebar sempurna. Berkali-kali ia mencoba menangkap dan memproses apa yang baru saja dikatakan Tom kepadanya. Berkali-kali pula ia menganggap kalau apa yang dikatakan pemuda berambut gelap itu adalah sebuah omong kosong? Horcrux? Hidup abadi? Apa Tom sedang bercanda?
"Hidup abadi maksudmu, huh?" Harry berbisik. "Kau pasti sedang bercanda. Tidak ada makhluk yang bisa hidup abadi di dunia ini, Tom?"
Harry melihat Tom memutar bosan kedua matanya. "Tentu saja hal itu sangat mungkin. Apa kau lupa kalau vampire adalah contoh makhluk yang bisa hidup abadi, huh? Penyihir pun bisa melakukannya dan aku tahu caranya. Aku hanya perlu..."
Namun Tom tidak menyelesaikan kalimatnya. Apa yang diperlukan untuk membuat Horcrux? Tom ingat perkataan Slughorn. Ia ingat kalau pria itu mengatakan bahwa ia memerlukan jiwa lain untuk membelah jiwanya dan menyimpannya dalam sebuah wadah. Ya. Tom harus membunuh seseorang agar bisa menciptakan sebuah Horcrux. Akan tetapi, apa Evans akan mau menerima konsekuensinya? Terlebih jika dirinya harus membunuh seseorang.
"... Apa? Apa yang harus kauperlukan?" Evans bertanya; membuat Tom tersadar dan kembali menatap pemuda di hadapannya. "Lagi pula, apa itu Horcrux? Aku tidak pernah mendengar sesuatu seperti itu sebelumnya."
Tanpa sadar, Tom menurunkan tangannya yang sejak tadi menempel pada wajah Evans. Sang Pewaris Slytherin itu berjalan menuju tempat tidurnya, duduk di sudut tempat tidur dengan pandangan yang mengarah pada lantai kamar asramanya. Helaan napas terdengar dari pemuda itu sebelum ia mendongakkan kepalanya. Tidak. Ia tidak boleh mundur sekarang. Di saat dirinya mengetahui bagaimana cara mengelabui kematian, ia tidak ingin mundur semudah ini. Tidak apa-apa, pikirnya. Ia tidak peduli jika Evans menganggapnya adalah orang yang tidak berperasaan jika ingin hidup dengan mengambil nyawa orang lain. Asalkan mereka bisa hidup, apapun akan dilakukannya.
Dan Tom pun menceritakan apa yang telah dibicarakannya dengan Slughorn sebelum ini. Ia bisa melihat kedua pupil Harry melebar mendengarkan setiap penjelasan yang keluar di bibirnya. Ia juga bisa melihat tubuh pemuda itu menegang dengan tatapan horor tertuju kepadanya.
"... Kau benar-benar sudah gila, Tom!" teriak Harry tanpa memedulikan jika seseorang bisa mendengar teriakannya dari luar. Ya. Harry menganggap Tom sudah gila dan tidak waras. Ia masih tidak percaya jika Tom memberitahunya hal mengerikan semacam itu. "Kau ingin hidup abadi dengan... dengan nyawa orang lain? Apa kau sadar jika kau bisa menjadi seorang pembunuh? Tidak! Aku tidak akan pernah mau melakukan apa yang sedang kaurencanakan! Merlin, kau pasti sudah benar-benar gila!"
"Tapi ini adalah satu-satunya cara agar kau tidak mati, Evans!" Tom berteriak tidak kalah kerasnya. "Kau tidak perlu mati hanya karena alasan seperti itu! Apa kau tidak menyayangi nyawamu sendiri, huh? Kaulah yang sudah gila dan tidak waras."
Harry mendesis marah. "Tidak dengan jalan seperti itu, Tom. I'm not a bloody murderer!"
Tanpa mengatakan apapun lagi kepada Tom, Harry membalikkan tubuh dan berlari meninggalkan kamar yang ditempatinya bersama Tom. Ia juga tidak mengacuhkan panggilan dari Tom yang ditujukan untuknya. Harry memutuskan untuk tidak memedulikan Tom sampai pemuda itu benar-benar bisa berpikir dengan jernih. Seberapa inginnya Harry untuk hidup bersama Tom, ia tidak akan menerima tawaran gila pemuda itu. Tidak jika sepanjang hidupnya ia harus dihantui oleh bayang-bayang bahwa ia pernah membunuh seseorang untuk hidup abadi.
"... Apa yang sebenarnya ada di pikiranmu, Tom?"
Tom mengerling sekilas ke arah Vippra yang tiba-tiba bersuara setelah kepergian Evans beberapa saat yang lalu. Pemuda berambut gelap itu mendesah pelan sebelum menghempaskan tubuhnya pada tempat tidur. Pandangan pemuda itu tertuju kepada langit-langit batu di atas kepalanya. "Jangan membicarakan apa yang baru saja kau lihat denganku, Vippra," desisnya. "Tidak sekarang."
"Lalu kapan? Sampai kau melakukan sesuatu yang bodoh?" tungkas ular betina yang sejak tadi masih menggelung diri di atas bantal. Ular betina itu tidak sengaja terbangun setelah mendengar pembicaraan Harry dan Tom; membuat Vippra itu mendengarkan. "Aku setuju dengan Harry. Kau memang sudah gila. Hidup abadi? Apa kau serius dengan hal itu?"
"Kapan aku tidak pernah serius dengan apapun yang kulakukan, huh?"
Vippra kembali mendesis. "Tapi dengan membunuh? Aku tahu kalau ada sesuatu di dalam dirimu yang tidak baik. Namun aku tidak tahu jika sisi dirimu ini sangat mengerikan seperti itu."
Tom tidak bisa mencegah dirinya untuk tidak tertawa. "Aku bisa melakukan apapun demi mencapai tujuanku, Vippra. Termasuk jika harus membunuh sekalipun."
Vippra tidak menanggapi kata-katanya. Tom bersyukur akan hal itu. Saat ini ia sedang tidak ingin berdebat dengan hewan peliharaannya mengenai perihal Horcrux. Sampai sekarang ia tidak mengerti mengapa Evans menolak tawarannya. Bukankah dengan ini mereka tidak perlu memikirkan mengenai Kematian yang selalu mengikuti langkah mereka? Dengan ini ia tidak perlu kehilangan Evans. Ia tidak perlu pemuda itu merelakan nyawa untuk menolongnya. Bukankah tidak ada yang dirugikan? Mereka hanya perlu membunuh dua orang saja. Tidak perlu lebih dari itu. Tom sungguh tidak mengerti mengapa Evans tidak mau bekerja sama dengannya. Apakah pemuda itu tidak ingin bersamanya?
"Sialan!" umpat Tom sembari memukul tempat tidurnya. Mungkin sampai kapanpun ia tidak akan mengerti dengan apa yang ada di pikiran Evans.
( )
Harry sungguh tidak menyadari seberapa jauh kakinya sudah membawanya pergi dari kamar asramanya. Hanya ingin berada di tempat yang jauh dari Tom untuk sementara adalah hal yang dipikirkannya saat itu sampai ia tidak menyadari kalau kakinya sudah membawanya ke ujung tangga di Menara Astronomi. Desah napas pemuda berambut hitam berantakan itu memburu. Ia menyandarkan tubuhnya pada dinding yang dingin dan mulai mengatur napasnya. Memejamkan mata ketika paru-parunya mengerang protes. Dan begitu Harry merasakan detak jantungnya sedikit mereda, tubuhnya merosot sehingga membuatnya terduduk pada lantai batu yang dingin. Ia tidak memedulikan keringat yang sekarang membasahi seragam sekolahnya.
'Apa yang harus kulakukan?' batin Harry menyuarakan pertanyaan itu di kepalanya. Apa yang harus dilakukannya untuk mencegah Tom membuat Horcrux? Harry tahu, berapa kalipun ia mengatakan tidak ingin membuat Horcrux, Tom tidak akan langsung menuruti perkataannya. Tom adalah orang yang keras kepala. Apapun yang diinginkan Tom, pemuda itu akan melakukan apapun agar hal itu terwujud. Tom tidak peduli konsekuensi apa yang harus ditanggung nantinya. Harry sangat mengenal Tom Riddle yang seperti itu.
Sang Seeker Slytherin itu mendesah pelan. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Mengatakan kepada Dumbledore mengenai apa yang direncanakan Tom? Tetapi bukankah pengajar Transfigurasi itu tidak sedang berada di Hogwarts tiga minggu belakangan ini? Lalu siapa yang bisa membantunya? Ia tidak ingin Tom sampai melakukan hal buruk semacam membunuh seperti apa yang diceritakan pemuda itu. Tidak. Harry tidak akan membiarkan Tom sampai berubah menjadi Voldemort.
"... Whoa! Evans! Apa yang kaulakukan di sini?"
Kepala pemuda beriris hijau cemerlang yang tadinya tertunduk perlahan terangkat. Salah satu alisnya terangkat ketika menyadari keberadaan sosok Orion Black yang menjulang tinggi di sampingnya dan seperti baru saja keluarg dari Menara Astronomi. Pemuda berambut hitam kelam itu sama terkejutnya dengannya; tidak menyangka akan melihat teman asramanya di tempat ini.
"Kau sendiri? Apa yang kaulakukan di sini di... jam seperti ini, Orion?" tanya Harry. Gerakan di belakang Orion membuat Harry mengintip dari balik kaki pemuda yang dua tahun lebih muda darinya. Ia kembali menaikkan sebelah alis menyadari siapa sosok di belakang Orion yang baru saja keluar dari balik pintu Menara Astronomi. "Dan... apa yang kaulakukan bersama Walburga di tempat seperti ini, Orion?"
Pertanyaan yang terkesan polos dan datar dari Harry membuat semburat merah muncul di wajah kedua orang itu. Harry hanya bisa memutar bosan kedua matanya. Tidak. Ia tidak ingin mendengar apapun alasan yang dikemukakan kedua orang itu.
"Lupakan. Kalian tidak perlu menjelaskan apapun kepadaku," ujar Harry dengan cepat. Ia bisa mendengar decak pelan dari Walburga sebelum gadis itu menyilangkan kedua tangan di depan dada dengan pandangan yang mengarah padanya. Entah mengapa, kening gadis keturunan keluarga Black itu berkerut. "Apa ada sesuatu di wajahku, huh?"
Walburga menggelengkan kepalanya. "Tidak," ujarnya sembari membersihkan debu yang menempel di bahu jubah penyihirnya. "Aku hanya heran tidak melihat kau bersama Riddle apalagi di saat seperti ini. Apa yang terjadi? Jangan katakan padaku kalau kalian bertengkar lagi. Merlin, kalian bertengkar jauh lebih sering dibandingkan dengan kedua orang tuaku."
"Oh, just shut the hell up, Black," Harry mengerang dan mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya. Ia sungguh tidak ingin mendengar gadis itu membicarakan hubungannya dengan Tom. "Aku tidak perlu mendengarmu bergosip mengenai Tom dan aku."
"Jika kau tidak ingin mendengarnya, maka katakan mengapa kau berada di sini saat jam malam hampir berakhir," Walburga bersikeras. "Kau tidak punya alasan sampai berada jauh dari asrama Slytherin, kau tahu? Kecuali jika kau sedang merencanakan sesuatu. Come on! Tell me!"
Tatapan sinis dari Harry adalah balasan yang bisa diberikannya kepada gadis itu sebelum pemuda itu kembali mendesah pelan; tidak menyadari kalau Orion dan Walburga saling bertukar pandang atau sikapnya. Lewat sudut matanya, Harry mengerling ke arah kedua orang itu. Walburga dan Orion... selama dua-tiga tahun belakangan ini mereka memang cukup dekat kedua orang itu bahkan tidak berkomentar negatif mengenai hubungannya dengan Tom. Bagaimanapun juga, mereka berdua adalah saudara yang kekerabatannya cukup dekat dan sedang berkencan satu sama lain. Incest? Itulah komentar Harry ketika mendengar Orion yang berkencan dengan Walburga. Ia masih ingat seberapa keras gadis itu memukul kepalanya dengan buku ramuan.
Pikiran mengenai ingin menceritakan masalahnya sekarang melintas di kepala Harry. Tapi apakah hal itu adalah keputusan yang tepat? Bukankah jika ia mengatakan perihal Horcrux, ia perlu menceritakan semuanya dari awal? Mengenai siapa dirinya dan dari mana ia berasal? Helaan napas terdengar dari pemuda itu. Tidak. Ia tidak bisa menceritakan hal penting seperti ini kepada kedua orang itu. Bukan karena Harry tidak yakin kalau Orion dan Walburga bisa menjaga rahasia. Ia hanya tidak ingin ada yang terlibat dengan kekacauan yang terjadi di dalam hidupnya.
Dan lagi, jika mereka tahu mengenai Tom yang menjadi Pangeran Kegelapan di masa depan, ia tidak ingin Walburga memengaruhi Tom. Bagaimanapun juga, ia sudah tahu kalau di masa depan keluarga Black adalah salah satu pendukung Voldemort. Tidak. Itu adalah pilihan yang buruk; membuat Harry pada akhirnya hanya mendesah pelan dan mengatakan kalau tidak ada apapun yang terjadi. Setelah mengucapkan selamat malam kepada kedua orang itu, Harry kembali berjalan menuju asramanya.
Mungkin ia harus menunggu setelah Dumbledore kembali.
( )
Juli 1943
"—Sampai kapan kau akan mengabaikanku?"
Harry mengerling sekilas ke arah Tom dan melihat pemuda itu berdiri di samping tempat tidur dengan pakaian dan perlengkapan sekolah yang berserakan di sekitarnya. Harry tidak menjawab dan memilih untuk kembali berkutat dengan kegiatan apa yang dikerjakannya sebelum ini; dengan kesal memasukkan semua pakaian dan peralatan sekolahnya ke dalam peti dan berniat untuk pergi ke Aula Besar sebelum Tom mencengkeram lengannya. Desis kesakitan keluar dari bibir Seeker Slytherin itu ketika merasakan tubuhnya menghantam dinding batu yang dingin. Kedua matanya berkilat marah.
"Jangan mengabaikanku begitu saja, Evans," desis Tom; menahan tubuhnya untuk pergi dan membuat pemberontakannya ingin lepas dari kungkungan Tom menjadi sia-sia. "Aku tidak suka jika kau mengabaikanku seperti sekarang. Kau bahkan tidak bicara lagi padaku selama seminggu lebih. Apa yang sebenarnya kauinginkan, Evans?"
Harry menggeram. "Hanya ingin menyadarkanmu kalau tidak selamanya aku akan menuruti semua perkataanmu, Tom!" Harry berteriak sembari berusaha melepaskan dirinya.
Rahang sang Pewaris Slytherin itu mengeras. Menggeretakkan giginya menyadari apa maksud dari kata-kata Evans kepadanya. Sungguh, tidak bisakah pemuda itu menerima tawarannya untuk membuat sebuah Horcrux dan bukannya bersikap keras kepala seperti sekarang? Ia sungguh tidak suka jika Evans mendiamkan dirinya selama beberapa hari terakhir. Hell! Pemuda itu bahkan sepertinya enggan untuk melirik dan menatapnya. Tom tidak suka. Ia tidak suka dengan sikap Evans yang seperti ini.
"Aku berusaha menyelamatkanmu, kau tahu?"
"Tapi tidak dengan cara seperti ini, Tom!" Nada suara Harry kembali meninggi. Ia sudah lelah dengan semua pembicaraan mengenai Horcrux. Ia sudah lelah memikirkan kalau mereka harus membunuh seseorang untuk membuat benda terkutuk itu. "Mengapa kau tidak membiarkan saja aku mati dengan tenang dan jalani hidupmu? Aku sudah lelah dengan semua pembicaraan ini! Semua orang suatu saat nanti akan menghadapi kematian mereka sendiri. Tidak ada yang bisa kita lakukan. Dammit!"
"Sampai kapanpun, aku tidak akan mengerah. Tidak. Akan. Pernah! Kau dengar aku, Evans! Aku tidak akan pernah membiarkanmu mati walau aku harus melumuri dan mengotori tanganku dengan membunuh seseorang. Tidak jika aku harus kehilanganmu."
Jika saja Tom bisa melihat jelas arti di balik tatapan yang diberikan Evans kepadanya, ia akan melihat bagaimana pemuda itu terlihat terluka. Harry tidak pernah menginginkan hal seperti ini akan terjadi. Ia tidak pernah memikirkan kalau Tom akan membunuh untuk menolongnya. Tidak adakah yang bisa dilakukannya untuk merubah keputusan pemuda itu? Padahal... padahal Harry sangat ingin menghabiskan waktunya yang tersisa bersama Tom; bukan terlibat dalam pembicaraan berat yang sepertinya tidak akan berakhir baik. Tidak ingatkan Tom kalau waktunya yang masih tersisa hanya tinggal beberapa bulan?
Pemuda berambut hitam berantakan itu menghela napas panjang dan dengan perlahan mendorong tubuh pemuda di hadapannya. Beruntung jika saat ini Tom tidak melawan; memberikan jarak di antara tubuh mereka. Harry menyandarkan tubuhnya pada dinding batu. Pandangannya terpaku sejenak ke arah Tom sebelum membuang muka ke samping.
"Keputusanku tidak akan pernah berubah," bisik Harry yang masih menolak menatap pemuda berambut gelap itu. "Aku tidak akan pernah menyetujui usulmu untuk membuat Horcrux bahkan jika kau memaksanya kepadaku. Just leave it, Tom. Biarkan aku menerima takdirku seperti seharusnya."
Dan sama seperti pembicaraan mereka seminggu yang lalu, Harry meninggalkan Tom tanpa mengucapkan apapun lagi. Ia mengabaikan beberapa murid Hogwarts yang dilewatinya saat berjalan menuju Aula Besar. Ia juga tidak mengacuhkan sapaan yang diberikan Eileen padanya; membuat gadis itu hanya menatapnya dengan bingung. Sempat sekali Harry melihat Orion dan Walburga mencuri pandang dari seberang meja. Namun Harry tidak mengatakan apapun; lebih memilih untuk memfokuskan perhatiannya ke arah meja panjang di mana hampir semua pengajar Hogwarts sudah menempati kursi mereka masing-masing. Ya. Hampir semua kecuali Dumbledore yang tidak terlihat di manapun. Ia bahkan tidak menyadari kedatangan Tom ke Aula Besar sebelum mendudukkan diri di ujung meja asrama Slytherin.
Upacara penutupan tahun ajaran berlangsung dengan cepat karena Harry tidak terlalu memfokuskan perhatiannya kepada acara tersebut. Telinganya hanya setengah menangkap pidato yang diberikan kepala sekolah Hogwarts yang mengatakan kalau nilai O.W.L murid tahun kelima akan dikirimkan saat pertengahan bulan Agustus. Harry tidak peduli dengan semua itu. Sungguh. Ia bahkan memikirkan kalau dirinya tidak akan kembali ke Hogwarts untuk tahun keenamnya. Bukankah ia akan mati? Di manapun ia berada, nasibnya sudah ditetapkan.
"—Mr. Evans! Hei, Mr. Evans!"
Harry dengan malas membalikkan tubuhnya yang ketika itu berjalan di antara lautan murid-murid Hogwarts yang ingin kembali ke asrama mereka untuk mengambil barang-barang sebelum Hogwarts Express berangkat satu setengah jam lagi. Keningnya berkerut mendapati Profesor Galatea Merrythought melambaikan tangan sambil berteriak memanggilnya.
"Kau berjalan seperti tidak memedulikan sekitarmu, Mr. Evans," ujar pengajar Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam itu setelah sampai di hadapannya. "Kepala Sekolah memintamu untuk datang ke kantornya sekarang. Aku tidak tahu apa yang ingin dibicarakan denganmu di saat seperti ini. aku hanya diminta untuk mencarimu. Kau akan tahu begitu tiba di sana."
"Thank you, Professor," ujar Harry sepeninggal Profesor Merrythought. Ia yang tidak mengerti mengapa Profesor Dippet tiba-tiba memanggilnya hanya bisa menuruti perkataan wanita itu. Dalam diam berjalan ke arah sebaliknya dari asrama Sytherin. Sorot heran terlihat jelas di wajah Harry ketika mendapati Tom yang berdiri di depan patung gargoyle—jalan masuk menuju kantor kepala sekolah. Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Tom juga terlihat tidak ingin mengatakan sesuatu kepadanya. Harry hanya sempat melihat kalau pemuda itu masih kesal dengan pembicaraan terakhir yang mereka lakukan sebelum upacara penutupan. Harry mendesah pelan; dalam diam mengikuti ke mana Tom berjalan. Sempat terdiam di depan sebuah pintu kayu berwarna cokelat lumpur sementara menunggu kepala sekolah membukakan pintu.
"Ah! Mr. Riddle! Mr. Evans! Aku sudah menunggu kalian. Masuklah," kata Profesor Dippet dari balik meja kepala sekolah. Pria itu melayangkan pandangan ke arah sosok yang duduk di depannya sebelum tersenyum. "Kau beruntung kedua orang yang kau cari belum berangkat, Mr. Riddle. Hampir saja kau tidak akan bisa bertemu mereka."
Tanpa sadar, Harry sudah bertukar pandang bingung ke arah Tom. Pemuda itu hanya menaikkan salah satu alisnya atas perkataan kepala sekolah Hogwarts. Ada yang mencari mereka? Siapa? Tidakkah ia salah mendengar kalau Profesor Dippet baru saja menyebut... Mr. Riddle?
Beruntung, pertanyaan di kepala Harry segera terjawab begitu sosok yang diajak berbicara oleh pria tua itu menegakkan dan membalikkan tubuh sehingga Harry bisa melihat jelas sosok tersebut. Kedua iris hijaunya membulat sempurna karena terkejut; tanpa sadar menahan napasnya sendiri ketika pandangannya bertemu sepasang iris merah dari pria berpakaian serba hitam itu.
Ia tidak mengerti. Sungguh. Mengapa orang itu ada di sini?
"Selamat siang, Harry, Tom," ujar pria itu. Seringai tipis tersungging di wajah pucat mirip ular tersebut. Ini pasti hanya sebuah mimpi. Ya. Hanya mimpi.
Voldemort tidak mungkin berada di masa ini dan sedang berdiri di kantor kepala sekolah Hogwarts dengan seringai terpatri di wajah pucat itu.
To be continued
( )
Review?
