"Aku berpikir mungkin kalian bisa membantuku ... " ujar Isaac pelan.

"Oh, ya, ampun, kau basah kuyup!" kataku setengah memekik dengan cemas. "Apa yang terjadi?! Oh—oh, Scott, tolong ambil handuk dan atau selimut bersih, aku akan buat minuman hangat!"

Sebelum Isaac mengatakan apa-apa lagi, atau bahkan sebelum Scott mulai berbicara, aku sudah keluar dari kamar duluan. Aku menuruni tangga dengan cepat dan menuju dapur. Langsung saja aku memasak air, membuat secangkir teh manis hangat. Setelah selesai, dengan cepat dan hati-hati aku menaiki tangga, masuk lagi ke kamar Scott.

Isaac sudah mengenakan handuk di punggungnya dan duduk di lantai, dengan Scott di sebelahnya berhiaskan wajah bingung. Aku langsung duduk di lantai juga dan menyerahkan cangkir teh itu pada Isaac yang menerimanya dengan tangan yang agak bergetar—kupikir karena menggigil.

"Apa yang terjadi?" tanyaku lembut dengan wajah cemas setelah Isaac menyesap tehnya.

"Derek mengusirku, ia menyuruhku keluar dari rumahnya, bahkan ia sudah mengepak barang-barangku waktu aku kembali ke tempatnya tadi," gumam Isaac dengan suara agak bergetar.

"Apa?" tanya Scott. "Kenapa tiba-tiba dia menyuruhmu pergi?"

"Aku menanyakan yang sama padanya, tapi dia tidak mau menjawabnya," ujar Isaac. "Waktu kutanya kalau aku telah melakukan kesalahan, ia malah bilang bahwa aku akan melakukan kesalahan jika aku tidak segera pergi, setelahnya ia melempar gelas beling padaku."

"D-Derek melakukan itu padamu?" tanyaku memastikan.

Isaac mengangguk. Aku menghela nafas berat. Setelahnya aku langsung keluar dengan cepat dari kamar Scott. Aku harus bicara dengan sang Alpha satu itu.

.

.

Disclaimer: Jeff Davis
Warning: Tidak menjanjikan Lime / Lemon yang baik, rated M hanya lebih kepada bahasa yang agak menjurus. Berusaha mengikuti alur canon. Agak Mary-sue. Seperti sinetron.

.

The Sister
Chapter 25

by Fei Mei

.

.

"Kau benar-benar melempar beling pada Isaac sampai pecah?" tanyaku memastikan, dan Derek menghela lalu mengangguk. "Astaga, kau lupa kalau Isaac menerima gigitanmu itu karena ia mendapat perlakuan begitu dari ayahnya?!"

"Kalau aku tidak melakukannya, dia tidak akan pergi," jawab Derek tanpa melihat kepadaku.

"Kenapa kau ingin dia keluar dari rumahmu? Apa salahnya? Dan—astaga, Derek, di luar hujan lebat tadi, dan ia muncul di hadapanku dan Scott dalam kondisi basah kuyup dan menggigil!"

Derek menghela nafas berat lalu menggeleng. "Pulanglah, Val," kata Derek dengan sedikit mendesah, kali ini matanya menemui mataku.

"Dan sekarang kau mengusirku?" tanyaku pelan. Aku tidak tahu kenapa, tapi bola mataku jadi terasa panas dan air mataku mengalir perlahan.

"Val, sebenarnya aku berpikir mungkin kita jangan berhubungan lagi," ujarnya sambil menatapku dengan mata yang sedih.

Lalu aku termegap kecil. "Kau ingin putus? Derek—kau tidak hanya mengusir Isaac, tapi di hari yang sama kau memutuskan aku?"

"Val—"

"—Baiklah," kataku sambil air mataku terus mengalir. "Kita putus!" Dan aku berlari keluar, menghiraukan panggilan Derek.

Aku pergi dan pulang dari rumah Derek dengan taksi. Sebenarnya kalau langit cerah tanpa hujan, aku bisa naik sepeda Scott. Tapi tidak yakin jas hujan bisa cukup melindungiku kalau aku mengayuh sepeda menerobos hujan lebat. Jadi waktu aku sampai di rumah Derek, aku meminta supir taksi untuk tunggu sebentar. Keluar dari rumah Derek, aku naik taksi yang sama lagi dan pulang ke rumah.

Begitu turun dari taksi, aku bisa langsung melihat Scott ada di beranda depan rumah seorang diri. Wajahnya terlihat begitu cemas. Ia agak terkejut melihatku pulang sambil menangis, jadi Scott langsung memelukku dengan erat tanpa memedulikan tubuhku yang agak basah karena hujan.

Scott membantuku masuk ke dalam kamarku. Kami duduk bersebelahan di tepi ranjang. Ia menarik kepalaku agar bersandar di pundaknya, kemudian kakakku itu mengelus lenganku dan mencium puncak kepalaku.

"Apa yang terjadi?" tanyanya lembut.

Aku meneguk ludah, mulai mengeluarkan suara sambil berusaha agar suaraku tidak bergetar dan gagap. "A-aku, eh, Derek memutuskan aku."

"Ap—APA?!" pekik Scott terkejut. "Dia—Derek putusin kamu?! Apa dia gila?!"

Kuangkat pelan bahuku. "Dia bilang, mungkin kita jangan berhubungan lagi."

"Dia minta kuhajar," desis Scott. "Val, jangan menangis lagi. Aku akan pergi menghajar Derek."

Dengan cepat aku menggeleng dan memegang lengannya. "Tidak, tidak, tidak usah. Aku baik-baik saja."

"Val, wajahmu terlihat begitu berantakan, itu tidak bisa disebut 'baik-baik saja'," ujarnya.

"Tapi aku memang—"

"Val, kau masih menangis."

Aku menghela. "A-aku tidak mengerti, Scott. Air mata ini tidak mau berhenti mengalir sejak di tempat Derek tadi. D-dadaku terasa sakit, aku tidak paham apa yang terjadi." Scott tidak berkomentar. Ia tidak mengatakan apa-apa. Dengan bingung aku mendongakkan kepalaku, melihat ke wajahnya. Kulihat Scott sedang memerhatikanku sambil menyerngit. "Apa?" tanyaku akhirnya.

"Kau tidak sadar?" tanya Scott sambil terus menyerngit.

"Sadar apa?" tanyaku dengan bingung.

"Val, kau sudah mulai suka pada Derek," ucap Scott dengan perlahan.

Kubelalakkan kedua mataku. "Ap-apa? T-tidak, tidak begitu. A-aku peduli padanya, sama seperti aku peduli padamu, pada Stiles, Lydia, Allison, kalian semua. Aku tidak menyukai Derek—maksudku, aku bukan benci dia, tapi—"

"—Val, aku tidak bilang kalau kau suka Derek, kubilang tadi bahwa kau mulai suka pada Derek. Itu sebabnya kau bisa merasa begitu sedih saat Derek memutuskanmu," kata Scott. "Wow, jadi metode pacaran itu berhasil ... "

"Scott!"

"Oh, maaf, tapi, yah, aku akan tetap menghajarnya."

.

.

Sejak hari itu, aku tidak berhubungan dengan Derek sama sekali. Aku tidak mengirim pesan atau menelepon pemuda itu. Dan sepertinya ia pun juga tidak tertarik untuk menghubungiku duluan, atau setidaknya datang menghampiriku. Scott sudah memberitahu Stiles tentang aku yang putus dengan Derek. Kakakku bilang ia harus mengambil paksa tongkat bisbol dari tangan Stiles karena putra Sheriff itu tadinya ingin melompat keluar rumah untuk menghajar Derek dengan pemukul itu.

Selama beberapa hari ini kusadari Scott dan Stiles berusaha sebisa mungkin tidak membicarakan soal hal yang berkaitan tentang supranatural, terutama menyebut sesuatu yang berhubungan dengan Derek. Sesungguhnya, beberapa hari ini aku merasa canggung ada di antara mereka berdua—mereka terlalu berpikir ini-itu bisa membuatku langsung sedih dan menangis lagi. Yah, mereka hanya ingin menjaga perasaanku, sih.

Boneka panda dan Merry-Go-Round yang diberikan Derek padaku langsung diambil Scott keluar dari kamarku setelah aku cerita padanya kalau kami putus. Aku tidak tahu kakakku membawa kedua barang itu ke mana. Mungkin ia menyembunyikan keduanya di kamarnya sendiri, atau di tempat Stiles, atau di gudang. Tapi kuharap ia tidak membuangnya.

Sebisa mungkin aku tidak ingin bertemu dengan Allison, Lydia, apa lagi Boyd, Isaac, dan Cora. Boyd dan Isaac, jelas saja, keduanya Beta Derek. Melihat pada mereka berdua itu akan membuat melihat sedikit bayangan Derek. Bukan, aku bukannya akan sedih ingat tentangnya, aku malah akan kesal. Cora pun sama. Ia adik Derek, sudah masuk sekolah di SMA Beacon Hills ini. Wajahnya kurang lebih mirip dengan Derek. Uh, membuatku makin ingat tentangnya. Kalau Lydia, aku tidak mau kalau gadis itu tiba-tiba menanyakan kabar hubunganku dengan Derek. Bisa saja aku jawab bahwa kami sudah putus, tapi aku takut kalau aku akan emosional sekali menjawabnya. Sedangkan Allison, ia pasti akan bertanya macam-macam kenapa kami putus, lalu ujungnya ia akan menjadi seperti Scott dan Stiles. Dari pada aku menambah kecanggungan, lebih baik aku menghindari mereka.

Jadi akhirnya aku selalu pergi ke perpustakaan seorang diri. Setiap pagi sebelum bel tanda pelajaran mulai, saat jam kosong, di jam istirahat saat aku sudah makan, dan kalau aku menunggu Scott atau Stiles yang kena hukuman usai sekolah. Ini terasa seperti sebelum Scott kena gigit Peter. Tapi, yah, saat ini tentu aku tahu tentang sisi supranatural yang ada di Beacon Hills.

Yang paling membuatku kesal dengan insiden aku putus dengan Derek itu adalah ... yah, awalnya aku pacaran dengannya karena aku sedang sedih gara-gara cemburu lihat Stiles yang memimpikan tentang Lydia. Aku pacaran dengan Derek biar aku bisa melupakan Stiles. Tapi kini, karena aku putus dengan Derek, aku jadi sedih karena si Alpha satu itu. Orang yang bilang ingin membuatku bahagia, malah ia juga yang membuatku sedih seperti ini. Rasanya lebih sakit dibanding kalau mendengar Stiles cerita tentang Lydia, entah kenapa.

Saat ini aku sedang di perpustakaan. Scott dan Stiles sedang pergi bersama beberapa murid lain dan Pelatih Finstock sebagai perwakilan sekolah untuk bertemu dengan perwakilan sekolah lain. Sebenarnya acaranya besok, tapi karena tempatnya bukan di Beacon Hills, mereka harus berangkat dari hari ini.

Tidak ada kelas untuk hari ini dan besok, sebenarnya, tapi kemarin Ms Blake bilang ia ingin aku membantunya membuat soal kuis untuk kelas satu. Jadi tadi aku ikut keluar dengan Scott dan Stiles ke sekolah.

Omong-omong tentang kedua pemuda itu, Scott tidak membawa motornya ke sekolah, jadi kami menumpang jip Stiles, bersama dengan Isaac. Wajah kakakku terlihat pucat—amat sangat pucat seakan ia sedang menahan sakit. Tapi tiap kali aku bertanya ada apa dengannya, Scott hanya menggeleng dan berusaha tersenyum, lalu bilang kalau ia tidak kenapa-kenapa. Masalahnya, jelas wajahnya itu menunjukkan bahwa dirinya ada kenapa-kenapa!

Kembali soal Ms Blake, beberapa menit lalu aku sudah selesai berdiskusi dengannya mengenai soal-soal kuis untuk anak kelas satu, makanya sekarang aku ada di perpustakaan. Belum mau pulang, dan sesungguhnya aku tidak tahu bagaimana caranya pulang tanpa Scott dan Stiles. Ms Blake tadi bilang masih ada kerjaan lain di sekolah, jadi ia tidak langsung pulang—padahal kalau ia akan langsung pulang, aku ingin tanya kalau aku boleh menumpang mobilnya. Jadi, yah, mungkin aku akan naik taksi saja nanti.

Cahaya jingga mulai masuk menembus kaca jendela perpustakaan. Sudah sore, dan aku keasyikkan baca dari tadi. Aku langsung melihat ke jam dinding, dan mendapati sekarang sudah jam empat sore. Langsung saja aku mengembalikan buku-buku yang sudah kubaca, lalu mengambil buku yang ingin kupinjam. Setelah buku-buku itu diberi cap, aku pun keluar dari perpustakaan.

Baru saja aku melangkah sekitar lima langkah dari pintu perpustakaan, ponselku berbunyi. Kulihat layarnya dan ada tulisan bahwa Ms Blake meneleponku. Sambil agak menyerngit aku menerima telepon itu.

"Ya, Ms Blake?"

"McCall! Oh, syukurlah kau langsung menjawab teleponmu!" sahutnya dari seberang dengan suara super cemas.

"Ada apa?" tanyaku. Tiba-tiba jantung berdetak dengan cepat. Rasa cemas yang entah pada apa menyelinap masuk ke dalam hati dan pikiranku.

"Derek, pacarmu itu, dia membutuhkanmu—"

"Ms Blake, dia bukan pacarku," kataku sambil menambahkan kata 'lagi' dalam batinku.

"Derek memanggil-manggil namamu dari tadi!" raung Ms Blake. "Na-nama 'Val' yang kutahu itu hanya kau, jadi aku langsung meneleponmu begitu kami sampai di rumahnya. Derek terluka parah, McCall, darah hitam mengalir dari pinggangnya!"

"Darah hitam?"

"Ya! Ada garis-garis hitam, lukanya parah—oh, McCall, dia memanggil-manggil namamu dalam keadaan setengah sadar—dia membutuhkanmu!"

Kuteguk ludah susah payah dan akhirnya kubilang kalau aku akan segera ke sana. Kututup telepon, lalu setengah berlari membawa tas dan buku-bukuku keluar dari sekolah, berharap bisa langsung dapat taksi di depan nanti.

.

.

Dengan cemas aku membuka pintu rumah Derek dan langsung masuk ke dalam. Kulempar tas dan bukuku ke sofa, menghampiri Derek yang terbaring di atas meja, sedangkan Ms Blake ada di sampingnya.

"Apa yang terjadi padanya!?" tanyaku sambil melihat luka yang ada di sekitar pinggangnya. Ms Blake benar waktu di telepon. Ada darah hitam keluar dari luka itu—mengingatkanku tentang luka tembakan di lengan Derek karena ditembak Kate.

"Aku tidak tahu!" jawab Ms Blake. "Waktu aku masuk mobil di parkiran sekolah tadi, tiba-tiba ia datang dan menempelkan telapak tangannya yang berlumuran darah di kaca mobilku. Waktu aku turun dari mobil, dia sudah tersungkur sekarat. Tadinya aku ingin langsung membawanya ke rumah sakit, tapi ia menolak dan menyuruhku membawanya ke sini. Tidak ada perban atau apa pun di sini dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Lalu aku mendekatkan telingaku ke mulutnya gara-gara ia terus-terusan menggumamkan sesuatu, dan akhirnya aku tahu dia memanggilmu."

"Dia memang tidak membutuhkan perban dan semacamnya," gumamku pelan sambil menggenggam satu tangannya. Mataku membulat waktu kurasakan ia membalas genggaman tanganku.

Lalu kulihat mata Derek yang terpejam, kini perlahan terbuka dan ia melihat padaku. "Val ... " bisiknya.

"Aku di sini. Derek, aku ada di sini denganmu," ucapku lembut dengan wajah cemas.

Ms Blake berdeham kecil, membuatku menoleh padanya. "A-aku akan pergi. Maksudku, aku ada urusan di tempat lain, sebenarnya. Dan karena kau sudah datang, kupikir aku bisa tinggalkan dia."

Kuanggukkan kepalaku. "Terimakasih sudah mengantarnya kemari dan meneleponku, Ms Blake."

Ms Blake tersenyum kecil. Tapi sebelum ia benar-benar pergi, ia menggumamkan sesuatu dari balik punggungku. "Tidakkah ia terlalu tua untuk jadi pacarmu?"

Sambil menyerngit aku langsung menoleh ke belakang. "Apa?"

"Tidak, tidak apa-apa," katanya lalu pergi keluar dari pintu.

Sepeninggal Ms Blake, Derek berusaha untuk duduk di tempatnya. Kubantu ia sambil satu tanganku tetap ada di genggamannya.

"Val, kenapa kau ada di sini?" tanyanya sambil agak terengah-engah.

"Ms Blake meneleponku. Dia bilang kau memanggil-manggil namaku dari tadi," ujarku pelan.

Derek menggeleng. "Kau harus pergi, Val," desahnya.

"Tidak," ujarku, "aku tidak akan pergi meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini."

"Val, kita—"

"Pacar atau bukan, aku tetap akan di sini denganmu," tegasku dengan nada sedikit bergetar.

Kusadari bahwa aku sudah mulai menangis, kurasakan satu tangan besar Derek menghapus pelan air mataku yang mengalir di pipiku. Uh, kenapa aku jadi mudah menangis sekarang?

"Derek, kumohon jangan suruh aku pergi," kataku. "Aku tidak akan bertanya macam-macam tentang kenapa kau mengusir Isaac atau kenapa kau bilang agar kita tidak berhubungan lagi. Karena itu, biarkan aku tetap di sini."

Derek menghela dengan susah payah. "Aku mencintaimu, Val, aku masih sangat mencintaimu. Tapi ... orang-orang yang ada di sekitarku selalu tersakiti, dan aku tidak mau itu terjadi padamu, makanya aku berusaha membuatmu keluar dari hidupku walau ini sangat membuatku begitu menderita."

"Aku pernah tersakiti sebelumnya," gumamku. "Papaku pernah menamparku saat ia mabuk, membuat pipiku memar beberapa hari. Ia juga pernah, saat mabuk, bilang kalau aku bukan putrinya, bahwa dia bilang tidak pernah punya anak perempuan. Kau juga menyakitiku, dengan bilang mungkin kita jangan berhubungan lagi."

"Aku minta maaf untuk yang terakhir itu," kata Derek. "Tapi, Val, kau tidak pernah merasakan sakit yang berkali-kali lipat dari itu. Aku tidak mau kau merasakannya. Aku tidak mau kau terluka atau diculik lagi hanya gara-gara aku. Aku mencintaimu, Val, aku tidak mau kau mengalami hal-hal buruk karena aku."

Kucium lembut kening Derek, lalu kutemui mata hijau cemerlangnya. "Derek ... kau pernah bilang kalau kau ingin membuatku bahagia. Tapi yang ini ... ini tidak membuatku bahagia, ini membuatku lebih jauh dari merasa bahagia. Aku tahu aku masih belajar untuk menyukaimu, tapi aku sangat senang jika berada denganmu."

"Kau senang di sampingku?" tanyanya sambil agak tercengang.

Aku tersenyum. "Lebih dari yang kau bayangkan."

Senyum Derek perlahan mengembang. Lalu ia mencium lembut bibirku. Masih terus menciumku, tangannya menarik pinggangku untuk duduk di pangkuannya. Aku menurut. Pelan-pelan aku duduk di pangkuannya, melingkarkan kakiku di pinggangnya, hati-hati biar tidak kena lukanya.

Ciuman Derek semakin liar. Satu tangannya memelukku, satu tangan yang lain mulai meremas pantatku. Sesekali aku mendesah di mulutnya dan itu membuat tangannya semakin meremas gemas pantatku

Begitu mulutnya lepas dariku, kami berdua sama-sama terengah dan berusaha mendapatkan nafas. Ia tersenyum lembut. "Aku mencintaimu, Val."

"Katakan itu lagi," pintaku sambil tersenyum.

Derek terkekeh pelan. "Aku mencintaimu."

"Lagi," bisikku.

Ia menempelkan keningnya pada keningku. "Aku mencintaimu, Val ... kumohon terima aku lagi?"

"Hm?"

"Jadi pacarku lagi, Val, kumohon?"

"Ya," jawabku sambil menaruh kepalaku di pundaknya.

"Ya apa?" godanya.

"Ya, Derek, aku mau jadi pacarmu lagi."

Kurasakan kedua tangan Derek ada di pantatku. Ia meremas dengan gemas kedua bongkahan yang ada di bawah tubuhku itu. Aku mulai mendesah, lalu kucium bibir Derek. Ia membalas ciumanku, malah membawa ciuman kami lebih dalam lagi. Derek memasukkan lidahnya ke dalam mulutku. Dan entah bagaimana caranya, dia berhasil membuatku rebah di meja, dengan dia ada di atasku.

Kami terengah-engah lagi. Derek melepas ciumannya. Tangannya mengelus pelan pipiku. Matanya menatap wajahku dengan begitu lembut.

Mungkin Scott benar.

Mungkin aku sudah mulai suka pada Derek.

.

.

"D-Derek! Di situ! Oh—AAAAHH!" desahku keras.

Ia menyengir kecil sambil agak terengah. "Kau yang minta jari kedua, Val."

Ada dua jari di liang di bawah tubuhku. Awalnya hanya satu, dan itu dipakai Derek untuk menggodaku dari balik celana dalamku. Ketika celana dalamku mulai lembab, ia melepas celana dalam itu, tapi membiarkan rokku tetap di tempatnya. Ia memasukkan jari telunjuknya sambil mencium bibirku sesekali. Lalu Derek menawarkan satu jari lagi untuk masuk ke dalamku. Aku mengangguk, dan kini jari telunjuk dan jari tengahnya bergerilya di bawah tubuhku dan membuatku menggeliat terus.

"Kau benar-benar menikmatinya, Val?" goda Derek.

Aku menggangguk dengan mata sayup. "T-tapi kalau—oh! K-kalau aku b-bergerak begini terus—D-Derek! L-lukamu b-bisa kena kakiku—D-Derek ada yang, eh, mau keluar—oh!"

Mendengar aku berkata begitu, ia langsung menaruh kepalanya di antara kakiku. Ia melebarkan lubang di bawah tubuhku dengan dua jarinya. "Ayo, Val, keluarkan, jangan ragu-ragu."

Sambil agak terengah, aku menyiapkan diriku. Dan lalu cairan itu menerobos keluar dari liangku sambil aku sendiri memekik. Kemudian kurasakan lidah Derek menjilat di daerah selangkanganku, seakan membersihkan bekas-bekas cairan yang keluar, seakan ia merasa mubazir kalau tidak ia lahap.

Habis itu ia mencium keningku. Ketika ia melepaskan bibirnya dari keningku, mataku melirik ke arah pinggangnya. Tidak ada luka lagi di sana. Kulitnya sudah kembali bersih seperti sedia kala. "Lukamu sudah hilang," gumamku sambil tersenyum dan meletakkan jemariku di pinggangnya.

Derek melirik pinggangnya juga, lalu tersenyum padaku. "Ya. Entah barusan atau sejak aku mulai menyentuhmu. Yang pasti, aku bisa sembuh karenamu."

Aku terkekeh kecil lalu menepuk pelan dada bidangnya. Lalu aku turun dari meja—oh, ya, Derek menyentuhku dari tadi di atas meja, dia melakukan semuanya padaku tadi itu di atas meja. Kuambil celana dalamku yang tadi dilepas Derek dan mengenakannya lagi. Saat berniat menghampiri pacarku lagi, ternyata ia telah lebih dulu menghampiriku. Ia langsung memeluk pinggangku dan mencium bibirku dengan lembut.

"Oh, aku tidak pernah tanya," ujarku setelah bibirnya lepas dari bibirku. "Dari mana kau dapat luka parah seperti yang tadi itu? Maksudku, terakhir kali aku melihatmu mengeluarkan darah hitam ... kalau tidak salah itu karena kena tembak Wolfsbane oleh Kate."

"Semalam aku bertarung dengan Pack Alpha, lalu jatuh ke lantai bawah," jawab Derek setelah menghela.

Kuanggukkan kepalaku, tapi kemudian menyerngit. Derek tidak mungkin bertarung dengan Pack Alpha seorang diri, kan? Mungkin Boyd, Isaac, dan Cora akan ikut. Dan satu orang lagi yang kemungkinan besar akan ikut adalah kakakku.

Semalam seingatku Scott bilang ia akan pergi makan makanan Meksiko dengan Isaac. Setahuku kakakku kurang begitu suka dengan makanan Meksiko, tapi dia bilang ingin coba makan sesekali. Sampai sudah sangat malam, kakakku masih belum pulang dengan Isaac. Aku tidak menungguinya pulang, jadi aku tidur duluan. Paginya, aku melihat dia keluar dari kamar dengan wajah sangat pucat. Dan waktu di mobil Stiles, tiap kali mobil itu menaiki polisi tidur, Scott akan mengerang.

"Apa Scott juga ikut semalam?" selidikku.

Derek mengangguk. "Ya, dia ada semalam. Aku, Scott, Isaac, Boyd, dan Cora. Lalu Allison datang dengan panahnya."

Langsung saja aku menyingkir dari Derek, kuhampiri tasku yang ada di sofa kemudian mengambil ponsel dari dalamnya. Segera kupencet nomor ponsel Scott dan kutelpon dia. Kugigit bibirku sambil menunggu kakakku mengangkat telponnya. Tapi ia tidak menjawab sama sekali. Kucoba telpon sekali lagi, masih tidak dijawab. Kuputuskan untuk menelepon Stiles.

"Ada apa, Val?" tanya Derek.

"Tadi pagi Scott kulihat pucat. Dia tidak mau memberitahuku kenapa. Sekarang aku jadi cemas kalau ia terluka sepertimu juga," jawabku sambil menempelkan ponselku di telinga, menunggu Stiles menjawab telponnya.

Stiles mengangkat telponnya di dering keempat. "Val?"

"Stiles! Scott denganmu?" tanyaku langsung.

"Ya. Tidak. Secara teknis, ya. Tapi tidak, dia tidak di sampingku saat ini."

"Stiles, apa semalam kakakku pergi bertarung dengan Pack Alpha?"

"E-eh?! V-Val—"

"Jawab aku dengan jujur. Ya atau tidak?"

" ... Ya."

"Dan tadi pagi itu dia meringis karena terluka?"

"Ya. Lukanya tidak kunjung sembuh dan darahnya hitam—tapi jangan khawatir, Val, ia sudah sangat baik sekarang. Tadi sore Allison sudah menjahit bagian yang terluka."

"Allison?"

"Ya. Eh, Allison dan Lydia mengikuti bus kami dari belakang. Saat macet panjang, kami turun dan Allison menjahit Scott. Sekarang kami ada di penginapan. Scott sedang keluar kamar, katanya ia ingin bicara dengan Allison. Oh, omong-omong kau sedang apa?"

"Aku ada di tempat Derek."

"Di tempat—astaga, Derek ada di sana?!"

Aku menyerngit. "Apa maksudmu 'Derek ada di sana'?"

"Scott bilang ia ingin menjatuhkan Ennis, tapi ternyata Derek juga ikut jatuh. Katanya, ia tidak melihat Derek bergerak, makanya ia sampai berpikir Derek mati!"

"Tidak, Derek tidak mati. Terluka parah, ya, tapi ia terlihat sehat sekarang."

"Oh, ya ampun. Aku tidak menyangka aku akan mau mengatakan ini, tapi syukurlah Derek hidup!"

Aku terkekeh kecil. "Baiklah, kalian semua hati-hati di sana."

.

.

Hari-hari berlalu sejak aku pacaran lagi dengan Derek. Boneka panda dan Merry-Go-Round yang di sembunyikan kakakku itu sudah kembali lagi ke kamarku. Derek selalu datang ke kamarku tiap malam. Entah saat aku masuk kamar lalu tiba-tiba ia sudah di kamarku duluan, atau aku sedang melakukan sesuatu di kamar lalu Derek mengetuk jendela, atau begitu aku keluar dari kamar mandi langsung kudapati Derek di kamarku—yang ini membuat wajahku merona merah dan Derek malah terkekeh kecil.

Ia menemani dan membantuku belajar, seperti semester kemarin. Kubaca buku pelajaranku sambil bersandar pada dada bidangnya, setelahnya ia akan memberi pertanyaan sesuai dengan yang kubaca. Kalau aku menjawab dengan benar, ia akan mencium puncak kepalaku. Kalau aku lupa apa jawaban yang benar, ia akan memainkan jariku sampai aku bisa menjawab dengan benar.

Setelah belajar, Derek akan ikut tidur di sampingku. Dia akan memelukku dari belakang, atau aku akan membenamkan kepalaku di leher atau dadanya, dan kami terlelap sampai pagi. Yang aku suka dari ini adalah, Derek tidak hilang tiap kali aku bangun di pagi harinya. Saat aku buka mata, dia masih bersamaku. Dia baru akan pergi dari kamarku ketika aku akan mandi.

Saat ini aku sedang masak nasi goreng untuk makan malam. Ada Scott dan Isaac dengan Derek di ruang makan. Derek datang ke kamarku lebih awal dari biasanya—kemarin-kemarin ia baru akan datang setelah aku makan malam. Jadi karena ia sudah datang sekarang, aku menawarinya makan malam.

Ketika sudah selesai masak, aku bawa dua porsi nasi goreng ke ruang makan: satu kutaruh di hadapan Scott, yang satu lagi di depan Derek. Lalu aku ke dapur lagi, ambil dua porsi untuk Isaac dan diriku sendiri.

Kami makan malam dalam keheningan. Kalau aku hanya dengan salah satu dari mereka bertiga, mungkin akan ada sesuatu yang dibicarakan—oh, mungkin tidak juga, karena biasanya aku ditambah Isaac sama dengan hening. Dan lagi, keheningan yang sedang terjadi saat ini bukan keheningan biasa, melainkan kecanggungan. Sesekali aku melirik pada Scott, Isaac, dan Derek bergantian. Kudapati Scott sedang mendelik pada Derek, Derek membalas tatapan sebal kakakku, sedangkan Isaac melirik Scott dan Derek bergantian. Uh, aku harus ingat-ingat agar tidak lagi makan malam berempat dengan ketiga orang ini sekaligus.

Tiba-tiba ponsel Scott berbunyi. Ia melihat ke layar ponsel itu, lalu menjawab teleponnya.

"Ya, Ma?"

Oh, itu telepon dari mama?

"Oh, oke, aku dan Val akan segera ke sana habis makan."

Lalu Scott menutup teleponnya.

Mendengar namaku disebut, aku pun bertanya, "ada apa?"

"Mama minta dibawakan makan," jawab Scott. "Nasi gorengnya masih ada?"

Aku mengangguk. "Masih banyak. Mama lembur?"

Scott mengangkat bahunya. "Mama tidak bilang lembur, sih, tapi katanya ia sedang sangat sibuk di rumah sakit sekarang sampai tidak sempat beli makan malam."

Jadilah selesai makan malam, Scott mencuci piring, gelas, dan alat makan, sedangkan aku menyiapkan nasi goreng untuk mama dalam kotak bekal. Habis menyiapkannya, kutaruh kotak bekal itu di meja makan dengan kantung plastik, setelahnya aku ke kamar.

Derek sudah ada di kamarku. Kuambil jaket, dompet, dan ponsel, lalu kuhampiri pacarku itu. "Mungkin kau ingin ikut ke rumah sakit?"

Ia tersenyum lalu mencium keningku. "Tidak. Sebelum kau masuk kamar tadi, Cora mengirimiku pesan untuk pulang. Sepertinya dia tidak mengijinkanku menginap di sini malam ini."

Aku terkikik kecil. "Yah, aku sudah memperingatimu beberapa hari lalu soal yang satu itu, kan? Tentang Cora mungkin tidak akan senang kakaknya menginap di rumah pacarnya, sedangkan Cora ada di rumah seorang diri? Kalau aku, aku tidak mau ditinggal Scott di rumah sendirian karena ia ingin menginap di rumah Allison berhari-hari."

Derek tersenyum lagi. Kali ini ia mencium bibirku dengan lembut, lalu ia keluar dari kamarku lewat jendela. Setelahnya aku pun juga keluar kamar—bedanya, aku lewat pintu—dan aku turun ke lantai satu, melihat kakakku sudah siap dengan jaket dan helmnya, dan ada kantung plastik berisi bekal yang kusiapkan tadi di tangannya.

.

.

Turun dari motor Scott, aku melihat tempat parkir ramai seperti biasa. Tapi begitu kami ingin masuk lewat pintu depan, astaga, terlalu banyak orang berkerumun di luar. Sekitar dua atau tiga ambulans datang dan pergi. Scott menggandeng tanganku sambil kami berusaha menerobos kerumunan orang itu biar bisa masuk ke dalam rumah sakit.

Setelah berhasil masuk ke dalam rumah sakit, ternyata di dalam pun ada banyak orang yang diperban sana-sini. Kulihat mama sedang ada di dekat meja resepsionis, sedang berbicara dengan seorang pasien. Jadi aku dan kakakku menghampirinya. Mama langsung menghembus nafas lega begitu kami mendatanginya.

"Oh, syukurlah, aku kelaparan!" kata mama sambil mengambil kantong bekal dari tangan Scott dan ia menaruhnya di atas meja resepsionis. Setelahnya ia berbalik badan dan menghadap kami lagi. "Oh, maaf, maafkan aku," ia memelukku lalu Scott juga, "Terimakasih sudah membawakanku makan malam."

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Scott.

"Kecuali setengah dari korban kecelakaan tabrakan beruntun sepuluh mobil dioper ke rumah sakit ini, dan dokter tidak menjawab panggilannya, ya, aku baik-baik saja," jawab mama.

"Apa maksudnya dokter tidak menjawab panggilannya?" tanya Scott lagi.

"Artinya tidak ada yang bisa menemukannya. Jadi sekarang kita harus menunggu dokter jaga ke sini."

Seorang pasien perempuan datang dan menghampiri mama. "Suster," panggilnya, membuat mama menoleh padanya. "Permisi, bisakah aku dapat sesuatu untuk menangani rasa sakitnya?"

"Maaf, aku tahu, tapi sebenarnya memberikanmu sesuatu mungkin akan membuat terjadinya komplikasi, jadi kita hanya bisa menunggu dokter. Oke?" kata mama.

Pasien itu mengangguk dan berkata 'ya' pelan, lalu duduk di kursi dekat sini. Mama langsung menoleh pada resepsionis, menanyakan kapan Dr Hilyard akan sampai di sini, resepsionis bilang sepuluh menit lagi. Scott beranjak dari tanganku, ia menghampiri pasien yang tadi mendatangi mama. Sedangkan mama hanya menghela mendengar jawaban repesionis.

"Jangan paksa dirimu kerja berlebihan, ma, kau bukan satu-satunya suster di sini," ujarku pelan.

Mama tersenyum kecil lalu memelukku. "Tentu saja, sayang, tapi kalau ada yang butuh pertolongan, itu sudah jadi tugasku untuk membantu—satu-satunya suster atau pun tidak."

"Seseorang—seseorang tolong aku!" seru seseorang.

Aku dan mama langsung menoleh pada pintu depan, asal suara tersebut. Kulihat salah satu dari si kembar datang sambil memapah Danny—kupikir kalau bersama Danny, berarti ia adalah Ethan.

"Oh, aku butuh bantuan!" raung Ethan lagi.

Scott langsung berlari menghampiri Ethan dan membantunya membawa Danny, mendudukkan penjaga gawang Lacrosse itu di kursi. Kulihat wajah Danny sangat pucat. Mama sudah siap dengan stetoskopnya, dan mencoba mendengar detak jantung Danny, sedangkan Scott menarik Ethan agak ke belakang dengan kasar.

"Apa yang kau lakukan padanya?!" tanya kakakku.

"Tidak ada!" jawab Ethan. " Dia bilang kalau dadanya sakit dan ia sulit bernafas. Tapi itu ... itu semakin parah!"

Mama mendesah dan menggeleng. "Ini buruk," ujarnya, lalu ia menoleh pada resepsionis. "Berapa lama lagi Dr Hilyard sampai?"

Aku ikut menoleh pada resepsionis juga. Kulihat sang resepsionis, dengan satu tangan memegang telepon, mengangkat kedua bahunya dan menggeleng sambil memasang wajah cemas. Oh, ini benar-benar gawat.

Tiba-tiba Danny muntah. Aku agak melompat ke belakang sambil memekik. Muntahan Danny nyaris mengenai kakiku. Ada yang aneh dari muntahan itu. Cairannya berwarna putih susu—kalau tadinya ia memang minum susu, mungkin ini tidak aneh—dan ada butiran-butiran berwarna putih juga, itu seperti mutiara.

"Mistletoe," gumam Ethan. Aku langsung menoleh padanya.

Mistletoe? Maksudnya benda yang mirip mutiara itu adalah Mistletoe? Kenapa bisa keluar dari mulut Danny?

Mama memutuskan biar Danny dibawa masuk ke kamar rawat. Dengan cepat Scott dan Ethan memapah Danny dan membawanya ke kamar rawat terdekat, aku dan mama ikut di belakangnya. Kamar yang kami masuki itu kosong, dalam artian tidak ada orang. Danny dibaringkan di atas ranjang.

"Bisakah kalian bertiga kembali ke ruang tunggu?" tanya mama setelahnya.

"Mana para suster dan dokter? Di mana semua orang?" tanya Ethan, menghiraukan perkataan mama.

"Rumah sakit penuh malam ini, mereka sedang merawat pasien lain," jawab mama.

"Oke, yah, ma, ada yang bisa kami bantu?" tanya kakakku.

Mama menggeleng. "Sayang, kau tidak bisa."

"Apa dia akan mati?" tanyaku pelan.

Mama mendesah kecil. "Tidak. tidak, dia tidak akan mati. Scott kamu ambil tape," kata mama sambil menunjuk ke Scott lalu ke rak. Setelah itu mama menunjuk pada Ethan, "Kau, ambil gunting dan buka kaosnya." Setelah itu mama menoleh padaku. "Val, habis ini mama akan pakai jarum suntik. Kalau kau ingin keluar, sekarang waktu yang tepat."

Aku menggeleng. "Aku baik-baik saja."

Mama mengangguk. "Oke," gumamnya, lalu ia membuka salah satu laci.

Ethan sudah merobek kaos Danny, Scott sudah siap dengan tape-nya, mama kini siap dengan jarum suntiknya yang panjang.

"Ma, dia tidak bernafas!" ujar Scott cemas.

"Aku tahu, aku tahu," kata mama. Ia mulai memegang bahu Danny, mencari-cari sesuatu dengan jarinya. "Oke, ini dia."

Mama mulai menusukkan jarum suntik di bahu Danny. Aku agak terlonjak kecil waktu mama memasukkan jarum itu. Scott ada di sampingku dan ia merangkul bahuku dan mengusapknya pelan dengan ibu jarinya. Lalu aku melihat tabung yang ada pada alat suntik mama sekarang ada cairan putih transparan, yang aku tidak tahu apa itu. Setelahnya mama menarik keluar jarumnya.

Hening sebentar, aku melihat pada Danny yang masih menutup kedua matanya. Tiba-tiba kulihat ia sudah bisa menarik nafas panjang, lalu Danny membuka matanya perlahan dan mengucapkan terimakasih pelan pada mamaku.

Mama menghembus nafas lega dan mengangguk kecil sambil tersenyum gugup, "Tidak masalah." Lalu mama mendongak padaku dan Scott yang memandanginya dengan tatapan takjub. "Apa?"

"Itu tadi menakjubkan," ujar Scott.

"Sangat menakjubkan," kataku.

"Bukan masalah, kau tahu? Maksudku, itu bukan masalah besar," kata mama. Sambil tersenyum kecil.

.

.

Aku dan Scott ada di tempat parkir, kami bersiap naik motor untuk segera pulang. Mama 'mengusir' kami dari rumah sakit, menyuruh kami untuk pulang dan istirahat karena besok kami harus sekolah. Sewaktu Scott mengambil helm-nya, kulihat Ethan keluar dari rumah sakit dn menghampiri kami. Kakakku memutar bola matanya dan mendengus pelan.

Ethan tiba di hadapan kami sambil mengangkat kedua tangannya dan wajahnya menegang. "Aku tahu kalian tidak akan percaya padaku, tapi aku tidak melakukan apa-apa."

"Yang kutahu adalah: ketika kalian ke sini, kau langsung mengincar Danny, dan saudara kembarmu mengincar Lydia," kata Scott.

"Kami tidak akan menyakitinya," ujar Ethan.

"Kenapa aku harus percaya akan apa yang kau katakan?" tanya kakakku.

"Karena kami tahu salah satu dari mereka akan penting untukmu, dan sekarang kami tahu itu Lydia."

Scott tidak menanggapi perkataan Ethan yang terakhir itu. Aku menoleh pada kakakku, pandangan matanya tidak menuju pada lawan bicaranya, melainkan pada apa yang ada di belakang pemuda yang ada di hadapannya. Penasaran, aku ikut melihat ke arah belakang Ethan juga, tapi aku tidak bisa melihat apa-apa selain mobil-mobil yang terparkir di tempat parkir serta datangnya satu mobil lain yang kupikir akan sedang cari parkir.

Ethan pun akhirnya menoleh ke belakangnya, mungkin ia pun akhirnya sadar bahwa kakakku sudah tidak lagi memerhatikannya. Tiba-tiba mobil yang baru datang dan kupikir akan memarkir itu menabrak ke salah satu mobil. Aku terkejut melihatnya. Scott dan Ethan berlari menghampiri mobil yang menabrak itu, aku mengikuti mereka dari belakang.

Scott membuka pintu depan mobil, tapi tidak ada siapa-siapa di dalamnya. Itu aneh, jadi bagaimana caranya mobil ini bisa ada di sini? Lalu Scott mengulurkan tangannya, menyentuh jok depan, mengambil sesuatu.

"Apa itu?" tanya Ethan pelan.

Aku melihat sesuatu yang diambil kakakku dari bangku depan mobil. itu adalah serangga yang memiliki sayap. Aku pernah melihatnya, dan maksudku, serangga itu bukannya setiap hari ada di sekelilingku atau yang biasa kulihat tiap hari. Tapi itu adalah serangga yang pernah datang menghampiriku dalam jumlah yang tidak sedikit.

"Ngengat," jawab Scott. Kuteguk ludah dengan susah payah dan agak mundur sedikit. Scott menoleh padaku sambil menyerngit. "Kau baik-baik saja?"

Aku memaksakan senyum kecil. "Kupikir begitu," gumamku.

Dengan ragu Scott mengangguk lalu ia segera menelepon Stiles. Kemudian kulihat Ethan sudah tidak ada bersama kami, entah ia ke mana.

Sekitar dua puluh menit kemudian Sheriff datang bersama anak buahnya ke rumah sakit. Stiles juga tiba setelahnya dan langsung menghampiri kami. Mama keluar dari rumah sakit saat Scott memberi kesaksian pada Sheriff, mengenai mobil yang tiba-tiba datang ke tempat parkir dan menabrak tapi tidak ada siapa-siapa di dalam mobil itu.

"Tunggu, tunggu," kata Sheriff seteah mendengar cerita Scott. "Mereka tadinya ada di mobil?"

"Bukan, pa," kata Stiles. "Dia memberitahumu kalau ada dua penculikan secara terpisah, oke? Dua dokter, keduanya hilang."

"Jadi mobil siapa ini?" tanya Sheriff lagi.

"Dr Hilyard, dia dokter jaga," jawab mama.

Sheriff mengangguk. "Biar aku fokus pada ceritamu dulu, oke?"

Mama mengangguk lalu Sheriff meminta aku, Scott dan Stiles menyingkir dulu. Kami menurut dan Scott menggandeng tanganku dan kami bertiga berjalan beberapa langkah dari mama dan Sheriff.

"Ini pengorbanan, kan?" bisik Scott.

Stiles mengangguk. "Ya, salah satu golongan yang pernah dibilang Deaton, Healer."

"Bagaimana dengan Danny?" tanya kakakku. "Dia memuntahkan mistletoe. Itu bukan kebetulan, dan jika ia tidak dengan Ethan tadi, dia mungkin sudah mati. Danny bukan Healer, aku—" Scott menghentikan perkataannya, tiba-tiba ia menoleh padaku. "Val, seriusan, kenapa wajah tegang begitu sejak aku menemukan ngengat itu di mobil dokter? Jangan bohong, aku akan tahu kau bohong."

Kugigit bibirku. Memang benar aku jadi agak tegang sejak melihat ngengat itu, soalnya secara tidak langsung aku membuat asumsi sendiri dalam benakku—asumsi yang berkata bahwa ngengat-ngengat itu didatangkan Darach untuk menculik orang-orang yang ingin ia korbankan, dan aku adalah salah satu orangnya.

Aku mendesah kecil, dan akhirnya memutuskan untuk menceritakan kegundahanku. "Kau ingat saat bulan penuh terakhir kali, aku terkurung bersama Boyd dan Cora lalu tiba-tiba Derek datang? Nah, sebelum aku mendengar geraman Boyd dan Cora, seekor ngengat hinggap di tanganku. Kemudian beberapa ngengat datang menghampiriku, tapi mereka hinggap di rak yang ada persis di sebelahku. Kupikir mereka datang lewat ventilasi, jadi aku mendongak untuk melihat ventilasi. Aku melihat beberapa ngengat terbang untuk masuk ke ruangan itu. Sampai aku mendengar suara geraman manusia serigala. Aku melihat ke arah pintu, lalu saat melihat ke arah ngengat lagi, serangga-serangga itu sudah tidak ada.

"Lalu sebenarnya, tadi di sekolah, ngengat itu datang lagi waktu aku di perpustakaan dengan Boyd. Saat sedang mengobrol dengan Boyd, tanpa sengaja aku melihat ngengat-ngengat itu di atas rak-rak buku.

"Kupikir kedua kejadian itu hanya kebetulan, sampai kemudian kau, Scott, mendapati seekor ngengat di mobil Dr Hilyard. Aku jadi ingat soal ngengat yang ada di perpustakaan tadi, mereka seakan sedang menatap ke arahku, seakan mereka menungguku untuk menghampiri mereka. Kupikir, bagaimana kalau serangga itu dipakai Darach untuk menculikku, seperti yang terjadi pada Dr Hilyard?"

Kini Stiles ikut menggandeng tanganku. "Berarti kau sudah nyaris diculik dua kali," kata Stiles.

Aku mengangguk. "Itu yang kutakutkan."

"T-tapi, kau kan tidak termasuk salah satu dari lima golongan yang dibilang Deaton, kan?" tanya Scott.

"Yang waktu pertama kali ngengat itu datang padaku, aku termasuk golongan perawan, ingat?" ujarku.

Stiles mengangguk. "Oke, tapi kalau begitu, kenapa ngengat itu mendatangimu lagi? Dua dokter hilang malam ini, mungkin Darach menganggapmu sebagai salah satu Healer?"

"Tidak mungkin," kata Scott. "Kalau mamaku, mungkin iya. Tapi, Val? Ia tidak bekerja di bidang medis sama sekali."

"Tidak ketika aku takut darah dan jarum suntik," sambungku sambil mengangguk.

"Oke, tapi kau juga tidak tampak sebagai Guardian maupun Philosopher, Val. Kecuali Philosopher di sini berarti orang yang jenius, berarti kau dan Lydia termasuk golongan ini," ujar Stiles.

Aku mendesah menoleh pada Stiles dan Scott bergantian, lalu sudut mataku menangkap ke arah mama dan Sheriff. Waktu aku menoleh pada mereka, kulihat Sheriff mendapat panggilan.

"Bisa kau dengar itu?" tanya Stiles, kupikir pada kakakku.

Scott menengok sedikit, beberapa detik kemudian ia baru menjawab, "mereka menemukan mayat."

"Oh, astaga ... " gumamku sambil menggeleng pelan dan menunduk.

.

.

Pagi harinya aku nyaris kena serangan jantung kecil begitu terbangun dari tidurku. Tepatnya, ketika aku benar-benar tersadar dari tidurku, aku melihat Derek sedang duduk di sofa kamarku, dan sedang menatap lurus kepadaku. Lalu aku juga melihat ada seseorang berambut panjang duduk di kursi dan menaruh kepalanya di meja belajarku.

Sadar bahwa aku sudah terbangun, Derek tersenyum dan menghampiriku. Ia duduk di ranjang dan langsung mencium keningku, mengucapkan selamat pagi.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku, lalu mendelik pada seorang yang lain yang ada di meja belajarku. "Dan siapa itu?"

"Aku menjagaimu semalaman di sini, dan itu adalah Cora," jawab Derek lembut.

"Menjagaiku? Dari apa?"

"Darach. Semalam Scott meneleponku, menceritakan semuanya. Jadi semalaman Scott dan Isaac ada di kamar mamamu, karena takut Melissa adalah Healer ketiga yang akan dikorban. Lalu aku akan menjagamu di sini karena sudah dua kali kau hampir diambil Darach," jelas Derek.

"Dan Cora ikut menjagaku?"

Derek terkekeh pelan. "Tidak. Dia memaksa untuk ikut ke sini, katanya ia tidak mau kalau cerita tentang kau didatangi ngengat itu hanya karangan saja biar aku tidur di sini. Dua jam setelah tiba di sini, dia terlelap, kubiarkan saja karena kupikir aku bisa menjagamu sendirian."

"Kau terjaga semalaman?" tanyaku cemas dan ia mengangguk. "Oh, ya ampun. Sekarang kau bawa adikmu pulang, dan kau harus segera istirahat."

"Aku baik-baik saja," ujar Derek sambil tersenyum.

"Aku tidak mau kau sampai kelelahan hanya karena ini," kataku. "Kumohon, Derek, pulang dan beristirahatlah."

"—Pacarmu benar." Sebuah suara perempuan selain suaraku sendiri terdengar. Aku dan Derek menoleh pada asal suara itu, suara Cora yang ternyata sudah terbangun. "Kau harus istirahat, Derek, aku harus sekolah juga."

Derek menghela, lalu menoleh lagi padaku. "Baiklah, jangan jauh-jauh dari Scott nanti, oke?"

Aku mengangguk. "Dan Stiles."

"Tidak, hanya Scott saja. Aku tidak senang pacarku dekat-dekat dengan pemuda lain," kata Derek tegas.

Kemudian ia mencium keningku lalu keluar kamar dengan Cora lewat pintu. Sepeninggal mereka berdua, aku pun melompat turun dari ranjang. Kuambil handukku lalu pergi mandi.

Sekitar dua puluh menit kemudian, aku selesai mandi dan berbalut handuk, kembali ke kamarku. Lagi-lagi aku terkejut. Tadi karena si Alpha, sekarang karena Beta miliknya. Sewaktu aku kembali ke kamarku, kulihat Isaac sedang berdiri di tengah kamarku. Begitu melihatku, ia langsung termegap, mulutnya menganga dan matanya membulat.

"A-aku tidak t-tahu—" ujarnya agak gagap sambil agak mundur.

Pintu kamarku tiba-tiba terbuka. "—Isaac, Val belum siap—?" tanya kakakku.

Scott menghentikan perkataannya, lalu menoleh padaku dan Isaac bergantian. Wajahnya jadi kesal seketika sambil menatap Isaac.

"A-aku tidak tahu kalau d-dia sedang mandi t-tadi!" kata Isaac gugup.

Kakakku mengangguk sambil melangkah mendekati Isaac. Scott menarik Isaac lalu melemparnya keluar dari kamarku. Aku mendengar 'DUK' yang agak keras bersamaan dengan punggung Isaac yang menabrak dinding depan kamarku. Lalu Scott menoleh padaku, bilang biar aku segera pakai baju dan bersiap ke sekolah, setelah itu ia sendiri keluar dari kamarku dan menutup pintu.

.

.

Kelas Biologi, kelas pertamaku, Scott, dan Stiles pagi ini. Sesungguhnya aku penasaran siapa yang akan mengajar kelas ini dengan hilangnya Mr Harris. Ada tiga kelas yang diajar Mr Harris: kelas Kimia, Biologi, dan Fisika. Kemarin sebenarnya ada jadwal pertemuan mingguan klub Fisika—aku bertemu dengan beberapa anggota klub itu waktu aku akan ke perpustakaan, mereka tidak tahu tentang Mr Harris yang menghilang. Para anggota klub Fisika bilang tadi Mr Thomas datang ke laboratorium dan bilang kalau Mr Harris tidak dapat hadir.

Jika tidak ada guru yang datang lima menit lagi, maka kami bisa keluar kelas, ini jadi jam kosong kami. Tapi tiba-tiba pintu ruang laboratorium terbuka, menjawab rasa penasaranku tadi. Ms Blake datang dengan tersenyum sambil membawa buku di tangannya. Ia menaruh buku itu di atas meja, lalu menghadap kami sambil terus tersenyum.

"Selamat pagi," katanya, "seperti yang kalian semua tahu, Mr Harris masih hilang—maksudku sakit. Aku akan menggantikannya di kelas ini. Oke, jadi kita mulai pelajarannya, ya?"

Begitu Ms Blake menolah ke papan, Scott yang duduk di sampingku tiba-tiba agak bersandar dan menoleh sedikit ke belakang. Kutebak pasti Stiles yang duduk tepat di belakangnya menepuk bahunya.

"Hei, papaku bilang dokternya bukan tewas karena tercekik, melainkan karena Asphyxiation. Mereka hanya tidak tahu bagaimana caranya," lapor Stiles sambil agak berbisik.

"Kau pikir dokter jaganya mungkin masih hidup?" bisik Scott.

"Aku tidak tahu ... " jawab Stiles. "Tapi, Scott, ada sekitar 20 dokter lebih di rumah sakit itu. Minimal, kau tahu? Salah satu dari mereka bisa jadi yang selanjutnya."

Lalu aku mendengar suara dering ponsel. Buru-buru Scott mengambil ponsel dari sakunya. Ia memencet satu tombol, kemudian menunduk sambil menempelkan layar ponsel pada telinganya.

"Hei, Dok, maaf, aku sedang di kelas sekarang. Bisa kutelepon balik nanti?" Kudengar Scott berbisik pada ponselnya.

Scott tidak mengatakan apa-apa lagi. Tapi aku bisa melihat wajahnya agak memucat. Satu-satunya 'Dok', kependekan dari 'dokter' yang kupikir paling mungkin menghubungi Scott adalah Dr Deaton.

"Dok? Dok? Dok, Dok? Apa yang terjadi?" bisik Scott dengan cemas.

Kemudian kakakku itu menatap layarnya. Ia kembali duduk tegak, masih memegang ponselnya dengan wajah yang sangat cemas.

"Tadi itu Dr Deaton?" tanyaku pelan, dan Scott mengangguk. "Ada apa?"

"S-sesuatu terjadi padanya," jawab Scott. Ia buru-buru merapikan barang-barangnya yang ada di meja, memasukkannya ke dalam tas. "Val, jangan jauh-jauh dari Stiles!" bisiknya.

Setelah itu Scott bangkit dari kursinya, menghampiri Ms Blake yang sedang menulis di papan tulis. Entah apa yang ia katakan, pokoknya aku hanya bisa melihat Ms Blake mengangguk dan Scott pun keluar dari kelas.

Sepeninggal kakakku dari kelas, Stiles dengan cepat membawa tas dan barang-barangnya dan duduk di sampingku. "Ada apa dengannya?" tanya Stiles sambil agak menyerngit.

"Scott bilang sesuatu terjadi pada Dr Deaton," jawabku pelan. "Hei, mungkinkah Healer ketiga itu adalah Dr Deaton?"

Stiles mengangguk dengan cemas. "Bisa, bisa jadi. Aku akan telepon papaku sebentar."

Lalu putra tunggal Sheriff itu memanggil Ms Blake dari kursinya, bilang ingin ke kamar kecil. Ms Blake mengijinkan, jadi Stiles membawa ponsel dalam sakunya keluar kelas.

.

.

Selesai dari kelas Ms Blake, Stiles bilang ia akan langsung pergi ke klinik hewan, alias bolos. Aku ingin ikut, tentu saja, tapi ia melarang. Dan karena aku terus meminta untuk ikut pergi, Stiles menyerah dan akhirnya kami berdua naik jipnya. Ia menyetir dengan cepat meninggalkan lingkungan sekolah menuju klinik hewan tempat kakakku bekerja.

Saat kami sampai di sana, kami langsung masuk ke klinik. Kulihat kakakku sedang berbicara dengan Sheriff, dan ada Tara juga di sana. Jadi aku dan Stiles menghampiri Scott.

"Baiklah, kami akan melakukan semua yang kami bisa," kata Sheriff, "Sekarang hal terbaik yang bisa kau lakukan adalah kembali ke sekolah."

Scott mengangguk kecil. Sheriff beranjak meninggalkan kakakku dan berbicara dengan Tara. Setelah itu Stiles yang daritadi masih menggandeng tanganku kini membawaku ke suatu ruangan—Scott ikut dengan kami.

Aku tidak tahu ruangan apa itu, tapi yang jelas ada banyak kandang-kandang kecil di ruangan ini. Ada kandang berisi ayam, bebek, anjing, kucing, dan sebagainya. Tidak ada jendela di dinding ruangan ini, satu-satunya kaca jendela yang ada hanya di pintu.

"Kita harus beritahu dia," ujar Scott.

"Maksudmu, seperti, beritahu dia—beritahu dia, atau memberitahu dia sesuatu yang aku pikir kau mau ia tahu?" tanya Stiles.

"Kau tahu maksudku," kata kakakku.

Stiles mendesah. "Kau ingat bagaimana reaksi mamamu? Dia tidak melihat matamu, mungkin, selama seminggu—bahkan ia menarik Val jauh-jauh darimu!"

"Dan dia berhasil mengatasinya, dan ... dan itu malah membuat kami makin dekat," ujar Scott.

Aku mengangguk, setuju akan perkataan kakakku. Memang benar, karena mama sudah tahu tentang dunia supranatural dan makhluk-makhluknya, mama jadi paham kalau ada yang terjadi pada kakakku. Kalau Scott tiba-tiba bolos, ia sudah tahu itu bukan karena kenakalan melainkan karena tuntutan supranatural—mama tidak senang Scott bolos tentu saja, tapi ia bisa memakluminya sekarang. Kakakku memang tidak memberitahu setiap hal supranatural yang terjadi, tapi ia tidak pernah berbohong lagi kalau ditanya mama. Kalau ia dapat luka, Scott tidak perlu bohong kalau ia terjatuh, ia bisa jawab kalau habis latihan dengan Derek, misalnya. Dan untuk akhir-akhir ini, mama yang sudah tahu tentang hal-hal aneh di Beacon Hills serta bekerja di rumah sakit, bisa membantu Scott dan Stiles. Mama bisa memberi informasi mengenai korban pada kedua pemuda ini.

Omong-omong, mama sudah tahu aku punya Crossbow, tahu juga kalau aku mendapatkannya dari Mrs dan Mr Argent. Ia menunjukkan wajah tidak senang saat aku bilang tentang kedua orangtua Allison itu.

"Entahlah, Sobat," kata Stiles, menyadarkanku dari lamunanku. "Maksudku, lihat dia—" Aku dan Scott langsung melihat Sheriff lewat kaca pintu. "—Ayolah, dia benar-benar kebingungan."

"Dia kebingungan karena dia tidak tahu apa yang sedang terjadi," balas Scott. "Dia mendapati orang-orang tewas di kota ini, kota yang seharusnya ia lindungi, dan ini bukan salahnya kalau dia tidak tahu apa yang terjadi."

Aku memegang lengan Stiles. "Stiles, cepat atau lambat papamu akan tahu tentang ini. Jadi antara kau memberitahunya, atau ia akan tahu dengan cara yang sama seperti mama kami."

Kali ini Scott yang mengangguk setuju.

Stiles menghela. Ia melepaskan lengannya dari tanganku, kini ia memeluk bahuku dengan tangan itu. "Ya, tapi apa sekarang adalah waktu yang tepat?"

"Bagaimana kalau tidak memberitahunya akan membuat orang lain terbunuh?" tanya Scott.

"Bagaimana kalau memberitahunya akan membuat dia terbunuh? Hah?" tanya Stiles, tidak mau kalah, dan sebenarnya itu masuk akal. "Maksudku, oke, baiklah, aku paham Deaton sudah seperti ayahmu, aku paham, oke? Tapi ini—Scott, Val, ini ayah sungguhanku. Aku tidak bisa—aku tidak bisa kehilangan kedua orangtuaku, paham? Tidak keduanya."

Scott mengangguk pelan. "Kau benar."

Stiles mendesah lalu menggeleng. "Tidak, aku salah. Aku tidak benar. Aku akan beritahu dia."

"Aku akan bantu," ujar Scott.

"Aku juga akan bantu," kataku.

Stiles mengelus bahuku pelan dan ibu jarinya, lalu mencium puncak kepalaku. Terkadang aku lupa, siapa sebenarnya kakakku—Scott atau Stiles. Dan sebenarnya aku berpikir kalau Stiles jadi sering memeluk dan mencium kepala atau dahiku sejak aku dan dia saling mengakui perasaan masing-masing.

Memang Stiles dan aku sedang berusaha untuk menjadi kakak-adik jadi-jadian. Tapi dengan cara seperti ini, aku malah tidak yakin bisa melihat Stiles sebagai kakakku. Jangan sampai aku jadi suka pada Stiles dan Derek sekaligus nantinya.

Kugelengkan kepalaku dan ikut keluar dari ruangan ini dengan Scott dan Stiles. Begitu sudah kembali ke ruangan depan, kami melihat Ms Morrell yang sedang berbicara dengan Sheriff dan Tara.

"—bantu aku temukan kakakku," kata Ms Morrell.

Sheriff mengangguk. "Kami permisi sebentar." Lalu ia menyingkir dengan Tara.

Kini Ms Morrell menghadap padaku, Scott, dan Stiles.

Kakak? Itulah kata yang kudengar dari mulut Ms Morrell tadi. Kalau mereka sedang membicarakan soal Dr Deaton, berarti 'kakak' yang di maksud di sini adalah Dr Deaton, kan? Ms Morrell dan Dr Deaton bersaudara? Astaga, mengingat cerita dari Allison yang berkata bahwa ia bertemu Ms Morrell di bank sewaktu Derek dan Scott berusaha menyelamatkan Boyd dan Cora saja sudah cukup membuatku terkejut. Dan sekarang, perihal guru bahasa Prancis-ku bersaudara dengan bos Scott membuatku lebih terkejut. Entah apa lagi fakta tentang guru satu ini yang akan membuatku terkejut lagi.

"Dengarkan baik-baik, kalian bertiga," kata Ms Morrell hati-hati, sambil agak melirik ke arah Sheriff seakan ia tidak ingin pembicaraan ini didengar orang lain. "Tidak ada Sheriff, polisi, atau detektif yang bisa menemukannya."

"Kau tidak perlu meminta kami untuk membantu," kata Scott.

"Sebenarnya, aku mencoba untuk membantumu," ujar Ms Morrell tanpa mengubah ekspresi. "Karena kalau kalian mau menemukan kakakku, maka kalian akan membutuhkan seseorang yang mungkin punya kemampuan untuk mencari hal supranatural."

Hah? Siapa? Siapa yang dimaksud Ms Morrell.

"Lydia," gumam Stiles, seakan menjawab pertanyaan dalam benakku.

Segera kami bertiga kembali ke sekolah untuk mencari Lydia. Rencananya, sih, kami bertiga akan berpencar, tapi ternyata kami tidak berpencar ke tiga arah, melainkan dua arah, karena Scott menarikku untuk ikut dengannya sementara Stiles sendirian.

Kukeluarkan ponselku, mencoba menghubungi ponsel Lydia—seharusnya ini akan memudahkan pencarian, dibanding kami harus mencari ke seluruh penjuru sekolah. Waktu aku menelepon ke nomor Lydia, gadis itu tidak menjawab teleponnya sama sekali.

"Dia tidak menjawab teleponku," gumamku cemas.

"Oke, eh, di mana dia biasanya kalau sedang tidak ada pelajaran? Perpustakaan? Kantin?" tanya Scott sambil kami berjalan di lorong kelas.

Tiba-tiba kami mendengar suara alarm kebakaran berbunyi dengan keras di penjuru lorong. Kakakku langsung meringis dan menutup kedua telinganya gara-gara suara alarm itu.

"Kebakaran?" tanyaku.

"Tidak, tidak, aku tidak mencium bau asap," jawab Scott disela ringisannya.

Aku mengangguk. "Lydia hanya akan ke perpustakaan kalau ingin mengobrol privat denganku. Jadi mungkin ia di kantin," kataku.

Kali ini Scott yang mengangguk. Untungnya alarm itu tidak berbunyi lama, jadi Scott bisa melepaskan tangannya dari telinganya. Waktu kami akan melangkah lagi, Scott merogoh saku celananya, mengambil ponselnya dan membaca apa yang ada di layar ponsel.

"Stiles sudah menemukan Lydia," lapor Scott. "Mereka ke ruang laboratorium sekarang dengan Cora."

Scott mengantungi ponselnya lagi. Kupikir sekarang kami akan segera ke laboratorium menemui mereka, tapi Scott agak mematung di tempat ia berdiri. Wajahnya agak tegang, keningnya berkerut. Dengan bingung aku memanggil-manggil namanya tapi ia tidak merespon. Begitu Scott merespon, ia malah bilang agar aku pergi ke laboratorium duluan.

"Kau yakin baik-baik saja? Wajahmu menegang, Scott," ujarku.

Kakakku mengangguk. "Pergilah duluan, Val. Dan, eh, berjalanlah secepat yang kau bisa, berlari kalau perlu, dan sebisa mungkin kau tidak melewati lorong yang sepi."

Dengan bingung aku mengangguk. Jadi aku meninggalkan sisi kakakku, berjalan dengan cepat—setengah berlari, kupikir—menuju ruang laboratorium. Sesuai kata-kata kakakku, aku berjalan lewat lorong yang tidak sepi. Aku tahu, Scott pasti khawatir kalau aku akan didatangi ngengat lagi kalau aku berjalan seorang diri. Jangankan Scott, aku sendiri pun takut juga.

Sampai di ruang laboratorium, aku langsung melihat Stiles, Lydia, dan Cora ada di salah satu meja lab. Dengan cepat aku pun menghampiri mereka.

"Mana Scott?" tanya Cora.

"Ia menyuruhku ke sini duluan, dia bilang akan menyusul," jawabku.

Stiles mengangguk. "Baiklah, ayo kita mulai." Ia memperlihatkan sebuah papan, ditaruhnya di hadapan kami.

"Papan Ouija?" ujar Lydia.

"Bisa juga dibilah papan roh, dan ini patut dicoba," kata Stiles.

"Patut dicoba kalau gelap," balas Lydia.

Stiles mendecak. "Bisa kita coba saja, kumohon, oke? Jangan lupa kita melakukan ini untuk siapa—Bosnya Scott yang sudah menolong kita dalam banyak hal!"

"Tunggu," kata Cora, "kita semua harus melakukannya?"

"Ya, ya, kau juga, Val," jawab Stiles. jadi kami memegang masing-masing sisi dari semacam potong kayu kecil di atas papan Ouija. "Nah, kalian siap?"

Stiles mengedarkan pandangannya bergantian dari Lydia, Cora, dan aku. Kedua gadis itu menjawab 'ya', tapi aku hanya mengangguk dengan agak gugup.

"Di mana Dr Deaton," ujar Stiles dalam keheningan.

Aku melirik pada ketiga orang ini. Cora menoleh kecil pada Lydia. Stiles mendelik juga pada gadis berambut pirang stroberi itu. Jadi aku sendiri juga ikutan melirik pada Lydia yang hanya menatap ke langit-langit dan dinding ruangan seakan tidak peduli. Sadar bahwa kami bertiga memerhatikannya, ia menanyakan 'apa'.

"Tidakkah kau akan menjawabnya?" tanya Stiles.

"Oh, aku tidak tahu jawabannya. Kupikir tadi kita sedang bertanya pada suatu roh," jawab Lydia.

"Yah, apa kau tahu salah satu roh?" sekarang Cora yang bertanya.

Lydia menyerngit dan menoleh pada Stiles sambil menunjuk Cora. "Apa dia serius?"

Aku dan Stiles menghembus nafas berat.

Masih belum menyerah, Stiles mengeluarkan kunci-kunci Dr Deaton untuk kliniknya. Stiles memaksa Lydia untuk menggenggam kunci-kunci itu untuk bisa dapat merasakan di mana keberadaan pria yang hilang itu. Tetapi saat Lydia membuka matanya, ia bilang bahwa ia tidak bisa melihat apa-apa. Berarti ini gagal lagi.

Sekarang Stiles memberi pensil pada Lydia untuk menulis otomatis. Sambil memutar bola matanya, Lydia menerima pensil itu dan mulai menggoreskan suatu bentuk di kertas yang ada di hadapannya. Tapi bukannya menulis kalimat, kata, atau bahkan huruf, Lydia malah menggambar sebatang pohon.

"Sebatang po—Lydia, kau seharusnya menulis kata, seperti kalimat, sesuatu tentang lokasi, sesuatu yang bisa memberitahu kita di mana lokasinya!" kata Stiles dengan kesal.

"Yah, mungkin seharusnya kau bilang begitu tadi," ujar Lydia acuh.

"Bukankah dia seorang jenius?" tanya Cora.

"Jenius? Ya. Cenayang? Bukan," jawab Lydia sambil terus menggambar.

"Tapi, eh, mungkin saja pohon ini jadi lokasi Dr Deaton, kan?" kataku, yang akhirnya mengeluarkan suaraku, membuat ketiga remaja yang lebih tua dariku ini menoleh padaku. "Maksudku, beberapa korban ditemukan tewas dengan tubuhnya terikat di pohon, kan? Mungkin saat ini Dr Deaton juga sedang diikat di pohon."

"Oke, Val, ada amat sangat banyak pohon di Beacon Hills. Kita tidak mungkin mencari satu-satu!" raung Stiles.

Lydia menghela. "Sejujurnya aku tidak tahu kenapa kalian harus repot-repot minta tolong aku. Padahal seharusnya kau bisa bicara pada Danny."

"Apa? Kenapa Danny?" tanya Stiles.

Astaga, aku lupa tentang Danny yang di rumah sakit! Tapi begitu aku membuka mulut dan hendak menjawab pertanyaan Stiles, suara kakakku terdengar dari arah pintu, menjawab pertanyaan itu.

"Karena kemarin malam, dia jadi salah satu target, tapi bukan untuk dikorbankan," kata kakakku yang masuk ke laboratorium.

.

.

~TBC~

Next: #SomethingCalledADate

.

.

A/N: Fanfict ini akan tamat di chapter 39, Fei sedang mengetik chapter itu sekarang.