Chapter 49
Astarte
"Yang mulia." tegur Shura yang muncul tak lama setelah Athena dan Pope Shion di kuil suci Athena. Shura datang bersama Kanon dan Lecca. Lecca sama sekali tak memandang Athena ketika sampai di kuil Athena, dia tak peduli dengan dewi perang itu, Lecca menyapu pandangannya ke sekeliling kuil terbuka itu.
Serangan tiba-tiba itu datang tepat menuju Athena, "bahaya awas Athena!" Pope Shion yang ada di depannya langsung memblokir serangan itu dengan kertas segel Athena di tangannya yang membentuk suatu barrier, serangan yang terblokir itu bertabrakan membuat ledakan cosmo yang cukup besar, Kanon, Athena dan Shura melindungi diri dengan mengangkat tangan mereka. Setelah serangan itu suasana kuil Athena kembali sunyi. Kanon menurunkan tangannya perlahan, memandang ke kanan dan kiri, sumber serangan itu berasal dari depan kuil Athena tepatnya jalan menuju Istana Pisces.
Kanon melirik Lecca wajahnya kini tanpa ekspresi, datar dan dingin, dia berjalan menghamnpiri Pope Shion dan menyentuh bahunya.
"Cukup yang mulia." kata Lecca, dia melewati Shion dan berdiri di depannya."Tunjukkan dirimu Astarte, aku tahu kau ada disini."
Suara tawa mengejek menggema di kuil Athena, Kanon melirik Lecca dia sama sekali tak menunjukkan emosinya, tetapi dari matanya Kanon tahu Lecca sangat waspada memperhatikan ke segala sudut di kuil Athena.
Kali ini tanpa peringatan, segerumbulan tali hitam muncul dari bawah tanah melilit kaki dan tubuh Lecca, gadis itu menamengi dirinya dengan satu tangan dan satu tangannya yang lain terlilit menempel tubuhnya bahkan tali hitam misterius itu turut melilit lehernya.
"Kasar sekali. " gumam Lecca, tangan yang menamengi tubuhnya juga terlilit tali hitam itu, tali itu memang mengikat hampir seluruh tubuh Lecca dan mematahkan semua daya geraknya, tetapi anehnya Lecca masih saja terlihat tenang padahal Kanon dan Shura sudah terlihat cemas, mata Lecca masih memandang lurus-lurus ke depan.
"Excalibur!" seru Shura melancarkan jurusnya memotong tali yang melilit tubuh Lecca, dia meraih pinggang Lecca dan membawanya menjauh dari tempat tali-tali hitam itu muncul. Kanon menyusul di belakang Shura dan "Cappricio!" serunya, sebuah cahaya melesat dari telapak tangan kanon dan mendarat dengan ledakan dahsyat, kabut debu menutupi kuil Athena akibat serangan Kanon, Lecca bisa melihat tangan Kanon yang terkepal bergetar, serta gemeretak gigi Kanon yang berusaha menahan amarahnya.
"Kau baik-baik saja, Lecca?" tanya Shura, tangan besarnya masih melilit di pinggang ramping Lecca, Lecca hanya tersenyum dan mengangguk menjawab pertanyaan Shura.
"Wah..wah..wah…serangan yang menakjubkan sekali." kata seseorang, semua yang ada di kuil Athena mendongak memandang patung besar dewi Athena, di telapak tangan patung itu duduk seorang lelaki, memangkukan kakinya dengan santai sembari menepukkan tangannya, matanya hitam tak berpupil memandang rendah dari ketinggian, dia tersenyum pada Lecca.
Lelaki itu bangkit dan melompat dari atas patung besar Athena dan mendarat ringan di lantai batu.
Pope Shion masih berdiri di depan Athena menamenginya, Shura masih memegangi lecca, Kanon mundur selangkah ketika Astarte mendarat. "Astarte." desis Kanon, dia menatap Astarte dari atas ke bawah, dia menelan ludahnya inikah iblis itu, memang Kanon pernah bertemu dengannya dalam kepingan ingatan Lecca yang ditunjukkan oleh Adder, tetapi inilah pertama kalinya Kanon berhadapan langsung dengan Astarte, iblis yang dijuluki tangan kanan sang raja iblis Lucifer, cosmonya begitu gelap bahkan lebih gelap, udara di sekitar kuil Athenapun terasa berat karena kehadirannya, kehadiran Astarte saja begitu mengintimidasi bagaimana jika Lucifer benar-benar bangkit, pikir Kanon.
"Lecca…." ucap Astarte, matanya yang hitam seperti lubang tak berdasar memandang Lecca dingin.
"Rupanya kau bukan seorang pengecut." balas Lecca pedas.
Ada kilatan amarah dimata dingin Astarte, membuat Shura mengeratkan pegangannya pada lecca. Shura tak ingin Lecca bertindak sembrono, dia merasakan Astarte bukan iblis kelas teri seperti Byleth.
"Kita tak punya banyak waktu, Lecca, bercakap-cakap yang tak berguna begini, bagaimana kalau kau bilang pada gold saint disampingmu untuk menyerahkan diri secara sukarela." kata Astarte.
Lecca memegang tangan Shura yang melingkar di pinggangnya, Shura melirik Lecca meski tak sedikitpun kegelisahan terlukis di wajahnya tetap saja Shura bisa merasakan kalau tangan Lecca sedikit gemetar.
"Bagaimana kalau kau saja yang menyerahkan sebelas birthstone yang ada padamu tentunya secara sukarela." kata Lecca.
Astarte menatap Lecca lalu tertawa sinis. "Itu tak akan terjadi."
"Hal yang sama juga berlaku untukmu, Astarte." balas Lecca.
"Menarik, kalau begitu aku tak akan sungkan lagi." ucap Astarte, ia mengambil ancang-ancang menyerang Lecca, namun dirinya terkejut dia tak bisa bergerak, tangan dan kakinya bagai terikat sebuah tali yang tak terlihat, Astarte mengerutkan keningnya melirik tajam pada Kanon yang berdiri di depan Lecca dan Shura.
"Jadi kau?!" kata Astarte, "apa kau pikir ini bisa menghentikanku?"
Kanon membelalakan matanya ketika Astarte menngangkat tangannya dengan mudahnya seakan dia tak terpengaruh oleh jurus miliknya, "tidak mungkin" pikir Kanon siapapun yang terikat dengan jurusnya yang satu ini tidak akan bisa bergerak satu milipun.
Tetapi pada kenyataannya jurus itu sama sekali tak mempan pada iblis yang satu ini.
"Aku tak punya urusan denganmu." ucap Astarte mengarahkan telapak tangannya pada Kanon dan melepas jurusnya. Serangan Astarte begitu cepat sehingga Kanon tak sempat menghindar dia mengangkat kedua tangannya melindungi wajahnya, terdengar suara seperti benturan keras dan suara bergemuruh lalu kemudian kuil Athena menjadi sunyi. Kanon perlahan menurunkan tangannya dan membuka matanya.
"Jangan coba menyentuhnya!" ancam Lecca terkesan sangat marah dengan tindakan Astarte, Lecca berdiri di depan Kanon dalam posisi siaga dengan dua pedang Hyperion ditangannya.
Shura memandang Lecca, gadis itu melompat dengan cepat begitu Kanon diserang oleh Astarte, ketenangan tak lagi menghiasi wajahnya, sekilas Shura bisa melihat rona ketakutan di wajah Lecca saat serangan Astarte mendekati Kanon, Lecca melepaskan diri dari pelukan Shura sepertinya tak berpikir panjang dan juga tak peduli kalau serangan itu bakal menembus dirinya. Shura menghela nafas, pasti yang dilihat Lecca bukan Kanon tetapi Saga, pikir Shura.
Astarte membisu, tangannya sobek dan berdarah serangannnya dimentahkan dengan mudah oleh Lecca, dia sedikit terkejut dengan kekuatan Lecca ini dan tak menyangka kalau kekuatan gadis ini begitu menekannya hingga membuatnya tergores, mski hanya sedikit tetapi itu sudah melukai harga dirinya.
"Kenapa? Merasa terhina?" ejek Lecca.
Astarte menyeka lukanya dan mengepalkan tangannya, terlihat geram dengan Lecca.
"Kau akan membayar semua ini Lecca!"
"Aku terima itu" Lecca memainkan pedangnya memasang kuda-kudanya begitu juga Astarte, mereka melompat bersamaan menyongsong lawannya.
"Lecca, jangan!' cegah Kanon tangannya menggapai ujung baju lecca tapi tak bisa padahal jaraknya dengan Lecca tak begitu jauh, dia tak ingin terjadi apa-apa pada Lecca, Kanon tahu kalau Lecca sudah tak mempedulikan apa-apa lagi selain merebut birthstone milik Saga dan yang lainnya, dia belum lupa percakapan Lecca dengan Shura sewaktu di Istana Carpricorn tadi.
"Sesuai dengan keinginanmu." kata Shura.
"Itu akan memudahkanku" balas Lecca.
"Tapi, apa jaminannya darimu kalau aku pasti akan kembali ke sanctuary?." sambung Shura, menatap tajam Lecca.
"Nyawaku" ucap Lecca singkat dan tanpa keraguan sedikitpun, alis Kanon sampai menghilang dibalik rambutnya mendengar perkataan Lecca.
Shura tertawa pelan, dia tahu Lecca melakukan itu bukan untuknya tetapi semata-mata untuk menyelamatkan Saga, "kau mengatakan itu untuk Saga bukan untukku." kata Shura.
Kanon sangat setuju dengan perkataan Shura, Kanon yakin memang itulah yang dirasakan oleh Lecca meski dirinya hanya bisa menebak saja.
Lecca terdiam dan berjalan mendekati Shura, berdiri di depan pria bertubuh tegap itu
"Kau juga, kau melakukan itu bukan untukku tetapi untuk menyelamatkan Aiolos dan yang lainnya." kata Lecca.
"Kau salah, aku memang melakukannya untukmu…Lecca" balas Shura serius.
"Dan aku juga begitu, Shura." tegas Lecca, dia memandang Shura tak kalah seriusnya.
Lama mereka saling pandang, Shura mengangkat tangannya dan membelai lembut rambut Lecca tak menjawab hanya tersenyum, dalam hatinya dia sedikit merasa senang.
Pertarungan antara Astarte dan Lecca berlangsung sengit mereka saling serang dengan kekuatan yang besar, Shura menarik Kanon mejauh dari medan pertempuran, Athena dan Pope Shionpun tak bisa berbuat banyak untuk menghentikan bahkan menyela pertarungan itu.
Kanon hanya bisa menahan semua rasa khawatir terhadap Lecca, sebenarnya dia ingin langsung melompat ikut andil dalam pertempuran ini tetapi Athena melarangnya hanya dengan tatapan matanya dan gelengan kepalanya, Kanon tak bisa membantah perintah dewi perang itu, Kanon melirik Shura sedari tadi lelaki itu tak melepas matanya dari Lecca dan Astarte meski terlihat tenang Kanon tahu tangannya terkepal dan bergetar, itu tandanya Shura menahan emosinya seminimal mungkin, saint yang satu ini terkenal sangat ketus dan selalu curigaan, meski pada awalnya Shura sama sekali tidak percaya dan selalu menentang Lecca, entah apa yang menyentuh hati lelaki ketus ini pada akhirnya dia mau mendukung lecca. Pertarungan itupun berhenti, Lecca berdiri satu tangannya memegang perut kirinya serangan Astarte sedikit menyerempet dan mengakibatkan luka, darah menetes ke lantai batu. Astarte tersenyum sedikit puas melihat keadaan Lecca dia berhasil melukai ghost yang satu ini, meski tidak terkena tempat fatal tetapi serangan itu membuat Lecca terlihat kesakitan, sebagai buktinya Astarte melihat kaki Lecca gemetar dan peluh membasahi pelipisnya dia mencoba menahan rasa sakit yang menderanya dengan tetap bersikap tenang.
"Apakah itu sakit lecca?" tanya Astarte
"Tentu saja bohong kalau ini tidak sakit!" jawab Lecca jujur, "kau sendiri?" Lecca menunjuk bahu Astarte yang sobek dan pipinya yang berdarah. Astarte melirik lukanya sendiri, "kurasa kau tak akan merasakan apa-apa, karena kau tak akan mengerti rasa sakit yang dirasakan manusia. Rasa sakit untuk manusia adalah suatu peringatan"
"Aku tak punya waktu mendengar ceramahmu Lecca, aku tak peduli apa yang akan dialami manusia, mengenai rasa yang dialami manusia, yang aku pedulikan hanya yang mulia Lucifer." potong Astarte dingin
Lecca mendengus, "karena itu kau tak akan menang melawanku, melawan manusia."
"Sombong sekali!" balas Astarte, "manusia adalah makhluk yang gampang sekali di manipulasi dan gampang sekali berubah, mereka akan menghalalkan berbagai cara meski itu bersatu dengan iblis untuk mencapai keinginannya mereka memohon kepada kami saat Tuhan mengacuhkan mereka, dengan kebangkitan yang mulia Lucifer maka semua keinginan manusia akan terkabul."
"Terkabul?" ulang Lecca. "Kalian hanya sekumpulan iblis penipu!"
"Seharusnya kau, berterimakasih padaku Lecca, karena akulah yang mengembalikanmu ke dunia ini untuk mengabulkan permintaanmu." Lecca tak menjawab perkataan Astarte, benar Astarte yang mengabulkannya tetapi bukan ini yang diinginkan Lecca.
Astarte melirik Shura, diam-diam Astarte memerhatikan Gold Saint Carpricorn ini dan dilihat dari cara dia menyelamatkan Lecca tadi, dia bisa menyimpulkan kalau Shura akan melakukan apa saja untuk melindungi Lecca, tidak ada gunanya mengincar Athena lagi, pandangan Astarte beralih ke Lecca, meski Lecca masih bisa bertarung melawannya tetapi waktu mengharuskan dirinya untuk bertindak cepat, selain itu Astarte melihat inilah saat yang tepat luka yang di derita Lecca tak akan berregenerasi dengan segera, saat ini Lecca sedang lemah, akan sangat mudah melakukan serangan sekali lagi pada gadis itu.
"Kita akan selesaikan ini." Astarte mengangkat tangannya sembari melempar pandangannya kearah Shura, pandangan Shura bersirobok dengan Astarte, iblis itu melengkungkan bibirnya membentuk suatu senyuman yang menantang Shura, jantung Shura berdegup kencang saat Astarte tersenyum padanya, pandangannya beralih ke Lecca yang masih memegangi lukanya, Shura bisa melihat lukanya sama sekali tidak membaik.
"Enmity Soul." gumam Astarte
"Lecca!" teriak Shura, dia spontan berlari menyongsong Lecca, Athena gagal mencegah Shura, lelaki itu berlari tanpa mempedulikan teriakan Athena, Shura menangkis serangan Astarte dan berbalik menyerang Astarte, Shura yakin kalau serangan itu mengenai iblis itu, saat pandangannya mulai jelas lagi, Astarte menghilang.
"Apa dia berhasil mengenainya?" tanya Pope Shion.
Kanon terdiam, tidak mungkin iblis sekelas Astarte dengan mudah bisa dikalahkan hanya dengan serangan ringan seperti itu, Kanon tampak waspada dia juga tak bisa merasakan cosmo Astarte.
"Sembrono sekali kau Shura!" bentak Lecca, Shura berbalik dan menatap Lecca yang sudah berdiri di depan shura wajahnya terlihat murka. "Kau bisa mati!"
"Bicara apa kau…"
"Aku memang memintamu untuk mati, hanya dalam kemungkinan terburuk sebenarnya aku sama sekali tak ingin kau melakukan ini Shura, aku tak ingin kau terluka sebisa mungkin aku bisa merebut birthstone itu tanpa melibatkanmu dalam kemungkinan terburuk itu!" kata Lecca matanya terlihat berkaca-kaca.
"Aku sudah bilang aku bersedia melakukan apapun yang kau minta Lecca, tanpa syarat kenapa kau masih saja menanggung bebanmu sendiri!" kata Shura tegas.
Lecca melebarkan matanya, dia tertunduk. "Bodoh!" makinya
"Kalau kau begitu ingin mati, maka aku akan mengabulkan keinginanmu Saint Carpricorn." dari udara kosong di belakang Shura, Astarte muncul dan dengan cepat mengambil birthstone milik Shura, batu itu melayang dan mendarat di tangan Astarte, sementara tubuh Shura ambruk berdebam dilantai batu.
Melihat itu Kanon tak bisa lagi menahan kesabarannya. "Tak kubiarkan kau membawanya!" serunya berlari menyongsong Astarte dan menyerangnya namun serangan Kanon ditepiskan Astarte dengan sangat mudah seperti menyingkirkan lalat, dia berbalik menyerang Kanon dan serangannya itu membuat Kanon terhempas hingga tersungkur, Pope Shion membelalakan matanya tak percaya, Kanon yang dibilang kekauatannya setara dengan Saga bisa dikalahkan hanya dengan sapuan tangan kaki tangan Lucifer ini.
"Aku tak punya urusan denganmu, Saint Hamelin!" tukas Astarte
"Ya, tapi aku masih punya urusan denganmu, heh! Astarte!" balas Kanon, dia sudah berdiri lagi, tanpaknya meski terhempas cukup keras tapi Kanon tak kelihatan kesakitan atau terluka parah, malah dia tertawa mengejek. "Lembek sekali seranganmu." katanya.
Astarte tersentil mendengar perkataan Kanon, dia mengantongi birthstone milik Shura dan mengarahkan tangannya pada Kanon memasang kuda-kura serangannya. "Bersiaplah mati." kata Astarte, "Enm…UKH!" belum sempat Astarte selesai merapal manteranya Lecca muncul dari arah yang tak terduga menebas tangan Astarte, Astarte terlambat menghindar, darah segar berwarna hitampun muncrat dari tangan Astarte yang putus tertebas Pedang Hyperion, dalam gerakan lambat tangan itu melayang dan jatuh tepat di depan kaki Lecca.
"Berikutnya kepalamu!" seru Lecca, cipratan darah Astarte menghiasi wajahnya.
Astarte jatuh berlutut sambil memegangi tangannya yang buntung, darah hitam mengalir deras dari luka itu.
"Sial!" gerutu Astarte. "Aku harus pergi dari sini. Birthstone terakhir saudah kudapat taka da gunanya aku da disini lagi." katanya dalam hati, dia menatap Lecca dan tersenyum penuh kemenangan. Dari belakang Astarte muncul lubang hitam, iblis itu berdiri tak memperdulikan luka yang di deritanya, berbalik dan berlari menembus lubang hitam yang terbuka di belakangnya.
"Tunggu!" seru Lecca dia berlari mengejar Astarte. Melihat itu Kanon spontan langsung berlari mengejar Lecca, tetapi, "Kanon berhenti!" seru Athena. Langkah Kanon terhenti suara Athena membuat setiap sel tubuhnya refleks untuk mematuhinya, namun pandangannya tak beralih dari lubang hitam yang perlahan mulai menutup, Lecca sudah masuk kedalam sana, Kanon sangat cemas dengan keadaan Lecca di dalam sana, Kanon menghela nafas dan berbalik dia harus mengambil resiko ini, ia pun membalikkan badannya dan berlutut.
"Maaf Athena, aku harus membantah perintahmu kali ini." kata Kanon, usai mengatakan itu Kanon berdiri dan berbalik mengejar Lecca masuk kedalam lubang yang kini terutup separuh.
"Hentikan Kanon!" seru Athena lagi tetapi Kanon mengacuhkannya, dewi perang itu mencoba mengejar Saint Hamelin tersebut dan mencegah tertutupnya lubang itu namun sia-sia lubang itu menghilang di udara kosong menutup jalan untuk Athena masuk.
Athena berdiri di depan hilangnya lubang itu, dia mengeratkan pegangannya pada tongkatnya, wajahnya terlihat cemas. "Hanya tinggal tunggu waktu sampai Lucifer benar-benar bangkit" ucap Athena, Shiopun tak bisa membalas perkataan Athena, kalau kemungkinan terburuk Lucifer berhasil lepas dari segelnya maka perang besar tak terhindarkan antara dewa dan para iblis, Lucifer punya kekuatan untuk melepaskan segel semua iblis yang ada di muka bumi ini dan menjadikannya pasukan yang kuat seperti badai yang dahsyat yang akan meluluhlantakkan bumi ini.
Shion berpikir sudah saatnya dewa dan dewi yang sang penjaga dunia atas maupun dunia bawah harus bersatu dengan Athena untuk melawan Lucifer, mungkin itu adalah cara terakhir dan satu-satunya yang bisa membuat Lucifer kembali ke tempat seharusnya dia berada. Tetapi, hal itu mudah diucapkan tetapi sulit untuk dilaksanakan, para dewa dan dewi penjaga dunia atas maupun bawah punya kepentingan masing-masing, tak jarang mereka sempat bersitegang karena hal-hal yang sebenarnya tak perlu. Namun, tidak ada salahnya untuk melakukan cara yang sulit ini, selagi masih ada secercah harapan maka bukan mustahil hal ini dilakukan.
Chapter 50
I am simply I
Sementara itu Kanon ternganga melihat apa yang ada di balik lubang yang dimasukinya, itu adalah lorong dimensi yang kacau, labirin yang sangat rumit jika dirinya salah langkah sedikit saja bisa-bisa dia terjebak atau tersedot ke dimensi lain dan terperangkap disana untuk selamanya. Tapi Kanon tak terlalu khawatir akan hal itu sebab, dirinya tidak asing dengan labirin seperti ini, Kanon tertawa sendiri, mau tak mau dia harus berterimakasih pada Saga yang mau mengajarkan sedikit teknik milik Gold Saint Gemini. "Kau akan membutuhkannya suatu hari, jadi berlatihlah." kata Saga waktu itu, tak disangka apa yang pernah dipelajarinya dari sang kakak digunakan untuk menolong Lecca untuk menolong Saga.
Saga pasti sudah memikirkan ini, pikir Kanon. Namun, dia buru-buru menggelengkan kepalanya keras-keras, "nggak mungkin!" serunya dalam hati, Saga tak mungkin berpikiran sejauh itu, ini hanya kebetulan semata, tidak, Saga mempersiapkan semuanya untuk Athena, Kanon mendengus, betapa menyedihkan bila mengetahui seseorang yang berkata mencintai kita tetapi yang ada di pikiran dan hatinya hanya ada orang lain yang tidak memberinya pilihan selain mematuhinya, karena itu, Saga membenci ketidakberdayaannya, sehingga terus saja menyesalinya pada akhirnya penyesalan itu mejadi ikatan yang mengikat Lecca dan menarik Astarte untuk menjadikan Lecca sebagai ghost. Sekali lagi Kanon menghela nafas, matanya menyapu apa yang ada di depannya, sejauh mata memandang hanya ada kegelapan dan semburat seperti aurora indah memang tapi itu adalah pembengkokan dimensi waktu, Kanon berpikir keras dan mencoba mengingat apa yang pernah Saga beritahukan padanya mengenai hal ini. Meskipun dia tahu tetapi ini baru pertama kalinya dia terjun langsung kedalam labirin dimensi waktu yang merupakan keahlian Saga. Yah, buat kakaknya itu hal ini bukanlah hal yang susah, meski untuk Kanon sama mudahnya tetapi tetap saja ini pengalaman pertama untuk Kanon.
"Ingat Kanon" kata Saga, "jika kau ada di dalam labirin waktu, jangan pernah ragu dan teralih perhatianmu. Yang harus kau lakukan adalah tetap fokus pada apa yang ingin kau cari di dalam lorong waktu yang kacau dan seperti labirin itu."
"Tetap fokus?" ulang Kanon.
"Ya."
"Nah, bisa kau jelaskan lagi lebih detail Saga?"
"Sebagai contoh, Dream Realm milik Dewa Tidur, Hypnos, tempat itu bukan tempat yang mudah kau capai hanya dengan membuka pintu, naik gunung atau turun lembah atau menyelam, atau turun ke perut bumi, tetapi itu adalah tempat yang akan kau temukan jika kau ingin menemukan tempat itu, atau sang dewa sendiri yang membukakan jalannya bagi manusia yang diinginkannya, bahkan dewi seperti Athena tidak akan bisa masuk seenaknya kedalam Dream Realm, tetapi kita bisa menemukannya jika kita tetap fokus untuk menemukan tempat itu" jelas Saga.
"Lalu bagaimana, jika yang kita cari bukan tempat atau sesuatu yang tidak bisa bergerak, yah…misalnya aku ingin mencari kau di antara labirin waktu itu?" tanya Kanon.
"Itu akan mudah." jawab Saga.
Kening Kanon berkerut, melihat wajah adiknya itu Saga hanya bisa tersenyum mengejek "Kau cukup merasakan cosmo dari orang yang akan kau cari." kata Saga.
"Merasakan cosmo." gumam Kanon, ingatannya selesai dan dia mulai menajamkan setiap inderanya, pasti Lecca ada di depan sana, benar saja beberapa menit kemudian Kanon bisa melihat Lecca sedang berlari di depannya, menuju suatu istana dengan menara-menara runcing, tanpa banyak menunggu kanonpun langsung berlari kearah dimana dia merasakan cosmo Lecca bersinar kuat.
Sementara itu Lecca masih berlari diantara labirin dimensi itu, langkahnya terhenti karena dia merasakan ada sesuatu di belakangnya, dia ada merasakan seseorang mengejarnya, cosmo ini berbeda dengan milik Pope Shion atau Athena, Lecca melebarkan matanya apakah cosmo ini milik Kanon? Lecca masih ragu, tetapi kenapa dia merasakan kehangatan yang sama dari cosmo yang sedang mendekatinya ini, kehangatan yang sama seperti yang Saga miliki.
"Aku menmukanmu!" kata seseorang dari belakang Lecca, serta merta Lecca membalikkan badannya dan terkejut melihat siapa yang muncul di belakangnya. Kanon. Entah kenapa ada rasa takut yang merayapi Lecca ketika melihat kemunculan Kanon, dia tak ingin Kanon berada di tempat ini, dia tak ingin laki-laki ini bertindak di luar kemampuannya seperti yang terjadi di kuil Athena tadi, Kanon mencoba menghentikan Astarte dengan serangannya, tetapi tidak mempan Astarte malah balik mau menyerangnya, kalau saja waktu itu Lecca tak menangkisnya Kanon pasti sudah terluka, Lecca memang tak meragukan kemampuan dan kekuatan Kanon terlebih Athena sendiri berkata kalau hanya Kanon yang dapat di sejajarkan dengan kakaknya sSga, dalam hal apapun termasuk dengan kekuatan. Tetapi tetap saja, Lecca tak suka Kanon ada ditempat ini, tidak bisa karena wajah itu melemahkan Lecca dan membuat Lecca tidak konsentrasi dengan apa yang harus ia lakukan. Pikirannya akan terpecah kalau dia ada disini.
"Kenapa kau ada disini?!" ujar Lecca ketus.
"Menolongmu." balas Kanon enteng.
"Bukankah sudah kubilang untuk menunggu di sanctuary?" nada suara Lecca meninggi, seperti seorang guru yang memarahi muridnya.
"Menunggu bukanlah perkerjaan yang menyenangkan Lecca." bantah Kanon.
Lecca menatap Kanon tajam dia tahu tidak ada gunanya bersitegang dengan Kanon, sepertinya Kanon tak kalah keras kepalanya seperti Saga, tetapi kanon punya grade yang lebih tinggi untuk yang satu ini daripada sang kakak.
"Kembalilah!" tukas Lecca.
"Tidak!" tegas Kanon.
"Aku minta kau untuk kembali!" Lecca memberi penekanan pda setiap kata yang diucapkan.
"Aku menolaknya."
"Jangan keras kepala Kanon!" bentak Lecca.
"Aku bilang tidak ya tidak!" balas Kanon tak kalah keras.
PLAAAK! Tamparan mendarat di pipi Kanon, Saint Hamelin itu tampak terkejut dengan tidakan Lecca ini tak disangka Lecca menamparnya, pipi Kanon terasa panas dia terdiam menatap Lecca, lama mereka saling pandang dalam diam, Lecca menatap tajam Kanon tangan terkepal dan sedikit bergetar, Lecca marah dan benar-benar marah, kenapa Kanon tak mengerti maksudnya dia hanya ingin Kanon terluka, itu saja.
Sebaliknya Kanon memandang Lecca tak berkedip, pandangannya berubah dingin, Kanon memahami kenapa sekarang Lecca seperti tak mengijinkan dirinya untuk tidak berada di noesis, berhadapan langsung dengan Astarte, Kanon jadi ingat kejadian waktu di kuil Athena, sewaktu dirinya mencoba melawan Astarte dengan jurusnya.
"Ah, ini menyebalkan!" Pikir Kanon, kenyataan itu memang menyakitkan. Kanon tertunduk tak memandang Lecca dia tertawa pelan, tertawa seakan semuanya ini sangat konyol.
"Siapa yang kau lihat di depanmu saat ini Lecca?" tanya Kanon.
Lecca mencoba menangkap apa yang dikatakan Kanon, suara Kanon pelan sekali seperti gumaman yang hanya Kanon sendiri yang mendengarnya.
"Apa yang sedang kau katakan?"
"Siapa yang kau lihat di depanmu saat ini Lecca?!" ulang Kanon kali ini suaranya terdengar lantang dan penuh kekesalan.
Lecca mebelalakan matanya. "Jawab aku!" ujar Kanon kedua tangannya memegang bahu Lecca, mata gelapnya menuntut suatu jawaban segera.
"Memangnya siapa yang ada di depanku, kalau bukan Saint Hamelin, Kanon?" jawab Lecca tegas.
Kanon mendengus, "Pembohong!" ujar Kanon. "Kau sama saja seperti Saga! Saga yang bilang mencintaimu tetapi untuknya hanya ada Athena! Kau bukan menganggapku Kanon tetapi kau menganggapku sebagai Saga, karena wajah ini, wajah yang sama dengan Saga. Aku adalah Kanon! Dan bukan Saga! Karena aku adalah aku!" ujar Kanon, usai mengatakan itu Kanon langsung tersadar dari kemarahannya, tidak seharusnya dia mengatakan hal yang sangat menyakitkan itu pada Lecca.
Lecca terdiam seribu bahasa, kalimat Kanon ini membuat dadanya nyeri, Lecca tahu itu, ia tahu bagi Saga yang utama bukan dirinya, bagi Saga hidup dan matinya bukan untuknya tetapi untuk Athena, tetapi Lecca tak memungkiri kata-kata Kanon karena itulah yang Lecca rasakan selama ini, sedih dan rasa cemburu memenuhi hati Lecca tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain memahami Saga karena dia begitu menyayangi lelaki itu.
Lecca sangat tahu perasaan Saga kepada dirinya, bukanlah hanya isapan jempol saja atau sekedar gombal. Lecca menjadi seorang ghost adalah bukti nyata dari rasa cinta Saga pada dirinya, yang membawa Lecca dari tanah kematian ke dunia fana ini. Meski demikian di sisi lain ia juga merasa bersalah pada Kanon, karena benar karena mereka kembar Lecca selalu melihat Kanon sebagai Saga, trauma saat dirinya tak bisa melindungi Saga saat Murmur mengambil birthstone milik Saga, menjadi cambuk yang amat pedih buat Lecca, dia tak bisa mencegah itu, karenanya wajah Kanon yang bagai pinang dibelah dua dengan Saga, sungguh sangat membuatnya cemas.
Lecca tertunduk, melihat itu Kanon jadi merasa bersalah telah mengatakan kalimat itu, namun tak disangka Lecca malah tersenyum padanya meski itu adalah senyum sedih "ma…." Belum selesai Lecca mengucapkan kalimatnya Kanon sudah menubruk dan memeluknya erat. "Tidak, akulah yang seharusnya minta maaf." bisik Kanon di telinga Lecca, karena Kanon sudah melihat apa yang ada di balik pintu ingatan yang ditunjukkan oleh Adder waktu itu, Kanon jadi mengerti kesedihan Lecca. Lecca terdiam dalam pelukan Kanon, wangi tubuh Kanon menghangatkannya, pelukan ini seperti membungkus semua kesedihannya,tetapi kesedihan ini tak bisa dibandingkan dengan kesedihan Saga, begitulah pikir Lecca.
"Aku sudah membuatmu sedih, maafkan aku Lecca, hanya saja aku tak bisa menyembuyikan apa yang kurasakan dan tindakanmu itu membuatku semakin tak bisa mengendalikan apa yang kulakukan, Saga sudah membuatmu sedih sekarang aku malah menambahinya dengan kalimat yang kejam, aku benar-benar minta maaf…..Lecca" kata Kanon.
"Yang paling sedih disini bukanlah aku, tetapi Saga." balas Lecca.
Kanon terenyak dengan perkataan Lecca dia melepaskan pelukannya dan memandang lekat-lekat Lecca. "Bagaimana bisa kau berkata seperti itu?! Ini terlalu tidak adil, kenapa kau menyalahkan dirimu, Saga juga.."
"Karena akulah yang muncul ditengah Saga dan Athena." potong Lecca, Kanon memandang takjub Lecca.
"Sebelum aku datang keteguhan hati Saga untuk Athena tidak bernoda dan tidak tergoyahkan, tetapi setelah aku bertemu dengannya di sanctuary karena keegoisanku Saga jadi bimbang, dan itu membuatnya sedih"
Kanon terdiam sejenak, perkataan Lecca tak salah sepenuhnya, sebagai seorang saint, Saga memang sangat loyal sekali pada Athena, tetapi semenjak perintah mengisolasikan diri dari dunia luar turun dari Athena dan Pope Shion, Saga jadi berubah, dia kehilangan kehangatannya dan kehilangan senyumnya, menjadi orang yang kaku dan dingin. Saga terlihat kesepian, berbeda dengan Kanon yang berada di pulau Zan, dirinya masih bisa berinteraksi dengan penghuni pulau meski zaman telah berubah dimana para dewa dewi tak lagi dipuja-puja, tetapi Saga tinggal di sanctuary terpenjara, terisolasi, terasing, memang ratusan tahun yang lalu, sekitar sanctuary ada desa penduduk, seiring dengan berubahnya zaman, mereka meninggalkan tempat itu hingga sekarang hanya menjadi tumpukan batu yang mulai termakan waktu, kuil Athena tak lebih dari sekedar objek wisata saja.
"Mungkin kau benar, tetapi jika Saga tak bertemu denganmu, dia akan terus kehilangan kehangatannya, yang dia tahu hanya melindungi dengan cara membunuh setiap penyusup yang masuk ke sanctuary, lama kelamaan dia akan kehilangan hatinya sebagai manusia." kata Kanon.
Lecca tersenyum tipis. "Cinta Athena adalah harapan dan kekuatan untuk para saintnya." kata Lecca, "setidaknya itu yang kubaca dibuku yang ditulis oleh Pope Shion, kurasa tanpa kehadiranku Saga tak akan kehilangan sisi kemanusiaannya dan hatinya yang hangat." Lecca menatap Kanon lembut. "Kurasa karena itu juga kau memlih untuk melindungi Athena, meski tak berada disampingnya."
Perkataan Lecca tepat menghujam Kanon, Lecca benar meski bisa memilih untuk tidak menjadi saint Athena tetapi Kanon malah memilih untuk menjadi pasukan Athena, bukankah itu artinya dia sama tetapi tak serupa dengan Saga?
"Dan aku yakin Athena sangat mengkhawatirkanmu sekarang." ucap Lecca mengembangkan senyumnya. "Aku minta maaf kalau sikapku yang selalu menyamakan dirimu dengan Saga tadi, aku tahu kau sangat tak suka dibandingkan atau disamakan dengan Saga, karena kanon kau adalah kau bukan begitu?" Lecca memegang wajah Kanon dan tersenyum lembut.
