"Kau punya waktu luang hari ini? Bagaimana jika minum di tempatku?"

Mengingat kemarin Sasuke pergi tiba-tiba dengan wajah merah padam, dan ekspresi 'berhenti-bicara-atau-aku-akan-membunuhmu!', Naruto tidak menyangka ajakan dalam bentuk pesan singkat yang dikirimnya 45 menit lalu mendapat balasan positif.

Sekarang, kursi penumpang mobilnya tidak lagi kosong karena sudah diduduki si pria berkulit pucat.

"Di blok kedua ada minimarket, apa ada sesuatu yang ingin dibeli? Aku punya cukup banyak persediaan liquor di rumah, tapi kalau kau ingin bir aku bisa membeli beberapa," tanya Naruto, yang direspon gumam singkat tidak tertarik. "Baiklah, kalau begitu."

Melirik singkat beberapa kali untuk melihat ekspresi datar Sasuke yang saat ini menatap keluar jendela. Setelah di rasa puas, ia tersenyum tipis.

Tidak perlu memastikan dua kali, Naruto tahu apa penyebab si Uchiha marah kemarin—itu karena kalimatnya yang bisa dibilang cukup frontal.

Jujur saja, apa yang dilakukannya memang sengaja. Pertama-tama terlihat tidak peduli, hingga pihak lainnya merasa tidak nyaman—dalam tingkat lebih tinggi, membuat mereka mengaku salah—setelah itu menghujani dengan afeksi penuh.

Naruto punya banyak pengalaman, ia tahu apa yang harus dilakukan. Lagipula cara seperti itu sesekali dibutuhkan dalam menghadapi sosok yang sulit berkata jujur, contohnya; Uchiha Sasuke.

"Kunjungan pertamamu, huh?" ujarnya mematikan mesin mobil. Pintu dibuka, kakinya melangkah—setengah berlari—ke arah sisi pintu penumpang. Tanpa diminta, tangannya membukakan pintu, mempersilakan Sasuke untuk turun.

"Aku bisa sendiri, Dobe."

Naruto tertawa kecil atas protes yang didengarnya, lalu melangkah menuju pintu utama beriringan dengan si Uchiha. "Akan jauh lebih baik, jika kau cepat-cepat terbiasa dengan lingkungan ini."

Menyadari Sasuke mengernyit, tidak membuka suara. Naruto semakin tidak bisa menahan tawa karena tahu pria itu tidak paham. "Anggap saja rumah sendiri," ucapnya memutar kenop pintu. Memperlihatkan seisi rumah hasil kerja kerasnya bertahun-tahun. "Kau bisa duduk di mana pun kau mau; ruang tamu, dapur, atau mungkin kamarku."

"Kau pasti sudah gila," sahut Sasuke cepat.

"Atau mungkin tidak," balas Naruto, memerhatikan punggung si Uchiha yang melangkah menjauh.

Sofa dipilih untuk bersantai. Melihat Sasuke tidak menolak, Naruto menggulung lengan kemejanya hendak menyiapkan beberapa; gelas dari dalam bufet dapur, liquor, juga balok es.

"Sekarang? Bagaimana dengan makan malam?" Naruto memastikan.

"Aku tidak lapar."

"Alkohol bukan pilihan yang baik saat perutmu kosong, kecuali kau ingin menghabiskan malam di sini bersamaku."

"Apa kau tidak bisa berhenti mengatakan kalimat-kalimat aneh itu, Dobe?" sahut Sasuke, melonggarkan dasi, melepas beberapa kancing kemeja teratas.

"Kalimat aneh apa? Apa menurutmu ada yang aneh dari kalimatku?" tegas Naruto balik bertanya, berusaha keras untuk mempertahankan ekspresi datar, juga tidak tertawa.

Sasuke diam.

"Siapa pun yang kedatangan tamu spesial, ingin menjamu dengan baik, bukan? Apa aku salah?"

"Aku bukan tamu spesialmu," jawab Sasuke, suaranya terdengar pelan.

"Tamu terhormat?"

Sasuke lagi-lagi tidak menjawab.

"Baiklah, kuanggap itu sebagai 'iya'," ujar Naruto tersenyum puas.

.

Continued