*author's note dipindahin ke bawah smua
Lost Saga Online
A LostSaga Fanfiction
by Kdramon and Percyhood
Chapter 24: Forgotten Mech, Forgotten Soul
Selama ini, Timejump yang mereka lakukan selalu normal.
Tetapi, itu sebelum Scroll mereka habis, dan mereka harus menggunakan 'jalan gelap' dan membeli Timegate Scroll dari black market.
"Terkutuk para pedagang di black market..." gumam Razox, sembari duduk di atas lempengan besi yang sudah tua dan rusak. "Timejump-nya gagal, dan sekarang kita terpisah semua... Lagipula, tempat macam apa ini?"
"Terlihat seperti sebuah laboratorium tua untukku," balas sesosok gadis dengan suara imutnya, yang kebetulan berteleport ke tempat yang sama dengan Razox.
"Ya, aku tahu itu, Dracia.. Namun apa kau tak merasa ada yang aneh? Kau tahu, seperti udara disekitar kita memberi perasaan tak enak di perutku." Dracia hanya terdiam, mendengarkan rantauan Razox. Ia sendiri tak merasa ada sesuatu hal yang aneh dari tempat tersebut, meskipun laboratorium tua tersebut sedikit gelap, hanya beberapa jendela yang menghubungkan langit dan cahaya matahari dengan bangunan besar tersebut. Setidaknya, itulah yang Dracia pikir. Sebuah bangunan besar. Ia mungkin dapat berasumsi bahwa tempat ini adalah sebuah tempat perlindungan di bawah tanah, atau sebuah tempat penyimpanan proyek-proyek gagal dari Kuroki-san.. tapi semua itu tidak penting.
Tiba-tiba, mata Razox melirik ke arah sebuah tumpukan besi tua yang berada kurang lebih dua meter darinya.
"Ini.. T-Tidak mungkin... Bangkai tua armor V-Mechanic..."
"Apa itu?" Dracia, yang melihat perhatian Razox mendadak pindah ke hal yang lain, merasa ingin tahu dan mendekatinya.
"Tidak.. bukan apa-apa. Hanya sesuatu yang mengungkit luka masa lalu, itu saja."
Dracia termenung sejenak, memikirkan tentang kata-kata Razox barusan.
"Hei, Razox."
"Apa?"
"Ceritakan sedikit tentang masa lalumu."
"Uh.. Kenapa tiba-tiba kau ingin tahu..?"
"Karena kau yang paling terlihat misterius dari seluruh teman-teman Onii-chan."
"J-Jika aku bilang tidak, bagaimana?"
"Kau jahat."
"Huff.. baiklah." Razox terlihat sedikit terluka, namun ekspresi tersebut dalam sekejap hilang. Dracia yang sempat melihat ekspresi muka Razox yang terluka itu, menjadi khawatir, tambah semakin ingin tahu akan kejadian di masa lalu nya.
"Dulu, aku adalah player biasa di dunia LSO ini.. meski 'dulu' yang ku sebut tidak begitu lama setelah LSO di-release kedalam dunia game. Sekitar 2 tahun aku tidak keluar dari game ini, dengan mengetahui fakta bahwa hanya dua menit berlalu di dunia realita." Sambil berjalan lurus entah kemana, Razox menceritakan tentang masa lalu-nya kepada seorang gadis, yang tidak ada hubungan dengannya selain 'adik dari temannya' atau 'rekan dalam menamatkan game'.
*flashback, Razox POV*
Sebentar lagi.
Bersabarlah, Razox. Blitza akan segera memancing musuhnya kesini, dan-
"Razox, dibelakangmu!"
Aku terkejut. Sebuah naga kecil berwarna merah keluar dari tanah dan meluncurkan sebuah serangan api. Hampir saja Trooper Armor-ku terbakar. Dengan sigap tanganku menggenggam erat naga kecil tersebut, dan menggunakan skill E-Shock. Sejak pertama kali bermain, aku selalu meluncurkan skill E-Shock dengan cara berbeda- bukan lewat sekujur tubuh, tetapi memusatkan seluruh listrik yang mengalir ke telapak tanganku, dan menyetrum musuh dengan genggaman tangan.
Tunggu, siapa yang berteriak kepadaku barusan? Tidak mungkin Blitza, ia sedang-
"GROOOOAAARR!"
Sial. Itu memang Blitza. Fire Golem yang ia pancing sedang terlihat berlari ke arahku, dan menembakkan sebuah ombak api yang merambat cepat. Tanpa basa basi, aku menghindar dengan dash, lalu mendekati Golem tersebut.
"Makan ini! Laser Cannon!" Aku mengambil kuda-kuda, lalu menembakkan Laser Gun-ku dengan kekuatan penuh. Tembakanku mengenai kepala dari Golem tersebut, dan gumpalan batu panas hidup tersebut pun tersentak mundur.
Tiba-tiba, perut dari Fire Golem tertusuk dua pedang cahaya, dan pedang tersebut memotong Golem hingga ke atas. Akibatnya, bagian atas dari Golem tersebut terbelah tiga, meninggalkan diriku terpaku melihat sosok yang memegang pedang cahaya itu.
"...Kau lama, Blitza."
"Salahmu sendiri tidak mau ikut menyerang secara langsung, Razox bodoh!" Gadis bernama Blitza tersebut mematikan kedua pedangnya, dan menyimpannya. Kemudian ia membuat wajah seperti "XP" ke arahku.
Blitza. Seorang gadis yang kutemui di sekolahku. Aslinya, ia bernama Riku. Rambutnya panjang berwarna hitam kehijauan. Ia menjadi bahan bully dari hampir semua perempuan di angkatanku, karena dirinya adalah seorang anti sosial. Akulah yang pertama kali bertanya kepadanya- apakah dia menyukai game (melihat bahwa seorang gadis sepertinya menutup diri seperti itu, aku tak tahan). Sejak itu, kami berdua selalu bermain bersama, kebanyakan didalam VRMMO. Ia juga mempunyai wajah yang energetik didalam game, dan wajah cerianya membuatku terpana. Ia juga adalah cinta pertamaku. Didalam LSO, ia adalah sebuah hero bernama V-Mechanic, sebuah hero robot yang menggunakan dua pedang cahaya sebagai senjatanya. Aku sering mengejeknya 'tidak adil' karena ia bisa terbang, sementara Trooper seperti diriku hanya dapat terbang menggunakan skill trinket.
Aku sangat menyukainya. Tapi aku tak mau membahas topik tersebut dengannya, karena aku takut dia akan berpikir berbeda tentangku.
Tetapi, segalanya hancur pada suatu hari.
Hari dimana kita menyelesaikan Dungeon Temple of Fire dengan tingkat kesulitan Master.
"Razox, kau sudah dengar? Tentang kejadian pembunuhan players yang sadis di Skyscrapers?" sahut Blitza, yang sedang duduk di sebuah bangku disampingku sambil meneguk habis sebuah Energy Potion.
"Sepertinya begitu. Kudengar dalang dari kasus-kasus tersebut adalah sebuah Hero yang berbeda dari Hero normal. Seingatku.. Rare Hero?" balasku, sambil melihat kearahnya. Sial, dia benar-benar kawaii..
Didalam sebuah Power Plant yang berisi banyak sekali generator listrik, terdapat pintu dungeon untuk menuju Temple of Fire. Entah bagaimana caranya, di depan dungeon tersebut disediakan sebuah camp- atau sebuah Safe Zone, dimana players dapat beristirahat dan berinteraksi.
Tiba-tiba, terjadi ledakan besar di dekat kami. Players berhamburan dari area ledakan tersebut, hanya untuk dibakar, ditusuk, atau dicambuk sampai mati. Sebuah pemandangan yang sangat mengerikan, bagiku.
"Razox, aku akan melihat kesana!"
Blitza pun melesat ke arah ledakan tersebut tanpa berkata lebih. Aku ingin menghentikannya, tetapi.. entah mengapa kakiku mengikutinya kesana.
Bersembunyi di belakang sebuah generator, kami hanya dapat mendengar suara seseorang sedang berteriak.
"Mana dari kalian yang mempunyai Scroll tersebut?"
"Dream, kurasa level teri seperti mereka tak akan mempunyai-"
"Berisik, Nano. Lagipula, jikalau ada, apa yang kau mau lakukan?" Setelah itu, suara satu lagi terdiam. Sementara orang yang disebut Dream tersebut masih saja berteriak mencari sesuatu bernama 'Darkstar Timegate Scroll'..
"Kelihatannya mereka kuat, apa sebaiknya kita mundu-"
Aku tak sempat menghabiskan kalimatku. Blitza sudah maju menyerang, dan...
Aku tak ingat lagi. Yang terjadi setelah itu hanyalah samar-samar. Blitza tersenyum pahit, ia seperti sebuah gelas yang hancur saat menyentuh tanah... Lalu tempat tersebut meledak. Aku tertimbun reruntuhan, api berkobar dimana-mana, dan didepanku- pemandangan yang bahkan lebih mengerikan dari apa yang kubilang sebagai 'mengerikan' sebelumnya. Sesaat sebelum hilang kesadaran, aku hanya dapat melihat sesosok Player, dengan api ungu di tangannya, tertahan oleh seseorang yang memakai jubah crimson gelap.
"Tenma.. Apa yang kau lakukan..?"
"Mundur, Dream. Kau tak diperintahkan untuk membumihanguskan daerah ini. Bahkan membunuh banyak Players. Ini sebuah tindakan yang ilegal, dan juga buruk bagi nama baik kita."
"Kau semakin berisik, kau tahu itu? Aku tak menyangka salah satu dari Three Gods akan se-"
"Mundur." Aku mendengar kokangan pistol.
"Tch.."
Jadi namanya Dream?
Jadi dia... Dialah orang yang membunuh Blitza... Seorang pria dengan rambut berwarna merah
Inilah orang yang akan ku-
*flashback end, normal POV*
Dracia termenung mendengar cerita Razox. Ekspresinya semenjak ia mulai bercerita, sangat bervariasi. Dari mulai kemarahan, kesedihan, keputusasaan, kebahagiaan, dan banyak lainnya.
"Intinya begitu. Sudahlah, ini tidak perlu dibahas lagi, v-mechanic sudah punah. Yang harus kita lakukan sekarang adalah mencari jalan untuk kembali bertemu dengan yang lainnya," kata Razox.
Orang jahat datang disaat yang kurang tepat. Begitulah kira-kira yang dapat menggambarkan kondisi yang seketika runyam. Dengan tatapan penuh amarah terbawa emosi, Razox menatap jauh kearah cahaya api ungu.
"Mungkin sulit bagiku untuk merebut Darkstar Timegate Scroll. Tapi paling tidak aku bisa mengawalinya dengan membunuh kalian berdua! Muahahahaha!" suara yang mengerikan, tawa sarkastik yang selalu menghantui tim Chrono, kali ini ada dihadapan orang yang paling membencinya.
"Dracia, mundur, aku akan mengakhirinya sekarang," sebut Razox.
"Hei, apa maksud—" tak menghiraukan kata-kata Dracia, Razox menerjang Dream yang masih berjarak sekitar 100 meter didepan.
Razox berlari lurus kearah Dream, gerakannya sangat cepat bahkan tak seorangpun dapat melihat bahwa ia telah melakukan satu tembakan laser.
Dengan kecepatan suara laser itu menghantam Dream, menimbulkan efek ledakan asap yang memenuhi ruangan penuh bangkai robot tersebut. Namun Dream disebut sebagai seseorang yang kekuatannya menyamai Three Gods bukanlah tanpa sebab.
"Lambat." Ketika mendengar suara itu, Razox menyadari Dream sudah ada dibelakangnya, menghantamnya dengan pukulan penuh api ungu yang meledak-ledak. Razox terpental jauh, menghantam bangkai-bangkai V-mechanic yang sudah gosong.
"Sial," gerutu Razox. Bar HP Razox berkurang seperempat hanya dengan satu pukulan saja. Namun Dream tidak berhenti, ia berlari menerjang Razox. Melihat hal itu, Razox mencoba menenangkan dirinya, dengan mata tertutup ia menekan panel-panel tak terlihat di udara.
"Eat my fire, you piece of trash!" Dream berlari semakin kencang, bermaksud menghantam Razox dengan tubuhnya yang telah diselimuti oleh api ungu.
"Beam Out." Seketika partikel-partikel ungu diudara menangkap Dream dan mengangkatnya ke udara, sebelum akhirnya membantingnya lagi ke tanah, mengakibatkan kepulan debu menutupi pandangan kedua orang tersebut.
Razox terus memejamkan mata, senjata laser miliknya sudah siap untuk menembak. "Laser Ca-"
BOOM. Ledakan besar terjadi di daerah Razox, namun ia belum sempat melakukan skillnya. Bar HP Razox kembali berkurang, kini menyentuh setengahnya.
"Razox!" Dracia tidak dapat tinggal diam, dengan sigap ia mengeluarkan puppet miliknya dan berlari menuju asal ledakan.
"Dracia jangan!" teriak Razox. Ketika asap-asap mulai menghilang, Dracia dapat melihat jelas apa yang terjadi. Cahaya ungu yang bersinar sangat terang, sangat mencekam. Di sisi lain terlihat Razox memegangi perutnya dimana armor di bagian itu telah hancur dan hitam akibat terbakar. Tak dapat merespon, Dracia terdiam penuh ketakutan. Tongkat puppeteer miliknya jatuh seiring pemiliknya yang juga jatuh berlutut, tak kuasa menahan ketakutan yang luar biasa. Sosok Dream semakin mencekam, sekujur tubuhnya dipenuhi api ungu yang menyala-nyala. Wajahnya tak terlihat, kecuali matanya yang mengeluarkan api ungu yang berkobar-kobar.
"Lebih mudah untuk menghabisi sang boneka, haha!" Dream mengalihkan perhatian, ia memilih menerjang Dracia. Razox yang melihat itu terkejut, tak percaya dirinya dilewati oleh Dream begitu saja. Ketika ia mencoba berdiri, tangannya tak sengaja menyentuh sesuatu.
Di sisi lain, Dracia menatap sosok ungu itu berlari menuju dirinya. Ia pasrah. Dirinya dipenuhi oleh ketakutan. "MATI KAU!" Dream menembakkan bola api ungu raksasa kearah Dracia, melihat itu ia hanya dapat memejamkan matanya. BOOM.
Ledakan itu melempar Dracia jauh kebelakang, tubuhnya tersungkur, namun ia tidak merasakan damage yang besar. Ketika ia membuka matanya, terlihatlah cahaya kuning yang tipis, melindungi dirinya seperti sebuah tameng, dipusatnya terdapat seseorang dengan armor biru merah dan pedang laser yang terlihat padam.
"Ini armor para v-mechanic, paling tidak jetpack mereka membantu!" Didalam armor tersebut terdengar suara yang sangat familiar, Razox.
Melihat yang ada dihadapannya, amarah Dream semakin memuncak. "Mustahil, seorang player tidak mungkin bisa memakai seluruh gear hero lain, apalagi sampai mengeluarkan skill yang ada dari gear tersebut!"
Namun sebelum Razox sempat menjawab pertanyaan tersebut, ia merasakan sebuah sengatan. Sengatan yang sangat menyakitkan. Seketika tubuhnya dipenuhi oleh aliran listrik layaknya barang elektronik yang mengalami rusak parah. Tubuhnya tersungkur tak dapat menahan rasa setrum yang teramat sangat. Perisa kuning itu hancur berkeping-keping menjadi fragment-fragment cahaya.
"UAAAARGHH!" jerit Razox.
"Sudah kuduga usahamu tidak akan berhasil, sekarang rasakanlah kematian yang perlahan!" Benar kata Dream, bar-HP Razox semakin lama semakin berkurang, dalam hitungan detik nyawanya sudah kurang dari seperempat.
"Sekarang, tinggal kau, bocah!" Dream kembali melempar bola-bola api ke arah Dracia. Tak dapat berkutik, ia menerima serangan itu tanpa pertahanan, perlahan nyawanya berkurang. Tanpa menunggu waktu lagi, Dream mempersiapkan tangannya dengan lapisan api ungu, bersiap menghantam Dracia. Namun hanya sekejap saja ketika ia mengalihkan perhatiannya dari sang puppeteer itu, ia telah menghilang.
"Ap—bagaimana... dimana?"
"Diatasmu." Dracia menghantam Dream dari atas dengan sebuah... belati. Serangan mutlak, Dream seketika kehilangan nyawanya sebagian. Ia terkejut ketika melihat Dracia menggunakan belati. "Seorang puppeteer tidak mungkin menggunakan belati, kecuali..."
"Mungkin aku Puppeteer, atau mungkin bukan," sebut Dracia seiring dengan seekor elang yang menerjang Dream, mencakarnya dan menyayatnya dengan taring yang tajam.
"Itu hanya boneka, tidak mungkin gerakannya sangat fleksibel. Tidak mungkin cakarnya sekeras itu... tidak mungkin..."
"Elang ini... Temanku.. ia hidup, dan ia menyelamatkanku," kata Dracia dengan senyuman kecil, elang tersebut mendarat di lengannya. Ia mengelus kepala elang tersebut. "Maafkan aku, aku hampir melupakan jiwamu yang tetap hidup didalam diriku, meskipun kau merupakan boneka yang kuciptakan."
"Kau... juga... evolusi?!" sebut Dream penuh kejut.
Dracia tersenyum pelan, mengingat kata-kata kakaknya mengenai perubahan. "Yah... mungkin, anggap saja ini salah satu wujud yang kau sebutkan itu."
Ia menoleh ke arah Razox, dan melihat sosoknya yang sedang lirih kesakitan, membuat tekad Dracia bulat- tekadnya untuk segera menghabisi pria didepannya itu, dengan segenap kekuatan barunya.
"Bersiaplah, karena aku sekarang adalah Rare Hero- Nakoruru!"
- Chapter 24, End -
Uh...
Jadi ceritanya,
Kita berdua sama" sibuk dengan hidup masing" sampe ini proyek ampir dilupakan
Kemon, atas nama Percy juga, mau minta maaf sebesar"nya untuk para readers yang terus" nunggu LSO, mungkin bahkan ampe ngelupain ini cerita.
ETA penyelesaian: chapter 30, dalam kurun waktu yang sesingkat"nya. Saya juga lagi dapet ilham nulis setelah kena writers block terparah didalem hidup saya, kurang lebih setaon gabisa produktif nulis.
Sekali lagi, we are deeply sorry for the delay, dan most of you guys mungkin udah melupakan karya kita, tapi Percy insist kita terus nulis, apapun yang terjadi.
LSO harus selesai.
Dan LSO AKAN SELESAI. *tekadbulatsekalibung
I repeat, this is not a drill (?)
Kalo begitu kemon out dulu sebelum digebugin~
