Jam telah menunjukkan pukul setengah delapan dan seharusnya Sasuke berangkat ke kantor agensi saat ini. Ia harus menghadiri rapat yang akan diselenggarakan pukul delapan, namun kini ia masih berada di depan ruang ICU dan duduk sambil menopang kepala dengan salah satu telapak tangan.
Sasuke tak mungkin membawa Itachi ke kantor agensi karena ia harus menghadiri rapat dan pergi ke kantor polisi sesudahnya, namun ia juga tidak mungkin meninggalkan Itachi sendirian di rumah sakit.
Sasuke benar-benar sudah kehabisan akal. Ia tak mungkin menitipkan Itachi pada salah satu temannya yang rata-rata sudah berangkat kerja saat ini. Ia bisa saja menebakan muka dengan menitipkan Itachi pada salah satu anggota band Gaara, tapi sebetulnya ia tidak begitu akrab dengan mereka. Ia tak ingin merepotkan orang yang bahkan tidak terlalu dikenalnya.
Tuhan seolah menjawab kekhawatiran Sasuke ketika ia mendapati sosok ibu Naruto dan ibu Sakura yang berjalan bersama di kejauhan. Kedua wanita itu terlihat sangat khawatir dan berjalan dengan langkah cepat.
Sasuke merasa dirinya sangat tidak sopan, tetapi barangkali ia bisa meminta tolong pada kedua teman ibunya untuk menggantikannya mengawasi Itachi untuk sementara.
"Halo, Kushina-basan, Mebuki-basan," sapa Sasuke seraya menundukkan kepala dengan sopan ketika kedua wanita itu berjarak beberapa langkah darinya.
Mebuki melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya dan melirik Sasuke serta Itachi yang sedang tidur di atas kursi.
"Aku sudah dengan semuanya dari Sakura. Untuk sementara biar Itachi bersamaku saja. Bukankah kau harus menghadiri rapat setengah jam lagi?"
Sasuke merasa tidak enak karena Sakura sampai memberitahu ibunya. Jangan-jangan wanita itu sampai menyuruh ibunya untuk cepat-cepat datang karena tahu kalau ia tak mungkin membawa Itachi ke kantor agensi.
"Maaf merepotkan. Anikiku mungkin akan merepotkan kalian. Sikapnya tidak berbeda dengan anak kecil meski tubuhnya dewasa," ujar Sasuke.
Kushina menepuk bahu Sasuke dengan keras, "Hey! Kau pikir aku ini apa? Aku teman baik ibumu, tahu. Saking akrabnya sampai-sampai aku pernah menyusuimu. Kenapa aku harus kerepotan karena harus menjaga Itachi-kun?"
Kushina terlihat santai dan percaya diri dengan ucapannya, namun wajah Sasuke langsung memerah dan ia memalingkan wajah. Sebagai pria dewasa, otaknya mulai memikirkan sesuatu yang liar ketika mendengar ucapan Kushina.
Seolah bisa membaca pikiran Sasuke, Kushina langsung menepuk lengan Sasuke dengan keras hingga lelaki itu tersentak, "Ck! Pasti membayangkan yang aneh-aneh, ya? Dasar! Kau sama mesumnya dengan putraku!"
Kushina melirik Mikoto dan merengut, "Uh.. kau beruntung sekali punya anak perempuan yang manis dan tidak mesum. Mikoto juga beruntung punya anak yang polos seperti Itachi-kun. Anakku sama sekali tidak imut."
Sasuke hanya bisa terdiam dan mengamati Kushina yang merengut di depan Mebuki. Kini ia mengerti darimana Naruto mewarisi sifat bawel dan berlebihan itu.
Setelah dipikir-pikir, sepertinya ia mewarisi nasib ibunya yang harus berhadapan dengan orang yang sangat bawel dan berlebihan. Jika ibunya harus menghadapi Kushina, maka ia harus menghadapi Naruto, putra Kushina yang sama bawelnya.
Kushina kembali menatap Sasuke dan berkata, "Sudahlah, kau pergi saja dan selesaikan urusanmu. Serahkan saja Itachi-kun yang imut dan polos ini padaku. Nanti kau bisa menjemputnya di rumahku."
"Baiklah, saya akan pergi. Terima kasih atas bantuannya," ujar Sasuke seraya kembali menundukkan kepala.
Sasuke baru saja akan melangkah ketika Kushina mendadak memeluknya serta menepuk punggungnya serta tersenyum, "Selamat berjuang! Kuharap masalahmu cepat selesai. Mikoto pasti akan sangat senang ketika dia sudah sadar nanti."
Sasuke terkejut karena Kushina mendadak memeluknya. Kejadian itu begitu singkat dan ia sampai tidak berkedip karena terlalu kaget.
Kushina tersenyum dan menganggap kalau Sasuke memiliki sisi imut. Setidaknya lelaki itu mau dipeluk, berbeda dengan Naruto yang selalu menolak ketika akan dipeluk.
Tentu saja Kushina tak memiliki maksud apapun pada Sasuke. Sasuke selalu terlihat seperti anak kecil di matanya, sama seperti ketika ia melihat putranya sendiri.
.
.
"Siang ini Black Ash akan kembali ke Jepang dan besok pagi mereka akan melakukan konferensi pers. Menurutku bagaimana kalau Sasuke juga datang?" usul Jiraiya pada Tsunade dan Orochimaru yang terlihat tidak setuju.
Tsunade baru saja akan menyuarakan ketidaksetujuannya, namun Sasuke yang juga menghadiri rapat kecil diantara dirinya dan petinggi segera berkata, "Maaf, namun bukankah akan situasi malah akan memburuk jika saya hadir? Orang-orang bisa berpikir kalau para anggota seolah ditekan untuk membela saya karena keberadaan saya saat konferensi pers?"
Orochimaru menyeringai tipis, "Bocah pintar. Aku baru saja akan bilang begitu sebelum kau mendahuluiku."
Tsunade mengangguk, "Aku juga setuju. Menurutku malah lebih baik kalau untuk sementara Sasuke tidak aktif di sosial media sama sekali sebelum konferensi pers. Aku ingin menekankan kesan kalau para anggota melakukan konferensi pers terkait sikap Sasuke terhadap band tanpa tekanan dari pihak manapun."
Jiraiya menggaruk keningnya, "Benar juga, sih. Tapi kupikir Sasuke juga harus muncul dihadapan publik sekali lagi untuk minta maaf kepada publik terhadap segala rumor yang beredar dan meresahkan masyarakat walaupun kita berusaha membersihkan nama baik Sasuke. Kalian tahu kalau publik lebih menghargai public figure yang melakukan permintaan maaf, kan?"
Tsunade dan Orochimaru menganggukan kepala. Mereka berdua sudah pernah tinggal di luar negeri dan bisa membandingkan penduduk Jepang dan negara lain. Berbeda dengan penduduk negara lain, orang Jepang sangat mengutamakan image dan kesopanan serta rasa malu.
Hal itu terbukti dengan begitu banyak orang yang ketahuan bersalah atas sesuatu dan minta maaf di depan publik untuk membersihkan image mereka. Bahkan ada pula yang sampai melakukan 'seppuku' untuk membersihkan nama baik setelah melakukan kesalahan.
Maka akan terlihat lebih baik jika Sasuke melakukan permintaan maaf meski sebetulnya ia tidak bersalah. Lagipula lelaki itu memang sedikit berlebihan dalam menekan anggota band untuk berlatih dengan jadwal yang terkesan kurang manusiawi bagi orang-orang normal.
"Konferensi pers Sasuke bisa dilakukan di lain waktu. Kita perlu melihat reaksi publik atas konferensi pers. Atau bahkan bisa dilakukan melalui unggahan video di sosial media," jelas Tsunade.
"Bukankah sebaiknya kita berdiskusi dengan hacker itu? Bagaimana kalau apa yang kita lakukan malah menganggu rencananya?" tanya Orochimaru.
Jiraiya meringis, "Sebenarnya hacker itu siapa, sih? Kenapa langkah kita malah tergantung padanya? Bagaimana mungkin orang yang bahkan tidak kita ketahui malah mengatur apa yang seharusnya kita lakukan?"
Tsunade mengerutkan dahi. Sebernarnya ucapan Jiraiya benar dan ia juga merasa tidak nyaman dengan hal itu. Namun ia tak memiliki pilihan selain mendengarkan apa yang disarankan hacker itu. Bagaimanapun juga, reaksi publik yang sebelumnya kontra terhadap Sasuke, kini malah berbalik pro terhadap Sasuke.
"Setidaknya orang itu memberikan saran yang benar untuk saat ini."
"Bagaimana kalau sebetulnya kita sedang dij-"
Orochimaru segera menginjak kaki Jiraiya dengan sangat keras hingga lelaki itu meringis. Ia berkata sambil menatap Sasuke, "Hmm… bagaimana kalau kita bertiga membahasnya nanti? Menurutku sangat tidak etis kalau orang lain sampai mendengarnya."
Sasuke menyadari kalau dirinya adalah orang yang dimaksud Orochimaru dan ia hanya bisa menatap dengan canggung. Rasanya ia ingin segera meninggalkan ruangan itu kalau memungkinkan.
"Kalau begitu rapat diakhir sampai sini saja. Lagipula bukankah Sasuke juga harus datang ke kantor polisi setelah ini?"
Sasuke menganggukan kepala. Ia melirik jam yang tertera di ponselnya dan sebetulnya masih ada waktu satu jam sebelum ia harus tiba di kantor polisi yang hanya berjarak sepuluh menit.
"Bagaimana keadaan ibumu, Sasuke? Aku kaget ketika menemukan pesan darimu di depan pintu ketika bangun pagi ini," ucap Tsunde seraya melirik Sasuke lekat-lekat.
"Dia berada di ruang ICU."
"Oh!" Tsunade berseru kaget. "Kuharap ibumu cepat sembuh."
Sasuke menganggukan kepala.
"Bagaimana dengan kakakmu? Apa dia baik-baik saja kalau kau meninggalkannya sendiri di rumah sakit?"
"Ibu Naruto bersedia menjaganya hari ini."'
Tsunade berpikir sejenak. Ia terdiam sebelum akhirnya berkata, "Bagimana kalau untuk sementara kakakmu menginap di rumahku? Kalau kau tinggal bersamnya, mungkin saja kau lebih mudah memantaunya."
Sasuke merasa tidak enak pada Tsunade. Belum tentu wanita itu merasa nyaman dengan keberadaan orang yang mengalami keterbelakangan mental di rumahnya. Lagipula rumah Tsunade juga biasanya tidak ada orang. Ia malah merasa was-was jika meninggalkan Itachi sendirian di rumah Tsunade ketimbang meninggalkannya sendirian di rumah sakit. Ia takut kalau Itachi merusak barang-barang mahal di rumah Tsunade dan ia harus menggantinya.
"Akan kupertimbangkan," sahut Sasuke.
.
.
Naruto merasa heran ketika ibunya mendadak menelponnya. Tumben sekali ibunya menelponnya, padahal selama ini biasanya ia yang menelpon ibunya untuk memberitahu kabarnya sesekali. Biasanya paling-paling mereka hanya mengirimkan pesan via chat.
Sai, Neji dan Kiba sedang berada di dalam kamarnya pagi ini dan mereka sedang asik bermain game. Kiba bahkan berteriak sesekali ketika ia tertembak oleh musuh yang berada di kejauhan.
"Woy, Naruto! Cepat ambil mobil di dekatmu dan jemput aku! Dikepung, nih!" seru Kiba dengan kesal.
Naruto meringis. Ia menyesal lupa mengaktifkan mode game pada ponselnya sehingga telepon masuk dari ibunya terlihat di layar dan membuatnya terpaksa menghentikan permainan.
"Okaasan menelpon."
"Matikan saja. Pokoknya ini salahmu kalau aku sampai mati tertembak musuh," ucap Kiba dengan ketus.
Naruto segera mematikan ponsel dan mengarahkan karakter gamenya untuk berlari menuju mobil di dekatnya serta mengemudi dengan kecepatan tinggi untuk menjemput karakter game Kiba. Karakter mereka baru saja berjalan ketika ibu Naruto tiba-tiba menelponnya lagi.
"Oi! Kok malah diam? Kita harus cepat pergi dari area itu! Area nya juga sudah mulai mengecil."
"Okaasan menelpon lagi," ucap Naruto seraya menunjukkan layar ponselnya.
"Matikan saja. Lagipula kenapa kau tidak menyalakan game-"
Ucapan Kiba terputus dan ia berteriak kesal sambil meletakkan ponselnya di kasur dengan kasar, "Sial! Karakterku mati tertembak!"
"Aku angkat teleponnya, ya?"
Kiba mendengus kesal, "Terserah lah."
Naruto segera mengangkat teleponnya. Detik pertama ia mengangkat telepon, suara ibunya terdengar di telepon.
"Kenapa kau matikan telepon dari okaasan, sih?!" terdengar suara keras Kushina di seberang telepon.
Seketika niat jahil Kiba muncul. Ia memiliki kebiasaan menjahili teman setiap kali orang tuanya menelpon.
"Aahh….. ughh… N-narutoh… K-kau mau kemanahh?" Kiba berbicara dengan suara mendesah yang dibuat-buat. Ia bahkan sungguh-sungguh mengerang."
Neji dan Sai yang masih bermain segera menatap Kiba sesaat dan meringis karena jijik. Sai yang biasanya tenang bahkan sampai berseru tanpa menatap Kiba, "Hentikan! Kau membuatku tidak bisa konsentrasi main game karena jijik."
Kiba tak peduli dan ia segera mendekati Naruto seraya berkata, "Kak.. ayo… sodok… aku mau merasakan punya kakak di tubuhku… aaarghhh.."
Naruto meringis dan ia segera menjauhkan telepon dari telinga serta menatap Kiba dengan kesel, "Hentikan! Aku suka oppai, bukan 'sosis'."
Naruto segera berjalan ke kamar mandi dan menutup pintu. Ia segera berkata pada ibunya, "Maaf. Tadi temanku jahil. Kami sedang main game tadi, jadi telponnya kumatikan."
"Dasar… ckck," Mikoto berdecak kesal. "Bikin aku khawatir saja. Kupikir kau sedang melakukannya dengan gigolo."
Naruto tertawa keras mendengar ucapan ibunya. Ia tersenyum seketika, "Tenang saja. Aku masih straight."
"Cepat hubungi Sasuke, sana. Mikoto-basan mendadak masuk ICU, jadi sekarang temanmu itu harus mengurusnya. Kelihatannya dia sangat lelah saat okaasan menemuinya di rumah sakit."
Naruto meringis ketika mendengar kata 'temanmu'. Namun ia seketika membelalakan mata dan berkata, "Okaasan jangan bercanda begitu, ah. Temesaja tidak bilang apapun padaku."
Kushina berdecak kesal di seberang telepon, "Ckck… putraku ini tidak peka sekali, sih. Kau sudah berteman lama, seharusnya kau tahu sendiri seperti apa sifat temanmu itu. Kalau saja Sakura-chan tidak memberitahu Mebuki, kami juga tidak akan tahu soal Mikoto."
Naruto tahu kalau Sasuke adalah tipe yang akan berusaha menyelesaikan segalanya sendiri. Tidak peduli sesulit apapun situasinya, lelaki itu akan diam saja dan baru akan bicara jika sangat terpaksa. Bahkan sampai detik inipun Sasuke masih tidak mengatakan mengenai masalah promotor yang mengeluh karena Sasuke memberi encore. Padahal Naruto yakin jika mereka sebetulnya memiliki masalah-masalah lain yang sudah diselesaikan Sasuke sebelum masalah itu sampai ke telinga anggota band lain.
Naruto merasa kasihan pada masalah yang menghampiri Sasuke bertubi-tubi. Rasanya ia ingin menemui lelaki itu dan menghabiskan malam dengan minum-minum agar Sasuke bisa meluapkan perasaannya dengan leluasa. Namun ia tahu kalau Sasuke pasti akan menolak karena masih harus menjaga Itachi tanpa ibunya.
"Aku akan kembali ke Jepang pukul dua siang. Lalu besok aku akan konferensi pers untuk si teme."
"Ya, ya. Lakukan yang benar, sana. Aku akan menggantikan Mikoto untuk menggorengmu kalau kau sampai tidak melakukannya dengan benar. Dan jangan lupa telepon Sasuke, ya. Hibur temanmu itu."
Naruto meringis dengan ancaman ekstrim yang diberikan ibunya. Ia tahu kalau ibunya begitu mengkhawatirkan Sasuke sampai memberikan ancaman begini padanya. Dan sebetulnya ia juga mengkhawatirkan lelaki itu.
-TBC-
