Bagian 1 "Aerial Negeri Cahaya, Negeri Kegelapan"

~ Chapter 23 ~

Cast :

VIXX N (GS) & Leo

VIXX Hongbin (GS)

Super Junior Heechul (GS)

BTOB Minhyuk

VIXX Hyuk

DBSK U-Know

JYJ Jaejoong (GS)

Super Junior Siwon

B1A4 CNU

~ AERIAL ~

Ditengah heningnya utan Aerial, Hongbin berusaha berkonsentrasi, memejamkan mata dengan erat, meleburkan dirinya dengan kesenyapan alam. Buku harian Nenek Heechul memang memiliki mantra yang sangat lengkap, tapi keberhasilan mantra-mantra tersebut kembali ke kesungguhan dan kekuatan hati pencetusnya.

Mata kanan Hongbin terbuka perlahan seperti orang mengintip.

Ada apa, Putri? Linc yang sejak tadi mendampinginya, bertanya.

"Susah sekai berkonsentrasi," keluh Hongbin, menyeka keringat di keningnya. "Aku khawatir pada kakak. Dikurung seperti itu agar tidak bertemu Leo. Bagaimana kalau Minhyuk benar-benar mengadukannya ke Ayah dan Ibu? Berikutnya kakak akan mendapatkan lebih dari sekedar pengurungan, Linc!"

Putri, kakakmu dapat menjaga diri. Saat ini yang lebih penting adalah bagaimana kau tahu siapa Eripia yang akan kau panggil ke sini.

Hongbin mengangguk.

Dipejamkannya matanya lagi. Bersamaan dengan sebuah helaan napas panjang dan rileks, Hongbin yang saat ini duduk bersila di atas rumput, kembali tenggelam dalam pertapaannya sampai ia benar-benar tidak menyadari keadaan sekelilingnya.

Hanya dirinya dan alam.

Krek!

Sebuah ranting kering terinjak kaki hingga mengeluarkan bunyi halus.

Hyuk mampir ke sini karen amlihat bulu putih Linc dari kejauhan. Ia tahu, di mana ada lInc si situ ada Hongbin, maka itu ia ingin mengecek—sebenarnya ingin bertemu si putri kecil. Pada perjumpaannya yang terakhir Hongbin tidak sempat menjelaskan apa itu ritual memanggil penolong dan siapa penolong yang dimaksud.

Dielusnya kepala Linc sebagai sapaan bersahabat. "Majikanmu semakin menguasai mantra-mantra itu," kata Hyuk.

Hyuk duduk diatas rumput yang sama, dengan sabar menunggu Hongbin yang saat itu tampak seperti orang sedang berdoa.

Beberapa waktu kemudian, Hongbin membuka matanya, menyapa Hyuk dengan senyuman. "Aku tidak sadar kau ada di sini…"

Hyuk tampak rikuh dan malu-malu. Ia bangkit mendekat kea rah gadis ini. "Maaf, kalau kedatanganku mengganggumu, Putri."

Hongbin menggeleng sekali. "Sudah ketemu."

"Eh?"

"Nama Eripia itu. Ada dua orang, Hakyeon dan Taekwoon."

Hyuk mengernyitkan keningnya, semakin bingung.

Melihat ini, Hongbin menggiring si pemuda ke sebuah pohon tua tak jauh dari tempat mereka duduk. Di situ terdapat tas kayu yang berisi bekal makan siang: roti isi telur, sup krim sayur, dan the dari melati yang baru dipetiknya. "Bagaimana kalau kujelaskan semua ini sambil makan siang… ngg, kita berdua?"

~ AERIAL ~

Yeonie memakai cara klasik untuk kabur dari kamarnya. Kalau Rapunzel menggunakan rambutnya untuk turun dari menara, maka Yeonie menyambung-nyambungkan seluruh kain yang ada di kamarnya—kain seprai, selimut, gaun satin, taplak tenun, tirai—dan jadilah gelondongan tali raksasa yang siap dipanjat turun.

"Tato bulan dan matahari di tangan Jenderal U-Know." Yeonie mengulangi kata-kata itu seperti mantra sambil menelusuri labirin taman mawar yang sudah ia hafal luar kepala letak ujung dan pangkalnya. Sampai kini hanya Yeonie dan Minhyuk yang benar-benar hafal ruas labirin di taman, dibandingkan kerabat-kerabat dekat Raja dan Ratu yang sering keluar-masuk Castrum Niveus.

Yeonie membuka keras pintu kastil Jenderal tanpa mengetuk sama sekali. "Bahaya, Jenderal! Woonie—Leo dipenjara di menara Kegelapan. Kondisinya tidak baik. Leo mengatakan Jenderal tahu cara membebaskannya dengan tato bulan dan matahari.."

"Tuan Putri?" Jenderal, terlihat sedang mengeluarkan pedang dari sarungnya, bersiap akan berlatih seorang diri. Sejak Yeonie dilarang ikut berlatih di lapangan, U-Know dan para anak buahnya sempat diliputi ketegangan, hampir memberontak terhadap keputusan yang sangat sepihak itu.

"Kita harus bergegas! Sekuat apa pun, Leo bisa mati apabila dipenjara di tempat sedingin itu."

Segera, setelah Yeonie berada di dalam kastil, ia tumpahkan segala hal yang diketahui—dialaminya tadi; bahwa ia dan Leo seperti terhubung satu sama lain.

Jenderal U-Know tahu urgensi yang dimaksud sang Putri, tapi ia sama sekali tidak mengerti maksud perkataan anaknya. "Tato ini tidak dapat melakukan apa-apa. ini hanya sesuatu yang muncul di tubuhku dan kuukir pada telapak tangan Leo sebagai tanda lahirnya."

"Leo yakin tato ini dapat melakukan sesuatu." Yeonie meraih tangan besar Jenderal dan memperhatikan bentuk gambar yang sama yang pernah dilihatnya pada telapak tangan Leo. "Coba berkonsentrasi, Jenderal. Cari segala kemungkinan yang ada perlahan-lahan."

Walau awalnya tidak yakin, Jenderal U-Know menurutinya. Dan benar saja, sebuah imaji muncul di kepala, memberikan petunjuk langkah-demi-langkah cara menggunakan panah dan busurnya, sasarannya adalah tato bulan dan matahari yang lain, yaitu milik Leo.

Atau tepatnya, jeruji besi jendela yang mengurung Leo.

"Sungguh ajaib…," suara Jenderal U-Know sehalus bisikan saking kagumnya.

Yeonie tidak tahu apa yang dilihat sang Jenderal, tapi sepertinya itu hal yang positif.

Ingatan Jenderal U-Know akan masa lalunya kembali memenuhi kepala, masa ketika ia dan Rati Jaejoong masih bersama. Kekasihnya itu selalu menceritakan secara detail negeri tempat tinggalnya, negeri yang selalu dibanggakannya walau mentari tak pernah bersinar.

Suatu kebanggaan yang kini dimengerti juga olehnya; bahwa seburuk apa pun ia akan tetap menyayangi kampong halamannya—seperti Yeonie mencintai negerinya, juga Leo yang bangga berdiri sebagai Pangeran Kegelapan, walau kini ia dikhianati bangsanya sendiri.

Jenderal ingat dengan baik tempat yang dimaksud: menara penjara… dua puluh langkah ke timur dari arah istana utama… tingginya tiga belas tingkat di atas permukaan tanah… hanya memiliki satu jendela berupa jeruji besi…

"Bersiap-siaplah untuk menyambut leo, Nak." Sambil tersenyum penuh arti, Jenderal U-Know membidik anak panah yang ujungnya berpengait ke menara tertinggi wilayah Kegelapan.

~ AERIAL ~

Leo berusaha menggerak-gerakkan tangannya yang kaku. Di luar hujan turun sangat lebat, membuat suhu menurun drastic. Separo badan mati rasa, separonya lagi kedinginan yang amat sangat. Bercampur dengan rintik deras hujan, ia mendengar percakapan orang yang menggema, enth di depan pintu atau lorong pada tangga menara.

"Mohon beri saya waktu sebentar saja untuk melihat Paduka Leo."

Leo mengenali suara itu. Suara Hyuk.

"Cih! Ha-ha-ha… anak ingusan, terlalu berharga memanggil tahanan ini paduka. Ia kini tsk lain seorang budak."

Hyuk diam saja, memberi jawaban malah akan mempersulit permintannya.

"Paduka Leo-mu akan menghadapi hukuman mati atas perbuatannya. Bahkan Penasihat Siwon dan Yang Mulia Raja setuju akan ganjaran itu, tidak peduli ia berdarah biru." Si penjaga berhenti tiba-tiba, tersenyum akan suatu ide yang baru terpikir olehnya. "Tapi, karena sebentar lagi Pangeran akan menemui ajalnya, bolehlah kau berbicara dengannya untuk terakhir kali."

Hyuk mengikuti si penjaga dengan patuh. Ia diperbolehkan mengjenguk Leo asal penjaga penjara juga ikut masuk ke dalam.

Dilihatnya penjaga menyematkan serenceng kunci bilik penjara di pinggangnya; satu hal yang tidak akan ia lakukan apabila ia menjadi sipir penjara. Apalagi kalau tahanannya Leo.

Pintu besar itupun dibuka. Hawa dingin menusuk dan bau using ruangan—bau sisa-sisa orang yang pernah menghabiskan sisa hidup di sini—menyapa hidung Hyuk.

Reflks, Hyuk menutupi hidungnya. Dan sambil melakukan itu, satu tangannya lagi meraih tali pengikat kunci-kunci lalu mengantonginya.

Di sudut ruangan, terlihat Leo bersimpuh, kepala menunduk menghadap lantai. Kegelapan menyelimuti setengah figurnya hingga Hyuk tidak dapat melihat jelas ekspresi tuannya.

Tapi Leo tahu apa yang tadi dilakukan Hyuk. Ia mengedipkan mata sebagai isyarat agar Hyuk bersiap dengan kunci itu.

"Hei, jangan mati dulu kau!" si penjaga menendang kaki yang diborgol itu.

Leo tersenyum sinis. Si penjaga jadi keheranan.

Tiba-tiba… sebuah titik menyilaukan terlihat jauh di luar, mengarah ke jendela.

Titik itu, semakin dekat semakin terlihat besar, seperti bola cahaya yang berpijar dan berputar-putar, dan…

"Boo!" Leo meniup ringan.

Si penjaga terlihat bingung, tidak mengerti mengapa tahanannya tersenyum lebar tanpa sebab.

Brakkkkk!

Praaang!

Bola cahaya yang ternyata hanya berukuran sekepal tangan menghantam menara; pengait yang sebelumnya telah disangkutkan Jenderal U-Know ke anak panah menjebol jeruji jendela.

"Paduka, terima ini!"

Leo menerima kunci lemparan Hyuk, secepat kilat dirinya membebaskan diri, dan langsung mengambil tali itu sebelum jatuh ke air di bawahnya.

"Terima kasi, Jjenderal!" Ia berpaling ke Hyuk yang masih bengong mendapati semua ini. dikiranya ada meteor yang tiba-tiba jatuh dan mendarat di tempat tertinggi di wilayah Kegelapan.

Diulurkannya tangan ke anak ini. "Ikut kabur, Hyuk?"

Sesaat Hyuk bimbang. Ia melirik ke bawah, si penjaga ternyata tidak mati. Kepala orang ini tadi hanya sedikit terantuk pecahan dinding batu sehingga sempat pingsan sejenak, tapi kini ia sudah siuman penuh.

Hyuk bersiap mengeluarkan sumpit beracunnya, namun bala prajurit langsung tiba di situ akibat kericuhan yang mereka dengar di bawah.

"Tutup gerbang utama. Sekarang! Tahanan akan kabur!" Jenderal CNU, panglima perang Kegelapan berseru lantang.

"Aku pergi duluan, kalau begitu."

Hyuk menahan diri untuk tetap pada posisinya. Maafkan aku, Pangeran Leo. kalau aku ikut kabur, tidak ada lagi yang memantau pergerakan di sini!

Tapi Hyuk lengah, apalagi Leo.

Salah seorang pemanah jarak jauh berhasil mengambil tepat di antara reruntuhan dan melepaskan satu anak panah yang fatal mengenai Leo.

Hyuk hampir melompat, ingin menolong tuannya, walau ia tahu orang seperti Leo pasti akan bertahan dari panah yang mengenai bahunya seperti itu.

"Tidak apa-apa sedikit meleset. Terima kasih kepadamu, anak muda, ujung anak panah ini sudah kububuhi racun buatanmu. Daun mint, bisa tarantula, dan bisa ular kobra… sunngguh dahsyat!"

Kata-kata si pemanah membuat wajah Hyuk berubah pucat. Pemuda ini tak sanggup bergerak—tak sanggup bernapas. Hanya ia satu-satunya yang pandai meracik racun di Kegelapan, dan kini racunnya justru dipakai untuk melukai tuannya?

Leo jatuh ke sungai di bawahnya.

"Tembak!"

Setelah itu, hujan anak panah kembali menyerangnya, menembus buih-buih tenang air sungai.

Jenderal CNU tersenyum puas. Tidak aka nada yang bisa keluar hidup-hidup denagn serangan seperti itu, tidak juga si Pangeran Kegelapan.

~To Be Continued~

Maaf jika ada typo yang bertebaran. :)

Terimakasih sudah menyempatkan baca ff ini, sudah comment, fav & follow. Terimakasih juga selalu menyemangati dan mengingatkan saya untuk update, hihihi. Silahkan ditunggu chapter selanjutnya ^^

Arigatou gozaimasu~ Thank you very Gamsa~ :*