P.M.M.
Nurama Nurmala©2010
Sci-fi, Adventure, Friendship with All Super Junior Member
Warning : OOC, Typo(s), AU
PMM in 25th Episode Totally Reserved
Part sebelumnya…
"Hah? Apa kau tak salah bilang Hankyung-ah?"
"Tidak…"
"Mereka berkoalisi?" lelaki yang bertanya tampak mengerutkan alisnya.
"Ya. Kibum, Sungmin, Kyuhyun dan Yesung sekarang tampak berubah."
"Apa yang hendak mereka rencanakan?"
"Aku belum tahu pasti Kangin-ssi, tapi, aku juga melihat sesuatu yang tak beres pada Ryeowook-ssi dan Sungmin-ssi."
"Tak beres apa?"
"Tingkah laku Ryeowook-ssi jadi aneh, belum lagi barusan Kyuhyun-ssi bertanya tentang luka Ryeowook-ssi. Lalu… kemarin Sungmin-ssi terdengar menggumamkan sesuatu."
"Menggumamkan apa?" alis mata Kangin saling bertaut mendengar penuturan Hankyung.
"Dia berkata, 'Harus temukan penyelenggara… harus temukan penyelenggara… harus temukan penyelenggara…' begitu terus berulang-ulang."
"Penyelenggara?" Kangin terlihat menopangkan dagunya.
"Aku juga tak mengerti… tapi sepertinya itu adalah sesuatu yang penting…."
"Hm…."
"Aku akan mencaritahu hubungan penyelenggara dengan kejadian yang menimpa Sungmin-ssi dan beberapa kejadian aneh di rumah."
"Ya, kita harus menyelidikinya."
P.M.M
In 25th Episode
"Silahkan kepada para peserta design tahun ini untuk mempersiapkan rancangan original-nya beserta para model masing-masing," terang seorang karyawan dengan stelan jas modis berwarna pink namun tetap berkesan formal. "Silahkan lanjutkan mempersiapkan pertunjukkan di aula sebelah, pertunjukan design akan digelar sekitar satu jam lagi."
Setelah mendapatkan penjelasan dari karyawan yang bertugas mengayom para peserta lomba design kali ini, para peserta segera berbondong-bondong memasuki sebuah aula raksasa milik perusahaan yang telah disulap menjadi sebuah ruang rias yang bisa menampung ratusan orang di dalamnya. Mereka mulai mengeluarkan pakaian yang sudah mereka rancang jauh-jauh hari sementara para model bersiap di samping mereka.
"Oppa, mereka semua cantik-cantik ya…" keluh Aram sambil mengedarkan pandangan ke arah gadis-gadis cantik dalam jangkauan pandangannya.
"Sudah, jangan terlalu pedulikan mereka. Kau tahu? Kau juga sangat cantik." Pipi Aram bersemu merah ketika Heechul mengatakan rangkaian kalimat pernyataan barusan. Setelahnya, ia segera menyungging senyum paling manis.
"Ya Oppa, aku tahu itu kok."
"Kalau begitu, bersiaplah. Coba pakai baju ini," imbuh Heechul sambil menyodorkan satu stel pakaian wanita yang masih dibalut bungkusan plastik tak berwarna.
"Ya, Oppa!" Aram tersenyum renyah, sambil memeluk pakaian hasil keringat Heechul semalaman, ia berjalan riang menuju ruang ganti.
"Ck, ck, ck… dasar gadis itu…" Heechul hanya memandang maklum melihat tingkah Aram yang bak anak kecil.
PUK!
Sebuah tepukan tiba-tiba terasa di pundak kanan Heechul. Sontak Heechul yang merasa terpanggil atas isyarat panggilan itu menoleh seketika. Dan begitu terkejutnya ia ketika mendapati seorang lelaki tinggi tegap dengan ekor rambut diikat kecil tersenyum ke arahnya.
"Bagaimana? Apa persiapanmu sudah oke?" tanya lelaki itu; mulai berbasa-basi.
"Hm…" Heechul menggaruk tengkuknya dengan tingkah yang kaku. "Semuanya sudah selesai."
"Ho… jotha," ia tersenyum; memperlihatkan sederet gigi-gigi putih yang jelas sangat terurus.
"Terimakasih sudah menanyakannya."
"Ya…" laki-laki itu melipat tangan di depan dada dengan kerlingan manik matanya yang tajam, seolah ia adalah satu-satunya individu yang peduli pada ini semua. "Aku hanya khawatir, tak akan ada lawan yang berarti di kompetisi design kali ini."
Heechul terkesiap mendengar perkataan lelaki itu. Ya, harga dirinya seolah ditarik untuk sejajar dengan pemilik predikat pemenang itu. Kali ini, ia merasa dihargai. Namun, ada sesuatu yang mengganggu hati kecilnya.
"Begitu?"
"Ya," ia mulai berjalan menjauhi Heechul. "Karena dari kabar yang kudengar… design pertamamu untuk kompetisi kali ini telah dirusak oleh Lee Donghae."
SRET!
Heechul segera mengalihkan pandangannya ke arah lelaki yang telah beringsut meninggalkan dirinya tersebut. "Bagaimana… dia bisa tahu?"
DRREETTT….
DRREETTT….
DRREETTT….
Terasa sebuah getaran yang datang dari kantong celana Heechul. Heechul yang memang merasakan sebuah panggilan dari ponselnya segera merogoh saku celananya dan mengangkat panggilan yang datang atas nama 'Si anak sial' tersebut. "Ada apa?"
"Aish, ketus sekali nada bicaramu itu," timpal seseorang dari seberang sana.
"Sudah, cepat! Aku sedang sibuk. Ada perlu apa?"
"Aku hanya ingin menanyakan tentang kompetisimu. Apa berjalan lancar?"
"Hahhh…" terlihat Heechul yang menarik napas dalam, seolah jengah dengan pernyataan bodoh macam itu. "Aku baru saja sampai di perusahaannya, Lee Donghae. Perlombaannya masih belum dimulai. Aku masih mempersiapkan Aram."
"Oh… begitu?" Donghae yang berada di ujung sana dengan polosnya memangguk-angguk mengerti.
"Ah!"
"Ada apa?"
"Aku jadi ingat…."
"Apa?"
"Kau memberitahukan tentang bajuku yang kau rusak itu kepada orang lain ya?"
"Ha? Ani… aku tidak memberitahukannya kepada siapapun. Mungkin anak-anak di rumah mengetahuinya sendiri. Ya, kau tahu. Dari kabar yang beredar di rumah."
"Bukan anak rumah yang aku tanyakan."
"Lalu?"
"Ada seseorang—lebih tepatnya orang luar yang mengetahui keadaan di rumah kita."
"APA?" terdengar Donghae tersentak kaget di ujung sana.
"Ya."
"Siapa? Apa aku mengenalnya?"
"Entahlah… apa kau tahu orang bernama Hwang Chansung?"
"Ha? Tidak… siapa dia?"
"Yakin kau tidak mengetahuinya? Atau kenal dengan dia?"
"Tidak… kenapa memangnya?"
"Karena dialah yang tahu keadaan di rumah kita. Dan dia… adalah sainganku di kompetisi hari ini."
P.M.M
In 25th Episode
"Apa ini sudah semua, Leeteuk-Ssi?" seorang lelaki dengan seragam sekolah yang senada dengan seragam yang dikenakan Leeteuk memperihatkan beberapa berkas dalam map berwarna merah dengan raut muka serius.
"Ya, itu sudah semua, Siwonie."
"Hm, baiklah. Aku akan membawanya ke Student Care."
"Terimakasih sudah bersusah payah selama ini untuk membantuku," Leeteuk tersenyum tulus kepada Siwon, namun dengan raut muka yang dirundung lelah.
Siwon balas tersenyum ke arah Leeteuk. Dia sudah tahu bagaimana repotnya Leeteuk akhir-akhir ini. Sebagai calon ketua OSIS, ia diminta merekap semua data organisasi sekolah dari 10 tahun ke belakang untuk dijadikan bahan study banding guna mempersiapkan peningkatan kualitas organisasi dari tahun ke tahun. Otomatis Leeteuk harus melakukan research terhadap potensi organisasi dan klub sekolah yang mungkin terbengkalai dan tak dilirik pihak sekolah. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini.
"Leeteuk-Ssi, istirahatlah. Kau tampak sangat lelah," saran Siwon dengan tatapan simpati.
"Hm, iya," Leeteuk ambruk di kursi terdekat lalu memijit keningnya yang dirasa pening. "Ah, aku juga harus memikirkan soal festival itu."
"Bukankah festival itu masih lama diadakannya?"
"Ya, tapi aku harus mulai memikirkan rencana dan mengumpulkan data dari sekarang," Leeteuk kembali berdiri dari duduknya, lalu berjalan ke arah lemari berkas dan mulai menjamahnya satu-persatu.
"Apa yang kau cari?"
"Data festival tahun lalu. Aku ingin mengadakan penelitian dengan menggunakan sudut empiris. Mengenai kesukaan dan minat masyarakat sekarang."
"Hm… kau ternyata memikirkannya sampai ke situ."
"Harus, tak ada waktu lagi. Aku harus melakukan apapun yang bisa kulakukan."
"Tak ada… waktu lagi? Apa maksud perkataan itu? Seperti orang yang mau meninggal saja," pertanyaan itu tak sampai diucapkan Siwon. Hanya bermuara pada pikirannya saja. Tak lama lagi, pertanyaan itu akan segera terlupakan oleh banyaknya kejadian yang menghadang mereka di masa depan nanti, hingga… tak bisa terelakkan lagi, mereka akan dihadapkan pada sebuah perpisahan nyata dengan sosok lelaki berjiwa pemimpin itu. "Baiklah, aku akan membawa berkas ini ke Student Care."
"Ya, gamsahamnida."
"Anytime," setelah menjawab rasa terimaksih Leeteuk, Siwon segera menjejakkan kakinya ke luar ruangan; menuju sebuah kantor di lantai tiga sekolah itu.
Sementara Leeteuk tengah bergelut dengan kumpulan data, secara perlahan… sebuah derap langkah mulai mendekatinya. Semakin lama, suara itu terdengar konstan. Namun, ketika langkah itu terdengar semakin jelas dan nyaring, langkah itu tiba-tiba terhenti. Seseorang yang baru saja datang, tengah mengamati kegiatan Leeteuk di antara gumulan berkas-berkas usang.
"Siwonie, kau kembali lagi?"
"…."
Tak terdengar sahutan suara, atau timpalan dari pertanyaan yang dilontarkan Leeteuk. Leeteuk yang merasakan suatu perasaan aneh, menolehkan pandangannya ke arah pintu masuk. Namun yang tengah bersandar di daun pintu dengan melipat kedua tangannya di depan dada bukanlah Siwon. Melainkan…
"Ah, Wookie-Ya. Ada apa?" Leeteuk tersenyum ramah menyambut kedatangan seseorang yang sudah ia kenal. Ya, itu merupakan kebiasaannya.
"Hanya melihat-lihat," Ryeowook dengan acuh berdiri dari sandarannya, lalu berjalan mendekati Leeteuk.
"Hm…" Leeteuk mengangguk-angguk paham. "Duduklah dimanapun yang kau suka."
Ryeowook berjalan perlahan, lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Leeteuk. "Aku tahu siapa kau sebenarnya," bisik Ryeowook pelan, nyaris seperti desisan angin. Namun cukup jelas untuk didengar Leeteuk, di ruangan yang hanya ditempati oleh mereka berdua ini.
SRET….
Leeteuk menghentikan proses pencariannya, lalu menajamkan matanya.
Ryeowook—di seberang sana tampak sedang memain-mainkan sebuah tutup bolpoint di atas meja kerja Leeteuk, lalu bersenandung sekenanya.
SRAK… SRAK…
Bunyi lembaran demi lembaran kembali terdengar, pertanda Leeteuk kembali menekuni pekerjaannya. "Tentu kau tahu aku. Kita 'kan hidup dalam satu rumah."
"Hm… hm… hm…" bunyi senandung syahdu kembali terdengar dari bibir Ryeowook. "Bukan itu maksudku."
Leeteuk menghentikan kegiatannya sejenak, lalu memandang wajah Ryeowook dengan tatapan penuh tanya. "Aku tahu… darimana kau berasal, tujuanmu mengikuti kompetisi itu, dan apa yang kau inginkan dari ini semua."
…
…
…
Dalam beberapa detik, tak terlihat aktivitas apapun di ruangan itu. Kedua orang yang tengah bercengkrama… hanya diam membisu.
"Aku tidak tahu maksudmu," kilah Leeteuk, lalu kembali berjibaku dengan serentetan tugasnya barusan.
"Hahaha…" bagai mendengar sebuah lelucon yang teramat sangat lucu, Ryeowook tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya sementara air mata menetes di sela matanya. "Kau benar-benar jago akting, Leeteuk-Ssi… kau bahkan lebih hebat dari Yesung," Leeteuk hanya mengerutkan alis mendengar ucapan Ryeowook. "Kuberitahu satu hal," kali ini Ryeowook mencondongkan tubuhnya hingga ia bisa berada lebih dekat dengan Leeteuk. "Ingat ramalan dalam buku seorang psikolog gila bernama Noh Min Woo?"
DEG!
Degup jantung Leeteuk semakin mengencang ketika Ryeowook melontarkan sebuah nama. Nama dari seorang tokoh gila yang dikenal sebagai psikopat mengerikan 10 tahun yang lalu; Noh Min Woo.
"Noh-Min-Woo, adalah seorang psikolog yang bekerja pada lembaga pemerintah sebagai ahli terapi bagi para tahanan yang memiliki kelainan jiwa. Tahun-tahun kerjanya sebagai psikolog di sana, bukannya digunakan untuk menyembuhkan para tahanan, tapi malah membuat para tahanan itu menjadi semakin mengerikan. Hal itu ia kerjakan tanpa sepengetahuan pemerintah. Luar biasanya, tanpa sepengetahuan rekan seprofesinya."
"Lalu… apa hubungannya dia dengan ini semua?"
"Apa kamu lupa, dengan sebuah buku hasil tulisan tangannya yang berjudul 'The Death Under Your Hands'? Hm… itu adalah buku fenomenal di dunia kejiwaan," Ryeowook terlihat memainkan jemari tangannya sendiri. "Buku itu menceritakan tentang datangnya seorang algojo yang dikirim hakim untuk menghakimi ciptaan yang gagal. Di sana, algojo itu harus membunuh ke-13 ciptaan yang gagal dengan cara-cara yang telah ditentukan. Kau… tahu 'kan apa saja yang dilakukan algojo tersebut?"
DEG!
Bulir keringat mulai mencumbui kening Leeteuk. Kerongkongannya kering; tercekat, sementara tangannya gemetar menahan kekagetan yang baru saja ia dapatkan. Tentu ia tahu dengan buku karya Min Woo tersebut. Di sana Min Woo menggambarkan adegan penjagalan sebagai sesuatu yang nikmat dan indah. Mengerikan! Buku itu dapat menghipnotis jiwa yang sehat untuk menjadi seorang psikopat!
"Apa kau ingat?" Ryeowook menatap Leeteuk dengan pandangan nakal, sementara lidahnya bermain; menjilati jemarinya yang lentik. "Salah satu adegan dalam buku itu adalah… pengeksekusian ciptaan yang gagal, dengan mematahkan seluruh anggota tubuhnya, SATU-PER-SATU…" seringai mengerikan terpampang di wajah Ryeowook. Sementara jemari tangannya yang kanan mulai meraba jari telunjuk, jari tengah, hingga sampai ke jari manis. "Seperti… ini!"
KRAK!
"JANGAN!"
"Ter-lam-bat~ hehehe…" terlihat jari manis Ryeowook melengkung ke belakang; tak urung kembali ke tempat semula. Rupanya dengan sengaja Ryeowook tengah mematahkan jari manisnya sendiri.
BRAK!
"Siapa kau?" bentak Leeteuk sambil menggebrak meja, matanya menyalang sementara emosinya meluap menandakan ia sudah dalam keadaan marah besar.
"Aku?" Ryeowook menunjuk dirinya sendiri. "Aku…" ia mulai bangkit dari duduknya. "Aku adalah algojo yang dikirim sang hakim untuk mengadili kalian semua!"
BRAAAKKKK!
Tanpa disangka-sangka, seseorang muncul dari arah belakang Leeteuk, lalu menghantam kepala Leeteuk sekeras mungkin dengan sebuah tongkat baseball yang terbuat dari besi. Darah menjalari ke permukaan tanah, sementara tubuh Leeteuk jatuh seketika.
"Hahaha… kerjamu bagus, Rye!" seringai lain menghias wajah sang pelaku pemukulan. Ia mengacungkan jempolnya ke arah Ryeowook, lalu menjilat darah yang menempel di tongkat baseball-nya.
"Tentu, aku tak ingin ada kegagalan lagi kali ini, Nickhun."
P.M.M
In 25th Episode
"Leeteuk, dalam bahaya."
"Apa?"
"Leeteuk, dalam bahaya," Kibum yang hendak memberikan obat dari Dokter Zhoumi diam sejenak.
"Kau kenapa Sungminie? Ayo minum obatmu," dengan penuh kesabaran Kibum menyerahkan segelas air putih dengan beberapa pil yang bertelut di genggaman tangannya.
PRAK!
Dengan kasar, Sungmin menepis tangan Kibum hingga pil-pil itu berserakan di sekitar mereka. Setelah itu ia kembali memeluk lututnya sambil bergumam dalam gemetarnya.
"Ada apa lagi denganmu?"
SRET!
Secepat kilat Sungmin berdiri dan berlari melewati Kibum keluar kamar.
"SUNGMIN!" tanpa menunggu lagi, Kibum langsung melesat menyusul Sungmin yang berbelok di persimpangan lorong menuju dapur. "Haah… haahh…" Kibum akhirnya merasa lega ketika melihat Sungmin sedang berdiri di balik wastafel. Dengan langkah pelan, Kibum mendekati Sungmin yang tengah berdiri dalam diam. "Kau kenapa sebenarnya, Minnie?"
SRETT…
SRETT…
SRETT…
Dalam sekejap, cuping telinga Kibum menangkap suatu bunyi lain. "Jangan-jangan…" secepat kilat Kibum langsung menarik lengan Sungmin, dan benarlah apa yang ia lihat….
Darah menetes dari lengan kiri Sungmin, sementara tangan kanannya memegang sebuah pisau daging yang ujungnya penuh dengan darah. Kibum, tak sanggup untuk berkata-kata.
"Dia… akan melakukan ini pada Leeteuk. Dia… akan melakukan ini pada Leeteuk!" dengan sekuat tenaga Sungmin mengangkat pisau daging itu ke udara untuk ditikamkan pada tangan kirinya yang tengah dipegangi Kibum. Dengan tenaga seperti itu, sudah barang tentu tangannya akan langsung terpotong menjadi dua. "DIA AKAN MELAKUKAN INI PADA LEETEUK!"
"LEE SUUNGMIIN!" dengan tangannya yang satu lagi, Kibum menangkap tangan Sungmin yang hendak memotong tangannya.
"LEPASKAN! DIA AKAN MELAKUKAN INI PADA LEETEUK!"
"KAU KENAPA LEE SUNGMIN?" dengan sekali gerakan, Kibum merebut pisau itu dari Sungmin, dan langsung menjatuhkannya ke lantai. Dengan kekuatan yang masih tersisa, ia memerangkap tubuh Sungmin dalam pelukannya.
"Kau kenapa Lee Sungmin?" tanyanya lirih. Dengan segenap kekuatan ia meredam Sungmin yang berontak dan mulai menggila. Miris. Kibum tak pernah menyangka bahwa permainan ini akan membawanya ke dalam peristiwa tragis seperti ini. Peristiwa yang membahayakan nyawa sahabatnya, bahkan nyawa teman-temannya.
Sungmin yang sangat ceria sedari kecil, yang dikenal sangat aktif dan akan berbinar ketika membicarakan uang, yang dengan semangatnya mengumpulkan uang dengan berbagai cara, sekarang telah meredup, menjadi pribadi yang sangat menyedihkan.
Tes!
Tanpa sadar, setetes air mata Kibum jatuh, mencumbui pipinya yang pucat.
Satu jam kemudian…
"Aku kaget ketika mendapat telepon darimu, untung kau cepat menghubungiku," ungkap Dokter Zhoumi seraya memandang wajah Sungmin dari daun pintu—bersama Kibum. "Ada apa sebenarnya? Kenapa dia bisa seperti itu?"
"Aku juga… tidak tahu."
"Hm…" Dokter Zhoumi kembali menolehkan pandangannya ke arah Sungmin yang telah tertidur karena obat bius. Tangan kirinya sudah diperban secara rapi, dan sudah ditangani sebaik mungkin. "Untung sayatan itu tidak terlalu dalam, beberapa mili lagi akan memotong nadi-nadi yang mengalirkan darah ke jantungnya."
"Iya…" Kibum hanya bisa mengangguk pasrah, lalu diam membisu. Keadaan seperti tadi, sungguh dapat mengalutkan hatinya dan menyamarkan pandangannya. Dalam keadaan seperti itu, ketika seseorang yang teramat sangat disayangi mendapatkan musibah seperti itu, kita tidak akan dapat berpikir secara logis karena sudah didahului dengan kepanikan. Tapi untung saja sisi rasionalitas Kibum masih kuat untuk mengambil keputusan dengan menelepon Dokter Zhoumi dan melakukan pertolongan pertama sekaligus.
"Dia sedang beristirahat… sebaiknya kita tak usah mengganggunya dengan pembicaraan kita. Mari, kita beralih ke tempat lain," ajak Dokter Zhoumi seraya menutup pintu kamar Sungmin.
"Ya…"
P.M.M
In 25th Episode
"Dia berucap seperti itu?" Dokter Zhoumi kembali menenggak gelas kafein keduanya. Lalu menatap Kibum dengan pandangan iba. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, seharusnya peserta yang lain sudah pulang sekarang. Tapi taka da satu pun dari mereka yang tampak. Itu jelas membuat Kibum dan Dokter Zhoumi tambah was-was.
"Ne."
"Kenapa bisa seperti itu ya? Seolah ada yang mau menyakiti Leeteuk saja."
DEG!
Iblis yang bersembunyi di balik punggung malaikat.
"Sungmin!" tanpa sadar, Kibum berdiri dari duduknya.
"Ada apa Kibum-Ah?"
DRAP!
DRAP!
DRAP!
Secepat kilat, Kibum berlari menuju kamar Sungmin, begitupun Dokter Zhoumi yang turut mengikuti langkah Kibum. "Ada apa Kibum-Ah?"
BRAK!
Setibanya di depan kamar Sungmin, Kibum langsung membukanya secara tiba-tiba. Ternyata, benarlah apa dugaannya.
Kamar yang semua ditempati sesosok namja yang tengah tertidur lelap, kini hanya berisi kamar kosong tanpa penghuni. Sungmin sepertinya memang telah melarikan diri dari kamarnya, meninggalkan jendela yang terbuka, dan embusan angina yang memainkan gorden di sore hari.
P.M.M
In 25th Episode
"Haah… haahh… haahh…" suara desahan napas putus-putus terdengar ketika lelaki itu berlari sekuat tenaga di tengah lembayung senja yang menghantarkan mega kembali ke peraduannya.
DRAP!
DRAP!
DRAP!
Diantara kakinya tersaput noda tanah dan beberapa luka goresan mengingat ia berlari dengan bertelanjang kaki. Ia berlari sekuat tenaga, seolah berpacu dengan embusan angin. Ia berlari sekuat tenaga, seolah mengejar sesuatu. Ia berlari sekuat tenaga, seolah tidak akan ada lagi hari esok.
"Haah… aku… harus ingat—urutannya!" peluh mulai membasahi kemeja putihnya sementara kedua alisnya masih beradu saling sahut menyahut menimpali gentingnya keadaan. "Siapa yang akan… menjadi, korban pertama? Siapa?"
To be continued…
Hahaha… maaf rada dark gini ;) ada sedikit bumbu thriller juga LOL~
Nah, otokhe?
