Tiga hari sudah Sasuke berada di Amerika. Selama tiga hari itu pula Sasuke disibukan dengan pekerjaan yang harus ditanganinya. Beberapa hari ini dia benar benar kurang yang namanya istirahat. Keadaan perusahaan ini sangat kacau saat Sasuke kemari.

Menghela nafasnya lelah. Hari sudah sangat larut, namun dirinya masih bergeming di kursi kebesarannya. Jujur Sasuke sangat lelah, ditambah dirinya belum memakan apapun sejak tadi siang, membuat perutnya berdemo minta diisi.

Membereskan isi meja kerjanya, Sasuke mulai beranjak meninggalkan ruangannya. Sasuke berniat untuk mencari makan direstoran acak yang dilihatnya dijalan.

Sakura, Gaara ditambah dengan Sai yang berkunjung terhadap Sakura. Akan tetapi kunjungan Sai bagi Sakura hanya merecoki harinya. Mereka tiba dibandara saat hari sudah malam. Sakura melihat jam yang berdada ditangannya. 10.13 p.m.

"Lapar.." keluh Sakura saat menyeret kopernya.

Sai mendengus mendengar keluhan Sakura. Dia pikir dirinya saja yang lapar? Oh Sai pun sama halnya dengan Sakura.

"Kita pulang ke apartement dulu, baru kita cari makan" usul Gaara.

Sakura menggeleng. "Kenapa tidak sekalian pulang saja? Kita mampir dulu?"

"Fikirkan bawaanmu yang juga kelelahan" sindir Sai pada Sakura yang membuat Sakura menggerutu.

Sakura mengerti apa yang Gaara fikirkan. Mereka membawa banyak barang. Tidak mungkin mereka membawanua kedalam tempat makan nanti.

Sakura melirik Sai yang ada disampingnya. Sedari tadi Sai terus.saja memainkan ponselnya dan sesekali dia juga terkikik geli. Apa Sai sudah gila? Oh tidak, Sai memang dari sananya sudah Gila.

"Berhentilah tersenyum senyum sendiri. Kau semakin tambah gila" ejek Sakura.

Sai mendelik mendengar ejekan Sakura. "Apa?" tanatang Sakura saat Sai mendelik padanya.

Drttt...

Ponsel Sakura bergetar, dengan cepat ia membukanya. Ada satu pesan masuk dan Sakura langsung membacanya. Sakura tersenyum tipis saat membacanya. Itu pesan dari Ino, dirinya sedang bercurhat ria dengan Sakura. Walau pertemuan mereka sangat singkat, akan tetapi entah bagaimana mereka sudah sangat lengket seperti ini. Mungkin inilah yang disebut sahabat tidak diukur oleh lamanya kita bersama.

"Berhentilah tersenyum senyum sendiri. Kau semakin tambah gila" Sai membalikan ejekan Sakura padanya saat melihat Sakura terfokus pada ponselnya.

Sakura mendelik. Dan langsung memberhentikan taxi dan menaikinya, meninggalkan Sai dan Gaara.

"Aku hanya bercanda" ucap Sai memelas saat Gaara menatapnya tajam.

Merekapun langsung melakukan hal yang sama dengan Sakura.

Apartement Sakura dan gaara berdampingan, jadi memudahkan Sakura jika ada perlu. Seperti sekarang, Sakura tengah menekan bel apartement Gaara dengan cepat. Bukan dia marah atau kesal, dia hanya ingin bermain main saja.

Gaara dan Sai yang mendengar suara bel tersebut sudah dapat mengetahui siapa yang berkunjung pada mereka. Sai mecebik saat suara bel tersebut masih belum berhenti. Dengan kesal Sai membuka pintu tersebut.

Sakura pura pura mendengus saat melihat Sai membukakan pintu untuknya. "Kalian lama sekali, cepatlah aku sudah lapar" ketus Sakura saat melihat Gaara yang baru menghampirinya. Gaara mengangguk tanda bahwa mereka akan pergi sekarang.

Sesampainya ditempat makan Sakura, Gaara dan Sai langsung memesan makanan mereka. Namun saat menunggu pesanan mereka Sakura tiba tiba berdiri dari tempatnya, membuat kedua pria tersebut mengernyit bingung.

"Ponselku tertinggal dimobilmu" ucap Sakura dambil menengadahkan tangannya. Gaara mengerti apa yang Sakura lakukan sekarang. Dirinya memberikan kunci mobilnya pada Sakura.

Sakura menatap bingung pada dua mobil hitam dihadapannya, lupa lagi mana mobil Gaara. Mobil itu sangat persis hingga membuat Sakura bingung. Dirinya menekan tombol alarm pada kunciyang dipegangnya agar dapat mengetahui yang mana mobil Gaara. Namun yang ada dua duanya mobil yang berkedip.

Dengan cepat dirinya mecari orang yang baru saja melakukan hal yang sama dengannya. Sakura menatap tidak percaya orang yang ada disebrangnya. Orang yang sama menekan tombol itu. Namun Sakura juga dapat melihat keterkejutan yang sama pada orang tersebut.

"Se-Senpai.." gumam Sakura kecil.

Sakura refleks mundur selangkah. "Jangan mendekat" teriak Sakura saat melihat Sasuke akan melangkahkan kakinya.

Sakura meremas tangannya menetralkan kegugupanya. Dia fikir pertemuannya yang lalu adalah yang terakhir. Namun pada akhirnya kehidupannya tidak pernah bisa jauh dari Sasuke.

Sasuke menatap nanar Sakura. Begitu tidak inginkah Sakura bertemu dengannya. Memang awalnya dia terkejut saat secara tidak sengaja bertemu Sakura. Sempat terlintas dipikirannya kenapa tidak dari awal dia pergi ke Amerika jika Sakura berada disini.

Sasuke mencoba untuk melangkah mendekati Sakura kembali. Namun, Sakura kembali berteriak. Dengan cepat Sakura membuka pintu mobil sebelumya ia menekan kunci.

Sasuke tidak menyianyiakakan kesempatan ini. Dia langaung menghampiri mobil disebelahnya dan menyenderkan dirinya dikap mobil itu. Dirinya melihat Sakura yang seperti mencari sesuatua dikursi belakang. Dirinya terus menatap Sakura hingga Sakura menemukan apa yang dicarinya.

'Masib tetap ceroboh' guman Sasuke dalam hatinya. Sakura meninggalkan ponselnya.

Sakura dengan cepat keluar dari mobil, dia tidak ingin berlama lama disini terlebih dengan Sasuke. Namun dirinya tertegun saat melihat Sasuke sudah berada dihadapannya.

Sasuke langsung memegang lengan Sakura, mecegahnya untuk pergi.

"Dengarkan aku. Aku mohon" pinta Sasuke.

"Apa lagi? Aku rasa kita sudah cukup bicara saat itu" balas Sakura pelan.

"Tidak bisakah kita memulainya dari awal?" tanya Sasuke lirih. "Kita masih bisa memulainya, kita masih sah dihadapan hukum Sakura" tambahnya.

Sakura tersenyum miring mendengarnya.

"Kenapa baru sekarang? Kemana saja kau selama ini senpai? Kenapa baru sekarang kau mengejarku? Kau fikir aku tidak lelah? Apa yang kau fikirkan tentang diriku?

Aku tidak sekuat itu, hidupku tidak sebaik pemikiraua, masalah hidupku bukan saja terus berpusat padamu. Jadi kumohon lepaskan aku. Seperti yang kau bilang tadi, kita masih sah dihadapan hukum. Jadi ceraikan aku. Biarkan aku memulai kehidupan baruku. Walaupun jika pada akhirnya kehidupanku harus berakhir dengan bertemu dengan mu lagi, aku ingin saat itu tiba aku terbebas dari mu." mata Sakura berkaca kaca.

Tidak. Dia tidak boleh menangis sekarang. Dirinya harus segera kembali lagi kedalam jangan samapi ada yang tahu masalah ini, terutama Gaara.

Sasuke terdiam, dirinya tidak tahu harus membalas ucapan Sakura barusan. Apa memang sudah terlambat?

Perlahan genggaman Sasuke melemah, dan Sakura langsung menarik kasar tangannya dan membungkukan badanya lalu pergi dari sana.

"Bagaimana? Ada?" tanya Gaara saat Sai sudah kembali.

Sai mengangguk. "Dia juga melupakan dimana dia menyimpannya. Dia akan segera kemari"

Ya. Sai baru saja datang, dirinya tadi menyusul Sakura yang lama. Namun dirinya malah menyaksikan drama Sakura. Sai sebenarnya juga terkejut, dirinya tidak pernah berfikir jika Sasuke akan berada di daerah sini juga. Dunia memang sempit.

Sai melirik Gaara dihadapannya yang sedikit khawatir. Dalam hati dia bersyukur karena tadi dia mencegah Gaara yang akan menyusul Sakura. Jika Gaara melihat hal tadi dirinya tidak tahu apa yang akan terjadi. Namun bukan perkara yang baik.

"Maaf lama" Sakura langsung duduk disamping Gaara. Dirinya masih terengah sehabis berlari.

Gaara memberikan segelas air pada Sakura dan mengusap punggung Sakura. Sai yang melihat itu memandang mereka dengan penuh arti. Kenapa Sakura harus terlebih dulu jatuh hati pada Sasuke? Kenapa bukan dengan Gaara? Jika itu terjadi mereka mungkin sudah menjadi pasangan yang bahagia sekarang.

Makan sudah tersaji dari tadi, Sakura langsung melahapnya. Gaara terkikik melihat itu, sedangkan Sai mendengus keras. Mereka menghabiskam makan malam mereka dengan pertengkaran Sai dan Sakura namun menyenangkan. Hingga Sakura melupakan masalahnya tadi untuk sesaat.

Sudah dua hari berlalu semejak pertemuannya dengan Sakura, dan pernyataan Sakura masih terngiang dikepalanya. Jika dipikirkan lagi, dirinya memang sudah sangat keterlaluan dulu. Dan juga Sasuke masih memikirkan tentang masalah kehidupan Sakura. Mungkin Sakura memang benar, kehidupannya terlalu rumit, dan mungkin karena itu dirinya waktu itu melakukan hal nekat.

Dan lagi padahal dirinya dan Sakura sudah saling mengenal terlebih dulu. Jauh sebelum dirinya berjumpa dengan Hotaru.

Ah.. Hotaru kah? Rasanya sudah dangat lama dirinya tidak mendengar kabar tentang gadis itu. Walaupun mereka sudah sepakat untuk melupakan apa yang telah terjadi.

Namun jika dipikirkan lagi, dari siapa Sakura mengetahui bahwa dirinya dan Hotaru berada dihotel saat.itu terlebih nomor kamar mereka. Ditambah dengan video yang dikirim ke keluarga Haruno.

Kenapa Sasuke tidak berpikiran kesana? Kenapa baru terpikirkan sekarang. Pasti ada seseorang yang mungkin ingin merusak hubungannya dengan Sakura. Ah, tapi memang dari awal hubungannya dengan Sakura memang sudah rusak, dan dirinyalah penyebabnya.

Sasuke mengambil ponselnya lalu segera mengbungi seseorang. "Aku ingin menyelidiki sesuatu..."

Sakura mengaduk minumannya dan menatapnya bosan. Hari ini dirinya sedang pergi keluar dengan Sai. 'Kencan' itulah yang Sai ucapkan saat mengajaknya.

Akan tetapi, Sai malah sibuk bertukar pesan yang sudah diketahui Sakura adalah Ino. "Sebenarnya apa maksudmu mengajakku hah?" dumel Sakura.

"me-refreshingkan otak kita" jawab Sai santai.

"Tch.. Padahal yang kau lakukan hanyalah memainkan ponselmu sedari tadi" ketus Sakura.

Sai langsung menyimpan ponselnya."Sekarang tidak" dan menunjuk ponselnya.Sakura mendengus sebal.

"Baiklah baiklah.. Aku akan bicara serius sekarang" Sai mengambil minumannya dan memandang Sakura yang menatapnya malas.

Sai menyeringai sebelum mengatakan apa yang akan diucapkannya. "Aku melihatmu saat diparkiran"

Sakura menegang saat mendengar penuturan Sai. Dirinya menatap tidak percanya pada Sai, namun Sai menganggukan kepalanga memberi kepastian.

Sakura menghela nafasnya lelah. "Jangan beritahu Gaara." hanya itu yang difikirkannya sekaran.

Sai mengangguk. "Sebelum ke Paris aku bertemu dengan Sasuke dibandara. Aku tidak berfikir dia akan pergi kemari, yah.. Walau aku tahu dari keberangkatannya, namun aku tidak menyangka dirinya akan sangat dekat dengan daerah lingkup mu"

Sakura menggeleng. Ini bukan salah Sai. Namun takdir yang selalu mempermaikannya. Hah.. Sepertinya dirinya memang harus bersenag senang sekarang.

"Kita berpetualang hari ini" ucap Sakura dan berlalu meninggalkan Sai dan tagihan makannan mereka. Kesenangan Sakura sudah dimulai..

Tbc

Pendek? Entahlah aku akhir akhir ini aku lagi mentok ide hehe... Jadi maafkan untuk yang kecewa.. Selamat puasa bagi yang menjalankan aja.. oh ya aku juga pingon banget segera ngeberesin ini fict hehe.. tapi apalah dayaku.. (﹏)(﹏)