I'm Fine

25.

"Maura, kau sudah bangun?" Hermione bertanya, berjalan mendekat, mengambilkan segelas air yang berada tidak jauh dari kasur itu dan memberikannya pada Maura.

Maura menghabiskan air itu kemudian memeluk ibunya erat.

"Mommy, kita harus pergi dari sini, Draco Malfoy dan Lucius Malfoy seorang pembunuh."

Hermione kehilangan kata-katanya. Ia melepaskan pelukkan Maura dengan cepat dan meletakkan kedua tangannya di bahu anaknya itu.

"Maura, sayang, apa yang kau katakan barusan?" Hermione bertanya cemas.

"Orang yang menculikku memberitahuku kalau Draco Malfoy dan Lucius Malfoy orang jahat Mommy, mereka pengikut penyihir jahat, mereka juga membunuh orang-orang Mommy." Maura berseru terburu-buru.

"Maura, sayang, apa saja yang orang itu katakan padamu?" Hermione berusaha tenang. Ia tahu sekarang kenapa Maura menjaga jarak dengan Draco tadi.

Maura menarik nafasnya kemudian menceritakan semuanya pada Ibunya itu, ia menceritakan persis dengan apa yang dikatakan Ron padanya, semuanya.

Hermione menghela nafasnya begitu Maura selesai bercerita, apa yang harus dikatakannya pada anaknya ini?

"Hermione!" Draco berseru dari depan pintu, ia berjalan masuk dan menemukan Maura sudah terbangun. "Maura? Kau sudah bangun?" Draco bertanya, tersenyum dan berjalan mendekat ke arah anaknya itu.

Maura tidak mengatakan apa-apa, ia terlihat ketakutan dan memeluk Hermione erat.

Draco tidak mengerti apa yang terjadi, ia melihat Hermione dengan penuh tanda tanya. Hermione hanya bisa menggeleng sedih.

"Maura…" Hermione memulai. "Apa kau percaya apa yang dikatakan orang itu padamu?" Hermione bertanya pelan, menyingkirkan rambut dari wajah Maura yang berkeringat padahal suhu diruangan itu tidak panas sama sekali.

Maura melihat wajah Hermione dengan penuh keraguan. "Aku tidak tahu Mommy." Maura berseru lagi dan memeluk ibunya lagi erat.

Hermione berpikir, ia tidak bisa mengatakan pada Maura kalau apa yang diakatakan Ron itu bohong, karena sebelum ini Draco dan Lucius memang bukan orang baik. Tapi mereka sudah berubah.

"Hermione ada apa?" Draco bertanya, ia benar-benar tertekan, yang ia ingin lakukan sekarang hanya berada di dekat anaknya, di dekat Hermione, di dekat dua perempuan paling penting dalam hidupnya.

"Draco, bisa kau tinggalkan kami sebentar?" Hermione bertanya pelan.

Draco tidak terima, bagaimana mungkin ia bisa meninggalkan mereka berdua sebentar dalam keadaan seperti ini? Dalam keadaan Maura bahkan tidak ingin melihat wajahnya.

"Sebentar, hanya sebentar." Hermione memberitahu.

Draco bisa melihat kesungguhan di mata Hermione. Ia menyerah. "Please Hermione, please!" Draco berkata putus asa, entah ia memohon untuk apa, ia hanya berharap agar Hermione bisa membantunya memperbaiki hal ini, apapun yang sudah dilakukan Ronald Weasley pada anak perempuan mereka, pada anak perempuannya.

"Maura…" Hermione memulai begitu Draco masuk kekamarnya yang terhubung dengan kamar Maura, ia memposisikan Maura di atas pangkuannya di dalam pelukkannya, membuat Maura merasa senyaman dan seaman mungkin.

"Maura, kau tahu kan kalau Mommy juga pernah kecil?" Hermione bertanya

Maura mengangguk. Hermione pernah menjelaskan fase kehidupan seseorang pada Maura, mulai dari mereka lahir, bayi, anak-anak, remaja, dewasa, lansia dan meninggal dan ia ingin memastikan anak perempuannya mengerti akan hal itu sebelum ia menjelaskan apa yang akan dijelaskannya.

"Daddy juga pernah kecil." Hermione memberitahu lagi

Maura melihat Hermione ragu tapi kemudian mengangguk juga.

"Seorang anak kecil, terkadang tidak tahu apa yang dilakukannya benar atau salah." Hermione berusaha menjelaskan. "Begitu juga apa yang terjadi dengan Daddy, sewaktu kecil Daddy memang nakal."

"Seperti Allen?" Maura bertanya, teringat temannya dulu waktu di desa yang juga nakal.

"Iya, seperti Allen." Hermione mengiyakan sambil tersenyum. "Dulu Daddy selalu bersaing dengan Uncle Harry dan karena Mommy berteman dengan Uncle Harry, maka Daddy tidak begitu suka dengan Mommy, tapi ketika kami remaja Daddy sedikit mulai berubah dan mulai bersikap lebih baik pada Mommy." Hermione memberitahu.

Maura masih mendengarkan dan melihat Mommynya dengan tatapan penuh ragu-ragu dan kekuatiran yang seharusnya tidak perlu dirasakan anak seumurannya.

"Dulu ada seorang penyihir jahat." Hermione menghela nafasnya, ia tidak pernah ingin menceritakan tentang Voldemort pada anak perempuannya ini, paling tidak bukan sekarang, mungkin lima atau enam tahun lagi, satu atau dua tahun sebelum ia berangkat ke Hogwarts, tapi ia tidak punya pilihan.

Maura mengangguk, tanda ia mendengarkan cerita ibunya benar-benar.

"Penyihir ini tidak suka dengan mereka yang memiliki darah Muggle."

"Seperti Mommy?"

"Iya, seperti Mommy. Namanya Voldemort, ia tidak menyukai Muggle ataupun penyihir berdarah Muggle."

"Aku suka Muggle, Grandpa dan Grandma Granger Muggle, orang-orang di desa juga Muggle." Maura memberitahu lagi.

Hermione tidak bisa menahan senyumannya, tapi ia melanjutkan ceritanya. "Voldemort ingin semua penyihir yang memiliki keturunan dari Muggle mati, karena itu, Mommy dan juga Uncle Harry berusaha melawannya." Hermione nyaris menyebut nama Ron, tapi berhasil menahannya.

"Daddy, dan Grandfather Lucius, mereka semua berdarah murni, mereka direkrut menjadi pengkuti Voldemort, jadi apa yang dikatakan pria yang menculikmu itu ada benarnya, Daddy dan Grandfather memang sempat mengikuti penyihir jahat."

"Tapi kemudian Grandmother membuat Grandfather sadar kalau apa yang mereka lakukan salah, ketika mereka ingin lepas dan pergi dari kelompok penyihir jahat itu, semuanya sudah terlambat."

Hermione diam sebentar, membiarkan Maura menyerap apa yang dikatakannya barusan.

"Daddy kemudian dipaksa melakukan kejahatan, ia harus membunuh seseorang atau Grandmother akan dibunuh oleh Voldemort." Hermione memberitahu.

Mata Maura membesar, ia ketakutan sekarang.

"Maaf sayang, Mommy tahu ini cerita yang mengerikan tapi kau harus tahu, karena Daddy tidak sepenuhnya bersalah." Hermione memberitahu lagi.

"Daddy diancam, ia dipaksa membunuh kepala sekolah kami atau Grandmother Narcissa akan dibunuh, menurutmu bagaimana?" Hermione bertanya, ia memutuskan kalau Maura cukup pintar dan mungkin bisa berpendapat tentang hal ini.

"Membunuh orang itu sesuatu yang salah." Maura memberitahu, ia terdengar bingung. "Tapi Daddy harus melindungi Grandmother." Maura memberitahu lagi, ia sepertinya juga bingung menentukan mana yang seharusnya dilakukan jika ia berada di posisi Draco.

Hermione tersenyum, ia mengangguk. "Daddy tahu membunuh orang salah, tapi ia harus melindungi Grandmother Narcissa. Kepala sekolah kami sudah tahu hal itu, dan saat itu kepala sekolah kami juga sudah terkena kutukan parah dan juga sudah hampir mati, tapi akhirnya bukan Daddy yang membunuh kepala sekolah kami itu." Hermione memberitahu.

Maura terlihat sedih, ia memeluk Hermione. "Aku tidak tahu Mommy, aku takut, aku sedih, aku tidak ingin Daddy menjadi orang jahat." Maura menangis lagi.

Hermione baru akan mengatakan sesuatu saat Maura berseru lagi. "Tapi jika seseorang akan membahayakan Mommy dan menyuruhku untuk melukai orang lain untuk menyelamatkan Mommy maka aku akan melakukannya."

Hermione terdiam.

"Oh, sayang…" Hermione mempererat pelukkannya pada Maura dan ikut menangis bersamanya, ia tidak pernah menyangka kata-kata seperti itu akan keluar dari mulut anaknya, dari mulut Maura, dari mulut Maura-nya.

.

Draco terduduk lemas di lantai kamarnya, punggungnya bersandar pada pintu yang terutup, tubuhnya bergetar menahan tangis.

Ia mendengar seluruh percakapan Maura dan Hermione dari ruangan sebelah.

Dan sekarang ia ikut menangis dengan Hermione juga Maura. Ia meletakkan tangannya dimatanya dan berusaha menahan tangisnya tapi tidak bisa, ini semua kesalahannya, jika ia dulu orang yang baik, jika ia tidak pernah melakukan hal-hal bodoh itu, maka mungkin semuanya tidak akan terjadi, Maura tidak akan mengatakan hal mengerikan seperti apa yang dikatakannya barusan.

Gagalkah ia menjadi seoarang ayah?

.

Narcissa menangis di pelukkan Lucius, mereka berdua ada di luar pintu kamar Maura dan berdiri di lorong yang sunyi, keduanya tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, Narcissa ingin masuk kedalam dan memeluk Maura juga Hermione tapi Lucius menahannya.

Lucius tahu ini semua salahnya, jika saja ia tidak pernah mengikuti Dark Lord, jika saja ia bisa menjadi pria yang lebih kuat dan melindungi keluarganya. Maka sekarang cucunya pasti tidak akan mengalami hal buruk seperti ini.

Lucius menghela nafasnya dan menuntun istrinya kembali ke kamar mereka.

.

Harry menghela nafasnya, ia sedang menulis laporan panjang bersisi operasi mereka menyelamatkan Maura Granger-Malfoy dan menangkap Ron Weasley.

Ia sudah bertahun-tahun bekerja sebagai Auror dan baru kali ini ia tidak tahu apa yang harus dituliskannya pada laporannya, seakan-akan seluruh kosa katanya menghilang dan ia lupa bagaimana caranya menulis.

Hanya atas kejahatan penculikkan anak berumur dibawah lima tahun saja Ron akan dikenai hukuman Azkaban lima tahun, karena penculikkan ini berencana dan sebelumnya ia sudah mengakui kalau ia dan Ginny bersama-sama merencanakan hal ini, termasuk Ginny yang menerobos masuk ke apartemen milik Draco Malfoy, ia bisa dikenai maksimal sepuluh tahun.

Tapi jika keluarga Malfoy memutuskan ikut campur di pengadilan maka mungkin hukumannya akan bertambah menjadi lima belas tahun. Bagaimanapun juga mereka masih punya pengaruh kuat dimana-mana.

Ginny Weasley masih berada di St. Mungo dan menurut Healer di sana ia mengalami gangguan kejiwaan, mereka tidak benar-benar bisa memasukkannya ke Azkaban karena hal itu, tapi jika keluarga Malfoy ikut campur di pengadilan dan di rumah sakit maka mungkin saja Ginny Weasley akan meninggalkan kasurnya yang nyaman di St. Mungo dan menemani saudara laki-lakinya di Azkaban.

Harry menghela nafasnya, ia tidak benar-benar tega melakukan ini pada Ron juga Ginny, bagaimanapun juga mereka berdua sempat menjadi bagian penting dalam hidupnya, terutama Ron.

Kenapa mereka berdua berubah menjadi orang yang berbeda?

Harry menghela nafasnya lagi dan lagi, akhirnya mulai menulis laporannya apa adanya, jika nanti keluarga Malfoy memutuskan untuk ikut campur di proses pengadilan maka itu urusan mereka.

Harry dengan cepat membereskan laporannya dan berencana akan mengunjungi Malfoy Manor untuk melihat bagaimana keadaan Maura sekarang.

.

"Winky." Hermione memanggil salah satu peri rumah Draco yang cukup sering dimintai bantuan olehnya.

"Miss memanggil Winky?" Winky bertanya, membungkuk pada Hermione dan Maura.

"Winky, bisa kau ambilkan Maura makanan?" Hermione bertanya, ia dan Maura sudah tenang, dan ia tahu Maura pasti sekarang lapar.

Winky kemudian pergi dan mengambil makanan.

"Maura, boleh Mommy panggil Daddy kesini?" Hermione bertanya.

Maura mengangguk.

Hermione tersenyum kemudian menuju pintu yang menghubungkan kamar Maura dengan kamarnya dan Draco. Begitu ia membuka pintu kamar itu, ia melihat Draco berdiri tidak jauh dan matanya sembab.

Hermione berjalan mendekat dan meraih kedua tangan Draco.

"Kau menangis?" Hermione bertanya pelan.

Draco mengangguk.

"Kenapa?"

Draco tidak menjawab, ia menarik Hermione kepelukkannya. "Maaf, maafkan aku." Draco berseru lirih. Seketika Hermione tahu, Draco pasti mendengar pembicaraannya dengan Maura, ia menepuk-nepuk pundak Draco pelan.

Hermione membiarkan Draco memeluknya agak lama, membiarkan pikiran dan hatinya tenang sebelum bicara pada Maura.

"Maura sudah mau bicara padamu." Hermione memberitahu.

"Apa yang harus kukatakan padanya?" Draco bertanya.

Hermione tersenyum, ia mencium bibir Draco lembut. "Katakan kau menyayanginya, kau tidak akan menjadi orang yang jahat dan akan menjadi ayah terbaik untuknya." Hermione memberitahu.

Draco tersenyum, perkataan Hermione menguatkan hatinya. "Apa yang akan kulakukan tanpamu?" Draco bertanya pelan.

Mereka kemudian masuk keruangan Maura dimana Winky sedang membantu Maura makan.

"Winky, kau bisa pergi." Draco memberitahu Winky begitu makanan Maura sudah siap untuk disantap disitu.

"Maura."

"Daddy."

Draco dan Maura berseru bersamaan.

Draco tersenyum dan duduk di kasur di samping Maura.

"Kau baik-baik saja sayang?" Draco bertanya pelan.

Maura mengangguk, Draco mendekatkan duduknya lagi ke Maura.

"Apa yang dikatakan orang yang menculikmu…" Draco memulai.

"Mommy sudah menjelaskannya padaku." Maura memberitahu. "Aku minta maaf Daddy." Maura memberitahu lagi.

"Daddy juga minta maaf sayang." Draco memberitahu. Maura memeluk ayahnya.

Draco menariknya dan memeluknya lebih erat, memangkunya dan memeluknya erat, menciumi kepalanya dan menghirup aroma rambut anak perempuannya itu.

"Daddy dan Grandfather memang melakukan kesalahan dulu, kami juga bukan orang paling baik di dunia sihir, tapi kami menyayangimu Maura, Daddy menyayangimu, begitu juga dengan Grandfather." Draco memberitahu.

Maura mengangguk.

"Daddy berjanji akan menjadi ayah terbaik untukmu." Draco bersumpah dalam hatinya.

Maura mengangguk lagi, memeluk ayahnya lebih erat. Draco melihat ke arah Maura dan melihat ada titik air mata di sudut matanya lalu menghapusnya dengan ibu jarinya.

"Mulai sekarang Daddy akan menjagamu. Kau tidak akan pernah berada dalam bahaya lagi. " Draco memberitahu, mencium kening Maura lagi.

Maura mengangguk untuk yang kesekian kalinya. "Dan, Daddy juga harus berjanji tidak akan menjadi orang jahat lagi."

Draco yang mengangguk sekarang.

Hermione tersenyum.

"Baiklah, baiklah kalau begitu, kurasa Maura bisa makan sekarang." Hermione memberitahu.

Draco tertawa kemudian membantu Maura makan

.

"Ayolah Grandmother, kumohon…" Maura merengek pada neneknya.

Narcissa menggeleng, berusaha menguatkan hatinya. "Tidak bisa Maura, kau mau Grandmother mendapat masalah?" Narcissa bertanya lembut.

"Tapi aku bosan dirumah terus, aku ingin pergi ke TK, ini sudah lima hari, dan sepertinya Daddy dan Mommy masih belum mau mengizinkanku pergi." Maura merengek. "Ayolah Grandmother, bicara pada mereka berdua." Maura berseru, menggoyang-goyangkan lengan Narcissa.

"Tidak bisa Maura, pokoknya tidak bisa." Lucius berseru tiba-tiba, ia mendengar cucunya itu merengek terus ingin sekolah, tapi ia, Draco, juga Hermione masih belum mengizinkannya.

Ron dan Ginny sekarang memang sudah berada di bawah pengawasan pihak berwajib, tapi mereka tidak mau mengambil risiko, mereka tidak tahu apa yang mungkin dilakukan anggota keluarga Weasley lainnya.

Lagipula Maura masih harus terus dicek keadaan kesehatannya di bawah Healer pribadi keluarga Malfoy untuk memastikan Ron tidak melakukan apa-apa padanya.

"Grandfather…" Maura juga mulai merengek pada Lucius, ia berjalan ke arah kakeknya dan meminta gendong.

"Grandfather tidak akan menggendongmu sebelum kau berhenti merengek dan minta sekolah." Lucius memberitahu, niatannya sedikit lebih kuat dari Narcissa.

Maura memanyunkan bibirnya dan melihat kesal pada kakeknya itu, ia lalu keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju ke taman belakang, ia mau bermain di dekat danau saja.

"Maura pasti bosan dirumah terus." Narcissa memberitahu Lucius.

"Tapi membiarkannya pergi ke TK terlalu berbahaya." Lucius memberitahu.

"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Narcissa bertanya.

Maura dengan cepatnya kembali seperti biasa, seakan-seakan ia tidak baru saja mengalami penculikkan yang membuat orang-orang dewasa disekitarnya kuatir setengah mati, tidak ada bekas trauma sedikitpun padanya.

Setelah mendapat istirahat yang cukup juga beberapa ramuan vitamin, ia kembali seperti dirinya yang biasa, Maura yang cerewet, ceria, dan menyenangkan.

Lucius berkali-kali meledek Hermione karena hal ini, mengatakan kalau keberanian Gryffindor-nya terlalu banyak menurun pada Maura.

Setidaknya mereka semua sekarang tidak perlu kuatir Maura akan mengalami gangguan psikis.

.

"Wuuuu….." Maura berseru senang dari atas ayunan kecil yang dibuat Draco di pohon paling besar di taman belakang mereka. Salah satu peri rumah membantunya dengan sihir membuat ayunan itu bergerak-gerak cukup kencang.

Maura tidak lagi duduk di ayunan itu tapi berdiri, kedua tangannya memegang erat tali tebal yang ada di kedua sisinya, sementara peri rumah didekatnya terus menerus berjaga-jaga agar Maura tetap aman.

"Wiiiii….." Maura berseru lagi. "Winky, lebih kencang lagi, lebih tinggi…" Maura meminta agar ayunannya berayun lebih tinggi dan lebih kencang.

"Tapi jika Winky membuat ayunannya bergerak lebih kencang Miss Maura bisa jatuh." Winky memberitahu ketakutan.

"Tidak akan, aku tidak akan jatuh, lagipula jika aku jatuh kau kan bisa menggunakan sihir untuk menangkapku, ayolah Winky, kumohon…" Maura berseru, masih berayun-ayun.

Winky ketakutan, ia tidak berani menolak permintaan Maura, tapi bagaimana jika nanti Maura terjatuh?

"Maura." Theo berseru, memasuki halaman belakangan keluarga Malfoy.

"Uncle Theo!" Maura berseru senang. "Winky, hentikan ayunannya." Maura memberitahu. Winky memberhentikan ayunan itu perlahan, Maura melompat turun kemudian berlari ke arah Theo.

Theo tertawa, ia juga berlari ke arah Maura kemudian mereka bertemu di tengah, Theo menggendongnya dan mengangkatnya berputar-putar, membuat Maura tertawa-tawa.

"Uncle, aku bosan sekali." Maura memberitahu begitu Theo menurunkannya.

"Bosan kenapa? Sekarang kan Uncle sudah ada disini." Theo memberitahu.

"Aku tidak boleh pergi ke TK, Mommy dan Daddy melarangku, begitu juga Grandfather, aku bosan disini, hanya bisa bermain dengan peri rumah saja." Maura memberitahu sedih.

Theo tersenyum, ia menggandeng Maura ke arah kursi di dekat danau. Ia baru tahu berita tentang penculikkan Maura dua hari yang lalu dari Luna, Luna Lovegood.

Ron disidang dua hari yang lalu atas tuduhan penculikkan Maura Granger-Malfoy.

-Flashback-

"Aku ingin bertemu dengan Miss Lovegood." Theo memberitahu salah satu karyawan di TK itu.

"Ah…" Karyawan perempuan itu mengerti. "Apa anda ingin memasukkan anak anda kesini?" perempuan itu bertanya lagi.

Theo tersenyu kecil. "Tidak, aku hanya ingin bertemu dengan Miss Lovegood, apa kau bisa memanggilkannya?" Theo bertanya, gerah ditanyai terus.

"Ah, baiklah, tunggu sebentar." Perempuan itu masuk ke dalam ruangan pengajar dan memanggil Luna.

"Oh, Theodore Nott?" Luna bertanya, sedikit kaget, apa yang dilakukan Theodore Nott di tempat ini?

"Luna Lovegood." Theo berseru.

"Ada yang bisa kubantu?" Luna bertanya. "Apa kau ingin memasukkan anakmu kesini?" Luna bertanya.

"Aku belu punya anak." Theo memberitahu, ia yakin pipinya sekarang pasti merah.

"Ah… lalu apa yang bisa kubantu?" Luna bertanya dengan nadanya seperti biasa.

"Ada yang ingin kutanyakan padamu." Theo memberitahu.

Luna mengangguk, menunggu apa yang akan ditanyakan Theo padanya.

"Apa kau punya waktu untuk minum kopi bersama denganku?" Theo bertanya canggung.

"Aku tidak suka kopi." Luna memberitahu.

Seketika Theo merasa ditolak, ia berdiri canggung dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang, ia membutuhkan waktu nyaris dua minggu untuk mepersiapkan hatinya agar berani mengajak Luna Lovegood keluar, tapi perempuan pirang di depannya itu dengan begitu cepat menolaknya.

"Tapi kita bisa minum teh di dekat sini." Luna memberitahu tersenyum.

Theo tersenyum. "Jam berapa kau selesai?" Theo bertanya.

"Sebenarnya aku selesai jam dua siang, hanya saja hari ini aku harus pergi ke pengadilan." Luna memberitahu.

"Pengadilan?" Theo bertanya, tidak mengerti.

"Kau tidak tahu?" Luna bertanya.

.

"Bagaimana mungkin kau bisa tidak memberitahu kami?" Theo bertanya sedikit emosi pada Draco.

"Aku tidak sempat." Draco memberitahu jujur.

Blaise tertawa menghina. "Apa susahnya sedikit meluangkan waktu untuk mengirimi kami pesan?"

"Aku tidak sempat." Draco berseru lagi. Ia menghela nafasnya, "Sudahlah, aku akan menjelaskannya lagi pada kalian nanti, sekarang kita harus masuk karena sidang akan segera dimulai."

Theo diberitahu Luna kalau hari ini persidangan atas Ron akan dilakukan, Ron menculik Maura selama kurang lebih enam jam. Ia kebakaran janggut dan langsung menghubungi Blaise, bertanya apa Blaise tahu tentang hal ini?

Blaise juga tidak tahu, akhirnya mereka berdua ikut ke pengadilan dan menemui Draco disana.

Sedikit banyak Luna sudah menceritakan apa yang terjadi pada Maura dan bagaimana kronologi penyelamatannya dengan tim auror.

Persidangan akan segera dimulai. Draco duduk disamping Hermione, Luna duduk di samping kiri Hermione, dan Blaise duduk di samping kanan Draco, Theo sempat bingung dimana ia harus duduk, di samping Blaise atau disamping Luna, tapi kemudian ia sadar kalau kesempatan tidak datang dua kali, jadi ia duduk disamping Luna.

Hakim memasuki ruangan, semua orang berdiri, termasuk Draco, Blaise, dan Theo yang berdiri malas-malasan.

"Tersangka Ronald Billius Weasley." Hakim itu berseru, Ron dibawa ke dalam ruangan, kedua tangannya di borgol dengan borgol Muggle lalu di dudukkan di tengah ruangan.

Theo melirik Hermione dan Draco yang berpegangan tangan erat sambil memperhatikan jalannya persidangan.

Lucius duduk di samping Harry Potter di deretan kursi yang lebih ke bawah, mereka berdua terlibat dalam diskusi yang sepertinya seru.

Blaise juga sesekali bicara dengan Draco, membicarakan jalannya persidangan.

Sementara Luna hanya memandang ke arah atas ruangan dengan bosan, memandang kosong dimana para dementor di tahan di sana.

"Apa yang kau lihat?" Theo bertanya.

"Aku sedang mencari Nargles." Luna memberitahu.

"Nargles?" Theo bertanya

Luna mengangguk.

-End Of Flashback-

Ron dihukum kurungan Azkaban lima tahun, sementara Ginny di tahan di bagian kejiwaan St. Mungo sampai waktu yang belum ditentukan.

Blaise dan istrinya sedang berusaha punya anak kedua.

Hermione dan Draco sedang mempersiapkan pernikahan mereka.

Theo? Ia jatuh cinta pada perempuan bernama Luna Lovegood.

"Uncle Theo!" Maura menyadarkan Theo dari lamunannya. "Kau tidak mendengarkanku kan?" Maura berseru kesal.

Theo tertawa pelan. "Maaf… Maaf… apa yang kau katakan barusan?"

Maura mengulangi lagi apa yang dikatakannya barusan dan Theo berusaha fokus kali ini.

Hari ini ia datang ke sini selain untuk mengunjungi Maura dan mengecek keadaannya ia juga datang untuk membicarakan beberapa hal dengan Hermione, tentang Luna.

"Maura, apa Daddy dan Mommy-mu memberitahu kapan mereka akan kembali?" Theo bertanya lagi.

Maura mengangguk. "Mommy bilang sebelum makan siang mereka akan pulang, kami akan makan siang bersama, dan Uncle Harry akan datang kesini."

"Uncle Harry? Harry Potter?" Theo bertanya.

Maura mengangguk. "Beberapa Harry yang lalu Uncle Harry juga datang kesini saat Aunty Luna berada disini, Grandmother berkata kalau Uncle Harry menyukai Aunty Luna dan ia akan membantu mereka, sementara Grandfather berkata, Uncle Theo menyukai Aunty Luna dan Grandfather akan membantu Uncle Theo." Maura berkata panjang lebar.

Theo kehilangan kata-kata.

"Uncle, apa kau menyukai Aunty Luna?" Maura bertanya.

-To Be Continued-