Mobil berhenti melaju. Yongguk menghela napas setelah menempuh perjalanan Kota yang begitu panjang dan padat. Ia memperhatikan jam mobil, yang telah menunjukkan angka 6 malam. Sudah lebih dari beberapa jam waktu dihabiskan di dalam mobil yang bergerak.

Yongguk menoleh. Muramnya malam saat itu tidak menyembunyikan wajah manis Himchan yang duduk di sampingnya, tertidur pulas. Seharusnya ia telah dibawa pesawat melewati benua untuk sampai ke salah satu negara Eropa bersuhu dingin disana. Namun disini ia berada, tertidur tenang di sampingnya. Yongguk masih bisa mengenggam tangannya sedekat ini. Ia begitu bersyukur.

Dirinya enggan membangunkan lelaki cantik itu begitu saja. Ia ingin lebih lama memperhatikan wajahnya yang begitu lucu, polos, dan damai. Hatinya terus berdebar menghadapi karunia Tuhan yang baru kali ini ia temui. Ia kembali mendesah lega. Kepalanya beradu dengan kursi, terangkat menerawang langit malam yang terlihat lebih indah.

Tangannya merogoh sesuatu yang disembunyikan dari balik jas tuxedo yang sudah ia longgarkan. Ada sekotak cincin di dalamya. Isinya adalah 2 cincin perak bertahta kristal mungil yang begitu cantik. Cincin pilihannya untuk orang yang tepat. Ia bahkan tidak setuju dengan cincin pilihan Chungha dengan berlian mahal. Ia memperhatikan cincin ini, Yongguk langsung jatuh cinta. Serupa ia jatuh pada pandangan pertama dengan Himchan. Cincin ini membekaskan kenangan bersamanya.

Ia tahu akan seperti ini. Melarikan diri demi menjemput kembali lelaki kesayangannya. Cincin ini ia persiapkan untuk mereka berdua. Ia sampai senyum malu- malu, membayangkan saat memalukan menawarkan cincin ini pada Himchan. Ia benar-benar ingin melakukannya, berlutut mengangkat kotak cincin seperti ingin meminang. Tapi Himchan mungkin tidak siap untuk itu.

Maka secara diam-diam, pria tampan itu dengan inisiatif memasangkan cincin di jemari Himchan secara hati-hati. Ia pelan memasukkan lingkar cincin yang terasa pas mulai menelusup ke jari manis Himchan. Meskipun sesekali bergerak tidak nyaman, Himchan masih memejamkan mata. Semuanya jadi beres setelah cincin tersebut berhasil terpasang pas. Kemilaunya tampak cantik di bawah sinar bulan. Yongguk tersenyum puas.

Ada sekelebat pemikiran (yang cukup gila) untuk membawa Himchan pergi jauh dan menikahinya. Lihat saja, ia sudah pakai cincin yang sama dengan pemuda itu serupa pengantin baru. Tidak salah jika kali ini ia sudah bisa dinobatkan sebagai suami Kim Himchan.

Lebih tepatnya, Bang Himchan?

Tiba-tiba handphone Yongguk berdering. Dengan cekatan pria itu mengangkatnya, ia terlalu sibuk memperhatikan cincin kristalnya sampai tidak sadar dengan nomor yang tertera.

"BRENGSEK"

Seruan dari seberang, membuat Yongguk terlonjak dan hampir saja HP nya terhentak lepas dari pegangan. Suara wanita tiba-tiba saja menggelegar membuatnya bungkam seketika. Suara itu terdengar tidak asing.

Ia segera memperhatikan layar monitor sebelum menjawab seruan itu. Betapa terkejutnya dia nomor Paman Junki yang tertera disana. Lalu siapa wanita ini? Pamannya itu sama sekali belum menikah!

"Kembalikan anakku, anak kurang ajar! Kau akan menyekapnya berapa lama?!"

Belum sempat memperkenalkan diri, Yongguk sudah bisa tebak siapa wanita disana. Ia melirik Himchan yang tertidur pulas tanpa (sempat) disentuhnya. Masih utuh dan segar. Kenapa wanita ini sebegitu khawatirnya?

"Ibu.."

"Dan jangan panggil aku 'IBU'!"

Yongguk terbungkam. Ia bersumpah, ibu Himchan begitu galak di luar ekspektasinya.

"Himchan baik-baik saja. Aku hanya membawanya jalan jalan ke pantai. Tidak jauh dari Seoul." Yongguk meneguk ludah. Meskipun ia tidak yakin seberapa jarak 'jauh' yang bisa ditolelir Hayeon. Semoga saja wanita itu tidak mencari tahu seluruh pantai di Korea untuk menemukan Yongguk. "Dia sedang tertidur sebentar, Bi. Akan segera kubawa pulang."

Hayeon hendak berteriak kembali karena tidak terima puteranya dibawa jauh dari kuasanya. Namun sentuhkan di pundaknya membuat ia bungkam. Junki berdiri di sampingnya dan memberi instruksi bahwa ia jangan terlalu mengekang keduanya. Ia tahu betul siapa keponakannya—tidak yakin kalau untuk berhadapan dengan seorang Himchan. Namun ia yakin, mereka akan kembali dalam keadaan sebaik mereka pergi tadi.

Hayeon menghela napas. Sekeras apapun harapannya memberi jarak, ia tidak bisa mengelak kenyataan bahwa keduanya saling menyayangi. Sebagai orang tua yang khawatir, ia tidak bisa menahan kebebasan puteranya namun tetap waspada.

"Bawa dia ke rumah Junki sebelum tengah malam. Atau, akan kubunuh kau anak muda."

Suara terputus sepihak dari seberang. Mengingat ancaman demikian, keinginan berlama-lama bersama Himchan menjadi agak terciut.

Himchan terbangun dengan suara bincang-bincang barusan. Matanya yang lelah mengedar ke setiap penjuru. Tempat ini terlihat tidak asing.

"Maaf, apa aku membangunkanmu?"

Tepat di sampingnya, Yongguk memperhatikan dengan senyum terkembang. Sinar malam tampaknya senang memberi pesona lain bagi pria itu. Meskipun mereka sudah berlalu lama seharian di panasnya pagi-siang, tapi penampilannya selalu terlihat sempurna. Tanpa make up, ia masih tampak seperti pangeran. Tidak heran kalau ia dipuja banyak fans.

Himchan malu-malu menunduk karena tidak terbiasa di tatap selembut itu dari sosok Yongguk yang sudah melempar ucapan cinta padanya. Ia masih belum percaya. Kejadian tadi siang terjadi seperti mimpi. Yongguk rela meninggalkan pernikahannya, demi mengejarnya. Ucapan cinta berkali-kali menjadi pengikat kasat mata untuk mereka. Rasanya sangat lucu, memalukan, juga indah.

"Waktu itu aku kemari eum—"

Imajinasi Himchan terhadap kejadian lalu, terhempas dengan ujaran Yongguk. Pria itu sedang memperhatikan pemandangan di depannya dengan tatap sedih. "Aku tidak sempat membawamu kemari. Untuk pantai seindah ini."

Himchan menatap sekitarnya. Dua maniknya melesu seketika. Yongguk salah apabila ia mengira bahwa Himchan tidak pernah ke pantai ini. Ini tempat yang sama dimana ia tahu pertama kali hubungan Yongguk dan Chungha. Ciuman yang diingatnya dengan wanita itu, kembali melukai hatinya.

"Pantai ini terlalu indah untuk dinikmati tanpa orang yang dicintai. Maka aku ingin membuat kenangan lain yang lebih indah bersamamu di tempat ini."

Yongguk mengenggam tangan Himchan yang tertinggal di bawah stang mobilnya. Hangat dan lembut menyatu ketika kulit bersentuhan. Himchan merasa nyaman dengan dekapan sederhana ini.

"Aku mencintaimu, aku sudah meraih banyak impianku. Tapi mimpi tertinggiku adalah mendapatkan orang yang paling aku sayang. Ibuku sudah tiada, dan saat ini orang yg paling disayang hanya kamu."

Air matanya jatuh sendiri. Sepertinya ia pun tidak menyadari betapa rapuh penampilannya yang sesempurna pangeran itu. Hanya karena ia mengingat sesuatu menyedihkan yang menjadi bagian masa lalunya, ia jadi mencampuradukkan pada keberadaan Himchan.

Himchan tidak suka, sekalian merasa menyesal. Kehadirannya belum cukup kuat meyakinkan pria di sampingnya untuk tegar. Belum cukup membuatnya menciptakan lembaran baru.

Maka Himchan segera menghapus jejak air mata itu. Kepala Yongguk berpaling. Keindahan malam menjadi nomor dua setelah melihat wajah Himchan yang begitu manis di matanya.

"Kau punya aku. Punya fans. Daehyun, Jongup, bahkan Paman Junki. Semuanya sangat menyayangimu." Himchan ingin mengingatkan bahwa ia tidak perlu merasa kesepian dan hanya memuaskan diri meraih 1 orang jika semua orang selalu berdiri menunggu perhatiannya. Yongguk mengangguk seperti sudah mengerti.

Tatapan lama itu menjadi arti yang lain. Entah sejak kapan pandangan itu berubah jadi sebuah minat ke arah yang agak melenceng. Yongguk terlalu menyukai bibir Himchan. Sebaliknya, Himchan tidak tahan dilihat seperti akan ditelanjangi.

Dagu Himchan di tarik Yongguk, mendekatkan kedua bibir sampai mereka benar-benar berpagut. Suasana menjadi cukup panas. Ditambah kesepian malam saat itu, mendukung keadaan. Mereka seolah diberi kesempatan. Yongguk jadi lupa bahwa ia sudah diperingatkan, apalagi dengan Himchan yang tidak menolak ketika lidah mereka bertarung dalam dinding liat disana.

Pertarungan itu membuat Yongguk tercerahkan dengan hal lain. Dikendurnya posisi tempat duduk Himchan hingga tubuh pemuda itu tertidur. Ciuman mereka sukar dilepas karena masih rindu sentuhan-sentuhan seterusnya. Tangan Himchan bahkan sudah merangkul ke punggung Yongguk yang telah menindihnya. Pasti ia juga sudah lupa kalau ia hanyalah anak SMA baru lulus.

Tok Tok Tok

Ciuman mereka segera terlepas. Kedua kepala mereka berpaling ke arah jendela begitu cepat. Bayangan wajah seseorang yang tertembus ke arah mereka, mengejutkan keduanya. Apakah mereka ketahuan?

"Hei, Yongguk? Kau di dalam, kan? Hei!"

Keduanya pun menghela napas. Untung saja jendela Yongguk berkaca film hitam pekat dari luar.

"Berita mu ada dimana-mana saat ini."

Yongguk harus menghembus napasnya dengan tidak lega. Himchan memperhatikan dari kursi belakang, melirik dengan sedikit khawatir.

"Setelah kabar pelarianmu dari lokasi pernikahan, ditambah kau berurusan dengan seorang 'pemuda'. Ya. Pemuda asing. Untung saja Himchan pakai tudung jaketnya hingga tidak semua melihat wajahnya. Kau jadi sasaran banyak paparazzi." Dongwook juga harus mendesah lelah. "Aku segera mendapat informasi dari Junki atas kepergianmu, dan menggunakan pelacak untuk menemukanmu."

"Hyung sampai melakukan sejauh itu?"

"Memangnya kau ingin aku diam membusuk di antara para telepon memuakkan yang masuk ke handphoneku, hah?!"

Kemarahan yang meletup dari Dongwook membuat Yongguk seketika diam. Ia juga ikut menyesal dengan keteledorannya. Berharap ia tidak begitu gegabah sehingga kecelakaan ini tidak semakin besar. Untung saja berita yang bermunculan tidak langsung mengarah pada Himchan.

Ia memperhatikan kaca spion dengan kedua mata mereka tidak sengaja bertemu. Yongguk melemparkan senyuman yang bermaksud menenangkannya, Himchan hanya bisa manggut pengertian.

"Bagaimana bisa kau bahkan membubarkan BA secara sepihak? Aku bahkan baru tahu dari Daehyun." Ketika mobil mereka berhenti di lampu merah. Dongwook menekan pelipisnya. "Memangnya dengan ditangkapnya Direktur, kau bisa langsung mengambil keputusan ini?"

Yongguk menggeleng. "Keputusan ini berlaku setelah aku membicarakan dengan para pemegang saham juga mengadakan Press Conference."

Dongwook menoleh cepat. Matanya galak terlempar ke arah anak didiknya, "K—kau?"

"Aku serius. Aku sudah memberi kesempatan untuk Daehyun dan juga Jongup. Meskipun TS hanya memiliki kami sebagai sumber uang mereka, tapi aku tetap akan tanggung jawab sebagai penerus akan bagaimana TS ini ke depannya. Tapi aku akan tetap membicarakan ini kepada para petinggi."

Dongwook masih bereskpresi shock. Ia tidak terlalu konsen menyetir mobil. "Kau tahu bahwa saham TS jatuh drastis akibat berita ini? Kau kira anak muda sepertimu siap berhadapan dengan para petinggi TS yang mendapatkan berita mengejutkan akibat kegagalanmu ini? Kau siap?"

"Kalaupun aku harus melakukan hal gila dengan menjual saham, aku siap."

Kepala Dongwook terasa keram. Ia menggerakkan nya ke kanan kiri untuk melemaskan otot-ototnya yang terasa tegang sehabis bercengkrama dengan Yongguk. Ia merasa bahwa keputusan-keputusan yang diambil si Leader tampaknya sangat beresiko, di sisi lain cukup tegas dan berani. Sebagai manajer yang seringkali berurusan dengannya, ia tidak harus kaget bahwa langkah Yongguk akan sangat jauh. Tapi selalu berhasil membuatnya puas dengan hasilnya.

Ia kini hanya berdoa kali ini Yongguk berhasil.

"Sekarang Yongguk akan sibuk berurusan dengan TS dan para wartawan yang mengejarmu. Himchan?"

Kepala Himchan yang hanya menunduk dan mendengar saja, langsung terangkat panik.

"Kau mungkin tidak bisa pergi ke Swiss sekarang."

"Ti—tidak apa-apa." Himchan mengerti. Ia paham bahwa saat ini keberadaannya pun menjadi kerugian bagi pihak Yongguk, dan dia tidak mau menyusahkan lebih banyak. Lagipula beasiswa serta biaya kepergiannya berasal dari kantong Yongin yang sedang punya skandal. Dia rasa, ia tidak punya hak untuk itu.

"Tenang saja. Setelah masalah ini selesai, aku akan mengajakmu ke Swiss."

Ucapan Yongguk membuat Himchan harus tertegun sejenak. Senyum yang lagi-lagi dilemparkan kepadanya tampak hangat dan penuh kasih sayang. Himchan diminta untuk tidak cemas dalam memikirkan apapun. Membuatnya bisa duduk lega untuk saat ini.

"Himchan, mulai hari ini kau akan tinggal bersama Junki. Ibumu menunggu disana. Takutnya paparazzi mencium keberadaanmu sejak kejadian tadi siang, dan menguntitmu sampai ke rumah. Satu-satunya tempat aman hanyalah rumah paman Yongguk."

Yongguk dan Himchan langsung menengok kaget. "Hah?"

"Junki dan ibu Himchan sudah bersahabat lama. Tidak ada tempat lain selain rumahnya Junki yang tidak mudah dicurigai. Tidak banyak yang tahu tentang ikatanmu bersama Junki sebagai paman dan keponakan. Jadi mereka berunding untuk tinggal bersama sementara." Dongwook benar-benar berbelok ke alamat yang berbeda dari rumahnya Himchan. "Lagipula Junki adalah paparazzi handal yang jago menyimpan rahasia."

"Ya, rahasia skandal selebritis."

Yongguk yang kini menekan kepalanya yang terasa memusingkan. "Apakah itu berarti aku harus jaga jarak dari Himchan?"

"Definisi berjauhan yang sesungguhnya." Dongwook memalingkan muka pada Yongguk. Matanya menyipit. "Benar-benar tidak bertemu sampai masalah ini selesai. Tidak ada pertemuan rahasia, diam-diam."

Yongguk terpojok. Ia mau tidak mau harus melakukan hubungan jarak jauh dari lelaki kesayangannya. Meskipun tidak sejauh ke Swiss, tapi ia tetap tidak tahan jika harus berpisah jarak setelah sekian minggu mereka perang dingin.

Namun untuk meminimalisir masalah yang semakin besar (atau sampai tidak dapat restu), ia akan rela melakukannya. Semoga saja cepat terbayarkan.

Mobil pun terparkir di sebuah rumah minimalis. Tidak besar, tidak kecil. Sederhana, tidak sederhana. Gaya yang sangat biasa saja. Yongguk tahu betul pamannya tidak suka style berlebihan. Ia juga tidak suka bergaya mewah-mewahan. Meskipun penghasilannya sudah di atas sebagai seorang fotografter professional, juga paparazzi entertainment.

Himchan turun dari mobil, mengamati sekitar. Ia melihat dahulu ke arah halaman hijau yang ditata baik. Hampir mirip dengan rupa halamannya yang sering dirawat ibu.

"Apakah pamanmu tinggal sendirian selama ini?" Himchan bertanya pada Yongguk.

"Eum. Ya? Kami jarang bertemu sebenarnya. Aku terlalu sibuk. Tapi setauku, Paman masih sendiri sampai sekarang. Tidak suka berkomitmen. Rumah ini ia dapat dan ia tinggali dari jerih payah sendiri."

Himchan terpesona sejenak mendapati pria single merawat rumah cukup luas seorang diri saja. Bahkan merawat seluruh jengkalnya masih dalam keadaan bersih dan rapih. Tanpa perawat ataupun penjaga rumah.

"Himchan?"

Seruan seorang wanita mengalihkan konsentrasi Himchan. Pemuda itu langsung mengumbar senyum gembira memperhatikan ibunya kembali dalam keadaan sehat. Ia langsung berlari mendekat, mendekap ibunya erat.

"Berjauhan denganmu seharian saja membuat Ibu khawatir."

"Aku baik-baik saja, Ibu."

Ibunya segera melonggarkan pelukan. Pundak Himchan digerakkan kanan-kiri, hendak mengoreksi baik-baik setiap inci tubuh anaknya. "Kau tidak diapa-apain Yongguk, kan?"

Himchan terkejut dengan ucapan ibunya. Pipinya segera memerah. Sebelum ibunya semakin panik mendapati anaknya yang resah, ia langsung memutar balik kursi roda ibunya dan membawa beliau ke dalam rumah. "Aku belum bertemu dengan Paman Junki. Dimana dia?"

Yongguk dari kejauhan saja sudah bersemu merah. Ia bagai tertampar ucapan Hayeon. Melihat gerak-geriknya yang begitu mencurigakan, Dongwook menelisik lekat pemuda itu di dekatnya. "Kau benar-benar tidak melakukan apapun pada anak itu, kan?"

Yongguk bersiul menyembunyikan dosanya.

"Yang benar saja?! Dia masih bocah!"

Sementara itu, Himchan dan Hayeon telah menelusuri rumah Junki semakin dalam. Himchan terkesima dengan perkakas dan lukisan yang disusun rapih. Tidak banyak barang disana. Hanya beberapa saja yang terlihat penting. Sejauh yang dilihat malah banyak perkakas pemotretan. Masih juga disusun di tempatnya. Seorang fotografer yang identic terhadap kecakapannya, perguna barang begitu banyak, terlihat tidak seberantakan yang ia kira.

"Paman Junki dimana?" Himchan belum melihat siapapun sejauh mereka berjalan.

"Oh, ia tadi habis mandi. Mungkin sekarang sedang persiapkan minuman untuk para tamu."

Benar saja, tidak lama setelah Hayeon berkata demikian, seorang pria dibalut apron dan kaus rumah biasa datang membawa makanan dan juga minuman.

"Hei, Himchan! Mari masuk. Kami baru saja memasak sesuatu untukmu." Junki menuntun Himchan agar masuk ke ruang makan.

"Kami?" Himchan memperhatikan Ibunya. Ia tidak yakin ibunya membantu Junki memasak. Sementara ibunya hanya mengendik bahu. Ia tidak ingin beritahu bagaimana Junki bisa menciptakan masakan yang harumnya nikmat seperti sekarang ini.

"SURPRISED!"

Himchan terlonjak mendapati 2 sahabatnya mengitari ruang makan. Youngjae agak kerepotan menata gelas-gelas, sementara Junhong yang memasukkan nasi ke penanak. Mereka langsung berlari menghambur ke Himchan, memeluk pemuda itu erat seakan mereka sudah lama tidak bertemu.

"Kalian ada disini?"

"Kami dapat info dari tv. Langsung ke bandara sampai akhirnya kami berpapasan dengan ibumu. Kami diajak kemari untuk menemani sampai kau kembali." Youngjae meluberkan kejadian sejak siang lalu saat ia dan Yongguk tidak ada di rumah.

"Aku tidak percaya kau sampai harus berurusan sejauh ini." Junhong memundurkan bangku untuk Himchan dan ibunya. "Duduklah."

"Kau berhutang banyak cerita pada kami."

Youngjae sudah duduk di bangkunya setelah merapikan gelas-gelas. Matanya antusias menyerang tatap Himchan yang sangat canggung. Mungkinkah ia bercerita?

Himchan baru saja ingin bercerita setelah didesak oleh dua sahabatnya, namun Yongguk juga Dongwook tetiba menyusul masuk membuatnya langsung terdiam. Perhatian jadi beralih pada keduanya. Syukurlah.

"Wah makanannya terlihat enak, Junki." Dongwook duduk di dekat kursi Junki. Mereka terlihat dekat serupa sahabat lama. Himchan memperhatikan keduanya lama untuk mencari tahu. Namun perhatiannya beralih ketika Yongguk diarahkan duduk tepat di sampingnya. Tangan Yongguk sedikit menyenggol Himchan, membuat keduanya temu tatap.

"Kau tahu Youngjae dan Junhong ada disini?" Himchan tidak bisa menahan rasa penasaran. Ia jadi banyak tidak tahu dengan yang terjadi kali ini.

"Well, Daehyun menghubungiku memang berkata bahwa Youngjae dan Junhong ingin menemuimu. Tapi aku tidak tahu mereka dibawa kemari." Yongguk sudah memperhatikan semua masakan yang begitu sedap dipandang. Ia tidak sabar memakannya. "Paman yang memasak semua ini?"

"Tidaklah. Dua bocah ini yang membantuku."

"Aku yang masak ikannya, loh." Youngjae menunjuk piring berisi ikan dengan semangat.

"Pantas saja agak gosong." Celetukan Yongguk disambuk kekehan semua orang. Youngjae tidak terima dengan tanggapan itu, dan gestur tangannya sudah ingin melempar sendok nasi. Suasana menjadi sangat hangat penuh tawa.

"Jadi bagaimana urusanmu, Yongguk. Apa kau sudah menemukan solusi dengan kabar-kabar yang berhembus hari ini?" Junki pun memulai topik pembicaraan yang sedikit serius. Para tamu juga ikut melempar konsentrasinya selain makanan yang dikonsumsi. Mereka juga ingin tahu pergerakan apa yang diambil Yongguk dengan situasi yang memprihatikan.

"Saham turun drastis." Dongwook menyela sebelum Yongguk menanggapi. "Perusahaan TS mengalami kerugian besar."

"Aku tidak kaget." Junki menyendok sup.

"Lalu, lalu. Bagaimana dengan para pekerja di TS?! BA?!" Youngjae mulai bersikap panik. Sebagai seorang fans yang sudah mengikuti BA sejak mereka debut, rasanya begitu menggugah kekecewaannya apabila terjadi sesuatu pada idolanya sendiri. Ia akan paling prihatin, merepresentasikan para fans di luar sana.

"Kau belum tahu rupanya—"

Yongguk langsung menyenggol pinggang manajernya. Sebagai salah satu selebritis yang sudah sering berhadapan dengan fans, ia tahu ini adalah tugasnya menenangkan penggemarnya dari rasa panik. Yongguk tersenyum. Senyuman itu pastinya membuat Youngjae bungkam Karena terlalu meleleh jatuh hati. Tidak menutup rasa bahagianya dinotis sedekat ini oleh biasnya—mantan bias, katanya.

"BA memang seharusnya bubar."

Junhong sampai tersedak minumannya, Youngjae menjatuhkan rahang dengan tidak percaya. Kabar ini 2x lipat mengejutkan daripada kabar skandal yang melibatkan penangkapan Yongin.

"Tapi…" Yongguk medesah napas. "Kabar hiatus kami berbarengan dengan kejadian tadi siang. Aku rasa kabar pembubaran kami bisa ditahan untuk waktu tertentu."

"Ah, kau benar." Dongwook mengangguk. "Kita tidak bisa menambah garam dalam luka di hati para fans akibat kabar ini. Mereka pasti memaklumi hiatus kalian akibat buah skandal ayahmu."

Semua orang bisa melegakan napas sejenak.

"Masalahnya adalah bagaimana berbicara dengan para petinggi TS. Mereka akan mengambil keputusan jauh untuk memundurkan jabatan ayahmu, dan mengambil alih TS. Yang itu berarti, kau kehilangan segalanya Yongguk. Bahkan berita pembubaranmu akan langsung sampai ke permukaan."

Napas kembali tercekat. Ketegangan terjadi lagi di ruang makan tanpa ada yang bisa mencairkan. Sejenak mereka terdiam untuk sama-sama berpikir.

Dongwook yang juga ikut berpikir, tiba-tiba melirik pada Junhong. Matanya penuh selidik mengamatinya dengan penuh arti. Sampai sebuah bohlam lampu bersinar dalam pikirannya.

"Presiden Choi Siwon bisa membantu kita."

Junhong langsung menoleh cepat pada Dongwook karena ayahnya disebut-sebut. "Ayahku?"

"Beliau salah satu petinggi TS yang menanamkan modal paling besar disana. Beliau mungkin yang paling dingin kepala soal masalah ini."

Junhong jadi teringat bagaimana ia diajak datang ke Gedung TS bersama ayahnya. Ia tidak tahu bahwa ayahnya berbisnis sebagai seorang pemegang saham. "Aku rasa.. bisa."

"Ini hanya perlu dibicarakan lagi secara muka ke muka. Namun Presiden Choi juga tidak mungkin melakukan penanaman modal lainnya untuk TS yang sudah diambang bangkrut." Dongwook berdecak kalut. Ia terusik terus dengan buah pikirnya yang tidak berujung.

"Aku tidak mungkin minta tolong dengan Chungha dan Athalic Record. Yang ada mereka akan membunuhku karena sudah mencemarkan nama baik mereka." Yongguk memainkan sendoknya ke mangkuk. Tidak punya rasa untuk melanjutkan makannya.

"Kita perlu kerja sama dengan agensi lain yang berarti kita perlu berbagi saham agar TS tidak sepenuhnya hancur."

Pembicaraan yang begitu dingin dan terpojok, membuat suasana hening lagi. Mereka lebih baik diam daripada memulai makan malam yang damai, karena memang keadaan sedang tidak ada damai-damainya.

Tak lama kemudian, Youngjae sedikit mengangkat tangan meskipun agak ragu-ragu. Beberapa pasang mata terlempar padanya dengan penasaran. Youngjae bukan tipe jago memberi pendapat, tapi ia tidak bisa diam untuk ikut berperan.

"Aku punya ide gila."

Youngjae sampai meneguk ludah, memandang Yongguk. Ia harus membuktikan bahwa penggemar fanatiknya satu ini, sangatlah berguna.

Yongguk dan Dongwook harus kembali. Mereka masih banyak urusan, terutama menenangkan para staff di agensi TS. Hanya Yongguk yang bisa memulihkan keadaan sebagai putera tunggal pemimpin utama. Meskipun ia harus menerima akibat, berjauhan dengan Himchan.

Yongguk tidak tega ketika ia bertemu mata pada Himchan sejenak sebelum ia masuk ke mobil. Meskipun mereka masih bisa berhubungan lewat telepon, tapi jarak masih menjadi masalah baginya yang masih suka rindu.

Himchan melemparkan senyum. Ia melambaikan tangan pada Yongguk. Merelakan kepergian pria itu yang mungkin akan kembali dalam waktu cukup lama. Apalagi peringatan ke sekian bahwa Himchan tidak bisa dekat-dekat dengan Yongguk yang sedang jadi incaran para wartawan. Mereka tidak mau menambah masalah dengan mendapati wajah Himchan terpublish dimana-mana.

"Kau sudah sekian minggu mendiamkannya, aku yakin kau bisa melewati hubungan jarak jauh ini." Youngjae berceletuk santai selagi menyedot jus jeruknya. "Memangnya kau kira kau saja yang harus pisah sama orang menyebalkan?"

"Bilang saja kau sudah rindu dengan Daehyun, Jae." Junhong menyenggol lengan Youngjae, yang langsung direspon galak olehnya. Bibir Youngjae cuman bisa bersungut, walaupun nyatanya ia memang agak terganggu karena harus membuat jarak dulu dari Daehyun. 3 artis tenar macam Yongguk, Daehyun, maupun Jongup harus mengesampingkan kisah asmara mereka demi menjauhi skandal. Tidak ada yang tahu bahwa 1 grup termasyur ini, punya hubungan dengan 3 remaja yang baru mendapat ijazah kelulusan di SMA super biasa.

"Itu bukan masalah untukku." Himchan masuk ke rumah diantar dua sahabatnya. "Aku cuman khawatir bahwa negosiasi ini tidak akan berhasil."

"Kau meremehkan Bang Yongguk?!" Youngjae menunjuk ke hidung Himchan, protes. "Dia adalah pria paling hebat dalam mencari muka meskipun bermaksud baik. Kau ingat berapa kali Daehyun membuat skandal sampai aku jadi musuh bebuyutannya? Yongguk yang siap siaga menghadapi kamera dan membuat alasan sehingga orang bisa terbuka dengan skandal yang melibatkannya. Ia selalu punya jalan tengah untuk menyembuhkan nama baik BA."

"Lagipula, berhasil atau tidak, Yongguk tidak akan menyerah. Aku tahu tipe orang sepertinya berjuang begitu juga karenamu, Himchan."

Himchan tertunduk malu. Perannya seolah begitu berarti bagi Yongguk. Ia yang menjadi sumber optimismenya, sumber semangatnya, sumber inspirasinya. Ia merasa beruntung pria seperti Yongguk memilihnya untuk dicintai. Seberarti ia menyayangi mendiang ibunya.

"Kenapa kau senyum-senyum begitu, Himchan? Suasana hatimu sudah membaik?"

Ibunya muncul dengan kursi rodanya di dorong Junki dari belakang menuju ruang tengah.

"Junki baru saja memperlihatkan ruang tidur kita barusan."

"Ya. Mulai sekarang anggap saja ini rumahmu. Kau butuh apapun, tinggal minta padaku." Ujar pria ramah itu.

Himchan menggeleng, "Terima kasih, Paman. Maaf kalau merepotkan."

"Oh tidak sama sekali. Palingan ibumu yang mengeluh karena kamar tadi kurang rapih."

Hayeon memicing mata pada pria di belakangnya. "Bagaimana bisa kau membiarkan kamar seindah itu tidak terurus. Kau tidak bisa seenaknya menyebutnya gudang dengan kamar kosong yang masih bisa dipakai, dan cuman digunakan sebagai ruang penyimpanan alat-alat potretmu."

"Mau gimana lagi. Aku kan cuman tinggal sendiri."

Hayeon berdecak. "Sudahlah. Aku ingin tidur."

"Baiklah, aku harus mendorongmu lagi, Tuan Putri."

"Kau panggil apa aku tadi!?"

Dan suara keributan antara pria dan wanita paruh baya menghilang kembali ke tempat lain. Himchan tidak paham bagaimana ibunya bisa sedekat itu dengan Junki.

"Hei. Sudah kubilang, Bibi Hayeon dan juga Paman Junki itu cocok sekali."

"Ssstt.. hentikan kebiasaan jelekmu itu."

"Kalian bicara apa?" Himchan terpaku pada dua sahabatnya yang saling tegur di belakang ia berdiri, ia tidak lagi sadar mereka sedang berbicara apa.

Youngjae maupun Junhong hanya bisa tersenyum lebar. Seolah tidak tahu menahu. Biarkan saja Himchan dengan kepolosannya, daripada nanti jadi salah paham.

Beberapa hari berlalu sebelum Yongguk siap untuk berhadapan dengan para petinggi TS yang dijanjikan pada hadir hari ini. Yongguk masuk melewati pintu belakang karena para wartawan tidak bosan memenuhi pintu depan Gedung seperti lalat berkerumun.

Sambutan yang diterimanya dari para karyawan TS, terlihat masih ramah tapi juga agak tegang. Mereka tidak berani mengerumuni Yongguk yang saat itu moodnya sangat jelek untuk diajak bicara. Yongguk hanya berjalan bersisian dengan Dongwook, bergegas mendatangi ruang rapat. Selamat berhari-hari mencoba menenangkan diri dan sedikit istirahat untuk melowongkan pikiran, Yongguk akhirnya bisa lebih tenang untuk menghadiri sebuah pertemuan penting.

Daehyun dan Jongup berlari menyusuli Yongguk yang tidak sengaja mereka papasi ketika baru masuk Gedung. Hanya kedua pemuda itu yang seolah diijinkan ikut berjalan bersisian dengan Yongguk selain Dongwook. Mereka amati penampilan Yongguk yang terlihat berbeda. Wajahnya yang amat sangar semakin menguar. Mereka sangat khawatir, kalau Yongguk berada di level krusial yang membuatnya tampak tegang. Di sisi lain, mereka penasaran keputusan apa yang akan diambil Yongguk untuk bisa mendamaikan kekacauan yang dilanda saat ini. Yongguk mungkin adalah leader untuk mereka, tapi Yongguk tidak pernah menjadi pemimpin TS secara harfiah.

"Kau yakin tidak apa-apa?" Daehyun mempertanyakan Yongguk yang berdiri di sampingnya dengan raut sangat serius. Ia bisa membaca, betapa cemasnya pemuda itu dengan kelangsungan TS yang di ujung tanduk.

Yongguk menoleh. Meskipun tanpa senyum, ia berusaha meyakinkan sahabatnya bahwa keadaan akan membaik jika ia memegang keadaan. "Kau lihat saja nanti."

Kedengarannya seperti sebuah tantangan. Daehyun masih sulit menerka seperti apa gambaran tantangan itu, hingga terlihat keberaniannya Yongguk meningkat lebih tajam. Atau hanya perasaannya saja karean penampilan Yongguk yang sedikit berbeda dari biasanya. Kenaan jas rapih, rambut di pomade. Ia tegas, bagai elang yang siap terbang. Ia benar-benar sangat formal!

Yongguk membuka pintu rapat. Daehyun dan Jongup menyusul dari belakang ia berdiri. Mereka mengamati keadaan ruang rapat yang tidak seramai ekspektasi mereka.

Hanya ada beberapa orang saja.

"Selamat datang."

Yongguk langsung menyungging senyum lebar. Senyum marketingnya tampak tampan dan menarik. Ia datang menyalami tamu utamanya, seorang pria bertubuh agak besar-mumpuni-ber uang pastinya. Pria itu tampak tidak asing. Tapi 2 pemuda yang berdiri dengan kaku akibat ketakutan beberapa saat lalu, tidak bisa berpikir jernih dengan apa yang terjadi. Ingatan mereka hilang dengan orang-orang penting. Mana tau mereka dengan siapa saja petinggi TS.

Yongguk tidak hanya menyalami pria tambun tadi, melainkan 2 pria lainnya yang tampak lebih kurus dan ramah. Mereka tidak terlihat marah. Mereka tidak galak. Mereka tidak seperti ingin mengigit karena ngamuk saham mereka di ujung tebing.

Keadaan berjalan dengan tenang tanpa ada beban.

"Duduklah. Sepertinya belum semua yang datang." Semua hadirin pun duduk, menikmati secangkir teh sejenak sambil mengobrol santai dengan Yongguk. Tidak ada yang tertarik membahas terperosoknya uang, ataupun terancamnya TS. Mereka malah membicarakan soal liburan dan karir selebritis yang mencuri perhatian mereka, termasuk BA.

Jongup dan Daehyun hanya duduk terpaku dalam diam. Selain mereka tidak paham dengan arah pembicaraan berbau bisnis, mereka juga asing dengan semua orang meskipun sudah saling kenalan.

"Daehyun."

Pria tambun yang entah sejak kapan duduk tepat di hadapan Daehyun, membuat pemuda itu langsung mengangkat kepalanya dan tergagu pada panggilan terhadapnya. "Ya?"

"Kau sepertinya tidak kenal denganku, haha."

Daehyun cuman cengar cengir. Ia benar-benar clueless dengan omongan pria itu. Bahkan ia lupa siapa namanya tadi?

"Aku sudah sangat siap untuk bekerja sama denganmu, Daehyun."

Pria itu tampak antusias, dibalas sebaliknya oleh Daehyun yang terlalu bingung. Ia hanya bisa merespon dengan senyuman formalitas dan mengikuti saja arah pembicaraan yang begitu ambigu ini.

Tiba-tiba, suara pijakan kaki yang cukup ramai mendekati pintu masuk. Daehyun menoleh ke arah pintu dengan perasaan tidak enak. Apakah mungkin mereka baru saja datang?

"HELLO EVERYONE!"

Pintu dibuka dengan bersemangat. Datang seorang wanita berpenampilan brandy di seluruh tubuhnya, dan dandanan yang begitu berlebihan. Wajahnya ceria , tersenyum gembira. Tidak ada unsur formalnya sama sekali terhadap pertemuan penting ini.

Tapi mana peduli? Toh dia adalah selebritis terkenal.

"Diana. Jaga sikapmu, astaga."

Pria tambun itu menegur Diana. Ya, Diana. Rapper yang karirnya sedang cemerlang dan baru beberapa minggu kemarin mengabarkan ia berkarir di Perancis. Kembali dalam keadaan utuh dan menyebalkan.

Daehyun sampai menjatuhkan rahang. Melamun lama melihat keadaan yang penuh kejutan ini.

"Maaf kami terlambat."

Pria lain datang dengan gagahnya dari belakang Diana. Ini baru senormalnya seorang petinggi TS yang amat masuk akal. Hanya saja keberadaannya tidak asing untuk beberapa orang, terutama seseorang yang langsung berdiri tegap akibat terlonjak kaget.

"Siwon-ssi?"

Pria yang memiliki senyum menawan di umurnya yang menjelang itu, membalas senyuman Jongup dengan ramah. Ia membalik tubuh dan menarik seseorang yang berdiri malu-malu di belakang punggungnya.

"Aku susah mengajak anak ini bersamaku."

"Ah, tidak apa-apa Presiden Choi. Anda datang di waktu yang sangat tepat. Silahkan duduk." Yongguk menyambut. Membantu mendorongkan dua kursi kosong untuk kedua tamunya yang juga baru hadir.

"Selamat datang juga untuk putra Siwon-ssi, Choi Junhong. Suatu kehormatan menyambut penerus anda di rapat hari ini."

Siwon tertawa. "Ia masih harus banyak berlatih sebelum memegang perusahaanku. Mungkin ia bisa mengambil contoh darimu"

Junhong duduk. Masih dengan kekalutannya. Apalagi ia merasa diawasi seseorang yang duduk bersebrangan dengannya. Ah, ini sangat tidak nyaman. Ia merasa terpojok.

"Baiklah karena semuanya sudah hadir. Waktunya kita berbicara serius tentang bisnis hari ini. Aku bahkan tidak percaya kasus ayahku yang tinggi hati itu, membuat selebritis sepertiku harus ikut andil masalah ini."

Kejenakaan Yongguk sanggup mencairkan suasana menjadi agak santai. Tidak untuk Jongup dan Daehyun yang masih tidak bisa menghapus ekspresi bingung juga penasaran. Ada apa ini? Keputusan apa yang diambil Yongguk yang tidak mereka tahu?

"Berdasarkan saham yang mengalami penurunan drastic akibat kasus Presiden Bang—ayah saya—Bang Yongin membludak, TS mengalami kerugian cukup besar. Pemasukan yang ada diambil dari kegiatan dan penjualan Best Absolute selama 4 tahun dinaugi di Agensi ini. Juga investasi yang diberikan dari Presiden Choi, yang kemudian diangkat sebagai pemegang saham tertinggi."

Semua tatap mengarah kepada Choi Siwon. Mereka tertegun takjub mengetahui peran Siwon yang begitu besar dalam karir TS selama ini.

"Namun hal ini tentu saja akan menjadi keresahan bagi TS maupun Presiden Choi sebagai investor tertinggi. Juga BA telah diumumkan hiatus yang menjadikan TS kekurangan pemasukan."

Para hadirin menganggukkan kepala karena paham.

"Maka karena itu, saya menghadirkan Presiden Yang Jeon Hi, selaku CEO utama YJH Agency dalam rapat ini."

"Agensiku!" Diana melepas emutan permennya. Ia dengan bangga menunjuk diri sendiri sebagai selebritis di bawah naungan agensi YJH. "YJH Agensi akan mengambil alih sebagian saham TS."

"Ya." Yongguk tersenyum. Ia mengucapkan terima kasih atas penjelasan Diana. "Bisa dibilang Joint venture."

"Mulai sekarang, TS akan berada di bawah naungan YJH agency."

Daehyun tiba-tiba melompat dari tempat duduknya. Ia terperanjat dengan kabar mengejutkan ini. Ia tidak percaya keputusan Yongguk akan berlari sejauh ini, dengan menyerahkan sebagian saham pada agensinya Diana.

"APA!? TS di bawah naungan YJH Agensi!? Aku? Bekerja satu Gedung dengan anak ini!?" Daehyun menunjuk pada Diana, tepat di mukanya. Gadis itu tidak terima dianggap sepele oleh pemuda itu, dan langsung mengigit jemarinya. Daehyun mengaduh kesakitan. Keadaan di ruang rapat jadi sedikit ribut dengan perkelahian tidak berguna antar keduanya.

"Daehyun sebelumnya memang ditawari solo karir dengan YJH agensi." Dongwook mengingatkan Daehyun yang sepertinya lupa. Daehyun manyun. Ia mencibir.

"Ya, memang. Tapi itu setelah Diana memutuskan berkarir di Perancis."

"Aku bisa setiap saat kembali, sayang."

Diana mencoba merangkul lengan Daehyun, namun langsung ditepis pemuda itu jauh-jauh.

"Intinya, kelangsungan TS sekarang berada di tangan YJH, diawasi oleh Presiden Yang dan juga para asisten terhormatnya yang juga hadir disini. Presiden Choi juga sudah mengatakan ketidakberatannya. Kontrak kerjasama akan dipublikasikan setelah Press Conference."

"Tapi, Yongguk?" Jongup mulai angkat bicara setelah dilanda diam akibat berita shock yang baru saja ia dengar. "Bagaimana posisimu?"

Yongguk hanya bisa menyungging senyum kecilnya. Ia menghela napas, sebelum ia mengutarakan jawabannya.

To Be Continue..

review / fav/ follow nya ya :)