Chapter 25: Selalu dan Selamanya

Ohayou/Konnichiwa/Konbanwa Minna-san~
Ohisashiburi desu~

Hai lagi, saya bingung mau ngomong apa… Yah… Nikmati aja chapter yang ini.

Cekidot~

Kisah Sebuah Senja

Main Character: Kagamine Len, Hatsune Miku, IA
Main Pair: Guess who? Anybody want to answer and try to solve this question? :3

Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies
Story © Me
UTAUloid © Owner creator
Fanloid © Creator

Summary :

"'Lebih baik kau mati saja!' Aku terbangun dari mimpi burukku lagi, andai saja-andai saja ada seseorang yang bisa membantuku menghilangkan mimpi buruk ini./'Kau bisa!' 'Jangan bohong!' 'Aku tidak akan berbohong!' 'Kalau begitu, berikan aku tujuan hidup!'/ Setelah berbagai peristiwa, akankah aku bisa menerima senyuman seperti warna langit senja yang selalu aku sukai?/Cerita tentang Hikikomori berat, Penyanyi hebat dan Seniman berbakat! Kemana cerita ini akan berjalan?"

Warning : OOC (maybe), typo(s), gaje, pendeskripsian kurang, kesalahan eja 'EYD' dan teman-temannya.

'Abc' (italic): Flashback, kata asing, atau percakapan secara tidak langsung (telepon, email, sms, dll)
"Abc" : Percakapan normal
'Abc' (kutip satu) : Hayalan, angan, atau (monolog) pikiran karakter.
'Abc'/ 'ABC' (bold atau kapital) : Kata atau kalimat yang diberi penekanan, kata atau kalimat penting.

HAPPY READING!


XOXOX


Itulah Aria.

Siapa yang tahu bagaimana kehidupan mewah seorang putri?

Apakah disayang? Dimanja? Atau dicinta?

Yuuma tidak tahu semua itu, dia tidak tahu menahu. Yuuma hanyalah orang yang baru masuk ke dalam kehidupan putri yang ia kagumi semenjak pertama kali mereka berdua bertemu.

Yuuma tidak bisa merasakan apapun pada diri Aria, itulah kesan pertama terhadap Aria.

Tapi karena itulah, karena kesan aneh itulah, Yuuma mau mengabdikan diri pada putri satu-satunya yang menjadi ujung tombak dari kehidupan bagi Yuuma.

Karena perasaan itulah, Yuuma membuang segalanya, kesakitannya, keangkuhannya, masa lalunya… Hanya demi putrinya tercinta.

Sama seperti ketika Cendrillion menghentakkan sepatu kacanya, sang pangeran tidak bisa mengabaikan suara itu. Itu seperti hipnotis yang memabukkan.

Apa yang terjadi pada Yuuma waktu itu membuat Yuuma terhisap dalam kegelapan, dalam sebuah relung kelam milik putri yang dia abdikan jiwa dan raganya… Sebuah kegelapan yang menawan yang bahkan dapat menarik malaikat jatuh ke dalamnya… Sebuah kegelapan yang bersinar sangat buram, hampir tidak ada cahaya, tapi daya tariknya seakan membawa dan menjanjikan kebahagiaan…

Yuuma dan Aria, ksatria dan putri, keduanya tidak akan bisa terhubung dalam ikatan benang takdir yang lebih, ya… Keduanya akan tetap pada status yang sama, yakni seorang putri dengan ksatria yang ada untuk melindunginya, selalu dan selamanya.

Kasta dan harga diri tidak akan mengizinkan mereka bersatu, tidak seperti Romeo dan Juliet yang pergi dari kenyataan, Yuuma tidak bisa membawa kabur Aria dari kenyataan… Dia tidak sanggup, hati Aria sudah terlalu gelap untuk menyadari pentingnya kehidupan, hingga orang itu datang… Kagamine Len.

Yuuma tidak bisa tinggal diam mendengar nama itu ketika dia selalu mendengarnya dari mulut putrinya ketika putrinya pergi ke Jepang. Ada sebuah gemuruh yang mengatakan 'tidak mungkin, tidak mungkin.' Bergema dalam diri Yuuma.

Yuuma tidak percaya, dia tidak mau percaya kalau yang membawa putrinya ke dalam kebahagiaan menjadi seorang manusia dan wanita adalah orang asing dan bukan dirinya.

Karena Yuuma… Begitu mencintai putrinya, Aria.

.

.

.

Aria tidak pernah tahu perasaan orang-orang disekitarnya, dia tidak pernah mau tahu dan tidak pernah ingin mengerti.

Baginya, keinginan tergelap dalam hati manusia adalah sifat asli dari manusia.

Memahami itu hanyalah akan membuat Aria putus asa, sebab itulah dia selalu menjaga jarak, tapi… Karena bakatnya, semakin ia menjaga jarak, semakin pula ia terseret dalam kegelapan hati orang-orang.

Rasa benci bukanlah hal yang bisa kau bendung dengan tawa dan senyuman.

Bagi Aria, mayoritas manusia itu sama, apalagi orang-orang yang ada di dekatnya… Hanya beberapa orang yang berbeda, hanya beberapa orang yang bisa ia gunakan untuk berpegang teguh terhadap kepercayaan yang dia miliki, yakni mereka-mereka yang terpilih oleh hati Aria.

Aria bahkan tidak mempercayai ayahnya sendiri, ia lebih mempercayai ibunya. Culnoza dan Yuuma hanyalah salah dua dari segelintir orang-orang dalam hitungan jari yang di percayai oleh Aria. Aria bahkan tidak bisa menaruh rasa percayanya pada Kepala Ksatria, ayah dari Culnoza dan Yuuma, dan malah memilih untuk lebih mempercayai anak-anak dari si Kepala Ksatria.

Aria menganggap, orang-orang hanya menyelimuti hatinya dengan gula, manis di luar. Tapi, bagian dalamnya tidak lebih dari racun suntikan yang bisa terus diisi ulang, sebuah kedustaan dan keserakahan yang tidak akan pernah hilang dari hati mayoritas manusia. Hanya orang-orang terpilih yang tidak begitu, dan Aria yakin kalau orang-orang yang dia percaya termasuk pada orang-orang terpilih tersebut.

Aria menganggap, percaya adalah keuntungan.

Jika dia percaya pada orang lain… Orang lain tersebut hanya akan memetik hasil positif dari diri Aria untuk diri mereka sendiri, lalu membuang Aria.

Dan… Kala itulah, Aria bertemu Len yang babak belur bersender di sebuah batang pohon.

Sama seperti mayoritas orang yang mendekati Aria, Aria tidak akan mempercayai Len, itulah pikiran Aria saat itu.

Waktu terus bergulir, rasa sakit yang terukir dalam diri Aria terlepas sedikit demi sedikit, melepaskan ikatannya dari hati Aria dengan cara yang lembut… Tersentuh dengan kehangatan.

Tanpa Aria sadari, dia jatuh cinta pada Kagamine Len. Tapi, tidak semudah itu, sama seperti kebanyakan kisah cinta, Aria memiliki saingan, yakni Hatsune Miku.

Oleh karena itulah, Aria membuat pergerakan duluan, dan dia anggap pergerakannya berhasil. Usahanya untuk mendapatkan kakak kelas tercintanya berhasil dengan sebuah ajakan untuk menjalin sebuah hubungan bersama.

Kemudian, Aria menyadarinya, rasa cinta itu palsu.

Semuanya hanyalah kebohongan.

Tipuan tengik.

Apa yang Aria perjuangkan hanyalah ilusi semata yang hilang saat kau berkedip.

Aria menyesal sudah berusaha memahami hati dari seorang Kagamine Len, Aria akhirnya yakin, kalau orang yang pertama dia sukai tersebut sama saja dengan kebanyakan orang yang mendekati Aria.

Tapi, kenapa? Kenapa Aria tidak bisa membenci Len?

Apakah dia sudah terlanjur jatuh cinta terlalu dalam?

Atau apakah Aria merasakan sesuatu yang berbeda?

Aria menutup dirinya, melepas rasa janggalnya, dan membuat keputusan untuk melupakan segalanya. Dia akan kembali dan pergi dari Jepang. Toh, alasan Aria ke Jepang hanya untuk menghindari huru-hara yang terjadi di kampung halamannya, bukannya begitu? Kalau begitu, sekarang adalah waktu yang tepat untuk pergi, pikir Aria.

Sayang, takdir berkata lain.

Kakak kelas satu-satunya yang ia cintai sepenuh hati tersebut, mengejar Aria sampai ke bandara, mengatakan omong kosong tanpa mempedulikan rasa malunya sendiri, dan menjadikan sebuah fenomena yang memang mungkin terjadi sebagai implementasi dari kata 'keajaiban'.

Tapi, kenapa pula Aria mempercayai orang itu sekali lagi?

Jawabannya hanya satu kalimat, Aria melihat hal yang benar-benar berbeda dari semua orang yang pernah ia temui dalam hidupnya.

Hati Len, hati dari seorang Kagamine Len… Aria menyadari kalau hatinya lebih kelam dari milik Aria. Lantas apa yang berbeda?

Racun tetap ada dalam hatinya, tapi itu hanya dibagian luar… Gula yang seharusnya menjadi selimut malah menjadi inti dari hati orang itu… Hati seorang Kagamine Len, Aria bisa mengerti itu oleh karenanya Aria bisa percaya dan jatuh cinta pada Kagamine Len. Aria akhirnya memilih untuk membersihkan racun yang menyelimuti hati Len, agar Len bisa menjadi satu-satunya orang yang bersinar dalam kehidupan Aria.

Sama seperti Robin Hood yang menanggung derita orang-orang hanya pada dirinya. Hanya demi kebagiaan, di mana sang pahlawan tidak ada di dalamnya.

Karena itulah, rasa yang baru dan benar-benar berbeda muncul dalam diri Aria.

'Aku harus melidungi orang ini.'

Ya, walau Len jatuh dalam kegelapan, Aria tidak akan meninggalkan orang itu. Aria tidak akan melawan takdir hanya untuk membawa Len kembali ke dalam cahaya, tapi paling tidak, Aria bisa menjadi satu-satunya orang yang bersama Len jatuh ke kegelapan tersebut.

Aria tidak pernah bahagia, apa dengan memilih hal seperti itu, itu sama saja memilih hal yang salah? Apakah kebahagiaan tetap pergi menjauhinya?

'Tidak, inilah kebahagiaan ku. Walau hanya hal kecil, aku memang tidak pantas meminta lebih. Aku tidak ingin egois lagi, tapi… Tuhan, jika kau memang ada, kabulkanlah satu doa ku…'

'Izinkan aku, selalu dan selamanya, ada di samping dan melindungi orang ini… Yang sangat kucintai.'


XOXOX


"Aku… Suka kamu… Bisakah kita menjadi pasangan kali ini?"

Kata itu keluar dari mulut Aria.

"Sen-, tidak… Len-kun, kau pernah berkata, kau berjanji, walau perasaan itu masih belum jelas, tapi kau akan tetap ada di sampingku.. Len-kun pernah berkata tidak akan meninggalkanku lagi. Itulah yang membuatku masih menunggu untuk dirimu, apakah janji itu bisa kutagih sekarang?" Lanjut Aria.

Len terdiam.

Dia memang pernah mengatakan itu, tapi dia tidak menyangka kalimat kecil seperti itu bisa membawa Aria terus berharap kepadanya.

Len mengatakan hal tersebut hanya untuk membawa kebahagiaan kembali kepada Aria, walau sebagian besar dari perkataan Len kala itu hanyalah kebohongan, tapi Len hanya ingin Aria tersenyum.

Len tidak peduli jika dia harus berbohong untuk kebaikan. Itulah pahlawan sejati. Len sudah yakin dengan ideologinya, dan dia tidak ingin mengelak lagi.

Aria hanya ingin kebahagiaan, dan itu adalah tugas Len untuk mewujudkannya, karena Len lah yang menjanjikan kebahagiaan tersebut. Tapi Len juga sadar, bukan hanya Aria saja yang menginginkan kebahagiaan...

TARRR!

Suara kembang api terdengar, berkesinambungan, membuat melodi indah untuk mereka… Walau Aria tidak sadar, kalau melodi tersebut hanyalah melodi sendu.

"Aria, maaf… Aku tidak bisa."

"Aku memberikanmu janji hanya untuk membawakanmu senyuman."

Ucap Len.

"Walau kau sendiri tahu, dengan mengatakan kebohongan akan kembali membuatku bersedih?"

DEG!

Len tahu, tapi sebenarnya Len tidak pernah memikirkan hal itu.

Dia kabur dari kenyataan yang satu itu.

"Aku… Sudah memutuskan untuk menjadi seorang pahlawan." Ucap Len sambil tertunduk.

Kelap-kelip di angkasa mewarnai langit untuk mereka berdua.

Tanpa mereka sadari, satu lagi tangkai dari bunga takdir terjatuh mati ke atas tanah.

"Jadi, aku tidak boleh selalu memikirkan kebahagiaan untuk satu orang, aku harus membahagiakan semua orang dengan bagian yang sama… Saat kau menjadi pahlawan, kau harus bersikap adil… Bukannya begitu?"

Ucap Len.

Kejujuran itu membawa Aria kembali pada kesunyian.

Apakah Aria sudah salah? Apakah membawa kakak kelasnya tersebut ke jalan pahlawan yang sekarang malah membuatnya semakin jauh dari Aria?

Tes… Tes…

Dalam gemerlap cahaya, tetesan air mata dari Aria membuat pantulan cahaya sekejap di mata Len.

Aria menaikkan kepalanya yang tertunduk, menatap Len dengan sendu, dan berkata dalam senyuman.

"Maaf… Karena meminta hal egois kepadamu… Len-kun."

Setelahnya Aria berlari entah kemana.

"ARIA?!"

Dan Len tidak sanggup meraih tangan itu.

Dua tatapan yang sedari tadi menatap Aria dan Len juga ikut menghilang entah kemana.


XOXOX


Len berjalan kembali ke pusat perayaan, betapa terkejutnya dia tiba-tiba banyak orang-orang berpakaian ksatria formal dan membawa pedang tersebar di sana-sini.

"LEN-NII!"

Orang yang pertama berteriak adalah Rin.

"Apa Len-nii melihat Aria-chan?!"

Otot Len berkontraksi sejenak, tapi kemudian dia menunduk dan menggeleng.

"Orang-orang ini…"

Ucap Len.

"Kami kehilangan jejak hime-sama, mereka di sini untuk mencarinya." Ucap Culnoza tiba-tiba entah darimana, tapi Len tidak terlihat terkejut walau ada helikopter juga yang berlalu lalang, mungkin 2 atau 3 buah.

Len melihat ke sekitar, tidak ada Yuuma. Kemana orang itu? Pikir Len.

"Yuuma, kemana dia?" Tanya Len kepada Cul.

"Dia ikut mencari, Len-dono."

Saat Len terdiam, tiba-tiba lengannya di tarik seseorang. Itu Miku. Dia menarik Len tanpa ada seorang pun yang sadar dan membawanya ke tempat yang sepi.

Festival sudah sepenuhnya berubah, semenjak kembang api dinyalakan di sisi sungai, daerah utama dekat kuil berubah menjadi tempat militer mencari keberadaan seorang putri.

Perwakilan dari ksatria mengatakan untuk tetap melanjutkan aktivitas dari festival, dan alhasil, tempat tersebut jadi lebih ramai dengan ada beberapa ksatria yang ikut membaur dan berbincang dengan penduduk. Jepang memang terlalu damai…

.

.

.

"Mi-Miku?!"

Len melihat ke arah orang yang menarik lengannya baru saja, Miku ada di sana dengan tatapan cemberut. Wajahnya mengatakan kalau dia tidak merasa senang sama sekali.

"Sekarang, tuan payah, ceritakan semuanya."

"Eh?"

"Ayolah, aku tahu kau ada masalah lagi, jangan remehkan kekuatan teman masa kecilmu yang mengetahui semua tentang dirimu ini ya!"

Len menceritakan semuanya pada Miku, semuanya… Mulai dari awal, hingga akhir dia menolak Aria.

Wajah Miku menjadi sendu setelah mendengar cerita Len. Itulah Miku, dia adalah orang yang peka, walau kepekaannya malah sering kali menjadi bumerang baginya... Terlalu mempedulikan orang lain juga bisa menjadi rasa sakit... Itulah yang Miku rasakan dari Len.

'Sudah kuduga. Mereka membicarakan hal tersebut saat bersama beberapa waktu lalu.'

Pikir Miku.

"Mau bagaimana lagi, semuanya sudah terlanjur berlalu… Yah, hahaha.."

Ucap Len.

"Lagipula aku tidak menyangka dia masih mengingat hal kecil seperti itu, perempuan itu memang menakutkan ya, hahaha."

"Miku?"

Len menghentikan pembicaraannya karena Miku tidak kunjung berbicara. Miku masih tertunduk lesu, dia memikirkan semua hal, semua kemungkinan.

Miku juga mencintai Len.

Melepas Len untuk orang lain sebenarnya adalah hal yang tidak akan Miku lakukan apapun yang terjadi.

Len adalah miliknya seorang.

Takdir mereka sudah terhubung sejak kecil, bahkan jauh sebelum Aria datang.

Tapi, rasa apa yang membuat Miku bimbang sekarang?

Melepas Len tidak akan membuatnya bahagia, tapi, dia juga merasa kalau meninggalkan Aria juga bukan hal yang benar.

Rasa tenggang rasa Miku terlalu tinggi untuk hal ini.

Apakah kebahagiaan miliknya harus dikorbankan untuk orang lain?

Miku tidak pernah merasakan hal yang begitu menyakitkan untuknya kecuali saat ayahnya meninggal dan juga saat adiknya kecelakaan. Lantas, bagaimana dengan Aria dan Len yang sudah menderita selama ini?

'Tidak boleh, aku harus egois!'

'Len adalah milikku seorang!'

'Akulah yang berhak atas Len, bukan orang lain!'

PLAK!

Sebuah tamparan mulus mendarat di pipi Len. Mata Len terbelalak melihat Miku yang menamparnya tiba-tiba.

"Karena kau adalah milikku…" Gumam Miku.

"Miku?"

"Kejar Aria." Ucap Miku.

"Kenapa aku harus?"

"Aku memang mengajarkan mu untuk menjadi pahlawan, tapi kau tetap harus memikirkan orang-orang yang pantas kau pikirkan terlebih dahulu! Kau harus tetap egois untuk dirimu sendiri!" Teriak Miku.

"Dia hanya mengharapkan hal kecil dan kau tidak bisa mengabulkannya?! Dasar pahlawan sampah!"

"Apa kau bilang Miku?!" Len geram dengan ejekan Miku.

"Pahlawan memang harus adil, tapi pahlawan apa yang membuat seorang wanita menangis?! Pergi dan kejar dia! Terimalah dia! Untuk kebahagiaan Aria! Kau sendiri tahu bagaimana hidup Aria!" Dorong Miku kepada Len.

'Dan juga untuk kebahagiaanmu.' Gumam Miku pelan selanjutnya.

"Tapi…"

"PERGI!"

Ini yang kedua kalinya, Miku mendorong Len untuk mengejar Aria. Rasa panas menjalar di tubuh Miku.

"Pada akhirnya, Len, kau tetap membuatku menangis."

"Hiks… Hiks…"

Tubuh Miku terjatuh, dia tersungkur perlahan. Duduk diam dengan kedua kaki yang tertekuk keluar.

Tes... Tes...

Tetesan air mata itu kembali berlinangan, perlahan-lahan dan lama kelamaan menjadi deras. Miku tidak tahu lagi apa yang dia lakukan sebenarnya itu kesalahan atau tidak, hanya penyesalan... Penyesalan yang mengisi relung hatinya yang kosong ditinggalkan oleh orang yang sudah lama dia cintai... Hingga akhirnya...

"HUWAAAAAAAA!"

Pada akhirnya, malam yang penuh gemerlap itu adalah panggung terakhir Miku dalam mengejar Len. Menjadi cahaya pengiring konser bagi tangisan Miku yang terus keluar karena penyesalan yang datang setelah dia mendorong Len. Tangisan Miku menjadi pengiring lagu terakhir yang indah dalam kisah antara dirinya dan Len.

Keputusan Miku benar, dia harus rela untuk orang lain yang lebih menderita.

Pada akhirnya semua kembali semula. Kebahagiaan untuk orang lain, adalah kesakitan untuk dirimu. Miku menyadari semua nya… Menjadi pahlawan, bukanlah hal yang menyenangkan.

Rasa sakitnya terus menjalar, menutupi semua tubuhnya. Nyanyian yang biasa Miku persembahkan kini hanya menjadi satu-satunnya hal yang bisa terus ada dalam hidupnya disamping Kagamine Len yang sudah menghilang.

Dia hanya perlu untuk terus bernyanyi, untuk melepas pengalaman menyakitkannya, selalu bernyanyi dan untuk selamanya.

Saat itu, sebuah bayangan menutupi tubuh Miku.

Miku tidak melihat siapa, tapi, dia kenal suara gemerincing besi yang datang bersamaan ketika si sosok misterius melangkah.

"Kau… Melihat semuanya? Benar bukan?" Tanya Miku.

Sosok itu tidak menjawab, diam adalah jawaban 'iya' untuk Miku.

Miku berdiri dan menubruk sosok tersebut yang berdiri angkuh, Miku hanya bisa menyandarkan kepalanya pada bahu orang tersebut.

"Biarkan aku seperti ini… Untuk kali ini saja." Ucap Miku.

"Menangislah sepuasnya, terima kasih karena sudah perhatian dengan hime-sama… Terima kasih… Hatsune Miku."

Miku terdiam, tapi dia menjawab setelahnya.

"Terima kasih kembali… Yuuma."

Tetesan air mata kembali berlinang dari mata Miku, keduanya tetap dalam posisi tersebut, hingga akhirnya tangan Yuuma mulai mengusap kepala Miku dan mengelus punggungnya.

Mendapatkan perlakuan manis seperti itu, Miku hanya bisa terus menangis makin deras dalam sunyi.

Keduanya telah melepas belenggu untuk orang yang paling mereka cintai, agar bisa saling bersatu.

'Karena kau adalah milikku.'

'Karena aku adalah milikmu.'

'Oleh karena itu, kita harus melepas kalian, selamanya.'

.

.

.

"ARIA?! KAU DI MANA?!"

"ARIA?!"

Sosok tersebut masih belum bisa Len tangkap di manapun.

Dia berlarian kesana-kemari, hingga akhirnya sampai di jembatan, di bawahnya ada sungai yang menjadi tempat peluncuran kembang api. Aria terdiam di sisi sungai yang kosong. Terdiam.

Len menatap Aria, tangannya bergetar, dirinya ragu untuk kembali menghampiri sosok orang yang sudah dia khianati berkali-kali.

Panggung malam kembali tercipta, bagai Bintang dari Bethlehem yang menuntun orang-orang ke tempat di mana malaikat tertinggi melepas sinarnya, itu semua menjadi pengiring yang tepat untuk mereka.*

"Aria?"

Len menghampiri Aria perlahan, tapi sebuah jawaban menahan Len.

"Jangan mendekat, atau aku akan memilih hanyut bersama sungai."

Sungai tersebut cukup dalam dan deras, alirannya tidak tenang walaupun malam hari, seperti suasana hati Aria.

"Aku… Aku menarik perkataanku." Ucap Len.

"?"

"Bolehkah aku… Menjadi pahlawan untuk dirimu seorang?" Ucap Len lagi.

Sebuah tatapan menghadap ke arah Len.

"Bisakah kita memulai segalanya kembali?" Ajak Len.

"Len-kun, perempuan macam apa yang akan menerimamu jika kau sudah mengkhianati mereka berkali-kali?" Tutur Aria.

Len terkejut, itu memang benar. Hubungan mereka sudah tidak bisa kembali membaik. Apapun yang Len usahakan, hubungan di antara mereka sudah terlanjur hancur… Tapi…

"Perempuan seperti itu, hanyalah aku seorang." Ucap Aria.

Aku selalu berjalan sendirian.
Kulihat di belakang, mereka terlalu jauh.
Tapi tetap aku teruskan berjalan.

Len kembali melihat Aria.

"Terima kasih, Len-kun."

"Tidak, aku yang harusnya berterima kasih karena sudah mau menunggu untuk orang brengsek seperti ku." Jawab Len atas ucapan Aria.

Inilah kekuatan milikku.
'Tidak perlu takut apapun lagi',
kubisikkan ke dalam diriku

Aria berjalan perlahan ke arah Len, memegang tangan Len.

"Bisakah kita?"

Len mengangguk.

Dia menggenggam tangan Aria balik dengan erat.

Andai ku terus melupakan hidup ini
Berarti aku hanya berlari
Hidup ini tidak akan berarti

Di sisi lain, Miku dan Yuuma akhirnya melepas pelukan mereka.

"Apakah kau tidak menyesal?" Tanya Yuuma.

"Bagaimana denganmu?" Tanya Miku.

Mereka berdua akhirnya tertawa pelan bersama-sama.

Andaikan, kubisa lupakan semuanya,
hidup ini akan menjadi lebih mudah.

Mereka berdua* berjalan bersama, melewati malam dengan tawa.

Sedangkan di sisi lain, mereka berdua* bersama, melepas penyesalan mereka.

Len dan Aria saling tersenyum. Yuuma dan Miku tertawa.

...

Hingga Aria akhirnya sadar.

"Apakah kita tidak menyakiti orang lain? Seharusnya…" Ucap Aria, tapi dipotong Len.

"Aku sudah berkata, aku adalah pahlawan untuk dirimu, aku akan melawan semua orang yang menyakitimu, jad wajar saja jika kita menyakiti orang lain untuk bisa bersama."

Saat itu, Aria tahu. Saingan cintanya tengah terpuruk entah di mana, Aria sudah menyakiti orang lain lagi, Hatsune Miku.

"Terima kasih… Hatsune-senpai… Terima kasih… Aku… Bahagia." Aria bergumam dengan memejamkan matanya, sebuah bulir air mata terkumpul di sudut matanya.

Dia kembali berjalan dengan Len, berjalan dengan tawa, mulai dari sekarang, selalu dan selamanya.

Semua orang, akhirnya akan sendiri nanti,
hanya hidup di ingatan orang yang lain.
Kalau begitu, itu bukan masalah bagiku.
Perasaan damai ada dari temanku.
Juga perasaan dari dia yang berarti untukku

Miku hanya bisa terus berdoa, agar pilihan yang dia lakukan bukanlah hal yang salah.

Yuuma hanya bisa terus melindungi putrinya, agar tidak kembali menangis lagi.

Selalu dan selamanya.

Dan nanti ku akan berpisah dengan mereka
Kemudian mulai melupakannya satu-persatu
Saat itu, aku akan menyerah, berhenti kuat
Dan seperti manusia biasa yang lemah,
Aku akan mulai menangis.


XOXOX


"Selalu dan selamanya… Aku akan ada untuk dirinya…"


XOXOX


Chapter 25 selesai~

Tahu nggak, saya butuh 4 jam untuk ngetik dan mikir tentang chapter ini. Biasanya cuma ngambil waktu 2 jam untuk mikir sekaligus ngetik… T^T
Gimana soal chapter ini? Saya mau tahu pendapat kalian, seperti penghujung arc, tapi gak ada kata 'bagian' di ujung... Soalnya tantangan terakhir untuk Len bukan soal ini, masih ada yang lebih nanti di chapter-chapter akhir... Gak terasa juga ya udah tinggal 5-6 chapteran lagi. Gak nyangka, perjalanan Len dari orang yang 'bodo amat' sampai yang 'sangat peduli' ternyata lumayan panjang XD

Kalian tahu Cendrillion? Itu artinya Cinderella.

Oh, dan maksud dari kalimat yang diberi bintang, ada istilah Star of Bethlehem, atau bintang dari Bethlehem, itu cuma perumpamaan aja, tapi Star of Bethlehem dipercaya sebagai katalis pemanggil malaikat yang memandu Sang Penyelamat oleh orang-orang katolik. Bisa disebut juga sebagai bintang tanda kelahiran Sang Penyelamat juga oleh orang-orang kristiani.

Lalu, dua frasa yang dibintangi, 'mereka berdua' satu mengarah ke LenAria, satunya YuumaMiku.

Ada 6 bagian kalimat yang di-center dan dicetak miring di akhir-akhir fict, anggapnya gini, bagian pertama itu pikiran dari Aria, yang kedua dari Miku, yang ketiga Aria lagi, yang keempat Miku, terus sampai terakhir. Sebenarnya inspirasi kalimat-kalimat itu dari lagu. ^^

Balas anon review~


-To reviewer named Guest:


Jangan nangis kalau ditolak, XD

Emang paling inget, soalnya entah kenapa saya juga kena jebak di adegan itu. XD

Punya ketiganya? Kalau saya cuma pegang satu, yang Penguin Summer, waktu itu belinya bertiga, alhasil demi menghemat, satu orang beli satu, bacanya gantian. XD

Gak ada death chara kok, saya udah capek death chara terus #PLAK

Makasih ya udah review~ Ini udah update~


Akhir kata, maaf jika ada kata yang kurang berkenan, saya mau tahu komentar kalian soal chapter kali ini, apapun itu, karena bentuk apresiasi dari kalian adalah kebahagiaan untuk saya.

Jaa~~ Matta ne~~ ^^

Best Regards,

Aprian