Unforget Memories

by Razux

Sequel from "A piece of memories" by Yuuto Tamano

.

.

.

Disclaimer : Gakuen alice belong to Higuchi Tachibana.


Natsume POV

"Aku berangkat." Ujarku sambil menatap Mikan yang mengantarku di depan pintu rumah kami.

"Hati-hati di jalan ya!" senyumnya sambil mencium pipiku.

Aku tersenyum mendengar ucapannya itu dan dengan pelan aku mengangkat tanganku menyentuh perutnya yang sudah mulai membesar itu "Temani okaa-sanmu selama otou-san tidak ada di rumah, ya? Pahlawan kecilku..."

Mikan tertawa mendengar ucapaanku.

"Ayo cepat pergi! Nanti kau terlambat!" ujarnya sambil mendorongku keluar dari rumah kami.

Aku hanya membiarkan dia mendorong tubuhku keluar dari perkarangan rumah ini sambil tersenyum menyeringai dan saat aku berjalan meninggalkan rumah kami aku mendengar dia berteriak sambil tertawa.

"Aku akan memasak nasi kari malam ini, jadi cepat pulang ya? Jangan singgah ke mana-mana ya?"

Aku tidak berkata apa-apa, aku hanya mengangkat tanganku ke atas menjawab pertanyaannya itu bahwa aku mengerti.

Aku berkerja sebagai seorang accounting di sebuah perusahaan supplier kecil dalam kota ini. Perkerjaanku sama sekali tidak susah malah boleh dikatakan sangat mudah, terlalu mudah.

Aku telah berkerja kurang lebih tiga bulan di perusahaan ini dan aku sendiri lumayan menyukai perkerjaanku ini. Pekerjaan yang mudah dan santai ini membuatku memiliki banyak waktu luang yang bisa aku gunakan untuk membaca komik ataupun tidur. Atasanku sama sekali tidak pernah menegurkku, atasanku adalah seorang bapak berusia setengan baya yang sangat baik dan santai, namun alasan sebenarnya dia tidak pernah menegurku adalah karena aku selalu menyelesaikan perkerjaannya dalam waktu yang sangat singkat dan sempurna.

"Selamat pagi, Natsume-kun." Sapa seorang bapak-bapak berusia sekitar empat puluh tahun yang merupakan rekan sekantorku saat melihatku memasuki kantor tempatku kerja ini.

Aku tidak membalas salam mereka, aku hanya menangguk kepalaku dan berjalan ke meja kerjaku.

"Kenapa setiap pagi saat memasuki kantor, wajahmu itu selalu seperti ini?" tanya seorang wanita berusia sekitar tiga puluh lima tahun dari sampingku tiba-tiba.

"Karena dia tidak ingin meninggalkan Mikan-chan dan anaknya dalam rumah mereka." Tawa salah seorang pria berusia di awal tiga puluh yang duduk di belakangku.

Wanita itu tertawa menatap pria itu "Aku mengerti maksudmu itu. Natsume-kun pasti tidak mungkin bisa tenang membiarkan Mikan-chan yang secantik itu sendirian di rumah, dia pasti takut jika ada serangga busuk yang berusaha mendekatinya."

Aku hanya diam mendengar ucapan mereka itu, di kantor yang hanya memiliki tiga orang karyawan ini, aku selalu menjadi bahan godaan mereka. Hal itu disebabkan karena aku adalah yang paling muda dan baru menikah tidak lama. Aku sama sekali tidak begitu mempermasalahkan godaan mereka itu karena aku sebenarnya cukup menyukai mereka.

Aku tahu, mereka semua berpikir aku dan Mikan adalah pasangan yang kawin lari karena hubungan kami yang tidak disetujui orang tua. Namun, mereka sama sekali tidak bertanya padaku maupun Mikan tentang masa lalu kami, mereka semua sama sekali tidak mempedulikan bagaimana masa lalu kami, mereka semua mendukung kami. Tapi, aku tidak tahu bagaimana tanggapan mereka jika mereka telah mengetahui apa sebenarnya hubunganku dengan Mikan, mungkin sikap mereka kepada kami akan sangat berbeda jika telah mengetahuinya.

"Kau sangat beruntung bisa mendapatkan istri secantik dan sehangat Mikan-chan, Natsume-kun. Andaikan saja aku lebih muda sebelas tahun, aku pasti akan bersaing denganmu untuk mendapatkannya." Tawa pria itu lagi.

"Bercerminlah dulu kalau kau berpikir bisa mendapatkannya. Tidak perlu Mikan-chan, jika aku boleh memilih antara kamu dan Natsume-kun, aku pasti akan memilih Natsume-kun." Ejek wanita itu.

Aku hanya bisa tersenyum kecil mendengar ucapannya itu.

"Natsume! Kemari sebentar!" panggil atasanku tiba-tiba sambil tersenyum melambaikan tangannya padaku dengan setumpuk berkas di tangannya yang aku tahu merupakan pekerjaanku.

"Saatnya berkerja Natsume Sakura! Jangan duduk melamunkan istri tercinta saja!" senyum pria itu saat melihat atasan kami.

Aku tersenyum menyeringai menatap pria itu "Aku tahu, namun aku yakin bisa menyelesaikan semua berkas itu dalam kurun waktu lima belas menit dan kembali melamunkan istriku."

Aku bisa melihat pria itu menggerutu mendengar ucapanku dan wanita yang ada disampingnya tertawa terbahak-bahak sambil berkata "Seratus untuk Natsume-kun!"

Aku tidak berkata apapun lagi dan berjalan mendekati atasanku untuk mengambil berkas yang merupakan perkerjaanku itu.

"Kurasa aku bisa memberikanmu perkerjaan tambahan lagi Natsume-kun, kau pasti bisa mengerjakan banyak tugas sekaligus dan kau tidak perlu khawatir, aku akan menaikkan gajimu. Kau membutuhkannya bukan? Untuk biaya persalinan istrimu nanti?'' Ujar Atasanku sambil tersenyum.

Aku tersenyum mendengar ucapannya itu, dia benar, enam bulan lagi anak kami akan lahir, kami pasti akan membutuhkan biaya yang cukup banyak untuk menyambut kelahirannya.

"Aku terima tawaranmu itu." Balasku.

Atasanku tertawa terbahak-bahak mendengar jawabanku itu dan menepuk pundakku "Bagus! Bagus!"

Saat aku kembali ke meja kerjaku untuk menyelesaikan berkasku, tiba-tiba aku mendengar teman sekantorku berteriak memanggilku.

"Natsume-kun! Ada orang yang mencarimu di luar!"

"Siapa?" tanyaku.

"Aku tidak tahu, aku sama sekali tidak pernah melihatnya."

Aku tidak bertanya lagi siapa yang datang mencariku dan dengan santai aku berjalan keluar menemui orang yang mencariku meninggalkan perkerjaanku. Aku rasa yang mencariku itu pasti salah satu customer perusahaan ini. Namun, saat aku melihat siapa yang mencariku, mataku terbelalak karena terkejut.

Luna.

Bagaimana dia bisa tahu aku ada di sini? Bagaimana dia bisa tahu keberadaanku di kota kecil ini? Aku yakin sekali, tidak akan mudah menemukan keberadaan kami di kota ini, aku sudah menyebarkan dan memasang berbagai jebakan untuk menyesatkan siapapun yang mencari kami, karena itu bagaimana dia bisa menemukanku?

"Natsume." Panggil Luna sambil tersenyum dan berjalan mendekatiku.

Mikan POV

Aku berjalan pulang ke rumah kami dengan beberapa bahan untuk membuat kari di tanganku. Aku akan membuat nasi kari malam ini, aku memang tidak sepandai Nastume dalam memasak, tapi aku akan berusaha keras untuk membuat makanan terenak untuknya.

Saat aku mengeluarkan kunci untuk membuka pintu rumah, aku mendengar seseorang memanggil namaku dari belakang.

"Mikan-chan."

Mataku terbelalak mendengar suara itu. Tidak mungkin, tidak mungkin, aku pasti sedang berhayal, suara yang aku dengar barusan pasti hanyalah khayalanku saja, dia tidak mungkin ada di sini, dia tidak mungkin bisa menemukan kami di sini.

"Mikan-chan." Panggil suara itu lagi dan dengan pelan aku membalikkan badanku menghadap belakang.

"Lama tidak ketemu, Mikan-chan."

Semua bahan masakan yang ada di tanganku jatuh ke bawah,

"K-Kaname-kun..." Balasku pelan tidak mempercayai siapa yang ada di depanku sekarang, ketakutan menyerang hatiku, aku telah ditemukan, kami telah ditemukan, mereka telah berhasil menemukan kami.

"Mikan-chan, kau tidak perlu berwajah seperti itu." Senyum Kaname-kun sambil menatapku.

"K-Kenapa kau bisa tahu kami ada di s-sini?" tanyaku terbata-bata.

"Ceritanya cukup panjang karena itu bagaimana kalau kau mempersilakan aku masuk ke dalam dulu? Kurasa akan lebih nyaman kita berbicara di dalam."

Aku sama sekali tidak bisa menbalas ucapannya itu, aku sangat ketakutan, aku sama sekali tidak berani membiarkannya masuk ke dalam rumah kami, apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa yang ingin dia bicarakan? Apa yang ingin dia lakukan?

"Tenang saja, Mikan-chan. Aku hanya ingin berbicara denganmu, aku janji, aku tidak akan melakukan apapun."

Luna POV

Aku bisa melihat wajah terkejut Nastume saat melihatku, dia pasti tidak pernah menyangka aku akan menemukannya di sini.

"Kenapa kau ada disini?" tanyanya sambil menatapku dengan tajam.

"Aku datang untuk menyadarkanmu akan kesalahan yang kau buat, Natsume."

"Aku tidak melakukan kesalahan apapun, Luna. Pergi dari sini, jangan pernah kau tunjukkan wajahmu lagi di hadapanku!" ujarnya mengusirku dengan suara yang sangat dingin

Aku sangat terkejut mendengar ucapannya itu. Tidak melakukan kesalahan apapun? Apakah dia tidak salah? Dia telah melakukan sebuah kesalahan terbesar dalam hidupnya, dia menikahi Mikan Hyuga, dia telah menikah dengan adiknya sendiri, dia telah menikah dengan adik seibunya sendiri.

"NATSUME HYUGA! APAKAH KAU MASIH TIDAK SADAR DENGAN APA YANG TELAH KAU LAKUKAN?" teriakku penuh kekesalan.

Natsume sama sekali tidak mengatakan apapun, dia hanya diam membisu menatapku dan aku bisa melihat dua orang bapak-bapak dan seorang wanita setengah baya berlari keluar dari dalam kantor tempat Natsume berkerja sekarang.

"Ada apa?"

"Apa yang terjadi?'

Aku sama sekali tidak mempedulikan pertanyan mereka, aku tetap menatap Natsume yang ada di depanku tanpa mengedipkan mata sedikitpun.

"Akan ku beritahu apa kesalahanmu itu, Natsume. Kesalahanmu adalah mencintai Mikan Hyuga, kesalahanmu adalah mencintai dan menikahinya yang merupakan adikmu, adik yang sedarah denganmu."

Aku bisa melihat dua orang bapak-bapak dan juga wanita setengah baya yang berada di samping Natsume sangat terkejut begitu mendengar ucapanku. Aku tahu, tidak ada seorangpun penduduk kota ini yang mengetahui apa hubungan Natsume dan Mikan Hyuga sebenarnya, kota ini terlalu kecil dan terpencir, berita tentang keluarga Hyuga yang menghebohkan dunia pasti tidak begitu dipedulikan penduduknya karena itulah mereka bisa hidup di kota ini dengan tenang.

Aku tidak akan membiarkannya, aku tidak akan pernah membiarkan Mikan Hyuga memiliki Natsume, aku tidak akan pernah membiarkan Mikan Hyuga bahagia bersama Natsume. Aku akan membongkar semuanya, aku akan membongkar apa sebenarnya hubungan mereka kepada semua penduduk kota ini. Aku yakin sikap para penduduk kota yang ada disini terhadap mereka pasti akan berubah dratis, semua yang ada pasti akan menghina, mencela mereka dan cepat atau lambat mereka pasti akan terpisah.

"Aku..." Ujar Natsume pelan tiba-tiba sambil menatapku.

"Selagi semua masih bisa terhindari, selagi anak itu belum dilahirkan, kau masih bisa berbalik haluan, kau bisa menghentikan kesalahan ini. Kau yang jenius itu pasti tahu, kau pasti tahu dengan jelas apa akibatnya jika tetap ingin bersamanya." Potongku cepat. Natsume harus sadar, dia benar-benar harus sadar dengan apa yang dilakukannya sekarang.

"Aku tidak melakukan kesalahan apapun Luna. Kesalahan terbesar dalam hidupku adalah jika aku meninggalkan Mikan dan anak kami. Aku akan melakukan kesalahan terbesar dalam hiduku jika aku meninggalkan mereka berdua."

Aku sangat terkejut mendengar ucapan Natsume itu, mengapa dia masih belum mengerti? Kenapa dia masih memilih Mikan Hyuga?

"APAKAH KAU GILA NATSUME HYUGA! KAU ADALAH PEWARIS SATU-SATUNYA DARI PERUSAHAAN TERBESAR DI DUNIA, PERUSAHAAN RAKSASA HYUGA, APAKAH KAU BERSEDIA MEMBUANG ITU HANYA DEMI SEORANG MIKAN HYUGA?" teriakku penuh kemarahan.

"Aku tidak memerlukan itu. Aku sama sekali tidak memerlukan apapun, selama aku bisa berada di sampingnya, selama aku bisa bersamanya dan anak kami." Balas Natsume tenang.

Dia tidak menginginkan perusahaan raksasa Hyuga? Dia bersedia membuang perusahan terbesar di dunia itu hanya demi seorang wanita, demi seorang Mikan Hyuga?

"Kenapa? Kenapa? KENAPA? APA BAGUSNYA MIKAN HYUGA? AKU LEBIH CANTIK DARINYA, AKU LEBIH PINTAR DARINYA, KENAPA KAU MEMILIHNYA?"

"Karena aku mencintainya." Jawab Natsume singkat.

Aku terdiam mendengar jawabannya itu.

"Demi dia aku bisa menghadapi semuanya, demi dia aku bisa membuang segalanya, sebab bagiku dia adalah segala-galanya."

Aku sama sekali tidak tahu harus berkata apa lagi, kemarahan dan kebencian memenuhi hatiku.

Mikan Hyuga. Mikan Hyuga. Mikan Hyuga.

Jika saja dia tidak ada, aku tidak akan bernasib seperti ini, jika dia tidak pernah ada Natsume pasti akan memilihku, kebahagiaan dan cinta Natsume pasti akan menjadi milikku, dia lah yang merebutnya dariku, dia lah yang merebut semua yang seharusnya menjadi hakku dariku.

"Ku ulangi satu kali lagi, jangan pernah muncul di hadapanku lagi, Luna. Aku tidak mau melihat wajahmu lagi untuk selamanya."

Aku hanya menatap Natsume dengan penuh kemarahan serta kebencian dan membalikkan badanku berjalan meninggalkannya.

Tidak akan kubiarkan. Tidak akan ku biarkan. Tidak akan pernah aku biarkan mereka bahagia.

Natsume POV

Aku menatap Luna yang berjalan menjauh meninggalkan kantorku ini dan saat dia benar-benar menghilang dari pandanganku, aku membalikkan badanku untuk masuk ke dalam kantorku mengerjakan perkerjaanku. Namun, saat aku menatap wajah para rekan kerjaku, aku menghentikan langkah kakiku.

Wajah mereka saat menatapku sekarang sangat berbeda dengan wajah mereka saat menatapku sebelum Luna muncul, aku bisa melihat ekspresi terkejut serta bingung dari mereka semua. Mereka segera membuang muka mereka saat aku menatap wajah mereka dan berjalan ke meja kerja mereka masing-masing.

Mereka pasti mendengar apa yang dikatakan Luna barusan, mereka pasti telah mendengar dan mengetahui apa sebenarnya hubunganku dengan Mikan. Kota ini sangat kecil, aku yakin berita mengenai kami pasti akan tersebar di kota ini tidak lama lagi, perlakuan yang kami terima di kota ini pasti akan sangat berbeda nantinya.

Aku menghela napas. Aku sama sekali tidak takut menghadapi itu semua, tapi aku tidak mau Mikan dan anak kami yang akan lahir nantinya menerima perlakuan seperti itu. Aku bisa menerima semua makian dan hinaan dari siapapun, tapi aku tidak mengijinkan Mikan dan anak kami menerima itu.

Aku melangkahkan kakiku dengan pelan ke meja atasanku yang berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya.

"Maaf, pak. Kurasa aku harus menolak tawaranmu tadi dan bolehkan aku minta ijin untuk pulang ke rumahku sekarang?" Ujarku tenang sambil menatapnya.

"S-Silakan, tidak apa-apa." Balas atasanku itu terbata-bata.

Aku sama sekali tidak mempedulikan pandangan mereka lagi, aku segera membalikkan badanku mengambil tasku yang ada di atas meja kerjaku dan berjalan keluar.

Aku harus pulang sekarang, aku harus memberitahunya, kami mungkin tidak bisa tinggal di kota ini lagi.

Kaname POV

"Apa yang ingin kau bicarakan denganku, Kaname-kun?" tanya Mikan pelan sambil menatapku saat aku telah duduk di dalam ruang tamu rumahnya.

Aku tersenyum mendengar pertanyaannya "Apakah kau sehat, Mikan-chan?"

"A-Aku sehat-sehat saja." Jawabnya terbata-bata begitu mendengar pertanyaanku.

"Syukurlah kalau begitu." Balasku pelan.

Aku mengangkat kepalaku menatapnya dan saat aku melihat perutnya yang sudah mulai membesar, aku teringat lagi dengan rekaman video yang ada di dalam ponsel Luna itu, aku teringat lagi dengan senyum penuh kebahagiannya saat bersama Natsume Hyuga. Dia sama sekali tidak pernah tertawa sebahagia itu di depanku, dia sama sekali tidak pernah sebahagia itu saat bersamaku.

"Bagaimana kau bisa tahu kami berada di sini Kaname-kun?" tanya Mikan tiba-tiba.

"Aku mendapatkan rekaman video keponakan temanku yang sedang belajar berjalan di taman kota ini dan aku sangat terkejut saat melihatnya sebab aku melihatmu dan Natsume-senpai di dalamnya."

Aku bisa melihat mata Mikan terbelalak mendengar jawabanku, tapi dia tetap saja diam tidak mengucapkan sepatah katapun.

"A-Apakah kau memberitahu otou-san, okaa-san, Rei-nii dan yang lainnya?" tanya Mikan dengan wajah pucat menatapku.

"Aku tidak memberitahu mereka. Yang tahu keberadaanmu di sini hanyalah aku."

Aku bisa melihat Mikan bernapas lega begitu mendengar jawabanku "Terima kasih, Kaname-kun. Terima kasih karena kau sama sekali tidak memberitahu tempat kami berada pada semuanya."

Mendengar ucapan terima kasihnya itu, hatiku terasa sangat panas. Dia berterima kasih padaku, dia berterima kasih padaku karena aku tidak memeberitahu yang lain tempat mereka bersembunyi, dia berterima kasih padaku karena dia masih bisa melanjutkan hidupnya bersama Natsume Hyuga di kota ini.

Tiga bulan telah berlalu, Kupikir dia yang dibesarkan sebagai seorang putri keluarga konglomerat pasti tidak akan tahan dengan kehidupan yang sederhana ini, dia pasti tidak akan tahan untuk mengerjakan semua tugas rumah sendirian, dia pasti akan menyerah dengan kehidupannya bersama Natsume Hyuga ini. Tapi, aku salah, dia menyukai hidupnya sekarang ini, dia bahagia dengan hidupnya sekarang ini.

"Mikan-chan, pulanglah, semua orang sedang mencarimu, semua orang merindukanmu, jangan membuat kesalahan Mikan-chan, jangan membuat sedih semua orang yang menyayangimu." Ujarku pelan sambil menatanya.

Aku tidak akan membiarkannya berada di sini, aku tidak akan membiarkannya menjadi miliki Natsume Hyuga. Dia adalah milikku, dia adalah tunanganku, istriku di masa mendatang, aku tidak akan mungkin membiarkan dia bersama orang lain terutama Natsume Hyuga.

Natsume Hyuga, betapa aku membencinya, sejak aku mengenalnya sampai sekarang dia selalu saja merebut semua yang menjadi hakku. Aku tahu sekali, dua tahun yang lalu Mikan pernah hampir memilihku, dia pernah berpikir untuk menerima cintaku, namun gara-gara Natsume Hyuga, dia menolakku. Lalu saat pertunangan kami, saat Mikan akan secara resmi menjadi calon istriku, lagi-lagi dia muncul dan merebutnya dariku di hadapan semua orang.

Semua orang membicarakanku sekarang, semua orang membicarakan ku dan membandingkannya denganku. Betapa aku memebenci semua itu sebab di mata semua orang dia selalu di atasku, semua orang pasti akan selalu memujinya dan merendahkanku, aku selalu berada dibelakangnya, aku tidak pernah bisa menang darinya.

Mikan. Saat aku mendengar dari dokter dia hamil, betapa terkejutnya aku, dia hamil, dia mengandung anak Natsume Hyuga, dia telah menyerahkan seluruh jiwa dan raganya pada Natsume Hyuga, dia telah memberikan seluruh yang dimilikinya kepada Natsume Hyuga. Betapa sakit dan marahnya aku saat itu, membayangkan Natsume Hyuga telah memiliki semua yang seharusnya ku miliki.

Sudah cukup itu semua, aku tidak bisa melepaskan Mikan lagi, aku tidak mau kalah darinya lagi, aku mencintai Mikan dan aku tidak akan membiarkannya memilikinya lagi. Mikan adalah milikku, dia adalah milikku bukan miliknya, Mikan bukan milik Natsume Hyuga.

"M-Maaf, Kaname-kun... Aku tidak bisa pulang lagi, aku sudah bersumpah pada tuhan pada hari itu, aku tidak akan pernah meninggalkannya lagi, aku tidak akan pernah meningalkannya sendirian lagi..." Jawab Mikan pelan.

"TUHAN TIDAK AKAN PERNAH MENGIJINKANMU BERSAMANYA, MIKAN-CHAN. KAU DAN DIA ADALAH SAUDARA SEDARAH, KALIAN BERDUA ADALAH KAKAK-ADIK, KALIAN TIDAK MUNGKIN BISA BERSAMA!" teriakku penuh kemarahan.

"AKU TAHU ITU!" teriak Mikan membalasku "Aku tahu itu, namun aku tidak peduli lagi, aku tidak peduli lagi dengan semua itu, aku mencintainya, aku mencintainya, aku tidak ingin terpisah lagi darinya."

Aku benar-benar terkejut mendengar ucapannya itu, dia tidak mempedulikannya? Dia tidak mempedulikan semuanya lagi? Mengapa dia tiba-tiba bisa berpikir seperti ini? Anak? Benar, pasti karena anak dalam kandungannyala yang membuatnya berpikir seperti itu, karena anak dalam kandungannyalah yang membuatnya tidak mempedulikan semuanya lagi. Jika saja anak itu tidak pernah ada, jika saja anak itu tidak pernah ada dalam hidupnya, dia pasti tidak akan bepikir seperti itu lagi.

Masih sempat, dia masih belum mengetahui bahwa dia dan Nastume Hyuga bukanlah saudara seibu, aku harus membuatnya ragu dengan keputusannya itu, aku hars membuatnya ragu dengan apa yang telah dipilihnya itu.

"Apakah kau ingin anak itu menghadapi lagi nasib yang begitu menyedihkan kelak? Bagaimana perlakuan yang akan diterimanya kelak? Orang tuanya adalah saudara sedarah, masyarakat pasti tidak akan bisa menerimanya. Apakah kau yakin bisa melindunginya? Apakah kau yakin kalian berdua bisa melindunginya? " tanyaku dingin.

Aku bisa melihat air mata mengalir menuruni pipinya mendengar pertanyaanku itu, dia mengangkat kedua tangannya menutup telinganya dan berteriak "HENTIKAN! HENTIKAN!"

Aku berjalan mendekatinya untuk melepaskan tangannya yang menutup telingannya.

"Kau harus tahu, Mikan-chan! Anak itu tidak boleh dilahirkan, anak itu tidak akan pernah bahagia jika dia dilahirkan! Dia pasti akan lebih memilih untuk tidak dilahirkan dari pada dilahirkan di dunia ini!" lanjutku dengan nada tinggi sambil menatapnya.

Mendengar ucapanku itu, Mikan tiba-tiba mengangkat tangannya dan mendorongku ke belakang "KELUAR! KELUAR!"

"AKU TIDAK BISA MEMBIARKANMU MELAKUKAN KESALAHAN MIKAN-CHAN! AKU TIDAK BISA MENGIJINKANMU MELAKUKAN KESALAHAN YANG KELAK AKAN MENYENGSARAKAN HIDUPMU!"

Mikan sama sekali tidak membalas teriakkan ku itu lagi, dia hanya terus menatapku dengan wajahnya yang sudah berlinang air mata dan penuh kesedihan.

"Aku mencintaimu Mikan-chan, karena itu aku tidak bisa membiarkanmu melakukan kesalahan, aku tidak akan bisa membiarkanmu melakukan kesalahan apapun.." Ujarku pelan dan berjalan ke arahnya sambil mengangkat tanganku untuk menyentuhnya.

Namun sebelum tanganku menyentuhnya, dia tiba-tiba membalikkan badannya dariku dan berlari keluar dari ruang tamu ini.

"MIKAN!"

Mikan POV

Mengapa? Mengapa? Mengapa lagi-lagi ada orang yang menyuruhku menggugurkan anak kami ini? Mengapa lagi-lagi ada orang yang tidak mengijinkan anak kami ini dilahirkan? Mengapa lagi-lagi ada orang yang mengingatkan aku pada kesalahan yang telah kami lakukan? Mengapa lagi-lagi ada orang yang mengingatkanku pada dosa yang telah kami lakukan?

Aku sama sekali tidak mempedulikan Kaname-kun yang mengejarku dan terus meminta padaku untuk pulang bersamanya dan menggugurkan anak ini. Aku juga sama sekali tidak mempedulikan pandangan orang-orang di sekeliling kami lagi. Mengapa dia bisa begitu kejam? Mengapa dia bisa menyuruhku untuk membunuh anakku itu dengan begitu mudah? Aku hampir tidak mengenalnya lagi, yang ada di depanku sama sekali bukan Kaname-kun sahabatku lagi.

"Mikan-chan, dengarkan aku dulu!" ujar Kaname-kun dari sampingku, namun aku tetap tidak mempedulikannya.

Aku tahu aku egois, aku tahu aku tidak berperasaan dan aku juga tahu aku berdosa. Hatiku sangat sedih dan sakit mendengar setiap ucapannya, jangan menyuruhku memilih lagi, jangan menyuruhku memilih lagi jalan yang seharusnya aku ambil.

Aku tidak mau mendengar lagi, aku tidak mau mendengar ucapannya lagi. Aku sudah membuat keputusan hari itu, aku sudah membuat keputusan pada hari aku setuju untuk menikah dengan Natsume, aku tidak peduli dengan apapun lagi.

Aku melangkahkan kakiku dengan cepat menuju kantor Natsume, aku takut sekali sekarang, aku benar-benar sangat ketakutan sekarang. Aku benar-benar tidak mau terpisah darinya lagi, aku tidak mau dipisahkan darinya lagi. Aku ingin bersamanya, aku ingin bersamanya dan anak kami. Aku tidak ingin kebahagiaan yang begitu sulit kudapatkan ini hancur lagi.

Natsume. Aku ingin bertemu dengannya sekarang, aku tahu, jika dia memelukku aku pasti bisa melupakan semua, jika dia membisikkan padaku bahwa semuanya akan baik-baik saja, maka semuanya pasti akan baik-baik saja.

"Mikan-chan, tenangkan dirimu dulu! Dengarkan penjelasanku dulu!" ujar Kaname-kun sambil menangkap tanganku.

"LEPASKAN TANGANKU, KANAME-KUN!" teriakku dan berusaha untuk melepaskan tanganku yang digenggamnya.

"DENGARKAN PENJELASANKU DULU!" balas Kaname-kun sambil menatapku dengan mata birunya yang penuh kemarahan.

"Mikan..." Panggil seseorang dari belakangku tiba-tiba.

Aku segera membalikkan wajahku menatap sumber suara yang sangat ku kenal itu dan aku melihat Natsume berdiri di seberang jalan menatapku. Mata merahnya terbelalak karena terkejut menatapku dan Kaname-kun. Aku tahu, Kaname-kun juga sangat terkejut melihat Natsume, aku bisa merasakan tangannya yang mengenggam tanganku melongar dan tanpa membuang kesempatan yang ada aku melepaskan tanganku yang digenggamnya dan berlari ke arahnya.

"NATSUME!"

Natsume POV

Aku sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutku saat melihat pemandangan di depanku itu, aku melihat Mikan dan Kaname Sono, aku bisa melihat Kaname Sono yang menggenggam tangan Mikan yang terus berontak untuk melepaskan dirinya.

Aku bisa melihat wajah terkejut Kaname Sono saat melihatku, aku juga bisa melihat Mikan yang memanfaatkan kesempatan yang ada untuk membebaskan dirinya dari Kaname Sono dan berlari ke arahku sambil tersenyum memanggilku.

Aku berlari ke arahnya yang kini berusaha menyebrangi jalan dan aku juga bisa melihat Kaname Sono mengejarnya dari belakang.

Deja-vu.

Aku melihat deja-vu seperti dua tahun yang lalu. Ketakutan menyerangku, aku melihat dari samping Mikan tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kecepatan yang luar biasa ke arahnya. Aku bisa melihat siapa yang mengendarai mobil itu, yang mengendarai mobil itu adalah Luna.

Aku bisa melihat langkah kaki Mikan terhenti, aku bisa melihat wajah ketakutannya saat menyadari mobil yang mengarah padanya.

Aku berlari sekuat tenagaku ke arahnya.

Tidak. Tidak. Aku mohon jangan, aku mohon aku masih sempat, aku mohon semuanya masih belum terlambat. Mikan dan anakku, aku mohon aku masih bisa menyelamatkan mereka berdua, aku mohon jangan sampai terjadi sesuatu pada mereka. Aku mohon.

"KANAME SONO BUKA TANGANMU!" teriakku sekuat tenaga.

Mikan POV

Deja-vu.

Lagi-lagi aku melihat deja-vu dua tahun yang lalu dan juga mimpi buruk yang sering aku alami selama dua tahun yang lalu.

Badanku sama sekali tidak bisa bergerak saat melihat mobil itu bergerak dengan cepat ke arahku. Ketakutan dan kepanikkan menyerangku, aku menutup mataku dan aku mendengar suara Natsume yang berteriak.

"KANAME SONO BUKA TANGANMU!"

Aku tidak tahu apa yang terjadi, aku merasakan tangan Natsume yang sangat aku kenal mendorong badanku ke belakang dan aku juga merasakan tangan seseorang menangkap badanku.

Lalu aku mendengar suara teriakkan orang dari sekeliling kami dan juga suara tabrakkan yang sangat keras.

Saat aku membuka mataku, mataku terbelalak, mimpi buruk.

Mimpi buruk dua tahun yang lalu terulang lagi.

Natsume.

Aku melihat Natsume terbaring di atas jalan bersimbah darah, aku bisa melihat darah merah mengalir dari kepalanya membasahi aspal jalan, persis seperti dua tahun yang lalu.

Badanku bergemetar hebat dan tanpa mempedulikan apapun lagi, aku berlari mendekatinya sambil menangis.

"NATSUME! NATSUME! NATSUME! AKU MOHON BUKA MATAMU!" teriakku ketakutan saat memeluk tubuhnya yang penuh darah.

"M-Mi..kan..." Panggil Natsume pelan dan terbata-bata sambil membuka matanya.

"NATSUME! AKU MOHON JANGAN TINGGALKAN AKU! KAU SUDAH BERJANJI PADAKU! KAU SUDAH BERJANJI TIDAK AKAN PERNAH MENINGGALKAN AKU DAN ANAK KITA LAGI!"

Natsume sama sekali tidak menjawab apapun, dia mengangkat tangannya dengan pelan menyentuh pipiku. Aku segera mengangkat tanganku yang terus bergemetar dan menyentuh tangannya yang ada di pipiku.

"S-Syu..Syukurlah kalian berdua ti..tidak apa-apa..," ujarnya sambil tersenyum "Syu..kurlah..."

Tangannya yang menyentuh pipiku tiba-tiba jatuh ke bawah dan aku melihat dia menutup mata merahnya dengan pelan.

"Natsume jangan bercanda denganku. Buka matamu.. Buka matamu sekarang juga..." Ujarku sambil menguncang-guncangkan badannya, namun matanya tetap tertutup, dia sama sekai tidak bergerak sedikitpun lagi.

Tidak. Aku mohon ini bukanlah kenyataan, aku mohon ini hanyalah salah satu dari mimpi buruk yang sering ku lihat.

Aku mengangkat kepalaku melihat sekelilingku, aku bisa melihat Kaname-kun menatapku tanpa bergerak sedikitpun dengan wajah pucat pasi, aku bisa melihat Luna-senpai keluar dari mobil yang menabrak Natsume dengan wajah pucat pasi dan aku juga bisa melihat semua orang yang ada di sekeliling ku menatapku dengan wajah penuh ketakutan.

"Tolong... Aku mohon, tolong.. AKU MOHON SIAPAPUN JUGA TOLONG DIA! AKU MOHON SIAPAPUN JUGA TOLONG NATSUME!"

Kaoru POV

"Maaf, apakah anda pernah melihat gadis dan juga pemuda ini?" tanyaku sambil menyodorkan foto Natsume dan Mikan pada orang yang berlalu lalang di depanku.

"Tidak." Jawab orang yang aku tanya itu.

"begitu ya, maaf dan terima kasih." Senyumku.

Aku mengangkat kepalaku menatap langit di atasku, aku sudah berada di kota ini sekarang, kami semua sudah berada di kota tempat Natsume dan Mikan berada sekarang.

Aku masih ingat dengan jelas saat Hotaru memperlihatkan rekaman video yang memperlihatkan Natsume dan Mikan di dalam taman kota ini. Aku dan Ioran sama sekali tidak bisa mengucapkan sepatah katapun saat menontonnya. Aku bisa melihat Natsume dan Mikan baik-baik saja dan aku juga bisa melihat betapa...

Betapa bahagianya mereka sekarang.

Senyum dan tawa mereka berdua dalam video itu telah menunjukkan kebahagian mereka. Lalu, saat Natsume menempelkan telingannya pada perut Mikan yang sudah mulai membesar itu, aku menyadari betapa dia mencintai anak mereka, betapa mereka berdua mencintai anak mereka yang belum lahir itu.

Kebahagiaan mereka, aku tidak sanggub menghancurkannya lagi, aku tidak sanggub melihat mereka menderita lagi. Mereka sudah terlalu menderita. Kesedihan, ketakutan, kepedihan dan juga perjuangan yang mereka lalui untuk bersama sudah terlalu cukup. Jangan lagi ada tanggisan ataupun air mata yang yang jatuh, semua itu sudah cukup. Sudah cukup.

Aku tidak peduli lagi dengan semua itu, aku tidak peduli dengan apa hubungan mereka dan juga masa lalu yang merantai mereka. Aku tidak mau mereka menderita lagi, aku akan melakukan semua yang aku bisa untuk melindungi mereka berdua, aku akan melakukan semua yang aku bisa untuk melindungi kedua anakku dan juga cucuku yang belum lahir itu. Walau semua orang di dunia ini akan menentangya, walau semua orang di dunia akan mencaci dan juga menghinaku karena membiarkan mereka bersama, aku tidak peduli lagi, sebab aku tahu sekarang, aku, Ioran, Rei, Ruka, Hotaru dan semuanya tahu sekarang, kami semua tahu sekarang, inilah yang terbaik, inilah yang paling benar.

Kami datang mencari mereka sekarang karena kami ingin minta maaf pada mereka. Maaf karena kami begitu kejam dan tak berperasaan terhadap mereka, maaf karena kami meminta mereka untuk berpisah, maaf karena kami meminta Mikan untuk menggugurkan anak mereka. Kami tidak tahu apakah mereka akan memaafkan kami atau tidak, namun kami sama sekali tidak mempedulikan itu terlalu banyak lagi, kami hanya ingin mereka tahu, kami tidak mempedulikan apapun lagi dan kami menyayangi mereka, kami mencintai mereka.

"Ke mana Kaname pergi sebenarnya? Mengapa dia tidak mengangkat ponselnya?" Ujar Ioran yang ada di sampingku tiba-tiba.

Aku menolehkan wajahku menatapnya "Apakah kau sudah menelepon ke rumahnya?"

"Sudah. Pembantunya mengatakan dia telah keluar pagi-pagi buta dan aku juga sudah menitipkan pesan agar segera meneleponku jika dia sudah pulang." Jawab Ioran sambil menatapku.

Aku hanya bisa menghela napas. Kaname, di mana kau berada sekarang? Semalam, sesaat kami melihat rekaman video itu, kami langsung menghubungi Kaname namun kami sama sekali tidak bia menghubunginya. Aku dan Ioran tahu, dia pasti juga merasa bersalah seperti kami, dia pasti juga ingin meminta maaf pada mereka dengan semua yang telah terjadi.

"Kuharap dia segera menerima pesanku itu," Lanjut Ioran pelan "Ayo, kita mulai mencari mereka lagi."

Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya itu dan kembali bertanya pada orang yang berlalu lalang.

Saat aku bertanya pada seorang wanita tua yang lewat di depanku sambil membawa sekantong barang belanjaan, aku menyadari matanya terbelalak saat menatap foto tersebut. Dia mengangkat wajahnya menatapku dan sedetik kemudian ekspresi terkejut di wajahnya berubah menjadi ekspresi datar seakan-akan tidak ada apa-apa.

"Maaf, aku tidak mengenal mereka." Jawab wanita tua itu dan berjalan meninggalkanku.

Aku bukan orang bodoh, aku tahu sekali wanita tua itu pasti mengenal dan beruaha melindungi mereka berdua dariku. Tanpa membuang waktu lagi, aku mengangkat tanganku menarik lengan baju wanita tua itu.

"A-Aku mohon... Jika kau mengenal mereka, jika kau tahu di mana mereka berada sekarang, tolong beritahu aku, aku mohon..." Pintaku dengan mata yang sudah berkaca-kaca karena menahan air mataku yang sudah hampir mengalir menuruni pipiku.

Wanita tua itu menolehkan wajahnya menatapku dengan tajam "Aku benar-benar tidak mengenal mereka."

"Aku bukan datang untuk memisahkan mereka, aku datang mencari mereka berdua karena aku ingin meminta maaf.. karena itu aku mohon... Aku mohon beritahu di mana mereka berada sekarang..." Pintaku lagi sambil mengenggam erat lengan baju wanita tua itu dan aku bisa merasakan air mataku mengalir menuruni pipiku sekarang.

Aku bisa melihat ekspresi wajah wanita tua itu melembut saat mendengar ucapanku dan juga melihat air mataku "Siapa kau?"

"A-Aku adalah okaa-san mereka..."

o00o

Aku, Ioran, Rei, Yoichi, Aoi, Ruka, Hotaru, Tsubasa dan juga Misaki berjalan mengikuti wanita tua itu menuju rumah Natsume dan Mikan. Wanita tua ini benar-benar mengenal mereka berdua dan wanita tua ini juga merupakan pemilik dari rumah tempat mereka tinggal sekarang. Dari cara wanita tua ini menceritakan dan melindungi mereka, aku tahu, wanita tua ini pasti sangat akrab dan menyayangi mereka.

"Aku sudah hidup lebih dari setengah abad, namun aku sama sekali tidak pernah melihat pasangan seperti mereka, mereka berdua begitu bertolak belakang, namun mereka berdua begitu serasi. Saat pertama kali aku melihat mereka, dari cara Mikan-chan menatap Sakura-san dan juga dari cara Sakura-san menatap Mikan-chan, aku sudah tahu, betapa mereka berdua saling mencintai dan mengasihi."

Kami semua hanya diam tidak mengatakan sepatah katapun saat mendengar ucapan wanita tua itu. Cinta mereka. Kami semua tahu sekali bagaimana cinta mereka itu, di dunia ini, tidak ada seorangpun yang lebih tahu dari kami betapa mereka berdua saling mencintai dan mengasihi.

"Aku sama sekali tidak tahu alasan kenapa kalian menentang hubungan mereka sehingga mereka kawin lari seperti itu. Tapi, aku ingin kalian tahu, janganlah pisahkan mereka, jangan memisahkan mereka berdua dan juga anak mereka."

"Anda tenang saja, kami berjanji padamu, kami tidak akan memisahkan mereka lagi." Ujarku cepat.

Wanita tua itu menolehkan wajahnya menatap kami semua "Bagus kalau begitu."

Aku sama sekali tidak mengatakan apapun lagi, begitu juga dengan wanita tua itu dan saat kami tiba di depan sebuah rumah, wanita tua itu menolehkan wajahnya menatap kami "Ini rumahku, biarkan aku meletakkan barang belanjaanku dulu, baru mengantar kalian ke rumah mereka."

Kami semua hanya menangguk kepala kami mendengar ucapan wanita tua itu dan saat wanita tua itu akan membuka pintu rumahnya, pintu itu tiba-tiba terbuka dan aku bisa melihat seorang pria tua berjalan keluar dengan wajah yang pucat pasi.

"Ada apa, suamiku?" tanya wanita tua itu dengan ekspresi terkejut.

Pria tua itu menatap wanita tua itu dan dnegan pelan dan terbata-bata dia menjawab "S-Sakura-san... Sakura-san mengalami kecelakaan lalu lintas..."

Mikan POV

Aku tidak tahu apa lagi yang terjadi, semua kejadian itu terjadi sangat cepat, kini aku berada di dalam rumah sakit, di depan ruang UGD sendirian dengan Natsume berada di dalam ruang UGD itu.

Badanku terus bergemetar dan mendingin, aku sangat ketakutan, air mataku terus mengalir dan aku terus berdoa, berdoa dan berdoa dalam hatiku.

Tuhan. Aku mohon tuhan, jangan kau ambil dia dariku, jangan pernah kau ambil dia dariku, aku tidak mau kehilangan dia, aku tidak mau kehilangan dia lagi. Inikah hukumanmu? Inikah hukumanmu pada kami berdua karena kami telah melanggar perintahmu? Inikah hukumanmu padaku karena aku ingin bersamanya?

Tidak tuhan, aku mohon jangan, jangan kau ambil dia dariku. Aku memerlukannya tuhan, aku memerlukannya untuk menjalani hidup ini, aku dan anak dalam kandunganku memerlukan dia untuk hidup di dunia ini. Dia adalah segala-galanya bagiku, bagaimana aku bisa hidup jika dia benar-benar kau ambil dariku? Bagaimana aku dan anak ini bisa hidup tanpanya di dunia ini?

Jangan tuhan. Aku mohon, aku mohon, aku mohon padamu, jangan kau ambil dia dariku.

Aku bisa melihat pintu ruang UGD itu terbuka dan seorang perawat berlari keluar dengan penuh kepanikkan.

Aku sama sekali tidak bisa memikirkan apapun lagi, aku segera berlari mendekati perawat itu.

"B-Bagaimana dengan Natsume? Bagaimana keadaannya? Dia tidak apa-apakan?" tanyaku terbata-bata sambil menahan badanku yang terasa bagaikan ingin ambruk ke bawah.

"Dia kehilangan banyak darah, dan kami sudah kehabiasan stok dar.." Ujar perawat itu, namun sebeum dia menyelesaikan ucapannya itu, aku telah memotong ucapannya itu.

"Pakai darahku, aku adalah adiknya, darahku dan darahnya pasti sama, pakai saja darahku."

"Apa golongan darah anda?" tanya perawat itu.

"Golongan darahku AB. Aku mohon, ambil saja darahku semau kalian asal Natsume bisa selamat." Jawabku cepat sambil mengenggam tangan perawat itu.

Perawat itu menatapku dengan iba "Maaf, nyonya, tapi golongan darah tuan Sakura itu O, dia hanya bisa menerima darah bergolongan darah O."

Ucapan perawat itu bagaikan mimpi buruk bagiku, golongan darah kami berbeda? Golongan darah kami berdua tidak sama? Tidak. Tidak. Jika Natsume tidak mendapatkan transfusi darah sekarang maka dia akan...

Tidak. Tidak. Tuhan, tuhan, aku mohon padamu tuhan, aku selalu memohon padamu supaya kami tidak sedarah, aku selalu memohon darah yang mengalir di dalam tubuh kami itu tidak sama, tapi sekarang aku tarik kembali permohonanku itu, aku mohon, darah kami sama, aku mohon darahku dan darahnya sama, aku mohon padamu semoga aku bisa mentranfusi darahku padanya, aku mohon aku bisa menyelamatkannya.

"Permisi nyonya Sakura, aku harus mencari pendonor darah golongan O." Ujar perawat itu sambil melepaskan tangannya yang digenggamku.

Aku tidak mempedulikan ucapan perawat itu, aku segera berlari ke dalam ruang tamu rumah sakit yang banyak orang dan tanpa mempedulikan apapun lagi aku berteriak sekuat tenagaku "AKU MOHON! AKU MOHON SIAPAPUN YANG MEMILIKI GOLONGAN DARAH O! AKU MOHON TOLONG BERIKAN AKU DARAH KALIAN!"

Aku bisa melihat semua orang yang ada di dalam ruangan itu menolehkan wajahnya menatapku dengan terkejut, namun aku sama sekali tidak peduli lagi, aku pasti kelihatan seperti orang gila sekarang, bajuku penuh dengan darah Natsume, air mataku terus mengalir menuruni pipiku dan wajahku pasti sangat ketakutan sekarang.

"AKU MOHON! AKU MOHON... Aku mohon tolong selamatkan Natsume..," Pintaku sambil terduduk di atas lantai rumah sakit ini, karena aku sama sekali tidak mempunyai tenaga untuk berdiri lagi "Aku mohon selamatkan dia..."

Tidak ada seorangpun yang mengucapkan sesuatu, ruang tamu dalam rumah sakit itu membisu, yang bisa ku dengar sekarang hanyalah satu, yaitu suara tanggisanku.

Tiba-tiba aku mendengar suara beberapa orang yang memanggilku.

"MIKAN!"

"MIKAN-NEE!"

"MIKAN-CHAN!"

Aku mengangkat wajahku menatap sumber suara itu dan aku melihat okaa-san, otou-san, Rei-nii, Yo-chan, Aoi-chan, Hotaru, Ruka-pyon, Tsubasa-kun dan juga Misaki-chan berlari ke arahku dengan wajah pucat dan panik.

Saat aku melihat mereka semua, dengan mengumpulkan seluruh kekuatan yang aku miliki, aku bangkit dari lantai itu dan berlari ke arah mereka.

"Aku mohon... Aku mohon pada kalian, siapapun diantara kalian yang memiliki golongan darah O, aku mohon berikan darah kalian padaku, aku mohon selamatkan Natsume!" ujarku sambil menangis.

"Apa maksudmu, Mikan?" tanya Ruka-pyon terkejut.

"Natsume.. Dia... Dia... kehilangan banyak darah, dia membutuhkan golongan darah O, aku tidak bisa memberikan darahku padanya, karena golongan darahku AB, karena itu.. Aku mohon.. Siapapun juga, berikan aku darah bergolongan O, aku mohon selamatkan Natsume..."

"Ambil darahku, golongan darahku juga O, ambil saja darahku sebanyak-banyaknya!" ujar Yo-chan begitu mendengar ucapanku itu.

Hotaru POV

Kami semua hanya bisa menunggu di depan ruang UGD menunggu operasi Natsume-senpai yang masih berlangsung itu.

Yoichi telah mendonorkan darahnya untuk Natsume-senpai, masalah kekurangan darah sudah terselesaikan, namun kami tetap saja tidak tahu bagaimana dengan hasil dari operasi ini.

Aku menatap Mikan yang terus saja bergemetar, wajahnya sangat pucat dan air matanya terus mengalir menuruni pipinya. Kaoru-san, Ioran-jiisan dan juga Rei-nii terus berusaha untuk menenangannya, namun sepertinya dia sama sekali tidak mendengar apa yang mereka katakan.

"Aku mohon, aku mohon padamu tuhan... Aku mohon padamu semuanya belum terlambat, aku mohon tranfusi darah Yo-chan masih belum terlambat..." Ujar Mikan terbata-bata.

Mendengar ucapan Mikan itu, aku menyadari sesuatu, aku tiba-tiba menyadari sesuatu yang sangat menakutkanku.

Aku berjalan mendekati Mikan dan saat berada di depannya, aku menatapnya dan menggenggam tangannya yang terus bergemetar "Mikan. Kau tadi mengatakan golongan darahmu itu O bukan AB kan?"

Mikan mengankat kepalanya menatapku "I-Iya. Golongan darahku AB sedangkan Natsume O... Aku tidak bisa memberikan darahku padanya, aku takut, Hotaru... Aku takut tranfusi darah Yo-chan terlambat... Aku takut..."

Tidak mungkin? Apa yang kupikirkan ini pasti tidak mungkin? Darah Yoichi O dan Mikan AB, kemungkinannya masih ada, tapi jika... Jika..

Dengan pelan aku membalikkan wajahku menatap Kaoru-san yang ada di sampingku "Jika anda tahu Kaoru-san, apa golongan darah Yuka Azumi?"

"Yuka? Ada apa Hotaru? Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Kaoru-san bingung.

"Aku mohon jawab pertanyaanku itu sekarang, Kaoru-san." Ujarku tidak mempedulikan pertanyaannya.

"Golongan darah Yuka... Golongan darahnya O, aku ingat aku pernah melakukan cek darah bersamanya dulu, golongan darahnya O." Jawab Kaoru-san

Aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan perasaan terkejutku sekarang begitu mendengar jawaban Kaoru-san itu. Aku merasa dunia ini bagaikan terbalik sekarang.

"Tidak mungkin..." Ujarku pelan.

"Ada apa, Hotaru?" tanya Ruka begitu melihat sikapku.

"Tidakkah kalian sadar? Tidakkah kalian semua sadar? Golongan darah Mikan berbeda dengan golongan darah Natsume-senpai dan Yoichi. Golongan darah Natsume-senpai dan Yoichi adalah O sedangkan golongan Mikan adalah AB. Lalu, golongan darah Yuka Azumi yang merupakan ibu kandung mereka bertiga adalah O, tidakkkah kalian menyadari kejanggalan yang ada?" tanyaku dengan nada tinggi.

Aku bisa melihat mata Ruka, Kaoru-san, Ioran-jiisan, Rei-nii dan Yoichi terbelalak begitu mendengar ucapanku sedangkan Mikan, Aoi, Tsubasa dan Misaki menatapku dengan penuh kebingungan.

"Apa maksudmu, Hotaru-nee?" Tanya Aoi bingung.

Aku membalikkan wajahku menatap Mikan yang sedang menatapku dengan penuh kebingungan.

"Apa maksud ucapanmu itu, Hotaru?" tanyanya.

"Dengar Mikan, seorang ibu bergolongan darah O tidak akan mungkin memiliki anak bergolongan darah AB. Kau yang memiliki golongan darah AB tidak mungkin merupakan anak dari Yuka Azumi yang memiliki golongan darah O. Kau bukan anaknya Mikan, kau dan Natsume-senpai tidaklah sedarah, kau dan dia bukanlah saudara."

Aku bisa melihat Mikan, Aoi, Tsubasa dan juga Misaki sangat terkejut mendengar penjelasanku itu.

Tidak sedarah. Mikan dan Natsume-senpai tidaklah sedarah, apa yang diyakinkan Natsume-senpai selama ini benar, Natsume-senpai dan Mikan bukanlah saudara, mereka tidak memiliki ibu kandung yang sama.

"A-Apa gunanya itu semua sekarang, Hotaru? APA GUNANYA ITU SEMUA SEKARANG?" teriak Mikan tiba-tiba dan mengejutkan kami semua "AKU TIDAK PEDULI ITU SEMUA! AKU TIDAK PEDULI ITU SEMUA SEKARANG! AKU HANYA MAU NATSUME BAIK-BAIK SAJA! AKU HANYA MAU NATSUME KEMBALI PADAKU SAJA!"

Kami semua sama sekali tidak bisa megucapkan sepatah katapun begitu mendengar ucapannya itu, kami hanya bisa melihat Mikan yang terus menangis dan menangis.

"Aku hanya ingin dia baik-baik saja..." ujarnya pelan sambil menangis.

Kenapa semua ini bisa menjadi seperti ini? Kenapa tuhan? Kenapa kau baru memberitahu kami semua kenyataan itu di saat ini? Kenapa kau baru memberitahu Mikan bahwa mereka bukanlah saudara tepat di saat kau ingin memanggil Natsume-senpai darinya? Tidakkah kau berpikir kau terlalu kejam? Tidakkan kau terlalu kejam pada mereka berdua?

Pintu ruang UGD tiba-tiba terbuka dan aku melihat seorang dokter berjalan keluar, tanpa membuang waktu lagi Mikan dan kami semua berlari mendekati dokter itu.

"D-Dokter.. Bagaimana keadaannya? B-Bagaimana keadaan Natsume?" tanya Mikan terbata-bata.

Dokter itu menatap kami semua dengan wajah penuh penyesalan dan menghela napas "Kami semua sudah berusaha melakukan semampu kami, luka yang dialaminya terlalu parah, semuanya sekarang tergantung dirinya dan kami mohon pada kalian semua untuk menyiapkan hati untuk menghadapi kondisi terburuk."

Ucapan dokter itu bagaikan hantaman palu bagi kami semua, berita buruk itu bagaikan mimpi buruk bagi kami semua, kami sama sekali tidak bisa bergerak atau mengucapkan sepatah katapun lagi dan tiba-tiba aku melihat badan Mikan yang ada di depanku itu tiba-tiba ambruk ke bawah.

Rei-nii segera menangkap badan Mikan, aku hanya bisa menatapnya sekarang, wajahnya sangat pucat, wajahnya penuh dengan air mata, dia kehilangan kesadarannya, dia pingsan setelah mendengar berita buruk itu.

Kaname POV

Aku duduk di atas kursi dalam kamarku yang gelap sambil gemetar. Aku mengangkat wajahku menatap jendela kamarku, sudah malam, sudah berapa lama aku duduk di dalam kamarku ini tanpa melakukan apapun.

Ketakutan menyerangku saat aku teringat lagi kejadian tadi pagi. Kejadian itu sangat cepat, saat aku melihat sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan yang luar biasa untuk menabrak Mikan, kakiku membatu, aku sama sekali tidak bisa bergerak sedikitpun dan saat aku mendengar suara Natsume Hyuga yang berteriak untuk membuka tanganku, aku segera membukanya.

Aku melihat dengan kepala mataku sendiri, Natsume Hyuga mendorong badan Mikan sehingga dia terpental ke dalam tanganku, aku melihat dengan kepalaku sendiri Natsume Hyuga tertabrak mobil itu, aku bisa melihat dengan kepala mataku sendiri darah Natsume HYuga yang mengalir membasahi aspal jalan itu, aku bisa melihat sendiri semua kejadian menakutkan itu.

Aku hanya bisa berdiri di tempatku tanpa bisa melakukan apapun saat melihat Mikan yang menangis dan meminta pertolongan, aku hanya bisa berdiri di tempatku saat melihat ambulan mengangkut Natsume Hyuga dan juga Mikan ke rumah sakit, aku hanya bisa berdiri diam saat Luna ditangkap polisi, aku hanya bisa berdiri diam ditempat itu. Semua itu terlalu mengerikan, terlalu menakutkan.

Tiba-tiba pintu kamarku terbuka dan aku juga melihat seseorang menyalakan lampu kamarku. Mataku terbelalak saat melihat siapa yang masuk ke dalam kamarku. Hotaru.

"H-Hotaru..." Panggilku pelan sambil terbata-bata saat melihatnya.

Hotaru sama sekali tidak menjawab apapun, dia hanya berjalan mendekatiku dengan wajah tanpa ekspresi, namun aku bisa melihat kemarahan dan kebencian di matanya.

"Itu semua perbuatanmu bukan?" tanyanya tiba-tiba.

Aku sama sekali tidak mengerti pertanyaannya, aku hanya menatapnya dengan penuh kebingungan.

"Tes DNA yang membuktikan Mikan dan Natsume-senpai itu saudara seibu adalah ulahmu bukan?" tanyanya lagi.

Mataku terbelalak karena terkejut saat mendengar pertanyaannya itu. Tidak mungkin, tidak mungkin, tidak mungkin, dia tidak mungkin mengetahui rahasia itu, tidak mungkin ada seorangpun yang tahu akan kenyataan itu.

"A-Apa maksudmu, H-Hotaru? Aku sama sekali tidak mengerti?" tanyaku kembali berusaha menyembuikan ekspresi terkejutku.

"Aku sudah meminta onii-chanku yang juga merupakan seorang dokter mengeceknya, dan terbukti Mikan dan Natsume-senpai sama sekali tidak memiliki hubungan darah sedikitpun. Hasil tes DNA yang kita lakukan empat bulan yang lalu adalah perbuatanmu bukan? Tes DNA itu dilakukan di rumah sakit milik keluargamu itu, kau telah merekayasa hasil tes DNA itu, bukan?"

Aku sama sekali tidak bisa membalas ucapan Hotaru itu, aku hanya bisa menatap Hotaru dengan wajah pucat pasi.

"Kau kejam sekali, Kaname? Hanya untuk mendapatkan Mikan, kau begiu tega menipu kami semua, hanya untuk mendapatkan Mikan kau begitu tega memisahkan mereka berdua, dan hanya untuk mendapatkan Mikan kau begitu tega memintanya menggugurkan anak dalam kandungannya. Kau hebat sekali Kaname, kau benar-benar tidak berperasaan." Lanjut Hotaru sambil menatapku dengan tajam.

"TIDAK! BUKAN BEGITU! BUKAN BEGITU HOTARU! AKU MELAKUKAN ITU SEMUA KARENA AKU MENCINTAINYA! AKU MELAKUKAN ITU KARENA AKU TIDAK BISA MEMBIARKAN MIKAN MENJADI MILIK NATSUME HYUGA!" teriakku sambil membalas tatapan Hotaru.

Mendengar teriakkanku itu, Hotaru tiba-tiba tersenyum menghinaku "Mencintainya? Kalau kau mencintainya kenapa kau membiarkan dia menderita seperti ini? Kalau kau mencintainya kenapa kau membiarkan dia menanggung penderitaan dan kesedihan seperti itu?"

"Mikan adalah tunanganku, Hotaru. Mikan adalah milikku, dia bukan milik Natsume Hyuga. Aku tidak akan bisa membiarkan dia menjadi milik Natsume Hyuga."

"Natsume Hyuga. Natsume Hyuga. Kurasa kau sama sekali tidak mencintai Mikan seperti yang kau kira. Kau ingin memiliki Mikan hanya karena kau tidak ingin kalah dari Natsume-senpai, kau ingin memiliki Mikan dan bersedia melakukan apapun adalah karena kau iri padanya."

"TIDAK! TIDAK! AKU TIDAK BERPIKIR SEPERTI ITU, CINTAKU PADA MIKAN ITU TULUS, CINTAKU SAMA SEKALI TIDAK KALAH DENGAN CINTA NATSUME HYUGA KEPADA MIKAN!" teriakku penuh kemarahan. Aku tidak iri pada Natsume Hyuga, aku tidak mungkin iri padanya.

"Kalau begitu kenapa kau hanya berdiri mematung saat melihat Luna ingin menabrak Mikan? Kenapa kau sama sekali tidak melakukan apapun saat itu? Aku sudah mendengar bagaimana sebenarnya kecelakaan itu, kaulah yang berdiri paling dekat dengan Mikan, kenapa kau hanya berdiri mematung saat itu? Dan kenapa kau membiarkan Mikan seorang diri di rumah sakit saat Natsume-senpai sedang sekarat?"

Aku terdiam mendengar pertanyaannya itu.

"Kau lebih mementingkan dirimu, Kaname. Kau lebih mementingkan dirimu sendiri dari pada, Mikan. Jangan pernah kau katakan padaku kau mencintai Mikan seperti Natsume-senpai mencintai Mikan."

Aku benar-benar tidak bisa membalas ucapannya itu lagi, aku hanya bisa menatap Hotaru dengan wajah pucat dan penuh ketakutan.

"Kini semua orang sudah tahu, Kaname. Kini kami semua sudah tahu apa yang telah kau lakukan. Ruka, Yoichi, Rei-nii, Tsubasa dan juga Misaki ingin mengikutiku kemari tadi, namun aku melarang mereka sebab aku tahu, mereka pasti akan membunuhmu jika mereka melihatmu sekarang. Selamat Kaname. Kau telah berhasil mengalahkan Natsume Hyuga, kau telah berhasil membuatnya terbaring dengan keadaan sekarat di dalam rumah sakit."

Kata demi kata yang diucapkan Hotaru benar-benar membuatku merasa semakin ketakutan. Tidak. Tidak. Aku tidak pernah berpikir seperti itu, aku tidak pernah mengharapkan ini untuk terjadi, aku tidak pernah menginginkan ini untuk terjadi. Bukan seperti ini, bukan seperti ini.

"Mikan pingsan, dia tidak sadarkan diri sekarang. Jika keadaannya seperti ini, anak dalam kandungannya pasti akan mendapatkan dampak secara tidak langsung. Kuingatkan padamu Kaname, jika terjadi sesuatu terhadap Natsume-senpai, Mikan maupun anak dalam kandungannya itu, jika Nastume-senpai tidak terselamatkan, aku tidak akan melepaskanmu, Kaname. Kami semua tidak akan pernah meepaskanmu." Ujar Hotaru tajam dan berjalan keluar dari kamarku meninggalkanku.

Aku hanya bisa menatap Hotaru tanpa bisa melakukan apapun lagi. Kenapa? Kenapa? Kenapa semuanya menjadi seperti ini?


Akhirnya! tinggal satu chapter lagi, fic ini akan the end (mungkin?)! syukurlah kalau ternyata fic ini bisa berjalan sesuai rencanaku dari awal sampai akhirnya ( Walau sebenarnya aku masih bisa memanjangkannya tapi, sepertinya tidak deh sudah cukup panjang Ha..ha...ha...ha... ^^ ) Dan seperti biasa aku minta pendapat mengenai chapter ini ya?

Kuroichibhineko : Aku akan berusaha deh supaya tamatnya nanti tidak mengecewakanmu ^^

Daiyaki Aoi : Ha..ha..ha... Apa boleh buat deh peran Kaname dan Luna di fic ini memang seperti ini sih! Kurasa banyak yang tidak suka dengan mereka berdua^^ dan terakhir mengenai tales of darkness and light (TODAL) kemarin memang sudah sampai chapter 51 tapi kenapa karang jd 19, itu karena aku memangkas abis-abisan chapternya sebab fic itu masih panjang lagi ceritanya, jika kau tidak memangkasanya bisa-bisa nanti bisa pecah 100 chapter dan aku tidak mau itu -_-" curhat aja gak pa2 kok, aku juga sering jadi silent reader di fandom ini, soal kadang aku bingung mau review apa walau aku penasaran abis dengan ficnya ^^

Yuuto Tamano : Nah menurutmu bagaimana reaksi mereka setelah mengetahui NxM bukanlah saudara dalam keadaan ini? Ya pasti tidak bisa happy2 dong ( gw kejam ya? Rasanya aku tidak pernah membiarkan mereka bahagia ^^ ) Mungkin kau juga sudah dapat hintnya! Ya, Requestmu itu mungkin akan aku ketik di chapter berikutnya dan semoga tidak bakal mengecewakanmu dan juga semoga chapter berikutnya bisa memuaskanmu sebab puzzle terakhir di fic ini akan diketahui di chapter berikutnya^^

Athena Phantomhive : Thx bgt kalau kau suka fic ini ^^ endingnya nanti semoga tidak mengecewakanmu deh! dan untuk usulmu itu akan aku pikirkan^^ thx a lot ya!