Previously, in chapter 24... Nelliel Tu Odelschwanck. Gantenbainne Mosqueda. Cirucci Thunderwitch. Ulquiorra Chifer. Orihime Inoue. Kesemuanya memiliki masa lalu yang saling berhubungan, dan jadi apa mereka masing-masing hari ini?
.
Past, Present, and Future
Chapter 25: The Akatsuki's Counterattack
Present time: Sunday, November 21, 1974.
.
Warning: a bit longer than chapter 23. Enjoy!
.
[Present time]
.
Cobalah untuk tampil serileks mungkin. Jelas ini misi, dan ini membutuhkan usaha keras dalam hal akting. Pasang senyum palsu itu di wajahmu. Meski sulit, jangan membuat Sousuke Aizen mendapat malu.
Oh, tak akan pernah!
"Putraku," Aizen memperkenalkannya.
"Ulquiorra," sambung sang Cuatro Espada, meraih tangan seorang pria separuh baya bersetelan mewah di hadapannya dan menyalaminya dengan sopan.
Berikutnya adalah beberapa basa-basi tentang majunya proyek-proyek real estate Aizen dan pujian-yang-jelas-setengah-hati pada Ulquiorra tentang gelar sarjana hukum-nya dan niatnya untuk meneruskan studi S2 Manajemen di Universidad de Madrid.
Mendampingi Aizen dalam beberapa pesta, satu misi spesial yang hanya diberikan kepada Ulquiorra.
Sebagai pengusaha kaya-raya dan empunya belasan perusahaan yang bertebaran di seluruh Eropa, Aizen sering diundang ke pesta para pengusaha. Ramah-tamah, basa-basi, pamer kekayaan antara konglomerat satu dengan yang lain.
Semua orang yang hadir di pesta semacam itu mengenakan topeng. Mereka saling tertawa dan bercanda, padahal dalam hatinya tertimbun berbagai rencana busuk tentang bagaimana bisa meraup saham sebanyak mungkin dari orang ini dan strategi membuat perusahaan si itu bangkrut karena dia seorang saingan.
Aizen sendiri tidak mengincar uang. Ia sudah amat sangat mapan untuk kira-kira tiga puluh tahun ke depan.
Setelah itu…
"Tentu saja Ulquiorra yang akan meneruskan pekerjaanku," ujar Aizen sebelum melahap sepotong daging domba.
"Ya, tentu!"
"Benar, siapa lagi?"
"Kau mesti belajar banyak hal, Nak."
Selanjutnya pujian setinggi langit untuk kesuksesan-kesuksesan Aizen di bidang bisnis.
"Minuman Anda, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya."
Seorang pramusaji menurunkan gelas-gelas tinggi dengan cekatan, dan terakhir ia meletakkan sebotol sampanye serta sebotol limun.
Ulquiorra mencegat si pramusaji saat ia akan beranjak ke meja lain.
"Aku minta minuman yang tidak manis."
Si pramusaji membungkuk sedikit. "Minuman tidak manis. Kopi?"
Ulquiorra menggeleng. "Bagaimana dengan teh tanpa gula?"
"Teh tanpa gula. Baik, Tuan," ujar pramusaji itu sambil membungkuk lagi.
Ulquiorra hadir di sini semata-mata sebagai ahli waris Aizen; dan, jika diperlukan, body guard-nya. Meski sebetulnya Aizen mampu menjaga dirinya sendiri. Dan selama ini tak pernah terjadi sesuatu pun yang membahayakan Aizen di pesta-pesta.
Satu malam penuh manusia bertopeng akan berlalu beberapa jam lagi, tanpa arti seperti biasanya, bagi Ulquiorra. Selama itu memuaskan Aizen, biarlah. Selama itu membuat sang Ayah mampu menunjukkan kerendahan hatinya untuk memenuhi undangan orang-orang, kejemuannya sendiri menjadi nomor sekian.
Tapi malam itu berbeda.
Bukan hanya karena pestanya diadakan di atas kapal pesiar di lepas pantai timur Spanyol—mereka berangkat dari dermaga Santiago pukul tujuh petang tadi.
Pesta kali ini akan menjadi pesta yang tak terlupakan.
.
.
"Ayah," panggil Ulquiorra saat meja itu sudah kosong dari para kenalan. "Bolehkah aku bertanya padamu?"
"Bertanyalah," sahut Aizen. Ia mengerutkan dahi dan menambahkan dengan cepat, "Tentang apa?"
Ulquiorra diam sejenak sebelum berbisik, "Misi Mardi Gras."
Aizen tersenyum kecil, sedikit sinis, dan ia menjawab, "Kau tahu peraturan peranmu, Ulquiorra."
Ya, Ulquiorra tahu. Aizen pernah berkata, "Menjadi agen dan anak, itu dua hal yang berbeda. Kau tidak boleh membicarakan misi saat kau memanggilku 'Ayah'."
Karena itulah tak satupun orang di Las Noches tahu tentang status Ulquiorra yang sebenarnya selain Ichimaru dan Tousen.
"Tapi aku tahu ke mana arah pertanyaanmu, dan aku akan menjawabnya," lanjut Aizen.
Ulquiorra menatapnya. Menunggu.
Aizen berujar, "Satu dari tiga pertimbangan... selain Sexta, adalah kau, Ulquiorra."
...Hah?
"Aizen Sousuke-san desu ka?"
Panggilan dalam bahasa Jepang itu membuat Aizen dan Ulquiorra menoleh hampir bersamaan—yang disebut belakangan lebih cepat.
Seorang pria kurus di atas kursi roda, berambut hitam panjang dan berwajah tirus, sedang tersenyum ke arah Aizen. Seorang pemuda Asia berdiri di belakang kursi roda itu, sikapnya protektif tapi hormat.
"Ah… Orochimaru-san?" Aizen bersuara.
Orochimaru didorong mendekat. "Akhirnya kita bisa bertemu," ujar pria invalid itu dalam bahasa Spanyol yang sempurna. Ia dan Aizen bersalaman setelah Aizen menyingkirkan gelas sampanyenya.
"Dan ini...?" pandangan Orochimaru jatuh pada Ulquiorra yang memakai setelan rapi berwarna putih di sebelah Aizen.
Ulquiorra menyalami pria tua itu dengan membungkuk sopan sesuai tata krama Jepang, tapi sesungguhnya ia mengawasi Orochimaru dengan waspada.
Orang ini pernah dua kali jadi klien, batinnya. Dan permintaannya yang kedua adalah palsu.
"Oho, kulihat putih adalah warna kesukaanmu, Anak Muda; meski itu menenggelamkan warna kulitmu." Mata tajam Orochimaru seperti dihunjamkan ke mata Ulquiorra. Pria itu mengamatinya dari ujung rambut sampai ujung kaki; menelusuri rambutnya yang legam, kulitnya yang kelewat pucat, mata hijau, dan terutama kemeja hitam di balik setelan putih Ulquiorra serta celana kain yang dipakainya. Kombinasi yang unik.
Cuatro Espada itu balas menatapnya, tidak menanggapi.
"Kebanyakan orang memakai hitam di luar, putih di dalam," Orochimaru melanjutkan. Ia sendiri memakai busana semacam itu. "Lagipula sulit mencari setelan jas berwarna putih. Apa kau punya filosofi tertentu dengan pilihan warnamu?"
Ulquiorra menggeleng.
"Menurutku begini," ujar Orochimaru tanpa diminta. "Hitam di luar; tampak luar manusia yang penuh keburukan. Tapi putih di dalam; jiwa sesungguhnya yang suci tanpa dosa. Itu harapan orang-orang, dan mereka berharap orang lain mengira mereka buruk di luar tapi baik di dalam. Padahal kenyataannya adalah sebaliknya."
"Selera anak muda zaman sekarang selalu tidak terduga," sela Aizen yang mengenakan setelan wol berwarna kelabu.
"Aku tidak tahu kau juga diundang ke sini," ujar Orochimaru, perhatiannya teralih pada Aizen. Ia tak berusaha bersopan santun. Aizen paling sedikit sepuluh tahun lebih muda darinya.
Memang biasanya orang hanya memerhatikan Ulquiorra pada menit pertama setelah ia diperkenalkan—atau memperkenalkan diri—sebagai putra Aizen. Tak pernah ada yang bertanya mengenai "adopsi" karena hal itu sudah jelas baik dari nama, rupa, maupun ras. Orang-orang tahu Aizen masih lajang bahkan di usianya yang hampir kepala lima, tapi tidak pernah ada yang bertanya mengapa. Itu tidak sopan, menyalahi tata krama.
Aizen berujar dengan rendah hati, "Aku dan Frederico pernah bekerja dalam suatu proyek real estate," ia menyebutkan nama sang pemilik pesta. Berita tentang kerjasama itu pernah muncul di surat kabar nasional.
"Dan tentunya proyek itu berhasil, bukan?" seringai Orochimaru, matanya melirik ke kiri. "Aku sudah sering dengar namamu yang terkenal."
Entah kenapa, meski Orochimaru bicara pada Aizen, pandangannya tak pernah lepas dari Ulquiorra.
"Ya... sudah tentu sebagai sesama orang Jepang, sesekali kita perlu juga bekerja sama," sambung Orochimaru.
Ulquiorra menyumpah dalam pikirannya ketika sekali lagi Orochimaru melirik ke arahnya dengan sorot bergairah.
Sepertinya klien Aizen yang satu ini mengidap kelainan orientasi seksual.
Tentu saja Ulquiorra mengenali tatapan mata yang seperti itu. Ia sering mendapatkannya dari para perempuan, berapa pun usia mereka. Ini membuatnya jijik. Seorang nenek ompong beruban bahkan pernah menatapnya seperti itu! Ichimaru memberitahunya bahwa itu yang namanya nafsu seksual. Tak perlu dijelaskan lebih lanjut...
Beberapa dari perempuan itu pernah bicara dengannya dalam misi-misinya, tapi hanya sejauh itu. Ulquiorra tidak pernah bertemu lagi dengan orang yang ditemuinya dalam misi, dan ia memang dilatih untuk tidak lagi mengingat-ingat rupa dan peristiwa yang telah lampau dan memang tidak layak diingat.
Tapi baru kali ini seorang laki-laki melempar pandangan seperti itu padanya.
Ehrgh. Dunia ini memang mengerikan.
Menahan diri untuk tidak merinding, Ulquiorra mengambil salah satu minuman dari seorang pramusaji yang lewat membawa nampan untuk punya alasan membalikkan tubuh.
"Kau tahu... aku kagum sekali dengan hasil kerja orang-orangmu," lanjut Orochimaru.
Ulquiorra memasang telinga sambil berpura-pura bahwa wanita-wanita muda bergaun mahal di seberang ruangan tiba-tiba lebih menarik.
"Maaf, Orochimaru-san. Kita tidak akan membicarakan hal itu di sini," ujar Aizen, nadanya memaksa, tahu persis apa yang akan dibahas.
Orochimaru tersenyum lagi dan merendahkan suaranya. "Aku punya permintaan lain untuk dikerjakan. Aku minta dibawakan..." dia berhenti, lalu berbisik sangat pelan, "...kunci raja."
Ouken?
Hei, hei. Orochimaru sudah memilikinya, 'kan?
Atau jangan-jangan dia sudah tahu...
Ah, tidak mungkin. Akatsuki saja tidak tahu tentang itu. Tapi mereka mungkin sudah menyelidiki banyak hal sejak malam serangan Espada di Pyrenees...
Ah, serangan itu. Sudah hampir sebulan berlalu sejak saat itu. Dan sudah dua belas hari berlalu sejak Kisame Hoshigaki terbangun di Las Noches—demikian yang ia dengar. Karena Ulquiorra sendiri mendapat kecelakaan di hari yang sama, sepulangnya dari Aranjuez setelah melaksanakan misi Revenge of the Snake dari Orochimaru. Ulquiorra baru sadar dua hari setelahnya, dalam sebuah kamar perawatan VIP di rumah sakit di perbatasan Madrid-Aranjuez dengan perban tebal di dadanya. Pengemudi truk yang ditabraknya membawanya ke sana dan menghubungi nomor telepon rumahnya yang ada pada kartu pengenal di dompetnya—Menoly, pengurus rumahnya, yang menerima kabar itu; dan gadis itu langsung melaporkannya pada Aizen.
Menurut keterangan paramedis, beberapa rusuk kiri Ulquiorra retak. Kondisinya waktu itu sangat kritis, karena di rongga dada sebelah kiri terdapat organ vital: jantung. Untunglah retakan itu tidak melukai jantungnya.
Selama perawatan, tidak ada orang rumah sakit yang berkomentar tentang adanya tato angka empat di dada kiri Ulquiorra. 'Tren anak muda zaman sekarang?'
Para fraccion Szayel sudah diutus untuk menyelidiki si pengemudi truk yang menolong Ulquiorra, dan darinya tidak ditemukan hal yang mencurigakan. Cuatro Espada itu sendiri merasa yakin orang itu bukan ancaman—dia ingat wajah orang itu sebelum kesadarannya hilang.
Semua jejak Ulquiorra di rumah sakit itu dihilangkan setelah dia keluar—bahaya sekali kalau informasi diabetes si Cuatro sampai jatuh ke tangan orang yang salah.
Yang agak mengejutkan Ulquiorra, yang menjemputnya di rumah sakit adalah Yammy. Mengapa bukan Ichimaru yang biasanya mengurusi tetek-bengek Ulquiorra dengan rumah sakit?
Rupanya Ichimaru tidak mengalami kemajuan yang signifikan dengan Kisame. Pria bermata sipit itu akhirnya berhasil membuat Kisame diam dan merenung, tapi sepertinya doktrinasinya tidak masuk dalam pikiran sasarannya.
Ulquiorra tidak tahu pasti apakah Aizen tahu hal ini atau tidak. Telah digelar beberapa diskusi tak resmi di kalangan Espada, dan topik utamanya adalah mengenai Kisame Hoshigaki. Semua Espada tahu orang itu adalah target Misi Mardi Gras, dan Yammy sudah menunaikan misi itu. Apa yang akan dilakukan terhadap Kisame, Aizenpun sudah pernah menyampaikannya. Orang itu akan direkrut. Sebagai Espada. Proses perekrutannya akan lain dari yang sudah-sudah, karena Aizen berencana untuk memberinya hukuman sekalian—atas terbunuhnya Luppi.
Waktu itu, tak ada yang bertanya.
Kalau Espada memang dikehendaki hanya ada sepuluh, apa artinya merekrut Kisame sebagai salah satu Espada?
Artinya satu Espada—satu di antara sepuluh dari mereka—akan dikeluarkan. Atau diturunkan menjadi fraccion?
Siapa? Siapa Espada yang akan dikeluarkan?
Dan saat perkembangan misi yang melibatkan Akatsuki semakin kompleks dengan adanya permintaan tambahan, Grimmjow adalah yang paling nekat untuk bertanya. Dan ia mendapatkan upah kenekatannya dengan jawaban menusuk dari Aizen,
"Satu dari tiga pertimbangan: kau, Grimmjow."
Grimmjow terhenyak dan tidak ada yang bertanya lebih lanjut kepada Aizen.
Jadi, Aizen memertimbangkan tiga orang untuk dikeluarkan. Salah satunya Grimmjow. Kenapa, dan siapa dua orang lagi?
Diskusi yang pertama terjadi di ruang penyimpanan anggur. Yammy dan Barragan yang memulainya waktu itu, saat Starrk kebetulan masuk sambil menguap dan ikut bergabung. Ketiga Espada senior itu membicarakan Grimmjow, kelebihan dan kekurangannya, serta saat perekrutannya.
Mereka baru sampai pada bahasan yang seru tentang menebak-nebak latar belakang si Sexta Espada ketika Ulquiorra masuk sebentar untuk mengambilkan wine termahal bagi Aizen.
"Kau tidak bisa melakukannya, eh, Ulquiorra?" Yammy bertanya padanya.
"Melakukan apa?" si Cuatro bertanya balik.
"Korek informasi dari Tuan Aizen," sahut Barragan. "Tentang siapa yang akan digantikan oleh Kisame."
Ulquiorra menatap ketiga seniornya—Yammy kelihatan berharap.
"Aku tidak akan memaksa untuk tahu pemberitahuan yang tidak seharusnya kuketahui," sahut Ulquiorra. "Beliau akan menyampaikannya bila tiba waktunya."
Yammy mengeluh keras.
Starrk menguap. "Sang Abdi yang Sempurna," gumamnya menyindir.
Barragan membentak ketika Ulquiorra melangkah ke pintu, "Kau tidak khawatir bila kau yang akan digantikan?!"
"Tidak mungkin dia, Barragan..." sahut Starrk dengan nada malas.
Ulquiorra mengabaikannya saat itu, tapi pertanyaan Barragan terus terngiang dalam pikirannya.
Diskusi kedua terjadi di ruangan yang sama, dengan anggota lebih banyak: ketiga Espada senior seperti sebelumnya, ditambah Nnoitra dan Zommari.
Pembicaraan jauh lebih seru karena mereka membahas tak hanya Grimmjow, tapi juga Aaroniero, Szayel, Ulquiorra, dan Harribel—orang-orang yang tak hadir dalam diskusi itu.
Menurut mereka, hampir pasti Grimmjow-lah yang akan digantikan. Berhubung dahulu Kisame membunuh Luppi, dan fakta bahwa Luppi adalah Sexta Espada sebelum Grimmjow.
Ulquiorra masuk di saat yang tepat. Mereka baru saja mulai membahas Harribel, setelah sebelumnya membicarakan si Cuatro.
Dari awal, para laki-laki itu hanya menebak-nebak latar belakang. Namun, di topik yang baru ini, Zommari angkat bicara.
"Harribel dan aku dulu tinggal di Perancis..."
Dan saat itu, mulut Zommari yang tak terkendali membeberkan segalanya. Masa lalu. Dihindarinya menceritakan masa lalunya sendiri sedetail mungkin.
"Dengan wajah sebeku danau di musim dingin begitu, dulu dia nyanyi di opera?" komentar Nnoitra setelah Zommari bercerita.
"Pasti perannya hanya menjadi ibu tiri jahat di dongeng-dongeng," komentar Barragan.
"Hoahm... Kalau aku penontonnya, aku pasti mengantuk."
"Ternyata tingkahnya yang sok seksi itu karena dia dulu memang penari gipsi," cibir Nnoitra lagi.
Yammy termenung-menung sebelum berkata, "Kira-kira bisa tidak ya, dia menari striptease?"
Meja itu meledak dalam tawa atas komentar Yammy yang tak terduga itu, bahkan bertahan selama dua menit... hingga satu suara seseorang—yang tidak ikut tertawa—membuat semua yang tertawa berhenti mendadak.
"Aku ingin tahu..." gumam orang itu sepelan desau angin. "Apa itu striptease?"
Ruangan anggur menjadi sunyi senyap. Sampai akhirnya Yammy menepuk-nepuk kepala orang itu dan berkata,
"Kau harus baca lebih banyak buku, Ulquiorra."
.
.
Aizen mendengarkan penjelasan yang superpelan dari Orochimaru tentang misi baru yang dimintanya. Jelas pria tua itu tidak tahu tentang pendengaran Ulquiorra.
Pembantu Orochimaru, atau siapapun dia, tampak canggung sekali berdiri di situ. Ulquiorra tidak berusaha membantu. Cuatro Espada itu menyesap minumannya lalu terbatuk dengan konyol.
Cocktail, batin Ulquiorra seraya mengusap mulutnya dengan punggung tangan, hampir-hampir mengeriutkan wajah saking manisnya minuman itu. Astaga, dia bahkan tidak melihat isi gelas yang diambilnya! "Ayah, sepertinya aku perlu cari minuman lain," ujarnya sambil berdiri lalu membungkuk sekilas. Orochimaru memandangnya ingin tahu.
Ulquiorra segera pergi menjauh sambil berpikir betapa aneh dirinya bertingkah malam ini. Sepertinya akan ada sesuatu yang terjadi...
Ia masih memikirkan jawaban ayahnya. Dua dari tiga; pertama Grimmjow, dan kedua Ulquiorra sendiri. Mereka berdua punya kemungkinan untuk dikeluarkan. Mengapa?
Grimmjow berjasa bagi Tuan Aizen; ia menyimpan informasi yang sangat penting tentang ouken, sesuatu yang diperolehnya dengan keberuntungan, dan tak seorangpun yang bisa mengetahuinya kecuali dari Grimmjow karena sumber informasi yang sebenarnya sudah tidak ada lagi di dunia. Masalahnya, Grimmjow cukup sering melakukan kesalahan dalam misi... Tapi kalau karena itu, kenapa pertimbangan yang pertama bukan Zommari? Zommari itu betul-betul pencetak rekor keluar-masuk ruang hukuman! Mungkin alasan kesalahan dalam misi bukan alasan yang kuat.
Sedangkan dirinya... dia agen yang setia dan bisa dibilang nyaris sempurna. Tapi, apakah Tuan Aizen ingin mengeluarkannya dari Espada agar dirinya tidak memiliki peran ganda dan menjadi putranya saja?
Lalu, siapa pertimbangan yang satu lagi?
.
.
"Mereka berpisah," ujar seseorang bersuara serak pada earpiece di telinganya.
"Tunggu sampai anaknya keluar ruangan," balas yang lain.
Ulquiorra tadi meminta teh tanpa gula pada salah satu pramusaji Negro, dan pramusaji itu berbisik setelah agak jauh, "Dia minta teh tanpa gula. Lagi." Pramusaji itu menyeringai kecil.
Orang lain yang berdiri bersandar di pilar yang terdekat dengan pintu menyahut lewat earpiece, "Kalau begitu, beri dia teh, Zetsu. Di pakaiannya! Alihkan perhatiannya, Kakuzu."
Pramusaji Negro tadi, yang pada kenyataannya adalah Zetsu yang mati-matian belajar bahasa Spanyol kilat demi menyamar seperti ini, mengambil minuman yang diminta dari sisi ruangan dan berjalan ke arah Ulquiorra.
Sementara itu, Kakuzu yang mengenakan sorban dan cadar dan kebetulan berdiri di dekat putra Aizen itu berjalan mendekat. Ia membunyikan ponsel di dalam saku mantelnya dan pura-pura menjawab telepon dengan suara keras dan berbahasa Arab.
Ketika itu, beberapa hal terjadi bersamaan.
Terdengar suara kembang api yang keras di geladak kapal, membuat banyak orang dalam ruangan itu bergumam atau menoleh-noleh dengan semangat.
Ulquiorra melirik jam tangannya. Tidak biasanya kembang api dinyalakan jam segini?
Segera, timbul gelombang manusia yang hendak menuju geladak untuk menonton kembang api.
Saat itulah Kakuzu dengan sengaja mendesak Ulquiorra ke samping, seolah pemuda itu menghalangi jalan si bendahara Akatsuki untuk bicara di luar ruangan.
Ulquiorra buru-buru menyingkir; ia pernah diberi tahu bahwa pengusaha-pengusaha Timur Tengah biasanya mudah tersinggung. Saat itu Zetsu sudah berada di sampingnya dan pura-pura panik karena keributan sesaat itu, lalu gelasnya nyaris terlepas dari pegangan.
Teh itu dengan sukses membasahi bagian depan setelan putih Ulquiorra.
"Ah, maafkan saya, Tuan... " gumam Zetsu, dengan cekatan mengambil kain lap dari sakunya.
Ulquiorra tidak terlihat terganggu. Ia berkata, "Akan saya bersihkan sendiri, tidak apa-apa." Dan ia bergerak ke pintu ruangan besar itu, hendak mencari kamar mandi. Ia merasakan efek dari terlalu banyak minum teh juga, jadi sekalian saja.
Saat tiba di pintu, pemuda itu mengerling sejenak ke arah Aizen, dan mendapati ayah angkatnya itu masih berbincang dengan Orochimaru di meja yang tadi.
Ah, ia hanya akan pergi beberapa menit lalu kembali ke sini. Tuan Aizen akan baik-baik saja.
Tapi kali itu Ulquiorra salah.
Dia tidak menyadari orang-orang di geladak mulai meributkan sesuatu.
.
.
Di kamar mandi laki-laki. Ulquiorra menyelesaikan urusannya dalam dua menit empat puluh satu detik di dalam situ dan sedang mengeringkan bagian depan bajunya ketika seseorang keluar dari salah satu bilik kamar mandi. Ulquiorra sudah akan beranjak ketika ia melihat siapa orang itu lewat bayangan cermin.
Pain, si Ketua Akatsuki bertampang preman dengan rambut oranye dan wajah penuh tindikan. Sepasang netranya tertancap pada pantulan mata Ulquiorra di cermin. Raut wajahnya datar.
Ulquiorra mengerjap, terkejut melihat Pain ada di sini—oh ya, tentu saja ia tahu siapa Pain—tapi ekspresinya tidak berubah. Ia melangkah menjauhi Pain tanpa melepas pandangannya. Baru satu langkah...
...ketika terdengar pintu keluar kamar mandi ditutup pelan dengan bunyi aneh. Dan dari bilik lain dalam kamar mandi, seorang yang lain berjalan keluar. Seorang pemuda bertubuh besar dan kekar serta berambut merah menyala, seseorang yang kau pasti tak ingin macam-macam dengannya.
Ulquiorra tidak merasa takut. "Apa mau kalian?" ujarnya tenang. Tidak ada senjata tajam yang boleh dibawa oleh penumpang, jadi mestinya akan terjadi pertarungan beladiri sebentar lagi.
Hidan meregangkan otot tangannya dengan mengancam. "Kebenaran," desisnya pada Ulquiorra, "tentang Aizen Sousuke."
Ulquiorra masuk ke fase sandiwara. "Kalian ingin memeras ayahku?" tantangnya dengan nada sok, seolah dirinya seorang anak manja yang yakin sekali hal itu tak mungkin terjadi. Ia ingat dengan jelas siapa pria berambut perak dengan kalung jimat Jashin itu: orang yang mengintainya dalam misi Revenge of the Snake di Aranjuez tempo hari.
"Tidak, kami hanya ingin bicara denganmu," sahut Hidan.
"Memangnya apa yang kalian lakukan ini, menyabotase kamar mandi?" dengus Ulquiorra.
"Kau sudah tertipu," sahut Pain. "Ini bukan kamar mandi utama."
Ulquiorra memang menyadari kejanggalan saat ia masuk ke sini dan ternyata inilah alasannya. Tapi orang-orang Akatsuki ini belum boleh tahu identitasnya yang asli, putra Aizen sekaligus Cuatro Espada. Mereka pasti hanya tahu status resminya.
Tapi ia ingin tahu. Apa yang diinginkan Akatsuki dari dirinya? Informasi tentang Tuan Aizen?
Bah. Disiksa sampai mati pun, Ulquiorra tidak akan bicara.
Pemuda itu menerjang maju menuju pintu sambil berusaha menghindari Hidan; tapi orang satu lagi yang bertubuh besar—namanya Juugo, informan Akatsuki—menangkap kerah kemejanya.
Ulquiorra memutar tubuhnya dan hampir saja berhasil menendang Juugo, tapi Pain sudah mencekal tangan kanannya. Ketua Akatsuki itu meraih bahu Ulquiorra dan sudah akan membantingnya ke lantai ketika tinju kiri si Cuatro melayang ke wajahnya.
Pain berkelit dan Ulquiorra terlepas dari pegangannya. Si Cuatro meraih handle pintu keluar dan mendapatinya terkunci.
Sejak kapan...?
ZAATS.
Senjata Hidan terayun ke kepala Ulquiorra yang menghindar tepat waktu.
Ulquiorra menekan tombol pada sonido-nya tapi belum sempat bicara karena Juugo menerjang lagi.
Cukup satu kata disebutkannya lewat sonido, dan Aizen akan tahu apa yang terjadi. Orang-orang Akatsuki ini tidak main-main dan beladiri mereka sangat bagus. Meski dirinya Cuatro Espada, Ulquiorra tahu ia tidak mungkin menang melawan tiga orang petarung dalam ruangan terkunci. Maka ia memilih untuk menyerah pada Akatsuki—setelah menyebutkan kata sakti itu,
"Suigetsu-sama."
Selanjutnya, pura-pura menyerah.
Memainkan peran sebagai anak-pengusaha-jago-beladiri-yang-kalah-level-dengan-Akatsuki.
Ia membiarkan Juugo meninju pelipisnya ketika baru saja berkelit dari senjata Hidan dan tendangan berputar Pain berturut-turut. Tapi tenaga Juugo ternyata bukan main kuatnya. Ulquiorra menabrak dinding dan mengerang kesakitan, sengaja melambatkan reaksinya, dan Juugo dengan cepat memiting kedua tangannya. Kuat-kuat. Bahkan Ulquiorra tidak perlu berakting untuk benar-benar mengaduh.
Juugo membuatnya berlutut di lantai marmer itu, di hadapan Pain.
"Kalian akan menyesal setelah ini," sembur Ulquiorra sambil meronta, berharap semoga aktingnya cukup meyakinkan. Ia menduga-duga kemungkinan apa yang akan dilakukan Akatsuki pada putra angkat Aizen ini. Mereka masih di atas kapal pesiar di laut lepas, yang benar saja! Meskipun ini kamar mandi cadangan atau apapun itu, tidak selamanya mereka bisa terus di sini. Akankah orang-orang ini menculiknya untuk mengganggu dan memeras Aizen?
Tidak, ini bukan seperti dulu ketika Ulquiorra masih lemah dan merupakan titik rawan Aizen. Lawannya ini adalah Akatsuki, dan Ulquiorra sepertinya tahu apa yang mereka inginkan. Kejatuhan Aizen. Mereka ingin membalas dendam pada Espada atas apa yang terjadi pada Kisame. Bahkan jika mereka tahu yang sebenarnya dan satu hal lain lagi...
Tapi baik dirinya maupun ayah angkatnya tidak menduga Akatsuki akan menyerangnya di tempat ini! Pasukan Espada memang bersiap di Madrid, siaga akan serangan Akatsuki yang sudah ditebak; tapi di sini, ia dan Aizen hanya berdua.
Sialan, di pesta yang hanya berlangsung di malam hari ini, ia membiarkan kesempatan menganga lebar bagi Akatsuki.
"Kalau ayahmu memang sayang padamu, dia pasti tak akan tinggal diam," ujar Pain.
"Kalian tidak takut jika aku berteriak?" tantang Ulquiorra, mendongak menatap Pain.
"Coba saja," sahut Hidan, menyeringai. Ruangan itu sudah dilapisi peredam suara.
Berlagak cerdik, Ulquiorra menggeleng. "Kalian memang penculik yang penuh persiapan."
"Terima kasih, Nak," dengus Hidan, kesal karena Ulquiorra tidak memakan umpannya.
Oh, meskipun hanya akting, berteriak-teriak tak jelas meminta tolong sama sekali tidak kedengaran seperti Ulquiorra Chifer.
.
.
Sebetulnya, tidak ada kamar mandi yang dimanipulasi. Pain menutupi yang sesungguhnya: bahwa ini memang kamar mandi utama, dan di depan pintu Zetsu bersiaga untuk mengatakan pada para tamu laki-laki yang ingin masuk bahwa ada sedikit masalah dengan salah satu kloset dan airnya bocor ke mana-mana sambil memberitahu letak kamar mandi lain yang ada di lambung kapal.
Dengan cepat, Pain mengamati pemuda yang berstatus putra angkat Aizen itu. Pemuda itu jelas bukan orang Asia; tapi juga bukan pribumi Spanyol yang berkulit cokelat. Dia seumuran Itachi atau Deidara, atau lebih muda lagi.
.
.
Dalam beberapa detik saja, Ulquiorra merencanakan untuk melumpuhkan ketiga orang ini saat mereka akan berpindah nanti—oh ya, mereka pasti berpindah. Ia akan dibawa ke suatu tempat di mana mereka akan mencoba mengorek sesuatu tentang Aizen darinya. Mudah saja baginya melakukan itu meski kedua tangannya tak bisa digunakan. Asalkan ia punya celah untuk keluar, bukan seperti di toilet yang terkunci ini!
Tapi Pain sudah memperkirakan hal itu; dan sementara Ulquiorra berpikir dalam posisi berlutut, ia memberi tanda pada Juugo.
Akatsuki tentu tidak akan membiarkan tawanan mereka dibawa dalam keadaan sadar.
Ulquiorra baru saja menengadah untuk bicara pada Pain ketika didengarnya Juugo bergerak di belakangnya. Ia tidak cukup cepat untuk berbuat apa-apa dan posisi Juugo sangat menguntungkan.
Yang selanjutnya dirasakan Ulquiorra adalah satu tekanan yang cukup keras di belakang lehernya dan satu lagi di bawah bahu kirinya. Lalu semuanya gelap.
.
.
Di ruangan pesta, Orochimaru masih membahas rencana-rencana khayalannya bersama Aizen yang sesekali menyapu pandang seluruh ruangan.
Anggur-anggur kelas atas, yang agak terlambat sebetulnya, sudah mulai dibawa ke ruangan. Sekarang sudah hampir pukul dua belas malam.
Ulquiorra sudah keluar selama empat puluh enam menit. Kalau dia memang mendapat masalah pencernaan di kamar mandi, mestinya tidak selama ini.
Sementara Orochimaru terus berbicara, Aizen mengutak-atik sonido di tangan kirinya. Ia mengetuk tiga kali. Tidak ada balasan.
"Jam tanganmu bagus," ujar Orochimaru. "Boleh kulihat?" Tanpa menunggu jawaban si empunya, ia membungkuk mendekat.
"Digital?" tanyanya. Aizen mengiyakan.
"Boleh kutahu di mana kau membelinya?"
"Oh, ini sebuah hadiah," jawab Aizen menghindar. "Dari seorang rekan di Switzerland." Swiss memang terkenal dengan perusahaan jam.
"Jam digital belum banyak diproduksi," Orochimaru berusaha mengorek. "Aku sendiri sedang mengembangkan jam tangan yang bisa merekam suara. Kimimaro," ia memanggil pembantunya. "Kau bawa benda itu?"
Kimimaro menyerahkan sebuah kotak kulit.
"Mungkin kau tertarik, Aizen-san?"
"Oh, tidak, terima kasih. Buat apa aku punya jam yang bisa merekam? Aku tak pandai menyanyi."
Kedua pria itu tertawa terhormat, tidak menyadari adanya sedikit kericuhan di seberang ruangan.
"Mungkin untuk putramu?" ujar Orochimaru lagi. "Kubayangkan ia sering menyanyi di gereja."
"Oh tidak, dia juga tak bisa menyanyi," sahut Aizen sambil berpikir, di mana anak itu sekarang. Tak terpikir olehnya untuk mengoreksi Orochimaru tentang kepercayaan mereka.
"Ngomong-ngomong, ke mana dia? Tadi dia bilang ingin mencari minuman lain," tanya Orochimaru.
"Tadi kulihat seorang pramusaji menumpahkan minuman ke bajunya, dan dia keluar sejak itu," jawab Aizen... dan seketika ia menyadari sebuah kemungkinan.
Ada yang tengah mengincar mereka!
Tidak. Lebih tepatnya, ada yang mengincar Ulquiorra. Aizen bukanlah target mereka.
"Oho, dia tidak suka minum cocktail, ya?" Orochimaru mencecapkan bibir.
.
.
"Untung sekali anggur-anggur itu datang lebih cepat," ujar kepala karyawan dapur pada dirinya sendiri sembari mengecek isi panci superbesar yang mulai mendidih. "Kita bisa jadikan yang ini langganan baru." Dia memanggil bawahannya. "Rodriguez! Dari mana kau mendapatkan mereka?"
Rodriguez menyahut dari balik tumpukan piring kotor, "Mantan teman kerjaku di rumah makan El Madrid yang memberitahuku, Señor." Dia berpikir sebentar. "Dia kelahiran Valencia. Sepertinya pabrik anggur yang ini ada di Valencia, cukup dekat, bukan?"
"Ya, mungkin..." sahut si kepala.
Sementara itu, di pabrik anggur yang dimaksud, yang memang berada di Valencia, sang empunya usaha tengah merenung.
"Untuk apa, sih, penyembah Jashin itu menyewa kapal dan tong anggurku ke dermaga Santiago hari ini? Ah, masa bodoh. Yang penting dia membayarku."
Di kota yang sama, di sebuah studio film dengan menara Eiffel sebagai salah satu miniaturnya, sang pemilik tengah sibuk. Ia dan keluarganya akan berangkat ke London pagi ini, meninggalkan studionya yang disewa tetangga sebelah selama dua hari. Pemilik studio itu tidak berpikir untuk apa pria tua itu menyewa studio film tanpa meminjam properti atau kamera sama sekali, tapi dia tidak peduli. Yang penting dia dibayar.
Kembali ke kapal pesiar di lepas pantai timur, sang penyelenggara pesta, Frederico dos Santos, sedang menghitung lembaran peseta di dalam kamarnya. Dia senang mendapat pemasukan tambahan dari seorang pengusaha kaya di Valencia yang hanya dia tahu namanya tapi tidak kenal. Pengusaha sound & decoration itu menjadi donatur terbesar dalam proyeknya yang terbaru, dan Frederico mengundangnya dalam pesta ini.
Di geladak kapal, seorang ahli kembang api tengah mengumpulkan massa untuk menyaksikan pertunjukannya. Dia diminta oleh sesama pecinta petasan untuk sesekali menciptakan seni dalam pesta di atas kapal. "Pasti indah, un," demikian kata orang yang memintanya dan membayarnya. Si ahli kembang api cukup menikmatinya, dan dia juga bahagia karena mendapat bonus di akhir pekan.
Di bawah, di lambung kapal, Rodriguez merasa sedih. Dia tidak tahu seperti apa karyawan senior biasanya, karena dia orang baru, tapi malam ini semua orang bertingkah terlalu kasar. Memang mereka pandai-pandai memasak dan cekatan di ruang pesta di atas, tapi di bawah sini semua ucapan kotor mereka keluar—untungnya sang kepala karyawan tidak ada. Rodriguez yang malang tidak tahu bahwa karyawan-karyawan yang lain memang preman sehari-hari, orang-orang jalanan yang berbakat tapi tidak dianggap, yang tertangkap oleh jaringan pedagang gelap internasional dan dijadikan informan lokal serta pion yang bermanfaat seperti sekarang ini.
.
.
Perahu barang yang penuh tong anggur itu terombang-ambing sedikit saat Hidan akan menaikinya.
"Jangan lompat mendadak," ujar Pain yang sudah ada di perahu. Di dalam perahu itu juga sudah ada Kakuzu, Zetsu, dan tong-tong anggur kosong... kecuali satu tong yang berada di tengah, di mana ada satu orang lagi yang tergeletak di dalamnya, tak sadarkan diri, lengan dan kakinya terikat kuat, mata serta mulutnya ditutup.
Mereka ada di sisi kanan kapal pesiar itu, siap kabur sebagai agen pengirim anggur yang sudah menyelesaikan tugasnya.
Juugo tetap tinggal di kapal sampai pesta usai untuk mengawasi Aizen; dan ia serta Kimimaro yang akan membawa Orochimaru-sama pulang ke Valencia nanti.
Pemuda bertubuh besar itu, Juugo, mahir sekali bermain dengan tali dan letak chakra pada tubuh manusia.
.
.
"Aizen selalu datang dalam pesta-pesta," ujar Orochimaru, membacakan isi kertas yang diperolehnya dari informannya yang terpercaya. "Dan dia selalu membawa serta anak angkatnya, anak laki-laki. Mereka tidak pernah membawa body guard."
Sepertinya Pain tahu mengapa demikian. Mungkin anak angkat Aizen itu sudah berperan sebagai body guard—berarti beladirinya cukup bagus, atau dia bisa menyelundupkan senjata ke ruang pesta tanpa ketahuan.
Dan mungkin saja—kemungkinan besar, malah—anak itu tahu sesuatu.
"Dalam waktu dekat akan diadakan pesta oleh Frederico dos Santos di lepas pantai timur, dekat Valencia. Dia pasti mengundang Aizen. Tanggal 21 November. Pesta di kapal pesiar."
Peluang bagus!
Anak angkat Aizen—target Akatsuki dalam serangan balasan ini.
Dengan luasnya jaringan Akatsuki ditambah kuasa Orochimaru atas uang, mereka mendapatkan lebih banyak bantuan untuk bisa menculik anak itu.
.
.
Butuh usaha keras dan waktu yang cukup lama bagi seorang Aizen Sousuke untuk melepaskan diri dari Orochimaru, yang suka sekali mengobrol, tanpa bantuan siapapun.
Ia tidak menemukan Ulquiorra di kamar mandi.
Tidak ada respon pada alat komunikasinya.
Ada dua kemungkinan yang terpikirkan oleh Aizen, yang kini bersandar di dek kapal. Pertama, minuman tumpah tadi mengenai sonido Ulquiorra hingga rusak dan anak itu sekarang sedang mencari-cari dirinya di ruang pesta. Kedua, yang jauh lebih mungkin terjadi meski tampaknya mustahil, Ulquiorra menemui masalah serius.
Karena Aizen mengambil kemungkinan kedua, terbuka tiga kemungkinan berikutnya tentang masalah serius itu: Pertama, Ulquiorra bertemu seseorang yang pernah ditemuinya dalam misi dan orang itu membuat keributan—yang ini tidak mungkin, karena petugas-petugas keamanan di situ tenang-tenang saja. Kedua, ada pihak berwajib yang memburu Espada, yang mungkin memiliki saksi saat Ulquiorra menjalankan misi; peluang satu ini lebih besar. Ketiga... entah bagaimana caranya, Akatsuki memutuskan untuk melakukan serangan balasan di pesta ini.
Dan bagai disambar petir, Aizen menyadari bahwa yang terakhir itulah yang sedang terjadi. Dengan adanya Orochimaru, sorot mata anehnya dan semua ocehan tak jelasnya tentang jam itu...
Dibukanya pager dan dengan cepat mengirim pesan pada Ichimaru di Las Noches.
Dahinya berkerut ketika pesan itu tidak dapat terkirim.
Ia mengedarkan pandangan, mencari orang lain yang mungkin sedang memegang piranti komunikasi. Dan ia menemukan alasannya.
Rupanya inilah yang diributkan segelintir orang dari tadi. Sinyal komunikasi di atas kapal ini sedang kacau. Karena sesuatu.
Dan Aizen terlambat menyadarinya.
"Ada masalah, Aizen-san?" suara Orochimaru yang tanpa dosa terdengar di belakangnya.
Cih.
.
.
Ulquiorra siuman dan merasakan dirinya terbaring di atas selapis logam, penglihatannya dihalangi oleh kain tebal. Di mulutnya terasa kain kasar yang agak bau. Kedua tangannya terikat di depan; sangat kaku dan kulitnya terasa teriris oleh... mungkin tali pancing, yang tipis tapi kuat. Siapapun yang mengikatnya seperti ini, orang itu kejam dan berpengalaman karena ia menyatukan kesepuluh jari Ulquiorra ke telapak tangan lalu melingkarkan tali yang mengiris itu berkali-kali hingga seujung jaripun sama sekali tak bisa digerakkan. Orang itu tidak peduli apakah tangan tawanannya bakalan berdarah atau tidak. Pergelangan kaki Ulquiorra juga diikat oleh tali yang sama yang terasa menembus kain celana panjangnya.
"Pain, dia bangun," sebuah suara bicara. Itu suara si pramusaji Negro yang menumpahkan teh ke bajunya tadi.
Menajamkan telinganya, Ulquiorra menduga bahwa dirinya dibawa dengan karavan Akatsuki yang butut itu. Di atas jalan raya. Mereka sudah tidak di kapal?
Seseorang mendudukkannya dan mengangkat kepalanya dengan kelemahlembutan yang menakjubkan.
"Kami perlu bicara denganmu." Itu suara Pain, yang kemudian melepaskan sumbat mulutnya.
"Paling tidak kau membiarkanku melihat wajahmu," sahut Ulquiorra begitu bisa bicara, menahan diri untuk tidak meludah atas rasa menjijikkan kain penyumpal itu.
Tanpa diduga, Pain memenuhi permintaannya. Sang Ketua Akatsuki melepas kain itu.
Apa-apaan ini? Kenapa dirinya diperlakukan demikian baik? Mereka tidak menghajarnya untuk membuatnya bicara...? Ditatapnya si ketua dengan pikiran bingung yang tak tampak di wajahnya.
"Kami tidak bermaksud menyakitimu tadi," ujar Pain. "Kami ingin menyampaikan sesuatu padamu."
"Dan, hal apa itu?" Ulquiorra yang masih terikat erat dan terduduk di lantai menyipitkan mata. Kalau mereka mau, ia akan meneruskan sandiwara ini.
Apa yang dilakukan Juugo terhadapnya, dia tak tahu. Ia tidak merasa seperti habis dibius, tapi jelas ia telah kehilangan kesadarannya selama beberapa saat.
Ulquiorra tidak tahu apa saja yang dibicarakan keempat Akatsuki itu selama ia pingsan tadi.
.
Satu hal yang sangat mencurigakan, Ulquiorra langsung bicara dalam bahasa Jepang saat melihat Pain. Mereka memang menduga anak Aizen itu pasti diajari bahasa asal sang Ayah, tapi wajah Pain yang dipenuhi tindikan tidak mudah untuk langsung dikenali sebagai orang Jepang.
Hidan berkata, "Anak itu tahu sesuatu."
Pain menanggapi, "Ya, aku bisa melihatnya."
"Karakternya yang sebenarnya tidak seperti ini, kelakuannya tadi hanya pura-pura," ujar Hidan lagi.
"Ya. Juugo bilang padaku, otot-otot anak itu tidak setegang seharusnya ketika ia ditundukkan. Dia pikir dia punya peluang meloloskan diri. Artinya, dia mungkin punya kemampuan bela diri yang lebih baik dari yang ditunjukkannya tadi," Pain menyahut sambil mengamati jam tangan yang tadinya terpasang di tangan kiri Ulquiorra. Juugo mengambilnya saat mengikat si Espada; informan itu juga sudah menggeledah tawanan mereka dan tidak menemukan apapun.
Pesan suara Ulquiorra tidak pernah sampai pada Aizen. Kamar mandi tempat pertarungan mereka barusan, selain diberi pelapis kedap suara, juga diberi penangkal sinyal. Dan segera setelah Ulquiorra tertangkap, penangkal-penangkal sinyal yang sudah dipasang di seluruh penjuru kapal diaktifkan.
"Ayahnya pasti ingin anak itu bisa menjaga dirinya sendiri," komentar Kakuzu.
Hidan bergumam, "Pain... aku punya dugaan, tapi itu tidak mungkin."
"Apa dugaanmu?"
"Anak ini... dia salah satu agen Aizen juga," Hidan berujar lirih.
"Espada?" seloroh Kakuzu. Ia menggeleng. "Anaknya sendiri?"
"Kalian tahu? Aku berpikir mengenai kemungkinan yang sama saat melihatnya pertama kali," ujar Zetsu. "Memang agak lain, tapi ia mirip pria bernama Grante Esteban di Zaragoza."
"Mungkin hanya kebetulan," bantah Kakuzu.
"Jarang-jarang kau menemui warna kulit seperti itu!" Zetsu bersikeras.
"Body paint?" Kakuzu menyebutkan rahasia kulit putih-hitam Zetsu.
"Hidan menyebutnya 'agen', dan itu bisa jadi benar; Aizen mestinya punya banyak agen lain, dan belum tentu anak ini anggota Espada," ujar Pain setengah merenung.
"...Tapi aku melihatnya di misi palsu Orochimaru. Dia ada di Aranjuez, meski waktu itu dia memakai masker dan kacamata baca," papar Hidan. "Tapi memang bisa saja Aizen memang punya agen lain di luar Espada."
"Tapi dia putranya!" sergah Kakuzu, mencoba memakai akal sehat. "Masa dia mau membahayakan penerusnya sendiri, meski bukan darah dagingnya?"
"Siapa yang tahu bagaimana perasaan Aizen pada anak angkatnya ini?" Hidan mendebatnya.
"Mungkin tugas anak ini hanya memata-matai orang untuk kepentingan Aizen," gumam Pain. "Dan kalau benar begitu, dia pasti tahu semua kegiatan ayahnya, termasuk keberadaan Espada."
"Masalahnya adalah, bagaimana kita mengorek informasi darinya?" gumam Zetsu.
"Penyiksaan?" usul Hidan dengan seringai menakutkan. "Itu cara paling efektif dalam interogasi. Setahuku, badan-badan intelijen di negara manapun akan melakukannya demi informasi rahasia."
Pain mengerutkan dahi, tanda ia menolak usul itu. "Menurutmu dia akan bicara? Menurutku tidak." Sebelum Hidan bisa membantah, Pain meneruskan, "Aku bisa melihat ada sesuatu yang lain dalam diri anak ini. Caranya memperlakukan Aizen... begitu hormat."
"Tidak berarti dia tidak akan buka mulut!" seru Hidan. "Anak ini pasti lebih mementingkan dirinya daripada ayahnya. Dia akan lebih memilih bicara daripada disiksa."
"Dari mana kau bisa yakin?" tantang Pain.
"Kau bisa lihat betapa sok kelakuannya tadi..." mendadak Hidan terdiam. Ya, bukankah yang mereka lihat tadi hanya akting? Mereka tidak tahu apa-apa tentang karakter anak itu.
"Oh, andai Sasori ada di sini. Dia akan dengan mudah membuat anak itu bicara!" keluh Kakuzu.
"Kita sekap dia sampai Sasori datang ke sini?" usul Zetsu.
"Bagaimana kalau dia kabur sebelum itu?" bantah Hidan.
"Lagipula, itu terlalu buang-buang waktu," ujar Kakuzu.
"Hei. Kita bisa menyekapnya tanpa memberinya makanan dan minuman!" usul Hidan.
"Hidan. Itu sama saja dengan menyiksanya—meski pelan-pelan," sahut Kakuzu.
"Kita tidak memerlukan Sasori," ujar Pain, matanya mendadak berbinar. "Hidan, kau tadi bilang, anak itu mengenakan kacamata baca sewaktu di Aranjuez?"
Hidan mengiyakan.
Kalimat Pain selanjutnya sungguh mengejutkan. "Hmm, tapi... tunggu dulu. Mungkin usul Hidan tadi bisa dicoba."
.
"Kami ingin menyampaikan sesuatu padamu."
"Dan, hal apa itu?"
Pain menanggapi Ulquiorra, "Bahwa ayahmu adalah seorang penjahat yang diburu seluruh dunia."
"...Oh ya, bukankah predikat 'terkenal di seluruh dunia' sungguh mengesankan?"
Ya. Ulquiorra membiarkan para Akatsuki ini tahu bahwa ia tahu apa saja pekerjaan ayahnya, untuk berjaga-jaga jika kelihatannya ia tahu terlalu banyak untuk seorang anak yang polos. Dilihatnya Pain tersenyum kecil dan memanggil Hidan.
Ulquiorra pura-pura terkesiap dan melotot saat dilihatnya penganut Jashin itu menyalakan sebuah stungun. Hal ini sudah diduganya. Menyiksa tawanan untuk bicara, cara klasik! Tapi cara itu tidak akan berhasil padanya. Ia bergerak sedikit, seolah takut pada benda itu, dan bergumam sambil memalingkan muka, "Itu tidak akan berhasil."
"Menurutmu begitu, Nak?" seru Hidan, berjongkok di depannya. Dengan kasar dihadapkannya wajah Ulquiorra ke depan dan bicara lima senti jaraknya dari hidung pemuda itu. "Ini akan sedikit sakit," desis Hidan sambil menyeringai, mengarahkan stungun-nya ke perut lawan bicaranya.
Ulquiorra sudah mempersiapkan diri untuk mendapat sengatan listrik, dan ia memejamkan mata. Stungun itu mendengung pelan dan semakin mendekati tubuhnya.
Tiba-tiba seseorang menepuk dahinya, dan kedua mata Ulquiorra terbelalak membuka. Heran, tingkah para Akatsuki ini tidak ada yang bisa ditebak!
Rupanya Hidan sendiri yang melakukannya. Ia menyeringai lebar, tapi bukan psycho seperti milik Yammy yang barusan diperlihatkannya, melainkan seringai kemenangan.
"Ha! Akhirnya kau menunjukkan wajah aslimu, Nak."
Dan Ulquiorra menyumpah dalam pikirannya. Ia telah salah langkah. Seharusnya ia lebih sering berlatih berteriak-teriak tak jelas untuk lebih meyakinkan aktingnya yang ketakutan. Otaknya bekerja secepat kilat.
"Kau memang bukan anak biasa dari seorang pengusaha properti biasa, iya 'kan?" Hidan terbahak. "Atau kau hanya seorang masokis?"
"Ayah sering melakukannya padaku," gumam Ulquiorra, menghindari menatap Hidan.
"Oh ya? Ayah macam apa dia itu, menyetrum anaknya sendiri?" Hidan pura-pura meludah jijik.
"Dia orang yang disiplin." Ulquiorra mengangkat bahu.
"Berarti kau tidak sedisiplin yang dia mau?" Hidan mengolok-olok.
"Ya. Dia sering menghukumku."
"Dia memang kejam, eh?" dengus Hidan.
"...Ya, dia memang begitu." Ulquiorra mengernyit tak kentara; ia harus hati-hati bicara pada orang ini, yang pernah mengintai dirinya di Aranjuez.
"Kau pasti sengsara hidup bersamanya, kutebak," lanjut Hidan.
"Dia satu-satunya orang yang kupunya," jawab Ulquiorra, jujur sepenuhnya, berusaha kedengaran dirinya patut dikasihani karena tak punya pilihan lain.
"Setiap kata yang kauucapkan adalah kebohongan," sergah Pain.
Ulquiorra menatapnya dengan sorot yang agak berbeda; seperti sedikit tersinggung. Atau hanya bayangan Pain saja? Sorot itu ada di mata hijau pemuda itu dalam sepersekian detik.
"Siapa namamu?" Pain menanyainya.
"Kukira kalian sudah tahu."
"Tidak, kami belum tahu."
"Bagaimana kalau aku tidak mau memberi tahu kalian?"
"Berhentilah bertanya balik. Kau hanya perlu menjawab."
"Guaravando Miguel," sahut Ulquiorra.
Pain menggeleng. Ia tahu Ulquiorra berdusta; pandangan matanya tidak berkeliaran dan ia tahan menatap mata Pain dalam waktu yang lama, tapi Pain tetap tahu—orang ini sudah dilatih untuk sering berbohong.
"Sepertinya kau suka sekali pada nama samaran dengan huruf 'G', bukan?" Zetsu menimbrung, mencoba memancing. "Señor Grante Esteban?"
Ulquiorra bungkam.
Zetsu melempar pandang 'Aku benar, 'kan!' ke arah Pain, yang tetap bicara,
"Kau bisa saja memilih membisu di depan kami, tapi kami tahu ayahmu akan mencarimu. Mungkin saja saat ini ia sedang panik karena kau menghilang."
"Dia tidak akan panik."
"Kenapa begitu?"
Hening lagi.
"Tiap detik jeda antara jawabanmu dengan pertanyaanku, artinya kebohonganmu semakin besar," Pain berkata dengan datar, mengeluarkan jam antik dari sakunya.
Ulquiorra menjawab cepat, "Biasanya aku mampu menjaga diri." Jawaban jujur.
"'Biasanya?' Memangnya apa pekerjaanmu?"
"Mahasiswa S2." Setengah jujur, ia memang sedang merencanakan hal itu.
"Di universitas mana?"
"Universidad de Madrid." Tidak salah.
"Jadi kau tinggal di Madrid?"
"...Tidak." Kebohongan.
"Di mana rumahmu?"
Ulquiorra menjawab sebelum sempat berpikir, "Aranjuez." Aduh.
Didengarnya Hidan mendengus.
"Seperti apa kota itu?"
Berpikir. "Kering, tak banyak taman." Ulquiorra tidak sempat mengamati lingkungan itu.
"Baru-baru ini kau ke sana 'kan, Hidan?" Mata Pain tetap mengawasi Ulquiorra yang tidak menunjukkan reaksi.
"Aku bertemu dengannya di sana," sahut Hidan, juga mengamati reaksi Ulquiorra.
Ulquiorra diam.
"Apa yang dilakukannya saat kau bertemu dia di Aranjuez, Hidan?"
"Berkeliaran," jawab Hidan.
"Ngapain kau berkeliaran di Aranjuez hari itu?" tanya Pain pada Ulquiorra.
"Aku tidak ingat pernah melihat orang itu," Ulquiorra mengedikkan kepala ke arah Hidan, menghindar menjawab.
Pain mengabaikannya. "Pernahkah kau mendengar nama Gamuza?"
"Itu kata bahasa Spanyol yang berarti antelop."
"Sejak kapan kau bisa berbahasa Jepang?"
Lama-lama ini seperti wawancara di acara televisi murahan. "Sejak aku masih kecil."
"Ayahmu yang mengajarimu?"
"Ya."
"Pernahkah kau pergi ke Jepang?"
Sedetik terdiam. "Satu kali."
"Pesiar ke mana saja?"
Ulquiorra menyebutkan beberapa tempat di Jepang. Aneh. Pertanyaan-pertanyaan ini mengarah ke mana sebetulnya?
"Berapa umurmu sekarang?"
"Dua puluh satu."
"Apa kau mengenali tulisan ini?" Pain menyodorkan selembar kartu lusuh padanya. Itu kartu nama Grante Esteban yang sudah ditambahi tulisan tangan Zetsu.
Pain memegang kartu itu lima belas sentimeter dari mata pemuda itu.
"Apa yang tertulis di sini?"
Ulquiorra menjauhkan kepalanya nyaris tanpa sadar karena tulisan itu sangat kabur baginya di jarak sedekat itu, dan tepat saat ia menyadari kesalahannya lagi-lagi Hidan bersorak penuh kemenangan,
"Hipermetropi! Aku benar, 'kan?"
Sang Cuatro Espada berusaha tetap tenang meski sadar dirinya telah ditipu berkali-kali. Ia menunduk, diam.
Tiba-tiba ia merasa luar biasa capek, entah mengapa. Ia menelan ludah dan tenggorokannya terasa sangat kering. Sudah berapa jam ia pingsan? Kapan terakhir kalinya ia minum?
Anak ini punya pengendalian diri yang luar biasa, batin Pain. Biasanya orang akan menunjukkan indikasi kecil di wajah atau mata saat sebuah rahasianya terbongkar. Tapi anak ini, emosinya seperti mati!
"Sepertinya kawan kita mulai lelah, Hidan," ujar si Ketua Akatsuki. Efek samping totokan pelumpuh yang dilancarkan oleh Juugo di atas kapal tadi mungkin sudah menunjukkan diri, karena dilihatnya sikap duduk Ulquiorra tidak setegak sebelumnya. "Kita biarkan dia beristirahat. Perjalanan masih jauh."
Dan Hidan memasang kembali kain tebal itu di sekeliling kepala Ulquiorra, yang ekspresinya tetap tak berubah.
Sebelum matanya ditutup, Ulquiorra tahu hari sudah pagi. Apa yang dilakukan Aizen sekarang?
.
.
Selama berhari-hari Akatsuki sudah bergerak bersama informan-informan lokal. Menelusuri pemesanan wine, senjata, atau apapun atas nama Aizen Sousuke. Mereka mendapatkan beberapa alamat pemesan, tapi kebanyakan dari rumah-rumah itu sudah tak berpenghuni lagi. Satu alamat di Madrid adalah rumah seorang kakek tua bersama cucunya, dan ketika malam itu Itachi dan Deidara menyelinap seperti pencuri masuk ke rumah itu, mereka menemukan Barragan dan hampir ketahuan oleh si Segunda Espada.
Akhirnya, mereka berada di jalan yang benar!
Dan dari hasil penyadapan Kabuto di Zaragoza dan manipulasi sinyal pager Aizen di atas kapal pesiar, mereka berdua bisa tahu letak pasti markas besar Espada. Alat Orochimaru yang lain, yakni jam tangan yang bisa merekam suara itu, sebenarnya adalah pendeteksi gelombang sinyal. Karena letaknya dekat dengan pager Aizen, maka yang dideteksi adalah sinyal pager tersebut. Alat itu bisa mencari ke arah mana sinyal pager itu dikirimkan lalu memotongnya di tengah jalan sehingga tidak sampai ke tujuan.
Dan tujuan dari sinyal itu adalah rumah Barragan.
Dan ya, melalui transmisi alat seperti satelit yang disamarkan menjadi antena parabola yang dipasang Orochimaru di tiap batas kota Madrid, dapat dikonfirmasikan letak pasti markas itu. Seseorang berkendara motor baru saja meninggalkan area rumah Barragan dan langsung masuk jalan tol menuju Valencia. Tak diragukan lagi, Aizen sudah menyadari ke mana Ulquiorra dibawa.
Itachi dan Deidara tidak melihat motor yang pergi barusan padahal mereka berjaga di sekitar rumah Barragan; tapi hal itu terlacak oleh alat Orochimaru. Jadi dari mana motor itu keluar dan pergi?
Deidara mencoba sesuatu. Dia melemparkan mercon ke halaman rumah Barragan dan merunduk di balik semak.
"Apa yang kaulakukan?" Itachi heran, tingkah Deidara seperti anak-anak jahil yang lempar batu sembunyi tangan.
Mercon itu meledak pelan—ketika itu sudah subuh. Keheningan menyusul.
"Itu tidak keras kok, un," gumam Deidara setelah beberapa saat. Dia menyeringai. "Ada sesuatu di bawah tanah, un. Kau tadi tidak dengar? Meski pelan, ada suara gema di bawah."
Itachi memandangi rekannya dengan senang.
"Artinya... ada ruangan di bawah tanah?"
Deidara mengangguk bersemangat. "Kalau markasnya memang underground, mestinya ada akses lain untuk keluar, un. Mungkin motor itu keluar di tempat lain, tapi basisnya memang dari tempat ini."
Itachi tidak mau menyindir Deidara dengan mengatakan, "Tumben kau menggunakan otakmu" atau semacamnya. "Menurutku, pintu masuk ke bawah ada di dalam rumah."
"Menurutku juga, un."
"Pintu tingkap ke gudang anggur?"
"Bisa jadi, un. Ayo kita tunggu sampai pagi dan ledakkan pintunya!"
Tugas Itachi dan Deidara setelah menemukan letak markas Espada adalah menimbulkan huru-hara di situ sehingga pihak berwajib akan memeriksa tempat itu. Ide brilian dari Pain. Dan jelas, huru-hara yang dimaksud adalah ledakan—untuk inilah Pain menyuruh Deidara mengumpulkan semua hasil penelitian Del Socacchio yang dia tahu, dan merakit beberapa bom bersuara kencang tapi tidak mematikan.
"Pakai timer saja, Deidara. Pain menyuruh kita ke Valencia sekarang juga."
Deidara tampak agak kecewa. "Ya sudah, un. "
Semua hasil itu sudah diteruskan kepada Pain. Kedua Akatsuki itu juga sudah tahu bagaimana hasil kerja Orochimaru dan grup Akatsuki yang berada di Valencia. Sekarang mereka berdua melaju ke kota itu.
Dan dari laporan Yuura dan Kabuto, mereka tahu bahwa Cuatro Espada dan anak angkat Aizen adalah orang yang sama.
Ya, sekarang mereka semua sudah tahu kebenarannya.
Kebenaran kecil yang mereka duga akan menjadi senjata terkuat untuk membalas; yang ternyata tak semudah itu untuk diterapkan.
.
.
Sialan, kenapa pula Ulquiorra harus menjawab pertanyaan Pain?
Jawabannya sederhana. Sejak awal, Ulquiorra sudah terperangkap dalam jebakan psikologis Pain yang mengharuskannya terus memberi respon dan terancam oleh waktu dan kebohongan.
Kalau sudah begini, Ulquiorra tahu identitasnya akan terungkap cepat atau lambat; dan sementara matanya kembali ditutup ia mulai mengasah otaknya. Baru sekarang saat Pain berhenti menanyainya ia bisa berpikir jernih.
Ia tahu kira-kira seberapa banyak yang diketahui Akatsuki tentang Espada. Aizen memperkirakan bahwa mereka akan mengajak Nelliel bekerja sama—hal itu sedang diselidiki. Kemungkinan besar kedua fraccion wanita itu akan membeberkan banyak hal. Dan identitas dirinya, Nnoitra, serta Tesla—pendeknya, anggota Espada yang terlibat dalam insiden di dermaga lima tahun silam—sudah tak aman lagi terhadap Akatsuki. Tapi, apa yang bisa diperbuat dengan itu? Melaporkan Espada ke polisi? Mereka sendiri pencuri dan pedagang gelap, bukan?
Sekarang, mungkin, ia bisa mencoba kabur. Akatsuki ini hanya membatasi gerak dan pandangannya. Sudah jelas mereka tidak punya nyali untuk menyiksanya, jadi setidaknya ia akan tetap punya cukup tenaga.
Ngomong-ngomong soal tenaga, sekarang ia merasa lapar dan haus.
Celaka.
.
.
Karavan Akatsuki terus bergerak. Orang-orang di dalamnya membisu—atau begitulah setidaknya dalam pendengaran orang normal. Tapi Ulquiorra bisa mendengar semua bisik-bisik Pain di depan karavan bersama Kakuzu yang dari tadi tidak ikut merongrongnya di bagian belakang sini karena bertugas menyetir.
Rupanya Akatsuki mengalami kemajuan pesat sementara Ulquiorra berdiam diri di sebelah sini. Mereka sudah tahu nama lengkapnya. Sudah tahu peringkatnya. Bahkan nama sandinya. Tahu satu kelemahannya, yakni matanya yang rabun dekat. Dan kalau ia sampai terlalu lama ditahan di sini...
Tidak—mereka tidak boleh tahu kelemahan terbesarnya. Ia akan mati kalau Akatsuki sampai tahu.
Didengarnya Hidan mendekatinya dan berseru,
"Kau mau aku mencarikan tato angka empatnya, Pain?"
Ulquiorra bisa merasakan Hidan menyeringai saat berbicara. Oh, astaga. Membayangkan Jashinist gila ini melucuti pakaiannya dan memeriksa tubuhnya inci demi inci membuat Cuatro Espada itu nyaris merinding.
"Tidak perlu," terdengar sang Ketua menyahut. "Anak itu memang Espada."
"Kau tidak menginginkan bukti fisik, Pain?" bantah Hidan, kedengaran kecewa.
Sinting! batin si Cuatro Espada.
"Tato itu mestinya disamarkan dengan make-up, atau mungkin juga tidak, tapi diamnya Ulquiorra menandakan bahwa tiap kata dalam pembicaraan kita tadi adalah kenyataan."
Yah, memangnya ia akan bicara lagi setelah beberapa hal tentang dirinya dibongkar sekaligus?
"Tenang saja, seperti kubilang tadi, kami tidak akan menyakitimu, Señor Chifer," lanjut Pain sambil berjalan mendekat, nadanya sedikit menyindir.
Ulquiorra diam, tidak mau mengucapkan hal yang membuang-buang tenaga.
"Tapi, apa kau tidak ingin tahu apa yang akan kami lakukan terhadapmu?"
Tentu ingin. Dia harus tahu seberapa besar peluangnya untuk kabur. Tapi sepertinya saat ini adalah bijak untuk tetap diam.
"Kau tahu apa yang terjadi pada Kisame?"
Ulquiorra tidak menjawab. Sepertinya Pain ingin melanjutkan wawancara tadi.
"Oh, apa kau tidak ada di sana malam itu? Sepertinya Aizen-sama tidak memberimu misi menarik seperti itu, ya?"
Pain sudah akan melontarkan sarkasme lagi ketika karavan itu tiba-tiba berguncang keras.
Kakuzu mengumpat.
Serangan balik!
Ulquiorra melompat bangkit dengan mata tertutup dan tangan serta kaki terikat, menyeruduk Pain yang tepat di depannya. Sang Ketua terhuyung menabrak dinding karavan, Hidan berseru dan berusaha meraih kerah kemeja Ulquiorra tapi pemuda itu merunduk dan mendorong Hidan juga dengan kepalanya. Terdengar peluru-peluru ditembakkan di luar karavan. Hampir di detik yang sama, Zetsu telah memukul perut Ulquiorra dengan telak.
Ulquiorra terbatuk dan nyaris terjatuh, tapi ia sempat berguling ke arah depan karavan sebelum Zetsu sempat memukulnya lagi.
Tali pengikat sialan! Kakinya tidak bisa dipakai berlari. Tangannya tidak bisa dipakai bertarung. Penglihatannya sih, tidak masalah.
Senjata andalannya yang tersisa hanya telinga. Ia takkan kalah di sini. Menggeliat dan mengayunkan kaki, Ulquiorra bergerak terus ke depan.
Ia bisa mendengar kegaduhan Pain dan Hidan, tembakan senapan bertubi-tubi di luar sana, Kakuzu yang panik menginjak rem atau membanting setir, suara Zetsu yang menuju ke arahnya dan...
...ada jendela yang terbuka. Kedengaran desir anginnya... Jendela itu kurang lebih semeter di depannya. Di atasnya juga, karena ia terbujur di lantai saat ini.
Zetsu berhasil menangkapnya. Ia ditarik ke atas—keputusan yang salah, Zetsu—dan dengan telak membalas pukulan tadi dengan tendangan kedua kaki di wajah si Akatsuki, yang memberinya lontaran ke arah jendela. Nyaris saja Ulquiorra jatuh keluar dengan kepala lebih dulu.
Sepertinya gigi Zetsu patah kalau mendengar reaksinya.
Hidan mengayunkan senjatanya—Ulquiorra menjejakkan kakinya ke senjata itu di saat yang tepat—dan sabit itu meleset. Sabit bermata tiga itu menancap di ambang jendela, persis di atas Ulquiorra yang bertengger di situ. Si Espada menggeserkan tali pengikat tangannya ke senjata Hidan—hanya satu detik sebelum sepasang tangan kekar mencengkeram lehernya...
Ulquiorra menendang lagi—dan Hidan menyumpah. Cuatro Espada itu merasakan ikatan tangannya melonggar... lalu ia berseru, "Los Lobos!" dan tanpa menunggu tanggapan, Ulquiorra nekat mendorong tubuhnya keluar lewat jendela itu. Pain berseru marah.
Tubuh Ulquiorra didera rasa sakit ketika ia mendarat di tanah dari kendaraan yang melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi. Seluruh sisi tubuhnya lecet.
Tembakan-tembakan sudah berhenti, karavan Akatsuki tetap melaju, dan suara sepeda motor melaju ke arahnya sekarang. Suara angin cukup kencang di sekitarnya.
Ulquiorra mencari satu simpul lagi yang cukup longgar dan tinggal selangkah lagi berhasil membebaskan tangannya.
"Bantu aku, Los Lobos!" serunya.
Sepeda motor itu berhenti di depannya, dan tahu-tahu Ulquiorra menyadari kebenaran yang mengerikan.
Orang itu bukan Starrk seperti yang dikiranya—suara napasnya berbeda.
Disentakkannya tali di tangannya sampai benar-benar lepas lalu direnggutnya tali di kakinya—yang ternyata tidak sekencang pengikat tangannya—berdiri dengan sedikit tersandung, dan sambil meraih penutup matanya ia mulai berlari ke arah kanan...
...untuk tumbang seketika dengan teriakan memalukan.
Tak sampai sedetik Ulquiorra menyadari, seseorang telah menembak kaki kanannya dengan pistol berperedam. Timah panas itu meretakkan tulangnya.
Yang luput diperhatikannya adalah, Pain juga berteriak saat itu, dengan makna yang sama sekali lain.
Beberapa orang menghampirinya saat matanya bisa melihat lagi dengan agak berair karena kesakitan, dan ia menyaksikan beberapa hal:
Daerah yang dikiranya dataran tinggi dengan banyak pohon. Dua anggota Akatsuki, Deidara dan Itachi, bersama dua orang asing lain bergerak cepat hendak meringkusnya.
Main keroyokan, hah!
Ulquiorra bangkit dengan susah payah. Menghindar dari satu penyerang ke penyerang yang lain.
Sementara mempertahankan diri, Ulquiorra tahu lebih banyak hal untuk mencari celah. Tempat itu bukan area terbuka. Mereka ada di dalam gedung mahaluas dengan jendela-jendela rapat—sepertinya studio film.
Nyeri yang amat sangat di tulang keringnya membuatnya mendadak oleng, dan seseorang menghajar wajahnya. Ia berusaha membalas orang itu dengan menjegalnya, tapi yang lain sudah menjegalnya duluan. Pukulan demi pukulan mendarat di tubuhnya, dan Ulquiorra akhirnya merasa tak ada gunanya lagi melawan.
Tidak... ia terjebak. Lagi. Akatsuki punya rencana yang sangat matang. Tidak ada jalan untuk lolos.
Dan beberapa saat kemudian, ia sudah kembali terikat dan berhadapan dengan Pain.
"Kami tahu lebih banyak dari yang kaukira kami tahu, Ulquiorra Chifer."
Sialan. Cara bicara Pain, sikapnya, sorot matanya, sangat merendahkan si Cuatro Espada.
Tapi, ya, tak bisa dipungkiri lagi. Ia memang kalah. Meskipun ini kekalahan yang tidak adil. Akatsuki ini maunya bekerja beramai-ramai, sial.
"Kau bisa memilih untuk mengatakan kebenaran, dan kami akan merawat lukamu serta memberimu makan-minum; atau kau bisa diam sepanjang waktu dan kami juga akan diam."
"Kita manfaatkan kelemahan-kelemahannya, sekaligus jebak dia dengan kelebihannya. Hidan benar, dia penderita hipermetropi, jadi mungkin kelebihannya ada pada pendengarannya. Dia akan berani bertindak nekat demi Aizen kalau dia mendengar adanya peluang." Pesan ini ditulis di atas kertas oleh Pain untuk dibaca teman-temannya; karena tidak mungkin bicara tentang ini di atas karavan. Dan dia berhasil menyampaikan pesan ini pada Itachi, Deidara, dan informan-informan lainnya lewat sandi terpisah ketika Itachi memberitahunya berbagai info penting tadi.
Dan Akatsuki berhasil menjebak si Cuatro Espada!
Peluru yang bersarang di tulang kering Ulquiorra itu tentu saja bisa dikeluarkannya sendiri jika tangannya tidak diikat. Terlebih lagi, lukanya bakal sulit sembuh akibat penyakitnya...
Tapi dia tidak boleh bicara lagi! Sudah cukup banyak apa yang dikorek Akatsuki darinya, dan Ulquiorra tidak akan memaafkan dirinya sendiri untuk hal itu.
Pain dan Ulquiorra beradu pandang, keduanya tak bersuara. Seolah menunggu siapa duluan yang kalah adu diam.
Pain sebetulnya marah sekali pada Kakuzu, yang menembak kaki Ulquiorra tadi. Dimulai dari situ, seluruh skenarionya di atas karavan tadi buyar sepenuhnya, jebakan psikologis itu rusak, dan sekarang tampaknya tak ada jalan lain untuk menginterogasi Ulquiorra, kecuali—seperti yang diusulkan Hidan—menyiksanya.
Kakuzu bukannya sengaja menembak, ia hanya panik melihat Ulquiorra bisa keluar dari karavan dengan cara seperti itu, dan dia bertindak tanpa berpikir. Sudah terlanjur seperti itu, maka Deidara, Itachi, Sakon, dan Hidemaru langsung meringkus si tawanan.
"Ikat dia ke meja," perintah sang Ketua akhirnya.
Hidan melakukan perintah Pain dengan kasar sekali, setengah menyeret Ulquiorra yang pincang ke meja lebar berpenahan besi yang dimaksud.
Bahkan meja itu sudah disiapkan untuknya! pikir Ulquiorra. Akatsuki sialan. Tadi mereka memberinya harapan untuk lolos dengan memperlakukannya baik-baik, dan sekarang perlakuan itu berubah seratus delapan puluh derajat. Konsentrasi Ulquiorra mulai pecah oleh pikiran-pikiran negatif.
"Apa yang kalian rencanakan terhadap Nelliel Tu Odelschwanck?" Pain bertanya dengan dingin.
Ulquiorra hanya memandanginya.
Wajah tawanannya yang tanpa ekspresi itu membuat kesabaran Pain menipis.
"Kau pasti tahu siapa dia, bukan, Ulquiorra Chifer?" rongrong Pain. "Espada peringkat tiga, satu tingkat di atasmu?"
Hidan menekan kaki Ulquiorra dengan kejam, tepat di bagian yang tertembak.
Cuatro Espada itu bahkan tidak mengernyit; mulutnya tetap tertutup.
Sudah diduga, dia tidak akan mau bicara! Tapi nasi sudah menjadi bubur. Apa boleh buat.
"Kenapa kalian membunuh Kisame?!" Pain membentak. "Kau dan ayahmu yang busuk..."
Hidan menyela, "Minggir, Pain. Akan kubuat dia bicara."
"Kau yang minggir, Hidan."
"Aku lebih mampu melakukannya darimu," bantah si Jashinist.
"Aku tidak mau kau melakukannya," Pain berkeras.
Hidan memberengut marah.
Untuk beberapa detik, hening. Pain menghela napas panjang. "Tinggalkan dia seharian di dalam gudang."
Silakan saja, Akatsuki... Kalian tidak akan mendapatkan apa-apa dari Ulquiorra. Lebih baik dia mati kelaparan atau kehabisan darah daripada mengkhianati ayahnya!
.
.
Orochimaru menyewa studio film di sebelah mansion miliknya itu selama dua hari penuh dengan bayaran mahal. Tentu ia tidak mengharapkan para Espada menyerbu ke situ dan mengacaukan segalanya, dan itu memang tidak terjadi. Hanya satu Espada yang dikirim Aizen ke situ, dan peringkatnya adalah Cero.
.
.
Meja Ulquiorra dikunci di dalam gudang kecil yang pengap di dalam gedung studio itu.
"Aku tidak akan melakukan itu, dan tidak seorang pun dari kalian boleh melakukannya," Pain mempertahankan pendapatnya.
"Tidak ada cara lain, Pain," ujar Kakuzu.
"Kalau kita lakukan itu, kita sama saja dengan mereka!" bantah Sang Ketua.
"Kalau kita tidak segera mengorek-ngoreknya, dia bisa kabur," ujar Zetsu.
"Kenapa kalian bersekutu menentangku?" seru Pain. "Dia tadi banyak bicara di atas karavan!"
"Ya, dan kau sudah bilang, gara-gara kesalahanku sikapnya jadi berubah," sesal Kakuzu.
"Nah! Kalian sudah lihat apa jadinya kalau kita memakai cara kekerasan," sahut Pain.
"Tapi kau tidak bisa menerapkan caramu itu lagi, bukan?" seloroh Itachi yang dari tadi diam.
"Jadi kau setuju dengan mereka?" Pain menantang si Peramal.
Itachi menggeleng. "Aku setuju dengan sudut pandangmu. Tapi, aku juga tidak melihat cara lain, Pain..."
Sang Ketua menggeleng frustasi. "Dia itu seperti maniak sekte yang menyiksa diri setiap hari, tahu. Tahan-tahan saja disakiti."
"Menurutmu ada yang aneh dengan psikisnya, Pain?" usul Zetsu.
Pain menggeleng lagi. "Itu bagian dari karakternya, Zetsu. Dedikasinya pada Aizen. Kalau dia hidup di zaman dulu, dia pasti rela diumpankan pada singa lapar demi Aizen." Atau menerjang peluru demi Aizen, pikir Pain, mengutip salah satu lagu terkenal.
"Tidak ada lagikah kelemahan atau kelebihannya yang bisa kita manfaatkan?" keluh Hidan.
Semua pikiran buntu. Akhirnya Pain memutuskan untuk menunggu hingga matahari terbit, baru akan dicobanya lagi teknik yang lama.
Ulquiorra sedang tidur ketika Akatsuki mengeluarkannya lagi.
Sebetulnya itulah momen pertama kali Ulquiorra ketahuan tidak siaga oleh orang lain. Tapi dia sangat lelah dan kesakitan, tidak ada yang bisa dilakukannya, dan hanya untuk kali itu dia menyerah pada rasa kantuk.
Pain membangunkannya—sekali lagi dengan lemah lembut.
"Kau ingat Trepadora?" tanya Pain begitu mata Ulquiorra terbuka pertama kali. Kondisi setelah-bangun-tidur bisa dibilang hampir sama dengan fase hipnotis seperti yang pernah disampaikan Sasori, dan di tahap ini biasanya orang bisa bicara tanpa berpikir.
"Siapa nama aslinya?" tanya Pain lagi sementara mata Ulquiorra masih berkedip-kedip.
"Luppi Antenor!"
Bukan Ulquiorra yang menjawab demikian.
Dan sebuah tembakan dilepaskan ke arah Pain dari kejauhan oleh Yammy Llargo.
.
.
.
To be continued.
