Previous

"Oh Sehun kau benar-benar tidak memiliki perasaan "

Luhan menghapus cepat air matanya. Menatap antara cemas dan marah punggung kokoh yang masih berdiri di depan altar entah untuk apa.

Luhan tahu Sehun terluka. Dia juga tahu Sehun kesulitan mengekspresikan kesedihannya. Tapi Satu-satunya hal yang tidak Luhan ketahui adalah Sehunnya masih sama seperti dulu. Masih menjadi pria dengan harga diri yang begitu tinggi hingga enggan terluka di depan banyak orang.

Jika ini bukan acara pernikahan, Luhan mungkin bisa memakluminya. Namun sial-…Ini adalah acara pernikahan putra tunggal dari aktor terkenal dan model ternama di Seoul. Pernikahan yang mengundang banyak rekan selebriti dan wartawan itu bahkan harus rela dibicarakan selama berhari-hari setelah kejadian memalukan ini.

Jadi bukan ini sikap yang harus ditunjukkan Sehun. Dia harusnya marah dan berteriak. Bukan diam di depan altar seperti anak kucing yang tersesat dan sedang terluka. Ingin rasanya Luhan berlari kesana. Memeluk"little cat"nya dengan erat. Namun untuk saat ini sungguh-..Daripada memeluk Sehunnya. Luhan lebih memilih berteriak. Memaki teman kecilnya agar bisa sedikit menunjukkan rasa sakitnya.

"Kenapa kalian hanya diam? LAKUKAN SESUATU KAI..YEOL!"

Sama seperti Sehun-…Keduanya hanya diam disana. Seolah mengetahui sesuatu dan tidak berniat mencegah Ravi tidak pula mengejar Irene atau berbicara pada Sehun. Membuat Luhan menatap murka pada tiga orang teman kecilnya.

Entah dengan cara apa mereka dibesarkan, tapi ketiganya cenderung menganggap enteng semua hal. Membuat Luhan begitu frustasi hingga menangis hebat namun tetap tak mengubah apapun.

"sebenarnya apa yang kau lakukan Oh Sehun!"

Luhan pun berjalan mendekati altar dengan gontai. Diabaikannya tangisan ibu Sehun yang terdengar begitu pilu. Yang dia inginkan hanya berbicara dengan Sehun. Dan saat jaraknya hanya berada tiga meter-…Maka saat itu pula Luhan mengepalkan erat tangannya begitu sedih dan marah sebelum berteriak memanggil mantan kekasihnya.

"OH SEHUN!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Triplet794 Present new story :

My Forever Crush

Main Pair : Sehun-Luhan

Support pair : Kim Jongin-Do Kyungsoo, Park Chanyeol-Byun Baekhyun

Rate : T & M

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tiga hari sudah berlalu-….

Dan selama tiga hari itu pula luka keluarga Oh masih sangat membekas. Luka yang diakibatkan karena gagalnya pernikahan putra tunggal keluarga Oh cukup ramai dibicarakan. Kejadian yang paling banyak menyita perhatian adalah saat pengantin wanita dibawa pergi oleh pria asing yang belum lama diketahui adalah suami dari mantan calon istri putra keluarga Oh.

Yeah-... Wajar saja jika kegagalan pernikahan putra tunggal dari aktor terkenal dan model ternama itu menjadi pembicaraan masyarakat banyak. Karena selain disiarkan langsung, mereka harus dibuat terkejut mengenai identitas si pengantin wanita yang ternyata masih resmi menjadi istri dari pria lain.

Dan hal itu pula yang membuat seluruh keluarga Oh lebih memilih tinggal di Villa pribadi milik mereka. Kediaman yang terletak jauh dari hiruk pikuk kota Seoul untuk melewati hari dengan tenang sementara putra mereka terus mengurung diri tidak berniat untuk keluar kamar dan menolak untuk ditemui siapapun. Siapapun kecuali-...

Ting tong...

Ting tong..

Sang nyonya rumah pun melompat senang mendengar suara bel di tekan. Bisa dikatakan dari semua duka yang dirasakan keluarga Oh-…. Miranda-lah yang bisa beradaptasi dengan cepat.

Entah beradaptasi macam apa yang dilakukan oleh satu-satunya wanita di keluarga Oh. Karena daripada beradaptasi-... Sang model sangat terlihat bahagia dan begitu bersemangat.

Ting Tong...

Ting Tong..

"Omo! Itu pasti Luhan!"

Miranda melepas apron yang digunakannya. Buru-buru berlari menuju pintu sebelum suara sang suami terdengar

"Yeobo..."

"Ada apa sayang?"

"Tunjukkan ekspresi sedihmu."

"Huh?"

"Putra kita baru saja batal menikah. Dan diluar sana ada calon menantu idamanmu yang datang berkunjung. Jadi buat penampilanmu terlihat menyedihkan agar Luhan merasa iba."

"Ah-... Apa aku belum terlihat menyedihkan?"

Joongki menggeleng cepat. Menurunkan surat kabar yang sedang ia baca sebelum mencibir menatap istrinya "Kau terlihat sangat bahagia."

"Omo! Apa sangat terlihat?" Katanya buru-buru berlari ke cermin. Terkekeh menyadari dirinya terus tersenyum sebelum berakting menampilkan wajah sedihnya.

"Yeobo..."

"Ada apa lagi?"

"Apa aku sudah terlihat menyedihkan?"

Joongki tertawa melihat usaha konyol istrinya. Kali ini dia mengangguk dengan mengangkat ibu jari. "Sempurna."

"Yey!"

Miranda memekik senang. Berlari mencium suaminya sebelum bersiap membukakan pintu "Tidak percuma memiliki suami seorang aktor. Aku sangaaat bahagia." Katanya memuji Joongki. Kembali berlari menuju pintu utama sebelum langkahnya berhenti

"Yeobo..."

"Mmhh.."

"Aku ingin memberitahumu satu hal."

"Apa?"

"Aku benar-benar bersedih karena putra kita batal menikah. Sangat sedih. Sungguh."

Joongki hanya bisa tertawa mendengar ucapan sang istri yang penuh kepalsuan. Mengangkat bahunya sekilas sebelum kembali membaca koran sore harinya "Ya ya ya…Kau terlihat sangat sedih sayang."

"Begitu baru benar!"

Miranda kembali bertingkah kekanakan. Sedetik yang lalu dia bilang dia sedih maka di detik kemudian dia kembali bersorak hanya karena suaminya mengalah dan mengatakan dia sedih.

Membuat Joongki sama sekali tak fokus membaca koran dan terkekeh mengingat tingkah sang istri "Bagaimana bisa kau bersedih jika yang kau lakukan seharian ini hanya bernyanyi dan memasak sayang." Katanya bergumam kecil. Menatap pintu kamar putranya dengan tatapan sendu, berharap kedatangan Luhan sedikit banyak bisa membuat putranya keluar dari kamar.

Ting tong!

Cklek...!

"Luhan!"

Miranda melompat memeluk pria cantik kesukaannya. Pria cantik yang diam-diam selalu ia doakan agar menjadi bagian keluarga Oh. "Terimakasih kau datang nak. Sehun benar-benar ingin bertemu denganmu. Dia bahkan meminta Mommy untuk menghubungimu agar kau datang."

Yang dipeluk hanya tersenyum kecil. Dia tahu sang ibu menggunakan segala kebohongan untuk membuatnya datang. Mengatakan bahwa Sehun memintamu datang adalah kebohongan manis yang kemungkinan terjadinya sangatlah mustahil. Membuat Luhan hanya terus tersenyum tak tahu harus mengatakan apa lagi saat ini.

"Maaf terlambat Mom."

"Ani-…Kau sama sekali tak terlambat. Ayo masuk nak."

Tapi terimakasih pada sang ibu. Karena setidaknya Luhan memiliki alasan untuk datang ke vila yang berjarak tiga jam dari Seoul "Aku senang mommy menghubungiku."

Miranda menggeleng sebelum melepas pelukannya "Sehun yang meminta Mommy menghubungimu nak."

Seolah tak ingin berdebat. Luhan mengangguk percaya, membiarkan sang model membawanya masuk sementara tak lama matanya bertatapan dengan mata sang aktor yang tengah menatapnya "Hey nak. Kau sudah datang?" Katanya menghampiri Luhan. Memeluknya sekilas sebelum kembali menatap pria mungilnya yang benar-benar telah menjelma seperti seorang dewa dan dewi di waktu bersamaan.

"Hey dad..."

Luhan membalas menyapa. Tersenyum penuh arti sebelum Joongki memberitahu dimana Sehun berada "Segeralah masuk. Dia mungkin senang kau datang."

Luhan mengangguk ragu. Tidak yakin kedatangannya akan membuat keadaan semakin baik mengingat mau bagaimanapun dia merupakan salah satu dari beberapa orang yang menyembunyikan identitas Irene.

"Masuklah nak."

Sedikit paksaan Miranda dan Joongki membuat Luhan tak memilili pilhan lain. Dia pun berjalan menuju kamar Sehun di vila milik keluarga Oh. Tidak bertanya dimana kamar Sehun karena mau bagaimana pun Luhan sering ikut berlibur ke vila ketika liburan musim panas. Lagipula-..Kamar Sehun adalah kamarnya juga saat mereka berlibur. Jadi wajar jika Luhan mengetahui segala sudut baik di rumah pribadi maupun di Vila milik keluarga Oh. Membuat Miranda tersenyum gemas menyadari tak ada perubahan sama sekali dari Luhan.

"Yeobo…"

"Kau terus memanggilku seharian ini Nyonya Oh. Ada apa sayangku."

"Doakan aku."

"huh? Doa? Untuk apa?"

"Saat ini aku sedang berdoa pada dewa agar pria cantik yang baru saja masuk ke dalam kamar putraku kelak menjadi bagian keluarga kita."

"Amin…."

Miranda melirik suaminya sekilas. Sedikit mencibir sebelum memeluk pria yang sudah menemani hidupnya hampir dua puluh lima tahun "Kau juga menyukai Luhan ya?"

"Sangat."

"Kalau begitu ayo jadikan dia menantu kita."

"Kau tahu peraturannya sayang. Tidak ada paksaan jika itu menyangkut kebahagiaan Sehun kita."

Miranda tersenyum malu seraya memeluk pria tampannya "Araseo…Aku berharap Luhan pengecualian untuk janji kita."

"Sayangnya tidak ada pengecualian. Kebahagiaan putraku adalah hal mutlak untukku." katanya memberitahu sang istri yang terdengar merengek "Tapi aku ingin Luhan menjadi keluarga kita sayang."

Joongki mencium kepala istrinya. Sedikit terkekeh dengan mata yang terus menatap Luhan. Berharap jika kelak si pria cantik benar-benar menjadi bagian dari keluarga kecilnya "Aku juga."

.

.

.

.

.

.

.

.

Cklek...

Gelap...

Hal pertama yang Luhan lihat saat masuk kedalam kamar Sehun adalah gelap.

Dingin...

Dan hal pertama yang Luhan rasakan di kamar Sehun adalah dingin

Dan seolah mengabaikan penglihatan dan perasaan dinginnya. Luhan terus mencari keberadaan Sehun. Sedikit bertanya mengapa tempat tidurnya terlihat rapih dan tak ada tandan TV menyala di ruang kecil yang disediakan di kamar teman kecilnya.

"Kau dimana Sehunna…"

Guk...Guk!

Kebingungan Luhan seolah terjawab saat ini. Bibirnya menyunggingkan senyum menyadari bahwa suara gongonggan yang terdengar di halaman belakang kamar Sehun adalah milik satu-satunya peliharaan kesayangan milik mantak kekasihnya.

"Vivi?"

Luhan bergumam kecil. Mempercepat langkahnya menuju asal suara sebelum menemukan sang majikan sedang duduk termenung memperhatikan anjing kecilnya bermain. "Benar disitu kau rupanya."

Dilihat dari punggungnya Sehun terlihat baik-baik saja. Dia hanya terlalu diam memandang Vivi berlarian di halaman belakang. Entah sudah berapa lama Sehun disana, yang jelas dia kedinginan karena hanya memakai kaos putih namun terus memakasakan diri duduk lantai tanpa jaket dengan pintu halaman yang sengaja dibiarkan terbuka.

"Kebiasaanmu belum berubah ya?"

Luhan tersenyum kecil melepas jaketnya. Dengan langkah diam dia menghampiri Sehun sebelum

Sret...!

Sehun menoleh melihat siapa yang memakaikan jaketnya. Tertegun menyadari siapa yang kini datang dengan mata terus memandang si pria cantik yang kini duduk tepat disampingnya -tidak berbicara dan hanya melihat Vivi bermain di halaman belakang-

Jika Luhan melihat ke Vivi, maka Sehun menatap Luhan. Memperhatikan wajah Luhan yang berwarna merah menandakan bahwa si pria cantik masih kedinginan karena menempuh perjalanan jauh dari Seoul ke Vila nya.

Sesaat Sehun masih terus memperhatikan Luhan. Memuji betapa sempurna wajah Luhan sebelum matanya kembali melihat Vivi. –tersenyum-…sangat senang sebenarnya-

"Kau datang?"

Yang ditanya hanya diam. Sekilas menoleh lalu kemudian lebih memilih melihat anjing kecil yang pernah sangat menyukainya bermain di halaman.

"Mommy bilang kau memintaku datang. Tapi aku tahu itu hanya alasan Mommy agar aku datang."

"huh?"

"Dan karena alasan itu pula aku tidak ingin kau mengusirku. Diluar sangat dingin asal kau tahu."

Dan entah untuk alasan apa, Sehun merasa tubuhnya menjadi lebih hangat. Entah karena jaket atau keberadaan Luhan-... Yang jelas hatinya merasa begitu hangat karena setidaknya dia memiliki teman saat ini. Tidak-…Kenyataan sebenarnya dia merasa hangat adalah karena pria yang kini duduk di sampingnya adalah pria yang sama yang selalu ia rindukan selama empat tahun ini.

"Aku tidak akan mengusirmu." Katanya tersenyum memberitahu Luhan. Membuat Luhan terkekeh pelan sedikit menyenggol bahu Sehun "aigoo…Sehunnie manis sekaliAku tidak menyangka kau akan berkata seperti itu."

Luhan berniat menggoda Sehun dengan jawabannya. Namun sial-…Bukan Sehun yang merona melainkan dirinya saat Sehun mengatakan

"Aku yang menginginkan kau datang."

"Huh?"

Sehun tersenyum dipaksakan. Mengusak rambut Luhan sebelum memberitahu mantan kekasihnya "Mommy tidak berbohong." Katanya memberitahu Luhan sebelum kembali membuka mulutnya

"Aku meminta Mommy menghubungimu. Jadi bagaimana bisa aku mengusirmu jika aku yang memintamu untuk datang."

"Tapi kenapa? Aku berfikir kau akan menjauhiku."

Sehun mengangkat bahunya sebelum tersenyum begitu tampan melihat Luhan "Entahlah. Hanya wajahmu yang terbayang." Katanya tersenyum tulus mengusak rambut Luhan. Berniat terus mengusapnya sampai tak sengaja melihat kedua pasang mata Luhan yang terlihat begitu sendu dan penuh luka.

"Mianhae..."

Gerakan mengusap tangan Sehun terhenti. Semakin memberanikan diri menatap Luhan yang terlihat sedih entah untuk alasan apa.

"Untuk apa? Karena pernikahanku?"

Luhan mengangguk. Tak berani menatap Sehun menyadari bahwa dia kembali menutupi sesuatu yang pada akhirnya membuat Sehun begitu terluka "Tidak seharusnya aku menyembunyikan siapa Irene padamu."

"Jadi namanya benar Irene?"

Tangan Luhan mencengkram kuat. Takut jika kesalahannya berbicara hanya akan membuat Sehun marah. Dia pun mengangguk perlahan membenarkan pertanyaan Sehun "Irene namanya di dunia balap."

"Oh.."

Jawaban singkat mantan kekasihnya pun membuat Luhan bergerak resah di tempatnya. Dia bahkan ragu kembali menatap Sehun sebelum suara berat itu kembali terdengar "Jadi dia orangnya?"

"Huh?"

"Yang nyaris menabrak Kyungsoo dan membuat Kai sekarat? Yang membuat remaja itu kecanduan hingga kau pergi dariku? Yang-..."

"Sehunna."

Nyatanya Sehun diam berbicara saat Luhan memanggilnya. Nyatanya dia kembali merasakan sakit meski ia sudah mengetahui segalanya tentang wanita yang hampir dia nikahi. Namun meski begitu rasanya sangat berbeda saat Luhan yang memberitahu.

Dari awal pertemuan Luhan dengan Joohyun-…Sehun sudah bisa menebak ada sesuatu diantara keduanya. Bukan karena Joohyun-…Tapi saat itu Luhan berteriak marah melihat Joohyun maka ada hal tak wajar yang dalam satu kedipan mata bisa Sehun ketahui. Sehun tahu sikap macam yang selalu membuat Luhan terusik. Dan karena malam itu pula Sehun menyewa seseorang untuk mencari tahu tentang wanita yang berstatus sebagai calon istrinya.

Nona Bae Joohyun memiliki nama lain yang banyak dikenal sebagai Irene tuan muda.

Irene?

Ya…Banyak orang mengenalinya sebagai Irene "Sang ratu"

Kenapa dia dijuluki Sang ratu?

Menurut laporan dari anak buahku. Nona Bae memiliki catatan kriminal serius bersama seorang bernama Ravi

Ravi?

Ya tuan muda…Dia dikenal sebagai "Sang Raja" sementara wanita bernama Irene dikenal sebagai "Sang ratu.'

Sehun tertawa miris mengingat bagaimana Detektif Park menemukan kebenaran tentang Irene. Kebenaran tentang wanita yang nyaris ia nikahi beberapa saat lalu. Sehun bahkan berniat mengakhiri segala hubungannya dengan Irene sebelum wanita itu memutuskan membantu Lana. Dan seolah tak ingin membuang kesempatan, Sehun berpura-pura tidak mengetahui apapun dengan mempertahankan wanita itu sekali lagi. Setidaknya sampai dia selesai membantu Lana dan kondisinya membaik. Maka saat itu pula Sehun memutuskan untuk mengakhiri segalanya dengan gadis yang selama satu tahun ini mengisi hidupnya.

Ya-….Mungkin Sehun benar akan mengakhiri segalanya jika Luhan tidak datang ke kamar rawat Irene malam itu. Pria cantik itu menghampirinya dengan wajah putus asa dan tanpa ragu mengatakan cinta padanya.

Malam itu adalah kali pertamanya Sehun sangat membenci ucapan cinta, karena daripada bahagia dirinya merasa sungguh tersiksa malam itu. Nyaris membungkam bibir Luhan agar tidak mengatakan kalimat yang jelas bertolak belakang dengan sikapnya.

Luhan bilang dia mencintainya tapi dia memilih meninggalkannya malam itu

Luhan bilang dia mencintainya tapi dia memilih pergi sejauh mungkin ke tempat yang tak bisa dijangkaunya.

Dan Luhan bilang dia mencintainya tapi yang dia lakukan hanya terus bersembunyi dan tak pernah menunjukkan ketulusannya.

Jadi apakah itu bisa disebut cinta? Omong kosong!

Sehun begitu marah malam itu. Begitu terluka dengan pernyataan cinta Luhan hingga membuatnya berkata kasar. Dan karena hal itu pula dia terpaksa mengubur dalam semua rencananya untuk membatalkan pernikahannya dengan Irene. Sehun lebih memilih menyiksa dirinya sendiri jika ternyata gadis yang akan dia nikahi adalah benar seseorang yang memiliki masa lalu mengerikan di hidupnya.

Dia tidak mempedulikannya lagi malam itu-…Yang dia inginkan hanya membalas Luhan tanpa sadar dia menyakiti dirinya sendiri.

Sehun bahkan mengabaikan peringatan Detektif Park yang membawa berita baru bahwa seorang pria sedang mencari keberadaan Irene. Sehun memiliki nomor pria itu namun ia tidak mempedulikannya. Egois memang-...Karena saat itu yang Sehun inginkan hanya menyakiti Luhan hingga tanpa sadar dia mengabaikan banyak hal tentang wanita itu. Banyak hal termasuk kenyataan bahwa wanita yang nyaris dinikahinya adalah wanita mengerikan yang akan menyingkirkan segala hal jika hal itu mengusiknya.

Dan kenyataan yang paling menohok adalah wanita itu adalah musuh Luhan. Dia beberapa kali bahkan mengancam Luhan menggunakan tim nya. Lalu kenyataan lain adalah dia dan pria bernama Ravi itu menjalani bisnis gelap. Bisnis obat-obatan terlarang dan senjata gelap. Dan seolah tak sampai situ-... Keterkejutan begitu dialami Sehun saat mengetahui bahwa Irene lah yang hampir membunuh Kai.

Membuat Sehun begitu marah namun masih bisa menahannya. Tapi saat Luhan yang memberitahu rasanya sangat berbeda. Entah mengapa Sehun ingin mencekik wanita itu. Merasa begitu jijik pernah bertemu dan hampir menikahi wanita yang salah adalah hal yang membuatnya begitu marah hingga tak bisa mengucapkan satu kalimat pun.

"Sudahlah. Nasibku memang malang."

Nada suara Sehun berangsur normal. Kembali memperhatikan Vivi hingga menyisakan keheningan yang begitu membuat keduanya kembali diam tak berniat untuk bersuara.

"Sehun..."

Yang dipanggil bersyukur karena keheningan ini berakhir, menatap si pria cantik dan menyadari bahwa wajah Luhan terlihat sangat sendu "Ada apa?"

"Seberapa besar rasa sakitnya?"

Tanpa ragu Luhan bertanya, membuat si pria tampan harus kembali dibuat mengernyit tak mengerti kemana arah pembicaraan mereka "Rasa sakit?"

"Mmmh... Alasan mengapa kita berpisah adalah karena aku membohongimu. Lalu tiba-tiba kebohongan juga menjadi alasan batalnya pernikahanmu dengan Irene. Jadi katakan seberapa besar rasa sakitnya? Katakan seberapa banyak rasa kecewa yang kau rasakan? Katakan padaku. Aku harus-...hkssss"

Sehun hanya diam mendengar pertanyaan Luhan. Membenarkan seberapa parah luka di hatinya saat ini, jika dipikir pikir dia memang merasakan sakit tapi entah mengapa rasa sakit karena pernikahannya yang gagal tidak sesakit saat Luhan meninggalkannya dulu.

"Mianhae Sehunna...Mianhae.."

Sehun tersenyum kecil memperhatikan wajah sendu pria cantiknya. Menatap Luhan cukup lama sampai

Sret...!

Sehun menarik pundak Luhan. Menyandarkan kepala Luhan di dadanya sebelum kembali menatap kosong ke depan "Aku yang batal menikah kenapa kau yang menangis." Katanya terkekeh menggoda Luhan.

"hkssss…"

Dan alih-alih tertawa-…Isakan Luhan terdengar semakin hebat. Dia terus menangis dengan Sehun yang terus menenangkannya "Sejujurnya aku baik-baik saja Lu."

"Bo-..hkss-…Bohong!"

"Sungguh."

Luhan mendengar kesungguhan dari ucapan Sehun. Membuatnya melepas pelukan Sehun dan beralih menatap pria tampan yang daripada terluka memang terlihat tenang walau sedikit tertekan "Tapi bagaimana bisa?"

"Karena aku tidak pernah benar-benar mencintainya."

"Sehun…"

Sehun tersenyum getir dengan ucapannya sendiri. Sedikit menatap Luhan sebelum kembali mengusap sayang surai cantik disampingnya "Atau aku memang tidak pernah mencintainya. Entahlah."

"Sehunna…"

"Awalnya hanya karena rasa iba. Lalu kemudian menjadi rasa nyaman berbicara. Kami belum sampai tahap saling menyukai sampai aku dengar kau kembali ke Seoul."

"Apa maksudmu?"

"Aku melamar Joohyun tepat tiga bulan sebelum kematian nenek. Aku dengar kau kembali tapi kau tak pernah datang menemuiku. Aku terlalu marah saat itu dan bersumpah untuk melupakanmu. Dan setelahnya aku hanya berbicara asal tentang maukah kau menikah denganku. Diluar dugaan dia begitu senang. Dan karena alasan itu pula aku tidak tega menghancurkan kebahagiannya sampai akhirnya nenek meninggal dan kau benar-benar kembali."

"Aku tetap tidak mengerti."

Sehun hanya tertawa melihat wajah Luhan berubah menjadi merah. Dia tahu Luhan mengerti ucapannya. Dia bahkan tahu jika Luhan ingin berteriak marah dengan alasannya. Tapi karena situasi sedang menguntungkan untuk Sehun maka yang dilakukan Luhan hanya berpura-pura tidak mengerti namun tangannya terkepal begitu erat.

"aigooo…Lulu marah."

Sehun mencoba kembali merangkul pundak Luhan namun kali ini Luhan menolaknya dan menatap kesal padanya "ish lepas."

"Kemari sebentar. Kau ingat kan? Aku sedang sedih."

Menggunakan wajah memelasnya, Sehun berhasil meluluhkan Luhan. Membuat Luhan tak lagi mengelak dan hanya bersandar di dadanya "Bagaimana bisa kau bermain-main dengan pernikahan!"

"Aku tidak-…"

"Lalu apa namanya jika bukan bermain-main dengan pernikahan? Bagaimana jika Ravi tidak pernah datang? Kau sudah menikah dengannya dan tak mungkin ada disini bersamaku. Kau bahkan-…"

"Aku tahu Ravi akan datang."

"huh? Kenapa kau menyebut namanya seolah kalian berteman dekat?"

Sehun tertawa kecil mendengarnya. Mendekap Luhan semakin erat ia lakukan sebelum kembali memberitahu apa yang terjadi pada Luhan "Aku bertemu dengannya sehari sebelum pernikahanku."

"MWO? APA KAU GILA?"

"Hmmh…Aku gila karena terlalu putus asa. Tepat dua puluh jam sebelum pernikahanku. Aku mengetahui siapa wanita yang akan aku nikahi. Wanita yang nyatanya masih resmi menjadi istri dari pria lain. Nyatanya Irene dan Ravi telah menikah."

Mata Luhan membulat lebar. Dia begitu terkejut mendengar ucapan Sehun. Dia mengetahui segala sesuatu tentang Irene-…Segala sesuatunya. Tapi fakta bahwa Irena dan Ravi telah menikah adalah hal yang sama sekali tidak dia ketahui saat ini.

"Menikah? Ravi dan Irene menikah?"

"mmhh… Mereka menikah selama dua tahun sebelum keduanya bertengkar dan kecelakaan itu terjadi. Kau terkejut kan?"

Luhan bergerak resah di tempatnya. Rasanya ingin sekali menangis karena tak menyangka bahwa kesalahan yang nyaris Sehun lakukan sangat fatal dan mengerikan "Sehunna. Sungguh aku tidak tahu jika dia sudah-…"

"Aku tahu-…Tidak perlu panik seperti itu."

"Jika kau tahu mereka menikah aku tidak akan menyetujui perjanjian itu!"

"Perjanjian apa?"

"Menyerahkanmu padanya karena dia menolong Lana."

"Astaga…Jadi kau menjualku?"

Luhan menyadari kesalahannya berbicara. Segera memeluk erat lengan Sehun dengan wajah pucat yang terlihat sangat cemas "Sehun aku tidak bermaksud menjualmu. Lagipula aku mengira kalian benar-benar saling mencintai. Jadi tidak ada salahnya mengambil keuntungan dari hal itu kan? Maksudku Lana sakit. Aku-…."

Hmphhhh..

Ucapan gugup Luhan terpotong saat tengkuknya ditarik lembut oleh Sehun. Nafasnya seolah berhenti dengan jantung berdebar hebat tatkala bibirnya dan bibir Sehun menyatu kali ini. kedua matanya bahkan masih membuka lebar saat bibir Sehun mulai bergerak menghisap bibir bawahnya. Terus melumat lembut sampai Luhan merasa benar-benar relax dan tanpa sadar menutup kedua matanya menyambut kecupan Sehun.

Nghhh…

Luhan menggeliat resah melingkarkan tangannya di leher Sehun. Tidak berniat membalas ciuman Sehun dan hanya diam mengikuti sejauh mana Sehun akan membawanya.

Jika Luhan hanya memejamkan matanya pasrah, maka Sehun terus memagut lembut bibir mantan kekasihnya. Melakukannya dengan lembut kali ini dan tidak kasar seperti malam itu.

Diam-diam keduanya bahkan tersenyum menyadari bahwa setidaknya ciuman kali ini terasa lembut dan penuh rasa sayang berbeda dengan ciuman mereka malam itu yang dipenuhi emosi, kemarahan dan rasa putus asa. Membuat keduanya nyaris melakukan lebih jauh jika Luhan tidak mendorong lembut dada Sehun seolah meminta agar Sehun memberinya jeda untuk bernafas.

"hhaah-..Sehun…"

Luhan tak berani menatap Sehun. Dinetralkan nafasnya sejenak sebelum Sehun mengangkat dagunya hingga kedua mata mereka bertemu saat ini.

"Maaf."

"huh?"

Luhan yang masih terengah pun terpaksa kembali dibuat bertanya. Menatap kedua mata elang yang sedang terluka itu dengan tatapan seperti bertanya kenapa? Pada pria tampan yang baru saja mengecupnya.

Sehun sendiri tak bisa meyembunyikan kekagumannya pada Luhan. Kedua mata rusa yang bersinar sangat cantik, wajah halus tanpa celas miliknya serta bibir ranum yang selalu terasa manis jika dikecupnya. Membuat Sehun terus mengakui kehebatan Luhan menyita pikirannya hingga senyum lirih terlihat di wajah Sehun "Maaf terus membuatmu bingung dan bertanya. Tapi aku sudah memutuksan sesuatu hari ini."

"Memutuskan sesuatu?"

"hmmm. Aku sudah memutuskan untuk mendapatkanmu kembali-…Bukan sebagai temanku tapi sebagai kekasihku."

"Sehunna.."

"Aku tahu kau butuh waktu dan aku bersedia menerima hukumanku-…Apapun itu asal bisa mendapatkan kau kembali di hidupku. Hanya biarkan aku berusaha mengejarmu seperti dulu lagi. Bisakah?"

"….."

"Aku mohon."

Kali pertama yang terbayang di benak Luhan adalah bagaimana perasaan Myungsoo jika mengetahui ini. Bagaimana reaksi seluruh keluarga balapnya saat mengetahui bahwa Luhan sangat tergoda untuk mengatakan Kau tidak perlu berusaha karena aku mengatakan YA-…YA SEHUNNA. AKU INGIN KEMBALI PADAMU!

Andai semua semudah itu-…Mungkin mereka bisa bersama saat ini. tapi Luhan menyadari bahwa selalu ada hal yang membuat mereka sulit bersatu. Entah karena Luhan memiliki dua kehidupan atau karena Sehun tidak bisa menerima hidupnya di dunia balap adalah hal-hal yang selalu membuat keduanya bertengkar dan berpisah secara berulang. Selalu seperti itu hingga berpisah selama empat tahun adalah hukuman yang harus mereka terima.

"Lu…"

Luhan menatap kedua mata sendu di depannya. Menatapnya begitu dalam hingga hanya senyum lirih yang bisa Luhan tunjukkan "Kau akan menderita lagi Sehunna."

"Aku tidak peduli karena aku benar-benar menginginkan kau kembali padaku lagi. Berikan aku kesempatan itu. aku mohon."

"Kau akan-…"

"Aku mohon Lu."

Luhan mempertimbangkan permohonan Sehun. Merasa begitu senang dan putus asa di waktu yang sama. Senang karena mau bagaimanapun dia masih begitu mencintai Sehun dan putus asa karena semua akan kembali merasakan sakit. Entah dirinya, entah Sehun bahkan Myungsoo sekalipun-…Semua akan kembali merasakan sakit dengan kisah cinta mereka.

Membuat Luhan tersenyum ragu namun disaat bersamaan dia mengangguk tanda menyetujui permohonan Sehun untuknya "Kau mendapatkan kesempatanmu."

Grep…!

"Gomawo Lu. Gomawo…."

Sehun mendekap Luhan begitu erat. Menyampaikan rasa terimakasihnya sementara Luhan hanya bisa tersenyum kecil medengar Sehun begitu berterimakasih padanya. "Aku akan melakukan apapun agar kau kembali menjadi kekasihku. Aku akan menunggu selama apapun itu sampai kau mengatakan kembali bersedia menjadi kekasihku seperti dulu. Hanya tunggu dan lihatlah aku berusaha."

"araseo…."

"Aku benar-benar akan melakukan apapun dan akan menunggumu Lu…"

Luhan tersenyum kecil mendengarnya. Berusaha melepas pelukan Sehun dan mulai menatap menyindir pada mantan kekasihnya "Aku rasa ini bukan waktu yang tepat membicarakan tentang kau dan aku."

"Wae?"

"Karena diluar sana Mommy dan Daddy sedang merasa begitu sedih karena batalnya pernikahanmu."

Sehun diam sejenak. Berpikir kesedihan apa yang dirasakan kedua orang tuanya sampai hanya suara kekehan yang terdengar dari bibir tipisnya "Mereka berakting dengan baik kalau begitu."

"Apa maksudmu?"

"Percaya atau tidak. Diluar sana-…Kedua orang tuaku terutama Mommy. Mereka tidak pernah bersedih karena batalnya pernikahanku. Sebaliknya-…Mereka sangat senang karena setidaknya aku tidak menikah dengan wanita yang tidak mereka inginkan."

"Tetap tidak mengerti." Gumam Luhan bersungguh-sungguh sebelum Sehun menarik lengan Luhan mendekatnya "Kedua orang tuaku hanya menginginkan-… Dan akan selalu mengingkan satu orang sebagai menantu mereka."

"Siapa?"

Sehun mengangkat jari telunjuknya dan menunjuk Luhan tanpa ragu "Kau!" katanya memberitahu Luhan yang terlihat seperti orang bodoh saat ini.

"Aku?"

"Ya! Kau!"

"ck… Omong kosong."

Luhan mencoba mengelak namun wajahnya begitu merona karena malu saat ini. tangannya bahkan mengipasi wajahnya yang terasa panas sebelum

Sret…!

Sehun kembali menarik tubuh Luhan dan membuatnya bersandar di dadanya saat ini "Percaya atau tidak memang selalu kau yang diinginkan kedua orang tuaku."

Sehun mengecup sayang kepala Luhan. memberitahu yang sesungguhnya hingga hanya keheningan menyenangkan yang terjadi di semua kesedihan yang harusnya dirasakan.

"ah-…Aku lupa ingin memberikan sesuatu padamu."

"Memberikan apa?"

Sehun memperhatikan Luhan mencari sesuatu di dalam tasnya. Terlihat sangat serius sampai tiga kertas kecil yang ia tebak adalah tiket berada di tangan mulus mantan kekasihnya.

"Ini…"

"Apa ini?"

Sehun mengambil tiga tiket di tangannya. Membacanya seksama sebelum

"Ayolah! Pasti kau bercanda." Katanya bergumam kecil disambut respon Luhan yang menggeleng sangat cepat.

"Aku tidak bercanda."

Sehun berhenti tertawa. Memperhatikan wajah Luhan yang serius sebelum menarik dalam nafasnya dan menyerahkan kembali tiket tersebut "Kalau begitu batalkan. Aku tidak akan datang."

"Sehunna…Ini hanya tiket menonton. Kau hanya perlu duduk manis."

"Duduk manis sementara kau berada di lapangan dan membahayakan nyawamu?"

Luhan tersenyum sangat gemas merasa Sehun masih terlalu egois jika itu menyangkut dunia balapnya. Sedikit menatap lama teman kecilnya sebelum menyenggol bahu Sehun dan mulai membujuk mantan kekasihnya "Ayolah! Kau mendapatkan tiga kursi eksklusif dariku. Kau bisa melihat mobil-mobil bekecepatan tinggi dari jarak dekat…..brrrmm! brrrrrmmm!..."

Luhan memperagakan mobil-mobil yang berkecepatang tinggi saat melaju sebelum tak sengaja matanya melihat mata Sehun yang sedang menatap dingin padanya "Seperti itu kurang lebih he he he" katanya tertawa canggung dibalas ejekan dari si pria berwajah dingin.

"yang benar saja…"

"Ish! Begini caramu mendekati aku lagi? Sama sekali tidak menarik dan tidak membuatku luluh Oh Sehun!"

"hey…"

Sehun bergerak resah di tangannya. Menyadari wajah Luhan yang berubah kesal adalah hal yang menakutkan untuk Sehun saat ini "Baiklah jika kau tidak mau menonton. Aku akan membuangnya sepulang dari rumah-…"

Sret…!

Luhan terkejut saat tiketnya berpindah tangan dengan cepat. Tidak menyangka Sehun akan "segampang" ini ditaklukan hanya dengan bermodal sedikit keluhan dan sindiran yang sama sekali tak bermaksud menyindir.

"Aku tentu akan datang."

Diam-diam Luhan menyembunyikan senyumnya. Sedikit berdeham sebelum menatap wajah Sehun yang jelas masih kesal namun suaranya dipaksakan tertawa. "Kau yakin?"

"Jika itu membuatmu tertarik dan luluh tentu saja aku akan datang."

"Kalau begitu ajak Kai dan Chanyeol. Akan menjadi nilai tambah untukmu jika kau bisa membawa mereka."

"ish! Pintar sekali mengancam hmm…"

Sehun mau tak mau tertawa mendengar bagaimana Luhan mengancam terlihat seperti Luhannya. Walau nyatanya Luhan mengancam untuk hal yang sangat ia benci dan takutkan. Setidaknya dia tetap terlihat seperti Luhannya.

"Kau tenang saja. Aku akan menemanimu di tribun saat turnament berlangsung."

"huh? Kau tidak menjadi peserta?"

Luhan menggeleng menjawabnya. Kembali tertawa sebelum menyenggol pelan lengan Sehun "Aku sedang menggodamu tadi. Lagipula aku tidak seberani itu mengundangmu jika aku yang turun."

"Lalu kita akan menonton siapa?"

"Taecyeon dan Myungsoo! Mereka akan turun malam ini untuk membawa tim kami ke babak selanjutnya. Uuuu-…Mereka pasti sangat keren mengingat setelah empat tahun ini turnament resmi pertama yang kami lakukan."

"Lalu kapan giliranmu turun?"

"Aku akan turun selama dua pekan berturut-turut. Jika Taecyeon dan Myungsoo all clean pada putaran pertama. Kami dipastikan maju ke Semifinal. Lalu di semifinal aku, Myungsoo dan Taecyeon akan turun sebagai tim inti sementara yang lain bersiap di putaran kedua. Setelahnya-…Jika kami sampai di final. Aku rasa aku akan menurunkan keseluruhan formasi tim dan kami akan memenangkan sepuluh juta won-….SEPULUH JUTA SEHUNNA-" katanya memekik tanpa malu namun mengabaikan tatapan Sehun yang masih diam tak menatapnya

"ah…Maaf aku berlebihan lagi. aku hanya tak bisa membayangkan uang sebanyak itu dalam satu event. Maksudku-…Kami bisa menggunakan uang itu untuk banyak hal seperti membeli mobil baru. Merenovasi basecamp sampai uang tabungan untuk kelahiran anak Jiyeon dan Taecyeon. Aku bahkan tidak sabar menunggu giliranku turun."

Tangan Sehun bahkan mengepal erat menahan untuk tidak memukul dirinya sendiri. Pikiran seperti Luhan menggunakan seluruh hadiah yang ia dapatkan untuk mabuk, membeli obat dan bermain judi adalah hal-hal yang sangat keterlaluan hingga membuat dirinya merasa sangat malu bahkan untuk meminta maaf pada Luhan.

Sehun juga menyadari perubahan wajah Luhan yang begitu bahagia. Si pria cantik bahkan tanpa beban menceritakan bagaimana timnya akan tampi di turnament nanti. Menceritakan uang yang mereka dapatkan untuk berbagai hal adalah sesuatu yang sepertinya sangat menyenangkan untuk Luhan. Membuatnya tersenyum iri menebak Luhan pastilah sangat bahagia selama empat tahun ini.

"Apa kau sangat menyukai balapan?"

"mmhh…" Luhan tampak berfikir sementara pundaknya kembali dirangkul Sehun hingga membuatnya kembali bersandar di dada bidang itu "Sudah menjadi bagian hidupku."

"Sampai menjadi bagian hidup?"

"eoh….Kenapa? kau tidak suka."

"Apa aku punya pilihan lain?" katanya terkekeh memberitahu Luhan yang menggeleng di pelukannya.

"Kau sudah pernah melihatku di lapangan sebelumnya."

"Dan aku begitu ketakutan saat itu."

"Tapi aku baik-baik saja."

"ara-….Aku hanya terlalu marah karena satu hal-…"

Luhan mendongak menatap Sehun. Bertanya-tanya apa yang membuat Sehun begitu marah malam itu hingga membuat keduanya terpisah selama bertahun-tahun "Apa?"

Sehun tersenyum menatap kedua mata rusa favoritnya. Menatapnya cukup lama dan kembali membawa Luhan ke dalam dekapannya "Hal yang kau suka-…Hal yang tidak kau suka-..Hal yang kau inginkan-…Hal yang tidak kau inginkan-…Aku tidak mengetahui apapun tentang itu dan sungguh-…Itu membuatku sangat marah."

"Sehunna…"

"Aku malu menyebut diriku sebagai teman kecil dan mantan kekasih jika nyatanya aku hanya orang asing yang mencoba masuk dan mengganggu hidupmu."

"Kau tidak seperti itu dan berhenti mengatakan hal bodoh yang membuatku marah."

Sehun tertawa kecil mendengar ancaman Luhan. Semua caci maki yang ingin ia katakan bahkan harus kembali tertahan jika tidak ingin memancing kemarahan Luhan. Kembali kalah karena satu-satunya hal untuk memenangkan hati Luhan adalah tidak membuat menangis.

Walau sungguh-…Jauh di lubuk hatinya Sehun menangis. Menangisi dirinya yang membuang pria berharga seperti Luhan begitu saja tanpa mengetahui apapun tentang pria cantiknya. Memakinya tanpa alasan dengan kemarahan yang sama sekali tak wajar.

Tangannya bahkan mendekap erat Luhan menigingat semua ucapan dan perbuatan keji yang telah ia lontarkan. Membuat air matanya jatuh namun ia hapus secepat mungkin agar Luhan tidak mengetahui betapa rendah dan memalukan dirinya.

Sehun terus mendekap Luhan begitu erat. Sesekali mencium kepala Luhan dengan sayang sebelum suara seraknya kembali terdengar mengucapkan satu kalimat yang harusnya ia katakan lebih awal. Kalimat yang tak akan membuat harga dirinya hancur hanya dengan mengatakannya. Kalimat yang jika Sehun katakan lebih awal mungkin perpisahan akan jauh dari keduanya.

"Mianhae Lu…."

.

.

Sementara itu…

"Yeobo…Apa menurutmu tidak masalah jika aku masuk kedalam kamar Sehun?"

Kepala keluarga yang masih setia dengan surat kabarnya itu tampak bergeming. Menurunkan surat kabar yang menutupi wajahnya sebelum menjawab pertanyaan sang istri "Kenapa kau ingin memanggil mereka?"

"Ini sudah jam makan malam. Tapi kamar Sehun tetap seperti tak ada kehidupan. Aku takut mereka bertengkar atau-…" katanya tertawa malu membuat Joongki benar-benar tak mengerti isi kepala istrinya.

"Atau apa?"

"Atau mungkin mereka sedang "Saling menghangatkan" di dalam sana."

"Kau ini! Berhenti berpikiran mesum dan segera panggil kedua putramu!"

Miranda melipat kesal kedua tangannya. Menatap sang suami sedikit kesal sebelum melepas apron yang sedari tadi ia gunakan "ck! Bagaimana bisa aku mesum? Aku hanya bicara yang sebenarnya."

"Sayang.."

"Araseo! Aku akan membangunkan mereka!"

Dan setelah melempar apron tak berdosanya ke lantai. Sang model cantik berjalan menghampiri kamar putranya dan

Cklek…

"Sehun….Luhan…Ayo kita makan nak. Mommy sudah menyiapkan makanan untuk kalian."

"….."

"Sehunnaa..Lulu sayang."

Merasa tak ada jawaban dari satu pun kedua putranya membuat Miranda masuk semakin dalam. Berniat mencari kedua putranya sebelum

"omo…!"

Sang model memekik tertahan. Hatinya begitu berdegup melihat pemandangan di depan matanya. Pandangan yang bisa membuat semua orang tua tahu bahwa putranya benar-benar mencintai seseorang begitu tulus dengan penuh cinta. "uuuu….Manisnya." katanya memekik bahagia sebelum suara Joongki teredengar bertanya di belakangnya

"Yeobo…Ada apa?"

Miranda tertawa merona melihat suaminya. Sedikit menyenggol lengan Joongki sebelum berbisik pada suaminya "Aku rasa kau harus bersiap kembali menyiapkan pesta pernikahan sayang."

"huh?"

"Lihat putra kita."

Mata sang aktor mengikuti kemana arah sang istri menunjuk. Sedikit memicingkan matanya karena kamar putranya yang begitu gelap sebelum matanya fokus dan tersenyum melihat bagaimana putra kesayangannya terlelap begitu tenang memeluk pria cantik yang selalu ia cintai sejak kecil.

"Mereka sangat manis."

Bukan putranya yang menarik perhatian Joongki-…Tapi kenyataan bahwa Luhan selalu menjadi pria yang bisa menenangkan putranya adalah hal yang begitu Joongki cari pada seseorang yang bisa ia jadikan pendamping putranya.

Dan saat Luhan selalu menjadi dan akan terus menjadi satu-satunya pria yang bisa memenangkan hati putranya. Maka kebahagiannya sebagai seorang ayah seolah lengkap karena putra tersayangnya benar-benar bahagia dengan pilihannya.

"hmmm… Mereka sangat manis." Timpalnya memeluk Miranda dari belakang. Keduanya bahkan tersenyum begitu lega karena setelah tiga hari berlalu-…Ini kali pertama mereka bisa melihat Sehun terlelap begitu damai. Wajah putra mereka bahkan tersenyum di dalam tidurnya. Terlelap begitu bahagia mendekap pria favoritnya sejak kecil.

.

.

.

.

.

.

.

.

-siang harinya-

.

.

Blam...!

"Hyung!"

Baru selesai membuka pintu-…Luhan disuguhi pemandangan menyebalkan dari pria yang membuat adiknya patah hati. Sedikit bergumam malas sebelum si remaja berlesung pipi bergelayutan di lengannya "hyuuung...Jangan marah lagi padaku." Rengeknya mengganggu Luhan namun tetap diabaikan sang leader.

"Ish! Apa perlu aku ke dalam sana dan mengakhiri hubunganku dengan Taeyong?"

"Lakukan jika berani."

Mendengar tantangan Luhan menbuat Jaehyun -remaja berlesung pipi- itu merasa tertantang. Dan seolah tidak berfikir dua kali dia mengangguk tanpa ragu sedikit mendengus sebelum menjawab tantangan Luhan "Baiklah! Aku akan mengakhiri hubunganku dengan Taeyong! Tapi jangan menangis jika mendengar berita seorang remaja lompat bunuh diri dari sungai Han karena pastilah aku orangnya." Katanya mengancam Luhan sebelum

Pletak!

"Berhenti bicara omong kosong!"

Jaehyun memegang kepalanya refleks saat ini sedikit meringis sebelum menatap Luhan sangat berbinar "Jadi kau merestui hubunganku dengan Taeyong?"

"Tergantung."

"Tergantung apa hyung?"

"Jika Luna masih merengek kesal aku tidak akan merestui kalian."

"Ish! Jangan salahkan wajah tampanku hyung. Aku benar-benar tidak bermaksud membuatnya patah hati."

"Kau ini-...!"

Luhan kembali mencibir kesal. Berniat memukul Jaehyun sebelum

"Luhaaaannn.."

Kali ini suara melengking Jiyeon yang memanggilnya. Membuat Luhan sedikit jengah karena belum setengah jam dia kembali ke basecamp, dua orang sudah memanggilnya dengan kencang seperti melihat hantu.

"Kenapa berteriak? Dan astaga Jiyeonna-..! Berhenti berlari. Kau bisa jatuh dan bayimu bisa terluka."

Jiyeon hanya mengangguk asal. Kembali menatap Luhan panik sebelum memegang kencang tangan Luhan "Lu..."

"Ada apa?"

"Cepat masuk kedalam. Myungsoo menggila."

"Huh?"

"Itu yang ingin aku katakan hyung. Myungsoo terus berteriak."

Pletak!

"Hyung! Kenapa dipukul lagi?"

"Berapa usiamu memanggil Myungsoo tanpa hyung? Hormati dia anak nakal!"

Jaehyun masih mengusap lembut kepalanya. Sedikit mencibir menatap hyungnya "ck! Kalian benar-benar seperti pasangan kekasih!"

"Bicara lagi dan mobilmu aku ambil."

Jaehyun buru-buru membuat gerakan mengunci mulut. Memastikan bahwa dia tidak akan mengeluarkan suara sampai Luhan bertanya lagi pada Jiyeon

"Kenapa dia berteriak marah?"

"Karena kau!"

"Aku?"

"Mmmh... Dia menggila karena kau pergi tanpa kabar. Kau bahkan tidak pulang semalam"

"Lalu kenapa dia marah?"

"Ayolah hyung kau tidak peka sama sekali."

"Apa yang kalian bicarakan? Kenapa aku tidak peka?"

"Pria mana yang tidak marah jika pria yang dia sukai menghilang seharian tanpa kabar dan tidak menghubungi siapapun? Jika itu Taeyong aku akan sangat murka."

"Dan jika itu Taecyeon aku sudah membunuhnya."

Jaehyun dan Jiyeon membuat tos ringan. Sedikit bersorak ria sebelum kembali melihat pada Luhan "Sudah mengerti hyung?"

"Ah-... Jadi dia marah karena aku tidak pulang? Tapi kenapa? Aku sudah beberapa kali tidak pulang ke basecamp."

"Haaaah..."

"Kenapa kau menghela nafas?"

Luhan kembali bertanya menyelidik pada Jaehyun. Membuat si pemuda berlesung pipi benar-benar menyerah berbicara dengan leader sekaligus pria tercantik di basecampnya.

"Hyung kau benar-benar tidak mengerti?"

"Apa?"

"Didalam sana-...Alasan mengapa Myungsoo hyung berteriak tanpa henti adalah karena dia sedang mencemaskanmu. Dia takut kau merasa bersalah karena kejadian yang terjadi pada teman priamu hyung."

"Sehun maksudmu?"

"Mmmh... Malam tadi Myungsoo bersikeras menunggumu di depan pintu dan mengatakan seperti orang tidak warah bahwa Luhan akan kembali secara berulang."

"Myungsoo melalukan hal bodoh itu?"

"eoh…Jika Baekhyun tidak mengatakan kau sedang berada di rumah Sehun mungkin dia akan berdiri disana sepanjang malam."

Kali ini Luhan mendengarkan Jiyeon. Sedikit mempelajari keadaan sebelum kedua matanya membulat menyadari satu hal "Astaga-...Baekhyun memberitahu Myungsoo aku bermalam di rumah Sehun?"

"Dia memberitahunya."

"Astaga Byun Baek-…Mulutnya benar-benar pedas!"

Dan kali ini semua keluhan Jiyeon dan Jaehyun terasa masuk akal untuknya. Alasan mengapa Myungsoo berteriak marah di dalam sana juga hal wajar mengingat dia sama sekali tak memberitahu sang leader tentang kunjungannya ke rumah Sehun.

Ayolah! Bagaimana bisa Luhan mengatakan tentang tujuannya menemui Sehun jika yang akan Myungsoo lakukan adalah mengikutinya sepanjang waktu, membuatnya begitu kesal pada Baekhyun yang sama sekali tak bisa menjaga ucapannya.

"Lu…Kau tidak bisa menyalahkan Baekhyun."

"Kenapa aku tidak bisa menyalahkan primadona gosip itu?!" katanya bertanya galak pada Jiyeon. Terus berjalan masuk dengan Jiyeon yang entah sejak kapan terus membela ketiga temannya.

"Salahmu sendiri menangis memilukan hari itu. Kau bahkan memohon pada Myungsoo agar tidak bertemu lagi dengan Sehun. Jadi wajar jika Myungsoo merasa begitu cemas dan marah."

"Tapi aku tidak tahu akan seperti ini. Sehun butuh teman bicara!"

"Tetap saja Lu. Kau tidak bisa-…"

"AKU BILANG CEPAT BERSIAP!"

Jiyeon, Jaehyun dan Luhan berhenti di langkahnya melihat kemarahan Myungsoo. Si wanita hamil dan remaja tampan itu bahkan bersembunyi di belakang Luhan berjaga-jaga jika Myungsoo mencoba memukul mereka tanpa alasan.

Luhan bahkan bisa melihat Taecyeon yang emosinya terpancing. Berjalan mendekati sang leader dan mencengkram kuat jaket hitam yang digunakan Myungsoo "Kenapa kau terus berteriak HAH?! Pikirmu kami tuli? Kami mendengar semua teriakanmu sialan!"

Myungsoo hanya diam mendengar gertakan Taecyeon. Tidak berbuat apapun saat cengkraman di lehernya semakin kuat dan membuat sesak nafasnya. Dia juga tidak melakukan apapun untuk membela diri saat tinju ditangan Taecyeon nyaris mengenai wajahnya sebelum

"OK TAECYEON!"

Keduanya menoleh ke asal suara. Untuk Myungsoo-…Mendengar suara yang semalaman ia cari sungguh sangat melegakan. Dia bahkan tak bisa berhenti bersyukur mengingat tiga hari yang lalu Luhan terlihat sangat terpukul dan merasa bersalah namun sudah jauh lebih baik saat ini.

Walau kenyataan wajah Luhan terlihat jauh lebih baik setelah menemui mantan kekasihnya-…Myungsoo tetap bersyukur lega. Setidaknya Luhan mencoba untuk menjaga perasaannya dengan meminta mereka semua untuk tidak memberitahu apapun tentang kepergiannya malam tadi.

Ya-…Walau rasa sakitnya menjadi dua kali lebih terasa. Setidaknya Luhannya sudah kembali dan berada di depan kedua matanya saat ini.

"Apa yang kau lakukan? Apa kau gila? Kenapa kau memukul Myungsoo?!"

Luhan memarahi habis suami Jiyeon itu. Membuat sang istri tidak terima dan mulai berdiri di depan Taecyeon untuk berhadapan langsung dengan Luhan "Apa kau tidak lihat? Myungsoo yang mulai mengganggunya lebih dulu! Kau tidak bisa memarahi suamiku!"

"Tapi tidak perlu sampai memukulnya!"

"Luhan kenapa kau menyebalkan sekali HAH!"

"Sayang tenanglah.."

Taecyeon berusaha menenangkan istrinya, mendengus menatap Luhan dan Myungsoo sebelum pria yang berada di belakangnya menyeruak dan menyenggol kencang punggungnya "brengsek…!"

Taecyeon mengumpat tertahan. Berniat memaki Myungsoo jika si pria idiot tidak begitu saja pergi mengambil asal kuncinya.

"L…Kita harus bicara."

Luhan berlari menyamai Myungsoo. Memegang paksa lengan Myungsoo dan menghentikan langkah kaki sang leader yang nyaris tak bisa disamai "L!"

"Ada apa?"

"Aku bilang kita harus bicara."

Myungsoo menatap cukup lama wajah Luhan. Menyadari bahwa Luhan benar-benar jauh lebih baik setelah bertemu dengan mantan kekasihnya. Dan entah untuk alasan apa dia merasa sangat bahagia dan marah dalam waktu bersamaan. Bahagia karena Luhan sudah jauh lebih baik-…Marah karena entah untuk kesekian kalinya hanya pria sialan itu yang bisa membuat Luhan selalu merasa lebih baik.

"Apa yang ingin kau katakan?"

Suaranya begitu datar. Membuat Luhan ragu ini saat yang tepat untuk bicara namun tak memiliki pilihan lain selain menjelaskan maksudnya "Aku minta maaf karena pergi tanpa memberitahumu. Sungguh aku tidak bermaksud-…"

"Tidak perlu!" katanya memberitahu Luhan sebelum

Sret…!

Dengan kasar Myungsoo melepas pegangan Luhan. Sama sekali tidak berminat mendengar penjelasan Luhan dan lebih memilih untuk menyelesaikan latihannya untuk turnament minggu depan "Aku pergi latihan. Lebih baik kau istirahat."

"Tapi L-…"

"KIM TAEHYUNG….NAM WOOHYUN! CEPAT BERSIAP DAN IKUT DENGANKU!"

Kedua nama yang dipanggil itupun bergegas mengambil peralatan mereka. Dan setelah menatap Luhan sekilas mereka bergegas mengikuti kemana leader mereka pergi. Semua anggota tersisa hanya diam di tempat. Kembali melakukan kegiatan masing-masing berusaha untuk memaklumi bahwa leader tim gabungan NFS dan BTR-…jelas sedang patah hati.

.

.

.

.

.

.

.

.

-malam harinya-

.

.

.

"Baek…Soo…"

Yang dipanggil mencari asal suara. Menebak pastilah Luhan yang memanggil mereka sebelum sedikit terperangah melihat si pria cantik memakai lengkap atribut balapnya seakan ingin mengikuti turnament malam ini.

"Lu? Kenapa dengan pakaianmu?"

Kali ini giliran Luhan mengangkat bahunya. Menuruni tangga dengan mengancingkan jaketnya sebelum benar-benar mendekati kedua Baekhyun dan Kyungsoo "Aku akan ke lapangan."

"Untuk apa? Kau tidak memiliki jadwal."

"L tentu saja! Dia membuat V dan Namu ingin bunuh diri karena teriakannya."

"Mereka menghubungimu?"

"mmh…Mereka kelelahan menemani L latihan. Jadi aku berniat menggantikan posisi mereka."

"Poor V dan Woohyun!"

Kyungsoo tertawa sekilas saat ini. Mengerling Baekhyun yang mengangguk setuju sebelum Baekhyun kembali bersuara "ah-….Patah hati memang bisa menyebabkan serangan jantung untuk teman-temannya. Iya kan soo?"

"Kau benar! Wajah L benar-benar pucat saat kau memberitahu tentang Luhan yang mengunjungi Sehun. Dia benar-benar terlihat seperti L lima tahun yang lalu. Sangat menjengkelkan dan sangat mengerikan. Dia bahkan-…"

Pletak / Pletak

"y-YAK!"

Kyungsoo dan Baekhyun memekik bersamaan. Bertanya-tanya mengapa kepala mereka menjadi sasaran si pria cantik yang terlihat sedikit Manly malam ini-…sedikit Manly

"Apa yang kau lakukan huh?"

"Telingaku sakit mendengar kalian mengejek Myungsoo. Jadi hentikan." Katanya memberitahu asal Baekhyun dan Kyungsoo. Sedikit bergegas mengambil kunci mobil sebelum berpamitan pada kedua temannya "Aku pergi." Katanya melenggang pergi begitu saja dan

Brrmmmm….!

Suara mobil Luhan terdengar sampai ke dalam basecamp. Membuat sepasang suami istrinya yang mendengar keluar dari kamar terlihat bertanya pada dua pria cantik yang entah sedang melakukan apa "Baek…Soo…Siapa yang pergi?"

"Luhan."

Kyungsoo menjawab asal pertanyaan Jiyeon sebelum

"Jiyeonna!"

"huh? Ada apa?"

"Kim atau Oh?"

"Apa yang kau tanyakan?"

"Jawab saja si Kim atau si Oh yang pada akhirnya Luhan pilih?"

"Kau membicarakan Myungsoo dan Sehun?"

"eoh! Jadi kau pilih siapa? Kim atau Oh?"

"Aku?" Jiyeon berfikir sejenak sebelum

"Oh tentu saja!"

"Ish penghianat! Aku Kim."

"Kim juga." Timpal Baekhyun membuat Jiyeon mendadak kesal dan mengangkat paksa tangan suaminya "Kalau begitu dua Kim dan dua Oh." katanya memaksa Taecyeon yang terlihat sangat tak rela tangannya dipaksa diangkat untuk memilih pria yang pernah menjadi saingannya "Sayang…Aku memilih Kim!" ujarnya berbisik sebelum

"arh…!"

Taecyeon terpaksa meringis sementara Jiyeon menyeringai menang karena kedudukan Myungsoo dan Sehun sama di tempat tinggalnya saat ini "Aku yakin Oh akan menjadi pemenang hati Luhanku."

"Kau salah. Entah mengapa aku merasa Myungsoo akan menyelak dan mendapatkan posisi itu."

"Kalian yang salah! Aku mengenal Luhan lebih lama dari kalian. Jadi aku berani bertaruh bahwa Sehun adalah cinta pertama dan terakhir Luhanku."

"Ayolah!"

Taecyeon menutup paksa bibir istrinya yang hampir kembali bersuara. Mendekapnya pelan namun memastikan tak akan ada suara lagi yang keluar dari bibir yang terkadang berbisa miik istrinya "Sayang…Aku lebih suka mendengar kau bernyanyi daripada berdebat. Jadi hentikan hmm…Kasihan adik bayi."

Taecyeon mencium pipi Jiyeon bergantian sebelum mengambil dan memakai jaket hitamnya "Sayang kau mau kemana?"

Taecyeon kembali mendekati Jiyeon. Menciumnya sekilas dengan tangan yang menaikkan zipper jaketnya. "Aku juga harus latihan."

"Tapi kau bilang tidak perlu."

"Awalnya memang tidak perlu. Tapi kedua leaderku berada di lapangan saat ini. Jadi aku rasa aku harus bergabung dengan mereka."

"Taec…"

"Tidak mengeluh dan mengkhawatirkan aku secara berlebihan. Itu janjimu-…Kau ingat kan?"

"….."

Entah kenapa perasaan Jiyeon buruk tentang turnament kali ini. Dia sama sekali tak menyetujui keikutsertaan Taecyeon untuk turnamnent minggu depan. Walaupun ini hanya turnament kecil seperti yang Luhan katakan tapi perasaan buruk selalu mengganggunya. Membuat Jiyeon sedikit ragu untuk mengatakan Iya namun tak memiliki pilihan lain karena takut membuat suaminya kecewa.

"Sayang…"

"huh?"

"Kau janji kan?"

Dengan berat hati Jiyeon membalas senyum Taecyeon. Membuang perasaan buruknya dan hanya percaya pada kemampuan Taecyeon yang selalu baik-baik saja selama lima tahun mereka saling mengenal. Dan oleh karena itu pula-…Jiyeon tak memiliki pilihan lain selain menjawab

"Aku janji."

.

.

.

.

.

.

.

.

BLAM….!

Luhan menghentikan mobilnya di lapangan tempat NFS berlatih sebelum mengikuti event. Memperhatikan sekitar lapangan yang begitu sepi sampai bibirnya menyunggingkan senyum tak menyangka bahwa NFS telah berbagi tempat latihan dengan mantan rival mereka.

Brrmmmmm!

Dan saat dua mobil berkejaran di depan kedua matanya. Maka tebakan Luhan si pengemudi mobil berwarna silver tengah menggerutu marah tak tahan mengikuti si mobil hitam yang melaju pesat nyaris tak terkejar saat ini.

"V KAU TERLALU LAMBAT DAN WOOHYUN-….BERAPA WAKTUKU?"

"Aku sudah memberitahu waktumu L."

"AKU INGIN MENDENGARNYA LAGI!"

Mantan pembalap yang kini menjadi teknisi di BTR itu pun terlihat jengah. Entah sudah berapa kali dia melihat stopwatch dan memperhitungkan jarak tempuh sang leader dalam satu menit. Yang jelas semua yang ia lakukan terasa sia-sia karena sang leader benar-benar ingin catatan detail perdetik tanpa alasan.

"NAM WOOHYUN!"

"ASTAGA L SABARLAH-..!"

"Namu…."

Yang dipanggil segera menoleh. Wajahnya bahkan berbinar hebat melihat leadernya yang lain memanggil. "Luhaaan!"

Woohyun pun memekik melihat kedatangan Luhan. melepas earphone nya dan mengabaikan teriakan Myungsoo adalah hal yang tidak ia pedulikan lagi mengingat moodboster Myungsoo sudah berada tepat di depan kedua matanya.

"Dia masih gila?"

"Semakin gila Lu….Aku tidak tahan!"

Luhan tertawa kecil merasa bersalah. Mengambil alih earphone Woohyun dan menyerahkan kunci mobilnya pada mantan pembalap BTR yang tak bisa lagi berada di lapangan karena kecelakaan yang dia terima bersamaan dengan Kai beberapa tahun lalu.

"Bawa mobilku dan istirahatlah di basecamp. Aku akan mengurus leadermu."

"Astaga Luhan! Terimakasih banyak!"

Tanpa ragu Woohyun mengambil kunci mobil Luhan segera berlari menuju "si merah" sebelum kembali berteriak memanggil Luhan "LU!"

"Ada apa?"

"Jika aku bawa mobilmu kau bagaimana?"

"Aku dengan Myungsoo tentu saja."

"Bagaimana jika dia mengabaikanmu?"

Luhan mengangkat bahunya. Sedikit tertawa seperti mendengar lelucon sebelum memakai kedua earphone Woohyun di telinganya "Dia tidak akan bisa."

Woohyun mempertimbangkan ucapan Luhan. sedikit mengerti maksud sang leader sebelum bergumam pelan "Kau benar-…L tidak akan bisa marah padamu." Katanya tertawa kecil sebelum

Brrrmmmm!

Dengan tak sabar Woohyun meninggalkan lapangan diikuti mobil silver yang tiba-tiba berhenti disampingnya.

BLAM….!

"LUHAAAAN..SYUKURLAH KAU DATANG…TERIMAKASIH KAU DATANG…AKU PERGI DULU! SAMPAI NANTI LUHAN…AKU MENCINTAIMU!"

Dan tak lama Woohyun pergi. Giliran Taehyung yang melarikan diri. Membuat Luhan benar-benar tercengang tak membayangkan neraka macam apa yang dirasakan kedua temannya hampir seharian ini. "whoaa.. Aku benar-benar merasa bersalah pada kalian." Katanya terkekeh sebelum

"TAEHYUNG JAWAB AKU? KEMANA KAU PERGI? Y-YAK! NAM WOOHYUN-KIM TAEHYUNG!"

Luhan mejauhkan earphone nya. Merasa begitu pengan dengan teriakan Myungsoo sebelum kembali memasang earphone milik Woohyun di telinganya.

"JAWAB AKU ATAU KALIAN-…."

"Mereka pergi L…"

"huh? Siapa ini?"

"ck! Kau tidak mengenali suaraku."

Luhan mendengar suara leadernya tertahan. Dia bahkan terdiam cukup lama sebelum Myungsoo menghela dalam nafasnya dan kembali membuka suara.

"Luhan…"

.

.

BLAM…!

"Apa yang kau lakukan disini?"

Luhan melepas earphone milik Woohyun saat Myungsoo dengan cepat turun dari mobil setelah mengetahui kedatangannya. Sang leader bahkan menunjukkan raut cemas dan kesal dalam satu waktu membuat Luhan tak memiliki pilihan lain selai mengeluarkan dua kaleng bir yang telah ia siapkan.

"Ayo kita minum."

Myungsoo berhenti di tempatnya. Memperhatikan wajah Luhan yang terlihat kedinginan dengan dua tangan gemetar memegang kaleng bir di masing-masing tangannya. "Kemana jaketmu?"

"huh? Ah-….Ada di mobil dan Woohyun sudah membawa pergi mobilku."

"Kau tidak berharap aku memberikan jaketku kan?"

"aigoooo-…Leader-ssi. Tentu saja tidak-…Tapi bisakah aku meminjamnya sepuluh menit? Aku kedinginan."

Tanpa tahu malu Luhan meminta jaket Myungsoo. Membuat sang leader tertawa jengah sebelum melepas jaketnya dan memakaikan cepat ke tubuh Luhan "Jika kau sakit-…Aku akan sangat murka. Kau dengar?"

"Hey…Jangan terus berlebihan."

Luhan membiarkan Myungsoo memakaikan jaketnya. Merasa sedikit hangat sebelum memberikan satu kaleng bir untuk sang leader "Ayo kita minum."

Myungsoo tanpa ragu mengambil kaleng birnya. Berjalan kembali menuju mobilnya dan bersandar di kap mobilnya "Aku tidak berlebihan." Katanya memberitahu Luhan dan

Sssshh….

Myungsoo menenggak sekaligus bibirnya. Membuat rasa panas di kerongkongannya turun dengan cepat hingga perut dan tubuhnya mulai merasakan hangat saat ini.

Luhan memperhatikan Myungsoo yang menatap kosong ke depan. Merasa bersalah karena membohongi Myungsoo sebelum mendekatinya dan ikut bersandar di kap mobil kebanggan sang leader "Myungsoo-ya…"

"Aku tidak biasa mendengar kau memanggil nama kecilku."

"Biasakan kalau begitu.."

"Araseo…"

Myungsoo mengusak asal kepala Luhan. sedikt tertawa sebelum kembali menatap kosong ke depan. Keduanya bahkan menikmati pemandangan gelap dalam diam sebelum Luhan kembali membuka suaranya.

"Mianhae L…"

Myungsoo tahu akan mendengar ucapan maaf dari Luhan. Dia juga bisa menebak penyesalan yang akan Luhan sampaikan setelahnya. Membuatnya sengaja menghindar hampir satu hari ini namun berakhir berdua dengan pria yang semakin hari semakin ia kagumi dan sayangi.

"Untuk apa?"

"Maaf karena tidak memberitahumu mengenai kunjunganku ke rumah Sehun."

"ah-…Untuk itu. Aku rasa tidak perlu. Wajar jika kau menghibur pria yang kau cintai kan? Aku juga melakukan hal sama jika kau berada di posisinya."

"L…"

Ucapan Myungsoo terdengar menyindir. Namun jika didengar lebih teliti lagi-…Sang leader terdengar sangat terluka. Membuat Luhan begitu menyesal karena selalu menjadi alasan mengapa pria di sampingnya terus merasa kecewa dan ditinggalkan.

"Jadi bagaimana?"

"Huh?"

Dan saat Myungsoo kembali bertanya. Maka seluruh kecanggungan mulai dirasakan keduanya saat ini "Apa yang bagaimana?"

"Kau dan dia-…Apa kalian kembali bersama?"

Luhan mendesah tak percaya mendengar pertanyaan Myungsoo. Dia bahkan membuka kasar kaleng bir nya sebelum

Ssshhh….

"y-YAK!"

Dan Myungsoo pun tersentak karena teriakan Luhan. Entah setan apa yang merasuki pria cantiknya. Yang jelas Luhan terlihat sangat mengerikan dan begitu mengerikan saat ini "L-Lu. Kau kenapa?"

"Aku kenapa?-…astaga aku tidak percaya ini!-…KAU YANG KENAPA BRENGSEK!? KENAPA KAU BERTANYA SEOLAH AKU INI PRIA MURAHAN YANG AKAN SEGERA MENGAMBIL TEMPAT DAN KEMBALI MENJADI KEKASIH DARI MANTAN KEKASIHNYA SENDIRI!"

"huh? Jadi kau belum kembali padanya?"

"BELUM DAN BERHENTI BERTANYA! KAU MEMBUATKU MARAH!"

"ah-….Jadi belum…Syukurlah!"

Tanpa alasan yang jelas Myungsoo tersenyum senang. Merasa kesempatannya terbuka lebar sementara Luhan terus menggerutu marah di sampingnya "whoaaa…Kenapa disini sangat panas!"

Buru-buru Myungsoo menghentikan Luhan saat Luhan berniat melepas jaketnya. Memastikan bahwa zipper jaketnya tidak turun dan mulai berbicara pada Luhan "araseo…Aku minta maaf jangan marah lagi padaku."

"KAU YANG MARAH PADAKU!"

"Aku minta maaf."

"ck…! Minta maaf dan menyindirku. Kau benar-benar kekanakan Kim Myungsoo. Kau bahkan-…"

"JELAS AKU MARAH! PRIA MANA YANG TIDAK MARAH JIKA PRIA YANG DIA SUKAI KEMBALI KE RUMAH MANTAN KEKASIHNYA. DIA BAHKAN TIDAK PULANG SEMALAMAN. MEMBUAT RASANYA HATIKU PANAS DAN INGIN BERTERIAK SEPANJANG HARI! AKU KESAL LUHAN! SANGAT KESAL!"

Ini adalah kali pertama Luhan mendengar teriakan Luhan yang begitu panjang dan sangat keras, membuatnya sedikit tercengang sebelum

"wow..daebak!"

Mulut Myungsoo yang terbuka kembali tertutup. Menyadari kesalahannya dan mengambil paksa kaleng bir Luhan sebelum menenggaknya habis

"Sssshh….Sudahlah. Ayo kita pulang." Katanya membuang asal kaleng bir yang ia minum. Menggenggam tangan Luhan sebelum Luhan menariknya dan berujar lirih

"Dia bilang dia akan berusaha kembali mendapatkan aku."

Jantung Myungsoo dibuat berdenyut sakit untuk alasan yang tidak jelas. Fakta bahwa Luhan masih mencintai Sehun sudah sangat menyakitinya. Ditambah kenyataan bahwa Sehun tidak akan melepas tangan pria yang sedang ia genggam membuat hatinya seperti ditusuk ribuan jarum -kecil-…namun terasa sangat menyakitkan-. Membuat Myungsoo hanya bisa tersenyum pilu sebelum kembali menatap Luhan.

"Dia bahkan mendapatkan kesempatan keduanya sementara kau sama sekali tidak memberikan aku kesempatan."

"Myungsoo aku benar-benar-…"

"Kalau begitu aku juga akan berusaha mendapatkanmu."

"Kau tahu selamanya aku hanya akan menganggapmu seperti saudara L…Jadi bisakah kau berhenti-…"

"Percuma memintaku berhenti. Aku tidak akan melakukannya. Hanya biarkan aku berusaha mendapatkanmu. Jika hasilnya sia-sia-…Setidaknya aku tidak menyesal karena pernah berusaha." Katanya memberitahu Luhan begitu memelas sebelum

"Ayo kita pulang."

Myungsoo semakin menggenggam erat tangan Luhan. Membawanya masuk ke dalam mobil tanpa mengucapkan satu kalimat apapun.

BLAM…

Dan setelah memakaikan seatbelt pada Luhan-…Myungsoo berjalan memutar mobilnya dan

BLAM…!

"Aku mengundang Sehun datang untuk melihatmu bertanding minggu ini. Kau tidak marah kan?"

Myungsoo menyalakan mesin mobilnya. Sedikit menatap Luhan sebelum tersenyum percaya diri "Aku suka bersaing." Katanya mengerling Luhan dan

BRRRMM…!

Malam itu Luhan juga merasa kembali didorong masuk kedalam jurang. Memikirkan betapa Myungsoo menyukainya sejak lima tahun ini membuat hatinya sedikit tergerak. Namun kenyataan bahwa Sehun berjanji akan berusaha mendapatkannya lagi adalah hal yang membuat Luhan begitu bahagia.

Dan entah tangan siapa yang akan Luhan genggam nantinya. Dia berharap tidak melukai siapapun.. Dia berharap tidak ada yang terluka karena kisah cinta menyedihkan yang mereka rasakan -tidak Sehun, tidak Myungsoo dan tidak dirinya….-

.

.

.

.


.

-tobecontinued-

.

.


.

Dilanjut hari selasa / rabu *ini beneran

Alesannya?

.

Karena dua hari besok gue ga dirumah. Jadi daripada telat apdet mending dibagi dua …key? * ga berani bilang senin takut masih cape soalnya…

.

Niway…nantikan Sehun dkk di tribun nextchap kkkkk…#AkutimOH