Chapter 25 – As a Woman and As a Man (2)
Summary
Setelah Yasmine dan Leila menceritakan apa yang terjadi, di ujung percakapan ini akibat sikap Yona, amarah Hak terpancing dan ini pertama kalinya mereka melihat Hak marah setelah Hak kehilangan ingatannya. Sempat terjadi pertengkaran di antara keduanya meski akhirnya mereka berdua berbaikan lagi. Sementara itu, Leila harus menghadapi laki-laki yang tak ingin ia temui.
"jadi... Kan Kyo Ga adalah jenderal suku api saat ini dan Soo Won adalah raja kerajaan Kouka saat ini, sepupumu... sepertinya sedikit banyak aku bisa memperkirakan apa yang terjadi" ujar Hak melipat tangan dan menatap Yona "tapi kenapa kau rahasiakan hal ini dariku?",
Melihat Yona menundukkan kepala dan bungkam, sorot mata Hak berubah menjadi tajam dan dingin seperti suaranya saat ini "oh... kau mendesakku untuk mengingat semuanya, tapi kau sendiri menyembunyikannya dariku? sebenarnya... kau ingin aku ingat atau tidak?".
"tentu saja aku ingin kau ingat, di antara semuanya... akulah yang paling ingin kau mengingat semuanya, kan?!" ujar Yona mendongak.
"tapi hati kecilmu mengatakan kalau kau merasa mungkin lebih baik jika kakakku tak perlu mengingat apa yang telah terjadi, kan?" celetuk Yasmine yang bersandar di dinding.
Melihat Yona bungkam sambil menundukkan kepala, Hak beranjak "baik, aku mengerti... aku sadar kau tak percaya padaku dengan kondisiku saat ini, tapi ternyata yang kulakukan untuk mengingat semuanya sia-sia saja, jadi tak ada gunanya lagi, kan?".
Saat Yona menahan tangannya, Hak menepis tangannya sehingga Yona langsung menangis.
Leila menjitak kepala Hak dari belakang dengan kipasnya "aku mengerti kau kesal karena rasanya seperti sedang dipermainkan, tapi sebagai laki-laki, tak seharusnya kau berkata kasar bahkan membuat wanita menangis, kakak bodoh".
"tunggu, kau mau kemana?" tanya Yun.
"mendinginkan kepala" sahut Hak keluar.
Jae Ha menghela napas "kenapa kau malah berkata begitu, Yasmine?".
"apa anda tak sadar kalau tindakan anda justru memperkeruh suasana? Sebenarnya... apa yang anda inginkan kali ini, putri Yasmine?" ujar Kija berdiri.
Detik berikutnya, belati yang tersimpan di pinggul Yasmine ia lemparkan dan menggores wajah Kija.
Yasmine menatap tajam Kija "bukankah sudah kubilang, jangan memanggilku dengan embel-embel 'tuan putri', Hakuryuu...".
"aku mengerti panggilan itu akan mengingatkanmu pada sumber traumamu, tapi tindakanmu barusan memang menyiram minyak pada api sehingga wajar mereka marah padamu, kan?" ujar Leila melipat tangan.
"aku tidak trauma dan ini tak ada hubungannya sama sekali denganku... maksudku juga bukan ingin memperkeruh suasana, sebab biar bagaimanapun, cepat atau lambat, hal ini tetap harus diberitahu pada kak Hak, kan?" ujar Yasmine mencabut belatinya dari dinding dan berjongkok di depan Yona "Yona, aku mengerti apa yang kau takutkan, tapi kau juga harus ingat bahwa melupakan berarti lari, dan dia bukan orang yang akan lari dari lukanya sendiri... karena itu dia teap berusaha mengingat semuanya lagi dan siap menerima resikonya, karena dia melupakan semuanya bukan karena kemauannya... apa kau pikir kakakku selemah itu sampai harus kau lindungi? kau yang paling tahu, kakakku bukan laki-laki selemah itu...".
"ucapanmu benar... tapi jika aku mengingat Hak harus mengingatnya seperti ia mengalami apa yang terjadi sekali lagi... bukannya aku ingin menyembunyikannya, tapi aku tak sanggup... ini terlalu kejam..." isak Yona.
Leila memegang wajah Yona dan mengecup pelupuk mata Yona yang basah akibat air mata, air mata Yona terhenti dengan mata terbelalak karena apa yang dilakukan Leila persis seperti kebiasaan Hak padanya.
Leila tersenyum lembut, menyeka air mata Yona sambil mengadu dahi "seorang wanita tidak seharusnya membiarkan air matanya jatuh begitu mudah atau terlalu lama, jadi segera hapus air matamu... tak apa, temui kakakku dan bicaralah baik-baik, katakan saja alasanmu... sebab kurasa dia marah karena merasa kalau kau tak percaya padanya... jika tidak, dia takkan bicara seperti tadi, kan?".
Yona tersenyum dan menyeka air matanya meski pipi dan ujung matanya memerah "...kau benar-benar putri nyonya Maya, ya... kau mengatakan hal yang sama dengan ibumu...".
Leila tertawa geli mendengar ucapan Yona "tentu saja, karena aku adalah belahan jiwanya".
Yona pergi menyusul Hak ditemani Shina dan Zeno yang membantunya mencari Hak.
Leila berdiri dan melirik ke arah Yasmine "baiklah, adikku... bisa kita pergi sekarang? terlepas dari suasana hatimu yang jelek, tentunya".
"apa aku harus jadi umpan?".
"tidak, kau dan ketiga laki-laki itu awasi putri Yona dan kak Hak... biar aku dan Yui-chan yang awasi pergerakan Soo Won dan Kan Kyo Ga... hanya pergerakan mereka berdua yang harus kita awasi lagipula aku penasaran, apa yang membuat mereka datang ke Awa?" ujar Leila lalu meminta Yasmine dan ketiga laki-laki yang tersisa (Yun, Kija dan Jae Ha) untuk keluar lewat jendela atau pintu belakang "menurut Yui-chan, dua orang itu berada di depan penginapan ini, jadi cepat pergi dari sini".
"ah, sebelum kami pergi..." ujar Jae Ha yang menggendong Yasmine dan bersiap lompat dari jendela "Yui-chan, apa kau punya kakak perempuan?".
"kenapa bertanya begitu?" tanya Yohime.
"tidak, hanya saja... aku bertemu wanita yang mirip sekali dengannya pagi tadi".
"aku tak punya saudara, kok" ujar Yui.
Zeno dan Shina berkata kalau mereka hanya akan diam mengawasi dari kejauhan dan takkan mengganggu mereka, karena itu saat mereka menemukan Hak duduk di padang rumput dekat tepi laut, hanya Yona yang menemuinya.
Di bawah sinar bulan, Yona menemukan Hak berdiri di bawah pohon, di tengah terpaan angin, Hak yang menatap langit dengan sorot mata kosong menutup matanya perlahan sehingga Yona lari sekuat tenaga dan memeluk Hak dari belakang sambil memanggil namanya.
"...kenapa menerjangku dari belakang begitu?" tanya Hak melirik ke belakang.
Yona menempelkan wajahnya yang merona merah dengan mata berkaca-kaca ke punggung Hak yang lebar "habis... kukira kau akan menghilang...".
Hak tersenyum lembut dan mengelus kepala Yona "tenang saja, aku takkan menghilang...".
"kau tak marah lagi padaku?" tanya Yona mendongak dengan sorot mata cemas.
Hak terdiam sesaat sebelum ia meminta Yona duduk di sampingnya dan mendengarkan sedikit ceritanya, tentang apa yang ia alami saat hampir mati.
.
Hak merasa dijatuhkan dalam dunia yang hampa, hanya ada kegelapan tak berujung disana. Tak peduli seberapa jauh ia berlari, tak peduli seberapa keras ia berusaha berontak, kegelapan tak pernah pergi, dunia dimana hanya ada keheningan, begitu sunyi senyap, sepi dan dingin, membuatnya merasa sesak, seorang diri di tengah kegelapan yang menyakitkan. Setelah lelah berlari, ia hanya bisa diam meringkuk, rasa takutnya sudah hilang berganti dengan ketenangan. Di saat ia ingin menyerah, ia mendengar suara yang memintanya tak menyerah dan kembali ke dunia penuh cahaya. Sebuah sinar merah menyelimuti tangannya dan saat terbangun di tengah rasa sakit, ia melihat Yona yang tertidur di sisinya dengan mata dan wajah yang basah oleh air mata, menggenggam erat tangannya. Di dekat Yona yang terlelap, Maya yang menyelimuti Yona meminta Hak diam.
Kegelapan yang menyelimutinya membuatnya merasa tenang karena seorang diri, tak ada yang mengganggunya atau menyakitinya.
Cahaya yang memanggilnya kembali begitu lembut, menyadarkannya akan kehangatan yang ia rasakan jika ada seseorang di sisinya.
.
"aku menginginkan kehangatan, kelembutan dan senyumannya... jadi mana mungkin aku pergi dari sisinya?" pikir Hak melirik Yona dan bertopang dagu "aku bukannya marah, hanya saja aku merasa kesal... karena dengan kondisiku saat ini, aku hanya bisa membuatmu bersedih dan menangis... aku pengawalmu, seharusnya aku yang menjaga dan melindungimu tapi malah aku yang dijaga dan dilindungi olehmu... kau tak seharusnya memikirkan perasaanku karena aku hanya alatmu".
"kalau kubilang aku tak pernah menganggapmu sebagai alatku, apa kau tak suka?" ujar Yona memegang wajah Hak, menyandarkan kepalanya ke dada Hak dan memeluk Hak "seperti kau yang selalu ada di sisiku, aku akan selalu ada di sisimu, dengan begitu kau tak sendirian lagi... ada teman-teman kita dan keluargamu... ada aku di sisimu, karena itu... jangan memisahkan diri dan jangan pernah berpikir kalau kau sendirian, Hak... sendirian itu menyakitkan, karena itu, apapun yang terjadi, jangan pergi...".
"memangnya... aku bisa pergi kemana lagi, selain tetap berada di sisimu?" ujar Hak memeluk Yona dan mengecup pelupuk mata Yona yang berkaca-kaca.
Saat Leila berjalan di lorong, seseorang menarik lengannya dari samping dan menahannya di dinding.
"oh, ini mengejutkan... tuanmu Soo Won sedang bicara dengan dokter Yohime dan suaminya, jadi apa yang membuat anda menemuiku dan menahan saya disini, jenderal Kan Kyo Ga?" tanya Leila yang bersandar di dinding, tersenyum.
Kyo Ga menggenggam tangan Leila "gelang ini dan jepit rambut yang kau pakai saat kau menari di perjamuan... harusnya dimiliki wanita itu karena aku yang memberikan itu padanya, jadi siapa kau sebenarnya? Iris atau Leila?".
"saya tak mengerti apa yang anda bicarakan" ujar Leila menepis tangan Kyo Ga "lagipula, apa yang membuat anda yang seorang jenderal dan seorang raja datang kemari?".
"kau pikir aku tak pernah melihat bunga di dadamu sebelumnya?" ujar Kyo Ga melingkarkan tangan kanannya ke pinggul Leila dan menempelkan tangan kirinya ke tembok, jarak wajahnya ke telinga Leila sangat dekat, Kyo Ga membisiki Leila dari belakang "di kastil Saika... ketika kau sedang tidur dengan kimono berantakan, tak sengaja aku melihat bunga di dadamu sebelum aku menyelimutimu... hanya kau yang memiliki dua benda pemberianku dan tanda bunga itu, Leila...".
Leila menundukkan kepala dan menutup mata "lepas...".
"Iris..." ujar Yohime muncul dari balik tembok, menutup mulut dan berbalik pergi "oh, maaf mengganggu".
Menyadari posisi mereka saat ini membuat orang yang melihat mereka jadi salah paham, Kyo Ga segera melepaskan Leila yang menutupi wajahnya.
"tunggu, jangan salah paham" ujar Kyo Ga dan Leila menahan Yohime.
Yohime lalu menjelaskan bahwa ia dan Hakuya harus pergi ke kastil Hiryuu karena ada pasien yang harus ia sembuhkan "karena itulah, bisa kutitipkan Yui-chan? Kami juga harus pergi ke tempat sahabat kami dulu, kau bisa pergi bersama Takahiro untuk sementara sebelum kita bisa berkumpul kembali di Chishin, kan?".
"itu akan sangat menolong" ujar Leila lega karena ia tak harus ikut dengan Yohime yang berarti ia juga tak perlu berada di dekat Kyo Ga yang saat ini masih menggantikan Joo Doh.
"siapa Takahiro?" tanya Kyo Ga.
"tunanganku" jawab Leila melirik Kyo Ga sinis dan pergi.
Hakuya melihat kejadian itu, saat mereka menyiapkan barang mereka, Yohime mencemaskan Leila "...bukankah lebih baik jika kau katakan yang sejujurnya? Maksudku, pada pria itu...".
"aku tak bisa melakukannya..." ujar Leila terpotong.
"kalau begitu, kenapa kau masih menyimpan perhiasan pemberiannya?" potong Hakuya.
Melihat Leila terdiam, Hakuya menghela napas "aku tak pernah bilang jika ini hal yang buruk, Leila, justru ini bagus untukmu, sudah 4 tahun sejak kepergian Takahiro... sudah cukup, kan? Takahiro tak akan membencimu hanya karena hal ini".
"aku mengerti, tapi aku tak bisa... itu sama saja dengan mengkhianati Takahiro... lagipula..." ujar Leila menundukkan kepala "setelah aku melukainya, aku merasa tak pantas...".
Ketika Hakuya hendak bicara, Yohime menggelengkan kepala dan melihat keluar "sebentar lagi musim dingin...".
Coret-Coret Author
Ketika adik laki-lakiku membaca cerita ini untuk kuminta penilaiannya, ia mengatakan "Kan Kyo Ga melakukan pelecehan seksual pada Leila!?".
Seketika aku tertawa dan menjawab "kalau dia yang melakukannya, tidak apa-apa, kan?".
Anyways, thanks a lot untuk yang mau membaca cerita ini sampai sini
Hope you give your review, jika ada komentar dan saran...
Terima kasih dan sekian
