Ketemu lagi!*tiap kali juga ketemu thor...* hahaha, author ga usah banyak cinchong*Jia Chong: manggil? Wa: TIDAK! SANA PERGI!* go to review~
Evil Red Thorn:
Iya, salah satu korbannya yang HAMPIR mungkin Sun Jian dan Huang Gai...*plak* Hehe, Da Qiao udah cantik baik pula! Gimana ga ada yang suka sama dia? Da Qiaaaaao!*ditampar pake kipas!* tentu, wa akan lanjutin inih! Thanx~
ScarletAndBlossoms:
Ahahahai, panjang umur jadi seram ye... Ehehehe, itu kebiasaan ucapan Aupu saat dia sedang membicarakan orang yang nggak ada, tapi tiba-tiba muncul orangnya dia langsung ketawa sambil bilang "Panjang umur!" haha, Thanx~
Myokyu:
Oke deh boss, udah lama ga mampir di pendom ini yah Onechan? Ya gapapa... Hehehe, Thanx~
Games: Dynasty Warriors, belong to KOEI
Chapters 25: Partner
Gendre: Friendship & Adventure
Rate: K+
Chara: Sun Shang Xiang & Lian Shi
Summary: hei Da Qiao! Bukan cuma kamu yang baru pertama kali kerja sama sebagai partner, tapi aku juga! Aku sangat senang, tapi juga agak merasa aneh.. Apa aku benar-benar... Telah digolongkan menjadi anggota Wu...?
.
.
.
Aku melipat tanganku dan duduk menyender didekat kasur. Da Qiao hanya bisa terdiam hening, tak ada topik pembicaraan... Begitulah... Akhirnya akulah yang membuka topik pembicaraan.
"Anu, Ke, kenapa Nona Da tidak menolak saja permintaan Yang Mulia Sun.. Entahlah apa namanya itu... Maksudku, kenapa mau menjadi Partner dengan... Orang keras kepala sepertiku?" tanyaku.
"Oh, keras kepala? Maafkan saya... Bagi saya Fong kelihatan pintar berbicara, tapi apakah cuma penilaian saya saja? Oh maafkan saya..." ucap Da Qiao sangat dewasa, lama lama dia jadi mirip Lian Shi.
"Tolong yang tenang Nona..."
"Panggil saya 'kakak' kan kamu biasanya memanggilku begitu"
"Ouh, tapi tetap saja... Tetap 'Nona...'?"
"Ayolah, walau saya telah menikah dengan Yang Mulia Sun Ce, tetaplah panggil saya 'kakak' karena sebutan 'nona' membuatku merasa berbeda, kita sudah menjadi Partner, Fong..." jelas Da Qiao soal panggilan Nama.
"... Ouh... Yah... Benar..."
"Ehm, baiklah... Saya harus menemui Yang Mulia Sun Ce, sampai nanti Fong" ucap Da Qiao berdiri dan berjalan kepintu.
"Yah, Kak..."
BLAM
Aku berdiri dan berjalan kearah pintu, sesaat sedang berjalan, aku menyepak sesuatu. Apa itu? Aku mendongah kebawah, melihat sebuah Trident. Oh yah... Kalau tidak salah... Aku menyeret Trident ini karena pikiranku kacau. Masya...
"Khusina... Surga itu seperti apa yah...?"
Suara itu kembali, yah... Bagaimana-pun juga surga itu tempat yang menyedihkan yang diinginkan orang-orang. Dunia sementara, akhirat selama-lamanya...
Aku menunduk dan mengambil Trident tersebut. Aku berdiri tegak normal dan memandang terus Trident yang kugenggam. Dan memejamkan mataku...
Trident ini telah disentuh oleh orang yang kusayangi. Tuan Jiang Wei dan Masya... Tapi tak terasa apapun... Tak terasa... Hanya saja, terasa lagi air mataku. Ya ampun, aku cenggeng amat... Amat saja nggak cenggeng.
Aku meletakkan Trident itu dipojokan kamar dan mengelap air mataku dengan punggung telapak tangan. Lalu kembali ketujuan pertama, yaitu: membuka pintu(?)
"Huff..." aku menghembus nafas.
"Oh, saya baru saja ingin memanggilmu" ucap Lian Shi mengangkat tangannya ingin memegang ganggang pintu.
" #%$^&&&%$# $" ucapku pakai bahasa alien, sebenarnya aku kaget untuk ke-3 kalinya...
"No, Nona..."
"Eh, tidak... Aku hanya agak(?) kaget"
"... Begini, saya ingin mengajari anda naik kuda..."
Aku terbenggong. Kok tiba tiba sekali! Tidak pakai acara pembukaan apaaaa?
"E, eh...?"
"Iya, karena tinggimu itu cukup untuk naik kuda"
Aku lanjut terbenggong. Naik kuda memang belum pernah, tapi kalau naik becak pernah! Sekarang malah disuruh naik kuda! Duh, kudanya besar-besar lagi... Gimana cara mengendalikannya? Bagaimana caranya aku menjinakannya? Bagaimanaaaa?
"Ayolah, gampang sekali menaiki kuda..." ujar Lian Shi.
"Na, naik kuda sajakan...?" tanyaku gugup.
"Ya sekaligus mengendarai kudanya"
"Nona Lian Shi... Aku takut..."
"Ayolah... Kamu belum mencobanya, kalau kamu mencobanya pasti menyenangkan. Lagipula Yang Mulia Sun Jian ingin memberimu kuda..."
Hem... Aku tidak dapat naik atau mengendarai kuda... Dan juga aku takut ketinggian... Sesaat melihat Masya seperti itu... Tapi Yang Mulia Sun Jian memberiku kuda karena mempercayaiku... Jadi hasil yang kutemukan adalah... TIDAK JELAS SAMA SEKALI!
Benar benar 1000 pertanyaan yang perlu diungkapkan...
.
"Kamu pilih yang mana?" tanya Lian Shi.
Huuh... Bau kuda dimana-mana... Bagaimana bisa konsen akunya... Hem... Sudahlah, pilih dan keluar dari sini.
"Yang ini..." aku menunjuk kuda berambut hitam, dengan kulit berwarna coklat. Matanya memancarkan kilauan yang menarik.
Lian Shi tersenyum. "Pilihan yang bagus Nona Fong"
"Eh?"
.
"Nah, injak pijakan ini, dan kamu bisa naik kepunggung kuda itu" jelas Lian Shi menunjuk sesuatu didekat perut kuda itu.
Aku hanya menuruti, tapi deg-degan sekali... Aku menduduki punggung kuda tersebut dan tersenyum lebar yang gugup. Huwa... Tinggi sekali...
"Nah, pegang tali ini" Lian Shi mengangkat tali yang diikat dileher si kuda, aku mengambilnya dengan kedua tangan dan merasa seperti koboi, hehe...
"La, lalu...?"
"Cambuk kuda itu"
"EHHHH!? Kasihan kudanya! Kan sakit!" bentakku, dia otomatis benggong.
"Hahaha, justru dengan begitu kuda akan menurut bukan?"
"Tapikan pasti sakit, coba Nona Lian Shi saja yang dicambuk..."
"Memang sakit, tapi kuda yang kamu pilih kuda yang pantas dan kuat. Dia kuda pemberani walau larinya tidak begitu cepat..."
"Ba, baiklah... Kalau itu betul..."
Aku mencambuk kuda itu dan terdengar bunyi cambukan yang keras, kuda yang kududuki pun langsung berlari sangat kencang. Ini bukan tidak begitu cepat, tapi telalu cepaaaat!
"Hwaaaa..."
"Nona, jangan mencambuk terlalu keras!" perintah Lian Shi. "Tarik talinya!"
"Nanti dia matiii!"
"Lakukan saja!"
"Uuuugh!"
Aku menarik tali itu, dia langsung berhenti secara tiba-tiba. Akupun terlempar kererumputan. Haha, kesan pertama naik kuda, dilempar sendiri...
"Nona Fong..." Lian Shi menghampiriku.
"Pueh... Kemakan rumput..." ucapku.
"Hem... Lain kali jangan mencambuk keras keras, pelan pelan saja..."
"Ba, baik..."
"Nah, diakan telah menjadi kudamu, kamu beri nama ya, siapa namanya?"
"Ah.. Nama, nama, nama.. AH! ANGGUS!" ucapku.
"E... Enggeus?" ucap Lian Shi sweatdrop.
"Iya, bagus bukan?"
Lian Shi mulai pikir panjang lalu tersenyum kearahku.
"Iya, nama yang lucu..." ujar Lian Shi.
Aku mulai mengaruk garuk kepalaku. Bukan itu komen yang kuinginkan... Hu uh... Tapi, sudahlah! Yang penting ini berakhir...
.
.
.
Aupu: pendek sekali!
Wa: wa ga ada ide Pu! Pergi kau! Syuuh!
Aupu: kok ngusir... *mete mete*
Whatever, review yah!
