Leeteuk menangis di kamarnya. Beberapa menit lalu dia masih bersandiwara hingga Kyuhyun kembali dia baringkan di tempat tidur dan langsung tertidur. Setelah itu dia menarik Shindong keluar kamar. Dia mendesak Shindong mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
'Maaf Leeteuk-ssi Kyuhyun-ssi melarangku mengatakannya.'
Shindong mengatakan yang sebenarnya. Kyuhyun mengalami gagal ginjal sudah dua tahun ini. Dan dia tidak mengetahui hal itu. Begitu buruknya dia menjadi saudara yang tinggal satu rumah dengannya. Dia buta dan bodoh. Adiknya sakit sampai separah itu kondisinya dan dia hingga beberapa menit lalu masih belum mengetahui apapun. Dia saudara yang buruk. Sekalipun dia tidak tahu apa penyakit Kyuhyun, setidaknya dia menyadari perubahan Kyuhyun. Tubuhnya yang kurus dan wajahnya yang begitu pucat, baru dia sadari hari ini. Dia banyak melihat dan memperhatikan tapi satu yang luput oleh mata dan hatinya adalah Kyuhyun. Hal yang fatal dan tidak bisa di tolerir.
Leeteuk melempar semua barang di atas mejanya dan berteriak keras. Kemudian menangis lagi. Dia memukuli dirinya sendiri dan memaki sejadinya.
'Oemma, kapan nae dongsaeng lahir?'
'Tidak lama lagi, Leeteuk-ah. Kau mau berjanji pada oemma?'
'Apa oemma?'
'Dongsaengmu kali ini kembar Leeteuk. Oemma akan bertahan untuk melahirkan mereka. Tapi dokter sudah mengatakan pada oemma, satu dongsaengmu memiliki jantung yang lemah. Kau harus menjaganya dengan baik.'
'Ne, oemma. Leeteuk akan menepati janji.'
'Bukan itu yang harus kau janjikan pada oemma. Oemma menyayangi kaliyan, memberikan semua cinta oemma untuk anak-anak oemma. Jika nanti dongsaeng-doangsaengmu lahir oemma yakin kau akan menyayangi dan memperlakukan mereka dengan baik. Terutama pada dongsaengmu yang lemah. Tapi kau harus jadi hyung yang baik, jangan abaikan dan perhatikan juga kembarannya. Berikan kasih sayang yang pernah oemma berikan padamu. Jangan pernah membedakan mereka dalam hal menyayangi. Oemma percaya padamu Leeteuk. Kaliyan bertiga pasti bisa memberikan yang terbaik untuk si kembar.
Leeteuk meringkuk disamping tempat tidur, diantara semua barang yang dia lempar. Kenapa baru sekarang dia ingat pesan oemmanya. Pesan dari wanita yang penuh cinta, pesan terakhir yang terus diucapkannya bahkan menjelang ajal. Sekali lagi Leeteuk berteriak marah pada dirinya. Menjambaki dan meremas rambutnya seperti orang gila.
'Kyuhyun-ssi menderita gagal ginjal. Dan kami juga baru tahu hari ini jika ternyata ada kanker yang berkembang di kepalanya. Dokter Choi mengatakan hal itu disebabkan dari luka yang pernah didapatkan Kyuhyun-ssi sebelumnya.'
Perkataan Shindong membuatnya semakin merasa menjadi hyung yang tidak berguna. Leeteuk memukuli dadanya yang terasa sesak. Menangis dengan keras.
"Oemma! Oemma, maafkan aku! Maafkan aku! Oemma…..!" Leeteuk terguguk dan masih terus memukuli dada dan kepalanya.
Sungmin membuka pintu dengan cemas. Di belakangnya ada Hyukjae yang juga cemas. Mereka mendengar suara-suara berisik sejak tadi dan saat mencari mereka mendengar suara Leeteuk menangis. Tanpa pikir panjang keduanya menerobos kamar Leeteuk yang tidak terkunci dan terkejut melihat seberapa berantakannya kamar Leeteuk. Mereka lebih terkejut lagi melihat Leeteuk yang menangis memukuli dirinya sendiri. Keduanya berlari ke Leeteuk dengan khawatir, berusaha menahan tangan Leeteuk agar berhenti menyakiti dirinya sendiri.
"Hyung, ada apa? Kenapa, hyung? Kenapa kau seperti ini?" tanya Hyukjae memegangi tangan kiri Leeteuk dengan kuat. Dia mulai berfikir yang tidak-tidak. "Apa yang dikatakan si Kyuhyun itu? Kenapa kau jadi seperti ini?"
Pergerakan Leeteuk berhenti mendengar nama Kyuhyun. Leeteuk menatap Hyukjae. Sungmin dan Hyukjae lega mendapati Leeteuk mulai tenang. Namun hal tidak terduga saat Leeteuk menyentakan kedua tangannya dengan kuat. Sungmin dan Hyukjae terkejut, mereka tersentak bahkan jatuh terduduk.
"Hyung! Kau ini kenapa?!" teriak Sungmin. Dia bisa berkelahi, kalau Leeteuk tidak bisa diam dia bisa melakukan jurusnya agar dia diam. Namun Leeteuk merengsek pada Hyukjae. Mencekal kedua bahu Hyukjae dengan kuat. Hyukjae meringis.
"Aku pantas mati, Hyuk-ah! Aku pantas mati!" teriak Leeteuk kalap. Hyukjae semakin tidak mengerti dan takut hyungnya jadi gila. Entah apa yang Kyuhyun katakan hingga hyungnya jadi seperti ini.
Sungmin menarik Leeteuk lepas. "Kau menyakiti Hyukaje, Leeteuk hyung!"
Leeteuk menangis. Mereka semakin dibuat bingung. Percuma meminta Leeteuk mengatakan apa yang terjadi. Keduanya keluar setelah membantu Leeteuk naik ke kasur. Memberinya minum dan obat penenang.
"Ini pasti karena Kyuhyun. Dia menyulitkan Leeteuk hyung lagi! Aku yakin itu!" geram Hyukjae tidak terima. Dia melangkah lebar menuju kamar Kyuhyun. Sungmin yang cemas segera menyusulnya. Hyukjae berada didepan kamar Kyuhyun sekarang. Mencoba membuka pintunya, namun terkunci. Dia sudah akan berteriak namun Sungmin menahannya.
"Kau bisa mengagetkan Kibum juga!" tegur Sungmin tertahan. Dia menahan Hyukjae kuat-kuat. Melihat wajah Hyukjae yang geram Sungmin yakin, kali ini Hyukjae tidak peduli. Maka dia menarik Hyukjae pergi dari depan kamar Kyuhyun dan memasukkannya ke kamarnya sendiri.
"Kendalikan emosimu, Park Hyukjae! Tunggu Leeteuk hyung mengatakan apa yang sebenarnya terjadi! Kau bisa saja salah menarik kesimpulan! Sebelum semuanya jelas, aku melarangmu menemui Kyuhyun! Atau kupatahkan kakimu itu jika kau berani menemuinya!"
Hyukjae hanya melengos. Dia tahu ancaman Sungmin bukan main-main.
Shindong duduk memandang wajah lelap Kyuhyun. Wajah yang nampak menonjol di pipinya. Bukan chubby, tapi itu tulang pipinya. Shindong miris melihat nasib Kyuhyun seperti ini. Beberapa tahun lalu saat mereka bertemu kembali, Kyuhyun nampak lebih segar dan ceria dibanding sebelumnya. Dia senang, melihat tuan kecilnya terlihat lebih hidup meski hidup di luar sana. Bahkan jauh lebih baik.
Namun tiga tahun telah merubahnya. Seorang pemuda yang ceria dan terlihat lincah itu telah berubah menjadi sosok ringkih. Penyakit dan beban hidup telah merubahnya. Dia berfikir seharusnya Kyuhyun tidak perlu kembali ke rumah ini. Tidak perlu menanggung beban seberat ini. Tidak seharusnya Kyuhyun memutuskan untuk kembali. Toh, di keluarga Lee dia jauh lebih bahagia. hidup dengan baik, orang tua yang menyayanginya dan hyung yang selalu menjaganya. Dan untuk kembali ke keluarga Park dia rela melepas segalanya, hanya untuk masuk dalam penderitaan.
Shindong meneteskan air mata. Hatinya terlalu prihatin pada tuan kecilnya. Dia yang memiliki keluarga kecil, mengerti benar bagaimana pentingnya kasih sayang sebuah keluarga. Begitu penting seperti sebuah jantung kehidupan. Hari ini dia menyaksikan tuannya kembali diuji dengan sebuah penyakit lagi. Saat dokter Choi mengatakan ada kanker di kepala Kyuhyun, dialah yang menangis keras. Merasakan betapa hidup sangat tidak adil untuk Kyuhyun. Hari ini juga dia dengan berani melanggar perintah, membuka mulut tentang keadaan Kyuhyun kepada Leeteuk. Harapannya hanya satu, semoga besok menjadi hari yang lebih baik.
'Kau harus bahagia mulai dari sekarang, tuan muda. Aku mendo'akanmu.'
Shindong berdiri dengan hikmat kemudian membungkuk pada Kyuhyun.
Jonghyun tersenyum mengusap figura wajahnya dan Jeun hee. Dia sedang duduk di kamar Jeun hee. Dia merasa sangat merindukannya, karenanya dia masuk ke kamar ini. Kamar yang selalu terlihat bersih dan wangi. Oemma tidak pernah bosan membersihkannya setiap hari. Mengganti sprei, sarung bantal dan gorden secara berkala.
'YAK LEE JONGHYUN! Kenapa kau tidak mengatakan saat Jeun hee pulang?! Kau curang! Oemma juga merindukannya, anak bodoh! Oemma merindukannya…'
Dia ingat saat oemmanya mengamuk kemudian menangis, kala dia mengatakan bahwa Kyuhyun sempat datang hari itu. Oemmanya tidak berhenti menangis hingga dia berjanji akan membawa Jeun hee datang ke rumah. Mendengar itu oemma Lee langsung berhenti menangis dan memeluk Jonghyun.
Siapa di rumah ini yang tidak menginginkan anak itu kembali? Appa bahkan sering memakan jjangmyun di kedai langganan mereka hanya untuk mengobati rindunya. Setelah makan akan membungkus untuk dibawa pulang. Di letakkan di mangkuk dan di biarkan di meja makan dapur. Dipandanginya sambil tersenyum sendiri. Saat oemma bertanya apa yang dilakukan appanya, appa bilang dia sedang melihat Jeun hee makan jjangmyun kesukaannya.
Jonghyun mungkin yang paling waras, tapi juga yang paling gila. Hampir setiap malam, di tengah malam dia akan keluar kamar dan masuk ke kamar Jeun hee. Memeluk guling Jeun hee dan mengucapkan mantra yang dulu diucapkannya untuk Jeun hee saat mimpi buruk. Menimangnya seperti itu adalah Jeun hee. Tapi setiap kali melakukannya, hatinya terasa sakit. Dia sadar betul itu bukan Jeun hee tapi tetap ingin melakukannya. Semata-mata untuk menenangkan hatinya.
Mereka sudah gila karena rindu. Dia di Seoul tapi tidak bisa setiap waktu melihatnya, mendengar suaranya, dan menikmati senyumnya. Itu sangat menyakitkan. Dan bagaimana dia bisa lupa pemandangan terakhir yang dia lihat hari itu? Jeun hee-nya jauh dari kata baik. Jeun heenya sekarat. Dia tahu betul itu. Sesuatu telah terjadi pada adik tersayangnya. Sesuatu tidak baik telah menimpanya. Dan itu membuat hatinya sangat sakit. Sangat-sangat -sakit.
"Hyung akan membawamu pulang, saeng. Kau lebih baik berada disini."
Tbc-
