As I carried swaying light and darkness within my heart
I thought of you
SCREEN mode – Ambivalence
Tanpa sadar, sejak tadi aku sudah menatap kontak telepon di ponselku. Sekarang sudah ada dua puluh kontak, termasuk Kisedai, Momoi-san, dan beberapa teman sekelasku. Jumlah segitu saja menurutku sudah 'wah' karena aku jarang menggunakan benda tersebut. Aku bukanlah tipe yang addict terhadap ponsel. Ah, mungkin kecanduan di awal saat aku kelas 1 SMP?
Pesan-pesan lama yang masih kusimpan kini kubaca.
Termasuk pesan dari Ogiwara-kun.
Indera penglihatanku memandang benda bulat berwarna jingga yang ada di dekat kaki kananku. Aku mengangkatnya dan menjadikan benda itu sebagai bantal. Pipi kiriku menempel pada punggung tangan kiri yang menjadi pembatas antara pipiku dengan bola basket untuk menghindari kuman. Aku memang jarang bermain basket lagi, dan aku lupa untuk mencuci bola ini. Jadi, agak sedikit, ah, lebih tepatnya sangat kotor.
"Aku tak tahu harus bagaimana lagi..." gumamku.
Ibu jariku berhenti menekan keypad saat mataku menangkap pesan dari Aomine-kun.
Dari semua anggota klub basket, dialah yang pertama kali mengirimiku pesan. Bukan hanya itu. Dia juga menjadi orang pertama yang meminta kontakku.
'Tetsu! Kalau ada apa-apa SMS atau telpon aku, ya! :D Dari Aomine Daiki, Penggila Basket.'
Ya, Aomine-kun. Kau memang penggila basket sampai-sampai tak ada yang bisa mengalahkan kecintaanmu pada olahraga itu sekarang. Ya, setidaknya untuk sekarang.
Aku menarik kedua sudut bibirku sebelum menggulung layar ke atas. Teman klub kedua yang mengirimiku pesan adalah si Tsunderima, maksudku Midorima-kun. Meski punya sikap mirip Asuka Langley Soryu, tapi aku tahu, dialah yang paling peduli kepada anggota tim lainnya. Anggap saja ia berada di nomor dua setelah Akashi-kun yang 'itu'.
'Kuroko, aku hanya memberitahumu untuk membawa lucky item hari ini karena peringkat Aquarius berada di urutan terakhir-nodayo. Kemarin juga kau mengeluh sakit tenggorokan, kan? Supaya sakitmu tidak makin parah, bawalah softdrink bersoda warna hitam kemana-mana. Dan JANGAN diminum! Aku memberitahumu bukan karena aku peduli-nodayo!'
...dan pesannya jadi pesan terpanjang yang pernah kudapat.
Tapi yaaa kalau diingat-ingat, di hari itu aku tidak diizinkan ikut latihan. Ekspresi Midorima-kun agak gemas saat melihatku bersin-bersin dengan tubuh bergetar. Pandangannya seolah mengatakan, 'Tuh 'kan, apa kubilang'.
Ibu jari kananku kembali menekan tombol untuk menggulung layar ke atas. Ada pesan pertama dari Kise-kun. Oh, aku tak mau membukanya karena terlalu banyak menampilkan emoticon sok imut dan bikin sakit mata. Dari sekian banyak orang yang kutemui, hanya dia orang yang hiperaktif. Sosoknya seperti bunga matahari, menurutku. Mungkin karena rambutnya yang berwarna pirang?
"Kurokocchi~!" Suara lengkingan khas darinya tiba-tiba menyapa pendengaranku.
Ah, mana mungkin orang itu datang ke rumahku sekarang. Pasti hanya imajinasiku.
Selanjutnya pesan dari Murasakibara-kun. Isinya? Tidak jauh-jauh dari cemilan.
Memilih untuk kembali menggulung layar ke atas, sebuah nama kontak Momoi-san muncul. Aku tersenyum tipis ketika mengklik dan membaca isi pesannya. Pesan pertama yang cukup... tidak biasa? Gadis itu memintaku menemaninya jalan-jalan ke mal saat weekend. Aku hanya mengiyakan, hitung-hitung menghabiskan waktu setelah ujian semester.
Lalu aku menekan tombol panah ke atas lagi dan terlihat nama Akashi-kun. Waktu itu... aku duluan yang mengiriminya pesan karena ia berjanji untuk mengajariku pelajaran matematika sepulang sekolah. Tangan kananku menyangga dagu sambil mengingat-ingat kejadian tersebut.
Aku lupa detailnya bagaimana, tapi berkat Akashi-kun, aku bisa jadi lebih paham lagi.
Cara mengajarnya... aku suka.
Hm? Sepertinya aku sudah mengigau. Aku harus tidur sekarang setelah belajar untuk ujian masuk SMA Seirin yang akan diadakan hari Senin besok. Oke, oyasumi.
Entah kenapa aku malah membuka pesan-pesan dari mereka malam ini. Bohong kalau aku tidak rindu. Aku ingin tahu, apa yang mereka lakukan sekarang, setelah semua ini.
~ Tetsuya's 25th Paper End ~
Sering flashback bukan berarti gak move on, ya! #eaaa Ganba desu. Terima kasih sudah meluangkan membaca fanfic ZPS! #bow
CHAU!
