Disclaimer : Touken Ranbu milik Nitro

AN : mencoba menulis anmitsu/yasukiyo. Sedikit mikakiyo... maaf kalau ada karakter yang out of character.

Terimakasih kepada Megane Auryn yang sudah memberi tahu kesalahan author dalam mengedit. /menunduk


Kashuu dan Yasusada kembali ke asrama dan masuk ke kamar 512. Kashuu menatap ranjang dan kamar yang dingin itu. Kashuu hanya diam. Yasusada membongkar lemari Kashuu, mencari selimut musim dingin yang lebih tebal. Diliriknya Kashuu yang hanya duduk di kursi, Kashuu hanya menatap ke arah jendelanya dan berdiri, memutuskan menutup jendela yang masih terbuka.

"Buka bajumu." kata Yasusada sambil mengeluarkan selimut musim dingin milik Kashuu.

"...ha?" Kashuu bingung.

"Buka bajumu." kata Yasusada sambil merapikan selimut di atas ranjang Kashuu.

Batin Kashuu panik.

'Atas dasar apa Yasusada ingin aku buka baju?!'

Mata merah Kashuu menatap tak fokus. Situasi begini hanya ada dua arti, satu Yasusada ingin Kashuu buka baju dan melakukan xxx, dua, Yasusada hanya ingin Kashuu buka baju, menyuruhnya mandi air panas dan menyuruh Kashuu masuk selimut agar hangat. Kashuu bernafas lega karena menganggap Yasusada akan memilih opsi nomor dua. Kashuu menenangkan pikirannya yang berdelusi kemana-mana.

"Hey, sudah kubilang buka bajumu. Kenapa malah bengong?" tanya Yasusada.

"Eh! Ah! Auh! Ummm...maaf..." Kashuu hanya bisa menjawab sambil memberi cengiran dan tawa gugup yang tak jelas.

"Kenapa kamu?" Yasusada bingung melihat Kashuu hanya tertawa gugup.

"Ke-kedinginan!" Kashuu beralasan.

"Makanya cepat lepas bajumu." Yasusada menutup pintu, mendekati Kashuu perlahan sambil memojokkannya ke ranjang.

"EH?! Yasu?! Tunggu!" wajah Kashuu memerah.

"Cu-cu-cuma lepas baju kan?" tanya Kashuu.

"Ya. Lepas bajumu. Kita harus menaikkan suhu tubuhmu."

"Me-menaikkan suhu tu-tubuh..." Kashuu terus mundur setiap Yasusada mendekatinya.

Kashuu tanpa sadar sudah dipojokkan. Yasusada pun sepertinya sudah tahu Kashuu tak bisa lari lagi. Yasusada mulai menarik celana Kashuu dan membuka kemeja Kashuu. Kashuu mencengkeram lengan Yasusada, berusaha menghentikan partnernya.

"TUNGGUU! AKU BISA LEPAS SENDIRI!" Kashuu panik.

"Tak ada waktu. Kita harus menaikkan suhu tubuhmu secepatnya." kata Yasusada.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka kencang.

"Kashuu-nii! Pinjam sabun!" teriak Midare.

"...eh?" Midare terdiam.

Mata biru Midare membesar melihat Yasusada sudah memojokkan Kashuu di ranjang. Baju kemeja Kashuu sudah terbuka tiga kancing dan Yasusada sedang berusaha melepas celana Kashuu. Midare yang shock tertawa canggung.

"Ma-maaf mengganggu. Silakan di lanjutkan lagi aktivitasnya." kata Midare yang kembali menutup pintu.

"Tunggu!" teriak Kashuu yang sebenarnya sangat lega begitu Midare mengganggu mereka.

Kesalahpahaman harus di luruskan namun Midare sudah keburu kabur. Dan mengingat Midare sangat suka gosip, Kashuu yakin kalau nanti malam para toudan sudah berasumsi kalau mereka berdua sudah melakukannya sampai melanggar batas rating fanfiction dari T ke M.

"...tch!" Kashuu mendengar Yasusada berdecak kesal.

"Yasu, sudahlah. Aku mau mandi." Kashuu mengalihkan topik.

"...Kamu...kamu sudah memberikan aku banyak hint berkali-kali! Terus sekarang kamu malah mau kabur? Tanggung jawab dong!" kata Yasusada.

"...ha?"

"Perlu sekarang aku yang mengeluarkannya mentah-mentah? Empat huruf. Depan s belakang s. Kamu tahu sekarang?" tanya Yasusada.

Kashuu langsung tahu dan wajahnya berubah kesal.

"Maksudmu apa aku memberikanmu hint? Aku tak pernah memberikanmu sinyal untuk melakukan!"

"Oh ya?" Yasusada menatap Kashuu dengan wajah tak percaya.

"Kenapa wajahmu seakan tak percaya apa kataku sih?"

"Karena aku percaya kalau tubuhmu ini setuju denganku." kata Yasusada sambil menunjuk ke arah celana Kashuu.

Kashuu langsung pucat.

'Mikazuki tolong aku!' batin Kashuu berteriak.

Pintu kembali terbuka.

Hening sejenak.

Wajah Yasusada dan Kashuu pucat melihat siapa yang membuka pintu.

Reijin Akinaga terdiam melihat mereka berdua dalam posisi yang sangat dipertanyakan.

"...Ishi-papa!" jerit gadis cilik itu.

Wajah Okitagumi makin pucat. Dari sekian nama toudan, kenapa harus si oodachi? Ishikirimaru lebih mengerikan daripada Nagasone-san. Itu sudah pasti. Alasan pertama, oodachi lebih mengerikan. Alasan kedua, Ishikirimaru itu, disiplin moralnya itu paling kuat dan hanya beberapa termasuk Nikkari Aoe yang bisa merusak disiplin itu. Sayup-sayup Yasusada dan Kashuu berdoa semoga Aoe bisa membantu mereka namun sayang Ishikirimaru melihat mereka.

"Mereka lagi apa?" tanya Rei.

Wajah Ishikirimaru tersenyum namun Kashuu dan Yasusada tahu kalau mereka akan habis di tangan oodachi itu.

"Mereka sedang melakukan ritual."

"Ritual apa?"

"Ritual khusus dimana anak kecil belum boleh tahu. Ayo kita keluar. Kamu mau makan hot pot kan?" bujuk Ishikirimaru.

Rei mengangguk. Gadis itu tak sadar kalau Ishikirimaru memberikan Yasusada dan Kashuu senyuman mengancam. Pintu kembali ditutup dan Ishikirimaru berhasil mengajak Rei keluar dari kamar.


Makan malam sangat canggung. Para toudan menatap mereka seakan mereka adalah sesuatu yang kotor.

"Apa kubilang? Mereka berdua bakal melakukan." kata Hirano.

"Kamu hutang uang padaku!" kata Midare yang senang karena menang taruhan, dia menagih hutang Maeda.

"Tch! Midare curang!" protes Maeda.

"...Oi, Ichigo Hitofuri-san, kenapa adik-adikmu semua bertaruh akan hubunganku dengan Kashuu Kiyomitsu?" tanya Yasusada yang siap meledak meskipun tersenyum.

Kashuu menghela nafas. Pinggang dan kakinya masih terasa lemas sementara Yamanbagiri memberikan Kashuu makan malamnya.

"Dia kasar ya?" tanya Yamanbagiri.

"Kebalikannya..." jawab Kashuu yang seluruh tubuhnya lemas.

"Hmm..." Yamanbagiri hanya meneruskan makan malamnya tanpa banyak bicara.

Rei sedang di pangku Tarou yang kaku. Tarou gemetaran, tak biasa di dekati si gadis cilik karena biasanya gadis itu sering kaget bila ada sosok besar mendekatinya. Tarou menyuapi gadis itu dengan canggung namun pada akhirnya, dia membiarkan gadis cilik itu duduk di pangkuannya sambil menyanyi.

"Selama aku~ masih bisa bernafas~...aku rindu setengah mati~~" Jirou menjatuhkan gelas plastiknya begitu mendengar Rei bernyanyi.

"Si-siapa yang mengajarkan Rei lagu-lagu romansa yang galau?!" teriak Jirou yang mengamuk.

"Jirou, Jirou, kamu menakuti Rei." kata Tarou.

Rei mencengkeram baju Tarou karena takut.

"Ah...maaf ya Rei?" tanya Jirou.

"Memangnya Rei kenapa?" tanya Kashuu.

"Rei benci suara keras. Apalagi kalau tiba-tiba." ujar Yamanbagiri.

"Rei mau Sayo!" kata si gadis cilik yang memutuskan kabur dari orang dewasa, mencari ketentraman dari kaum yang seumuran dengannya.

Sayo yang melihat saniwa cilik menuju ke arahnya langsung merentangan tangan seolah ingin menangkapnya. Gadis cilik itu berlari dan melemparkan dirinya ke tantou berambut biru itu.

"Sayo! Sayo! Sayo!" gadis cilik itu berhasil di tangkap Sayo dan mereka berdua jatuh ke pangkuan Kousetsu yang kaget menahan berat dua bocah itu.

"Sayo-kun selalu disukai saniwa, ya?" tanya Gokotai.

"Hehe! Bahkan diantara tantou ada yang namanya favoritisme." kata Midare pedas.

"Midare! Jaga mulutmu!" tegas Ichigo Hitofuri.

Hening.

Tak ada yang bicara.

Semuanya tahu kalau cinta saniwa itu adil namun begitu mereka menyebut salah satu topik terlarang—favoritisme—mereka mulai mempertanyakan 'cinta' adil saniwa.

"Maaf, Ichi-nii..." Midare menciut.

Semenjak kehilangan banyak pedang—Yagen, Kasen, Nagasone, Horikawa, Shishiou, Akita, Nakigitsune, Doudanuki, Souza, Hachisuka, Mikazuki dan Akashi—suasana di asrama ini mudah keruh. Coba saja lempar sedikit topik yang terlarang, semua toudan langsung hening dan tensi di ruangan langsung terasa.

"Hey, pemanasnya mati ya?" tanya Aizen.

"Kunitoshi?" Hotaru mendekati Aizen.

Tangan Hotaru memegang tangan Aizen dan mata hijau Hotaru menatap Aizen dengan tatapan tak percaya.

"Kunitoshi...apa-apaan ini?! Dingin!" Hotaru tanpa sadar menarik tangannya, melepaskan tangan Aizen.

"...di...dingin?" Aizen menatap kedua tangannya.

Kedua telapak tangannya putih pucat dan gemetaran. Wajah Aizen memucat. Hotarumaru menatap marah.

"Kamu merahasiakan hal ini ya, Kunitoshi?" teriak Hotarumaru.

Aizen tak menjawab. Matany memandang tak fokus dan bocah berambut merah itu tertidur.

"...sepertinya, sudah dimulai." kata saniwa Rei.

"Aruji! Kunitoshi...apa yang sudah dimulai?" tanya Hotaru.

"Proses penolakan jiwa. Aku salut dia mampu menahannya tanpa berteriak."

"Aruji-sama, kumohon, tolong Kunitoshi!" pinta Hotarumaru.

Saniwa menggeleng.

"Rusak. Simbol pedangnya sudah rusak parah. Tubuhnya sudah dalam tahap penolakan jiwa."

"Aruji-sama! Kumohon!" seru Hotarumaru yang putus asa.

"Sekalipun kamu memberikan ikatan jiwa, kalau sudah dalam tahap penolakan jiwa, itu sia-sia." kata saniwa.

"Aruji-sama...kumohon...bukankah Aizen Kunitoshi selalu membantumu? Dia terus melakukan perintahmu, menjalankan perintahmu sebisa dia...meskipun dia hanya tantou!" Hotarumaru membujuk saniwa.

Saniwa Rei menghela nafas.

"...Aku sudah janji pada Aizen Myou'ou kalau aku akan menjaga tantou ini. apa boleh buat, Hotarumaru, ikut aku. Kita akan ke kuil terdekat. Ishikirimaru, bawa Aizen Kunitoshi denganmu. Aoe, persiapkan bahan-bahan ritual pemanggilan—kapur, air dan sebagainya—dan panggil Sanjo-san untuk siap-siap memperbaiki pedang. Yamanbagiri dan Yamabushi, kalian bantu aku menjaga gerbang kuil. Tarou, Jirou, Kogitsunemaru dan sisanya tunggu di asrama. Aku tak ingin energi kalian bertiga tercampur di kuil."

Seluruh toudan cepat-cepat melaksanakan tugasnya. Para tantou yang gelisah duduk berdekatan, menutup mulut karena saniwa Reijin jarang serius.


Kuil di dekat sekolah mereka itu adalah kuil yang tak terpakai. Kabut menutupi jalan ke kuil dan pepohonan di sekitar membuat suasana makin mengerikan. Saniwa menatap kiri dan kanan sebelum berhenti sejenak.

"Wahai mahkluk-mahkluk penasaran di daerah ini, kembalilah ke tempat asal kalian!"

Seberkas cahaya menyinari daerah itu dan kabutnya mulai mereda, saniwa Reijin terbatuk-batuk sedikit, di kedua lututnya muncul bekas luka seolah habis terjatuh.

"Aruji!" Yamanbagiri menggendong saniwa yang menerima bantuan Yamanbagiri.

"Apa itu barusan?" tanya Hotarumaru.

"Kakaka! Kamu tak pernah dengar? Itu namanya 'kotodama', kekuatan dari kata-kata. Manusia dengan kekuatan spiritual tinggi mampu mengaktifkan kotodama namun ada bayarannya." Yamabushi melirik lutut saniwa.

"Melukai tubuh pengguna. Salah satu hal yang merepotkan. Ayo, lanjutkan jalannya. Kita harus sampai ke kuil...tunggu!" kata saniwa Reijin.

"Aruji-sama?" Yamanbagiri berhenti sesuai perintah saniwa.

"...seseorang memasang perisai spiritual. Kekkai yang merepotkan. Aoe, jangan mendekati kekkainya. Kamu bisa musnah dalam sekali pegang. Ishikiri, robek jimat dibalik pohon cemara di sebelah kirimu."

Ishikirimaru membiarkan Aoe menggendong Aizen. Dia memotong pohon cemara itu dalam sekali tebas. Terdengar suara robekan dan kekkai itu hancur dalam sekejap.

"Ayo. Kita tak bisa menyia-nyiakan waktu." kata saniwa.

Mereka tiba di depan kuil itu namun kuil itu, hanya tersisa puing-puing saja. Suasana di sana juga senyap.

"Tempat ini...?" Hotaru bergidik ngeri.

"Kuil tanpa dewa. Sepertinya kekuatannya hilang dan dewa yang menjaganya sudah tak kuat. Tanpa dewa pelindung, kuil adalah tempat yang bagus bagi para mahkluk tak jelas untuk mengumpulkan energi spiritual untuk level up ke monster atau mahkluk yang lebih tinggi tingkatannya seperti dewa kecil." Saniwa menarik sedikit kain putih Yamanbagiri dan Yamanbagiri menurunkan saniwa.

"...aku jujur saja ya. Aku, tak pernah melakukan ini, ritual memanggil deity begini. Hotarumaru, aku tak menjamin kita semua akan kembali dengan selamat kecuali Aizen. Dia punya perlindungan Aizen Myou'ou. Tempat ini cocok untuk ritual pemanggilan karena kekuatan spiritual yang besar berkumpul di sini. Namun, aku tak tahu apakah ini cukup untuk memanggil deity." Saniwa Rei menggaruk lehernya.

"Setidaknya kita sudah berusaha." tambah gadis itu, mencoba menyembunyikan ketakutannya.

Ritual dimulai. Seluruh energi di sekitar daerah kuil mulai terkonsentrasi pada area dimana saniwa membatasi dengan pembatas putih. Para toudan bergidik. Mereka mampu merasakan keberadaan yang kuat. Reijin berkeringat dingin. Di depannya muncul deity namun para toudan tak mampu melihat sosok itu. Reijin memulai negosiasi. Dia bicara dalam bahasa yang tidak bisa di dengar para toudan.

Langit malam mulai menampakkan petir dan halilintar. Wajah Reijin pucat dan dalam sesaat, Yamanbagiri sangat takut dan khawatir jikalau saniwa Reijin akan di hukum langit, eksekusi di tempat oleh para dewa. Hotarumaru terkesiap saat saniwa duduk dan menundukkan kepalanya, mengatakan sesuatu dalam bahasa yang tidak mereka mengerti. Aizen menggumam kesakitan. Tato Aizen Myou'ou muncul di punggungnya.

Saniwa menghela nafas.

"Aruji-sama! Terima kasih!" ujar Hotarumaru.

Yamanbagiri menatap saniwa sejenak sebelum menghampiri tuan mereka.

"Aruji-sama, bisa berdiri?" tanya Yamanbagiri.

Saniwa tersenyum dan mengulurkan tangannya.

"Aku tidak bisa. Tubuhku lemas. lihat..." tangan saniwa Reijin bergetar.

Yamanbagiri ingin menggendong saniwa namun saniwa menggeleng.

"Yamabushi saja. Kamu pasti lelah karena sudah menggendongku naik." kata saniwa.


Mereka kembali disambut Kashuu dan pedang lain yang khawatir. Yasusada sendiri hanya menemani Kiyomitsu.

"Aizen Kunitoshi akan baik-baik saja. Untuk sementara, kita tidak akan melakukan patroli sampai kekuatan spiritualku pulih. Anggap saja ini libur sementara dan jalani kehidupan normal sesuka kalian selama beberapa minggu." kata saniwa Rei.

"...kalian semua, aku selama ini tak menggubris hal ini tapi...kalian semua! Yang memiliki simbol pedang retak, rusak, tergores dan sebagainya, temui aku di kamar!" saniwa Rei meneriakkan perintahnya.

"Inspeksi dadakan?!" teriak para tantou yang bersiap kabur.

Kontan wajah beberapa pedang pucat pasi. Sebagian hanya tertawa saja dan sebagian tak menggubris perintah itu. Ichigo Hitofuri kaget dan bingung karena sebagian adik-adiknya lari ke arah tangga, memutuskan untuk menyebar demi menghindari inspeksi. Kashuu tak sempat berlari. Yasusada sudah menangkapnya dengan menarik syal Kashuu. Kashuu hanya bisa pasrah tertangkap.

Di belakang mereka, Uguisumaru berjalan cepat ke kamarnya sambil di kejar Tsurumaru. Tsurumaru meneriakkan 'Uguisu! Kamu harus di cek!' ke pecinta teh hijau itu. Kousetsu menangkap Sayo dan menatapnya dengan wajah datar, membuat Sayo hanya diam tanpa kabur atau pun melawan. Hotarumaru sendiri menunggui Aizen sementara Mitsutada meneriakkan nama Ookurikara yang sudah kabur dengan lift bersama Tonbokiri dan Otegine.

Kanesada tertangkap oleh Yamanbagiri yang membujuknya dengan 'Horikawa ingin kamu cek. Pasti.' sedangkan Imanotsurugi dan Iwatooshi hanya tertawa santai. Aoe yang ingin kabur tertangkap oleh Ishikirimaru dengan mudah. Kogitsunemaru hanya menguap karena tidak takut inspeksi. Namazuo menangkap Honebami yang tak sempat kabur. Namazuo menggunakan berat badannya sebagai pemberat.

"Kalian lari seperti saniwa adalah seorang dokter gigi ya? Ahahah!" saniwa hanya tertawa.


Malam itu, saniwa reijin mengecek kondisi seluruh pedangnya satu persatu. Saniwa tak mengatakan siapa siapa saja yang harus hati-hati namun seluruh pedang tahu kalau mereka memang bertanggung jawab atas diri masing-masing. Saniwa mengingatkan sekali lagi kalau ikatan pedang harus ditingkatkan bila kerusakan simbol pedang sangat parah. Saniwa juga mengingatkan kalau tak semua pedang bisa seberuntung Aizen Kunitoshi yang punya perlindungan dari 'deity' yang lebih kuat.

"Pedang dengan perlindungan dari 'deity' bisa menghindari tahap penolakan jiwa asal yang memberi perlindungan setuju memberikan berkah bagi pedang itu. Tentu saja ritual memanggil 'deity' sangat menguras kekuatan spiritual saniwa. Tak semua saniwa bersedia melakukannya. Beberapa memilih menolak dan membiarkan pedangnya begitu saja. Atau, cara lain, hancurkan pedang itu."

Tentu saja para pedang hanya diam. Beberapa saniwa yang memiliki mereka memang ada yang egois dan 'tak berhati' dalam membuat keputusan. Mereka antara terlalu sayang pedang mereka—agar toudan tidak menderita, hancurkan—atau memang tak peduli dan memutuskan menghancurkan di kala mereka sudah tak memiliki nilai bertarung.

"Bersyukurlah, kali ini saniwa kalian adalah aku. Aku membiarkan kalian mati gagah daripada tak bernilai." Saniwa tertawa, egonya membesar.

"Aruji-sama, ada juga di sini yang tak ingin bertarung." kata Kousetsu.

"Hey, jalan menuju perdamaian itu berlika-liku dan sulit. Kalian harus menyebrangi sungai Sanzu, memanjat gunung Everest namun kalian mungkin tak akan menemukannya." Saniwa menutup topik dengan candaan tak lucu.


Beberapa hari ini, kamar Kashuu terasa dingin. Kashuu merasa tak nyaman tidur di kamar sendiri. Untunglah Yasusada berbaik hati, membiarkannya menyusup ke ranjang Yasusada dan sesekali, Yasusada akan memeluk Kashuu saat mimpi buruk kembali menyerang. Rasa gelisah, ketakutan, penyesalan dan bersalah seolah berkurang dikala Yasusada memeluknya sebagai pengganti guling.

'Tubuh manusia itu hangat dan mampu memberikan perasaan yang berbeda.'

'Tubuh manusia itu lemah dan tak efisien.' kedua pikiran itu bertarung sengit dalam batin Kashuu.

Yasusada menggumamkan nama ayahnya dengan pelan. Kashuu kembali menghela nafas. Yasusada kembali memeluknya sebagai pengganti guling. Seandainya Yasusada sadar, Kashuu ingin mendorong Yasusada agar si pedang Okita bermata biru tak terus berusaha memonopoli tempat tidur dan menjadikan pertnernya sebagai pengganti guling hanya karena mereka sama-sama hangat.

Kashuu tahu dia merasa sangat, sangat bersalah karena memanfaatkan kebaikan hati Yasusada. Namun Kashuu membutuhkan seseorang untuk menariknya dari kegelapan mengerikan yang terus menyerangnya dengan rasa bersalah. Nagasone dan Horikawa hancur karena dia tak sanggup memenuhi tugasnya sebagai kapten. Kashuu mengingat Okita Soji—kapten Shinsengumi divisi pertama.

Bagaimana bisa majikannya memenuhi ekspektasi dan harapan orang di sekitarnya?

Mata merah Kashuu masih terbuka. Dia menatap Yasusada yang masih tidur layaknya anak kecil—apalagi dengan wajah manis tiada dosa. Seolah Yasusada hanya malaikat yang tidur namun Kashuu tahu kalau Yasusada hanyalah setan dalam wajah malaikat. Yasusada bisa mengalahkan musuh dengan keji dan, sambil tertawa. Kashuu menghela nafas sejenak.

Kashuu tahu Yasusada lebih suka memonopoli tempat tidur. Yasusada bisa tidur dengan leluasa karena Yasusada di ciptakan oleh penempa yang hidup di kelas menengah. Sementara Kashuu lebih memilih tidur di pojokan, dekat tembok, memperkecil sosoknya karena penempa yang menciptakannya hidup di sungai, miskin dan kotor—sungai bukanlah tempat yang menyenangkan, mengerikan, penuh kekerasan-dan membuatnya mampu menonton manusia saat dia masih belum terjual.

Menonton manusia bagai menonton kabuki dan drama, sinetron. Dia pernah melihat seorang manusia yang kelebihan daun beracun yang membuatnya mati. Dia tahu sekarang kalau orang itu mati akibat kelebihan dosis daun ganja. Kashuu juga sering melihat pencuri kecil yang hanya bisa pasrah bila tertangkap. Anak itu hanya berusaha menghidupi dirinya yang masih kecil dan tanpa orang tua. Wanita yang selalu sibuk di kala malam menjelang dan hanya pulang pagi? Mereka memiliki keluarga yang harus di urus.

Pemuda dengan wajah garang bertato—seorang ronin—membunuh orang yang hanya bertatapan dengannya. Kashuu sudah melihat berbagai macam manusia di kala dia masih di sungai. Kashuu sering melihat bagaimana orang yang baik hancur dan mati dengan mudah sementara para orang kuat, keji dan tak memiliki rasa kemanusiaan hidup semena-mena di jaman itu. Kashuu tentu saja melihat keadaan penempanya dan mau tak mau, Kashuu hanya bisa dipeluk oleh penempanya saat tidur dalam gubuk kumuh.

Kashuu lebih suka tidur tanpa bergerak. Karena, itu mengingatkannya kepada mayat. Dan juga, dia sangat ingat akan ranjang yang sempit dan gubuk kumuh yang menyedihkan—tempat dia diciptakan—serta ekspektasi dari penempanya. Kashuu terkesiap ketika tangan Yasusada bergerak ke pundak dan dadanya. Kaki Yasusada juga ikut bergerak, menimpa kaki Kashuu dan wajah Yasusada mendekat, berhenti di pundak Kashuu.

Kashuu menghela nafas, menyesali keputusannya untuk tidur di ranjang Yasusada.

Keesokan harinya, Kashuu bangun dan melepaskan diri dari Yasusada. Dia melirik jam dan membangunkan partnernya.

"Yasu, bangun. Sudah pagi." kata Kashuu.

"Kiyo...lima menit lagi..."

"...BANGUN! ADA OKITA-KUN SHIRTLESS DI KAMAR MANDI!"

"!"

Mata dan wajah Yasusada langsung terbuka meskipun masih setengah mengantuk.

Kashuu langsung kabur ke kamarnya, menghindari amukan Yasusada yang terpaksa bangun dan juga, sekalian mandi di kamar sendiri itu lebih nyaman daripada di kamar mandi orang lain.


Awal November pun dimulai. Yasusada mengambek. Yasu dan Kiyo sudah di kelas bersama Yamanbagiri. Kashuu meminta maaf, menyodorkan roti rasa karamel, roti isi puding dan roti yakisoba kepada Yasusada. Yasusada tak menggubris sebelum Yamanbagiri melihat roti-roti itu.

"Hey, kamu sempat beli roti isi puding dan roti yakisoba? Kan susah di dapat itu. Mesti berbaris panjang siang nanti atau kamu langsung beli begitu kantin bukan kan?" tanya Yamanbagiri.

"Hh-hm! Aku membelinya tadi pagi agar Yasu tak ngambek lagi. Tapi kalau Yasu tak mau tak apa. Aku makan sendiri." Kashuu sengaja membujuk Yasu.

"A-aku tak bilang aku menolak!" Yasu cepat-cepat menyita roti-roti itu dari Kashuu dan Yamanbagiri.

"Artinya kamu memaafkanku? Ya-su?" tanya Kiyo dengan wajah manis dan mata memohon.

Yasusada terdiam. Dia mengangguk dengan cepat.

'Cepat sekali! Kecantikan Kashuu Kiyomitsu memang mengerikan!? Ataukah suap yang di terima lebih penting?!' batin Yamanbagiri yang mengira Yasu akan terus merajuk.

"Hey, kudengar malam ini kita akan berkumpul demi pelajaran dari saniwa?" tanya Yasusada.

Kashuu mengangguk.

"Aruji bilang dia ingin menjelaskan beberapa hal penting pada kita terkait surga, citadel jiwa dan menjawab beberapa pertanyaan kita." tambah Yamanbagiri.