PARADISE
Part XXV
"Kotonoha No Niwa"
(The Garden of Words)*)
Menjalani kehidupan baru dengan sebagian otakmu yang tidak bisa mengingat bagian dari masa lalu adalah hal yang mengerikan. Rasanya seperti ada lubang besar yang menganga di dalam pikiran dan hatimu tetapi kau tidak bisa melakukan suatu hal apapun untuk mengisi kekosongannya. Park Chanyeol –atau kini lebih sering dikenal dengan Chanyeol saja, kerap kali berusaha untuk mencari bagian yang hilang dari dirinya itu, atau terkadang ia akan mencoba mengisinya dengan bagian yang baru, namun hingga detik ini, rasanya masih tetap sama. Bagian yang hilang itu tidak juga kembali, dan ingatannya yang baru tidak mampu menggantikannya. Perasaan itu sering membuat Chanyeol frustrasi, tetapi pemuda itu lebih memilih untuk menderita dalam diam dan menyimpannya untuk dirinya sendiri.
Tepat enam bulan sejak masa percobaan Chanyeol yang kala itu dinyatakan sembuh oleh dokter yang merawat kesehatan mentalnya. Chanyeol menghabiskan hampir 3 tahun waktunya untuk memulihkan diri di dalam rumah sakit dan tempat rehabilitasi kejiwaan. Pengacara Kangin, yang merupakan perwakilan dari pihak Ibunya, memiliki peran besar dalam mengurusi segala hal yang dibutuhkan Chanyeol. Dari mulai mengurusi lanjutan pendidikannya dan di mana ia tinggal.
Sambil menunggu hingga masa percobaannya berakhir, Chanyeol tinggal bersama Bibi Vic di sebuah apartemen yang Pengacara Kangin sediakan. Apartemen itu terletak tidak begitu jauh dengan toko buku yang Pengacara Kangin pernah tunjukkan padanya. Setelah menyelesaikan kelas homeschoolingnya, Chanyeol akan berkunjung ke toko buku itu dan mempelajari segala hal yang berhubungan dengan bisnis dalam bidang itu. Minggu depan ia akan menyelesaikan ujian akhir dan bersiap untuk memasuki jenjang perkuliahan.
Hari itu, Chanyeol baru saja menyelesaikan kelas homeschoolingnya di apartemen ketika ponsel pemberian Pengacara Kangin untuknya berbunyi. Sebuah pesan masuk berisi alamat rumah sakit membuat Chanyeol tanpa sadar tersenyum. Pemuda itu kemudian berpamitan pada Bibi Vic dan keluar dari apartemen menuju alamat rumah sakit yang ia terima barusan.
Pemuda itu menaiki bus dan harus transit di beberapa halte sebelum sampai di tempat tujuannya. Chanyeol sempat mampir di sebuah toko bunga dan membeli rangkaian bunga mawar putih.
Bruk.
Bahu Chanyeol tanpa sengaja menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah darinya. Pemuda itu memungut rangkaian bunga yang terjatuh dan sedikit bernafas lega ketika benda itu tidak rusak. Namun Chanyeol sedikit berjengit kala orang yang bertabrakan dengannya itu melontarkan sumpah serapah padanya. Kedua tangan Chanyeol mengepal ketika ia membungkukkan tubuhnya dan membisikkan permintaan maaf tanpa melihat wajah di hadapannya. Dan ketika Chanyeol sudah berjalan kembali menuju tempat tujuannya, telinga pemuda itu mendengar namanya dipanggil.
"Chanyeol?"
Pemuda itu menoleh dan mendapati seorang pemuda menatapnya dengan wajah mengernyit. Chanyeol sudah tergoda untuk kembali menghampiri pemuda itu ketika segerombolan pemuda lainnya mendekat. Entah kenapa ada perasaan tidak menyenangkan yang muncul dari diri Chanyeol ketika melihat wajah-wajah itu. Dan mengikuti instingnya, Chanyeol kemudian berlalu dan mengacuhkan panggilan namanya di belakang.
.
.
.
Byun Baekhyun—atau sekarang lebih dikenal dengan Dokter Byun, baru saja menyelesaikan sebuah sesi dengan salah seorang pasiennya ketika ia kembali ke ruangannya, salah seorang perawat mengatakan bahwa ada tamu yang menunggunya. Baekhyun mengernyit dan berusaha mengingat kembali apakah ia memiliki janji dengan seseorang. Dan ketika dokter muda itu membuka ruangannya, ia menemukan seorang pemuda dengan jaket hitam dan topi berwarna senada.
Pemuda itu mendongak ketika mendengar pintu ruangan terbuka. Baekhyun awalnya hanya berdiri mematung ketika menyadari siapa tamunya hari itu, namun ia kemudian tersenyum hingga bibir tipisnya melengkung.
"Chanyeol?" Baekhyun memastikan. Sudah hampir satu tahun sejak pertemuan mereka terakhir di rumah sakit di mana Baekhyun menjalani masa Koasnya.
Kini dokter yang telah beranjak ke usia 26 tahun itu telah bekerja di sebuah rumah sakit swasta ternama di Seoul. Chanyeol berhasil mendapatkan alamat tempat Baekhyun bekerja dari Pengacara Kim.
Pemuda itu bangkit sebelum menyerahkan rangkaian bunga yang sedari tadi ia bawa pada dokter yang telah merawatnya itu. Baekhyun mengulurkan tangannya ragu-ragu dan menerima rangkaian bunga itu.
Dari sekian banyak jenis bunga di toko yang sebelumnya Chanyeol datangi, si penjualnya memberikan rekomendasi bunga mawar putih padanya ketika Chanyeol menjelaskan bahwa ia ingin berterima kasih pada dokter yang telah merawatnya. Begitu obrolan singkat mereka sampai pada sakit apa yang Chanyeol derita dan pemuda itu mengatakan bahwa ia hilang ingatan, penjual itu segera merangkai setangkup bunga mawar putih sambil menjelaskan bahwa bunga ini bermakna permulaan baru.
"Kau datang sendirian?" Tanya Baekhyun sebelum mempersilahkan Chanyeol duduk kembali. Ia kemudian melepaskan jas putihnya hingga kini ia hanya memakai kemeja berwarna biru muda.
Chanyeol mengangguk. "Hari ini masa percobaanku berakhir. Aku sudah keluar dari rehabilitasi sejak enam bulan yang lalu." Kata Chanyeol yang tidak sabar untuk segera menceritakan kehidupannya pada dokter itu.
Senyuman tak juga memudar dari wajah Baekhyun dan justru semakin melebar ketika menyadari kekikukan pemuda di hadapannya.
"Aku senang mendengarnya. Dari mana kau tahu aku sekarang bekerja di sini?" Tanya Baekhyun lagi. Pemuda itu tanpa sadar melirik pada jam dinding yang tertempel di ruangannya. Dalam 15 menit shiftnya akan berakhir.
"Aku memintanya pada Pengacara Kangin. Aku datang untuk berterima kasih karena sudah—"
"Kau mau pergi makan malam denganku?" Kalimat Chanyeol terpotong oleh tawaran yang Baekhyun lontarkan.
Baekhyun menggigit bibir bawahnya ketika ia baru saja melakukan hal yang riskan dalam profesionalitasnya sebagai dokter. Tapi pemuda itu meyakinkan dirinya bahwa hanya makan malam tidak akan melukai siapa pun kan? Toh Chanyeol juga sudah bukan pasiennya lagi.
.
.
.
Sudah hampir 4 tahun sejak Yifan menerbitkan bukunya untuk pertama kali. Kini usia pemuda itu sudah beranjak ke usia 26 tahun dan meskipun buku yang ia tulis begitu populer di negara yang ia tinggali, pemuda itu tidak terlalu menikmatinya. Pada bagian royalti dan keuntungan dari penjualan buku itu sungguh membantu kehidupan Yifan hingga ia tidak perlu lagi menempati kamar sempitnya dan pindah ke apartemen yang lebih besar, namun pada bagian di mana ia harus menutup rapat kehidupan dan identitas aslinya dari para jurnalis dan pers yang haus akan berita mengenai penulis buku laris itu, Yifan harus sedikit bersusah payah. Penerbit yang menerima bukunya pertama kali tetap setia dan membantu Yifan dengan tidak menyerahkan identitas aslinya, namun mereka terus menekan agar pemuda itu membuat sekuel atau lanjutan dari buku yang ditulisnya.
Namun seberapa keras Yifan berusaha, setelah rangkaian bungkus rokok dan alkohol yang ditenggaknya, tidak ada satu kata pun yang meluncur dari jemarinya yang begitu lincah menari di atas keyboard. Pemuda itu tetap menulis, karena itulah satu-satunya pekerjaan yang cocok untuknya, namun tidak untuk novel itu. Yifan menulis artikel, opini, puisi, apapun, tapi bukan lanjutan dari novel itu.
Mungkinkah Yifan akhirnya mati rasa? Tidak ada lagi kesedihan atau emosi lain dalam dirinya, mungkinkah waktu itu akhirnya datang? Untuk Chanyeol benar-benar meninggalkan kehidupannya. Yifan mencampur Red Bull dengan segelas vodka ketika ponselnya berdering.
"Aku sedang di Nanjing. Mau keluar sebentar?" Tanya Luhan ketika Yifan mengangkat teleponnya.
Yifan menghela nafas sebentar sebelum mengaduk minumannya tadi. Mungkin tidak sekarang.
"Di tempat biasa?"
Luhan segera menyetujui begitu Yifan bersedia untuk keluar menemuinya.
Yifan membuang minuman campuran itu tadi ke atas wastafel sebelum bersiap. Jika Chanyeol pada akhirnya memang harus pergi, lalu ia bisa apa?
.
.
.
"Aku akan di mutasi ke Korea minggu depan." Adalah kalimat pertama yang Luhan ucapkan ketika akhirnya Yifan datang dan bergabung dengannya di tepi bar sebuah klub malam yang biasa mereka datangi di Nanjing.
Yifan memesan segelas bir untuk permulaan perutnya yang kosong. Luhan menunggu reaksi Yifan atas kabar itu, namun pemuda itu hanya diam dan menenggak birnya dalam sekali teguk.
"Kau mau ikut denganku?" Tanya Luhan.
Yifan tersenyum ketika lagi-lagi mendengar sahabatnya itu menawarkan agar ia ikut dengannya kemana pun ia pergi.
"Tolong jangan buat aku menjawab pertanyaanmu itu." Kata Yifan. Senyuman –atau lebih tepatnya seringaian, masih menghiasi wajah tampannya.
Luhan menatapnya sinis. "Kenapa tidak sekali saja kau menuruti perkataanku?"
"Memangnya untuk apa aku harus menuruti perkataanmu? Dengar Luhan, aku tahu kau peduli padaku, tapi sikapmu justru membuat aku begitu menyedihkan. Urusi saja urusanmu sendiri. Aku bukan anjingmu." Kali ini Yifan menenggak segelas kecil vodka di tangannya.
Rasa mual membuat pemuda itu hampir memuntahkan kembali minumannya. Namun Yifan mencengkeram gelas itu untuk menahannya.
Luhan mendecak kesal. Ia sudah sejak awal bisa menduga jawaban Yifan namun entah kenapa rasanya tetap kesal mendengar hal itu dari orang yang sudah ia anggap seperti saudaranya itu.
"Fine. Lakukan semaumu, Tuan Tidak-Butuh-Orang-Lain." Keluh Luhan sebelum menghabiskan minumannya sendiri.
Keduanya kemudian jatuh dalam diam meskipun musik di klub malam itu menghentak di setiap sudut ruangan.
"Masih di perusahaan yang sama?" Tanya Yifan berbasa-basi –sesuatu yang tidak mahir ia lakukan.
Luhan mengangguk. "Partner perusahaan lebih tepatnya. Aku dengar CEO mereka baru dan banyak perubahan yang dilakukan. Lucunya adalah mereka fokus bergerak pada bisnis penjualan buku. Mungkin aku bisa mempromosikan bukumu agar terbit di sana?" Kata Luhan setengah bercanda.
Yifan mendengus. Luhan yang sudah bergelar sarjana manajemen bisnis itu menghela nafas panjang. Ia memang tidak bisa berbuat banyak untuk Yifan.
.
.
.
Menjadi seorang CEO perusahaan besar seperti sekarang adalah tantangan tersendiri bagi Chanyeol. Setelah menempuh pendidikan dalam waktu relatif cepat sambil mempelajari jalannya perusahaan yang akan ia handle, Chanyeol berhasil menempati posisi yang Ibunya simpan untuknya. Chanyeol tidak begitu mengenal wanita itu –tidak ada satu pun kenangan yang tertinggal selain kenyataan bahwa beliau meninggal dengan bunuh diri, dan Chanyeol belum berniat untuk mencari tahu lebih lanjut. Saat ini ia lebih fokus untuk menata hidupnya dan menjalaninya seperti orang normal lainnya.
Hari ini sekretaris memberitahunya bahwa akan ada beberapa pegawai hasil mutasi yang datang dari China. Chanyeol berharap pegawai itu bisa memberikan kontribusi untuk perusahaannya. Selain mengatur jalannya bisnis, mengatur orang-orangnya jauh lebih sulit. Stres dan tekanan adalah sahabat akrab Chanyeol untuk saat ini.
"Selamat datang di Korea. Aku Park Chanyeol."
Siang itu Chanyeol menyambut pegawai dari China di ruangannya. Pemuda yang kini usianya sudah seperempat abad itu mengenakan jas hitam dengan kemeja biru serta rambut yang disisir rapi. Penampilannya masih terlihat begitu muda untuk seorang CEO, tetapi tidak ada keraguan dari karisma yang Chanyeol tampilkan ketika orang-orang berhadapan dengannya.
Kalimat yang Chanyeol ucapkan menggunakan bahasa Korea yang mudah untuk dipahami. Setidaknya para pegawai itu sudah mempelajari sedikit bahasa Korea sebelum mereka dimutasi ke perusahaan ini. Namun kala itu Luhan membeku ketika ia berusaha mengerti kalimat yang Chanyeol ucapkan.
"Aku Xiao Lu. Kau bisa memanggilku Luhan." Luhan memperkenalkan diri dengan bahasa Korea yang terbatas.
Nama Chanyeol tidak begitu asing di telinganya tapi Luhan terus gagal ketika mencari nama itu dalam ingatannya.
"Kalian pasti sudah mendengar bahwa aku masih baru dalam bidang ini. Untuk itu aku memohon bimbingan serta kerja sama kalian untuk mengembangkan perusahaan ini." Ucap Chanyeol dengan senyuman di wajahnya.
Senyuman itu begitu rapi seolah Chanyeol sudah berlatih untuk melakukannya ratusan kali.
.
.
.
Sudah hampir seminggu Luhan bekerja di sebuah perusahaan jaringan penerbit sekaligus distributor buku di Korea. Dan Luhan adalah orang yang supel dan mudah bergaul dengan orang lain hingga tidak sulit baginya untuk bersosialisasi dengan karyawan lain di perusahaan itu. Pemuda berperawakan tubuh kecil itu ditempatkan pada bagian marketing, sementara orang lain yang juga di mutasi bersamaan dengannya dari China menempati bagian lain.
Pada akhir pekan itu, teman kerja dalam satu departemen yang ia tempati mengajaknya untuk menghabiskan waktu pergi ke karaoke dan makan malam bersama, sebuah adat yang baru untuk Luhan. Rombongan pegawai itu berhenti di sebuah tempat makan yang menyediakan samgyeopsal dan soju. Luhan duduk di samping Sehun, partner kerjanya pada departemen itu.
"Apa kalian sering keluar bersama seperti ini?" Tanya Luhan mengomentari teman-teman kerjanya yang sudah sibuk dengan makanan di hadapan mereka.
Sehun mendengus sebelum menenggak sojunya. Pemuda itu kemudian mengangguk.
"Kami biasanya pergi dengan teman satu departemen saja. Kenapa? Kau mengharapkan orang lain bergabung?" Tanya Sehun.
Luhan menggeleng. Sudah hampir seminggu ini nama atasannya mengisi pikirannya. Namun Luhan tidak se-sembrono itu untuk mencari tahu tentang Chanyeol mengingat posisinya yang masih baru.
"Aku bisa melihat kau sering memperhatikan Chanyeol. Kau suka padanya?"
Luhan menatap sinis pada rekan kerja di sampingnya. Untunglah yang lain juga sibuk dengan obrolan lain hingga tidak begitu mendengarkan obrolan dua orang pemuda itu.
"Dia umur berapa?" Masa bodoh dengan asumsi Sehun padanya. Rasa penasarannya lebih unggul.
"26 kalau tidak salah. Dia baru lulus satu tahun yang lalu dan sudah jadi CEO. Hebat kan?"
Luhan mengangkat bahunya. Ia kemudian memasukkan sepotong daging babi yang sudah dipanggang ke dalam mulutnya sebelum mengalihkan perhatiannya kembali pada Sehun –yang ternyata sedang menatapnya.
"Tapi dia sudah punya pacar –seorang dokter. Kau sebaiknya mundur." Kata Sehun memperingatkan.
Luhan lagi-lagi tenggelam dalam pikirannya. "Kau tahu nama SMA-nya?" Tanya Luhan lagi.
Sehun menutup mulutnya menggunakan punggung tangannya ketika ia tertawa.
"Yah! Kau benar-benar suka padanya sampai ingin tahu nama SMA-nya juga?"
Tapi Luhan justru sedang fokus mengingat nama sekolah Yifan di Korea. Bukankah Mrs. Wu pernah memberitahunya nama sekolah sahabatnya itu?
"Itu percuma kalau kau ingin tahu masa lalu Chanyeol. Ia sendiri bahkan tidak mengingatnya." Jelas Sehun.
Luhan mengernyit mendengarnya. "Maksudmu?"
"CEO kita itu pernah kecelakaan sampai hilang ingatan. Yang aku dengar sampai sekarang ingatannya belum kembali."
Tubuh Luhan lagi-lagi membeku ketika akhirnya nama Chanyeol muncul di ingatannya.
"Luhan?"
"Huh?"
"Aku pikir aku gay."
"Huh?"
"Aku menyukai Chanyeol."
"Huh?"
"Dengar, Tuan Muda Wu Yifan. Aku sedang tidur dan tiba-tiba kau menelepon dan mengatakan kalau kau gay? Dan apa? Kau ingin menikahi Chanyeol? Who the fuck is Chanyeol?"
Yifan menyibakkan rambutnya yang jatuh di atas dahinya. Bercerita pada Luhan adalah sebuah kesalahan.
"Night, Luhan." Yifan sudah akan menutup teleponnya ketika Luhan kembali mengeluarkan umpatan-umpatan andalannya.
"Kau tidak bisa memberitahuku sesuatu yang besar dan dengan begitu saja menyuruhku untuk melupakannya. Apa Chanyeol cute?"
Yifan tidak dapat menahan dirinya untuk tidak tersenyum.
Luhan tanpa sengaja menjatuhkan gelas sojunya hingga membuat cairan alkohol itu mengotori celananya. Namun pemuda itu tidak peduli ketika ia buru-buru bangkit dan berpamitan pada teman-teman kerjanya yang lain. Luhan berlari menuju halte dan menaiki bus menuju apartemen yang ia tinggali.
Chanyeol. Park Chanyeol. Park Chanyeol. Jantung Luhan seperti akan melompat keluar dari dadanya ketika nama itu terus terngiang di kepalanya. Dan begitu sampai di apartemen yang disediakan perusahaan untuk tempatnya tinggal selama di Korea, Luhan membongkar kopernya yang ia bawa dari Beijing.
Novel hasil tulisan Yifan ia simpan di bagian paling bawah. Dengan tangan bergetar Luhan membuka sebuah halaman dan membaca aksara China itu dengan teliti. Setelah memastikan, pemuda itu kemudian meraih ponselnya dan melakukan panggilan roaming.
"Apa?" Sapa Yifan tanpa basa-basi ketika sambungan telepon mereka terhubung.
Luhan berusaha menenangkan diri sebelum membuka suaranya.
"Apa Pu Chanlie dalam novelmu adalah Park Chanyeol?" Tanya Luhan.
Hening. Yifan tidak menyahut.
"Yifan..." Kali ini suara Luhan bergetar.
"Iya. Kenapa?" Jawab Yifan datar.
Kali ini Luhan yang terdiam. "Tidak apa-apa."
Tut. Tut. Tut.
Luhan memutus sambungan telepon itu sebelum ia berbuat sesuatu yang gegabah. Ia tidak ingin mengacaukan pikiran sahabatnya itu dengan mengatakan bahwa atasannya di Korea sekarang adalah Park Chanyeol. Bisa jadi itu adalah Chanyeol yang lain kan? Luhan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menghela nafas panjang. Ia akan mencari tahu lebih lanjut setelah ini.
.
.
.
Dalam bisnis, ada kalanya pencapaian sebuah perusahaan mengalami peningkatan maupun penurunan hasil. Dalam perusahaan yang Chanyeol tangani saat ini, performa yang ditunjukkan grafik pertumbuhannya justru semakin menukik turun. Mereka sudah menjaring buku-buku terbaik yang sesuai dengan selera konsumen hingga yang diharapkan adalah peningkatan. Namun sepertinya usaha mereka belum membuahkan hasil.
Pada meeting bulanan hari itu, Chanyeol hanya bisa menatap bosan pada layar proyektor yang menunjukkan presentasi dari masing-masing departemen. Belum ada ide atau judul buku yang menarik perhatiannya.
"Aku sebenarnya mempunyai usulan sebuah buku yang aku bawa dari ruahm. Aku tidak tahu apakah buku ini sudah pernah diterbitkan di Korea, tetapi buku ini masuk ke dalam buku best seller selama dua tahun penuh di China." Luhan menyuarakan pendapatnya.
Chanyeol yang memainkan bolpoin di tangannya melirik sekilas ke arahnya sebelum memejamkan matanya.
"Kau ingin kita menerbitkannya?" Tanya Chanyeol.
Luhan mengangguk.
"Bukankah itu akan memakan biaya produksi lebih besar jika kita juga harus menyewa penerjemah untuk menerjemahkan pinyin ke hangeul?"
"Tentu saja. Tapi aku yakin nilai jual buku ini akan berhasil menutup biaya produksi itu nantinya." Sanggah Luhan.
"Pasar kita tidak tertarik dengan buku terjemahan." Ujar Kepala Song, salah seorang kepala departemen bagian editorial.
Chanyeol masih terdiam. Ia terlihat mempertimbangkan sesuatu.
"Kita juga akan membuang-buang waktu dengan menunggu hasil penerjemahannya." Kata Chanyeol pada akhirnya.
Luhan menarik nafas dalam-dalam. Ini bukan hanya tentang perusahaan itu.
"Bagaimana kalau aku bisa menyewa seorang penerjemah yang bisa melakukan pekerjaan itu dalam waktu kurang dari seminggu. Apakah kalian akan mempertimbangkan buku itu?" Tanya Luhan.
Chanyeol lagi-lagi memainkan bolpoin di tangannya, namun kali ini ia menatap kesungguhan di raut wajah Luhan.
"Aku akan membaca sinopsisnya terlebih dahulu." Kata Chanyeol yang secara tidak langsung menyetujui usulan Luhan. Para editor di ruangan itu terlihat menggelengkan kepala mereka.
Meeting itu kemudian berlanjut pada topik lain.
Kini Luhan harus bekerja ekstra untuk menemukan penerjemah dan menunjukkan buku itu pada Chanyeol.
.
.
.
Petang itu Chanyeol berniat untuk mampir ke sebuah cafe yang berada di dekat perusahaannya setelah jam kerja selesai. Dengan berjalan kaki pemuda itu menapaki trotoar jalan dengan langkah berat. Tekanan pekerjaan begitu pelik akhir-akhir ini hingga Chanyeol membutuhkan dorongan kafein untuk melanjutkan pekerjaannya.
Gonggongan seekor anjing yang tiba-tiba menghampiri dan mengeluskan tubuhnya pada kaki jenjang Chanyeol membuat pemuda itu berhenti. Anjing itu mengeluarkan lidahnya dan menggoyangkan ekornya ketika Chanyeol menggaruk kepalanya.
"Hey..." Chanyeol menyapa anjing itu dan sudah berjongkok di hadapannya ketika ia mendengar suara langkah kaki di belakangnya.
"Kkukkie, come on. Kkukkie!"
Anjing itu menjilat telapak tangan Chanyeol sebelum berlari menuju sumber suara. Suasana trotoar jalan yang sudah mulai gelap membuat Chanyeol hanya bisa melihat siluet si pemilik anjing itu. Tubuhnya tinggi dan tegap, namun bahunya bungkuk, seolah laki-laki itu telah menahan beban berat selama hidupnya.
Chanyeol melambaikan tangannya pada anjing yang sempat menggonggong sekali lagi padanya itu. Ada degup aneh di dalam dada Chanyeol ketika melihat siluet itu berjalan menjauhinya.
Chanyeol tersentak ketika merasakan ponselnya bergetar di saku celananya. Nama Baekhyun tertera di layarnya.
"Kau di mana? Aku sudah sampai di depan kantor." Kata Baekhyun.
Chanyeol lupa bahwa malam ini ia ada janji makan malam dengan laki-laki yang lima tahun lebih tua darinya itu.
"Aku ada di depan cafe dekat kantor. Kau bisa menjemputku di sini saja?"
"Tunggu sebentar."
Chanyeol bisa mendengarkan mesin mobil Baekhyun bergerak dan tidak berapa lama kemudian mobil sedan itu berhenti di hadapannya. Baekhyun tersenyum ketika Chanyeol masuk ke dalam.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Baekhyun ketika melihat wajah pucat Chanyeol.
Chanyeol mengangguk. Kepalanya tiba-tiba pening dan rasa mual membuatnya seperti akan muntah.
"Kalau kau sedang tidak enak badan kita bisa membatalkan acara makan malamnya." Kata Baekhyun.
Chanyeol sudah akan menolak ketika pening di kepalanya berubah menjadi sakit kepala yang hebat. Suara gonggongan anjing dan laki-laki tadi seolah bersahutan di kepalanya.
Tanpa mengatakan apapun Baekhyun mengendarai mobilnya menuju apartemen yang Chanyeol tempati. Sejak bekerja di perusahaan, Chanyeol memilih untuk tinggal sendiri karena ia tidak ingin merepotkan Bibi Vic.
Chanyeol memegangi kepalanya sementara Baekhyun mengambilkan segelas air putih dan obat pereda rasa sakit dari meja nakas di kamar Chanyeol. Ia sudah begitu hafal dengan letak barang-barang di apartemen itu hingga ia tidak perlu bertanya pada si pemiliknya lagi.
"Kau sebaiknya pulang." Kata Chanyeol sambil memijat pelipisnya setelah ia meminum obat itu.
"Kau yakin kau baik-baik saja?" Tanya Baekhyun memastikan.
Chanyeol mengangguk dan menyandarkan kepalanya pada sandaran di sofa.
"Aku bisa tinggal kalau kau mau." Kata Baekhyun.
Chanyeol membuka matanya dan berusaha meyakinkan mantan dokternya itu bahwa ia tidak apa-apa.
Baekhyun akhirnya menyerah dengan menghela nafas dan berniat untuk meninggalkan apartemen itu ketika ia mendekatkan wajahnya pada wajah Chanyeol dan mengecup bibir pemuda itu.
Bibir Chanyeol terkatup ketika Baekhyun memagutnya. Pemuda itu memundurkan wajahnya ketika ciumannya tidak berbalas.
"Night, Chanyeol." Baekhyun melangkah keluar dari apartemen itu.
"Night, Baekhyun." Chanyeol membalas pelan.
Hubungan yang Chanyeol jalani dengan Baekhyun terjadi begitu saja. Dari sebuah makan malam hingga ke pertemuan-pertemuan selanjutnya, semuanya seolah menjadi rutinitas. Namun tidak ada status atau komitmen yang keluar dari mulut keduanya. Entah karena belum ada yang berani –atau tidak ada yang berniat melakukannya.
Pada saat itu pula ponsel Chanyeol lagi-lagi bergetar. Kali ini sebuah pesan masuk ke dalam emailnya. Kontak Luhan muncul pada nama pengirim pesan itu. Sudah enam hari sejak Luhan mengutarakan usulannya dan Chanyeol kira pemuda itu sudah akan menyerah ketika Chanyeol membuka lampiran pada email itu.
Ada 305 halaman. Chanyeol men-scroll layar ponselnya pada halaman pertama. "Paradise" adalah judul buku itu. Halaman kedua berisi kata pengantar dari si penulis. Chanyeol membacanya perlahan ketika kepalanya terasa seperti akan pecah.
Aku pernah membaca sebuah prosa yang mengatakan bahwa jika kita memang tidak disatukan dalam kehidupan ini, maka barangkali ada kehidupan di luar sana di mana kita memang terlahir untuk bersama.
Tapi aku tidak sanggup mencari atau menunggu datangnya kehidupan itu,
Maka aku persembahkan buku ini untukmu, untuk kita,
Karena paling tidak di dalam buku ini,
Aku layak mendapatkanmu.
Mencintaimu dengan leluasa tanpa harus menunggu persetujuan orang lain.
Dan setidaknya di dalam buku ini,
aku membiarkanmu hidup ketika orang lain –bahkan dirimu sendiri menginginkan mati.
KRIS WU
.
Paradise... adalah ketika aku melaluinya bersamamu.
.
.
Yifan sedang duduk termangu di depan layar komputernya menikmati sebatang rokok ketika ponselnya berdering untuk kesekian kali. Nama Luhan tercantum di layarnya namun ia sedang tidak ingin berbicara dengan siapa pun.
Sudah panggilan ke-lima belas ketika akhirnya Yifan mendecak dan mengangkat teleponnya.
"Apa?" Terakhir kali Yifan berbicara dengan Luhan pemuda itu menanyakan hal yang tidak penting padanya.
Luhan terdengar menarik nafasnya dalam-dalam sebelum memberanikan dirinya.
"Yifan, aku menemukannya." Ucap Luhan dengan getar di suaranya.
Yifan meletakkan rokoknya di atas asbak yang sudah penuh dengan puntung rokok.
"Huh?" Tapi Yifan tidak mengerti dengan apa yang Luhan temukan.
Luhan lagi-lagi mengatur nafasnya yang tersengal saking gugupnya.
"Aku menemukannya. Park Chanyeol. Aku menemukannya, Yifan."
Engkaulah getar pertama yang meruntuhkan gerbang tak berujung ku mengenal hidup,
Engkaulah tetes embun pertama yang menyesatkan dahagaku dalam cinta tak bermuara,
Engkaulah matahari firdausku yang menyinari kata pertama di cakrawala aksara.
Kau hadir dengan ketiadaan. Sederhana dalam ketidakpastian.
Gerakmu tiada pasti. Namun, aku terus di sini,
Mencintaimu.
Entah kenapa. **)
Yifan baru berhasil mengetikkan beberapa kalimat dalam novel keduanya ketika telepon dari Luhan membuat pertahanan yang sudah susah payah ia bangun selama beberapa tahun terakhir runtuh kembali.
BERSAMBUNG
*) Sub-judul diambil dari judul film "Kotonoha No Niwa" (The Garden of Words) oleh Makoto Sinkai.
**) dikutip dari novel "Supernova: Kesatria, Puteri dan Bintang Jatuh" karya Dewi Lestari.
Heuheu.
Terima kasih untuk yang terus setia membaca dan menunggu fanfic ini. Semoga nggak makin nge-bingungin ya ^^
Mohon maaf kalo masih ada typos dan EYD yang salah.
Semoga menghibur ^^
Dengan cinta,
Mutmut Chan.
