Give Me A Second Chance" Chapt. 25
*Sebelumnya*
Hyorin mulai membuka matanya, Teukie bahagia saat Hyorin mulai sadar.
"Akhirnya kau sadar, yeoboe" ucap Teukie sambil memegang kening Hyorin.
"Demammu sudah turun, syukurlah"
"Hyeong, aku akan memanggil Dokter" ucap Sungmin.
"Ne" sahut Teukie.
Sungmin segera ke luar kamar inap Hyorin untuk memanggil Dokter.
"Yeoboe…,apa tadi Kyuhyun menjengukku?" tanyanya lemah.
"Aniyo" bohongnya.
"Jincha?, aku seperti mendengar suara Kyuhyun, mungkin aku hanya bermimpi dia menjengukku. Aku merindukan Kyuhyun, yeoboe" ucap Hyorin.
"Mianhe yeobo, aku berbohong padamu" batin Teukie.
*Selanjutnya*
Hyorin kembali diam, dan raut wajahnya terlihat tampak sedih. Teukie menunduk sejenak, lalu mengalihkan pandanganya untuk menatap Hyorin. Teukie beranjak, lalu menuangkan segelas air di atas meja nakas, kemudian Teukie duduk kembali dan menyodorkan air itu padanya.
"Minumlah dulu"
"Ne" sahut Hyorin, dan Teukie membantu menahan kepala Hyorin agar Hyorin bisa minum.
"Gumawo yeobo"
"Mm" sahutnya.
Donghae mengendarai Mobilnya, dan ia pergi ke salah satu tempat favorit, saat ia dan Ji Won masih bersama, semasa Kuliah.
Donghae pergi ke rumah makan ditepi jalan. Rumah makan itu cukup sederhana, namun ramai pengunjung. Rumah makan yang dikunjunginya adalah rumah makan favorit Kyuhyun dan Haru.
"Donghae~ssi" sapa sipemilik rumah makan.
"Ne ajumma"
"Kau sudah lama sekali tidak kemari" ucap wanita paruh baya yang sudah sangat mengenal Donghae.
"Ne, aku sibuk ajumma"
"Pantas saja. O iya, mau makan apa?, apa kau sendirian?, dimana kekasihmu?" tanyanya.
"Aku sendirian saja ajumma. Aku pilih menu seperti biasa" ucapnya sambil duduk disalah satu kursi, dekat salah satu bingkai panjang yang terpampang di dinding, di sisi kiri.
Di dalam bingkai yang dulunya polos, sekarang sudah terisi cukup penuh dengan beberapa tanda tangan juga berisi beberapa patah kata dari pengunjung yang datang. Dulu Donghae dan Ji Won menuliskan perasaan mereka serta tanda tangan mereka di dalam bingkai tersebut.
Donghae meraba tulisan itu , matanya berkaca-kaca saat membaca ulang apa yang sudah mereka tulis.
"DongWon = Donghae Ji Won, selamanya akan saling mencintai" "Aku sangat mencintai Lee Donghae, namja tampan dan sangat menyukai Ikan"
"Ha Ji Won!, yeoja galak yang berani sekali merebut hati seorang Lee Donghae. Aku sangat…sangat mencintaimu Ha Ji Won"
"Haru adalah anak yeoja Lee Donghae dan Ha Ji Won di masa depan "
"Daehan untuk anak namja Lee Donghae dan Ha Ji Won "
Air mata Donghae mengalir saat membaca apa yang telah mereka tulis sekitar 5 tahun yang lalu.
"Kenapa kau menyakiti hatiku saat itu Ji Won?!, apa kau tahu, luka yang kau torehkan hingga saat ini masih membekas, karena kau!, aku tidak bisa mempercayai yeoja manapun juga, dan karena kau!, aku membenci anak itu!" batinnya.
"Kau tahu Ji Won?!, aku… aku sangat merindukanmu" batinnya lagi.
"Kau kenapa Donghae?" Wanita pemilik rumah makan itu menegurnya, ketika melihat Donghae menangis.
Donghae segera menyeka air matanya, lalu ia tersenyum "Aniyo, ajumma. Aku hanya mengenang masa lalu saja" sahutnya.
"Oh" sahutnya.
"Kau pasti sangat mencintai kekasihmu kan?, semoga saja hubungan kalian tetap langgeng dan tidak saling menyakiti. Karena ajumma lihat, kalian saling mencintai"
"Ne ajumma, gumawo" sahut Donghae.
Salah satu pelayan di rumah makan itu datang dan meletakkan pesanan Donghae di atas meja, seraya ia bertanya pada pemilik rumah makan.
" Ajumma, kenapa Kyuhyun dan Haru tidak pernah lagi kemari?" tanyanya.
Donghae terkejut saat mereka membicarakan Kyuhyun dan Haru. Donghae diam dan mendengarkan perbincangan mereka, "Nde, terakhir Kyuhyun kemari sekitar beberapa hari yang lalu bersama seorang wanita, sepertinya wanita itu eommanya"
"Eomma?, jadi eomma pernah kemari bersama Kyuhyun?" batinnya.
"Padahal aku ingin memberikan bingkisan pada Haru, gadis kecil itu mengingatkanku pada anakku di desa"
"Lain kali saja, kalau mereka makan di sini" sahutnya.
"Ne ajumma"
"Haru?, aku mengenalnya" ucap Donghae
"Jincha?" tanya pelayan itu tampak senang.
"Nde, aku sangat mengenal Kyuhyun dan Haru. Mereka adalah orang baik" bohongnya.
"Kau benar Donghae, dan Kyuhyun sangat menyayangi Haru" sahut si pemilik rumah makan.
"Bagaimana jika bingkisan itu aku berikan padanya, tapi aku tidak tahu alamatnya" ucap Donghae berharap salah satu dari mereka mengetahui alamat Kyuhyun tinggal saat ini.
"Sebentar ajumma tuliskan, kebetulan dulu ajumma pernah ke rumahnya, tapi karena pengunjung sekarang semakin ramai, ajumma sudah jarang berkunjung ke rumahnya"
"Ne" sahutnya.
Pemilik rumah makan itu pergi untuk mencatatkan alamat Kyuhyun, sedangkan pelayan tersebut mengambil bingkisan untuk Haru yang lupa ia berikan pada Kyuhyun.
Donghae rersenyum licik, lalu senyumnya berubah merekah ketika mereka datang dan memberikan alamat serta bingkisan itu padanya.
"Tolong sampaikan pada Kyuhyun, mian saya baru memberikannya untuk Haru"
"Ne" sahut Donghae.
"Ini alamat rumah Kyuhyun"
"Gumawo ajumma, aku pasti akan menyerahkan bingkisan ini padanya"
"Ne, cheongmal gumawoyo"
"Ne" sahut Donghae.
"Kalau begitu saya pergi dulu"
"Loh, mau kemana? ,makananmu saja belum kau makan"
"Aku harus buru-buru ke kantor ajumma, sepulang dari kantor nanti, baru aku ke rumah Kyuhyun. Ini uangnya " Donghae mengeluarkan dompet, lalu membayar apa yang sudah ia pesan tapi tidak dimakan pada wanita paruh baya tersebut.
"Oh, ne gumawo"
"Ne ajumma" sahut Donghae, lalu beranjak dari kursi dan ia bergegas meninggalkan rumah makan, untuk mencari alamat rumah Kyuhyun.
Changmin mengantar Kyuhyun untuk pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan, Haru tampak terlelap di kursi belakang. Kyuhyun duduk di sebelah Changmin, karena rasa penasaran yang masih menyelimutinya, Kyuhyun pun bertanya mengenai Kemoterapi.
"Changmin, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu"
"Kau ingin bertanya apa?" Sahutnya sambil fokus menyetir.
"Apakah, yang mendaftarkanku untuk melakukan Kemo adalah kau?"
"Aku sudah yakin jika kau akan bertanya mengenai masalah ini"
"Jadi benar, kau yang melakukannya?"
"Sebenarnya Yoochun hyeong yang mendaftarkanmu, tapi karena dia tidak tahu data dirimu, jadi aku yang mengisi datamu"
"Kenapa kalian tetap memaksaku untuk Kemo? ,aku tahu hal itu tidak akan berguna!, aku tahu jika perlahan-lahan aku akan tetap meninggal!"
"Kyu, kau lihat Haru!, dia sangat menyayangimu. Jika kau menyerah pada penyakitmu! ,apa kau tega melihatnya menangis karena kehilanganmu?!"
Kyuhyun menoleh dan memandangi Haru yang tertidur pulas, "Kau benar. Selama ini hanya Haru yang peduli padaku"
"Kau jangan khawatir tentang biayanya"
"Aku tidak ingin membebani kalian. Aku memiliki tabungan, dan aku pikir, cukup untuk melakukan Kemo, aku akan mencari pekerjaan, untuk biaya berobat dan Sekolah Haru"
"Kenapa kau tidak terus terang saja pada orang tuamu, Kyu. Aku yakin, mereka pasti akan memaafkanmu".
"Untuk apa?, apakah jika aku berterus terang, lantas mereka tidak akan mencemaskanku?, apa kau yakin, eommaku tidak akan menangis karenaku?, apa kau yakin, appa akan memaafkanku?, apa kau yakin Donghae hyeong akan peduli padaku?!"
"Kyu…" ucapnya pelan.
"Aku berpikir, mungkin ini adalah hukuman dari Tuhan, agar aku menjadi lebih dewasa. Mungkin Tuhan memberiku kesempatan untuk bersikap lebih baik, setidaknya sebelum aku meninggal"
"Kyu, kau tidak akan meninggal. Kau pasti sembuh, kau jangan menyerah. Kau pasti bisa bertahan"
"Gumawo Changmin~ah"
"Kyu, kau harus janji. Kau akan terus berjuang, jika bukan untuk kedua orang tuamu, setidaknya demi Haru" pinta Changmin.
"…" Kyuhyun diam dan menatap lekat wajah polos Haru.
Yoochun berada di Taman dan ia duduk disalah satu kursi panjang yang kosong, Yoochun tampak melamun. Ia masih bingung, kenapa Kyuhyun harus berbohong didepan Siwon.
"Kenapa kau harus berbohong, Kyu?" batinnya.
Lamunan Yoochun buyar saat seseorang duduk di sebelahnya, dan namja itu adalah Sungmin. Yoochun menoleh begitu pula Sungmin, lalu Sungmin tersenyum pada Yoochun.
"Siapa yang sakit?" tanya Yoochun memberanikan diri untuk bertanya.
"Saudara iparku yang sakit"
"Oh"
"Kau Dokter apa?" tanya Sungmin.
"Saya Dokter bedah khusus menangani anak-anak"
"Oh…, kau Dokter tetap di rumah sakit ini?"
"Nde"
"Mm…apa kau mengenal Dokter Ahn Do Kwang?"
"Nde, tapi beliau sedang tugas ke luar Negeri selama beberapa minggu"
"Oh, pantas saja aku tidak melihatnya di rumah sakit ini"
"Anda keluarga Dokter Do Kwang?"
"Aniyo, aku adalah temannya."
"Oh"
"Sayang sekali Do Kwang tidak ada, jika saja dia tidak tugas ke luar Negeri, aku ingin ia membantuku mencari keponakanku"
" Oh" Yoochun tidak berani bertanya lebih banyak, karena Yoochun tidak ingin mencampuri urusan orang lain.
"Tadi aku melihatmu melamun, sepertinya kau sedang ada masalah"
"Hanya masalah pasien saja"
"Mm…, begitulah resikonya menjadi Dokter. "
"Nde, sebenarnya saya bingung padanya, kenapa dia harus berbohong di depan Dokter Siwon. Padahal penyakitnya sudah cukup parah, setidaknya orang tuanya harus tahu"
"Mungkin saja dia memiliki alasan untuk berbohong."
"Meski saya tahu alasan kenapa dia berbohong, tapi kenapa dia keras kepala sekali, bahkan dia sempat lari dari rumah sakit."
"Jadi begitu. Sebenarnya saya juga sedang mencari keponakan saya yang lari dari rumah. Ani…bukan lari, tapi dia diusir oleh keluarganya sendiri"
"Di usir?"
"Nde"
"Kenapa keponakan Anda diusir ajussi?" tanya Yoochun penasaran. Tapi belum sempat Sungmin menjawab, Yoochun menerima telepon dan mengharuskannya kembali bertugas.
Drt…drt…
"Ne?…mwo?, ne…aku segera kesana" tut.
"Ajussi, mian saya harus pergi, karena ada pasien saya yang kondisinya menurun. Saya harap saudara ajussi cepat sembuh"
"Ne, gumawo"
"Ne, annyeong"
"Annyeong"
Kemudian Yoochun bergegas pergi dan meninggalkan Sungmin.
Donghae tiba di depan gang kecil rumah Kyuhyun. Ia menyusuri jalan yang berkelok-kelok sambil melihat alamat yang dipegangnya.
Hingga kini ia tiba di depan rumah Kyuhyun.
"Jadi di sini kau tinggal sekarang, Kyu?" gumamnya pelan.
"Setidaknya kau lebih baik tinggal di sini, agar kau tidak menyusahkan orang lain" batinnya.
Donghae berbalik dan berencana pulang, tapi dari kejauhan Donghae melihat Kyuhyun menuju rumahnya. Donghae bingung, dan mau tidak mau ia berbalik dan bersembunyi di balik tembok gangnya.
Donghae menguping pembicaraan mereka, "Kyu, besok aku akan datang untuk jemput kalian"
"Ajussi, memangnya besok mau kemana?" tanya Haru polos.
"Besokkan Haru Sekolah. Jadi ajussi dan Hana akan jemput Haru"sahut Changmin dan mengelus pipi Haru.
"Oh" sahutnya Singkat.
"Gumawo Changmin~ah, mian aku merepotkanmu"
"Kau sama sekali tidak pernah merepotkanku. Aku pulang, ingat…kau harus minum obat yang diberikan Yoochun hyeong"
"Ne" sahutnya.
Donghae mengernyitkan alisnya, ada sedikit rasa cemas ketika mendengar apa yang dikatakan Changmin.
"Apa Kyuhyun sakit?" batinnya.
"Ajussi, apa appa Haru sakit?"
"Ani, appa Haru hanya perlu minum vitamin saja" bohongnya.
"Ajussi gak bohongkan?"
"Changmin ajussi tidak berbohong chagi. Appa sehat kok" ucap Kyuhyun meyakinkanya.
"Appa janji ya, gak boleh sakit lagi" pintanya memelas.
Kyuhyun terenyuh mendengarnya, Kyuhyun kemudian berlutut di depan Haru dan memegang pundaknya.
"Haru juga harus janji pada appa, untuk tidak menangis. Jika suatu hari appa tidak ada, Haru tidak boleh menangis. "
"Appa mau tinggalin Haru?" tanyanya sedih dan matanya tampak berkaca-kaca.
"Ani, appa sudah janji pada Haru untuk tidak meninggalkan Haru, tapi…jika appa harus pergi jauh, Haru tidak boleh menangis, karena appa harus bekerja demi Haru"
"Kalau appa pergi jauh, Haru tinggal dengan siapa?"
"Appa Haru tidak akan pergi, ajussi akan menahannya kalau mencoba untuk pergi" ucap Changmin.
"Changmin~ah" ucap Kyuhyun pelan.
"Appa sangat sayang pada Haru, appa pasti tidak akan tega kalau harus pergi tinggalin Haru dengan orang lain" tambah Changmin.
"…"Haru diam dan menatap lekat wajah Kyuhyun, kemudian Haru memeluk Kyuhyun erat.
"Appa gak boleh pergi, appa gak boleh tinggalin Haru…., Haru gak mau tinggal dengan orang lain. Haru gak mau eomma…Haru gak mau haraboji….Haru juga gak mau halmoni…Haru cuma mau appa" meski sudah berjanji agar tidak menangis, tapi Haru tetap saja menangis.
Air mata Donghae mengalir ketika mendengar permintaan polos Haru pada Kyuhyun.
"Apakah kau begitu menyayangi Kyuhyun sebagai appamu, Haru?" batin Donghae.
"Kyu, lihatlah…Haru begitu menyayangimu. Kau tidak boleh lagi berkata pergi untuk meninggalkannya"ucap Changmin.
Kyuhyun hanya diam, karena ia sendiri tidak bisa berjanji. Kyuhyun mengelus-elus punggung Haru lembut.
"Mianhe" ucap Kyuhyun pelan.
Kyuhyun melepaskan pelukan Haru padanya, kemudian ia menyeka air mata Haru, dan mengecup keningnya.
"Mianhe" Haru mengangguk mengiyakan.
Lalu Kyuhyun beranjak, Changmin menepuk pundak Kyuhyun, "Kau harus melakukannya demi Haru, Kyu"
"Ne" sahut Kyuhyun.
"Aku pergi, besok pagi aku kemari lagi"
"Mm"sahut Kyuhyun.
Kemudian Changmin pergi, Kyuhyun dan Haru masuk ke dalam rumah mereka. Setelah Kyuhyun masuk, Donghae ke luar dari persembunyiannya. Donghae meremas bingkisan untuk Haru, lalu Donghae pergi.
Donghae tertawa kecil dibalik kesedihannya. Ia membuang bingkisan untuk Haru ke jalan. Donghae masih tidak bisa terima jika Haru begitu menyayangi Kyuhyun.
Malam hari
Shindong mengunjungi Kyuhyun ke rumahnya, Shindong diam sejenak saat mendengar suara tawa Haru karena sedang bermain dengan Kyuhyun.
Mata Shindong terasa panas karena menahan air mata, "Sampai kapan tawa itu akan terdengar seperti ini?, apakah jika kondisi Kyuhyun semakin parah, Haru masih bisa tertawa?" ucapnya pelan.
"Tuhan, jika Kau menyayangi Haru, jangan kau renggut kebahagiaan ini" batinnya.
Shindong mengurungkan niatnya untuk masuk, dan ia hanya duduk di teras Kyuhyun, sambil mendengar canda tawa ayah dan anak.
"Appa curang!"
"Loh, kan Haru kalah, jadi wajah Haru harus appa gambar lagi. Hahaha"
"Ugh!, udah ah…Haru gak mau main lagi. Haru seperti badut!"
"Hahahahaa" tawa Kyuhyun.
"Appa jahat!" marah Haru.
"Anak appa kalau cemberut jelek. Seperti bebek"
"Appa~~~!"
"Mianhe chagi, appa cuma bercanda. Jangan marah, eoh. Kalau Haru marah, nanti appa sedih"
Shindong meneteskan air mata ketika mendengar dari luar, Kyuhyun bercanda dengan Haru.
Hyorin berdiri di dekat jendela dan memandangi bulan purnama. Wajahnya datar dan tatapannya kosong. Teukie baru saja masuk ke kamar inap Hyorin dengan membawa beberapa makanan dan minuman hangat.
"Kenapa kau tidak beristirahat yeoboe?" tanya Teukie.
"Apakah Kyuhyun membenciku yeoboe?"
"…"Teukie diam tidak berani menjawab pertanyaannya.
"Kenapa dia mengundurkan diri dari pekerjaannya?, aku harus mencarinya kemana lagi?" ucap Hyorin tanpa menoleh untuk menatap Teukie.
"Ini semua adalah salahku. Aku tidak tahu, apakah di luar sana, Kyuhyun tidur nyenyak? ,bagaimana dengan makannya?, dia tinggal dimana saat ini?, aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Aku sangat merindukan anak kita yeoboe…" Teukie hanya diam, walau air matanya mengalir mendengar kerinduan Hyorin yang diucapkannya, tapi Teukie tidak bisa mengucapkan bahwa ia juga begitu merindukan Kyuhyun.
Donghae bermabuk-mabukan di Club malam, dan dikelilingi oleh beberapa yeoja penghibur. Donghae tertawa melihat yeoja-yeoja itu menari dan bernyanyi di depannya. Ia menangis dalam tawanya, hingga membuat yeoja-yeoja tersebut tampak bingung dan saling menatap.
"Kenapa kalian diam, hik…ayo…teruskan tarian kalian!" perintahnya.
Donghae banyak menegak Wine hingga mabuk berat. Karena terlalu banyak minum, salah satu pegawai Club mengantar Donghae untuk pulang, tapi Donghae memintanya untuk mengantar sesuai dengan alamat yang diberikan, yaitu alamat rumah Kyuhyun.
Hari semakin larut, Kyuhyun terbangun dari tidurnya ketika seseorang menggedor pintu rumahnya. Dengan setengah sadar Kyuhyun membuka pintu rumahnya.
"Anda siapa?" tanya Kyuhyun bingung dengan kedatangan seorang namja berpakaian kemeja putih dan celana hitam.
"Saya hanya mengantar tuan Lee Donghae sesuai dengan permintaannya"
Deg…Kyuhyun terkejut, lalu ia menoleh kearah teras dimana Donghae tidak sadarkan diri.
"H..hyeong?" ucapnya pelan.
Pegawai itu kemudian pergi. Kyuhyun memandang lekat wajah hyeong yang sangat ia sayang, tapi Donghae malah sebaliknya.
Kyuhyun membantu Donghae, lalu memapahnya masuk ke dalam rumah dan merebahkannya disamping Haru.
Kyuhyun duduk memandangi wajah Donghae dan Haru secara bergantian.
"Nde, Donghae hyeong adalah appamu Haru" gumamnya pelan.
"Jika appa pergi, setidaknya Donghae hyeong bisa menjagamu"
"Haru~ah…"
"Kenapa appa cengeng sekali" gumamnya sambil menyeka air mata.
"Seharusnya appa bahagia…tapi kenapa?…appa jadi takut jika harus benar-benar pergi meninggalkanmu" Kyuhyun menutup mulutnya dengan tangan kanannya, ia tertunduk dan menangis.
Keesokkan harinya.
Haru terbangun dari tidurnya sambil mengucek matanya, "Appa…" panggilnya, Haru berteriak memanggil Kyuhyun saat melihat Donghae tertidur di sebelahnya.
"Appaaaaa!"
Kyuhyun bergegas menemui Haru, karena ia yakin Haru berteriak karena kaget dengan kehadiran Donghae.
"Ada apa chagiya?"
"Appa…kenapa ajussi asing ini ada dikamar kita?"
"Oh, semalam ajussi ini mabuk, jadi menginap disini" sahut Kyuhyun menjelaskan.
"Haru gak suka ajussi ini!, dia ajussi asing yang ajak Haru bicara, waktu Shindong ajussi beli Es Krim"
"Jadi kau sudah bertemu dengan Haru, hyeong?" batin Kyuhyun.
"Kenapa appa diam?"
"Ah…aniyo. Haru~ah, ayo buruan mandi, kita harus pergi ke Sekolah, nanti Changmin ajussi datang"
"Ne" sahut Haru dan buru-buru ke kamar mandi. Sedangkan Kyuhyun kembali ke dapur memasak bubur untuk Donghae.
Donghae terlalu mabuk hingga ia belum sadarkan diri. Selesai mandi, Kyuhyun memakaikan Haru seragam Sekolah, dan mengepang rambut Haru.
"Appa"
"Ne?"
"Ajussi asing itu jahat gak?"
"Dia baik, chagi"
"Jincha?"
"Nde, apa Haru takut?"
"Ani, Haru gak takut"
"Itu baru anak appa" pujinya.
"Haru~ahhh! " terdengar suara Hana memanggil Haru dari luar rumahnya.
"Appa, Hana datang"
"Ne, ayo pakai tasmu, kita harus berangkat sekarang" ajak Kyuhyun.
"Mm" angguk Haru, lalu Haru memakai tas ranselnya, kemudian Kyuhyun menggandeng tangan Haru ke luar rumah. Sebelum pergi, Kyuhyun menyelipkan pesan untuk Donghae di bawah sendok.
Kyuhyun menutup pintu tanpa menguncinya, hingga membuat Changmin heran.
"Kenapa tidak dikunci pintunya, Kyu?"
"Ah…pintunya agak rusak. Jadi aku tidak bisa menguncinya" bohong Kyuhyun.
"Oh" sahut Changmin tanpa curiga padanya.
"Ayo samchon!"seru Hana
"Baiklah" sahutnya.
Lalu mereka pergi, dan kebetulan Shindong juga ingin pergi bekerja, sehingga mereka pergi bersama.
Donghae terbangun, lalu ia beranjak. Ia bingung kenapa bisa ada disebuah kamar yang sangat asing baginya, bahkan terlihat lebih kecil dari kamarnya di rumah.
"Aku ada dimana?" Ucapnya sambil mengacak-acak rambutnya.
Donghae mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan rersebut, kemudian ia beranjak dan ke luar kamar, berharap ia bertemu dengan sipemilik rumah.
Donghae semakin heran karena rumah itu tampak kosong, dan hanya ada beberapa makanan di atas meja. Donghae duduk, ia memandangi makanan tersebut. Tatapannya tertuju pada secarik kertas di bawah sendok. Donghae mengambil secarik kertas itu lalu membacanya.
"Hyeong, kau pasti sedang banyak masalah sehingga kau mabuk berat semalam. Aku tidak tahu, darimana kau menemukan alamat rumah ini. Kau tahu hyeong, aku bahagia sekali karena bertemu lagi denganmu. Mm…aku sengaja memasak ini semua untukmu hyeong, aku tahu…mungkin hyeong tidak suka. Tapi…cicipilah sedikit, agar aku tahu, hyeong memakan masakan buatanku. Jaga kesehatan hyeong, jangan sering bermabuk-mabukkan. Tidak baik untuk kesehatanmu, hyeong. "
"Hah!" Donghae tersenyum kecut setelah membaca pesan dari Kyuhyun.
Sejenak Donghae hanya menatap makanan yang tersaji di atas meja, karena ingin menghargai jerih payah Kyuhyun karena sudah memasak untuknya, Donghae pun memakan buburnya walau hanya sesendok, kemudian ia menegak segelas air minum, lalu pergi meninggalkan rumah Kyuhyun.
TBC
Mian lanjutannya jelek ya.
