Balas Review! :D

Honey Sho: Aku kurang tau dia tuh sifatnya kayak gimana, jadi maklumi aja deh! ^^V Baiklah, Terima kasih Review-nya! :D

BlueAhoge (Mungkin mulai sekarang akan kutulis begini! Kagak apa-apa, kan? :D): Ahaha, memang aku kagak tau harus gimana bayangin si ketua kelas itu joget ala AKB48! *plak!* Oke, Thanks for Review! :D

Happy Reading! :D


Chapter 23: Another Horror Story Again?


Pagi ini para penghuni kost guru NNG sedang sarapan dengan roti isi yang diisi dengan makanan kesukaan masing-masing. Sekedar informasi aja, sarapan mereka selalu disediakan sama STNW. (Rena: "Apa itu STNW?"/Thundy: "Staff That Never Was!" *nyengir.*)

Ieyasu hanya bengong sambil melihat roti isinya. Saking bengongnya, matanya kagak berkedip padahal udah dihinggapi lalat. (Ieyasu: "Heh, sembarangan lu!")

"Woy, Yasu! Lu kena-" tanya Add yang terpotong karena lampu neon udah muncul di atas kepalanya yang bertanda niat jahanam telah muncul.

"Pssst, Anna! Sini deh!" panggil Add kepada Anna.

"Kenapa?" tanya Anna.

"Liatin Yasu, tuh! Kayaknya lagi bengong, deh!" jawab Add sambil menunjuk orang yang bersangkutan dan tersenyum jahil dalam hati.

"Yasu, Yasu!" panggil Anna sambil mengibaskan tangannya di depan wajah su- *Narator digiles Tadakatsu.*

"Aaah, go-gomen Anna-san! Aku lagi melamun!" kata Ieyasu sambil menggaruk kepalanya.

"Oh iya, lu ngelamunin apaan sih?" tanya Anna yang agak kesal padahal sebenernya udah su- *Narator di-Mother Earth sama Anna.*

"Kalau itu, dia lagi melamun soal- AAAAAAAAAH!"

Perkataan Add terputus karena 'bogem mental' dari Ieyasu telah membuatnya mental dengan kecepatan cahaya.

"Mou, daijobu! Jangan dengerin dia, Anna-san!" ujar Ieyasu mengalihkan pembicaraan.

Anna pun langsung sweatdrop dengan apa yang baru saja lewat di depan matanya, sementara Mathias yang melihat kejadian itu hanya bisa geleng-geleng kepala.

"Dasar, dibilangin jangan digangguin!" gumam Mathias pelan sebelum mendengar suara yang berasal dari halaman belakang.

"Hey, masih sakit?"

"Iya, nih!"

"Pahanya masih sakit, ya? Makanya gue bilang pelan-pelan!"

Beberapa orang yang lagi main poker di ruang tengah pun langsung bisik-bisik mendengar percakapan antara kedua orang tersebut dengan pertanyaan yang sama: "Kok ambigu, ya?"

"Pegel banget, tau!"

"Hmmm... Makanya pemanasan dulu, dong!"

Sebagian orang udah langsung ber-'What The Fuck' ria mendengarnya.

"Tapi pemanasan kagak enak!"

"Yah, tapi setidaknya lebih aman! Kagak terlalu boros tenaga! Masa segitu aja udah capek?"

Seisi ruangan pun langsung cengo mendengarnya.

"Tapi pemanasan merepotkan!"

"Tapi harus! Aku udah nyoba pelan-pelan, tapi karena kagak pemanasan jadinya begitu!"

'Harus menyegarkan pikiran lagi!' batin mereka semua sambil berusaha untuk tidak berpikiran yang menjurus ke 'if you what i mean'.

"Tetap aja sakit!"

"Namanya juga pertama, nanti juga terbiasa! Gue juga udah pelan-pelan!"

"Sekarang malah punggung yang pegel!"

"Kebanyakan nekuk atau tegang, kali! Masih muda tenaganya kan gede, masa baru bentar aja udah langsung capek?"

"Tetap aja capek! Stamina gue kan dikit!"

"Badan lu kecil, sih!"

"Nusuk tau, nusuk!"

"Ya memang harus begitu, kan? Mau gimana lagi?"

"Tapi kan..."

"Minum jus aja! Lumayan, lho!"

"Eh? Benarkah?"

"Yup, seger!"

"Mereka abis ngapain, sih?" tanya seisi ruangan pelan plus bersamaan.

"Makanya kalau lay up basket itu tuh pelan-pelan, Lu-chan! Udah tau badanmu mungil!"

"Aku kagak mungil, Ara!"

"Tetap aja! Udah gitu pemanasan kurang lagi! Gue kan udah jelasin pelan-pelan!"

Sontak, seisi ruangan pun langsung hening seketika.

"Jadi kalian abis latihan lay up buat basket?" tanya Lance cengo dari depan pintu belakang (yang kebetulan menghadap ke arah halaman belakang) dan disambut anggukan dari Ara dan Lu.

Sementara di belakang kedua gadis itu, terlihat Add yang langsung mendarat dengan ngenesnya akibat mental ditonjok Ieyasu barusan.

"BISA KAGAK KALIAN NGOMONG DENGAN CARA YANG NORMAL DAN BUKAN DENGAN CARA YANG AMBIGU?!" teriak Mathias emosi.


Beberapa menit kemudian...

Lance yang berniat membicarakan sesuatu hanya bisa cengo karena keadaan ruang guru yang lagi ngobrol dan ngacangin dia begitu aja.

Karena amarahnya yang tak terbendung lagi, dia pun berteriak, "WOY KALIAN PARA JONES, PERHATIIN ORANG NGOMONG!"

"Jones apaan?" tanya seisi ruangan sambil memperhatikan Lance yang berdiri di depan pintu.

"JOmblo with hepiNES!" jawab Lance ngasal.

"Sori, ye! Gue mah bukan Jones, tapi Jojobas!" seru Ciel dari pojok ruangan.

"Apaan, tuh?" tanya beberapa orang heran.

"JOmblo JOmblo BAhagia Selalu!" jawab Ciel yang disambut gelak tawa dari seisi ruangan.

"Ah iya! Daripada ngomongin jones dan jojobas, gimana kalau kita ngomongin yang lain?" tanya Raven mengalihkan pembicaraan.

"Ya udahlah!" jawab Matt singkat.

"Ada yang punya bahan pembicaraan kagak, nih?" tanya Elsword.

"Gimana kalau tentang rumor di NNG?" usul Lukas.

"Yeee, rumor yang mana dulu? Kalau yang si Kambing pacaran sama cewek kelas 9C itu mah kita semua udah tau!" ujar Andre yang langsung disambit botol aqua sama Mathias (yang diam-diam lagi blushing di pojokan).

"Bukan itu, sekarang rumor tentang hantu remaja yang berkeliaran di sekitar NNG!" jawab Lukas sambil masang tampang 'You Don't Say?' kepada Andre.

"Oooh! Rumor yang itu, ya?" tanya Ieyasu meyakinkan yang dibalas anggukan dari Lukas.

"Kalian tau kagak legenda hantu di sini?" tanya Emil kepada Elgang, Matt, Natalie, Lance, Anna, Gerrard dan Andre yang hanya dibalas dengan gelengan pelan dari mereka semua.

"Kalau lu tau ceritain aja!" usul Gerrard kagak sabaran.

"Jadi, dulu di NNG ada rumor tentang hantu remaja dengan bola mata hitam dan iris berwarna merah darah yang suka mengincar orang-orang di sana saat malam!" jelas Emil datar.

"Terus?" tanya Natalie penasaran.

"Konon katanya, NNG kekurangan guru gara-gara rumor aneh ini dan orang yang berada di NNG saat malam sambil meringkuk di bawah meja kelas akan dijadikan tumbal kepala untuk hantu itu!" Emil pun mulai menakut-nakuti yang lainnya sampai merinding gaje.

"Hantu itu, dengan tombaknya, menusuk jantung orang itu... Lalu memotong kepalanya, dan..."

Yang lainnya pun mulai ketakutan setengah mati.

"DIMAKAN SAMA DIA!" teriak Emil dengan efek yang dramatis.

"KYAAAA!" Semua orang pun langsung berebutan meluk sang Icelandic.

"Eh, lu pada apa-apaan pake acara meluk-meluk?!" bentak Emil sambil berusaha melepaskan diri dari tumpukan manusia yang mencekiknya dan...

BUAK!

"Itte... Kagak usah segitunya juga, kali..." kata yang lainnya sambil mengelus tubuh mereka yang menjadi 'tempat pendaratan darurat' karena mental oleh Emil barusan.

"Kaliannya juga, sih! Tiba-tiba main peluk aja!" balas Emil kesal.

"Terus apalagi?" tanya Eve datar.

"Hmmm, sebetulnya sih hanya itu doang yang kami tau!" ujar Mathias sambil menggaruk kepalanya.

Yang lainnya masih sedikit bergidik ngeri mendengarnya.

"Gimana kalau malam ini kita uji nyali di sana?" usul Lance.

"HEH! LU BARUSAN KAGAK DENGER, APA?! LU MAU DIPENGGAL KAYAK KEJADIAN 'ITU'?!" teriak Matt kaget plus bingung kenapa kawannya yang satu ini rada-rada bolot.

"Kita semua aja yang nyoba! Yah, kalau beneran ada kan kita semua yang hilang ini!" balas Lance watados dan yang lainnya pun berunding.


Beberapa menit kemudian...

"Nah, gimana? Mau pada ikut, kagak?" tanya Lance sekali lagi.

Yang lainnya pun hanya mengangguk pelan.

"Oke, nanti jam enam kita ke sini lagi! Setuju?" tanya Lance bersemangat.

"Setujuuu..." koor yang lainnya lemes.


Malam harinya...

"Nah, sampe! Gimana nih baginya?" tanya Lukas.

"Baginya berdasarkan kelompok aja!" usul Add yang langsung ditimpuk pake botol sake, botol bir, botol Yoggi, sebungkus Licorice, Janus, dan Tactical Knife.

"Gile lu! Mendingan lu berempat ikut kita aja, deh!" ajak Gerrard kepada EBF Four (Matt-Natalie-Lance-Anna).

"Psst, gimana nih?" tanya Anna sambil mengajak ketiga temannya untuk berunding.


Beberapa saat kemudian...

"Lu ikut kemana?" tanya Raven dan Mathias bersamaan.

"Errrr, kita ikut sama Mathias aja!" jawab Natalie.

"Oh, ya udah! Kalian mendingan ke kelas 9C sekarang! Kita bakalan jalan ke kelas 9E!" kata Mathias sambil berjalan ke arah kelas 9E.

Raven dan rombongannya pun langsung mengarah ke kelas 9C.


Di kelas 9C...

"Nah, gimana nih jadinya?" tanya Elesis.

"Yah, kita meringkuk di bawah meja siapa aja!" jawab Ara sambil meringkuk di bawah Jembatan An- *plak!* Maksudnya, di bawah salah satu meja.


Di kelas 9E...

"Oke, jadi kita tinggal meringkuk di bawah salah satu meja aja, kan?" tanya Matt sambil meringkuk.

"Iya! Eh, Lance! Lu ngapain di belakang gue?" tanya Emil yang nyadar Lance berada di belakangnya.

"Hehehe..." Dia pun beranjak ke meja lain dan meringkuk di bawahnya.

"Kalian bertiga meringkuk di mana aja! Kan masih banyak mejanya!" usul Mathias yang udah meringkuk di salah satu meja.


Back to 9C Class...

"Brrr, kok jadi dingin?" tanya Aisha.

"Mau kupeluk?" tanya Elsword.

"Diem ah, orang lagi uji nyali juga!" potong Chung kepada kedua orang itu.

Tiba-tiba, terdengarlah suara yang bikin merinding.

"Psst, lu pada tadi denger suara nyanyian kagak?" bisik Raven yang masih meringkuk.

"Eh, iya juga ya! Tapi apaan?" tanya Rena yang mulai merinding gaje.

Suara itu pun terdengar lagi.

"Anjrit, kenapa makin kenceng aja musiknya?" tanya Add yang makin panik.

"Iya, nih!" jawab Lu ketakutan.

GREEEEK!

"Jeg fandt dig!" kata seorang pemuda yang memegang tombak dengan suara pelan.

"HUUUUUUUUUUUUUAAAAAAAAAAAA!"


Sementara di kelas 9E...

"HUUUUUUUUUUUUUAAAAAAAAAAAA!"

"Eh, teriakan siapa tuh?!" tanya Anna yang kaget mendengar teriakan barusan.

"Hiiiy, kok makin lama makin serem?" tanya Mathias yang mulai merinding.

"Diem lu, Kambing!" umpat Andre sambil berusaha konsentrasi.

"Lu ngapain, Ndre?" tanya Gerrard penasaran.

"Apa ini cuma perasaan aja, atau tadi gue denger suara nyanyian?" jawab Andre nanya balik.

Suara barusan pun terdengar lagi.

"Eh, suara apaan tuh?!" tanya Matt kaget.

"Bentar, kok kayak suara orang lagi nyanyi?" tanya Ieyasu panik.

Suara itu pun semakin mendekat.

"Suaranya makin kenceng!" teriak Lukas yang makin panik

"Haaaa, ampuni aku!" teriak Lance ketakutan.

GREEEEK!

"Jeg fandt dig!" Pemuda bertombak itu pun muncul lagi dan sekarang dia berada di depan pintu kelas 9E sambil berjalan perlahan menuju mereka semua.

DEG! DEG! DEG!

"Vad hände här (Apa yang terjadi di sini)?" tanya seseorang dengan suara yang agak bariton dan sangat dikenal oleh tiga dari mereka semua.

"SVERIGE/SVI?!" koor Mathias, Lukas, dan Emil.

"D'a s'ap'?" tanya Berwald sambil menunjuk pemuda bertombak itu.

"Hmhmhm... Afsked, bror Sverige (Sampai jumpa, Kak Swedia)!" Pemuda itu pun menghilang begitu saja.

"Vänta (Tunggu)!" cegat Berwald yang sayangnya, pemuda tersebut telah menghilang dari pandangan.

"Är du okej (Kalian baik-baik saja)?" tanya Berwald kepada mereka semua dan dibalas dengan anggukan pelan.

"Gimana keadaan Elgang?" tanya Lukas.

"M'rek' k'gak 'pa-'pa, k'yakny' h'nya p'ngsan k'ren' shock! Lag'an, k'nap' k'lian d' sin'?" jawab Berwald mengalihkan pertanyaan.

"Sebenernya kami di sini untuk uji nyali!" jawab Ieyasu jujur.

"Uj' ny'li?" tanya Berwald yang dibalas anggukan dari Ieyasu.

"Leb'h b'ik k'lian k'mbali k' kost! B'sok h'ri m'nggu, k'n? Leb'h b'ik k'lian 'stir'hat!" saran Berwald.

"Tak, men hvorfor (Terima kasih, tapi kenapa)?" tanya Mathias kurang yakin.

"'ku h'nya t'dak m'u k'lian d'pat m'sal'h s'ja! L'in k'li jang'n l'kuk'n y'ng 'neh lag'!" jawabnya sambil melangkah pergi.


Besoknya di kost guru...

Ciel terbangun di sebuah ruangan yang tidak asing di matanya: ruang tengah kost guru.

"Sudah sadar?" tanya Emil yang membawa seperangkat alat mandi.

"Ini dimana?" Ciel nanya balik.

"Kost kita, Ciel! Svi yang membawa kalian semua ke sini!" jelas Emil.

"Souka!" balas Ciel sambil bangkit dan duduk, kemudian bergumam pelan, "Gue kapok sama uji nyali itu!"

Emil pun hanya bisa menghela nafas kecil.

"Svi juga kagak bolehin kita ngelakuin itu lagi!" ujar Emil datar.

"Katanya dia juga lagi nyari siapa hantu ini!" kata Chung yang muncul di belakang Emil.

"Udahlah, kagak usah dibahas lagi!" balas Ciel pusing.

"Oke, deh!" Chung pun langsung duduk di samping Ciel.

Yang lainnya pun mulai bangun. Mathias, Lukas, Emil, Lance, Ieyasu, Gerrard, Andre, Matt, Natalie, dan Anna menjelaskan sedikit tentang kejadian semalam.

"Untung aja kepala kita kagak dipotong!" gumam Add lega.

TOK TOK TOK!

"Ha'i, tadaima!" Raven buru-buru ke depan pintu.

KRIEEEET!

"Ah, kau rupanya dan siapa itu?" tanya Raven setelah menyapa Berwald.

"B'sa b'rit'u y'ng l'inny'? 'ku m'nemuk'n p'lakuny'a!" jawab Berwald sambil menyuruh Raven untuk memanggil teman-temannya.


Beberapa menit kemudian...

"KAU KAN..." teriak Lukas menggantung sambil menunjuk seorang pemuda jabrik yang sangat mirip dengan Mathias.

"Luthias Oersted, anak kelas 9E dan adeknya Mathias itu?" tanya Elsword menyambung perkataan Lukas.

"Oke, Greeny! Sekarang aku tanya, kamu ngapain semalam di NNG?" tanya Mathias dengan tampang serius.

"Enaknya mulai dari mana, ya..." gumam Luthias bingung. "Hmmm, orang-orang bilang kalau aku punya 'kepribadian ganda'! Diriku yang sekarang dan yang semalam! Entah kenapa sisi ini selalu bangkit saat malam dan tubuhku kehilangan kendali!"

"Hooo, jadi begitu ceritanya!" ujar Eve datar.

"Lalu, bagaimana dengan bola matamu?" tanya Aisha.

"Maksudmu ini?" tanya Luthias sambil menunjukkan sepasang kontak lens dengan warna abnormal yang sukses membuat mereka semua langsung ber-gubrak ria.

"Beklager, ja! Jeg har gjort ting der bandlyst (Maaf, ya! Aku telah melakukan hal yang tidak-tidak)!" gumamnya dengan nada menyesal.

"Ya, sudahlah! Tidak apa-apa, kok! Orang salah kami juga datang ke sana malam-malam!" balas Lance tidak enak hati.

"Greeny, gimana kalau kau sekarang tinggal dulu di sini? Besok kami antar pulang!" tanya Mathias menyarankan.

"Baiklah!" balas pemuda itu pasrah.


Keesokan paginya...

Para penghuni kost guru plus Luthias (yang disuruh menginap sama kakaknya) mulai berdatangan ke ruang makan untuk mengambil jatah sarapan mereka. Yap, roti isi yang isinya bermacam-macam. Mulai dari licorice, cokelat, anggur, jeruk, pisang, kue, disket (?), dan yang lainnya silakan tebak sendiri. :D

"Oh iya, ada yang liat Luthias kagak?" tanya Eve celingukan sambil makan roti isi disket (?) miliknya dan menimbulkan bunyi 'KRAUS KRAUS'. (Mathias: "Oooh, pantesan aja selama ini gue dapet tagihan roti spesial! Tak taunya, roti isi... Disket?" *bingung sendiri.*)

"Kagak tau, deh! Tadi kayaknya masih di kamar!" jawab Lu sambil memakan roti isi kue miliknya.

"Tapi tadi gue selesai mandi udah kagak ada orangnya! Gue pikir udah di bawah, eh kagak ada juga!" balas Eve yang masih celingukan.

"Godmorgen!" sapa Mathias sambil mendobrak pintu kost yang tidak bersalah.

"Ah, BaKambing rupanya!" balas Andre yang kagak keliatan sama sekali ekspresi kagetnya.

"Oh iya, Anko! Kalau boleh tau, Green dimana?" tanya Lukas.

"Greeny? Oh, dia lagi di belakang, kok!" jawab Mathias santai.

Lukas pun langsung mengangguk paham.


To Be Continue...


Aku kagak bisa jelasin kelanjutannya, jadi terserah kalian lha! :D

Review! :D