Once Upon a Sleepless Night © Daaro Moltor

Harry Potter © JK Rowling

Alih bahasa oleh neko chuudoku.

.

CHAPTER 25

.

"Potter, waktunya bangun," bisik Malfoy di telinga Harry.

"Aku tidak tidur," Harry balas berbisik, meski dia tak begitu mengerti kenapa dia menjaga suaranya tetap pelan.

"Aku tahu," jawab Malfoy simpel dan merangkak turun dari kasur. Si pirang melemparinya pakaian yang telah mereka putuskan akan mereka pakai sehari sebelumnya, dan mengambil celana dari jajaran miliknya sendiri. Harry menangkap pakaiannya di tengah udara dan membentangkan kainnya di atas kasur untuk memutuskan apa yang harus dia pakai terlebih dulu.

"Kau tahu," ujarnya saat dia menemukan lengan baju dan memakainya, mengancingkannya. "Sebelumnya aku tak pernah betul-betul tahu aku akan menghadapi kematian. Ini pertama kalinya. Rasanya agak…aneh…"

"Apa kau takut, Potter?" tanya Malfoy, dengan seidkit nada mengejek dalam suaranya.

Harry mengangkat alis. "Tentu saja aku takut," jawabnya.

Malfoy menoleh dan membuka mulut seakan hendak mengatakan sesuatu, lalu dia menutupnya dan hanya menggeleng sedikit dengan senyum takjub.

"Apa sih?" tuntut Harry.

"Kau terbalik memakai celana, yang seharusnya di depan malah di belakang. Dan aku yakin akan lebih mudah untuk berpakaian sambil berdiri, alih-alih sambil duduk di kasurku," komentar Malfoy.

"Padahal kaulah yang selalu mengeluh soal tak ingin melihat kakiku," kata Harry sembari menarik celana untuk memakainya ulang.

"Kurasa aku bisa tahan untuk sekali ini," sahut Malfoy sambil bergedik dan menarik dasi ke sekeliling leher.

Mereka telah memutuskan—atau lebih tepatnya; Malfoy memutuskan—bahwa setelan jas Muggle yang tidak begitu mencolok adalah pilihan pakaian terbaik untuk misi semacam ini. Mereka akan menyamar sebagai penjaga keamanan untuk masuk ke dalam museum, dan memulai misi dari sana.

Harry mendaki turun dari kasur dan memasang celana, kali ini dengan benar. Setelah memakai jaket jas, dia mulai mencari-cari kaus kaki yang serasi di dalam kopernya. Setelah menemukannya, Harry duduk lagi di kasur dan memasangnya ke kaki.

"Kita membawa Jubah Gaib dan ramuan polijus; menurutmu apa ada hal lain yang kita perlukan?"

"Bila kita bisa mendapat beberapa botol Felix Felicis, aku tak akan komplain," kata Malfoy, berbalik pada cermin yang dia sihir, melayang di udara. "Tapi selain dari itu, aku—Oh, demi Merlin, Potter!" bentak Malfoy saat dia melirik ke arah Harry.

"Apa?" tanyanya kaget. Kaus kaki yang dia pakai warna hitam polos, apa salahnya dengan itu?

"Apa kau tahu cara memakai pakaian sendiri?" tanya Malfoy dengan helaan napas berat.

Rupanya ada yang salah, melihat Malfoy berjalan ke arahnya dan menarik Harry berdiri.

"Kau melewatkan satu kancing," kata Malfoy dan menunjuknya. Harry menunduk pada benjolan di kemejanya.

"Oh."

Sebelum dia dapat melakukan apa pun, Malfoy mulai membebaskan kancing-kancing itu dari lubangnya masing-masing. Perlahan tapi pasti, torso Harry terbuka.

Setelah membuka keseluruhan kancingnya, Malfoy berkata : "Lebih baik aku juga yang memasangkan dasimu. Dengan kemampuan berpakaian yang kau miliki hari ini, kemungkinan kau malah bakal mencekik dirimu sendiri…" dan memungut dasi dari kasur.

Malfoy menempatkan sutra dingin tepat di kulit tenggorokannya. "Tarik saja kemejanya ke bawah setelah kau selesai mengancinginya lagi."

Tangan Malfoy bekerja dengan cepat, membuat simpul yang jauh lebih bagus dari yang pernah Harry buat menggunakan sihir. Setelah selesai, Malfoy menekan telapak tangannya pada kain, membaringkan tangannya rata di atas dada Harry. Lalu dia mundur selangkah, menatap Harry, kemungkinan tidak jauh berbeda dari seniman yang sedang mengagumi hasil karyanya.

Tapi saat Harry berdiri di sana, menatap Malfoy sedang menatapnya, sesuatu pada wajah si Slytherin berubah. Malfoy menatapnya seakan dia bisa memakan Harry. Atau bahkan mungkin mencium Harry. Napas Harry tercekat di tenggorokan saat dia menatap si pirang. Tak ada seorang pun, tak ada seorangpun—yang mana mengatakan banyak hal, sungguh—yang pernah menatap Harry dengan pemujaan sebesar itu. Lebih dari apa pun, Malfoy terlihat seperti ingin mencumbu Harry ke atas ranjang.

Dan untuk sedetik yang gila, Harry pikir dia akan mengizinkannya.

Tapi lalu Malfoy menggelengkan kepala dan melangkah mundur lebih jauh, kembali pada cermin melayangnya.

"Aku tak tahu kenapa, tapi dasi yang diikat dengan tangan selalu terlihat lebih baik daripada yang diikat dengan sihir…" kata Malfoy, seakan momen yang baru saja terjadi…tidak terjadi.

Tapi Harry tahu itu terjadi. Rasanya tidak seperti tidak nyata, tidak terasa seakan dia hanya berimajinasi. Rasanya terlalu nyata. Mata Malfoy menatapnya, membuat kulitnya panas dan napasnya berat.

Demi nama Merlin, apa yang terjadi tadi?

Tapi dia juga bisa mengikuti permainan Malfoy. "Yeah, aku tak tahu, mungkin sihir punya masalah dengan gerak motorik yang baik…" ujarnya dengan sedikit tawa.

Malfoy tertawa bersamanya, suara tawa yang sempurna meski tanpa emosi, sungguh.

Harry berpaling untuk mengancingi kemejanya dan memakai sepatu, dan melakukannya dalam diam.

Merlin. Dan bagian paling anehnya adalah, Harry tidak kaget. Atau, tidak; dia kaget, hanya saja tidak sampai tersedak. Seolah Draco Malfoy betul-betul bisa menatap Harry Potter dengan adorasi di matanya di kehidupan nyata.

Dia berbalik, merasa perlu mendistraksi dirinya sendiri dari benaknya yang berkecamuk, dan membuka mulut untuk mengatakan sesuatu. Tapi dia lupa apa yang hendak dia ucapkan begitu dia mendaratkan pandangannya pada Malfoy.

Tidak seperti Harry, rupanya Malfoy tahu cara berpakaian. Sementara Harry merasa seperti bocah sepuluh tahun yang berlari-lari memakai setelan jas milik ayahnya—yah, mungkin bukan milik ayahnya—, Malfoy terlihat seperti dia terlahir untuk memakai benda ini.

Celana hitamnya membuat kaki Malfoy terlihat lebih panjang. Jaketnya sangat pas di bagian pinggang dan bahu, dan dasinya membuat Malfoy terlihat sangat dewasa dan matang. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rambut pirangnya disisir ke belakang.

Suara-suara lolos dari mulut Harry, tapi yang jelas itu bukan kata-kata. Sangat mungkin dia telah kehilangan kemampuan bicara koheren sepenuhnya.

Malfoy balas menatapnya dengan alis agak terangkat. Wajahnya terlihat menonjol dengan rambutnya dilicin ke belakang. Mata kelabunya jernih, hidup, berkilat seperti perak, dan bibirnya…

Sebelum Harry sadar apa yang terjadi, dia telah maju beberapa langkah. Dia hanya…ingin menyentuh Malfoy sedikit. Atau mungkin banyak.

"Mungkin kau harus menutup mulutmu," Malfoy tiba-tiba berkata, tanpa nada jelas.

Harry berkedip dan kembali tersambung pada otaknya. "Ya, ya. Mungkin aku harus."

Merlin.

Entah dari mana datangnya, baik dia mau pun Malfoy tiba-tiba saling terpaku pada kerupawanan satu sama lain. Atau entah apa yang membuat Malfoy terpaku. Tapi Harry positif yakin; dia tak pernah melihat seseorang setampan Draco Malfoy pada saat ini.

Syukurlah Merlin, mereka hanya akan memakai setelan jas untuk hari ini saja.

.

-bersambung-

.

Maaf lama. Pendek pula (dari sananya pendek sih). Hiks.

Banyak hal terjadi kemarin-kemarin. Ditambah lagi saya kepincut kapal Victuuri. Adakah penumpang kapal Victuuri juga di sini? Fisik mereka agak mirip Drarry yah... Ahaha :D