"Rencana apa itu, Hansol?"
Sebuah senyuman kecil muncul di wajah tampan itu.
"Ketika gerhana bulan, Siapa pun dari kalian yang mendapatkannya… Kumohon ucapkan permintaan ini…"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tak ada yang lebih mengejutkan Seungkwan dari apa yang diucapkan Mingyu.
Di malam hari ini, gerhana bulan muncul. itu merupakan pertanda bahwa salah satu di antara mereka akan mendapatkan sebuah 'hadiah' dari ketiga Lord.
Kebetulan hari ini yang beruntung adalah Mingyu. Maka ketika setitik cahaya hanya menyinari Mingyu di gelapnya malam yang bahkan tidak diterangi para bintang, Mingyu tersenyum dengan sangat jelas untuk saat itu. Lalu apa yang diucapkan Mingyu benar-benar mengejutkan Seungkwan.
"Buat kami dapat memasuki dunia bawah."
Satu kalimat.
Hanya satu kalimat itu saja sudah membuat Seungkwan terbelalak.
Merah. Suasana tiba-tiba memerah.
Halaman luas mansion sudah bukan lagi pemandangan yang ada di sekitar mereka.
Saat sinar merah itu menghilang, pemandangan sekitar berubah menjadi hamparan hitam nan pekat.
Saat itu sosok penjaga mereka keluar tanpa mereka panggil.
Bukan hanya itu, para penjaga kembali menjadi sosok asli mereka dengan baju zirah, telinga panjang nan meruncing, dan ornamen-ornamen aneh menghiasi tubuh mereka.
"Kita di dunia iblis?" Tanya Chan penuh keterkejutan.
Rambut pendek berwarna coklat miliknya kini memanjang dan melebat. Terdapat sulur- sulur gelap yang muncul dari balik zirahnya. Oh jangan lupakan jemari yang berubah menjadi runcing dan tajam. Ini sosok Chan yang terpengaruh sosok asli Behemoth.
Soonyoung juga tampak kebingungan. Hei, ia itu titisan Azazel. Entah kenapa ia juga bisa merubah wujud aslinya disini. Bisa kita lihat 7 pasang sayap malaikat kelabu di punggungnya. Juga sepasang telinga khas kambing di sisi kepalanya dan kain berwarna putih yang melilit tubuhnya. Rambutnya yang berwarna abu-abu seolah berkilau.
"Minghao, kau sungguh…" Mingyu tak bisa melanjutkan omongannya melihat Minghao.
Entah itu memuji atau apalah, Minghao tersenyum miring.
Pasalnya zirahnya itu tidak menutupi bagian perut ratanya. Kakinya dibalut sebuah boot selutut berujung runcing. Terlihat helaian kain berwarna hitam yang melilit tubuhnya yang penuh dengan keping emas. Jangan lupakan dua tanduk domba di sisi kepalanya.
Beralih ke sisi lain, Jisoo terlihat memandang iblisnya, Samuel, dengan tatapan kagum.
Untuk pertama kali Jisoo ketahui, bahwa Samuel yang asli memiliki sebuah jenggot kambing di dagunya. Kuku Samuel memanjang dan terlihat sebuah jubah panjang di punggungnya. Rambut ungu milik Samuel terlihat sedikit lebih panjang dari biasanya. Terdapat dua tanduk juga yang mengarah ke belakang.
Kesisi lain lagi, Wonwoo terlihat memandangi iblisnya dari atas ke bawah ke atas lagi.
Sosok Junhwi kini terlalap oleh api. Junhwi menggunakan berbagai gelang di sekujur tubuhnya. Mulai dari kepala, leher, lengan atas, siku, pergelangan tangan, lutut, hingga pergelangan kaki. Setiap gelang terlilit api biru yang entah mengapa, Junhwi tak merasa panas. Rambutnya yang pendek berwarna merah seolah merefleksikan api yang berkobar.
Hansol yang berdiri di depan Seungkwan merasa risih dipelototi begitu oleh masternya.
Ia hanya menggunakan zirah emas yang menutupi dadanya namun tidak punggungnya. Seungkwan dapat melihat punggung tegap Hansol walau tertutup oleh sebuah jubah tranparan berwarna emas. Kedua tanduk menghiasi kepalanya dengan rambut pirangnya yang melayang. Hansol memang menggoda.
Walau pun risih, tetap ada seberkas kekhawatiran di tatapan Hansol.
Cheonsa yang merupakan manusia biasa kini tengah tak sadarkan diri, pingsan di gendongan Seungcheol.
Sebuah sayap kelelawar hitam pekat juga ekor yang sepekat warna matanya menghiasi tubuh Seungcheol. Mahkota yang biasanya menghiasi kepalanya dalam keadaan khas kini berubah menjadi emas. Zirahnya juga dihiasi oleh jubah berkerah tinggi. Inilah sang Astaroth.
"Selanjutnya, bukankah kita harus melanjutkan rencana Cheonsa?" Tanya Seungcheol memfokuskan mereka semua.
"Biar kami antar menuju istana." Kata Samuel sambil tersenyum.
Para penjaga membawa tuannya masing-masing lalu secara bersamaan menuju ke tujuan.
Seungkwan dalam gendongan Hansol terlihat murung. Ia murung dan sedang berpikir keras.
Ia mengerti apa yang di pikirkan oleh saudaranya yang lain menyangkut permintaan yang Mingyu ucapkan. Karena itulah ia takut. Ia ketakutan sampai tak tahu harus berbuat apa.
Mereka turun menuruni jurang terjal. Beberapa master sudah berteriak saking mengerikannya tempat itu. Bebatuan tajam dan jangan lupakan lengan-lengan aneh yang mencoba menggapai mereka. Banyak mahluk di luar pikiran manusia ada di sini.
Dari atas sini mereka dapat melihat sebuah istana raksasa yang di kelilingi kegelapan.
Hitam dan kelam. Tak ada yang bisa mendeskirpsikan suasana disana selain dua kata itu. Bahkan sama sekali tak ada penjaga. Sampai para master berpikir, istana apa ini?
Setelah menapaki halaman kastil, para penjaga menurunkan masternya masing-masing. Kecuali Cheonsa yang masih pingsan di gendongan Seungcheol.
"Kastil apa ini, Soonyoung?" Tanya Jihoon. Untuk pertama kali, Jihoon bertanya ke Soonyoung dengan mengeluarkan suaranya. Ia membiarkan saudaranya yang lain mengetahui apa yang ia ingin tanyakan.
"Sepengetahuanku, ini adalah kastil para pendamping Satan."
Jawaban Soonyoung membuat seluruh master menyertikan dahinya.
"Para? Satan memiliki lebih dari satu istri?" Tanya Seokmin kini.
Soonyoung menggeleng cepat.
"Satan tak pernah memiliki sosok istri. Yang ada hanya pendamping." Jawab Soonyoung.
"Mereka dijadikan satu kastil?" Tanya Wonwoo.
Soonyoung menggeleng lagi.
"Satu kastil untuk satu pendamping. Total ada tujuh. Dan itulah ibu kalian semua."
Mata keenam orang itu terbelalak kaget.
"Bukankah hanya ibu Seungkwan saja yang masuk ke dalam dunia ini?" Tanya Mingyu.
"Kenapa ibu kami juga?" Tanya Jisoo.
"Apa mereka yang meminta sendiri atau dipaksa Satan?" Tanya Wonwoo kini.
Soonyoung menelan ludahnya menghadapi pertanyaan-pertanyaan para master.
"Itu…"
"Karena mereka adalah orang yang aku cintai."
Deg.
Hening seketika.
Semua mata menuju ke satu sosok yang amat agung berdiri di pintu utama kastil. Sosok yang sama dengan penjelasan Jihoon tempo hari.
Keenam iblis menundukan tubuh mereka, memberi hormat kepada sosok yang berdiri di atas sana. Soonyoung yang memang adalah titisan Azazel yang notabene berkedudukan sejajar dengan Satan hanya mengangguk kecil sebagai ucapan salam.
"Lord…" Ucap keenam sosok itu.
Sosok itu tersenyum tipis.
"Terima kasih sudah menjaga anak-anakku."
Sangat persis dengan cerita Jihoon bahwa sosok itu berbicara namun tak membuka mulutnya. Suaranya benar-benar bergema di telinga mereka.
Sosok ayah yang juga sang penguasa dunia bawah, Satan, melangkahkan kakinya mendekat ke arah mereka.
Tak ada yang mampu berkata-kata kini. Mereka terlalu terkejut melihat sosok ayah mereka.
Seungkwan yang pernah melihat Satan saja tak mampu berkutik. Begitu pula 5 lainnya yang tak pernah sekalipun melihat sosok luar biasa di hadapan mereka.
"Boleh aku bertanya. Kalian ingin Jeonghan kembali?"
Hanya anggukan kepala yang sosok Satan terima.
Dengan sekilas sosok Cheonsa berubah secara perlahan. Rambut panjang itu memendek. Tubuhnya mulai kembali ke bentuk semula. Untungnya pakaian yang ia kenakan adalah pakaian Jeonghan yang notabene laki-laki.
Satan mendekat ke arah Jeonghan yang sudah kembali ke bentuk semula. Lalu mengulurkan tangannya menggendong putra bungsunya itu. Seungcheol menyerahkan tubuh Jeonghan ke tangan Satan.
"Semuanya, aku membebas tugaskan kalian untuk saat ini. Biarkan aku menikmati waktu bersama mereka."
Ketujuh penjaga itu mengangguk mengerti. Lantas menghilang entah kemana menyisakan para master yang masih diselimuti aura canggung.
Satan kembali tersenyum ke arah mereka semua. Senyum tipis yang penuh wibawa.
"Ini adalah kastil Jaejoong, ibu Jeonghan. Ayo masuk… Ia adalah ibu kalian juga."
Satan yang menggendong Jeonghan berjalan terlebih dahulu.
Jihoon yang pertama kali menghela nafas lalu menepuk punggung saudaranya.
"Ayo. Setidaknya harus ada kebahagiaan untuk kita." Kata Jihoon sambil tersenyum.
Memasuki kastil itu, mereka harus berjalan sekitar 100 meter untuk sampai di sebuah ruangan yang mirip ruang keluarga di balik sebuah pintu.
Brak.
Tap tap tap.
Suara langkah kaki yang tergesa-gesa mendekati mereka.
"Mereka sudah sampai?"
Suara sesosok pria yang amat sangat merdu terdengar di indra pendengaran mereka.
Sosok yang cantik dengan rambut putih dan manik merah terlihat disana. Pria itu menatap takjub ke arah mereka sambil menutup mulutnya tak percaya.
Pria itu berkaca-kaca lalu berhambur ke arah mereka, memeluk mereka dalam dekapan hangat.
"Astaga… Aku sangat ingin berjumpa dengan kalian… Kau pasti Jisoo, kau Seokmin, Jihoon, Mingyu, Seungkwan, Wonwoo… Dan… Astaga! Lux, apa yang terjadi pada Jeonghan?"
Pria itu amat sangat hyper sehingga tak melihat satu anaknya yang tengah terlelap di gendongan ayahnya.
Satan tersenyum kecil lalu segera meletakan Jeonghan di sofa yang ada disana.
Pria cantik itu tak mau berdiam diri lama-lama. Ia lantas menuju Jeonghan lalu mengusap wajah Jeonghan dengan lembut.
"Ini seperti mimpi." Katanya terharu.
"Jae… Bukankah seharusnya kau memperkenalkan dirimu pada mereka?"
Pria yang dipanggil 'Jae' itu tersadar.
"Oh iya, aku belum memperkenalkan diriku. Ayo anak-anak duduk dulu." Katanya sambil mempersilakan semuanya untuk duduk.
Sesosok pelayan dengan pakaian serba hitamnya datang dan menyediakan minuman untuk mereka.
"Perkenalkan, aku Jaejoong Diaz Mendoza. Aku ibu Jeonghan. Ah mungkin aku jauh lebih tua dari kalian, tapi tetap aku adalah ibu kalian." Ucap pria berambut putih itu.
Sungguh pria yang berpenampilan dewasa ini amat anggun dengan pakaian hitam putihnya beserta sepatu boot berwarna senada.
Sambil menyerahkan cangkir teh pada Satan, Jaejoong tersenyum amat bahagia.
"Aku sudah tahu untuk apa kalian datang kemari. Seungkwanie…"
Sosok Seungkwan yang sedari tadi menunduk kini mengadahkan wajahnya takut-takut.
"Ini bukan salahmu. Yah walaupun harus penuh paksaan sehingga ketujuh dari kami bisa berada disini." Kata Jaejoong.
Jaejoong kembali menyesap tehnya.
"Kau pasti berpikir, jika saja kau tak mengirimkan ibumu ke dunia ini maka ibu yang lain tak akan berada disini. Aku tahu pikiranmu itu, namun kau lihat bukan? Aku, yang juga ibumu ini baik-baik saja. Aku bahagia disini. Begitu pula dengan Minki."
Mendengar nama Minki disebut, Seungkwan menggigit bibirnya.
"Sebenarnya Minki bahkan sudah mau minggat dari kastilnya untuk kemari. Namun Lux menahannya. Jadi… Bukankah lebih baik kau menemuinya?"
Mendengar yang diucapkan Jaejoong, Seungkwan berdiri.
Satan tersenyum lalu menyentuh lambang di nadi Seungkwan. Seketika muncul sesosok rubah kecil berwarna ungu berjingkrak-jingkrak mengelilingi Seungkwan.
"Ikuti dia. Dia akan menuntunmu menuju Minki."
Seungkwan mengangguk dan tanpa ba bi bu lagi mengeluarkan sayapnya. Ia melayang pergi meninggalkan kastil.
"Nah lalu… Anak-anakku sekalian, Lux punya permintaan yang tak bisa ia ucapkan, sebenarnya ini permintaanku dan para ibu lainnya. Maka dari itu aku yang mengatakannya." Kata Jaejoong tiba- tiba.
Seluruh pasang mata kini menatap mereka.
"Bisa kalian panggil kami pa dan ma? Maksud kami tentu saja kami semua. Tujuh ibu kalian dan satu ayah kalian ini. Bukankah lebih menyenangkan memanggil kami dengan sebutan itu?" Kata Jajeoong.
Baik Seokmin dan Jisoo tersenyum lebar juga Mingyu, Jihoon, dan Wonwoo tersenyum lembut.
"Tentu saja, ma, pa. Kami anak kalian." Kata Jisoo.
Baik Satan dan Jaejoong kini tersenyum dengan gaya khas mereka.
"Bukankah ini saatnya?" Tanya Satan.
Jaejoong mengangguk.
"Baiklah, kalian di berikan waktu bebas untuk bertemu dengan ibu kalian."
Kini Jaejoong menyentuh lambang anak-anak yang lain. Muncullah rubah kecil yang sama dengan milik Seungkwan namun senada warna pelangi lainnya.
"Sampai jumpa…"
Dan blasth…
Dengan cepat mereka menghilang. Mengepakan sayap dengan semangat untuk bertemu sosok yang mereka amat sangat rindukan.
"Lux, bukankah kau harus menemui Minki?" Tanya Jaejoong setelah kepergian anak-anaknya.
Satan tersenyum sambil mengangguk. "Sampai jumpa, Jae."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Ma... Tunggu aku..."
