Epilogue
Pesta pernikahan itu berjalan dengan lancar dan meriah, meski sedikit tidak sesuai dengan ekspetasi Chanyeol yang hanya ingin mengadakan pesta kecil dan sakral. Baekhyun mengubahnya menjadi pesta kebun dengan seratus lebih tamu yang datang. Namun asal Baekhyun bahagia, Chanyeol menerimanya. Ah, budak cinta.
Seusai pesta pernikahan Chanyeol membawa Baekhyun ke rumahnya, menghabiskan malam pengantin sebelum nanti mereka akan ke Jepang untuk berbulan madu selama dua minggu, lalu pindah ke Amerika untuk kehidupan yang baru. Baekhyun terbangun di jam setengah sebelas di minggu pagi karena suara telepon berdering. Ia meraba-raba mencari gagang telepon, lalu teringat ini adalah rumah Chanyeol dan kembali meringkuk ke bawah bantal. Memangnya kenapa kalau telepon itu berada di sebelahnya? Itu kan, telepon Chanyeol, tanggung jawabnya.
Baekhyun lupa bahwa setelah menikah maka otomatis rumah Chanyeol beserta teleponnya menjadi miliknya juga.
Chanyeol bergerak di sebelahnya. Tercium aroma hangat, keras, jantan. "Tolong angkat teleponnya," katanya dengan masih mengantuk.
"Buatmu," gumam Baekhyun.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Kan teleponmu."
Sambil menggerutu pelan Chanyeol menopang tubuhnya dengan satu lengan dan menjulurkan tubuh melewati Baekhyun untuk meraih telepon, menindih Baekhyun ke kasur. "Ya," katanya. "Ini Park Chanyeol."
"Ya, dia di sini," katanya lagi, setelah berhenti sebentar. Ia menjatuhkan teleponnya ke atas bantal di depan Baekhyun dan menyeringai, "Siwon hyung."
Baekhyun memikirkan beberapa umpatan, tetapi tidak mengucapkannya. Sambil mengayunkan gagang telepon ke telinganya ia berkata, "Halo?," sementara Chanyeol berbaring kembali di sisinya.
"Malam yang panjang?" tanya Siwon menyindir.
"Kira-kira dua-tiga belas jam. Waktu yang biasa untuk pengantin baru," ujar Baekhyun acuh.
Tubuh yang keras dan hangat menekan punggung Baekhyun. Tangan yang keras dan hangat membelai perutnya, perlahan merambat naik ke dadanya. Penis yang keras dan hangat mendesak pantatnya.
"Hei, hei, kau harus segera datang mengambil kucing ini," kata Siwon. Suaranya terdengar seperti hal itu tidak dapat ditawar-tawar lagi.
"BooBoo? Kenapa?" tanya Baekhyun, seolah ia tidak tahu saja tingkah kucing gembul itu. Chanyeol mulai mengusap dadanya, dan Baekhyun memegang tangan Chanyeol agar jari-jarinya berhenti. Baekhyun butuh berkonsentrasi, atau ia akan berkutat dengan BooBoo lagi.
"Dia merusak perabotanku! Dia selalu kelihatan seperti kucing manis, tapi dia setan perusak!" marah Siwon.
"Dia cuma marah berada di tempat asing. Dia baru beberapa minggu di rumahmu, biarkan dia terbiasa," Baekhyun berusaha membujuk sang kakak. Chanyeol menarik tangannya, beralih ke tempat menarik lainnya. Baekhyun merapatkan kedua pahanya untuk menjepit jemari Chanyeol yang akan menyusup.
"Dia tidak semarah aku!" Siwon terdengar mengamuk. "Kau curang. Kau akan pindah ke Amerika dan membiarkanku mengawasi kucing setan ini setiap saat setiap hari."
"Ayolah, hyung. Eomma masih ingin menikmati waktu santainya bersama Appa. Kau lebih peduli pada perabotanmu daripada perasaan Eomma?"
"Kau curang," keluh Siwon, terengah-engah.
Chanyeol menarik tangannya bebas dari jepitan paha Baekhyun dan memilih sudut serangan lain: pertahanan depan Baekhyun. Tangan yang mengusik pikiran itu mengelus pantat Baekhyun, lalu meluncur turun dan berputar, menemukan tepat apa yang diinginkannya dan dua jari panjangnya menyusup masuk. Baekhyun tersentak dan hampir menjatuhkan telepon.
Oh, tidak. Baekhyun tidak dapat berkonsentrasi. Jemari Chanyeol yang besar dan kasar membuatnya kehilangan akal sehat. Ini pembalasan Chanyeol karena harus mengangkat telepon tadi, tapi kalau tidak menghentikan perbuatannya, Chanyeol akan terpaksa mempunyai kucing galak yang merusakkan semua barang di rumahnya.
"Sering-seringlah membelai-belainya," Baekhyun berjuang menahan napasnya yang terengah-engah. "Dia akan tenang," Ya, setelah beberapa minggu lagi. "Dia paling suka belakang telinganya digaruk-garuk."
"Ambil saja dia."
"Hyung, aku tak bisa membawa kucing ke Amerika! Aku tidak bisa membawanya ke pesawat!"
"Pasti bisa. Chanyeol kan, polisi detektif. Dia pasti bisa menyuruh pihak keamanan bandara untuk menyelundupkan kucing setan ini. Lagipula, Chanyeol akan tahan dengan segerombolan kucing setan maniak hanya supaya bisa tidur denganmu."
Bagus. Baekhyun mulai mempertanyakan kepintaran sang kakak. Sementara itu, buku jari Chanyeol menggosok-gosoknya, dan ia hampir mengerang. "Tak bisa," meskipun ia tidak yakin kepada siapa ia mengatakannya, Chanyeol atau Siwon.
Dengan suara pelan dan merayu Chanyeol berkata, "Ya, kau bisa."
Siwon menjerit, "Oh, ya ampun, kalian sedang melakukannya sekarang, ya? Aku mendengarnya! Kau bicara denganku di telepon sementara Chanyeol mengerjaimu!"
"Tidak, tidak," kata Baekhyun, dan Chanyeol segera menarik keluar jemarinya lalu menggantikannya dengan desakan kuat kejantanannya. Baekhyun menggigit bibirnya, namun terdengar juga erangannya.
"Aku tahu aku membuang-buang waktu saja bicara denganmu sekarang," kata Siwon. "Aku akan meneleponmu lagi kalau kau tidak sedang sibuk. Berapa lama biasanya kau melakukan dengan dia? Lima menit? Sepuluh menit?"
Karena tidak berhasil dengan menggigit bibir, Baekhyun mencoba menggigit bantal. Setelah berjuang mati-matian mengendalikan diri, hanya sesaat, ia berusaha berkata, "Beberapa jam."
"Man!" jerit Siwon lagi. Ia diam sejenak, jelas sedang menimbang-nimbang untung dan ruginya. Akhirnya ia mendesah. "Mungkin aku akan membiarkan BooBoo mengobrak-abrik rumahku, sedikit demi sedikit."
Baekhyun hanya diam, matanya terpejam. Chanyeol mengubah posisinya, berlutut dan mengangkangi kaki kanan Baekhyun, sedangkan kiri Baekhyun tersangkut di lengan Chanyeol. Dengan begitu Chanyeol dapat masuk dalam-dalam. Baekhyun terpaksa menggigit bantal lagi.
"Oke, sampai di sini dulu," Siwon terdengar menyerah.
"Bye," kata Baekhyun dengan suara berat, dan meraba-raba untuk mengembalikan gagang telepon ke tempatnya, tetapi ia tidak dapat meraihnya. Chanyeol mencondongkan badan ke depan untuk membantu, dan gerakan itu mendesaknya begitu dalam sehingga Baekhyun menjerit dan mencapai klimaks.
Ketika sanggup bicara lagi, Baekhyun menatap sang kekasih dan berkata, "Kau jahat," ia tersengal-sengal dan lemas, tidak dapat berbuat apa-apa selain berbaring.
"Tidak, Sayang, aku baik," bantah Chanyeol, dan membuktikannya.
*ChanBaek*
Setelah mengumpulkan tenaga, satu jam kemudian Baekhyun dan Chanyeol mulai beranjak bangun dari tempat tidur. Dengan lembut Chanyeol menggendong Baekhyun ke kamar mandi dan memandikannya. Lalu mereka memutuskan untuk memuaskan perut lapar mereka, makan siang yang tertunda. Baekhyun memesan chinesse food—makanan favoritnya, dan lagi-lagi Chanyeol tak bisa menolaknya. Mereka menikmati makan siang yang tertunda dengan lahap.
"Setelah ini bersiaplah, aku akan mengajakmu ke suatu tempat," kata Chanyeol saat mereka selesai makan.
"Kemana?" tanya Baekhyun.
"Aku akan menjelaskan semuanya nanti," ucap Chanyeol tersenyum.
Baekhyun mengernyit, namun menuruti perkataan sang suami. Setelah berganti baju Chanyeol menyambar kunci mobil, Baekhyun mengunci pintu rumah, lalu menghampiri mobil pikap Chanyeol. Chanyeol membantu Baekhyun menaiki mobil pikapnya yang tinggi, memutari mobil, lalu duduk di kursi pengemudi. Chanyeol pun memacu mobilnya pergi dengan suara radio yang menemani perjalanan mereka.
Meski berapa kali pun Baekhyun bertanya, Chanyeol hanya tersenyum dan menolak memberi sedikit petunjuk. Maka Baekhyun pun menyerah untuk bertanya, lebih memilih untuk menikmati perjalanan yang tenang dengan iringan suara Adam Levin yang seksi di radio dan genggaman tangan Chanyeol yang lembut.
Chanyeol menghentikan mobilnya di depan sebuah toko bunga. Ia meminta Baekhyun untuk menunggu sebentar, sementara ia turun dan memasuki toko bunga tersebut. Tak lama ia keluar dari toko dengan membawa sebuket bunga lili putih. Ia memberikan buket bunga itu pada Baekhyun setelah menaiki mobil kembali.
"Kita akan menemui seseorang. Kau harus memberikan bunga itu untuknya nanti," ujar Chanyeol seraya memacu mobilnya pergi.
"Kita akan menemui siapa?" tanya Baekhyun, mengernyit bingung.
"Saudara kembarmu yang hilang, Baekie Sayang."
*ChanBaek*
Penjelasan yang panjang mengisi perjalanan mereka. Sebuah penjelasan yang membuat Baekhyun begitu serius mendengarkan, mengabaikan suara seksi Adam Levin yang masih mengalun pelan di dalam mobil. Seraya mengemudi Chanyeol menceritakan segalanya pada Baekhyun. Tentang Kim Luhan, Oh Sehun, dan Exylion. Juga tentang latar belakang Kim Luhan yang disembunyikan. Semua hal yang membuat Baekhyun terlalu terkejut untuk mengeluarkan suara.
Chanyeol menunjuk laci dashboard dan meminta Baekhyun untuk mengambil sesuatu di dalamnya. Baekhyun membuka laci dashboard dan mengeluarkan sebuah berkas. Ia menoleh memandang Chanyeol sejenak. Saat sang suami menganggukkan kepalanya, maka ia pun membuka berkas tersebut dan mulai membaca informasi-informasi yang telah berhasil Chanyeol kumpulkan. Di dalam berkas tersebut terselip foto manis seorang Kim Luhan.
Baekhyun menatap foto Kim Luhan lekat-lekat, terpana akan kemiripan wajah mereka. "Jadi, Kim Luhan ini adalah kembaranku yang hilang? Kau yakin, Chanyeolie?" akhirnya ia bersuara dengan pelan, namun Chanyeol mendengarnya dengan jelas.
"Ya, aku 100% yakin. Meski sulit untuk melakukan tes DNA pada orang yang telah lama meninggal, tapi dari semua informasi yang berhasil kudapat dan pengakuan dari Kim Minseok-ssi, adik Kim Luhan, aku sangat yakin bahwa dia memang saudara kembarmu yang hilang," jawab Chanyeol. "Dari informasi yang kudapat, salah seorang perawat di rumah sakit tempat ibumu melahirkan diam-diam telah mengambil bayi-bayi yang baru lahir untuk dijual secara ilegal ke Cina. Ada empat belas bayi yang menjadi korban, salah satunya adalah saudara kembarmu. Setelah perdagangan bayi ilegal di Cina berhasil di berantas oleh kepolisian setempat, bayi-bayi yang tersisa dikirim ke rumah sakit dan panti asuhan. Orangtua angkat Kim Luhan menemukan saudara kembarmu di salah satu rumah sakit dan memutuskan untuk mengadopsinya. Memberinya nama Kim Luhan dan merawatnya dengan penuh kasih sayang, cenderung terlalu di manja."
"Jika begitu...kenapa mereka tidak mengembalikannya kepada keluarga kami? Kenapa mereka tidak mencari kami? Tidak tahukah mereka bahwa ibuku begitu sedih saat kehilangan salah satu bayinya."
"Mereka telah berusaha mencari keluargamu, Sayangku. Tetapi karena tidak adanya akta kelahiran ataupun surat-surat penting, dan minimnya informasi mereka tidak bisa menemukan keluargamu. Maka, tidak ada pilihan lain selain memberikan Kim Luhan keluarga baru dan terus menjalani hidup, kan?"
Baekhyun terdiam, kepalanya berusaha mencerna penemuan yang mengejutkan ini. Ia tidak tahu, haruskah ia senang mengetahui informasi tentang saudara kembarnya yang hilang? Ataukah merasa marah karena ulah Kim Luhanlah ia dan Do Kyungsoo sang sahabat menjadi korban kegilaan Oh Sehun?
Akhirnya Chanyeol menghentikan mobilnya. Baekhyun mengangkat kepalanya dan memandang ke depan, menyadari bahwa mereka berada di area pemakaman. Ia menoleh saat Chanyeol menggenggam tangannya dengan lembut.
"Aku menanyakan alamat makam Kim Luhan pada Kim Minseok-ssi," kata Chanyeol dengan lembut. "Aku tahu penjelasan ini begitu mengejutkan untukmu, tapi aku hanya ingin kau mengetahui kenyataan ini sebelum kita pindah ke Amerika. Kau pantas mengetahuinya. Memaafkannya atau tidak, itu kuserahkan padamu. Tetapi setidaknya turun dan sapalah dia, meski hanya sebentar."
Baekhyun masih diam, meragu selama beberapa lama. Sampai akhirnya menarik napasnya dan menghembuskan dengan keras. "Baiklah, aku akan turun," katanya.
"Kau ingin aku menemanimu?" tanya Chanyeol. Namun Baekhyun menggelengkan kepalanya. Chanyeol merogoh sakunya dan memberikan secarik kertas pada sang suami manisnya. "Ini alamat yang diberikan oleh Minseok-ssi. Aku akan menunggumu di sini."
Chanyeol mencium sang suami manisnya, lembut dan cukup lama. Memberikan sedikit kekuatan padanya. Baekhyun hanya tersenyum kecil, mencium pipi Chanyeol, lalu beranjak turun dari mobil sambil membawa sebuket bunga lili putih yang tadi dibeli oleh Chanyeol.
Mengikuti alamat yang tertera di kertas pemberian Chanyeol, langkah Baekhyun berhenti di depan sebuah nisan besar dengan nama KIM LUHAN yang tercetak jelas, beserta foto terakhirnya yang sedang tersenyum manis. Selama beberapa menit Baekhyun hanya berdiri diam memandangi nisan tersebut, berusaha merangkai kata-kata di dalam kepalanya. Ada begitu banyak hal yang ingin ditanyakannya, ingin dikatakannya, meski foto di nisan tersebut tidak akan dapat memberikannya jawaban maupun sanggahan, selain sebuah senyuman.
"Hai, Kim Luhan-sii," akhirnya Baekhyun bersuara. "Namaku Byun Baekhyun, saudara kembarmu. Setelah bertahun-tahun, bahkan nyaris terlupa, aku justru menemukanmu di sini. Karena masalah yang kau buat akhirnya aku mengetahui kebenaran mengejutkan ini. Aku tidak tahu harus merasa marah atau senang dengan kebenaran ini. Menurut cerita Appa dan Siwon hyung, Eomma begitu sedih saat kau menghilang. Kehadiranku dan kelahiran Taemin cukup membuat Eomma bisa tersenyum lagi, meski kebahagiaan itu terasa kurang lengkap,"
"Seandainya kita bertemu di kesempatan yang berbeda, mungkin aku akan menyambutmu dengan penuh bahagia dan membawamu pulang menemui keluarga kita yang tidak kau ketahui. Tetapi karena sikapmu kita justru bertemu di kesempatan yang menyedihkan ini. Karenamu aku kehilangan sahabatku, aku pun menjadi korban dan nyaris tidak selamat. Dan karenamu pula Oh Sehun menggila dengan obsesinya. Sekarang, semua sudah selesai. Jika kau bertemu dengan Oh Sehun di sana, sebaiknya kau minta maaflah padanya dan ubah sikapmu,"
"Aku tidak akan banyak bicara lagi. Aku memaafkanmu, tetapi mungkin aku tidak akan mengingatmu lagi. Aku tidak akan mengatakan kebenaran tentangmu pada Eomma, Appa, Siwon hyung dan Taemin. Anggaplah itu sebagai hukumanmu dariku. Beristirahatlah dengan tenang, Nah, selamat tinggal, Luhan hyung."
Baekhyun meletakkan buket bunga lili yang dibawanya di atas nisan Luhan. Ia membungkukkan tubuhnya, memberikan penghormatan terakhir, sebelum kemudian beranjak pergi. Meninggalkan semua cerita dan kenangan buruk di belakang.
Dengan langkah ringan Baekhyun menuju mobil Chanyeol yang terparkir di depan area pemakaman. Dan pria tampan itu masih di sana, menunggu dengan tenang sambil bersender pada badan mobilnya. Baekhyun tersenyum dan mempercepat langkah kakinya.
"Chanyeolie," panggilnya. Chanyeol mengangkat kepalanya, menegakkan tubuhnya dan tersenyum. Baekhyun segera menabrakkan tubuhnya ke dalam pelukan sang suami.
Mereka hanya saling berpelukan dalam diam selama beberapa menit. Sampai kemudian Chanyeol bertanya, "Sudah lebih baik?"
Baekhyun hanya menganggukkan kepalanya. "Apa saja yang kau bicarakan?" tanya Chanyeol lagi.
"Banyak hal. Aku memaafkannya, tapi mungkin tidak akan mengingatnya lagi. Rasanya terlalu menyakitkan."
"Jadi, apa kau akan memberitahu tentang kembaranmu Kim Luhan pada keluargamu?"
Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Tidak. Cerita kelam tentang bayinya yang hilang telah membuat Eomma begitu sedih untuk waktu yang lama. Tapi kehadiranku dan setelah kelahiran Taemin, perlahan Eomma mulai tersenyum kembali. Eomma sudah bahagia. Keluargaku sudah bahagia, tidak perlu ada tambahan cerita tentang Kim Luhan dan keburukannya. Mungkin aku terdengar kejam, tetapi aku hanya ingin senyum di keluargaku tidak menghilang lagi."
Baekhyun terdiam, melepaskan pelukannya dan menunduk. Sedikit merasa buruk pada dirinya sendiri. Chanyeol yang memahami hal itu memberinya kehangatan dalam sebuah ciuman yang lembut.
"Kau bukan orang buruk, Sayangku. Kau juga tidak kejam," hibur Chanyeol.
Baekhyun tersenyum lebar dan memberikan bibir Chanyeol ciuman sebagai balasannya. "Aku mencintaimu, Mr. Perfect," ujarnya.
Chanyeol tertawa mendengarnya. "Mr. Perfect, huh?" lalu ia membantu Baekhyun menaiki mobil pikapnya, kemudian kembali duduk di kursi pengemudi.
"Yupp, the one and only my mr. Perfect!" sahut Baekhyun dengan mata berbinar-binar. Kembali Chanyeol tertawa saat memacu mobilnya pergi.
Saatnya mereka bersiap untuk bulan madu ke Jepang, lalu memulai kehidupan baru di Amerika!
~Fin~
.
.
.
akhirnya ff ini tamat juga. terimakasih sudah membaca dan meninggalkan jejaknya di sini. senang sekali baca komen-komen kalian, maaf tidak bisa membalas satu-persatu. dan maaf juga untuk semua kekurangan di ff ini. oke, sampai bertemu di ff lainnya. Thanks and have a good day :)
