Char :
Sakura Haruno
Itachi Uchiha
Mikoto Uchiha
Naruto Uzumaki
Konan
Yugao
Rock Lee
Maito Guy
.
.
.
MY GUARDIAN ANGEL
.
.
.
Oke balas… eerrr ada di bagian akhir chap ini
.
.
.
Itachi sedari tadi sudah kesana kemari mengendarai mobilnya. Bahkan ia sudah naik-turun puncak gedung sambil membawa teropong. Itachi tampak gelisah, ia seperti sedang mencari sesuatu.
"Sial!" makinya, tapi pada siapa.
"Tidak adikku, apa lagi yang kau pikirkan. Kumohon jangan bahayakan dirimu" nada dan raut kecemasan terpampang jelas di wajah Itachi.
"Itachi apa yang kau lakukan, dari tadi kau seperti sedang mengelilingi Konoha dengan wajah panik" teriak Naruto pada Itachi saat Itachi ingin segera menaiki mobilnya.
"Sakura, dia.. menghilang lagi" deru nafas Itachi karena ia baru saja naik turun dari sebuah menara.
"Mencari Sasuke lagi?"
Itachi mengangguk
"Ini yang kesekian kalinya Sakura kabur dari rumah, hanya demi satu alasan, ia ingin mencari Sasuke. Entah apa karena ia belum merelakan Sasuke atau memang firasatnya benar kalau Sasuke masih hidup, aku tidak tahu"
Naruto diam.
"Sudahlah, aku harus kembali mencari adik manjaku itu. Sampai jumpa" Itachi segera mohon pamit.
"Tunggu aku juga ikut membantumu, oh ya, dimana Sishui, bukankah ini keahliannya?"
"Dia sedang tidak ada. Baru saja ia menerima misi"
Itachi dan Naruto melangkah menuju mobil masing-masing , "kita berpencar, jangan lupa hubungi terus aku" Itachi mengingatkan.
"Begitu juga denganmu"
"Oh. Apakah dia tidak mencari lagi di sekitar puing-puing Helicraft?" tanya Naruto kembali.
"Aku sudah dari sana, dan dia tidak ada"
.
.
.
Wanita berambut merah muda berjalan menyisir sungai dan kelihatan agak kepayahan melewati bebatuan. Karena merasa lelah ia segera mendudukan diri pada sebuah batu, sambil duduk tak henti-hentinya ia mengelus perutnya yang membuncit besar, dan jika di lihat dari kondisi kehamilannya, bisa di pastikan kalau ia akan melahirkan dalam waktu dekat.
"Kita akan menemukan Papamu sayang, Mama juga yakin kalau Papamu masih hidup" gumamnya sambil membelai perutnya.
.
.
.
"Itachi, aku bertemu dengan seseorang yang mengaku melihat Sakura sedang berjalan menyisir bantaran sungai" seru Naruto menghubungi Itachi via telepon.
"Apa? Baiklah aku akan segera kesana" jawab Itachi, 'sejauh itu?'.
Itachi dan Naruto mendapati Sakura tengah berjalan kesusahan, selain kerena melewati bebatuan, perutnya yang membesar juga menambah kepayahan dirinya.
"Sakura!" teriak Itachi.
Sakura menoleh, melihat siapa yang memanggil. Sakura berusaha berlari, tapi apalah daya, bebatuan dan kehamilannya menghalangi.
Itachi melompati lebar sungai, sementara Naruto hanya melompat di atas bebatuan yang timbul di tengah-tengah aliran sungai.
Itachi sudah berada di samping Sakura, dia langsung memegangi tangan Sakura, "lepaskan aku, Kak! Aku ingin mencarinya.. lepaskan, hiks.." Sakura mulai menangis sambil memberontak melepaskan tangannya yang dipegang oleh Itachi.
Sakura tetap meronta bahkan sambil memukul tanga Itachi yang menggenggam tangannya.
"Jangan Sakura, kau ingin…"
Plakk!
Itachi kaget melihat Naruto tiba-tiba menampar Sakura, "bisakah kau berhenti membahayakan diri dan bayimu, hah! Bukan hanya kau yang kehilangan, tapi kami juga. Kau pikir Sasuke mau berkorban agar kau menjadi seperti ini!" seru Naruto menatap tajam Sakura. "Kami mengerti perasaanmu Sakura, tapi bukan seperti ini, Sasuke ingin kau aman"
Sakura berhenti meronta dan mengencangkan tangisannya, Itachi tidak berkata apa-apa, ia segera menarik Sakura kedalam pelukannya.
"Kalau begitu bantu aku melupakan dia..hu..hu..hiks.. bantu aku.. hiks..kalau kalian ingin aku berhenti mencari Sasuke, ajari aku melupakann dia… hiks..hiks " sakura mulai memukul-mukul dada Itachi yang memeluknya.
"Sakura aku mengerti" Naruto berusaha menghibur Sakura dengan memegang bahunya. "karena aku juga merasa kehilangan, dia adalah sahabatku….."
"Kalian tidak mengerti..!" Sakura meninggikan suaranya, sambil menampik tangan Naruto, "Kalian tidak mengerti… karena bukan kalian yang kehilangan orang yang kalian cintai…hiks..hiks.. aku tahu kalian seperti apa.. hiks.. kau hanya kehilangan sahabatmu…hiks.. kau masih memiliki sahabat yang lain..hiks.. sebagai pengganti… bahkan.. bahkan kalian bisa dengan mudah mendapat pengganti orang yang kalian cintai hiks.."
Itachi dan Naruto bukanlah pria cengeng, tapi mereka sebenarnya adalah pria perasa. Tentu saja melihat Sakura yang menangis sendu seperti itu, tak ayal membuat kedua pria itu menitikan air mata.
"Tapi aku… aku mencintai dia. Dia yang selalu melindungiku.. hiks dan dia adalah papa dari anakku, hiks.. bagaimana kalian bisa mengerti.. hiks.. hiks.. aku benci kalian..hiks…." Seru sakura di sela tangisan pilunya. Bahkan suara sakura pun tidak terlalu jelas terdengar karena sudah tenggelam oleh suara tangisannya.
Itachi terus memeluk Sakura, sampai suara tangisan Sakura memelan dan menyisakan senggukannya.
"Sakura" Naruto dengan suara pelan, "aku memang tidak mencintai dia seperti kau mencintai dia. Tapi.. satu hal yang harus kau tahu.. dia adalah sahabatku yang paling berharga, aku menyayanginya. Dulu sebelum Sasuke masuk ke Akademi Uchiha, kami sempat sekolah bersama di TK. Aku yang selalu di pandang aneh, julukanku adalah Bocah Rubah Aneh. Aku selalu di bully, aku selalu di singkirkan. Seolah tidak ada yang mau menerimaku. Bisa kau bayangkan kesedihanku? Tapi, orang pertama yang mengulurkan tangannya menunjukan persahabatan adalah Sasuke. Sebagai korban Bullying, tidak hanya diriku, bahkan barang-barangku pun turut menjadi korban, termasuk, makan siangku, dan Sasuke bahkan pernah tidak memakan bekalnya karena semua dia berikan kepadaku" kenang Naruto.
Disela isak tangisnya, tampak kalau Sakura tertarik dengan cerita Naruto tentang Sasuke.
Naruto sama sekali tidak memperhatikan reaksi Sakura, ia melanjutkan ceritanya, "Bahkan di usia kanak-kanak itu, ia pernah menantang untuk di keroyok, hanya karena demi melindungiku.. hehe… dan kau tahu, dia menang. Tapi waktu begitu cepat, dia diwajibkan masuk pelatihan. Hari terakhir di TK, ia sempat mengancam anak-anak yang lain agar tidak menyentuhku. Meski dibalik tampang dinginnya, tapi aku tahu dia memiliki kepedulian. Bahkan ketika sudah berada di Akademi, aku tahu ia kadang membolos dari Akademi, demi memantau dan memastikan aku tidak di ganggu lagi".
"Berkat ancaman Sasuke, entah karena takut atau apa, tapi perlahan yang lain mendekatiku, bahkan sampai menerimaku dan perlahan menjadi sahabat. Sasuke adalah sahabatku yang sangat berharga, kalau seandainya bisa ditukar dengan nyawaku demi mengembalikan Sasuke, tentu saja aku mau. Kau bilang aku masih punya sahabat yang lain?" Naruto terdengar terkekeh, "Bahkan aku rela menukar mereka semua demi Sasuke" Naruto mengambil jedah.
"Sakura, aku tidak punya apa-apa yang bisa ku kenang dari Sasuke, selain karena keberadaanmu dan anakmu yang akan lahir", Naruto menghapus air matanya, yang meleleh dari tadi, "karenanya aku merasa berkewajiban pula untuk menjagamu, menjaga sesuatu yang demi-nya, Sasuke, sahabatku rela mati"
"Dan untuk itulah…." Naruto tidak melanjutkan ucapannya karena melihat Sakura sudah terkulai lemas.
"Sepertinya sudah selesai, ayo pulang" Itachi segera menggendong Sakura dan berlalu dari tempat mereka. Narutopun juga mengikuti Itachi
"Tidak kusangka, kau bisa juga bercerita" ujar Itachi ketika Naruto sudah berjalan disampingnya.
"Karena itu memang ku alami, kau pikir aku mengarang cerita?"
"Hm" gumaman yang gak jelas dari Itachi menanggapi ucapan Naruto.
"Hei.. "
"Sudahlah, tak perlu lagi mengomel, cepat hubungi Konan, dia yang mengendarai mobilku pulang"
Tanpa menunggu lama Naruto segera menelpon Konan.
Naruto menatap Sakura yang berada dalam gendongan Itachi dengan pandangan sendu. Entah apa yang berada dalam fikirannya sekarang.
"Itachi, apakah kau setuju dengan pirasat sakura?" tanya Naruto saat mereka menunggu Konan menjemput.
"Entahlah Naruto, tapi hati dan logikaku saling bertentangan. Kalau mengikuti perasaanku, aku juga merasa kalau Sasuke masih hidup. Tapi logikaku menolak, tidak akan mungkin ada yang selamat dari ledakan dahsyat itu. Bahkan untuk sebuah keajaiban"
"Atau Sakura benar, bukankah dia bilang.."
"kuharap pirasat Sakura benar, bukankah perasaan wanita sangat peka"
"Iya.. kurasa" kembali Naruto menatap Sakura, ingin sekali dirinya menjadi penghibur bagi Sakura yang bahkan dalam pingsannya pun tampak terpancar raut wajah kedukaan.
Itachi melirik Naruto, "Kau akhirnya mengakui kalau Sakura lebih cantik dari Hinata?" ucapnya sambil tersenyum.
"Heh! Maksudmu?"
"Sepertinya kau tertarik pada Sakura"
Naruto tentu sudah mengenal Itachi, berbohong pada Itachi adalah hal yang mustahil dilakukan.
"Kalaupun aku tertarik padanya, sudah dipastikan tidak akan di terima. Lalu bagaimana denganmu, kurasa kau juga suka padanya" Naruto tidak mau kalah.
"Rasa suka-ku dan rasa sukamu beda, aku tidak hanya menyukainya, tapi menyayanginya sebagai seorang kakak. Tapi kau, kau menyukainya sebagai seorang laki-laki" balas Itachi.
"Sudahlah, aku tidak menafikannya. Dan kau juga, berhentilah berbohong" Naruto tidak mau berdebat.
Itachi tidak langsung menanggapi, ia lebih memilih menerawang jauh kedepan.
"Dia adalah adikku Naruto. Aku ingin melindungi adikku, aku sangat menyayanginya" suara Itachi terdengar menggumam.
"Aku sudah menikah, dan aku sangat bahagia dengan isteriku yang sekarang" sahut naruto juga dengan perlahan.
Itachi tersenyum mendengar penuturan Naruto, "Kau tersinggung?"
"Tidak juga"
"Tapi di samping menjaga Hinata, aku juga akan menjaganya" Naruto menatap Sakura, "kenangan dari Sahabatku yang tersisa. Boleh, aku juga ikut menjaga adikmu ini" imbuh Naruto perlahan.
"Aa.. tapi jangan di utamakan"
"Aku tahu" Sahut Naruto.
"Eh! Itu Konan" Naruto menunjuk kedepan.
"Naruto, terima kasih. Tapi lain kali jika kau menyakiti adikku seperti tadi, aku benar-benar akan menghajarmu" meski terdengar mengancam tapi senyum Itachi tetap mengembang.
"Aku bahkan tidak segan mengurung dirinya jika ia masih membandel, membahayakan dirinya dan bayinya" setelah berkata demikian, Naruto pamit saat Konan sudah mendekat.
.
.
.
"Jangan cemburu, Konan, aku tidak akan tertarik untuk jatuh cinta padanya, meski dia cantik, karena dia adalah adikku" ucap Itachi ketika sudah berada di dalam mobil. Kali ini Konan lah yang mengendarai mobil. Sementara Itachi memangku Sakura yang masih pingsan.
"Iya, dia memang lebih cantik dariku" jawab Konan dengan agak ketus.
"Kenapa sich, wanita sangat sensitif jika menyinggung soal kecantikan?"
"karena pria lebih gampang tertarik pada wanita yang lebih cantik" nada kesal Konan pada kekasihnya.
"Hey…hey… aku tidak lah seperti itu" Itachi membela.
"Lagi pula, wanita mana yang suka di banding-bandingkan"
Itachi tersenyum, "Maaf, tapi kaulah wanita yang paling kucintai"
Konan tidak menanggapi, ia malah lebih mengamati Sakura.
"Konan, kau benar-benar cemburu pada Sakura?" Itachi menatap Konan penuh selidik, "Ayolah Konan, dia adalah adikku. Kurasa kau juga tidak keberatan menganggap dia sebagai adikmu. Jadi intinya, sekarang dia adalah adik kita" Itachi menganggap Konan sedang cemburu.
"Aku tidak cemburu"
"Lalu kenapa kau sering-sering menatap kami?" suara Itachi masih melembut.
"Bukan kalian, tapi dia, aku sangat kasihan padanya, membayangkan seperti apa perasaannya yang telah kehilangan pegangan dan pelindungnya" Konan menatap Itachi, "karena aku juga wanita"
"Ooh….Yah! Hanya wanita yang mengerti tentang wanita"
Konan menatap Itachi sambil tersenyum hangat, "Aku tidak mungkin cemburu pada adikku, Itachi. Sekarang kau bertanggung jawab pada adik kita"
Itachi mengangguk membalas senyuman Konan
.
.
.
"Itachi!" seru Mikoto menyambut kedatangan Konan dan Itachi dengan Sakura yang berada dalam gendongannya, "Syukurlah kamu menemukannya"
Sesuai instruksi Mikoto, Itachi segera membawa Sakura menuju kamar Sasuke.
Mikoto segera membantu Itachi untuk menidurkan Sakura di tempat tidur.
"Sasuke..Hiks.." Sakura tampak mengigau, ia mengencangkan pelukannya di leher Itachi. Itachipun kesusahan menempatkan Sakura di tempat tidur.
"Sakura" suara Itachi pelan, "Ini aku, Itachi" Itachi berkata perlahan di telinga Sakura.
"Sasuke..Hiks..hiks.." Sakura kembali pada igauannya saat Itachi berusaha melepaskan pelukan Sakura pada lehernya. Itachi seperti tercekik saat Sakura makin mengeratkan pelukannya.
"Sudahlah, sebaiknya kau menemaninya saja tidur, mungkin dalam mimpinya, dia menganggap kau adalah Sasuke" pinta Mikoto.
"Baik, Bu" Itachi pun merebahkan dirinya bersama Sakura yang masih terus melingkarkan tangannya di leher Itachi.
"Kasihan kamu, Nak" ucap Mikoto sambil membelai rambut Sakura.
"Konan, sebaiknya kau juga bermalam di sini. Untuk malam ini kamu boleh tidur bersama Itachi" senyum Mikoto pada Konan.
"Tapi, Bi" Konan berusaha menolak
"Ini terlalu malam, tidak baik jika kau sendirian, sementara Itachi tidak bisa mengantarmu"
"Baiklah, Bi"
.
.
.
.
"Kak Itachi, Maaf… soal yang kemarin" Sakura perlahan mulai merebahkan diri menghadap pada Itachi, yang sedang duduk, "aku sudah banyak merepotkan Kakak", suara sakura lirih.
Itachi berpindah dari tempatnya dan duduk di tepian ranjang. Sambil tersenyum, Itachi membelai kepala Sakura, "aku kakakmu Sakura, dan seorang kakak tidak perlu merasa di repotkan. Kau tidak perlu minta maaf"
Sakura diam membiarkan Itachi terus membelai pucuk kepalanya. Perlahan Sakura memejamkan matanya, nafasnya pun mulai teratur perlahan.
Itachi menatap Sakura, yang sudah memejamkan matanya, "selamat tidur adik manis ku", Itachi mematikan lampu dan perlahan meninggalkan Sakura beristrahat.
Sakura perlahan membuka matanya, sedari tadi Sakura memang pura-pura tidur ketika Itachi masih berada di kamarnya. Perlahan Sakura meinggalkan kamarnya dengan hati-hati. Ia mengamati sekitar, memastikan kalau semua orang telah tidur. Selanjutnya ia berada di depan kamar Fugaku dan Mikoto,
Sakura menghadap pintu kamar, "Ibu, maaf, aku sangat merindukan Sasuke. Aku ingin mencarinya, Bu. Aku yakin ia masih hidup" suara Sakura perlahan.
Perlahan Sakura membuka pintu, dan buru-buru meninggalkan rumah Uchiha elite itu.
"Malam begini, hendak kemana, Nyonya?" Sakura dikagetkan oleh suara seseorang terdengar menyindir.
"Kak Itachi?" Sakura menatap seseorang yang telah berdiri beberapa langkah didepannya. Sakura meremas ujung jaket yang ia kenakan sambil menunduknan kepala.
Itachi diam menatap Sakura yang berdiri serba salah didepannya.
"Kak Itachi… a..anu.." Sakura masih gelagapan.
"Kau pikir dengan berpura-pura tidur, kau bisa membohongiku" nada datar terkesan dingin dari Itachi.
Sakura tidak menjawab, malah mengambil arah lain untuk pergi.
Tap!
"Lepaskan aku… aku mau pergi.. ku mohon percayalah, Sasuke masih hidup" Sakura mulai memberontak melepasan tangannya yang digenggam Itachi.
Sakura masih memberontak, terpampang di raut wajahnya, kalau ia akan menangis. Bahkan Sakura pun mulai menendang Itachi. Ia benar-benar ngotot tidak ingin dihalangi.
"Berhenti bertingkah kekanak-kanakan, Nyonya manja!?" kecemasan terpaksa untuk kali pertama Itachi meninggikan suaranya pada Sakura.
Sakura seperti tercubit dengan bentakan Itachi, Sakura berhenti memberontak, dan hanya bisa menangis.
Itachi menarik Sakura kedalam pelukannya, "maafkan aku Sakura, aku tidak bermaksud membentakmu. Aku benar-benar takut kau juga pergi dan menghilang. Kau tahu, sekarang kaulah yang menjadi penghubung antara kami dan Sasuke. Lihat saja pada ibu, saat Sasuke memilih pergi dari rumah, ibu sering sakit-sakitan, tapi, saat ini, bisa kau lihat kan, ibu tidak terlalu tenggelam dalam kesedihan. Sama seperti ku, karena kau dan anak kalianlah yang menjadi penghubung antara ibu dan Sasuke" Sakura diam.
"Kumohon Sakura, jika memang firasatmu benar, maka yakinlah, Sasuke akan kembali padamu. Bersabar dan tetaplah disni, Sakura. Demi Sasuke. Demi Ibu. Apakah kau tidak kasihan pada Ibu? Sekarang beliau adalah ibumu juga, nenek dari anakmu" Itachi masih membelai Sakura dan menyapu air mata Sakura, dengan penuh rasa sayang.
"Sakura, Sasuke ada di sini" di sela Itachi menyapu air mata Sakura.
Sakura perlahan menghentikan tangisannya. Ia menoleh ke sekeliling, ia mencari orang yang di maksud.
Itachi meraih tangan Sakura, "Sasuke yang ku maksud ada di sini" lalu Itachi meletakan tangan Sakura di atas perut Sakura sendiri.
Itachi kembali tersenyum, "dia adalah bagian dari kehidupan Sasuke yang dia titipkan padamu, sekarang giliranmu yang melindungi Sasuke".
Perasaan Sakura menghangat mendengar ucapan Itachi. Sembari mengelus perut buncitnya, ia menggumam, "maafkan Mama, sayang".
Sakura membenarkan, ulahnya yang sering minggat dan mencari Sasuke, nyaris membahayakan bayinya sendiri.
"Sakura, aku menyayangimu. Aku memang bukan Sasuke, tapi biarkan aku yang menjaga dirimu dan anakmu. Bantu aku memenuhi janjiku pada Sasuke. Aku tidak ingin kehilangan adikku lagi" Itachi memegang wajah lembut Sakura.
Sakura mengangguk, perlahan ia menurunkan tangan Itachi dari wajahnya. Ia meyakinkan agar Itachi mempercayainya, agar tidak perlu lagi menghawatirkan dirinya. Sakura melap air matanya dengan tangan.
Itachi dan Sakura mulai saling melempar senyum.
"Itachi… Sakura!" Itachi dan Sakura menoleh secara bersamaan. Ternyata orang yang memanggil adalah Mikoto.
"Apa yang kalian lakukan malam-malam begini?" tambah mikoto.
"Ta..Tadi aku tidak bisa…"
"Tadi katanya, Sakura tidak bisa tidur, makanya ia memintaku untuk menemaninya" Itachi memotong ucapan Sakura.
"Benar?" pertanyaan Mikoto di alihkan pada Sakura.
Sakura tersenyum, "Iya, Bu. Maaf"
"Yaa.. ampun, Sakura, angin malam tidak baik untuk orang hamil, ayo masuk. Ibu yang akan menemanimu" kecemasan terpampang di wajah Mikoto.
"Iya bu, tapi sepertinya aku langsung tidur saja, aku mulai ngantuk. Trima kasih, Kak!" Sakura menatap Itachi.
Atas permintaan Mikoto, Sakura langsung mempercepat langkahnya.
"Kalian berdua tidak pandai berbohong. Sakura mau pergi lagi?" tanya Mikoto saat Sakura tidak terlihat lagi.
"Sekarang Ibu tidak perlu lagi khawatir, itu tidak akan terjadi lagi"
"Ibu berharap kamu benar"
Mikoto menuju kamar Sasuke yang kini ditempati oleh Sakura. Mikoto tidak kuasa untuk tidak tersenyum melihat wajah damai Sakura yang tertidur.
Mikoto menghentikan langkahnya ketika akan kembali ke kamarnya. Ia berbalik menuju kamar Sakura. Ia membaringkan tubuhnya di posisi Sakura yang memunggunginya. Mikoto ikut tidur sambil memeluk dan mengelus lembut perut Sakura hingga akhirnya Mikoto terlelap.
Sejak kejadian itu, Sakura kadang meminta untuk ditemani tidur oleh Mikoto.
Dan sejak itu pula, Sakura memang tidak pernah lagi meninggalkan rumah untuk menemukan keberadaan Sasuke, tapi Itachi maupun Mikoto tidak jarang mendapati Sakura menangis dalam kesendiriannya sambil menyebutkan nama Sasuke.
.
.
.
Prang!
"Sakura..!" Mikoto panik mendapati Sakura yang sedang duduk sambil meringis.
"Ibu.. Sak..kkit.." Sakura berusaha berdiri, sambil memgangi perutnya. Di wajah nya jelas sekali kalau ia sedang merasa kesakitan.
"Sakura..jangan-jangan…. Itachi!" Mikoto memanggil Itachi.
Akhir-akhir ini, sejak selesainya pertempuran dengan akatsuki, Itachi kerap kali menolak misi yang di berikan. Alasannya hanya satu, menjaga Sakura.
Dua orang perawat menjemput Sakura ditemani Itachi dan Mikoto, keduanya datang dengan membawa ranjang dorong. Meski lorong rumah sakit tampak ramai. Kedua perawat itu sma sekali tidak terhalang dengan membawa sebuah tempat tidur dorong dengan Sakura di atasnya.
Sementara Itachi mengikuti di sampingnya sambil menggenggam erat tangan Sakura.
"Namaku Yugao", seorang wanita muda cantik, berambut indigo panjang datang dan memperkenalkan diri. "Aku yang bertanggung jawab menangani pasien. Dan kuharap kalian sebagai kerabatnya. Mohon tunggu disini"
Sakura menggenggam erat tangan Itachi ketika dua perawat akan mendorong masuk ke ruang bersalin.
"Bertahanlah, Nak" ucap Mikoto mengelus lembut kepala Sakura.
Sakura menggeleng, ia mengatur nafas mengurangi rasa sakit nya.
"Kak Itachi, aku takut" ucapnya lagi
"Sakura, kau harus menjemput dia sekarang. Berjuanglah" Itachi menghibur Sakura sekaligus mengingatkan bahwa dia tidak sendirian. Sakura juga harus berjuang menyelamatkan buah cintanya dengan Sasuke.
Perlahan Sakura melepaskan pegangan tangannya pada Itachi.
"Bagaimana keadaan Sakura?" Madara yang datang bersama Fugaku.
Itachi dan Mikoto tidak langsung menjawab, tapi melihat raut wajah mereka. Sudah bisa di pastikan kalau Sakura masih berjuang menyambut kehidupan baru.
.
.
.
Dari dalam kamar bersalin, berkali-kali terdengar suara Yugao menginstruksikan Sakura.
Diluar, Itachi dan Mikoto tidak berhenti berdoa. Yang baru datang, Fugaku yang biasanya tenang tidak bisa menyembunyikan kepanikannya.
"Sasu…kk…kyaaaaaa" teriakan Sakura di susul dengan suara tangisan bayi yang cukup keras.
Srett!
Yugao muncul sambil membuka maskernya, "Selamat Tuan. Isteri dan bayi anda selamat" ucapnya pada Itachi.
"Benarkah? Syukurlah" nada lega terdengar dari Mikoto.
"Boleh kami melihatnya?" Fugaku tampak tidak sabar ingin segera melihat cucu pertamanya.
"Oh, tentu silakan, tapi mohon jangan berisik" Yugao menyunggingkan senyum manisnya.
Tampak kalau semua yang sudah tidak sabar ingin melihat Sakura dan bayinya, segera masuk, kecuali Itachi ia tidak langsung masuk,
"Maaf, Yugao Sensei, dia adalah adikku, bukan isteriku. Dan aku belum menikah" Itachi melempar senyuman manisnya pada Yugao sambil mengerlingkan matanya.
Mendapat kerlingan dari pria tampan seperti Itachi, tentu saja membuat kedua mata dokter muda itu, mengejap-ngejap.
"Itachi…!"
Grep!
Aksi menggombal dari Itachi harus berhenti ketika sang ibu kembali dan menarik daun telinganya.
Sakura yang kini tidur di atas Hospital Bed. Di wajah Sakura masih nampak kelelahan, tapi menggambarkan kelegaan juga. Di sampingnya juga telah terdapat seorang bayi yang masih merah.
Sakura tidak bisa menahan senyumnya melihat Mikoto datang sambil menjewer telinga Itachi yang meringis kesakitan.
"Sakura… jenis kelamin cucu ibu ini apa?" tanya Mikoto sambil menerobos diantara suami dan mertuanya. Ia lalu membelai bayi merah itu dengan sangat lembut.
Sakura tersenyum, "Perempuan Bu"
"Lihat Fugaku, Ayah. Dia sangat mirip Sasuke. Dia sangat cantik.. lihat.." Mikoto dengan mata berbinar menatap cucu perempuannya.
Fugaku dan Madara tidak bisa lagi menyembunyikan kebahagiaan mereka.
'Sahabatku Kizashi, cucu kita telah lahir' batin Fugaku,
Dalam hati Madara, 'Sasuke, karunia dan hasil dari pengorbananmu sudah hadir, terima kasih cucuku' , Madara dengan mata berkaca-kaca menatap bayi yang baru saja lahir beberapa menit yang lalu.
Itachi melangkah ke ssisi lain Sakura, "Selamat, adikku" ucapnya dengan penuh senyuman.
"Terima kasih, Kak"
"Anoo.. permisi Tuan-tuan dan Nyonya, mungkin sebaiknya, Nyonya Sakura harus istirahat", dokter Yugao kembali masuk dan memperingatkan dengan agak terbata, dan ia kelihatan agak kikuk ketika menatap Itachi. Mengingat perbuatan Itachi tadi sempat menggodanya
"Oh iya.. maaf Sakura-chan" sebenarnya keempat orang itu belum mau meninggalkan Sakura. tapi mereka juga membenarkan kalau Sakura butuh istirahat.
"Aah.. ingatlah Sakura, ASI pertama itu sangat penuh nutrisi" seru Itachi, "Benar kan? Yugao sensei?" Itachi mendekatkan wajahnya pada Yugao.
"Eh.. I..itu benar. Si..silakan keluar". Gadis cantik berambut indigo itu kelabakan bertatapan dekat dengan Itachi.
Grep!
"Maaf ya, Yugao Sensei" Mikoto menarik telinga Itachi menjauh.
Dan lagi-lagi Itachi harus merelakan daun telinganya jadi gantungan tangan Mikoto.
'Sasuke, anak kita sudah lahir…dia sangat mirip denganmu' Sakura menitikan air matanya lagi, malaikat pengganti Sasuke sudah berada di sampingnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Nah, ini dia Sakura. Sakura..perkenalkan ini Rock Lee" senyum ceria Mikoto menyambut Sakura. Ia memperkenalkan seorang pria beralis tebal, rambut Bob style, berpakaian ketat warna hijau sehingga tampaklah otot-ototnya.
"Dia ingin meminangmu, dan kami…."
"Tidak..!" Sakura, menutup mulut dan menggelengkan kepala, dari matanya kelihatan kalau ia akan menangis. Ia berbalik dan kembali menuju kamarnya.
"Maaf, tunggu sebentar" Mikoto berpaling pada pemuda Rock Lee yang duduk bersama seorang pria paru baya yang berpenampilan sama dengan Rock Lee.
"Silakan Nyonya" sahut seorang yang berpenampilan sama dengan Rock Lee. Ia memperkenalkan diri bernama Maito Guy. Cengirannya memperlihatkan deretan giginya yang putih.
Mikoto segera meninggalkan kedua tamunya yang selalu tampak bersemangat, di temani Itachi.
"Sasuke.. hiks..hiks.. aku baru saja melahirkan tapi aku sudah dipinang hik..hik.. tolong aku Sasuke.. hiks..hiks.. ku mohon pulanglah Sasuke, aku takut..hiks hiks.." Mikoto menyaksikan Sakura menangis sambil memeluk bingkai foto yang bisa di pastikan kalau itu adalah foto Sasuke.
Mikoto tersentuh menyaksikan Sakura menangis sendu di dalam kamarnya.
"Sakura.." Mikoto segera menyapa Sakura dengan lembut.
"Ibu.. hiks" Sakura menatap Mikoto, "Apakah aku tidak pantas menyandang nama Uchiha.. hiks.."
"Apa maksudmu Sakura", dengan nada lembut sambil Mikoto mendekati Sakura.
"Kenapa aku di jodohkan Bu, Aku mencintai Sasuke...hiks..hiks.. Ku mohon, Bu. Jangan nikahkan aku dengan pria lain, aku mencintai Sasuke, Bu. Aku tidak mau hiks..hiks.."
"Sakura…" Mikoto memeluk Sakura, "Kau adalah puteri ibu, dan kau sangat pantas menyandang nama Uchiha" Mikoto mulai membelai Sakura, "kau akan selalu menjadi puteri Ibu. Dengan siapapun kau menikah, kau tetaplah puteri Ibu"
"Tapi kenapa ibu menerima pinangan pria itu..hu..hu..hu.."
Dengan senyum penuh kehangatan, Mikoto menatap mata Sakura, "Siapa yang bilang kami menerima pinangannya Sakura, tadi aku ingin meminta persetujuanmu. Tapi kalau kamu tidak mau, Ibu malah senang. Itu artinya kau akan tetap menemani Ibu"
"Ibu, kumohon jangan terima siapa pun yang ingin meminangku.. hiks..hiks aku sangat mencintai Sasuke.. ku mohon hikss..hikss aku tidak tertarik dengan pria lain hiks..hiks"
Mikoto kembali mengeratkan pelukannya, "maafkan Ibu sayang, Ibu baru ingat kalau puteri Ibu ini hanya milik Putera bungsu Ibu. Maaf kan Ibu kalau telah menyakitimu Sakura… Ibu janji tidak akan menerima pria yang ingin meminangmu"
Sakura berhenti menangis, ia menatap Mikoto sambil tersenyum, "terima kasih, Ibu"
"Iya, maaf kan Ibu ya, sayang,.. Eh! Sarada sudah bangun. Mungkin dia lapar. Tetaplah disini, biar ibu yang menjumpai mereka" Mikoto segera meninggalkan sakura, menuju ruang tamu menemui tamunya tadi.
Tobi mbantu sasuke [terimakassih idenya, tapi, Tobi/Obito kan ada di Iwa, dia yang memporak-porandakan mabes nya Akatsuki]
(Deshady)… Selamat karena kebetulan terjatuh ke dalam suatu ruangan yang tertutup oleh baja atau semacamnya yg bs menahan ledakan tersebut. [ini mungkin tidak saya pakai, karena Helinya benar-benar hancur berkeping-keping. Berarti tidak ada tempat yang seperti itu. Dan lagipula kalau dibayangkan, benda apa yang bisa selamat dari ledakan maha dahsyat nuclear. Tapi idenya ini memberi ane inspirasi dan ide baru. Thx bangat karena ada pencerahan]
(Joan)…Sasuke yang dalam keadaan tidak sadarkan diri diungsikan ke salah satu laboratorium entah milik Orochimaru atau Kabuto selaku seorang ahli apalah misalnya microbiologist/bioteknologi etc. Jadi, untuk beberapa alinea kamu harus masukkan sedikit hal-hal yang berbau sciene tapi dengan syarat jangan terlalu spesifik nanti jatuhnya jadi Sci-Fi.
Thx bangat..
Atas inspirasi dari DeShady dan idenya joanna.. maka ane akan gabungkan keduanya.. Jadi next chapnya mungkin agak lambat.. tapi mudah-mudahan aja bisacepat up date
Dan itu artinya, next chap juga bukan murni karangan ane… kalo nggak keberatan, kita sebut aja colab yak. :D
.
.
Yosh karena sudah FIX sasu harus hidup, so yang menjadi PR ane adalah bagaimana momen SasuSaku bertemu.
.
Next Chap "MY GUARDIAN ANGEL IS BACK"
.
.
Dan ini bonus yang menceritakan tentang harapan dan kesetiaan Sakura pada Sasuke.
