Author : Itami Shinjiru

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Sedikit bumbu "Parody," dari Eragon, How to Train Your Dragon, dan Percy Jackson & The Olympians

Note : Semua nama naga, peralatan, atau kemampuan dan seluruhnya yang tidak terkait dengan Naruto merupakan hasil pemikiran Author dan TIDAK terkait dengan fanfiction manapun, semirip apapun judul atau plotnya. Beberapa OC baik karakter manusia atau makhluk mitologi diambil dari legenda dan mitologi nyata dengan pengubahan seperlunya.

Rated : T

Warning : Alternate Universe, Original Characters. Maybe contains some Out of Characters and Typographical Error

About this fic : Ini merupakan sekuel dari fic Paradox –by Itami Shinjiru

Genre: Fantasy, Adventure, Action, Romance. Little bit of Mystery

Any Little Note: Tebak sendiri POV dalam tiap chapter


Author's Note:

Maaf sekali, update lama. Kalian tahu kan, aku sedang sangat sibuk. Oke, langsung saja.

Enjoy read the second spin-off!


~ PARADOX 2~

The Blood of Pomegranate

パラドックス 2 - ザクロの血液

Spin Off Chapter 2:

Silver-Haired Girl


Konohagakure, Hi no Kuni

"Asuma," sambarku cepat. "Dia belakangan terlihat mencurigakan. Mungkin dia ingin mencoba-coba mengisap cerutu? Itu kan berlebihan. Jadi setelah misi ini selesai ... aku ditugaskan untuk mengawasinya, oleh Sandaime."

Sandaime-sama berdehem. "Anak itu. Aku tidak boleh mengenalkannya pada tembakau."

"Omong-omong, Arhara-san, menguping pembicaraan orang itu tidak baik," tambahku.

Arhara masih menatap kami dengan wajah datar. "Baiklah. Jika yang demikian itu urusan kalian, aku tidak berhak ikut campur." Sedetik kemudian, dia menghilang dengan kilatan berwarna keperakan, tak menyisakan apapun di tanah berumput yang dipijaknya.

"Dia memang sedikit janggal," akuku. "Akan kuawasi dia."

Kami berangkat setelah Choza dan Shibi datang, pukul setengah lima sore.

"Jalan kaki?" Selidik Choza. "Bukankah lebih baik menggunakan naga?"

"Terlalu mudah dilacak," kata Darui. "Kita bisa melompat dari satu pohon ke pohon yang lain. Cara itu lebih tersembunyi. Lagipula, kita bisa memanggil naga kita nanti, kalau kita memang membutuhkan mereka di pertempuran. Aku punya seekor naga hitam keren yang siap membantu, tenang saja."

"Oh, benar juga," Samui menjentikkan jari. "Alangkah baiknya kita tahu jenis naga tiap anggota tim sebelum memulai pertarungan. Itu bisa menentukan taktik penyerangan dan pola kerjasama."

Shibi mengangguk pelan. "Jika naga itu punya elemen yang bisa dipadukan, itu akan jadi kejutan yang bagus. Darui-san punya tipe elemen petir spesial. Selain seekor Tarasque, aku juga punya ribuan serangga di pihakku."

"Seekor Gorongosa," ucap Choza. "Naga itu bisa menembakkan air serta merubah wujudnya menjadi air. Tidak mudah diserang."

"Aku memiliki dua ekor Gorgon," sambung Samui. "Mereka naga berukuran sedang, seperti harimau, dan punya gigi pedang. Serangan mereka cepat, tepat, dan mematikan. Bagaimana denganmu, Minato-san? Dracovetth yang tenar dengan kecepatannya punya naga yang cepat juga, pastinya."

Aku tertawa. "Nagaku memang cepat, tapi di jajarannya dia bersikap biasa saja, sama sepertiku."

"Oh. Jenis apa itu?" Selidik Darui. "Pasti spesies Penunggang Angin."

"Bukan sih, sebenarnya."

"Pembantai Bersayap?" Tebak Darui lagi.

"Itu malah lebih melenceng."

"Oh, kalau begitu pasti Etatheon," tebak Darui sambil tertawa.

Aku tersenyum misterius. "Benar sekali."

"APA?"

Lirikanku berkelebat, memeriksa Arhara. Dia tidak tertarik dengan pembicaraan kami samasekali. Tapi, dia pasti dengar. Lebih baik aku langsung mengatakan yang sesungguhnya. Jika dia memang mata-mata, pasti ada reaksi tertentu yang diperlihatkannya walau samar-samar ...

"Pyrus," kataku, "naga penyuka langit, penguasa Goudama. Kami bertemu kira-kira tiga tahun lalu, dan dia menemukan sesuatu dalam diriku. Entah kenapa dia bisa berbicara begitu, tapi akhirnya Pyrus, Etatheon, bersedia menjadi nagaku. Dia bebas berkelana ke manapun, tapi niscaya dia tahu ketika aku butuh bantuannya, dan dia pasti akan datang dengan cepat."

Samui bersiul. "Etatheon. Misi kita akan sangat mudah kalau hanya sekedar menghancurkan markas, kalau begitu." Beberapa detik kemudian, dia melirik Arhara penuh minat. "Aku yakin kau punya naga yang tak kalah hebat juga, Arhara-san."

Gadis berambut perak itu menatap kami tanpa minat. "Aida Vedo."

Shibi mengernyitkan dahi. "Belum pernah dengar."

Choza menggeleng pelan. "Aku juga."

"Aida Vedo," ulangku. "Itu naga langka yang berasal dari Tsuchi no Kuni. Pada zaman dahulu kala, orang-orang mempercayai Aida Vedo-lah yang membantu para dewa menyeimbangkan bumi agar tidak selalu bergetar ... istilahnya pencegah gempa bumi."

"Berarti ukuran naga itu sangat besar?" Selidik Darui. "Aku juga belum pernah mendengarnya. Bagaimana wujudnya?"

"Seperti ular raksasa bertanduk," cetus Arhara. "Ya, dia besar. Tapi tak sebesar Kaum Kolosal."

Darui terkekeh. "Aku mengerti kenapa kita yang dipilih! Kedua orang gila itu pasti takkan punya kesempatan."

"Jangan pernah meremehkan musuh mentang-mentang kau punya kemampuan istimewa, Darui," tegur Samui. "Atau meskipun tim aliansi kali ini amat kuat. Musuh sekelas mereka pasti punya kejutan. Jangan lupa itu."

Menguasai lima elemen, dan memiliki Aida Vedo, pikirku. Dia jelas bukan gadis biasa. Kira-kira berapa umurnya? Antara dua puluh dan dua puluh enam? Aku sanggup menebak umur banyak orang dengan tepat—seenggaknya nggak jauh dari rentang umur mereka yang sebenarnya, tapi Arhara sulit diterka. Entah kenapa dia terlihat seperti ... seperti tidak pernah menua? Apa dia punya jutsu regenerasi diri?

Aku menggerutu dalam hati. Kenapa tiba-tiba aku jadi berprasangka buruk? Sejauh ini, meskipun kami curiga, Arhara tetap rekan misi. Jika memang dia mata-mata yang berniat menjatuhkan Lima Negara Besar, kedoknya akan terbuka sendiri. Yang harus kulakukan hanya mengawasinya. Sandaime bahkan tidak memerintahkanku untuk memergokinya jika melakukan sesuatu yang mencurigakan.

Kami beristirahat di blokade Hi dan Kaze. Samui mengamati tempat kami dari puncak pohon tertinggi.

"Daerah gugur yang bagus," katanya. "Sekarang kita bagi tugas. Choza-san dan Shibi-san akan mendirikan tenda. Aku dan Darui akan memasang barikade atau perangkap. Minato-san dan Arhara-san, kalian berdua harus berburu."

Choza mengernyit. "Aku membawa ransum yang cukup."

"Kita tidak tahu pasti keadaan dua puluh empat jam ke depan," jawab Samui, "karena itu, kumpulkan makanan secukup mungkin selagi bisa. Setelah ini kita akan memasuki wilayah Kaze no Kuni, seperti yang kita tahu, gersang dan berupa gurun. Sulit mencari air dan makanan. Karena itu, kita harus mengumpulkan persediaan yang banyak sekaligus selagi keadaan masih memungkinkan. Bertarung dengan perut kosong tidak menyenangkan."

Choza mengangguk setuju. "Baiklah. Aku setuju dengan kalimat terakhir."

Samui melirikku, dan segera kurasakan kalau dia mengandalkanku dalam 'misi sampingan kecil' kami kali ini. Apa boleh buat. Aku memandang Arhara, mencoba tersenyum secara wajar. "Aku kenal wilayah ini. Tiga kilometer ke utara ada sebuah danau. Di sana kita bisa mendapatkan ikan dan air."

Arhara mengangguk. Kami berdua melesat menembus hutan yang makin lama makin jarang, menuju danau. Permukaannya berkilauan ditimpa sinar matahari sore. Angin sejuk menguasai pinggiran danau, mengibarkan dedaunan lebar di tepi danau, menimbulkan gelombang kecil.

"Baiklah," ujarku, mengeluarkan kunai biasa dan kunai khususku. "Mari kita memasang jebakan di beberapa tempat."

Arhara menggeleng. "Pasti makan waktu lama. Kenapa kita tidak buru mereka langsung? Kau bisa tetap di sini, aku akan ke dalam dan mencari mereka."

Aku mengernyit. "Binatang yang kau maksudkan itu ... apa sih?"

Arhara memalingkan pandangannya dariku. Tubuhnya bergetar. "B-belut kouga raksasa," gumamnya. Aku menaikkan satu alis. "Belut kouga raksasa," ulangnya lagi. "Mereka hidup di beberapa danau di Hi no Kuni, kan? Kudengar daging mereka cukup lezat dan berair," ia menatapku lagi, kali ini dengan puppy eyes. "Tolong izinkan aku melahap satu ekor saja."

"Arhara."

"Aku tahu danau ini dalam, tapi aku penyelam yang hebat. Percaya saja."

"Anu ... Arhara-san."

"Aku mengerti! Kau bisa berburu hewan lain. Aku yang akan menangkap belutnya!"

"Maksudku, air liurmu," kataku malu-malu.

Arhara mengelap mulutnya dengan punggung tangan. "Maaf. Kadang begini kalau aku sedang—"

KRUUUUKKKK

Arhara merona. "Lapar," kami berdua bersuara bersama. "Baiklah," kataku akhirnya. "Aku akan berburu rusa. Kau atasi belut itu, ya. Kupercayakan padamu."

Oke, aku tahu ini tindakan beresiko. Jika Arhara menggunakan kesempatan ini untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan misi-dibalik-misinya, aku tamat. Tapi tidak ada pilihan lain. Maksudku, ayolah! Dia mau menyelam! Masa aku harus mengikutinya ke dasar danau?

Satu jam berlalu. Aku menenteng seekor rusa totol, beberapa buah ara dan apel liar, sebonggol besar umbi, dan tiga ekor ikan salem. Hasil buruan yang benar-benar bagus. Tempat ini memang liar dan sehat sehingga banyak binatang berkeliaran di sini. Aku penasaran apa yang Arhara tangkap. Aku menyeret hasil buruanku ke tepian danau dan mencari-cari tanda keberadaannya. Setengah jam berlalu, kususuri pinggir danau sambil meneriakkan namanya, tapi tak ada hasil.

"Sial," gerutuku. "Apa kau benar-benar pergi? Secepat itu?"

Aku tidak tahu apa yang kupikirkan. Matahari mulai condong ke barat. Terpaksa, kubawa terlebih dahulu hasil buruanku ke perkemahan. Shibi, Choza, Samui, dan Darui sudah menunggu. Mereka bersorak kegirangan begitu melihatku membawa banyak makanan, tapi ekspresi mereka berubah saat kuceritakan Arhara menghilang tanpa jejak.

"Harusnya kau awasi dia, Minato!" Seru Choza. "Bagaimana kalau dia terseret ombak? Bagaimana kalau ada buaya yang menyerangnya?"

"Chioza, dia menguasai lima elemen!" Tentang Shibi. "Kalau memang itu benar, jangankan seekor buaya mutan raksasa, sepasukan naga air takkan bisa mengalahkannya begitu saja."

"Kalian membicarakanku?"

"Arhara!" Seru Samui. "Syukurlah. Kami khawatir kau ..."

Kami melongo. Arhara menarik seekor binatang yang amat besar di belakang punggungnya, kedua tangannya memegang ekor ikan raksasa itu. Dia tidak tampak sangat kepayahan meskipun ikan itu kelihatannya berat sekali.

Saat aku mendengar 'belut kouga' baiklah, bisa kubayangkan seekor ikan berbentuk mirip ular dengan sirip dan sisik berlendir, panjangnya selengan. Saat Arhara mengatakan 'raksasa' aku membayangkan seekor belut sebesar paha orang dewasa, panjangnya setinggi orang dewasa. Aku tak pernah mengira dia akan menyeret seekor belut berwarna keperakan berbintik-bintik cokelat yang sepanjang sebuah minibus. Tebal tubuhnya hampir sama dengan Arhara.

Arhara terkikik. "Saat kubilang 'raksasa' maksudku memang benar-benar raksasa, Minato-chan."

"Minato-chan?"

"Kau harus lebih banyak mempelajari dunia hewan," dia duduk di dekat kami, mengeluarkan pisau, dan menyayat belut supergede itu. Bau segar plus amis menyeruak ke hidung kami, tetapi dinetralkan oleh bau harum daging rusa bakar. Arhara mengiris sekerat daging belut kouga dan menyuapkannya ke mulutnya tanpa proses pengolahan lebih dulu. Sekali lagi, kami terkaget-kaget.

"Kalau dibakar atau dipanggang, proteinnya berkurang," ujar Arhara. "Ikan segar selalu lebih bagus."

"Segar menurutmu dan segar menurutku itu beda," gumam Choza. "Tapi boleh deh. Sepotong saja, dong."

Arhara menatap Choza tajam. "Ini punyaku."

"KAU MAU MENGHABISKAN IKAN SEBESAR ITU SENDIRIAN?!"

"He-eh."

"HE-EH?"

.

.

.


Hari kedua.

.

Senja hari berikutnya, kami berhasil mencapai perbatasan Kaze-Tsuchi dengan selamat. Seperti perkiraan Samui, kami menghabiskan separuh dari seluruh perbekalan yang sudah disiapkan sejak awal perjalanan—termasuk waktu perburuan itu—dan masih cukup untuk setidaknya sehari ke depan. Tapi, yang jadi masalah sekarang bukan makanan. Ini soal penyergapan. Kali ini, kami menemukan sebuah gua yang tepat untuk tempat bernaung dari badai pasir Kaze sekaligus tempat rehat sebelum melanjutkan perjalanan keesokan hari.

"Kita akan mengepung mereka dari segala sisi," kata Samui. "Tapi, kita masih belum bisa tepat menggambarkan markas musuh. Jika itu berada di perbatasan Tsuchi dengan Amegakure, kita harus ke timur dari arah ini. Badai pasir masih menggemuruh di luar, tapi aku yakin posisi kita sudah relatif dekat, sekitar 30 kilometer dari perbatasan. Esok hari, kita akan bergerak, lalu menemukan tempat persembunyian sementara di dekat markas. Strategiku adalah menyelidiki lebih dulu."

Darui mengangguk. "Kita bagi menjadi dua tim. Satu tim berjaga di markas dan satu lagi menyelidiki. Rencananya, kita akan menyelidiki markas musuh pagi-pagi buta, kemudian menyerang malam harinya."

Aku mafhum. "Kalau begitu, Shibi harus diikutkan dalam tim penyelidik," saranku. "Ninpou Mushidama sangat berguna. Serangga takkan dicurigai."

"Ya, serahkan padaku," Shibi mengiyakan. "Dan pertahanan harus ada Choza."

Choza menyeringai. "Penyelidikan harus ada Minato juga."

Samui terkekeh. "Dasar Konoha. Baiklah. Darui, aku, dan Choza akan berjaga di markas kita. Sisanya ... kurasa aku tak perlu mengatakan pada kalian."

"Ya," ujar Shibi. "Mohon kerjasamanya, Arhara-san!"

Arhara hanya tersenyum dan mengangguk. Karena hari sudah malam, kami menyiapkan kantung tidur dan membakar sisa daging yang kami dapat dari perburuan kemarin, lantas segera terjun ke alam mimpi ... meskipun itu tidak berlaku buatku. Mataku tak ingin terpejam sedikit pun. Aku akhirnya bangun, memeriksa sekeliling. Dahiku mengernyit mendapati gadis berambut perak itu tidak ada di kantung tidurnya.

Alih-alih meringkuk kedinginan, dia berada di tepi sungai, mencelupkan kaki telanjangnya ke air dingin. Pandangannya lurus ke depan. Aku berjongkok lima belas meter darinya, mengamati. Apa yang akan dia lakukan?

Arhara terlihat menghela napas. "Keluarlah," katanya tiba-tiba. "Aku tidak biasa dikuntit."

Aku menyerah, lantas mengungkap diriku, berjalan ke sisinya. "Seharusnya kau tidur."

Arhara menggeleng. "Aku tidak mengantuk. Kau bisa kembali ke tenda, Minato-chan. Bisa tinggalkan aku sendiri, kan? Aku butuh waktu untuk sendiri."

"Aku juga tidak bisa tidur," bantahku, "hei, mungkin ada bagusnya kalau kita berlatih. Kita tidak tahu sekuat apa musuh di luar sana."

Arhara mendengus. "Mau berapapun jumlah atau macam kekuatan mereka, itu tidak ada artinya," dia bertopang dagu, kemudian melirikku sekilas. "Kalaupun kau menantangku duel, Minato-chan, aku bisa menumbangkanmu dalam waktu dua menit."

Aku terkekeh. "Kuharap itu benar."

Kami terdiam, memandangi aliran sungai.

"Arhara, ada beberapa hal yang ingin kusampaikan padamu," kataku akhirnya. Dia tidak bereaksi. Acuh tak acuh, tapi aku tetap meneruskan perkataanku. "Soal yang barusan. Aku tahu kau menguasai lima elemen dan mempunyai naga yang hebat. Sedikit pembuktian saja sudah cukup untukku, tetapi berhati-hatilah. Kesombongan adalah salah satu pangkal kehancuran. Kita tidak boleh meremehkan musuh kita, selemah apapun dia. Jangan biarkan celah terbuka untuk mereka menguasaimu. Percaya diri itu boleh, tetapi sombong lain lagi."

Arhara masih diam.

"Satu lagi," pungkasku, "sikapmu berbeda saat mendengarku berbicara dengan Sandaime-sama, dibanding saat kita berburu makanan. Sekarang, kau kembali lagi. Apa kau punya masalah? Rekan misi bukan hanya sekedar rekan atau kolega. Kau bisa menganggap kami sebagai teman. Kalau kau punya beban, bagikanlah pada teman-teman yang kau percayai. Mereka akan lebih mengerti dan lebih menghargaimu."

Arhara tersenyum tipis. "Kau tidak mengetahui apa-apa tentangku, Minato-chan."

"Selain fakta bahwa kau wanita dua puluhan dari Kumogakure dan berpangkat Jounin, menguasai Goton dan memiliki Aida Vedo, yah, aku tidak tahu."

"Lantas kenapa kau menasihatiku?"

"Saling menasihati dalam kebaikan adalah kewajiban manusia," jawabku. "Tidak peduli apakah itu seseorang yang dekat denganku, atau seseorang yang baru kukenal, atau bahkan seseorang yang tidak kukenal. Kita menjadi manusia karena rasa peduli kita. Saat di mana kita kehilangan rasa kepedulian kita, saat itulah status kemanusiaan kita terancam."

Lagi-lagi kami membisu. Arhara tersenyum simpul. "Bicaramu seperti seorang Hokage. Apa kau pernah bercita-cita menjadi seorang Hokage, Minato-chan?"

Aku tersipu. "Sepertinya itu dulu sekali, di akademi. Seorang Hokage yang kuat dan dapat melindungi desa seisinya. Yah, itu sedikit kekanak-kanakan, tapi mengingat bahwa Hokage adalah predikat yang diberikan pada orang terkuat di Konoha, tak heran banyak anak-anak bercita-cita jadi seperti itu. Kau sendiri? Apa kau ingat cita-citamu saat kecil, Arhara-san?"

Mata kelabu Arhara memandang kosong ke depan. "Aku tidak pernah terpikir untuk memiliki cita-cita."

"Bagaimana bisa?"

Arhara memeluk lutut. "Sebelum aku bisa mengatakan impianku ... sudah tidak ada yang tersisa untuk mendengarkannya."

"Maksudmu?"

"Keluargaku," suaranya mulai serak, "mereka semua ... pergi." Dia mengucapkan pergi dengan nada suram. Tidak sulit bagiku menebaknya. Pergi seperti mati.

"Ayahku menghilang sebelum aku lahir. Ibuku sendirian membesarkan aku, seorang kakakku, dan dua orang adikku. Ketika perang, dua adikku meninggal. Kakakku menjadi frustasi dan pergi meninggalkan kami. Tak lama, aku mendengar kabar bahwa dia mengikuti jalan yang salah. Ketika ibuku meninggal karena sakit, aku bertemu kakakku. Kami bertarung sampai mati. Saling menyalahkan. Aku berjalan tak tentu arah sepanjang hidupku. Melakukan apa yang menurutku benar. Tanpa siapapun untuk mendukung atau mencintai. Takdir mendamparkanku ke sini, Jounin Kumogakure. Aku tidak peduli kata orang-orang. Aku hidup, tapi aku merasa hampa."

"Kau bertemu orang-orang yang menganggapmu penting dan dibutuhkan," hiburku. "Kau telah diakui. Maaf, sudah memaksamu mengingat masa lalu."

Arhara menangis. "Aku tidak pernah menemui orang-orang yang benar-benar menghargaiku sebagai manusia seutuhnya. Mereka selalu menganggapku aneh. Rambut perak. Mata abu-abu. Kenapa? Padahal aku tetap berusaha bersikap baik pada semua orang yang kutemui. Tidak ada diantara mereka yang mengerti."

Aku memandang langit. "Hanya karena kau berbuat baik pada seluruh orang di dunia, jangan harap orang akan berbuat baik padamu," nasihatku. "Itu hukum alam, Arhara-san. Sama seperti seekor harimau belum tentu tidak menyerangmu hanya karena kau tidak pernah menyerang harimau. Tapi ... kenapa kau mau menceritakan masa lalumu pada orang yang belum lama kau kenal?"

"Kau seseorang yang bisa dipercaya," isaknya. "Aku bisa melihatnya dari matamu. Kau orang yang mempedulikan perasaan orang lain."

Aku tersenyum. "Menangislah jika itu membuatmu merasa lebih baik." Aku merogoh kantung belakangku, mengeluarkan sebutir buah delima yang kupetik dalam perjalanan. Mata gadis berambut perak itu berbinar.

"Kau mau?"

Aku membelah dua delima itu. Dia menghabiskannya dalam waktu semenit.

"Namikaze."

"Ya?"

Arhara menguap. "Kau orang yang baik."

"Eh, Arhara-san," cegahku. "Jangan tidur di ..."

Dia mendengkur halus. Aku menghela napas pasrah. "Kushina akan membunuhku kalau dia tahu ini."

Entah berita bagus atau buruk, keesokan paginya dia sudah tidak ada di sampingku.

.

.

.

Hari berikutnya, tepat sesuai perkiraan Samui, kami tiba hanya sepuluh kilometer dari barikade Amegakure. Dari kejauhan, awan mendung nan kelam sudah tampak di lini pengelihatan. Meskipun waktu itu baru pukul tiga pagi, cahaya petir menyinari kawasan Ame seperti lampu tembak. Dengan ekor mata, aku mengamati Arhara membelakangi kami, mencari genangan air, dan mengeluarkan pisau berburunya ... yang dihiasi cairan berwarna merah. Dia mencucinya cepat-cepat lantas menyarungkannya lagi.

Cairan merah, pikirku. Apa itu darah? Dan apa maksudnya semalam dia butuh waktu untuk sendiri?

"Aku akan membuat penyamar chakra," komando Samui lagi, memecahkan lamunanku. "Darui akan mengatasi daerah sekitar, membersihkan area, dan mengawasi hal-hal mencurigakan yang mendekat. Choza akan membuat markasnya."

"Kenapa tugasku paling banyak?" Gerutu Darui.

"Mengerti," jawabku. "Kami akan menyelidiki Amegakure dan berusaha menemukan markasnya."

"Sebaiknya kita berhati-hati," saran Shibi. "Amegakure bukan desa yang mudah untuk disusupi. Dan semuanya berbeda di sana ... tidak ada pemimpin resmi. Tak heran kalau desa hujan itu mendapat peringkat satu dalam hal jumlah penduduk jahat."

Samui berdehem. "Sebenarnya ada sedikit masalah. Amegakure punya bangunan-bangunan berupa gedung dan menara besi berpipa. Ratusan jumlahnya, dan semua terlihat sama. Kita tidak tahu apakah Haido dan Dotou mendirikan markas di salah satu menara atau bersembunyi di bawah. Akan sulit untuk mencarinya. Aku mulai meragukan strategiku sendiri."

Aku tersenyum tipis. "Kau pikir kenapa aku mendukungmu, Samui-san?" Aku menatap langit dan mengacungkan Hiraishin Kunai. "Etatheon Pyrus! Dengan segala kerendahan hati, aku berharap agar kau bersedia mendatangi kami sekarang!"

Satu menit.

Dua menit.

"Mungkin dia lagi sibuk," celetuk Arhara.

Aku mendehem, kemudian mengulangi perkataanku. "Etatheon Pyrus! Dengan segala kerendahan hati, aku berharap agar kau bersedia mendatangi kami sekarang!"

Beberapa detik berlalu dengan hening.

"Demi Cygnus, kami benar-benar membutuhkanmu," pungkasku.

"Harum sekali! Apa ini bau daging rusa?"

Kami berenam terlonjak. Di belakang kami, seekor naga berbentuk ular raksasa, dengan kerah kulit di leher, tanduk bercabang di alisnya, dan empat kaki bercakar melengkung indah tampak ngejreng dengan sisik merah dan ornamen daun hijau. Pyrus nyengir. "Demi Nebula, sudah lama sejak kamu memanggilku terakhir kali!"

"Hanya butuh dua kata tambahan rupanya," gumam Darui. "Ano ... suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda, Etatheon Pyrus."

Kami semua berlutut sebelum naga itu menyuruh kami berdiri. Ia memandangi Dracovetth Kumogakure satu-satu, kemudian menggulung tubuhnya. "Ehm. Sepertinya aku tidak dibutuhkan di sini."

"Kami membutuhkanmu," balasku. "Dengarkan. Shibi, Arhara, dan aku, akan menyusup ke Amegakure, mencari markas Haido dan Dotou, pencari kekuatan Batu Gelel. Kami tidak tahu pasti di mana markas mereka, tetapi bukankah Etatheon peka terhadap aura jahat? Kau bisa membawa kami terbang dibalik awan dan berhenti tepat di atas daerah yang kau curigai merupakan pusat markas mereka. Pasti ada sisa-sisa kekuatan apapun di sana."

Pyrus mengerutkan alis. "Aku ... sebaiknya ..."

"... membantu kalian."

Naga itu mendecih. "Demi Hoba West, kuharap ini bukan sandiwara atau apapun. Tapi kalau kau memang sedang dalam sandiwara, pasti tujuannya bagus. Baiklah, aku takkan mengganggu dan memilih diam saja seolah semua ini berjalan selumrahnya."

Aku mengernyit. "Apa maksudmu barusan?"

Pyrus terkekeh. "Nggak. Ayo terbang. Dari sini sudah kelihatan. Nah," Pyrus berputar-putar di atas awan hujan, lalu berhenti. "Dari sini. Terjunlah vertikal ke bawah, kau akan langsung mendarat di markas yang kau inginkan. Dijamin."

Aku melempar Hiraishin Kunai dengan tebasan angin. Bisa kurasakan senjata itu menusuk permukaan lantai beton. Aku memegang pundak Shibi dan Arhara. "Kami duluan, Pyrus! Terimakasih sudah mau membantu. Oya, bisakah kau tetap di sini sementara waktu? Kalau-kalau kami membutuhkan bantuan udara."

Pyrus terkekeh. "Kau takkan memerlukanku lagi sampai kau wafat, Minato!" Serunya. Aku mengernyit. "Hei, turun sana. Yang lain sudah di bawah, tuh."

"Apa maksud perkataanmu barusan?" Desakku.

Pyrus menghela napas. "Aku takkan memberitahukannya. Yang jelas, aku akan jarang-jarang mengunjungimu. Kalau misimu cuma sekedar menghabisi dua orang jahat, itu bisa selesai sebelum fajar menyingsing. Mestinya. Sampai jumpa."

Pyrus menghilang seperti aurora. Aku melompat ke bawah, mendarat di lantai beton, dan berguling ke gedung terdekat, di mana Arhara dan Shibi sudah menunggu. Aku agak terusik dengan kata-kata Pyrus barusan ... tapi Etatheon biasanya memang senang berteka-teki.

"Aku sudah mengirimkan serangga penyelidikku," desis Shibi. "Tapi ada kekkai yang amat kuat mengelilingi bangunan itu. Kekkai itu tipe sensor. Jika ada makhluk hidup apapun menyentuh permukaannya, aliran listrik 900 volt akan menyengatnya. Nggak ada serangga yang bisa bertahan di voltase setinggi itu."

"Kekkai tipe petir," gumam Arhara. "Berarti kalau kita hancurkan dengan Fuuton, mungkin berhasil."

Aku menggeleng. "Frekuensi Fuuton yang dikeluarkan harus selaras dengan frekuensi permukaan kekkai untuk bisa meluruhkannya. Salah-salah, malah bisa membuat kita terdeteksi. Apa ada penjaga di pintu?"

"Empat pintu di empat mata angin, semuanya dijaga oleh dua penjaga. Dari aliran chakra, mereka semua menguasai dua elemen," jelas Shibi.

"Jounin yang bagus," pujiku. "Mana yang paling dekat?"

"Utara," kata Shibi cepat. "Kita masuk lewat situ?"

"Tadinya aku mempertimbangkan penyusupan sejati seperti ninja," kataku, "tapi karena kekkai menyebalkan itu ... yah. Kita akan lakukan serangan frontal. Sepertinya ada perubahan rencana."

"Kau yakin kita bisa menang hanya dengan bertiga?" Selidik Shibi sangsi. "Arhara-san pasti memang kuat ... lima elemen sudah dia kuasai. Tetapi kita jauh kalah jumlah!"

Aku menghela napas. "Oke. Arhara-san, apa kau pikir kau bisa mensinkronisasikan frekuensi chakra Fuuton-mu dengan frekuensi kekkai?"

"Kau bercanda?" Gumam Arhara. "Itu terlalu mudah."

.

.

.

Kami menyusup di dekat pintu utara. Arhara mengambangkan tangan kanannya di batas kekkai, yang berdenyar dengan warna kuning. Angin berbentuk pusaran muncul di telapak tangannya, berusaha mengacak permukaan penghalang tak kasatmata tersebut. Lima detik kemudian, kekkai terbuka, hanya di daerah sekitar kami masuk. Begitu kami memasuki gedung, kekkai kembali tertutup. Kami bertiga menunggu beberapa menit. Tidak ada tanda alarm atau petugas yang berpatroli. Kami sukses menyusupi markas mereka.

"Bagus," gumam Shibi, "sekarang akan kukirimkan serangga-seranggaku untuk mengetahui denah bangunan ini sekaligus menemukan dua target kita."

Kami berlari tanpa suara di sepanjang lorong, berusaha sedapat mungkin menghidari kontak dengan para penjaga yang berpatroli. Tidak begitu mudah, tapi juga tidak sesulit yang pernah kubayangkan. Makin lama, aku merasakan aura chakra yang makin besar, bersumber pada ruangan terluas di bangunan ini. Kami menjumpai sebuah pintu batu baja yang memblokade jalan menuju ruangan tersebut.

"Bisa kuhancurkan," gumamku, "tapi akan menimbulkan suara bising. Ada jalan yang lebih baik?"

"Ada kode akses di samping pintu," tunjuk Shibi. "Sayangnya, aku tidak tahu kata sandinya atau kode pengenalannya."

Arhara maju, mengutak-atik alat itu, dan tak makan waktu lama, pintu besar tersebut bergeser terbuka. Aku dan Shibi berpandangan, tapi kami segera menyelinap ke dalam. Ruangan tersebut sekitar empat kali luas lapangan basket, dan di tengahnya terdapat sebuah altar buatan dengan besi-besi penyangga dan sesuatu yang berpendar di pusatnya, berbentuk lingkaran berwarna hijau kebiruan. Benda itu kecil—ukurannya tidak lebih besar dari bola pingpong.

"Ini dia," gumam Shibi. "Seranggaku sudah mengidentifikasinya. Tidak salah lagi, ini Batu Gelel. Salah satu batu terkuat di dunia. Sangat aneh karena ruangan ini tidak dijaga. Seingatku Sandaime-sama bahkan tidak menyuruh kita mencuri atau menghancurkan batu ini."

"Sandaime-sama mungkin mengira Batu Gelel telah dimiliki—telah digabungkan dengan raga seseorang, antara Haido dan Dotou. Karena itu, jika kita membunuh orang yang sudah berfusi dengan batu, batu itu sendiri akan hancur pula. Berarti inti dari misi ini sebenarnya adalah ... menghancurkan Batu Gelel."

"Itu kalau kalian bisa."

Kami serentak menoleh ke belakang. Di ambang pintu, sudah berdiri dua lelaki berperawakan besar. Yang di kiri mengenakan jubah dan topi berwarna putih plus monokel, kacamata berlensa satu. Berdasarkan informasi dari Sandaime-sama, dia pasti Haido. Sedangkan yang di sebelahnya ... bertubuh lebih kekar dengan baju zirah berwarna ungu kecokelatan, sarung tangan aneh, dan sepatu but. Apa dia Dotou?

Si lelaki berkacamata tertawa pendek. "Dari semua penyusup yang berkemungkinan masuk kemari, tak kusangka ternyata malah aliansi Konoha-Kumo. Aduh, apa mereka sebegitu kuat dan percaya dirinya sampai-sampai hanya mengutus dua orang untuk mengambil dan menghancurkan hartaku yang berharga?"

"Kau benar," jawab Shibi. "Cukup tiga orang saja untuk menghancurkan kalian. Ya kan, Minato?"

Rahangku mengeras. "Shibi, barusan dia bilang dua orang."

"Kau bodoh ya?" Sentaknya pada Haido. "Kami bertiga, dasar otak salamander."

Haido tersenyum misterius. "Utsukushima, sampai kapan kau mau berpura-pura?"

Bagai disengat Ranton milik Darui, kami berdua menengok ke arah Arhara. Gadis berambut perak itu berjalan pelan ke Haido, kemudian membalikkan badan, menghadap kami. Mata abu-abu badainya bersinar kelam. Ia meraih katananya, menghunusnya ke kami.

"Maaf, Shibi-san, Minato-chan," ujarnya tanpa ekspresi.

Aku meneguk ludah pahit. "Apa ... apa-apaan semua ini?"

"Aduh, tolong jangan kebanyakan sandiwara, ini bukan teater," cetus Haido, "ringkus mereka, Utsukushima-chan. Mereka mungkin bisa jadi bahan eksperimen yang menarik! Satu dari Klan Aburame dan satu lagi, oh, aku tidak percaya mengatakan ini—tapi kita menangkap Kilat Kuning! Seperti mengenai dua burung dengan satu batu!"

Aku menggeram. "Kalian takkan bisa berbuat apa-apa," aku meraih kantong belakangku, bersiap melakukan Hiraishin, tapi ...

Arhara—atau Utsukushima—meraih kantong belakangnya dan menunjukkan serenteng kunai bermata tiga dengan gagang bermantera. "Ini yang kau cari, Minato-chan?"

Aku menghela napas pendek. "Aku tidak mengerti."

"Tapi aku mengerti," balasnya datar. "Kau ... tidak. Kalian semua, mencurigaku sejak pertama kali. Minato-chan, kau terus mengawasiku. Usaha yang bagus, tapi kau sendiri terlalu naif. Kau terlalu jujur. Pertahananmu mudah terbuka. Mendapatkan informasi tentang kalian semua ... itu mudah."

Aku mengertakkan jemariku. "Dan kau terlalu percaya diri."

Sedetik kemudian, aku berada persis di depan Arhara, mengumpulkan chakra di tangan kanan, dan menggerakkan tangan kananku untuk meninjunya.

"Maaf, Arhara-san, aku seharusnya tidak memukul wanita, tapi kau tidak memberiku pilihan lain."

BUUKK!

Aku mengertakkan gigi. Arhara ... memblok tinju anginku dengan satu jari telunjuk tangan kanannya. Dia menyentilku, dan tak kusangka hembusan angin dahsyat mendorongku ke belakang. Kalau saja Shibi tidak ada, aku pasti sudah menabrak altar Gelel. Arhara memantikkan api di tangannya—api yang tidak pernah kulihat sebelumnya, berwarna keperakan alih-alih merah, kuning, jingga, atau biru, tapi api tersebut membakar habis Hiraishin Kunai segampang api biasa membakar kertas.

"Hiraishin yang lain berada di Konoha," cetusnya, "aku tidak tahu apakah kau bisa berteleportasi sejauh ratusan kilometer dalam sekali waktu, tapi aku yakin kau tidak akan melakukannya. Kau tidak akan meninggalkan Aburame Shibi sendirian di sini kan, Kilat Kuning?" Dia menjilat ujung katana peraknya, memutarnya dua kali di udara, dan menghunusnya pada kami. "Kau tidak akan mengorbankan teman demi keselamatan pribadi. Jadi, apa kau lebih memilih mati bersama temanmu—meskipun itu berarti menggagalkan misi?"

Aku tersenyum tipis. "Tidak dua-duanya. Kalau ada pilihan lain, sebaiknya kau sambar itu sebelum menghilang dari benakmu." Aku meraih kunai, dan Arhara berkelebat menyerang. Dua senjata kami berdencang. Arhara mengelak dan menebas ke bawah, tapi aku melompat, bersalto, dan melakukan Kaze Kiri ke tempat Arhara berdiri setengah detik yang lalu. Arhara menyabet dengan cepat hingga mementalkan kunaiku. Untuk sesaat kukira dia akan menebasku, tapi dia menebaskan katananya ke belakang, tepat mengenai sebaris serangga yang diluncurkan Shibi.

"Lebah hornet," tebaknya. "Satu sengatan bisa mematikan. Kau pikir aku akan kalah dengan insekta?" Ia mendencangkan pedangnya ke lantai besi, membuat udara di sekitarnya dialiri listrik seperti tesla. Aku melompat menghindar, sementara Arhara menembakkan petir ke segala arah. Aku melakukan handseal, membuat angin ribut, bermaksud mengacaukan petir. Agaknya itu berhasil. Shibi memanggil ratusan kumbang pemakan chakra, tapi Arhara lagi-lagi menembakkan api perak itu, yang menghabisi seluruh koloni dalam hitungan detik.

Di belakangnya, aku menyerang dengan kunai ganda bertempel kertas peledak. Arhara menanganiku dengan santai, tapi begitu dia lengah karena serangan selingan dari Shibi, aku menancapkan satu kunai ke dekat kakinya dan melempar kunai lain ke lehernya. Dia menangkisnya, tapi itu cukup memakan waktu sehingga kertas peledaknya bereaksi. Aku mundur, dan dua ledakan mengguncang ruangan.

"Rasakan ini!" Shibi memerintah serangga-serangga pemakan chakranya untuk menyerbu. Aku mendecih. Arhara tidak tergores sedikitpun bahkan oleh dua kunai peledak? Bahkan meskipun serangga Shibi berusaha memakan chakra, dia tampaknya tidak terpengaruh. Lawan kami membakar dirinya dalam api perak, membuyarkan semua serangga.

"Cih," gerutu Shibi. "Sekuat apa wanita ini?"

"Utsukushima, sebaiknya kau cepat selesaikan dua hama ini," perintah Haido. "Aku ingin segera memulai rencanaku. Tentunya, tanpa gangguan."

Sekelebat kemudian, Arhara (aku sudah terbiasa memanggilnya begitu) berada di belakang Shibi, menghantam tengkuk temanku dengan sisi tumpul katananya hingga dia roboh. Aku menyerang membabi-buta, tapi wanita itu memang gesit. Rambut panjangnya tidak menghalaunya samasekali. Aku melempar shuriken, kunai peledak, dan belati terus-menerus sampai kusadari semua perlengkapanku habis dibabatnya.

"Tidak terlihat seperti Kilat Kuning," komentarnya. "Apa aku membuatmu gugup, Minato-chan?" Dia berlari lurus ke depanku dan mengayunkan pedangnya. Aku menunggu detik terakhir, lantas menghindar sebisa mungkin, mengumpulkan chakra di telapak tangan kanan, dan mendorongnya ke punggung Arhara. Ia jatuh berdebum ke lantai beton dengan gilasan Rasengan.

Arhara bangun dengan cepat. Ia mengusap tepi bibirnya, kemudian menebaskan katananya, memotong lantai menjadi dua. Aku mengumpulkan chakra angin di kedua tanganku, membentuk pisau tak kasatmata. Arhara menyelimuti pedangnya dengan api peraknya. Ini tidak bagus. Angin lemah pada api.

"Terserah kau saja," gerutuku, lantas kami kembali beradu. Aku belum pernah melihat gaya bertarung seperti miliknya sebelumnya. Dia menyerang makin cepat seiring aku mengimbanginya, dan jutsu-jutsu selingan samasekali tidak berpengaruh. Pada satu kesempatan, aku nyaris menggores betisnya ketika dia menghantamkan sisi tumpul katananya ke punggungku, disusul ujung gagang pedangnya yang menghantam dadaku.

"Cukup," perintah Haido. "Penjarakan mereka."

"Batu Gelel," desisku. "Kenapa kau menginginkan hal konyol macam itu?"

Haido hanya tersenyum seperti biasa. "Untuk menyingkirkan hal-hal yang tidak berguna di dunia yang mulai usang ini, Kilat Kuning. Dunia mulai melenceng. Aku akan menggunakan kekuatan murni itu untuk membuat dunia yang lebih ideal. Dunia yang dapat dihuni oleh semua manusia tanpa memandang kesetaraan sosial dan harta belaka."

"Banyak orang-orang berkata begitu setelah perang terjadi berkali-kali," tentangku. "Yang kau lakukan tidak bukan hanyalah menyulut terjadinya perang baru di masa depan! Apa aku harus memperingatkanmu bahwa suatu negara akan lebih cepat rapuh dan hancur dari dalam jika hanya dipimpin oleh seorang tirani? Kekuasaan yang terpusat di satu orang yang berhak memerintah dengan sewenang-wenang? Sistem seperti itu tidak akan bisa membuat dunia ideal!"

Haido tertawa hingga suaranya menggema di sepenjuru ruangan. "Aduh, coba lihat ini! Anak Konoha yang penuh dengan ambisi untuk membuahkan perdamaian. Perdamaian murni sejati tidak akan dapat digapai, Minato-san. Hanya dengan pengorbanan kita bisa membuat dunia ideal! Apa kau pikir, hanya karena Konoha dan beberapa negara besar lain memenangkan perang sebelumnya, kalian dapat mengatur dunia sesuka hati kalian, dengan cara memeras dan menindas negara-negara kecil? Siapa sebenarnya tirani di dunia ini?"

"Kami sedang berusaha!" Aku tetap berusaha melawan, meskipun sekujur tubuhku seperti lumpuh. "Menjalin hubungan persahabatan dengan sesama desa tanpa menghiraukan peringkat atau imaji mereka! Kami sedang dalam perjalanan menuju—"

BUAK!

.

.

.

"Minato?"

.

.

"Minato?"

.

"Minato! Kushina sedang mengamuk!"

"Apa?" Aku mengerjap-ngerjapkan mata. "Siapa yang mengamuk?"

Shibi menghela napas lega. "Benturan keras di tengkuk, punggung, dan dada bisa berakibat fatal pada orang lemah. Aku yakin kau tidak termasuk kategori itu, jadi ... intinya aku senang kau baik-baik saja."

Aku berdiri, memicingkan mata. "Kita di mana?"

"Garis besarnya, kita ditahan. Kekuatan Batu Gelel mungkin sudah digunakan oleh Haido sebagai dinding atau jeruji penjara ini. Kita tidak bisa menggunakan chakra di sini. Bahkan aku tidak bisa berkomunikasi sementara dengan seranggaku."

"Berarti kita benar-benar terisolasi dari luar?"

Shibi menggeleng pelan. "Sebelum masuk, aku sudah memberi pesan pada salah satu kumbangku untuk pergi ke markas. Itu kumbang pembom. Isyaratnya berarti 'kami dalam bahaya'. Seharusnya sekarang kumbang itu sudah sampai ke markas, dan Samui, Darui, serta Choza akan menyusun rencana untuk membebaskan kita. Kuharap mereka tidak bertemu Arhara."

Aku mengetuk-ngetuk jeruji sel. Tidak berrongga. Aku memukul dindingnya. Seperti tersusun dari batu pualam tunggal. Mungkin memang menetralisir chakra. Semua senjata kami sudah dilucuti. Kalaupun ada, aku hanya bisa berteleportasi ke rumah, di Konohagakure, tapi itu berarti mengulur waktu. Tentu saja, tenggat misi kami masih lama, tapi cara mundur seperti itu juga kurang efektif. Terlebih lagi, sekarang kecurigaan kami benar. Arhara—atau Utsukushima itu, sebenarnya justru mata-mata Haido dan Dotou untuk menyelidiki kami. Menuntun kami kemari, setelah itu menangkap Shibi dan aku.

"Shibi, apa kumbang itu juga berarti salah satu dari kita adalah pengkhianat?" Tanyaku.

Shibi mengangguk. "Samui dan aku sudah menyepakati hal itu, Minato. Jika kita bertiga yang tertangkap, aku mengirimkan kumbang rusa. Jika ada yang berkhianat dan dua dari kita ditangkap, aku mengirim kumbang pembom. Samui dan yang lainnya pasti berpikir kalau pengkhianat itu adalah Arhara. Oya, Minato, kenapa kau tidak mencoba berteleportasi? Shunshin no jutsu hanya memerlukan semacam ledakan chakra dari nol, itupun dalam waktu sepersekian detik. Dinding ini sekalipun takkan bisa menghambatnya. Apa kau lupa menancapkan satu Hiraishin ke markas kita di luar sana?"

"Aku menancapkannya," gerutuku. "Aku ingat, dari awal misi aku membawa tujuh Hiraishin Kunai. Aku menancapkan satu ke dinding markas untuk berjaga-jaga, jadi aku hanya membawa enam untuk kemari. Dan tadi, Arhara menunjukkan enam Hiraishin Kunai, dan salah satunya memiliki tiga goresan seperti yang kutancapkan di dinding markas. Hei, tunggu dulu," aku menaruh jari telunjuk dan ibu jariku di dagu, berpikir. "Jika hanya ada enam ... lalu ke mana satunya?"

"Cobalah berteleportasi ke Hiraishin Kunai terdekat dari sini!" Saran Shibi. "Siapa tahu itu berada di markas!"

"Kau benar," gumamku. "Jika memang ada di markas, kita punya keuntungan. Bahkan jika Hiraishin terdekat ada di Konoha, setidaknya kita sudah bebas dari penjara ini dan bisa menyusun rencana yang lebih matang meskipun tertinggal satu-dua hari."

Aku berkonsentrasi, memapah Shibi, dan melakukan shunshin.

Sesaat kemudian, kami membuka mata. Tidak ada yang tampak selain cakrawala yang mulai terang, rintik-rintik hujan yang membasahi tepian langit gua ...

Sebentar, langit gua?

"Haha!" Suara tawa Samui terdengar. "Sudah kuduga itu pasti akan berguna!"

"Jadi kau pelakunya," desisku. "Kau diam-diam mengambil satu Hiraishin Kunai milikku dan menancapkannya di gua ini. Padahal aku sudah melakukan hal yang sama."

"Untuk jaga-jaga," belanya. "Dan itu benar, kan. Kutebak semua senjata istimewamu itu dicuri dan dihancurkan ... dan Shibi mengirim kumbang pembom. Ada pengkhianat diantara kalian bertiga. Jadi ... siapa?"

Shibi menggerutu. "Apa kau harus bertanya untuk mengetahuinya?"

Choza menghela napas. "Jadi ... Arhara-san sebenarnya ... berpihak pada Haido?"

"Kita nyaris tidak mengetahui apapun tentang dia," gerutu Darui. "Selain fakta bahwa dia adalah Jounin terlatih dari Kumogakure, menguasai lima elemen, dan memiliki seekor naga yang hebat. Plus sekarang dia seorang pengkhianat."

"Arhara pernah bercerita padaku," cetusku. "Waktu itu, di dekat sungai ketika kita menginap di malam kedua. Masa lalunya menyakitkan. Aku tidak bisa menjamin apakah dia mengarang semua itu atau memang kisah itu adalah pengalamannya, tapi dilihat dari sorot matanya ... dia tidak tampak seperti tipikal orang yang pandai berbohong."

"Jangan katakan kau membelanya, Minato," sanggah Shibi.

"Aku serius," aku mencabut Hiraishin Kunai dari dinding dan menatap mereka satu-satu. "Aku sudah belajar bertahun-tahun untuk membaca isi hati seseorang lewat pantulan mata. Arhara—atau yang kita kenal sebagai Utsukushima, tidak punya mata seperti itu. Teman-teman, dia hanya bingung. Dia belum menemukan jati dirinya. Aku tidak membelanya, aku hanya berusaha berprasangka baik. Kalau dia memang benar-benar diselimuti kegelapan, mungkin kami takkan dipenjara. Kami bisa saja dibunuh langsung di tempat. Dan dari pertarungan kami," aku melirik Shibi, "dia kurang agresif untuk Dracovetth berelemen lima yang bisa menangkap belut kouga raksasa dengan sekali selam," jelasku panjang lebar.

"Jadi sekarang bagaimana?" Tanya Samui.

"Kita serbu markas, kali ini secara semi-frontal. Hindari pertarungan yang tidak perlu. Tujuan kita adalah mengeliminasi Haido dan Dotou. Mereka mati, misi selesai. Aku akan berusaha memanfaatkan Hiraishin Kunai yang tersedia," jelasku. "Choza, serbulah dengan Baika no Jutsu. Darui-san, jangan menahan diri. Samui-san juga. Ini pengepungan habis-habisan. Peluang kita akan makin besar seiring kita makin cepat menyerang, karena aku khawatir kalau-kalau kedua orang itu sudah terlanjur memanfaatkan Batu Gelel."

"Ada satu hal yang kau lupa," selidik Choza. "Gimana dengan Arhara—atau Utsukushima itu?"

"Biar aku yang mengatasinya," sergahku. "Aku yakin dia belum jatuh terlalu jauh dalam kegelapan. Kita pasti masih bisa menyelamatkannya."

"Kau gila," Samui tidak setuju. "Jika dia serius, kita berlima sekalipun bisa kalah."

"Tapi kalau Minato berhasil, kekuatan tempur kita akan meningkat," imbuh Shibi. "Kurasa itu patut dicoba. Minato adalah pembujuk yang hebat. Apalagi Arhara-san kan perempuan."

.

.

.

Aku berhasil menabrakkan kunai khusus itu ke atap gedung dan menteleportasikan kami semua. Samui dan Darui membuat lubang dengan pedang dan petir, membuat kami menyusup nyaris tanpa suara. Entah karena ceroboh atau lengah, mereka tidak menjaga atap dan loteng.

"Kita mulai!" Seru Darui sambil menembakkan petir ke udara. "Dampingilah aku menuju kemenangan, Raienryuu!"

Guntur menggelegar di langit. Awan-awan gelap tersibak, menampakkan awan-awan lain berwarna biru keabu-abuan. Dari dalamnya melesatlah seekor naga dengan sepasang sayap yang lebar bentangannya hampir menyamai lebar lapangan sepakbola, dengan sisik-sisik biru. Kepalanya kecil kalau dibandingkan tubuh atau sayapnya, tapi dia menembakkan bola kilat ke markas di bawah, melubangi atap dengan gampang.

"Wow. Aku tidak mengira akan sebesar itu," kagum Choza.

Darui nyengir. "Keren, kan?"

Raienryuu mendengus, kemudian berputar-putar di sekitar markas, menembakkan petir ke halaman, menggosongkan beberapa prajurit musuh yang sedang berjaga. Choza memanggil Gorongosa, naga panjang dengan tubuh terbuat dari air. Kami menaikinya, menerobos markas dengan lubang yang sudah dibuat Raienryuu, dan menangkal beberapa belas serangan pertama. Gorongosa menembakkan air sederas selang pemadam kebakaran. Samui berkelebatan dengan pedangnya, melakukan serangan duo dengan Darui. Choza memperbesar tubuh dengan Baika no Jutsu dan berguling menabrak pintu yang menuju ruangan tempat Batu Gelel berada.

Aku merangsek masuk, bersiap dengan senjataku. Aku mendecih. Altar itu sudah kosong. Batu itu ... sudah dipakai? Atau hanya dipindahkan?

"Kilat Kuning memang nggak boleh dianggap remeh."

Aku berpaling ke sumber suara. Itu Dotou, pria bertubuh kekar yang mengenakan baju zirah aneh. Matanya berbinar dengan nafsu bertempur. "Yo. Kurasa akan menyenangkan kalau kita bertaruh siapa yang terkuat kali ini," dia mengencangkan sarung tangannya. Dotou mencabut pedangnya, dan aku menyambutnya dengan kunai. Mendadak, tawon-tawon mengelilingi kami dan menyengat Dotou.

"Berisik!" Dotou menampar ke segala arah, dan begitu sarung tangannya menyentuh satu serangga, serangga tersebut jatuh dengan bentuk padat. Es. "Menarik, bukan? Akan kuubah kau jadi substansi yang sama!"

BUUMM!

"Takkan kubiarkan!" Geram Choza. Ia memperbesar tinju, menghantam altar hingga hancur. "Di mana Batu Gelelnya?"

"Hmph," Dotou mendengus. "Cari saja sendiri. Nah, lawan aku, Dracovetth Konoha!" Ia mengacungkan tangan, dan langit-langit ruangan berubah menjadi puluhan stalaktit besar yang berjatuhan, berusaha mengenai kami. Samui menggebrak masuk, membawa serta dua ekor Gorgon, naga sebesar harimau dengan gigi pedang. Mereka menyemburkan api, melelehkan beberapa stalaktit selagi aku berkelit diantaranya, semakin dekat ke Dotou tanpa disadarinya, dan menebaskan kunai ke sendi belakang pahanya.

Dotou meninju ke belakang, melubangi dinding dengan duri es, tapi aku terlalu cepat untuk digapainya. Samui dan Darui menembakkan petir dan petir hitam ke Dotou, mementalkannya hingga menabrak pintu besi. Choza meninjunya, menjebol pintu besi tersebut dan membuat lawan kami terguling sepanjang lantai.

"Dasar bodoh!" Dotou bangkit dengan cepat. "Kalian pikir kombinasi serabutan seperti itu bisa mengalahkanku?" Ia mengubah seluruh lantai menjadi es, membuat Choza dan Shibi terpeleset dan jatuh. Aku melempar Hiraishin Kunai, tapi dia menangkisnya dengan mudah berkat baju zirahnya. "Kau meremehkanku, Namikaze Minato?"

Aku tersenyum sok misterius. "Nggak kok. Justru aku berterimakasih."

Sekedipan mata kemudian, aku sudah berada di samping target, dengan Rasengan menghantam perutnya. Armornya retak. Aku mengambil Hiraishin Kunai. "Di mana Batu Gelel itu?"

"Apa kalian benar-benar menginginkannya?" Gerutu Dotou. "Haido mungkin sudah menggunakannya," ia bangun lagi, meringis karena lukanya. "Barusan itu jutsu yang hebat. Tapi aku juga Kelas-S. Akan kutunjukkan—"

BUUMM!

Tinju petir hitam Darui menghajarnya di sebelah kanan, selagi tinju ekstra besar Choza melakukan hal yang sama di sebelah kiri. Choza mencomot Haido seperti kucing jalanan, lantas melemparkannya ke kerumunan prajurit yang sudah mengepung kami di satu sisi. "Berguling!" Serunya. Ia membentuk dirinya seperti bola armadilo dan menggilas pasukan di depan. Aku berkelebatan, menyabet dan menikam target terdekat. Shibi mengepung pasukan bagian tepi dengan serangga beracunnya. Samui dan Darui, dibantu kedua Gorgon, menghabisi pasukan yang datang dari arah sebaliknya, sementara Raienryuu membantai pasukan di luar dan di atas gedung markas.

Kami sedang berada di atas angin. Aku menggebuk tengkuk Dotou dengan pisau angin, menendangnya berputar, dan menghantamkan Rasengan ke punggungnya, membuatnya jatuh ke lantai dengan dada mendarat lebih dulu. Ia terbatuk. Di mana Haido si saintis gila itu? Di mana Arhara?

Sayangnya, pertanyaan pertamaku terjawab duluan.

"Aduh, Dotou. Bagaimana kau bisa kalah dari tikus-tikus seperti mereka?"

Aku mengenali suara itu, tapi terdengar sedikit lebih berat dan ... jauh lebih kuat dibanding sebelumnya. Aku menoleh, dan kalau saja tidak ada Hiraishin Kunai, aku pasti sudah dipukul seperti bola bisbol. Orang itu tingginya hampir tiga meter, dengan sekujur tubuh dipenuhi otot-otot yang bertonjolan seperti sapi bunting. Kulitnya berwarna biru kehijauan, sedangkan sklera matanya sekarang berwarna merah. Rambutnya acak-acakan. Dua Goudama—bola energi, melayang di bahunya. Di punggung tangan kanannya, tampak tonjolan bulat berwarna hijau laut—Batu Gelel.

"Ha-ha!" Tawanya. "Bagaimana penampilanku?"

"Kau terlalu banyak mengonsumsi protein," komentarku. "Dan kelebihan hormon somatotropin, sepertinya. Apa nggak sulit melewati pintu dengan badan sebongsor itu, Haido?"

Haido tertawa sampai ruangan itu serasa berguncang. "Kalau ada pintu, aku tinggal menghancurkannya. Seperti ini, nih!" Dia meninju lantai. Suara debuman yang keras menguasai telingaku, lebih mirip suara meteor jatuh dibanding pukulan pria berotot. Lantai seruangan segera retak dengan tambahan gelombang angin ke segala arah. Haido menyeringai, kemudian tanpa terduga berkelebat ke belakangku. Berkat Shunshin yang kumiliki, aku menghindari pukulan pertamanya.

Choza meninju Haido dari belakang, tapi orang itu menahan tinju Baika no Jutsu dengan sebelah tangan. Haido memelintir tangan Choza dan melemparnya ke seberang ruangan, menghantam dinding. Darui melakukan segel tangan, meluncurkan petir-petir hitam, tapi itu hanya menggores tubuh lawan.

"Batu Gelel meningkatkan kecepatan, kekuatan, dan pertahananku berkali-kali lipat!" Sombongnya. "Modal yang bagus untuk seseorang yang akan memimpin negeri yang ideal!"

"Berhenti mengoceh tentang angan-angan kosong!" Geram Samui. "Satu-satunya 'negeri' yang akan kau tuju adalah negeri jeruji besi internasional!" Ia melemparkan kunai-kunai peledak. Haido tidak menghindar. Senjata-senjata itu berdebum di sekitarnya, menyemburkan asap dan bunga api tanpa melukainya selain beberapa jelaga hitam. Aku melakukan Shuriken Kagebunshin, tapi Haido berkelit dengan gesit, terlepas dari ukurannya, dan hampir menghantamku untuk yang kedua kali. Aku mencabut pedangku, dan menyasar bagian belakang lututnya. Tebasanku hanya memunculkan sedikit darah, seolah kulit manusia ini jadi sekeras kulit badak. Haido menghantamkan siku ke belakang seperti pemain gulat, tapi aku tepat menghindar. Dalam beberapa detik, luka di belakang lututnya tertutup.

"Regenerasi cepat. Ketahanan fisik di atas rata-rata, kecepatan sekitar seperempat mode Shunshin, kekuatan Taijutsu seperti pembukaan Gerbang Ketiga. Minato, kau masih empat sampai lima kali lebih cepat dari dia. Choza, pertahankan Baika no Jutsu sedikit lagi. Kau yang bisa mengimbangi kekuatannya. Samui-san dan Darui-san, bukalah celah. Kita masih bisa menang," urai Shibi panjang lebar. Ia menyebarkan serangga-serangga pemakan chakranya.

"Bah!" Gerung Haido. "Lalat-lalat seperti itu mana mungkin bisa menguras chakraku?"

Begitu dia mengatakan itu, sebagian besar serangga membeku. Aku menoleh, dan melihat Dotou masih bisa bangkit, melakukan handseal. Kedua tangannya terbungkus oleh es berbentuk pisau bertepi tajam.

"Aku lupa," gerutu Shibi. "Kita belum membereskan yang itu."

Dotou menggerung. "Kalianlah yang akan kubereskan!" Dia berzigzag mendekati Shibi, tapi Choza menindihnya dari atas dengan bobot ratusan kilo. Mereka bertarung sengit. Darui dan Samui menyambarkan kilat ke Haido, tapi mereka hanya menimbulkan goresan-goresan berdarah yang lenyap dalam sepuluh detik setelahnya. Haido menatapku dengan pandangan membunuh. "Kurasa sebaiknya kubunuh saja kau dulu, yang terkuat dan tertenar diantara mereka. Kalau kau sudah mati, semangat mereka pasti akan turun!"

Sekejap, dia berada di depanku, mengayunkan tinjunya.

Sekejap berikutnya, aku berada di belakangnya, mengayunkan Rasengan, membentur tengkuknya, membuatnya jatuh tersungkur meretakkan lantai. Shibi membatasi gerak kaki Dotou, dan tepat setelahnya, Samui dan Darui menyerempetnya dari dua arah berlawanan dengan petir, dan langsung disambut Choza dengan putaran bola daging andalannya. Ia melempar Dotou hingga menubruk Haido.

"Kesempatan!" Seru Shibi. Darui dan Samui menghimpun kekuatan. Udara sekitar berdenyar dengan bau ozon. Dari langit, Raienryuu mengumpulkan semburan petir. Aku meneguk ludah. Serangan petir dahsyat, tripel pula. Sungguh kesempatan yang sempurna. Sudah sewajarnya kena. Kalaupun tidak membunuh, setidaknya mencederai. Raienryuu nyaris menembak ketika sebuah bayangan raksasa mendadak merenggutnya udara.

Aku membelalak. Aku berteleportasi ke atap, dan memeriksa apa yang terjadi. Raienryuu berjuang membebaskan salah satu sayapnya dari seekor naga berbentuk ular yang, ya ampun, luar biasa panjang. Sisik-sisiknya berwarna merah di punggung, cokelat kekuningan di tengah, dan hijau kebiruan di perutnya. Dia berkaki empat, bercakar melengkung seperti rajawali, dan memiliki sepasang tanduk rusa di kepalanya. Matanya menawan sekaligus buas, dan ia menggoyangkan kepala, mengoyak bulu-bulu Raienryuu. Naga itu menembakkan petir ke kepala ular raksasa itu, tapi hanya sedikit berpengaruh.

"Kalian sudah menunjukkan naga kalian," sapa sebuah suara. Aku berbalik, tapi tidak terlalu terkejut. Kedatangannya memang sudah kuharapkan.

"Arhara."

Gadis berambut perak itu menggeleng pelan. Matanya sedingin es. "Namaku bukan Arhara."

"Utsukushima, ya?" Balasku. "Apapun namamu, kau adalah kau. Jadi ... itu Aida Vedo?"

"Apa yang akan kau lakukan sekarang, Namikaze?" Sinisnya. "Kau jelas kalah tanding, meskipun jumlah timmu lebih banyak. Itu kalau tim kami tidak ikut dihitung dengan pasukan di bawah sana. Batu Gelel sudah diambil. Tinggal menunggu waktu saja sebelum dunia bertambah kacau. Tampaknya misimu di ambang kegagalan."

"Meskipun kau bawahan mereka," kataku, "aku punya firasat kalau kau lebih kuat dari mereka semua. Tunjukkan padaku sekuat apa kau. Kalau aku mengalahkanmu, kau harus membantu kami mengalahkan mereka."

Arhara menghela napas. "Apa untungnya buatku?"

"Tentu ada untungnya," jawabku tegas. "Kau akan kukembalikan ke jalan kebenaran. Aku tahu, kau hanya bingung. Kau tidak melakukan semua ini dari hatimu. Kau semata-mata cuma dikendalikan, setidaknya, secara tidak langsung. Kau diperintah oleh mereka dan kau menurut. Apa kau punya definisi hidup yang sesungguhnya, kalau begitu?"

"Kau menerima misi dari Hokage dan Daimyo," balasnya. "Kau melakukan apa yang mereka mau. Ini yang namanya maling teriak maling."

"Kami tidak seperti itu," bantahku. "Kami memang menerima misi, tetapi itu juga selaras dengan kehendak hati kami. Misi kami bertujuan mengarahkan pada perdamaian. Kami memadamkan pemberontakan atau penghancuran. Kalau kau berdalih kau melakukan hal yang sama dengan mengambil kekuatan dari Batu Gelel, itu hanya ilusi. Seringkali, orang-orang berusaha memenangkan peperangan sebelum dimulai ... dan satu-satunya hasilnya adalah kehancuran dan kekacauan. Kenalilah dirimu sebenarnya, Arhara!"

Tanpa aba-aba, dia menyerang. Satu tebasan katananya membelah dua menara di depannya. Aku sendiri sudah berpindah ke sisi atap yang lain sepersekian detik yang lalu. Ia menyerang dan menyerang, tanpa menggunakan jutsu elemental. Aku terus menghindar, berusaha memancing emosinya.

"Hanya itu, Namikaze?" Gerutunya. "Apa kemampuan Draco P generasi ini hanya itu? Melarikan diri dari pertarungan melawan seorang wanita? Sepertinya Paradox salah memilih orang untuk kali ini!"

Aku membeku. Dua detik kemudian, dia berada di depanku, menendang dadaku dengan kaki kanannya, membuatku merangsek di atap markas hingga membentur sebuah cerobong asap. Aku terbangun, meraba dadaku, dan mencabut pedangku. "Jangan bicara apa-apa yang buruk soal Paradox."

"Kenapa?" Sinisnya. "Toh kau tidak pernah bertemu dengannya. Apa dia menjumpaimu dalam mimpi? Melihat reaksimu, aku sudah tahu. Tidak pernah. Naga yang mengatur dunia, kuat dan pandai dalam segala hal. Apa kau benar-benar percaya naga seperti itu benar-benar ada?"

"Shodaime Hokage-sama adalah Draco P juga," belaku. "Itu berarti dia pasti ada. Dia hanya belum menampakkan diri. Hei, ini akan menjadi bumerang yang mematikan jika dia tiba-tiba datang. Sebaiknya kau hati-hati pada ucapanmu."

Arhara tertawa sinis. "Kenapa kau begitu percaya pada sesuatu yang hanya kau dengar? Kau pernah bertemu Senju Hashirama? Kau pernah bertemu Paradox?"

"Tidak," jawabku tegas. "Tapi kau harus tahu, ada beberapa hal yang cukup perlu dipercayai dan diyakini dalam hati tanpa harus melihatnya secara langsung, bahkan meskipun orang-orang mencemoohmu dan mengatakan itu tidak ada. Trotoar tidak menyisakan jejak, tapi bukan berarti tak pernah ada yang berjalan di atasnya. Oksigen tidak terlihat, tetapi kita bisa menghirup dan memanfaatkannya setiap detik."

"Hmph. Kau banyak bicara juga."

Lantai atap retak. Kami sontak jatuh ke koridor, tempat pertarungan timku sebelumnya. Haido dan Dotou sudah siuman kembali, dan mereka kini menyerang lebih ganas. Teman-temanku ngos-ngosan. Agaknya bujukanku tidak segampang itu juga.

"Haido, Dotou," kata Arhara. "Bolehkah saya membunuh kelima penyusup ini?"

"Buatlah mereka sekarat saja!" Seru Haido. "Kau bergurau, membunuh utusan dari dua negara besar? Itu bagian yang mengasyikkan! Biar aku saja yang melakukannya! Buatlah mereka babak belur, Utsukushima, dan pergilah sampai aku menemukan pekerjaan kasar lain buatmu!"

"Arhara!" Teriakku. "Pikirkanlah baik-baik! Ikuti kata hatimu! Apa ini yang kau inginkan?!"

Ia meniupkan gelombang api perak. Aku berkelebat, menebasnya dengan pisau chakra, tapi pisau tersebut ditahannya dengan tangan kiri, dan dengan sekali gerakan, dia mematahkan pisau chakra Konoha, mengubahnya jadi kepingan-kepingan. Aku menubruknya dengan Rasengan, tapi dia menghunjamkan jari telunjuk tangan kanannya, meledakkan Rasengan dengan sekali sentuh. Aku menyambut katananya dengan pedangku, dan kami beradu selama setengah menit sebelum ia menyabet mata pedangku dengan tangan kosong—dan langsung melelehkan senjata itu, memutusnya jadi dua seolah pedangku terbuat dari lilin. Ia kemudian mengubah tangan kirinya menjadi batu dan menohok perutku.

Aku mengusap bahuku. Arhara terlalu tangguh. Dia kelewat kuat. Sebenarnya siapa dia?

"Menyerah saja, Minato-chan," katanya. "Lihat teman-temanmu. Mereka semua kelelahan. Chakra mereka tinggal ... kira-kira dua puluh persennya. Melawan kekuatan seperti ini, kau sendirian takkan pernah menang."

Aku menyambutnya dengan Rasengan. Arhara menatapku dengan pandangan meremehkan, tapi aku melempar Hiraishin ke dekatnya, dan berpindah secepat kilat. Rasenganku membentur sisi katananya, terus menggilasnya, dan pudar tanpa menghasilkan kerusakan selain retak kecil. Arhara menyabet katana, menebas perutku. Aku jatuh terduduk, darah menetes ke lantai. Aku mengambil Hiraishin Kunai dan melemparnya ke Arhara. Dia menebasnya ke samping, tapi tepat ketika pedangnya mengadakan kontak dengan Hiraishin Kunai, aku berteleportasi, membuatku berada diantara pedang dan dirinya, dan aku menghantamkan Rasengan, menjatuhkannya. Pedangnya luput dari tangan.

"Aku tidak sendiri," aku terengah-engah. "Ada rekan-rekanku—teman-temanku yang berharga. Seluruh desa juga. Bahkan," aku menarik napas. "Bahkan Paradox bersamaku."

Arhara mengertakkan gigi. "Sebegitukah kau percaya pada naga itu? Memangnya apa yang telah dia lakukan padamu?"

"Dia telah memilihku," jawabku santai. "Menjadi Draco P. Bisa kau bayangkan itu? Satu dari miliaran kemungkinan, dia memilihku. Itu bukan beban. Itu rasa syukur. Aku dipilih menjadi pengendara naga paling terhormat di dunia. Itu berarti aku telah dipercaya olehnya. Saat itulah, aku merasa diawasi olehnya. Aku tidak peduli siapa lawanku. Aku tidak peduli apa hambatanku. Tidak akan ada yang terlalu berat di dunia ini jika kita melakukannya dengan ketulusan. Bahkan meskipun Paradox detik ini tidak berada di sisiku, aku percaya dia mengawasiku! Aku percaya dia akan mendatangiku. Aku percaya dan akan selalu percaya!"

Aku mengulurkan tanganku. "Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki kesalahan, kecuali nyawamu sudah berada di tenggorokanmu. Dan itu belum terjadi."

Mata Arhara berkaca-kaca. "Minato-chan."

"Tidak apa-apa."

"Maksudku, kau seharusnya pergi."

BUUMM!

Aku terpental hingga membentur dinding sampai remuk (dindingnya yang remuk, bukan aku. Serius). Aku mengaduh. Aku melihat Haido mencekik Arhara, mengangkatnya dari tanah. Urat-urat lengannya menegang. "Tidak ada waktu untukmu memperbaiki kesalahan," geram manusia itu. "Karena saat ini nyawamu sudah berada di tenggorokan! Aduh, baiklah. Kuhabisi kau dulu, setelah itu baru kubunuh Minato, lalu teman-temannya."

Aku melempar Hiraishin terakhirku, menancap di otot biseps Haido, dan melakukan teleportasi dengan Rasenrengan—satu kuhantamkan di kepalanya, dan satu di dadanya. Haido meraung, terdorong mundur dan berguling di lantai. Dotou melakukan segel tangan, membentuk naga es berukuran raksasa yang menembakkan stalaktit-stalaktit es. Teman-temanku berusaha menghindar, tapi tembakan terlalu rapat. Warna merah mulai menitik di lantai. Naga es itu nyaris menginjak Darui ketika seberkas panah api menghantam punggungnya ... dari mulut Aida Vedo.

"Hancurkan dia!" Titah Arhara. Ular raksasa itu berhenti menyerang Raienryuu dan menembakkan lebih banyak lagi panah api warna-warni. Naga es buatan Dotou meledak seperti dihujani seratus petasan tahun baru dan lenyap menjadi genangan air. Arhara menghunus katananya, berbenturan dengan pedang es Dotou.

"Aku mencium bau pengkhianatan," katanya. "Pilih mana—mati menjadi kepingan oleh Haido atau mati beku olehku?" Ia menghunjamkan tangannya, yang jari-jarinya berubah menjadi es padat nan tajam, tapi Arhara mengenyahkannya dengan cara terekstrem yang pernah kulihat—dia menggigit es tersebut, meretakkannya, dan mematahkannya, sekaligus berarti mematahkan keempat jari tangan kanan musuhnya. Arhara lantas menggulungnya dengan api peraknya.

Haido bangkit dengan murka. Sekejap saja, ia berada di belakang Arhara, menghantam sisi tubuhnya. Ia mengumpulkan chakra mengerikan dari Batu Gelel di tinju kanannya. "Sia-sia aku mempertahankanmu, Utsukushima—ah, aku bahkan tidak peduli yang mana namamu! Kuhabisi saja kau!"

Ia melayangkan tinjunya, tapi aku berteleportasi tepat ke depannya, menghantamkan Rasengan. Bola angin itu saja tidak cukup, tapi setidaknya itu mengurangi chakra yang menumbukku. Aku terlempar ke dinding sebelah, meruntuhkannya. Tulang dadaku serasa remuk. Darah merembes keluar dari mulutku.

"Lari, Arhara," desisku. "Biar kuatasi dia."

Haido terbungkuk. Tampaknya melakukan tinju pertama dengan Batu Gelel masih menguras tenaganya. Arhara berlari mendekatiku, hampir menangis.

"Kenapa kau mau mempertahankan orang sepertiku?!"

"Setiap orang berhak punya kesempatan kedua," jawabku. "Kau hanya belum menemukan tujuan hidupmu. Itulah yang tergambar di matamu. Pergilah, Arhara. Jalan masih panjang. Biar kami yang akan mengatasi mereka. Itu tanggungjawab kami."

"Dasar bodoh!" Isaknya. "Kau sudah babak belur begini! Konoha-Kumo sudah tercederai. Siapa yang akan membantumu? Siapa yang akan melindungimu?"

Aku tersenyum tipis. "Paradox akan membantuku."

Arhara mengertakkan gigi. "K-kenapa kau seyakin itu?"

"Karena aku adalah pengendaranya. Layaknya naga yang lain ... Pyrus, misalnya ... dia pasti datang ketika pengendaranya sedang terjepit. Itu ... hukum alam."

"Minato," kata Arhara lirih. "Bagaimana kalau dia tidak datang? Bagaimana kalau dia membiarkanmu mati?"

Aku ingin tertawa, tapi dadaku masih sakit, jadi aku tersenyum saja. "Dia tidak akan setega itu. Dia adalah pemimpin Etatheon. Dia ada untuk kedamaian dunia. Dia takkan memperdaya manusia, terlebih yang telah dipercayainya. Aku bukan sok merasa spesial. Aku hanya merasa dia seperti itu. Kau tahu? Cara termudah untuk berbuat baik pada seseorang yang belum kita kenal adalah dengan mempercayai bahwa dia punya sifat baik. Sama denganmu."

"Bah!" Haido berteriak marah. "Cukup sudah pembicaraan kalian. Paradox? Omong kosong! Dia tak pernah menampakkan diri ke dunia selama lebih dari setengah abad! Cerita-cerita tentangnya sudah basi. Untuk apa kalian mengagung-agungkan seekor naga? Kedamaian dunia? Yang benar saja! Satu-satunya yang akan membuat dunia yang damai dan ideal adalah AKU!" Angin ribut berpusing di sekitarnya. Retakan-retakan tanah terangkat. Aura chakra yang amat besar meliputinya. Aku menggeram. Kami sedang digiring ke ujung tanduk.

Tanpa disangka, Arhara berdiri, menghunus katananya. "Haido," tegasnya. "Kau akan menyesal sudah menjadikan Namikaze Minato sebagai musuhmu."

"HAHA-HA!" Haido tertawa jahat. "Ya! Aku menyesal kenapa dia jadi musuhku. Dia lumayan kuat, kenapa dia tidak berjuang membelaku dan bersama-sama mendirikan dunia yang ideal? Aku mungkin bisa membagi kekuatan Gelel padanya, tidak seperti Paradox dengan janji-janji palsunya!"

Pegangan Arhara mengerat pada gagang pedangnya. "Tolong berhenti membicarakan naga yang satu itu, ya?"

Haido mendengus. "Apa urusanmu? Aku sudah tidak punya kontrak denganmu. Larilah sana, dasar wanita berdada rata! Pulang ke mamamu!"

TRAK

Pegangan katana Arhara melebur menjadi kepingan. Tangannya mengepal begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih.

"Apa kau bilang barusan?" Katanya penuh penekanan.

Haido bersiap dengan tinjunya. "Pergi sana! Sebelum aku mengurai rambut anehmu! Oh, baik! Akan kubunuh saja kau sekarang juga!" Manusia itu melesat bak roket, dengan tinju penuh chakra di lengan kanannya, yang mungkin mampu menghancurkan Gunung Hokage.

"Arhara!" Pekikku. "LARI!"

Teman-temanku menutup mata—termasuk Dotou.

Arhara melirikku sekilas, lantas tersenyum misterius. "Terimakasih telah mempercayaiku, Draco P."

BLAAAARRRRR!

Aku membuka mata. Haido berjarak beberapa meter dariku, masih dalam pose meninju, tapi kali ini kepalannya ditahan oleh Arhara ... hanya dengan tangan kanannya.

"Mustahil," desis manusia Gelel itu. "B-bagaimana ... bisa ... kau ... siapa sih kau ini?!"

"Aku akan membunuhmu karena lima alasan," kata Arhara santai. "Pertama, karena kau mengklaim akan membuat dunia ideal dengan cara yang jelas-jelas salah."

Terdengar bunyi kretak yang keras. Sepertinya Arhara mematahkan satu demi satu jari Haido.

"Kedua, karena kau menyakiti dan membunuh banyak orang tak berdosa terutama teman-teman Minato."

Kretak lagi.

"Ketiga, karena kau sudah berani-beraninya mengejek Paradox dengan mulutmu yang menjijikan itu."

Kretak.

"Keempat, karena kau sudah melukai Namikaze Minato dari Konohagakure, Draco P yang dipilih olehku."

Kretak

"Tunggu," potong Haido. "Dia dipilih oleh siapa?"

"Kelima, di atas itu semua," kata Arhara, kali ini penuh penekanan. "Karena kau sudah berani-beraninya mengejek dadaku rata!"

Ia memuntir lengan kanan Haido semudah memeras cucian basah, lantas meninjunya keras sekali sampai dua goudamanya hancur berkeping-keping. Arhara meledak dalam kobaran api perak, dan dalam tiga detik, di tempatnya berdiri, tampaklah seekor naga elok nan rupawan dengan dua pasang sayap terkembang, tanduk emas bercabang di alisnya dan sebuah tanduk berulir di hidungnya, plus kerah leher, dan enam berlian berjajar di sisi tubuhnya dengan satu berlian merah di dadanya. Ia menoleh padaku, menyunggingkan senyum. "Aku percaya padamu, Namikaze," katanya lembut, "seperti kau percaya padaku. Aku ambil alih dari sini, ya?"

"Anu ..." aku tidak mampu berkata-kata. "Aku nggak tahu kau bisa marah kalau ..."

Haido bangkit dari reruntuhan. Tangannya perlahan pulih, tapi ia masih belum sadar dari keterkejutannya. "B-bagaimana bisa?"

Paradox membuka mulutnya, menghimpun cahaya dari energi murni, membentuk bola. "Setidaknya bersyukurlah, Haido. Tidak banyak manusia yang cukup kurang ajar dan tolol untuk bisa menikmati Ryuudama dariku sebagai santapan terakhirnya."

Ia menembak. Haido terpental ke cakrawala, ke luar batas Amegakure. Dentuman di langit bersuara seperti sejuta kunai peledak, menyingkirkan awan-awan mendung dan mengirim kejutan angin ke segala penjuru. Paradox mengalihkan perhatiannya pada satu-satunya penjahat yang tersisa.

"Ampuni aku!" Dotou mendadak berlutut menyembah-nyembah. "Aku—saya sungguh tidak menduga kalau itu Anda! Saya mohon ampuni saya dan saya bersumpah tidak akan menjejaki jalan kegelapan lagi sampai akhir hayat!"

"Hmm," Paradox sepertinya mempertimbangkan pengampunan orang itu. "Aku tertarik, sungguh mengesankan. Kuampuni kau. Aku jamin kau tidak akan menjejaki jalan kegelapan lagi, soalnya ini adalah menit-menit terakhirmu juga," ia mendekat, mengangkat Dotou dengan ujung ekornya yang berbentuk seperti gada segienam dari intan. "Kalau kau berani mengatakan dadaku rata, aku juga akan menerbangkanmu dengan Ryuudama. Untungnya kau tidak, jadi buatmu, ini saja," Paradox meniupkan api peraknya, membakar Dotou hingga menjadi abu.

Aku menenggak liur. "Kau benar-benar naga yang lemah lembut."

Paradox menyeringai menang. "Seperti itulah aku." Ia mengepakkan dua pasang sayapnya, menyebarkan kehangatan dan penyembuhan yang cepat pada teman-temanku. Paradox kembali berubah menjadi manusia, masih dengan rambut perak terurai sepanjang pinggang, mata abu-abu badai yang memesona, dan kulit seputih susu, hanya saja sekarang dia mengenakan kimono terusan berwarna hijau lembut dengan sebilah pedang terselempang di sabuknya. Ia meraba dadaku, mengernyit. "Tulang sternum retak. Satu rusuk patah. Otot jantung sebelah serambi kiri nyaris sobek. Beberapa ribu alvelolus pecah."

Aku meringis. "Separah itu?"

"Seharusnya kau mati beberapa jam lagi," katanya datar dengan wajah tak berdosa. "Untungnya, aku ada di sini."

"Kau bisa menyembuhkannya?"

Dia mengernyit. "Apa aku perlu mematahkan 103 dari 206 tulangmu dan mencederai 300-an dari 600-an ototmu, kemudian memulihkanmu lagi supaya kau bisa percaya padaku?"

"Eh. Nggak usah."

Ia menyentuhkan tangan kanannya ke dadaku. Cahaya perak samar mengaliri permukaan tubuhku hingga ujung kaki, dan langsung saja aku merasa lebih baik. Cukup baik untuk bisa langsung berdiri. "Terimakasih, Paradox. Aku berhutang nyawa padamu."

Ia menggeleng. "Jangan pernah mengucapkan hutang nyawa padaku. Kau takkan bisa membayarnya."

"Oke."

Ia menilik sekeliling. "Jadi ... kurasa semuanya sudah selesai."

Keempat temanku berlutut dalam-dalam. "Kami sungguh tidak mengira Arhara adalah Anda, Paradox-sama," ucap Samui. "S-saya minta maaf telah mencurigai Anda. T-tapi bagaimana bisa Anda memasuki Jounin Kumogakure begitu saja?"

Paradox—yang masih dalam wujud manusia—hanya tersenyum misterius. "Semacam modifikasi ingatan. Sudahlah, jangan dipikirkan," dia merubah wujudnya menjadi naga lagi. "Nah, sekarang naiklah kalian semua. Kita akan pergi ke Konoha, melaporkan kesuksesan misi kalian, dan selanjutnya Samui dan Darui bisa pulang kembali ke Kumo dengan tenang sementara aku akan menyambangi Minato setidaknya dua kali sehari, untuk mengecek perkembangannya dan ... barangkali dia dan istrinya butuh sesuatu."

Aku menghela napas. "Sesuatu apa yang kau maksudkan itu?"

"Kau menggemaskan juga, ya," komentar Paradox. "Rasanya aku ingin melahapmu bulat-bulat seperti belut kouga raksasa," pungkasnya, kemudian kami membubung ke angkasa, menempuh jarak ratusan kilometer dalam waktu beberapa puluh menit singkat. Sandaime-sama dan seluruh Konohagakure terkejut begitu mengetahui Arhara dari Kumogakure sebenarnya adalah Paradox dalam penyamarannya, tapi aku, Shibi, Choza, Darui, dan Samui diperbolehkannya untuk memanggilnya dengan nama seperti itu. Singkat cerita, yah ... apa yang biasa orang-orang katakan? Kisah ini berakhir bahagia. Setidaknya sejauh ini.

.

.

.

.

.


"Ketika Pyrus melihat Minato untuk kali berikut, dia menertawainya habis-habisan karena tidak menyadari aku sudah berada di sisinya sejak misi itu dimulai," pungkas Ardhalea puas. "Manusia memang unik. Mereka lugu dan mudah dikerjai."

"Pertemuan yang lumayan menyebalkan," komentarku. "Ternyata dalam beberapa segi, aku mirip dengan ayahku, kan?"

"Ingat saja satu hal," katanya. "Dia masih jauh lebih cerdas darimu."

"Aku sudah biasa mendengar itu."

Kami tertawa. Diam-diam aku mencatat dalam hati: jangan pernah mengatakan apa-apa tentang fisik Ardhalea—baik saat menjadi manusia maupun naga, atau mungkin saat sedang menyamar menjadi apapun. Belalang misalnya. Aku meliriknya diam-diam. Dasar Haido tak tahu diri. Mana bisa dia dibilang rata?

Ardhalea berhenti tertawa. "Ada apa?"

"Nggak," aku berusaha berkilah. Pandanganku tertuju ke langit. Awan-awan membelah. Aku melihat sosok yang kian besar, bersinar dengan cahaya keemasan, menembus awan bagai roket, kemudian berhenti dan melayang beberapa meter dari kami. Sayap-sayapnya mengepak dengan berirama.

"Hermes," sapaku—aku senang karena mendapat pengalih perhatian—"lama nggak ketemu!"

"Aye, Draco P," sapanya riang. Ia melirik Ardhalea sekilas. "Arrr ... Naruto, bisa kupinjam Ardhalea sebentar? Aku ada urusan penting. Lima atau sepuluh menit."

Ardhalea mengangkat alis. Hermes terbang ke belakang kuil. Ardhalea mewujud menjadi naga dan mengikutinya. Jiwa pengupingku mendadak bangkit dan meronta, jadi diam-diam aku mengikuti mereka, bersembunyi diantara sesemakan rimbun, dan memasang telinga baik-baik. Celah-celah dedaunan masih memungkinkanku melihat mereka dari belakang.

"Terakhir kudengar dari Parthenon, kau berada di Gurun Tsuchi Timur. Ada apa menempuh perjalanan sejauh itu ke Konoha?"

"Yah," kata Hermes kikuk, "kau tahulah ... mengatur segalanya tentang ... umm. Kuil Beleriphon."

Ardhalea terlihat menghela napas. "Kau memang sahabat yang baik."

"Begitukah menurutmu?"

"Ya."

"Soalnya aku tidak bisa menyelamatkannya."

"Itu pilihannya. Ada waktu di mana kita tidak boleh menghalangi tindakan seseorang. Jika kau tetap melaju dan menjalani hidup dengan penuh arti beserta prinsipmu sendiri, aku yakin Beleriphon akan senang. Kalau kau mau, kau bisa mendirikan kuilnya di dekat sini juga. Jadi, ada keperluan apa?"

Hermes melipat sayapnya. "Aku hanya mau mengucapkan selamat padamu," katanya. "Hehe. Sebentar lagi kau akan mengenakan gaun pengantin. Akan kukabari naga dari seluruh dunia!"

Mungkin tidak jelas dari sini, tapi aku merasa kalau Ardhalea merona. "Jangan berlebihan," komentarnya. "Lalu?"

"Lalu apa?"

"Hanya itu?"

"Yah ... Aitvaras titip salam."

"Lalu?"

Hermes menggerak-gerakkan ekornya gelisah. "Anu ... Etatheon sudah dibubarkan, ya."

Ardhalea menghela napas berat. "Itu keputusan yang harus diambil, Hermes. Lagipula kalau kita mau meneruskannya, namanya mungkin akan berubah menjadi Hexatheon, karena yang tersisa hanya enam. Dan lagi, aku bukan Paradox lagi. Setidaknya tidak secara resmi. Darah Delima sudah bukan dalam genggamanku lagi. Batu itu akan tumbuh lagi entah di mana, dan kupercayakan pada Paradox Ketiga untuk mengambilnya dan mendirikan organisasi naga yang baru."

Hermes mengangguk mengerti. "Kalau kau butuh saran naga untuk organisasi itu ... atau Paradox Ketiga menghubungimu suatu masa nanti untuk minta saran anggota ... kau hubungi saja aku, ya? Aku ... aku bisa mencarikannya secepat kilat!"

Ardhalea tertawa pendek. "Aku bahkan tak tahu apakah aku masih ada ketika saat itu tiba, Hermes."

"Lho? Bukannya kau abadi?"

"Tidak lagi. Ketika Paradox merasakan cinta, kekuatan keabadiannya hilang. Dia menjadi fana. Sama seperti Ordo, Paradox Pertama. Sama sepertiku. Aku akan tiada suatu hari nanti ... mulai sekarang umurku sama seperti manusia biasa. Malah, mungkin kalian yang akan berumur lebih panjang, kawan-kawan seperjuanganku."

"Kau akan menikah, menetap di sini, dan beberapa dasawarsa lagi kau—maaf," Hermes menunduk. "Menyinggung perasaan. Kebiasaanku."

"Tidak. Tidak apa-apa."

"Yah, oke," Hermes tersenyum, tapi itu bukan senyum yang biasa kulihat. Itu senyum getir. "Aku bakal merindukanmu, Ootsutsuki Ardhalea. Tolong jaga Naruto, ya? Kadang dia mengigau sembarangan saat tidur. Kau akan menjalani hidup yang bahagia. Itu ... itu pantas kau dapatkan. Sampai jumpa lain waktu, Paradox."

Ardhalea tersenyum hangat. "Aku bukan Paradox lagi, Hermes. Harus berapa kali kau kuingatkan?"

"Kau tetap Paradox bagiku." Hermes bersiap mengepakkan sayap-sayapnya pergi.

"Hei, Hermes."

"Ya?"

"Kau tahu apa persamaanmu dengan Etatheon yang lain?"

Hermes mengerutkan alis. "Aku ... sangat keren dan kuat?"

"Bukan," Ardhalea nyaris tertawa. "Kau tidak ahli berbohong."

Ardhalea maju selangkah dan mengecup dahi Hermes (oke, silakan bayangkan sendiri. Aku percaya kalian punya imajinasi yang kuat. Aku pribadi nggak pernah tahu kalau naga bisa mengecup, tuh, soalnya bentuk rahang mereka kan kayak gitu).

Sang naga kilat merona. "Demi Venus."

Ardhalea tersenyum lembut. "Tetaplah menjadi Hermes yang kukenal. Jelajahi dunia sesukamu. Jangan lupa, kau akan selalu diterima di sini. Mungkin suatu hari nanti anak-anakku ingin menaikimu, dan asal kau tidak melaju dengan kecepatan supersonik, aku bisa membolehkan mereka."

"Apapun untukmu, Bos," Hermes menegakkan sayap, membubung, lalu pergi dengan seringai jahilnya seperti biasa. "Saranku untuk malam pertama, Ardhalea! Jangan matikan lampunya!" Teriaknya, kemudian melangit menembus awan.

Ardhalea tertawa. Aku keluar dari persembunyian, memasang wajah merengut. "Dia naga dewa tercepat dan termesum yang pernah kukenal," kataku. Ardhalea menatapku, lantas menghela napas malas.

"Bilang saja kau iri," dia terkikik. "Mau kucium?"

"Kalau dengan wujud begitu," aku menimbang-nimbang. "Kau malah akan melahapku dibanding menciumku."

Ardhalea merubah wujudnya seperti biasa. "Kalau begini?"

Aku mengangkat bahu. "Kau bosnya."

Ia menautkan bibirnya hingga lidah kami bersentuhan. Aku membelai rambut peraknya, yang tumbuh makin panjang. Bertahun-tahun lalu, aku tidak bisa membayangkan hidup bersama gadis abadi yang tetap muda selamanya. Sekarang, gambaran itu terasa begitu nyata sehingga aku tidak perlu membayangkannya lagi. Dia ada di hadapanku, sekarang dan selamanya.

"Berterimakasihlah pada ayahmu, Naruto," bisik Ardhalea. "Jika dia tidak memohon padaku untuk mengasuhmu, entah apa jadinya."

"Berterimakasihlah pada ayahmu juga," balasku, lantas mencari-cari alasan. "Kalau dia nggak bertemu ibumu, kau nggak akan pernah ada."

"Itu sih lumrah, bodoh."

"Dan kau tahu," aku berdehem. "Mereka nggak serata kelihatannya, kok."

PLAK!

.

.

.

.

.

(Oke, tolong biarkan aku protes sekali saja. Di akhir chapter terakhir Paradox 1, aku menabrak tiang listrik. Di akhir chapter Paradox 2, aku ditampar. Kesimpulannya, penulis fic ini suka sekali mengakhiri ceritanya dengan kekerasan! Baiklah, itu saja. Sampai jumpa di Behind the Scene!).

-Itami Shinjiru-